Berita Terkini

Street Qur’anic Dakwah, Potong Rambut Gratis Setelah Baca Qu’ran

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Belajar agama itu mudah karena bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Itulah yang ditanamkan Street Qur’ani Dakwah (SQD) Ponpes Salman Al Farisi, Karanganyar saat menggelar aksi dakwah the Car Free Day (CFD) Karanganyar setiap Ahad pagi di depan Kodim Karanganyar.

Founder SQD, Ustaz Kelik Subagio mengatakan, dalam aksi dakwah SQD, warga yang berada di CFD Karanganyar bisa belajar baca Al-Qur’an dengan para Da’i dari Ponpes Salman Al-Farisi.

Selain itu, warga juga bisa memeriksakan kesehatannya secara gratis, pijat gratis hingga cukur gratis hanya dengan membacakan salah satu  surat pendek dalam Al-Qur’an.

“Tujuannya dari kegiatan ini adalah supaya Al Qur’an bisa masuk keseluruh lapisan masyarakat dan di hari ini kita menyediakan potong rambut gratis yang cukup dengan membaca surat pendek saja,” katanya kepada jurniscom Ahad (17/2/2019).

Kusmanto (48) warga asal Tasikmadu Karanganyar mengaku senang dengan cara dakwah dari SQD tersebut, sebab, ia bisa mendapatkan banyak manfaat dari salah satu program Ponpes Salman Al Farisy tersebut.

“Alhamdulillah saya dapat dua manfaat langsung dari acara ini, yaitu cukur gratis sekaligus bisa belajar membaca Al Qur’an,” katanya.

Selain pemeriksaan kesehatan, pijat dan cukur rambut, warga juga bisa membaca sejumlah buku Islami yang disediakan di stand SQD rencananya SQD akan terus melakukan inovasi dakwah di setiap aksi aksinya di CFD.

Kenaikan Tarif Tol: Buah Kebijakan Kapitalistik

Oleh : Nur Purnama Indah Puspasari

Dilansir dari detik.com pada Rabu (13/02/19), sejumlah ruas tol bakal mengalami penyesuaian alias kenaikan tarif tahun ini. Penyesuaian tersebut akan mengikuti jejak Tol Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang rencananya dimulai pada 14 Februari ini.

Meski muncul kabar terbaru yang disampaikan oleh  AVP Corporate Communications Jasa Marga, Irra Susiyanti. Ia mengatakan bahwa penyesuaian tarif Tol Sedyatmo ini masih ditunda dahulu, guna memberikan sosialisasi kepada masyarakat secara optimal. (m.detik.com)

Jalan tol sebagai infrastruktur yang digadang-gadang dibangun untuk skala jangka panjang demi kepentingan rakyat dan menjadi kebanggaan pemerintah saat ini, nyatanya justru melahirkan polemik dan ironi tersendiri.

Di negara lain, tarif tol menjadi semakin murah ketika pembangunan jalan tol rampung dilakukan. Tetapi di negara ini yang terjadi justru sebaliknya. Terjadi pemberlakuan kenaikan tarif ketika tol sudah gagah membentang. Namun disisi lain, fasilitas pelayanan di jalur tol pun belum maksimal dilakukan. Kenaikan tarif tol ini tentu dilatarbelakangi oleh para investor yang bergegas untuk meraih profit dari investasi yang telah mereka gelontorkan.

Selain penyesuaian terhadap tarif tol, hal yang sama juga terjadi pada tarif kargo udara. Bahkan maskapai plat merah, Garuda Indonesia (persero) sudah memberlakukan kenaikan SMU (Surat Muatan Udara) sejak 1 Januari 2019. Hal ini disampaikan oleh VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan lewat pesan singkatnya kepada Kompas.com, Selasa (5/2/2019).

