Berita Terkini

India akan Deportasi Ribuan Muslim Rohingya, Amnesty Internasional Kampanyekan Petisi Online

INDIA (Jurnalislam.com)Amnesty International telah memprakarsai sebuah kampanye dan petisi online yang meminta dukungan rakyat untuk menghentikan rencana India mendeportasi ribuan pengungsi Rohingya yang tinggal di India.

Mengkarakterisasi pengungsi Rohingya dan pencari suaka sebagai imigran ilegal dan menganggap mereka “ancaman keamanan” akan mengekspos mereka pada risiko serius jika dikembalikan secara paksa, kata kelompok hak asasi manusia tersebut pada hari Senin (25/9/2017), sambil mendorong kampanye #istandwithrohingyarefugees secara online.

Pekan lalu, pemerintah India mengatakan ada bukti yang menunjukkan bahwa beberapa warga Rohingya di negara tersebut memiliki hubungan dengan “organisasi teror” dan menimbulkan ancaman keamanan yang membenarkan deportasi massal terhadap sekitar 40.000 Rohingya.

“Dalam hal posisi India, merupakan kewajiban hukum dan moral untuk tidak membiarkan pengusiran tersebut terjadi,” Arijit Sen, manajer proyek di Amnesty International India, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Mereka telah berada di India untuk sementara waktu, mengambil langkah kecil, menjalani hidup mereka dengan bermartabat. Jika India memiliki masalah keamanan, mereka harus mengerti bahwa tidak semuanya dapat dilihat melalui satu lensa.

“Orang-orang ini berada dalam bahaya di Myanmar dan membutuhkan dukungan.”

India Hadang Pengungsi Muslim Myanmar dengan Kekuatan Militer

Mahkamah Agung India mendengar sebuah seruan diajukan atas nama Muslim Rohingya terhadap rencana deportasi yang diajukan oleh pemerintah nasionalis Perdana Menteri Narendra Modi.

Al Jazeera mencoba menghubungi kantor partai yang berkuasa untuk mendapat komentar, namun juru bicara menolak untuk berbicara mengenai masalah ini.

Mayoritas Rohingya adalah Muslim, yang sering digambarkan sebagai “minoritas dunia yang paling teraniaya”.

Mereka telah tinggal berabad-abad di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, dimana mereka menghadapi meningkatnya kekerasan, dan ratusan ribu orang terpaksa melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Rohingya ditolak kewarganegaraannya di Myanmar dan dianggap sebagai “imigran ilegal”, meski mereka telah mengakar sejak berabad-abad lalu.

Lebih dari 800.000 Rohingya saat ini tinggal di Bangladesh, dan hampir 600.000 orang lainnya tiba tahun lalu.

Penyebaran Pengungsi Muslim Rohingya di dunia
Penyebaran Pengungsi Muslim Rohingya di dunia

Dalam sebuah cerita Al Jazeera sebelumnya, pengungsi Rohingya di India mengatakan bahwa mereka dijadikan sasaran karena mereka beragama Islam.

“Ini sesuai dengan kebijakan yang lebih besar bahwa setiap orang Hindu yang datang dari mana saja diterima dan bisa mendapatkan visa jangka panjang, tapi jika seorang Muslim yang datang maka ada sedikit kesulitan,” Mohammad Haroon, yang mengelola sebuah toko kelontong kecil, mengatakan kepada Al Jazeera.

Aktivis hak asasi manusia telah mengkritik pemerintah India mengenai undang-undang kewarganegaraan mereka yang kontroversial yang mencakup ketentuan untuk menyambut pengungsi yang menghadapi penganiayaan. Ketentuan ini menetapkan “orang-orang Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi dan Kristen dari Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan”, namun secara khusus mengecualikan umat Islam.

Mujahidin Kashmir Serbu Basis Militer India, Sedikitnya 8 Pasukan Tewas

“Amandemen Citizen Bill mengizinkan orang-orang yang dianiaya dari agama Hindu, Sikh dan Buddha untuk mendapatkan kewarganegaraan India, namun umat Islam tidak diijinkan bahkan jika mereka dianiaya,” Apoorvanand Jha, seorang akademisi dan aktivis yang tinggal di ibukota India, New Delhi, mengatakan kepada Al Jazeera.

