Berita Terkini

Dukung Pengungkapan Kasus, Busyro Muqoddas Sambangi Kediaman Keluarga Almarhum Siyono

KLATEN (Jurnalislam.com)- Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhammadiyah Busyro Muqoddas mendatangi kediaman Siyono di desa Brengkungan, Pogung, Cawas, Klaten, Rabu, (20/3/2019).

 

Kedatangan Busyro guna memberikan dukungan moril kepada keluarga Siyono terkait proses pra peradilan yang diajukan Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) beberapa waktu yang lalu.

 

Menurutnya, masih terdapat banyak kejanggalan yang harus diungkap kepada publik dalam peristiwa terbunuhnya imam masjid Muniroh oleh Densus 88 tersebut.

 

“Setelah peristiwa terbunuh atau tewasnya Siyono itu, karena diiringi dengan uang 100 juta dan kemudian sudah diserahkan kepada KPK, ini bentuk responsifnya KPK,” katanya saat berada di rumah istri almarhum Siyono Suratmi kepada jurniscom, rabu, (20/3/2019).

 

“Kita datang kesini untuk sekedar Say Hello, karena laporannya sudah disampaikan dan dari dulu tidak pernah ada langkah langkah yang seperti ini, datang sebagai respon itu aja,” imbuhnya.

 

Sementara perkembangan kasus kematian Siyono sendiri saat ini memasuki tahap sidang pra peradilan, Pengadilan Negeri (PN) Klaten dijadwalkan akan memberikan putusan terkait pra peradilan yang diajukan TPK pada senin, (25/3/2019).

Tiga Tahun Berlalu, Pengungkapan Kasus Kematian Siyono Masih Jalan Ditempat

KLATEN (jurnalislam.com)- Kuasa hukum Suratmi Taufik Nugroho meminta kepada Kapolri Tito Karnavian untuk bertanggung jawab dengan misalnya menganti penyidik yang menangani kasus kematian imam masjid Muniroh, Brengkungan, Klaten, Siyono.

 

Pasalnya, kasus yang dilaporkan pada bulan Mei 2016 tersebut oleh Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) belum ada perkembangan yang signifikan.

 

Kedua tersangka yakni AKBP M Tedjo dan IPDA Handres Hariyo Pambudi hanya dijatuhi hukuman hasil sidang kode etik kepolisian yakni dicopot dari kesatuan Densus 88.

 

“Kalau memang sekali lagi kepada Kapolri kalau penyidik di Klaten tidak bisa, diganti saja, biar profesional.  Masa, tiga tahun tidak ada perkembangan apa apa,” katanya kepada jurniscom usai sidang pra peradilan kasus Siyono di PN Klaten, Selasa, (19/3/2019).

 

Ia juga membantah atas pernyataan kuasa hukum termohon yang menyebut bahwa kasus tersebut masih berjalan dan penyidikan masih terus dilakukan.

 

“Yang kedua saya berfikir polisi itu profesional, artinya berfikir dengan cepat dan tegas menanggapi persoalan seperti ini dengan cepat, kenyataannya tiga tahun itu. Bukan waktu yang singkat tapi bagaimana mungkin,” ujarnya.

 

“Tiga tahun tidak ada sama sekali, kesulitannya di mana? Kalau memang polisi kurang bukti, kurang saksi, bisa diminta pada kami,” imbuhnya.

 

Taufik juga menegaskan bahwa paska pelaporan bulan Mei 2016, Suratmi belum pernah mendapatkan SP2HP dari pihak aparat kepolisian.

 

“Kami selalu memberikan apa yang diminta oleh kepolisian, tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada sama sekali, bahkan kita sudah membuat surat permohonan sp2hp itu sebanyak 4 kali,” ungkapnya.

 

“Tidak pernah ada tanggapan SP2HP yang kami minta, jadi kalau memang mengatakan proses, proses bagaimana, dapatnya apa harus jelas,” tandasnya.