Ikhsan juga menjelaskan, bahwa kenaikan ini disesuaikan dengan cost yang harus dikeluarkan oleh maskapai. Termasuk penyebabnya adalah dengan adanya kenaikan tarif avtur (aviation turbine) yaitu bahan bakar pesawat, hingga 10% per Januari 2019 ini. (detik.com)

Terkait kenaikan avtur ini, pemerintah sudah memanggil Pertamina untuk meminta penjelasan. Selama ini avtur memang hanya dimonopoli oleh Pertamina. Selanjutnya menurut pemerintah, solusi satu-satunya untuk kondisi ini adalah dengan membuka peluang kompetitor untuk penjualan avtur. Dengan adanya kompetisi, maka akan ada persaingan sehat yang memacu efisiensi di semua cost yang ada. Karena efek dari kenaikan tarif avtur ini tidak hanya berimbas pada tarif kargo udara saja, tetapi juga akan berpengaruh pada harga tiket pesawat. (tirto.id)

Kisruh kenaikan 50% tarif kargo udara yang diantaranya adalah akibat kenaikan avtur ini, tampak memang merupakan satu manuver yang diluncurkan sebagai pembuka keran bisnis bagi swasta. Sehingga swasta bisa masuk menjadi kompetitor bagi Pertamina. Karena baru disinggung oleh pemerintah terkait wacana kompetitor ini, gayung langsung disambut oleh PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang memang sejak 2017 sudah berencana menjual avtur di beberapa bandara di Indonesia.

Dalam wawancara khusus di CNBC Indonesia TV, Direktur Utama AKR, Haryanto Adikoesoemo, mengatakan AKR siap masuk ke bisnis bahan bakar pesawat. “Kami sudah set up dengan BP untuk avtur, ini sedang dalam tahap. Kami akan masuk ke bandara dan lebih konsentrasi ke Indonesia Timur,” ujar Haryanto, Rabu (13/2/2019).

Wakil Presiden, Jusuf Kalla juga menjelaskan, bahwa badan usaha yang berniat menjadi kompetitor bagi bisnis avtur ini harus mampu menyediakan infrastruktur seperti membangun tangki-tangki di bandara. Selama ini memang baru Pertaminalah yang bisa menyediakan fasilitas tersebut. (cnbcindonesia.com)

Dari fakta-fakta tersebut, tentu bukan temuan baru di era Kapitalis ini. Dalam sistem ekonomi Kapitalis, termasuk yang diterapkan di Indonesia, biaya pembangunan dan pemeliharaan berbagai infrastruktur, selain diperoleh dari sektor pajak sebagai pemasukan terbesar penerimaan negara, lalu dari pinjaman atau uang luar negeri, juga melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS), dalam penyediaan infrastruktur atau layanan publik dalam jangka waktu panjang (biasanya 15-20 tahun).

Kemudian pada akhirnya masyarakatlah yang harus menanggung beban baik secara langsung melalui pungutan penggunaan infrastruktur seperti tarif tol yang menurut UU No. 38 Tahun 2004 Pasal 48 ayat 3, dapat dievaluasi dan dilakukan penyesuaian setiap 2 tahun sekali, maupun pungutan tidak langsung dalam peningkatan berbagai bentuk pungutan pajak.

Tetapi sangat berbeda pengelolaannya jika yang diterapkan adalah sistem ekonomi Islam. Dalam buku Sistem Keuangan Negara Khilafah, oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum, infrastruktur dibagi menjadi 3 jenis dari sisi kepemilikan, yaitu Infrastruktur Milik Umum, Infrastruktur Milik Negara dan Infrastruktur Milik Individu.

Jalan raya dan industri bahan bakar seperti avtur, adalah termasuk kepada infrastuktur milik umum yang harus dikelola oleh negara dan dibiayai dari dana milik umum. Bisa juga dari dana milik negara, tetapi negara tidak boleh mengambil keuntungan dari pengelolaannya. Jikapun ada pungutan, hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk yang lain. Termasuk untuk membangun infrastruktur atau sarana lain yang menjadi kewajiban negara kepada rakyat.