Modi mengunjungi Myanmar pada minggu pertama bulan September – yang merupakan kunjungan keduanya dalam tiga tahun – dan mengadakan pembicaraan dengan Aung San Suu Kyi di ibukota Nay Pyi Taw.

Sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan pada akhir pembicaraan mereka tidak menyebutkan tindakan militer brutal terhadap Muslim Rohingya.

Jelang 30 September, Tokoh Solo : Suasana Sekarang Sangat Mirip Menjelang Pemberontakan PKI Tahun 65

SOLO (Jurnalislam.com)- Tokoh Masyarakat Surakarta, Mudrick M Sangidu menilai bahwa suasana dan kondisi menjelang peringatan hari G30 S PKI tahun ini, mirip dengan munculnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1965 dulu.

“Waktu meletusnya pemberontakkan PKI itu, situasi dan kondisinya mirip dengan seperti ini. Kelihatan sekali kebencian terhadap masyarakat, terutama umat Islam yang gigih terhadap pemerintah orde lama waktu itu. HMI mau dibubarkan, Masyumi dibubarkan dan salah satu alasannya katanya Masyumi terlibat pemberontakan,”katanya pada jurnalislam.com di kediamannya di Kartopuran baru-baru ini.

Menurut Moedrick, saat ini terjadi kriminalisasi ulama, dan mirip terjadi pada tahun menjelang 1965. ” Banyak tokoh-tokoh dan ulama yang ditahan seperti Natsir, Buya Hamka dan masih banyak. Jadi saat ini ada kesamaannya,”imbuhnya.

Kata Mudrick, meski saat ini PKI sudah dibubarkan dan dilarang di Indonesia, tetapi, lanjutnya, tanda kebangkitan PKI di Indonesia saat ini sangat terasa. “PKI secara fisik memang sudah dibubarkan, tapi kan kenyataanya masih ada simpatisan atau anak keturunan dia (PKI-red). Itu kan kelihatan sekali, ada yang mau mengadakan seminar pakai baju dan bendera,”pungkasnya.

 

Tokoh Surakarta : Hanya Pro Komunis yang Takut Diputarnya Film G30 S PKI

SOLO (Jurnalislam.com) – Tokoh masyarakat Surakarta Mudrick M Sangidu mengapresiasi langkah Jendral Gatot Nurmanto yang memerintahkan pasukannya untuk kembali memutar film G30 S PKI secara serentak.

Menurutnya, film tersebut sudah bisa mewakili sejarah tentang pemberontakan dan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. “Jadi Film itu mau diputar lagi itu sah-sah saja. Memang itu dibuat di zaman pak Harto, tapi bagi mereka yang anti PKI dan Pancasialis sejati, memang betul seperti seperti itu ceritanya, dan para jendral itu dibunuh dengan cara biadab,” paparnya Kamis,(21/9/2017).

Ia juga heran, terhadap pihak-pihak yang mengatakan film tersebut tidak sesuai dengan fakta. Menurutnya, hanya orang-orang yang pro PKI lah yang takut akan munculnya kembali Film tersebut.

Jelang 30 September, Masyarakat Solo Gelar Aksi Tolak PKI di Car Free Day

“Lalu ada yang sewot, pertama Mendagri, katanya nggak sesuai, nggak begini. Ada juga anggota DPR. Adanya pemutaran Film itu kan, membuat kebakaran jenggot simpatisan dan yang pro PKI. Harusnya kan ndak masalah, biarkan saja,”tegasnya.

Lebih lanjut, Mudrick juga mengkritik sikap Pemerintah yang kurang tegas terhadap PKI, yang jelas-jelas dilarang berkembang di Indonesia namun justru mengkriminalisasikan aktifis-aktifis yang selama ini, menyuarakan bahaya laten PKI pada rakyat Indonesia.