Polisi Bantah Hentikan Kasus, Keluarga Siyono : Kami Belum Dapat Perkembangan Hasil Penyidikan

KLATEN (Jurnalislam.com)- Pengadilan Negeri (PN) Klaten menggelar sidang lanjutan pra peradilan kasus kematian Siyono dengan agenda pembacaan jawaban dari termohon (Polres Klaten-red) atas tuntutan pemohon dalam sidang sebelumnya.

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Kurniawan Dianto Ginting tersebut, kuasa hukum Polres Klaten AKBP Kusman menegaskan bahwa proses penyidikan atas tersebut masih dilakukan dan belum dihentikan.

Sebelumnya, ketua Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) Trisno Raharjo menilai ada penghentian kasus Siyono secara diam-diam mengingat tidak ada perkembangan yang berarti selama tiga tahun paska pelaporan pada Mei 2016.

“Dan apabila ada penghentian penyidikan, Harus dinyatakan dalam bentuk surat SP3 atau surat pemberitahuan penghentian penyidikan, kemudian disampaikan kepada terlapor, jaksa penuntut umum dan tersangka,” katanya.

“Namun termohon sampai saat ini belum ada dan belum pernah mengeluarkan surat SP3 atas perkara yang dilakukan yang dilaporkan oleh Suratmi, karena faktanya proses penyidikan atas perkara itu masih berjalan,” imbuh Kusman.

Menanggapi hal itu, kuasa hukum keluarga Siyono – Suratmi (istri Siyono-red) Taufik Nugroho mengatakan bahwa kliennya selama ini belum pernah mendapatkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP).

“Saya mau bertanya kepada Kapolri telah disampaikan, pak bolehkah dalam waktu selama hampir 3 tahun, kita mei 2016 buat laporan, sampai sekarang detik ini, belum pernah mendapatkan SP2b sama sekali,” ujarnya.

“Belum ada surat pemberitahuan sampai sekarang, kalau mereka bilang pernah berikan tunjukan sekarang, apakah dikirim lewat pos atau apa, kenyataannya klien kami tidak pernah terima,” tandas Taufik.

Sementara sidang pra peradilan kasus Siyono akan dilanjutkan pada rabu, (20/3/2019) dengan agenda pembacaan replik dan duplik serta menghadirkan bukti bukti baru.

Ketika Al Qur’an Dilantunkan di Ruang Parlemen Selandia Baru

WELLINGTON (Jurnalislam.com) — Parlemen Selandia Baru mengadakan rapat pertama kali pascapenembakan yang terjadi di dua masjid di Christchurch pada Jumat (15/3) lalu. Dilansir Express News, Selasa (19/3), sebelum rapat dimulai, seorang imam membacakan ayat suci Alquran untuk menghormati korban penembakan.

Sementara itu Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dihadapan parlemen menyampaikan pidatonya.

Dalam pidato tersebut ia menyebut tentang persatuan dan bela sungkawa pada keluarga korban dan memuji aksi heroik yang dilakukan Naeem Rashid yang mati syahid ketika berusaha melawan penyerang.

“Keluarga korban akan mendapatkan keadilan. Pelaku teroris mungkin mencari ketenaran, tetapi kita di Selandia Baru tidak akan memberinya apa-apa. Bahkan kita tidak akan menyebutkan namanya,” ujar Ardern. Perdana Menteri Selandia Baru ini secara tegas menolak untuk menyebut nama pria bersenjata itu.

Para korban serangan teror di dua masjid yang sedang melangsungkan ibadah shalat Jumat ini sebagian besar adalah migran muslim maupun pengungsi dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Bangladesh, India, Turki, Kuwait, dan Somalia.

sumber : republika.co.id

Kecam Aksi Keji di New Zealand, Ini Kata Pemuda Hijrah Al Bantany

CILEGON (Jurnalislam.com) – Pemuda Hijrah Al Bantany ikut mengecam tindakan keji yang menewaskan puluhan umat Islam di dua Masjid Christchurch, New Zealand beberapa waktu lalu.