Kemudian untuk sarana transportasi yang termasuk di dalamnya adalah pesawat terbang, termasuk dalam kategori Infrastuktur Milik Negara. Sarana/infrastruktur ini boleh saja dimiliki individu, tetapi negara juga harus menyediakannya untuk melayani masyarakat dalam memudahkan kehidupan mereka. Selain itu pengelolaannya pun harus dilakukan oleh negara.

Kemudian, karena infrastruktur tersebut milik negara maka dimungkinkan bagi negara untuk memperoleh pendapatan dengan menentukan tarif tertentu atas pelayanannya termasuk juga mengambil keuntungan. Pendapatan dan keuntungannya pun menjadi milik negara dan menjadi salah satu pemasukan Baitul Mal, yang diletakkan pada pos fai dan kharaj yang selanjutnya dana itu digunakan sesuai dengan peruntukkannya.

Sehingga dalam pengelolaan sistem Islam, tidak ada ruang ataupun celah bagi pihak swasta untuk menguasai dan mencari keuntungan dalam sektor infrastuktur milik umum maupun infrastruktur milik negara.

Muslimpreneur Menyikapi Persaingan Bisnis

Ditulis oleh : Anang. S

JURNIS – Persaingan bebas dalam berbisnis tidak dapat dihindari sebagai dampak kesepakatan perdagangan bebas dunia. Fakta yang ada saat ini persaingan bebas telah mengarah pada praktik-praktik persaingan liar yang menghalalkan segala cara.

Berbisnis merupakan salah satu jalan yang ditempuh seorang muslim untuk memperoleh rezeki (harta). Rezeki yang dia peroleh merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah SWT, maka sekuat apapun usahanya jika Allah belum menetapkan ia tidak akan bisa mendapatkannya. Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan menjadi kekuatan ruhiyah bagi muslimpreneur menghadapi persaingan bebas.

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Islam sebagai rahmatan lil alamin yang mengatur semua aspek kehidupan termasuk bisnis telah memberikan panduan untuk menghindari persaingan bisnis yang tidak sehat. Muslimpreneur menyikapi persaingan bisnis sesuai dengan etika bisnis dalam Islam.

Muslimpreneur selalu memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan akad bisnis. Ia tidak menghalalkan segala cara namun terus belajar untuk menghasilkan produk berkualitas sesuai syariah. ”Mencari yang halal wajib bagi setiap muslim” (HR. Thabrani)

Seorang Muslimpreneur tidak hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri melainkan harus memberikan manfaat kepada yang lain. Bagi seorang muslimpreneur, berbisnis merupakan bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Bag seorang muslimpreneur, persaingan tidak dimaknai sebagai usaha mematikan kompetitor, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang lebih baik dari pesaingnya. Memposisikan pesaing sebagai benchmark (pembanding) terhadap bisnisnya sehingga menjadi bahan untuk membangun bisnisnya.

Muslimpreneur harus bersikap profesional dalam menjalankan bisnisnya, sikap professional meliputi 3 hal yang harus dimiliki :

  1. Kafa’ah, cakap atau ahli dalam bidang pekerjaan yang dilakukan.
  2. Himmatul-‘amal, memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi.
  3. Amanah, bertanggung jawab dalam menjalankan setiap tugasnya.

 

Literasi Keuangan Syariah Penting Bagi Keluarga

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Ahad (17/2/2019) hadir menjadi salah satu panelis pada Halaqah Dakwah dan Literasi Keuangan Syariah di Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok.

Hadir sebagai panelis lainnya, praktisi keuangan Gus Reza M. Syarif dan pimpinan Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok  KH. M. Cholil Nafis yang juga merupakan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI

Menag mengapresiasi tema halaqah yang ia nilai sangat penting. Menurutnya, literasi keuangan syariah sangat penting dan relevan dengan keluarga.

Ia mengungkapkan, faktor penyebab perceraian  salah satunya disebabkan karena masalah keuangan keluarga. Oleh karenanya, ujar Menag, tema yang diangkat dalam halaqoh ini sangat relevan.

“Saat ini kita perlu memberikan literasi tentang bangunan keluarga yang kokoh, di antaranya melalui literasi keuangan syariah,” ucapnya.