“okowi sendiri mengatakan mau bikin film versinya sendiri juga nggak tau ya, ini kesannya di masyarakat kan aneh, di satu sisi Jokowi bilang kalau ada PKI mau digebuk, tapi kenyataannya yang digebuk itu sopo. Yang digebuk malah Alfian Tanjung, aktifis pegiat anti komunis, ini kan aneh,”tandasnya.

Mudrick juga menghimbau kepada masyarakat dan umat Islam agar memasang foto para pahlawan Revolusi di sekolahan-sekolahan, yang selama ini sudah hilang. Hal itu menurutnya, agar para generasi muda memahami sejarah bangsa, terutama tentang penghianatan PKI.

 

Masyarakat Hingga Tokoh Tasikmalaya Hadiri Malam Dana Kemanusiaan untuk Rohingya

TASIKMALAYA (jurnalislam.com) – Mujahid Tasikmalaya Menggugat (MTM) menggelar acara Malam Dana Kemanusiaan Untuk Rohingya di Rafflesia Ballroom Santika Hotel, Tasikmalaya, Ahad (24/9/2017). Acara ini dihadiri masyarakat umum, tokoh agama, tokoh masyarakat, Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya (PTT), para pengusaha muslim Tasikmalaya dan juga Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman.

Baca juga Wali Kota Tasikmalaya : Tunjukkan Kesalehan Sosial dengan Membantu Rohingya

Ketua Mujahid Tasikmalaya Menggugat (MTM) H Nanang Nurjami mengapresiasi semua pihak atas hadirnya mereka dan sumbangsih dalam membantu muslim Rohingya.

“Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak, dan mudah-mudahan bisa terkumpul dana yang cukup signifikan untuk kita bawa kesana. Mudah-mudahan para mujahidin kita bisa bertemu saudaranya muslim rohingya,” katanya pada sambutan.

Dana ini, jika memungkinkan akan dibawa langsung oleh perwakilan warga Tasikmalaya. Seandainya pun tidak bisa, maka amanat warga Tasik akan disalurkan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang bermitra dengan pemerintah.

“Ini baru terkumpul sekitar 50 juta. Masih jauh dari target kami sekitar 500juta, belum termasuk dana yang malam ini masuk, karena masih dihitung,” jelasnya pada wartawan.

Wali Kota Tasikmalaya : Tunjukkan Kesalehan Sosial dengan Membantu Rohingya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman mengatakan bahwa kesalehan tidak cukup dalam tataran individu. Menurutnya, kesalehan juga harus berada dalam tataran sosial.

Salah satu langkah konkret saat ini mewujudkan kesalehan sosial ialah dengan membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya etnis Rohingya yang dibantai oleh Pemerintah Myanmar. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara bertajuk Malam Dana Kemanusiaan untuk Rohingya bertempat di Rafflesia Ballroom Santika Hotel Tasikmalaya, Ahad (24/9/2017).

Waspada atau Maafkan? Ini Seruan Kivlan Zen Hadapi PKI

“Saatnya kita menjadi tangan yang berada diatas, memmbantu etnis rohingya,” kata Budi Budiman dalam sambutannya. Menurut Budi, urusan Rohingya adalah urusan kemanusiaan yang melibatkan seluruh manusia, bukan hanya umat Islam saja.

“Bukan hanya dari ummat Islam saja, kemarin dari PTT dan Walubi Tasik juga menyerahkan sumbangannya lewat kita (pemkot),” tambahnya.

Seperti diketahui, September 2017 ini pembantaian di Arakan, Myanmar terhadap muslim Rohingya terus terjadi. Diketahui ratusan orang tewas dibunuh termasuk wanita dan anak – anak. Ribuan warga mengungsi menyebar hingga Bangladesh dan negara-negar Myanmar. Indonesia sendiri mengutuk keras tindakan rezim Myanmar dan mendesak agar PBB mengambil langkah tegas terhadap rezim pemerintah Myanmar.