“Kami mengecam, mengutuk pelaku dan komplotan yang berada di belakang kejadian tersebut,” kata Rulian mewakili Ta’lim Cloud, salah satu komunitas hijrah, bagian dari Pemuda Hijrah Al Bantany di Cilegon, Senin (18/3/2019).

Senada dengan itu, Nofan dari Komunitas Bikers Subuhan Banten mendesak agar pelaku diberikan hukuman berat dan sebanding dengan aksi kejamnya.

“Menuntut agar pemerintah setempat memberi hukuman yang seberat-beratnya bagi pelaku,” tegasnya.

Sementara itu, Switch_on atau komunitas Sahabat Hijrah dari Cilegon mengajak para pemuda di Banten untuk peduli terhadap umat Islam di manapun berada.

“Semoga para korban mendapat pahala syuhada. Dan mengajak pemuda Islam untuk berperan lebih aktif dan peduli lagi terhadap saudara seaqidah di tempat lain,” ungkap Rona perwakilan dari Switch_on.

Sampai saat ini korban tewas akibat aksi terorisme di Masjid Selandia Baru sudah mencapai 50 orang. Pihak keamanan setempat sedang berusaha mengusut tuntas para pelaku aksi teror ini.

Sebagaimana diketahui, Pemuda Hijrah Al Bantany merupakan sebuah wadah untuk komunitas-komunitas hijrah di Banten.

Aksi Solidaritas untuk New Zealand Berlanjut di Semarang, FUIS: Mereka Teroris Sebenarnya!

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Ummat Islam Semarang (FUIS) menggelar aksi solidaritas untuk New Zealand di Jalan Pahlawan, Semarang, Senin (18/3/2019).

Aksi kecaman atas pembunuhan massal kaum muslimin di dua Masjid Christchurch, New Zealand ini merupakan bentuk kepedulian dari warga Semarang.

“Aksi ini adalah bentuk kecaman terhadap pembunuhan kaum muslimin,” kata ketua FUIS, Wahyu Kurniawan di lokasi.

Selain itu, ia meminta kepada kepala-kepala Negara untuk ikut bersuara terhadap peristiwa tersebut dan meminta kasus ini dikategorikan aksi terorisme.

“Mereka adalah teroris yang sebenarnya,” tegasnya.

Sementara itu, orator lainnya ustaz Amur Yuda berharap, dengan pengorbanan puluhan muslim ini dapat menjadi hikmah untuk menarik orang-orang untuk memeluk agama Islam.

“Pengorbanan darah yang keluar dari umat muslim menjadikan cahaya untuk berbondong-bondong masuk Islam,” pungkasnya.

Acara yang berakhir menjelang waktu salat Ashar tersebut berjalan lancar meski sempat diguyur hujan deras.

Bursa Efek Indonesia akan Luncurkan Wakaf Saham

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera meluncurkan instrumen keuangan syariah berupa wakaf saham. Menurut Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, wakaf saham rencananya diluncurkan April mendatang.

“Insha Allah ya, ini mudah-mudahan terlaksana dalam waktu dekat, jadi paling lama April (2019) kita akan lakukan peluncurannya,” kata Hasan saat ditemui di acara Bincang Sore: Saatnya Hijrah ke Saham Syariah, Senin (18/3).

Secara sederhana, Hasan menjelaskan, mekanisme wakaf ini mirip seperti mewakafkan harta lainnya, namun harta yang diwakafkan berbentuk saham. Calon wakif nantinya bisa mewakafkan saham melalui mitra yang sudah terdaftar di Anggota Bursa penyedia layanan Sharia Online Trading System (AB-SOTS).

Dalam hal ini, AB-SOTS berperan sebagai penyedia layanan wakaf. Dari 13 AB-SOTS, menurut Hasan, baru ada sekitar enam AB-SOTS yang menjadi mitra. Namun, Hasan belum bisa memberikan keterangan siapa saja anggota bursa yang menjadi mitra tersebut.