Menag menyampaikan, Kemenag  fokus menjalankan program bagi ketahahan keluarga di antaranya melalui bimbingan perkawinan bagi setiap pasangan yang akan menikah.  Menurutnya, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.

“Bila keluarga berkualitas, maka masyarakat tersebut juga baik,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok  berada di areal atau lahan wakaf yang cukup luas,  tampak bangunan masjid yang masih dalam tahap pembangunan, belum banyak bangunan sarana pesantren yang berdiri.

Menag  mengungkapkan, pontren dalam konteks Indonesia tidak hanya semata sebagai lembaga pendidikan Islam semata, tapi jauh sebelumnya merupakan lembaga dakwah, lebih luas dari semata sebagai lembaga pendidikan.

“Bahkan tidak hanya lembaga dakwah semata, juga lembaga yang senantiasa merawat tradisi yang baik yang ditinggalkan leluhur kita. Karena sesuatu  yang baik, maka kemudian itu dijaga, dikembangkan dan terus berksinambungan untuk senantiasa menebarkan kemaslahatan sebanyak mungkin bagi masyarakat,” ujar Menag.

Menag mengungkapkan  rasa syukurnya bisa menyaksikan awal perintisan pondok pesantren  tersebut. Ia berharap, apa yang dirintis seluruh civitas pondok pesantren Cendekia Amanah bisa terwujud.

Dalam kesempatan tersebut diserahkan surat Izin Madrasah Diniyah Takmiliyah Cendekia Amanah yang diserahkan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Buchori.

Tampak hadir selain para pimpinan pondok dan santri, Ketua MUI Ahmad Baidhowi dan mantan  Menteri Perindustrian Saleh Husin.

sumber : kemenag.go.id

Milenial dari Berbagai Komunitas Ikuti Pelatihan Video Pendek Bimas Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menggelar kegiatan ‘Coaching Pembuatan Video Pendek’ yang diselenggarakan di Hotel Padjajaran Suite, Bogor, Jawa Barat pada 18-20 Februari 2019.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 80 peserta dari 1.500 orang yang mendaftar. Selain utusan dari lembaga mitra Bimas Islam, para peserta ini merupakan kalangan milenial yang berasal dari berbagai macam organisasi dan komunitas kepemudaan.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Muhammadiyah Amin mengatakan, kemajuan teknologi tak bisa dihindari, untuk itu, pelatihan ini diadakan agar menambah keterampilan para milenial di dunia digital. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas keagamaan generasi muda tersebut.

“Acara ini memang juga diharapkan oleh Menteri Agama supaya kegiatan Kementerian Agama untuk melibatkan kaum milenial,” kata Muhammadiyah Amin di sela acara ‘Bimas Islam Milenials Program’ Coaching Pembuatan Video Pendek di Bogor, Senin (18/2/2019).

Ia menambahkan, Ditjen Bimas Islam memiliki beberapa program kreatif yang dikembangkan untuk kaum milenial, diantaranya, Pelatihan Fotografi, Pelatihan Jurnalistik, Zakat-Wakaf Goes to Campus Citizen 4.0, Lokalatih Tunas Muda Ekonomi Syariah, Lomba Vlog Sejarah Islam, dan lain-lain.

Pada pelatihan pembuatan video pendek kali ini, Ditjen Bimas Islam menghadirkan pembicara dari salah satu komunitas pembuat film Islam, yakni Film Maker Muslim. Para peserta diajarkan tentang teknik pengambilan gambar, teknik editing, compositing, transisi dan lain-lain.

Salah satu peserta, Maulina Karlina (23 tahun), mewakili Yayasan Aspirasi Muslimah Indonesia (YASMINA) mengaku merasa terhormat karena terpilih dari ribuan orang yang mendaftar sebagai peserta.

“Saya semangat banget mengikuti pelatihan ini, InsyaAllah sangat bermanfaat ilmu yang didapat dan bisa diterapkan dengan baik,” katanya.