Jelang 30 September, Masyarakat Solo Gelar Aksi Tolak PKI di Car Free Day

SOLO (Jurnalislam.com) – Puluhan orang yang mengatasnamakan diri dalam Badan Nasional Pendukung Jokowi Anti PKI (Banaspati) menggelar aksi edukasi bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI), di gelaran Caf Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Ahad (24/9/2017).

Mereka membentangkan spanduk akan bahaya PKI dan longmarch dari Bundaran Gladak menuju Korem Surakarta. Korlap aksi, Ahmad mengatakan, dirinya ingin mengingatkan kembali masyarakat Surakata akan sejarah kelam Indonesia yang ditimbulkan PKI, terutama di kalangan anak muda.

“Hari ini kita mengadakan aksi edukasi bahaya laten PKI, sesui arahan panglima TNI dan fakta sejarah betapa bahayanya PKI. Selain itu agar generasi muda paham sejarah bangsanya,” katanya pada Jurnalislam.com di sela sela aksi.

Paguyuban Grup-1 Kopasus: Kalau Perlu, Putar Film G30S/PKI Sebulan Sekali

Menurut Ahmad, aksi-aksi seperti ini harus terus diadakan, agar masyarakat dari semua kalangan paham akan bahaya yang ditimbulkan PKI. “Aksi seperti ini harus menyentuh lapisan masyarakat paling bawah, anak-anak sampe dewasa, terpelajar atau orang biasa agar paham betapa bahyanya PKI,” imbuhnya

Lebih lanjut, ia menjelaskan, meskipun PKI resmi dibubarkan dan dilarang oleh pemerintah, namun, lanjutnya, ia khawatir akan kembali munculnya PKI dari para kader-kadernya yang ingin kembali memunculkan ideologi komunis di Indonesia.

“Wujud secara partai mugkin tidak ada, tapi ideologi dan cita-cita terus di perjuangkan kader-kadernya,” tandasnya.

Serangan Bom Mobil Taliban Hantam Konvoi Pasukan NATO di Kabul

KABUL (Jurnalislam.com) – Sedikitnya lima orang terluka dalam pemboman mobil yang menargetkan konvoi pasukan NATO di ibukota Kabul pada hari Ahad (24/9/2017), kata seorang pejabat.

Mohammad Sadique Murady, komandan Zona Asmaye Polisi Nasional Afghanistan, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa insiden tersebut terjadi ketika seorang pembom martir menabrak kendaraan yang mengandung bahan peledak ke arah konvoi lapis baja tentara Denmark.

Moskow: Setiap Usaha yang Dilakukan AS Melawan Taliban akan Sia-sia

Menurut Resolute Support Mission (RSM) pimpinan NATO tidak ada korban jiwa yang menimpa anggotanya.

“Alat peledak improvisasi menargetkan konvoi NATO pagi ini di Kabul”, kata RSM dalam sebuah pernyataan yang dirilis di media sosial, menambahkan sebuah tim dari RSM berada di tempat kejadian untuk memindahkan kendaraan tersebut.

Imarah Islam Afghanistan (Taliban) telah melaporkan serangan tersebut. Zabihullah Mujahidin, juru bicara Taliban, mengatakan 3 kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) telah hancur dan 16 “penyerbu” tewas dalam serangan ini.

Pulang dari Majelis Umum PBB Amir Qatar Disambut Ribuan Ekspatriat

DOHA (Jurnalislam.com) – Ribuan orang berkumpul di Doha tengah untuk menyambut kembali amir Qatar menyusul perjalanannya di Eropa dan Majelis Umum PBB, menunjukkan persatuan Qatar setelah krisis diplomatik empat bulan di Teluk.

Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani kembali ke ibukota Qatar pada hari Ahad (24/9/2017) setelah mengakhiri lawatan pertamanya di luar negeri sejak krisis besar meletus pada 5 Juni ketika sebuah kelompok Arab yang dipimpin Saudi memutuskan hubungan dengan Qatar dan memberlakukan blokade darat, laut dan udara terhadap Qatar.

Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir menuduh Qatar mendukung “terorisme”, sebuah tuduhan yang ditolak keras Doha.

Delegasi Amerika Serikat Kunjungi Qatar, Ini Permintaannya

Hashem Ahelbarra dari Al Jazeera mengatakan bahwa ribuan orang Qatar dan anggota komunitas ekspatriat telah berkumpul di tepi pantai Doha, yang dikenal sebagai Corniche, untuk menyambut amir saat iring-iringan mobilnya lewat.

“Ini adalah saat yang sangat penting bagi masyarakat Qatar,” Ahelbarra, melaporkan dari Corniche, mengatakan.

“Bagi mereka ini adalah pertunjukan persatuan dan juga sebuah pesan kepada masyarakat internasional terlepas dari fakta bahwa sebuah blokade diberlakukan di negara tersebut, mereka terus berjuang untuk apa yang mereka anggap sebagai hak sah untuk mempertahankan kedaulatan Qatar.”

Pertunjukan persatuan juga ditujukan untuk menyangkal rumor dari media teluk lain bahwa Qatar sedang mencari perubahan kepemimpinan.

“Pertunjukan semangat gairah dan patriotik di kalangan kaum Qatar ini sungguh belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Ahelbarra.

Sultan Barakat, direktur Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan di Institut Doha, mengatakan bahwa rasanya “seolah-olah setengah dari Doha” berada di jalan.

“Saya belum pernah melihat yang seperti itu dalam hal lalu lintas,” katanya kepada Al Jazeera.

“Secara umum, melihat gambar hari ini akan mendorong mereka [negara-negara pemblokir] untuk berpikir dua kali mengenai masalah khusus ini,” tambahnya.

“Sudah sekitar 110 hari ini dan belum ada perasaan terbelah dalam masyarakat dan bagi saya semua orang tampak sangat terikat di belakang amir.”

Sebarkan Informasi Palsu, Kementerian Transportasi Qatar Bantah Laporan Media Saudi

Berbicara di Majelis Umum PBB di New York pada hari Selasa, Sheikh Tamim mengatakan bahwa negara-negara yang menerapkan “blokade tidak adil” di Qatar berusaha untuk mengacaukan sebuah negara yang berdaulat.

“Saya berdiri di hadapan Anda sementara negara saya dan rakyat saya terkena blokade yang terus-menerus dan tidak adil yang diberlakukan sejak 5 Juni oleh negara-negara tetangga,” katanya, menanyakan apakah ini bukan definisi “terorisme”.

Sebelumnya, amir tersebut telah bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel di Berlin, di mana dia mengatakan bahwa dia siap untuk duduk di meja perundingan untuk menyelesaikan krisis regional.

Sheikh Tamim juga mengadakan diskusi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang meminta negara-negara pemblokir untuk mencabut embargo di Qatar secepat mungkin.

Jenderal Rusia Tewas di Suriah Timur

SURIAH (Jurnalislam.com) – Seorang jenderal Rusia tewas saat melawan kelompok Islamic State (IS) di dekat kota timur Suriah, Deir Ezzor, kata kementerian pertahanan Moskow, Ahad (24/9/2017).

“Divisi Jenderal Valeri Assapov terbunuh saat sebuah granat meledak saat ditembaki oleh pasukan IS,” kementerian tersebut dikutip oleh media setempat, menambahkan bahwa perwira itu bertugas sebagai penasihat pasukan rezim Syiah Suriah, Middle East Eye melaporkan.

Kementerian tersebut mengatakan bahwa Assapov akan dihargai secara anumerta untuk pelayanannya.

Rusia Klaim Bunuh 200 Pasukan IS dalam Serangan Udara di Deir Az Zor

Provinsi Deir Ezzor, di perbatasan timur Suriah dengan Irak, kaya akan ladang minyak dan gas yang berfungsi sebagai arus pendapatan utama bagi IS di puncak kekuasaannya.

Rusia melakukan intervensi untuk mendukung rezim Nushairiyah Suriah pada bulan September 2015 dan telah membantu pasukan rezim dalam sebuah serangan terhadap Deir Ezzor dari barat.

