Muslimpreneur Menyikapi Persaingan Bisnis

Muslimpreneur Menyikapi Persaingan Bisnis

Ditulis oleh : Anang. S

JURNIS – Persaingan bebas dalam berbisnis tidak dapat dihindari sebagai dampak kesepakatan perdagangan bebas dunia. Fakta yang ada saat ini persaingan bebas telah mengarah pada praktik-praktik persaingan liar yang menghalalkan segala cara.

Berbisnis merupakan salah satu jalan yang ditempuh seorang muslim untuk memperoleh rezeki (harta). Rezeki yang dia peroleh merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah SWT, maka sekuat apapun usahanya jika Allah belum menetapkan ia tidak akan bisa mendapatkannya. Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan menjadi kekuatan ruhiyah bagi muslimpreneur menghadapi persaingan bebas.

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Islam sebagai rahmatan lil alamin yang mengatur semua aspek kehidupan termasuk bisnis telah memberikan panduan untuk menghindari persaingan bisnis yang tidak sehat. Muslimpreneur menyikapi persaingan bisnis sesuai dengan etika bisnis dalam Islam.

Muslimpreneur selalu memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan akad bisnis. Ia tidak menghalalkan segala cara namun terus belajar untuk menghasilkan produk berkualitas sesuai syariah. ”Mencari yang halal wajib bagi setiap muslim” (HR. Thabrani)

Seorang Muslimpreneur tidak hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri melainkan harus memberikan manfaat kepada yang lain. Bagi seorang muslimpreneur, berbisnis merupakan bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Bag seorang muslimpreneur, persaingan tidak dimaknai sebagai usaha mematikan kompetitor, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang lebih baik dari pesaingnya. Memposisikan pesaing sebagai benchmark (pembanding) terhadap bisnisnya sehingga menjadi bahan untuk membangun bisnisnya.

Muslimpreneur harus bersikap profesional dalam menjalankan bisnisnya, sikap professional meliputi 3 hal yang harus dimiliki :

  1. Kafa’ah, cakap atau ahli dalam bidang pekerjaan yang dilakukan.
  2. Himmatul-‘amal, memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi.
  3. Amanah, bertanggung jawab dalam menjalankan setiap tugasnya.

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.