Pada hari kedua pelaksanaan pelatihan, para peserta berkunjung ke Unit Pencetakan Alquran (UPQ) di Ciawi, Bogor. Di lokasi ini, mereka langsung melakukan praktek setelah mengikuti pelatihan teori.

Bagi Kamu Milenial Muslim, Ini Tips Bagaimana Memulai Bisnis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – PT Bank BRI Syariah Tbk atau BRI Syariah memberi inspirasi milenial muslim pada acara Islamic Nexgen Fest Hijab Celebration 2019 yang digelar di kawasan Bintaro Jaya Xchange Park, Ahad (17/2/2019).

Acara digelar oleh startup fashion muslim HIJUP berkolaborasi dengan Kementerian BUMN bersama Bank Umum Syariah anak perusahaan BUMN.

Deputi Divisi Mikro BRI syariah Mohammad Isnaeni memberi tips-tips bagi milenial muslim yang ingin memulai bisnis.

Menurutnya, yang harus dilakukan untuk memulai bisnis, selain berbekal niat, generasi muda yang ingin mulai berbisnis sebaiknya menyesuaikan bisnis dengan minatnya.

“Contoh Ria Ricis dengan bisnis hijabnya, dan Andanu Prasetyo dengan bisnis kopinya,” katanya dalam talkshow bertema ‘start your business now’. Ria Ricis dan Andanu Prasetyo (founder Kopi Tuku) juga turut dalam talkshow tersebut.

Setelah niat dan minat, ia melanjutkan, diperlukan business plan dan modal.

BRI Syariah dalam acara tersebut menawarkan produk pembiayaan yang cepat, mudah, berkelanjutan dan syar’i.

Sementara itu, Direktur Utama BRI Syariah Moch. Hadi Santoso mengatakan, salah satu tujuan Indonesia kini sebagai pusat industri halal dunia.

Kini, Indonesia memiliki potensinya. Apalagi, ia melanjutkan, banyak enterpreneur muda yang membangun start up, salah satunya HIJUP.

“Nah kita sediakan medianya untuk bertransaksi secara syariah melalui BRIsyariah. Kami dukung komitmen pemerintah dalam memajukan industri halal di Indonesia. Generasi milenial ini harus terus mengembangkan kreativitasnya,” ujarnya.

Gelaran Islamic Nexgen Fest Hijab Celebration 2019 tersebut selain diisi talkshow, dimulai dengan Fun Run yang diikuti ratusan hijabers dan bazar halal fesyen. Lebih dari 1.000 muslimah ikut dalam kegiatan ini.

sumber : republika.co.id

Anies Khawatir Meikarta Ganggu Pasokan Air Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku khawatir keberadaan proyek Meikarta di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat bakal mengganggu pasokan air bersih Jakarta.

Sebab, menurut dia, 81% air baku Jakarta berasal dari Sungai Citarum yang bermuara di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.

“Ini jadi perhatian bagi pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena di sana ada rencana proyek pembangunan proyek perumahan yang sangat besar, Meikarta,” ujar Anies di Gedung BPK, Senin (18/2/2019).

Anies mengatakan, lokasi proyek Meikarta berdekatan dengan aliran air barat yang melewati Kalimalang, Jakarta Timur.
Menurut Anies, proyek properti di kawasan itu dapat meningkatkan pencemaran air Sungai Citarum.

“Kalau air belok ke sini akan terganggu. Posisinya sangat dekat dengan Tarum Barat atau Kalimalang,” kata Anies.

Saat ini, Sungai Citarum yang mengalirkan air ke Waduk Jatiluhur menyokong kebutuhan air minum masyarakat Jakarta hingga 81%.

Sementara itu, 13% sisanya didapat dari pembelian air curah dari PDAM Tirta Kerta Raharja, Kabupaten Tangerang.

Hanya 6% kebutuhan air lokal yang yang dapat dipenuhi dari Kali Krukut dan Kali Pesanggrahan.

Sungai yang didapuk sebagai sungai terkotor di dunia oleh Bank Dunia itu mulai dibenahi lewat program pemerintah pusat Citarum Harum.