Pejuang Islam Moro ajak Oposisi Bersenjata Lainnya untuk Meletakan Senjata

ZAMBOANGA (Jurnalislam.com) – Kelompok pejuang Islam Moro, kelompok oposisi terbesar di Filipina mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya telah mulai meyakinkan kelompok oposisi bersenjata lainnya di Filipina Selatan untuk meletakkan senjata mereka dan bersatu demi mendukung terciptanya daerah Bangsamoro di negara tersebut.

Wakil Ketua Front Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front-MILF) Ghazali Jaafar mengatakan bahwa usulan sertifikasi Presiden Rodrigo Duterte tentang Hukum Dasar Bangsamoro (Bangsamoro Basic Law-BBL) yang mendesak awal pekan ini akan meyakinkan oposisi lain untuk melucuti senjata dan berpartisipasi, karena, “mereka sekarang pun berjuang agar memiliki pemerintah untuk rakyat Moro.”

“Ini akan meyakinkan warga Maute, ini akan meyakinkan BIFF [Pejuang Kebebasan Islam Bangsamoro- Bangsamoro Islamic Freedom Fighters], ini akan meyakinkan Abu Sayyaf, ini akan meyakinkan kelompok lain,” kata Jaafar merujuk pada tiga kelompok oposisi yang diduga berjanji setia kepada kelompok Islamic State, sebagaimana dikutip oleh ABS-CBN News, lansir Anadolu Agency Sabtu (23/9/2017).

Siapkan Serangan Terakhir di Marawi, Militer Filipina Minta Bantuan Pejuang Islam Moro

Hukum BBL yang diajukan ke Duterte pada bulan Juli dikirim ke Senat dan Kongres bulan lalu. Itu adalah bagian dari kesepakatan damai 2014 antara pemerintah dan MILF yang mengusulkan sebuah daerah otonomi Bangsamoro, menggantikan Daerah Otonomi yang ada di Mindanao Muslim.

Jaafar menyatakan keyakinannya bahwa pemberlakuan BBL adalah satu-satunya solusi untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di selatan Filipina, karena akan mengakhiri alasan pertempuran.

“Inilah satu-satunya solusi … Jika masalahnya terpecahkan, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bertarung lagi … Mereka juga berjuang karena ingin memiliki pemerintahan,” katanya.

Jaafar menambahkan bahwa meskipun MILF tidak setuju dengan kegiatan kriminal kelompok oposisi lainnya, Jaafar telah memulai pembicaraan untuk menghentikan upaya pertarungan yang harus dikomunikasikan kepada Duterte.

“Tujuan kami adalah meyakinkan mereka untuk kembali ke MILF dan merupakan kewajiban, tugas kami untuk berbicara dengan saudara-saudara kita sebagai umat Islam untuk menghindari pertempuran melawan mereka. Pertarungan melawan salah satu dari mereka adalah situasi yang paling kami benci,” katanya.

Inisiatif MILF muncul setelah pertempuran antara pasukan pemerintah dan gabungan pasukan kelompok Maute dan Abu Sayyaf, yang melakukan serangan di kota Marawi pada 23 Mei dalam upaya membangun sebuah kekhalifahan Islam di wilayah tersebut.

Jaafar menegaskan bahwa kelompok oposisi lokal telah bersekutu dengan IS untuk memecahkan masalah logistik mereka. IS, sementara itu, telah berkembang di wilayah lain karena menderita kemunduran di Suriah dan Irak.

“Mereka mungkin bersekutu di sana, untuk tujuan apa? Untuk keperluan logistik, dan mereka bisa melanjutkan apa yang mereka lakukan sekarang,” katanya.

Pengepungan di Marawi, yang mendorong Duterte untuk memberlakukan darurat militer di semua pulau Mindanao sampai akhir tahun, telah menyebabkan sebuah krisis kemanusiaan, menggusur lebih dari 300.000 penduduk, dan menewaskan sedikitnya 887.