Melalui wakaf saham ini, Hasan menerangkan, wakif bisa mewakafkan seluruh harta namun tetap mempertahankan pokoknya sebagai bagian dari wakaf. Sedangkan pemanfaatannya akan disesuaikan dengan akad wakaf.

Dalam pengelolaannya, BEI akan bekerja sama dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Akan ada juga MoU untuk mengikat BEI, BWI dan AB-SOTS untuk memastikan tidak ada kepentingan para wakif yang terabaikan.

“Kita menggandeng BWI yang secara resmi merumuskan mekanisme yang teratur dan baik. ” tutur Hasan.

sumber: republika.co.id

 

Bank Aset Wakaf Siap Bangun Rumah Murah untuk Pengafal Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Bank Aset Wakaf (BAW) meluncurkan program wakaf produktif, berupa pembangunan rumah untuk para wakif (pemilik tanah wakaf).

Nantinya melalui program ini para wakif yang tidak memiliki tempat tinggal dapat menempati rumah di atas tanah wakaf tanpa adanya pembelian tanah.

Berdasarkan Badan Wakaf Indonesia (BWI), tanah wakaf di Indonesia pada 2018 sekitar 4,3 miliar meter persegi. CEO Bank Aset Wakaf Bobby Herwibowo mengatakan cakupan tanah wakaf tersebut harus dikembangkan dan dimanfaatkan dengan benar.

“Hingga saat ini belum ada organisasi ataupun lembaga pemerintah yang dapat mengelola wakaf tanah tersebut,” ujarnya dalam keterangan tulis, Ahad (17/3).

Berangkat dari pemahaman tersebut, BAW berupaya mengagas manajemen properti sesuai syariat.

Caranya dengan membangun perumahan yang lebih terjangkau bagi masyarakat, dengan konsep mengelola tanah wakaf.

Pada proyek pertama akan dibangun di Cianjur Jawa Barat dalam waktu tiga bulan ke depan, dengan luas tanah 4 hektar.

Rencananya di lahan tersebut akan dibangun 173 unit rumah, dan 27 bangunan komersil (pertokoan).

Harga yang ditawarkan Rp 111 juta untuk tipe 50 dengan tiga kamar tidur. Harga yang ditawarkan bisa lebih murah karena harga yang dipatok hanya bangunan fisik saja.

“Bicara tanah wakaf adalah aset mati. Jika mau dibangun masjid, coba lihat banyak bangunan masjid yang megah, sayangnya hanya sekedar bangunan fisiknya saja. Kami berencana membangun perumahan sekaligus ada masjid di lingkungan perumahan tersebut. Masjid akan menjadi hidup,” ungkapnya.

Sementara Pendiri BAW Erie Sudewo menambahkan pembangunan perumahan dari BAW ini seperti mengacu apartemen, pemilik tidak memiliki tanahnya tapi hanya bangunan fisiknya.

“Sertifikatnya yakni Hak Guna Bangunan (HGB). Konsumen juga bisa mencicilnya selama 10 tahun setiap tahun sekitar Rp 1 juta selama 120 bulan,” jelasnya.

Adapun syarat utama adalah harus beragama Islam dan bertakwa. Alasannya, masih banyak umat muslim yang jauh lebih susah dan sulit memiliki rumah.

“Syarat lainnya, harus mau belajar menghafal Alquran. Satu hari satu ayat,” ucapnya.

sumber : republika.co.id

 

 

Muslim Lifestyle Festival 2019 Siap Dihelat September Tahun Ini

JAKARTA (Jurnalislam.com)–PT Lima Armada Utama (Lima Events) dan AMK Events akan berkolaborasi menggelar pameran industri syariah dan halal

Acara bertajuk Muslim Lifestyle Festival 2019 dan Islamic Tourism Expo 2019.

Pameran ini diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru Islam 1441 Hijriah yang akan digelar pada 30 Agustus-1 September 2019 di Jakarta Convention Center (JCC).