Hasil audit BPK terhadap program Citarum Harum di tahun anggaran 2016-2018 menyimpulkan, kualitas dan kuantitas air dari Sungai Citarum masih jauh dari harapan.

Sumber : kontan.co.id

 

Hijup Usung Milenial Peduli Negeri di Hijab Celebration Day

JAKARTA (Jurnalislam.com)  – Seiring dengan movement world hijab day setiap 1 Februari, Marketplace Hijup kembali menghadirkan Hijab Celebration Day 2019 pada Ahad (17/2/2019).

Acara ini digelar untuk menginspirasi generasi muslimah milenial agar turut aktif berkontribusi positif dalam pembangunan negeri.

Seperti diketahui, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, dimana industri halal berpeluang menjadi tiang penyangga ekonomi bangsa di masa depan.

Lima sektor industri halal di Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah fashion, kuliner, wisata, kosmetik atau produk farmasi & finansial.

Target menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia pada 2020 sudah di depan mata, sinergi dan kolaborasi dengan semua stakeholder merupakan solusi untuk mewujudkan visi bersama tersebut.

Merujuk pada data State of the Global Islamic Economy Report 2018/19, untuk industri fashion muslim, Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai pasar fashion muslim terbesar dengan pengeluaran sebesar US$ 20 miliar.

Secara global, total pengeluaran pasar pada industri ini sebesar US$ 270 Miliar dan diprediksi meningkat 5% pada 2023 sebesar US$ 361 Miliar.

Adanya peluang besar ini menjadikan Indonesia perlu terus meningkatkan kinerja dan sinergi yang menguatkan berbagai aspek dari hulu hingga hilir dan menjadi pemain di negeri sendiri maupun kancah internasional.

Hijab Celebration Day tahun kedua ini diisi dengan berbagai aktivitas mulai dari olahraga, interactive talkshow, hingga bazar curated halal industri yang melibatkan lebih dari 1.000 millennials muslimah.

Chief Executive Officer HIJUP, Diajeng Lestari mengungkapkan, kegiatan Hijab Celebration Day digelar sebagai wujud rasa syukur kita semua yang lahir dan tumbuh di Indonesia, dengan berbagai kemudahan untuk mendapatkan produk-produk halal serta akses untuk beraktivitas dengan tetap mengenakan hijab sesuai syariat.

Diajeng berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para milenial muslimah untuk terus berkarya dan produktif yang selaras pula dengan campaign HIJUP, yakni empower change.

Hal utama pada kesempatan kali ini adalah menunjukkan komitmen bersama untuk menciptakan ekosistem industri halal yang diawali dengan sektor fashion muslim.

sumber : kontan.co.id

Banyak Salah Data saat Debat, Jokowi Diminta Klarifikasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Debat Publik Pilpres 2019 putaran kedua yang bertemakan “Energi dan Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dan Infrastuktur” menyisakan banyak rasa penasaran di benak publik.

Pasalnya, diduga terdapat data dan fakta tidak akurat yang disampaikan petahana atau calon presiden nomor urut 01.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, agar tidak membingungkan publik alangkah baiknya berbagai data dan fakta yang dianggap tidak akurat tersebut diklarifikasi agar publik tercerahkan.

Klarifikasi diperlukan agar berbagai data dan fakta yang keluar saat debat tidak menjadi kontroversi atau isu yang tidak sehat di publik.

“Baiknya Pak Jokowi mengklarifikasi beberapa data dan fakta yang beliau sampaikan saat debat,” kata Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/2/2019).

Ia mengingatkan bahwa Jokowi selain capres, juga presiden di mana semua informasi yang beliau keluarkan harus akurat karena ini soal capaian, kinerja dan kondisi Indonesia.

“Bisa jadi, tim pemenangan Pak Jokowi punya data dan fakta yang berbeda dengan data atau fakta yang dipunyai lembaga resmi atau yang dihimpun berbagai organisasi masyarakat sipil. Makanya harus diklarifikasi, sehingga publik tidak bingung dan bimbang serta mengetahui kebenarannya,” tambah Fahira.

Menurut Fahira, dalam mengelola sebuah negara, data bukan sekedar deretan angka, tetapi adalah dasar atau pijakan awal dalam perencanaan pembangunan.

Penggunaan data yang akurat menjadi prasyarat keberhasilan program pembangunan nasional.

Misalnya perbedaan data yang sangat signifikan terkait impor jagung antara yang disampaikan Jokowi dengan data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Tahun 2018.

Perbedaan data seperti ini jika tidak diklarifikasi, lanjut Fahira, tentunya akan menyusahkan perencanaan pembangunan pertanian khususnya jagung.

Ia juga menyayangkan tentang  klaim bahwa dalam tiga tahun terakhir tidak terjadi kebakaran lahan hutan dan lahan gambut, padahal data resmi dari KLH sejak 2016 masih terjadi kebakaran.

“Makanya harus diklarifikasi. Data dan fakta ini adalah indikator yang paling kuat dan tepat untuk melihat apakah negeri ini baik-baik saja atau malah banyak hal yang harus diperbaiki,” pungkasnya.

 

Mimpi Aneh dan Kata ‘Bismillah’ Hantarkan Ester Memeluk Islam

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ada beragam cara Allah memberikan hidayah bagi orang yang Dia kehendaki.

Salah satunya melalui mimpi seperti dialami Ester Sarsini (42) warga Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo yang mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Baitul Amin, Ngruki, Sukoharjo, Senin (18/2/2019).

Ester yang sebelumnya beragama Kristen itu bercerita tentang awal mulanya mulai tertarik dengan Islam.

Sekitar tiga tahun yang lalu ia mengaku bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia sering dikejar kejar Al Qur’an dalam bentuk tulisan arab berwarna emas.

Ester pun selalu mengucapkan kata ‘Bismillah’ dalam setiap aktifitas yang dijalaninya, kata itu selalu terucap secara otomatis oleh mulutnya meski dirinya saat itu bukanlah seorang muslim.

“Saya bukan seorang muslim tapi awalah ‘Bismillah’ itu selalu ada, saya juga sering bermimpi dikejar Al Qur’an yang berbentuk tulisan arab emas terus, nah dengan adanya itu say berfikir apa ini perintah Allah untuk saya menjadi seorang muslim,” katanya.

Ester pun memutuskan untuk mencari tahu tentang Islam, dirinya mencoba mencari orang yang bisa membantunya menguatkan niatnya itu, hingga akhirnya ia bertemu dengan Yosi seorang driver ojek online.

Di dalam mobil tersebut, ia mengaku merasakan ketenangan saat mendengarkan lantunan suara Al Qur’an yang diputar oleh Yosi, ia pun memberanikan diri untuk bertanya soal agama Islam.

“Saya saat itu berangkat kerja dan ketemu bapak Yosi yang melihat dia itu seorang muslim dan kemudian saya tanya tanya bisa dan dia bilang nanti dimbing di tempat masjid saya tinggal,” ungkapnya.

Sementara itu, Pembina Dai Berwibawa Giyo (Giriwoyo) ustaz Andriansyah yang membimbing Ester untuk mengucapkan syahadat mengatakan, bahwa pihaknya serius dalam menggarap lahan dakwah para mualaf yang masih awam akan ilmu Islam.

“Ini bagian dari dakwah kami dalam menyambut umat dikalangan minoritas. Termasuk untuk mensyahadatkan dan berlanjut dalam bimbingan  menjalankan syariat Islam. Semoga bu Rohmah Wati, nama hijrah setelah masuk Islamnya dapat lansung mengikuti pembinaan dan pengajian bersama ibu-ibu disini,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Infaq Dakwah Center (IDC) Soloraya memberikan bantuan wakaf Al Qur’an dan santunan untuk Ester yang merupakan seorang mualaf.

Alhamdulillah, IDC bisa menyalurkan amanah dari donatur. Termasuk program wakaf Al Quran untuk belajar bagi mualaf,” tutur Kang Sedyo, Relawan IDC.