Dengan tema “Integrasi Gaya Hidup Islami”, kegiatan ini dihadirkan untuk mendorong tumbuh kembangnya industri syariah di Indonesia

“Karena itu, kegiatan ini dapat dijadikan momentum untuk lebih mendorong berkembangnya industri syariah dan halal di Tanah Air,”kata Ketua Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Rachmat S Marpaung.

Dia menjelaskan, kegiatan ini merupakan pameran industri syariah dan gaya hidup halal terbesar di Indonesia.

Pameran ini menggabungkan konsep pameran B2B dan B2C dengan tiga fitur khusus, yakni pendidikan Islam, pojok bisnis kreatif, dan konferensi.

Sementara itu, ekshibisionis yang hadir pada kegiatan ini mewakili seluruh sektor industri syariah dan halal.

Yaitu halal food, islamic finance, halal travel & tourism, modest fashion, halal media, halal cosmetics & pharmaceuticals.

Muslim Lifestyle Festival 2019 dan Islamic Tourism Expo 2019 akan menampilkan sekitar 500 ekhibisionis dari berbagai sektor industri syariah di Indonesia.

Kegiatan ini juga menghadirkan produk multiindustri, talk show , dan workshop sebagai ajang edukasi masyarakat tentang gaya hidup halal di Indonesia.

Serta berbagai hiburan menarik sebagai bagian dari selebrasi gelaran perdana Muslim Lifestyle Festival 2019.

 

Sinergi Foundation Terus Berinovasi Kembangkan Wakaf Produktif

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Sebagai suatu lembaga pemberdayaan berbasis wakaf produktif, Sinergi Foundation terus berinovasi dalam mengelola wakaf produktif.

Hal itu disampaikan CEO Sinergi Foundation, Asep Irawan.

“Potensi wakaf yang luar biasa harus kita kembangkan. Kita harus sesuaikan pula dengan perkembangan zaman,” ujar CEO Sinergi Foundation Asep Irawan di sela-sela acara Seminar Bank Aset Wakaf di Jakarta baru-baru ini.

Sinergi Foundation, menurut Asep fokus pada pengembangan wakaf produktif.

Kemudian hasilnya nanti disalurkan ke penerima manfaat wakaf (maufuq’alaih) lewat berbagai program sosial yang dimiliki Sinergi Foundation.

Dia menyebutkan, Sinergi Foundation telah memiliki beberapa program sosial di antaranya pendidikan gratis untuk semua kalangan.

Kebutuhan anggarannya di tahun ketujuh nanti sebesar Rp 3,5 miliar. Saat ini baru masuk tahun kedua, sehingga kebutuhan anggarannya sekitar Rp 900 juta.

“Semua program kita ditopang dari hasil usaha wakaf. Kita punya beberapa usaha baik di bidang kuliner seperti Rumah Makan Ampera, lalu properti syariah, dan lainnya,” jelas Asep.

Dirinya menjelaskan, dana wakaf boleh digunakan untuk usaha.

Sepanjang usahanya berhasil syariah, tidak bertentangan dengan Islam, serta seluruh keuntungannya dimanfaatkan oleh para mauquf’alaih.

Hanya saja ia tidak memungkiri, saat ini belum banyak lembaga nazhir yang bisa mengelola wakaf produktif seperti itu.

“Memang di Indonesia ini, paradigma masyarakat tentang wakaf produktif masih kecil. Mereka kebanyakan mindset-nya, dana wakaf digunakan untuk sosial seperti pembangunan masjid,” katanya.

Maka dari itu, perlu adanya edukasi supaya masyarakat lebih paham kalau dana wakaf tidak harus digunakan untuk pembangunan masjid.

Melainkan bisa dipakai untuk mendirikan usaha apa pun sepanjang bersifat syariah.

“Kalau kita berbisnia dari modal dana wakaf, multiplier efeknya luar biasa. Contoh, Rumah Makan Ampera memiliki 37 karyawan, belum lagi bicara supplier. Itu puluhan ribu orang bisa terlibat dalam bisnis tersebut,” tegas Asep.

Sumber : republika.co.id