Berita Terkini

PKS Berkomitmen Akan Tetap Beroposisi

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Tak hanya PAN yang menyatakan keinginannya untuk tetap bertahan di pihak oposisi. Anggota Dewan Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboebakar Alhabsyi juga menyatakan bahwa PKS berkomitmen akan tetap bersama-sama mendampingi Prabowo dan Sandi dalam membangun bangsa dan negara.

Menurut Alhabsyi, PKS memiliki komitmen untuk tetap menjaga dinamika demokrasi agar tidak mati.

“Oleh karena itu, pilihan sebagai oposisi adalah salah satu pilihan logis untuk menjaga fungsi check and balances dalam menjalankan pemerintahan,” kata Alhabsyi, Senin (15/7).

Apalagi, kata Alhabsyi, Prabowo-Sandi juga dianggap punya beban moral untuk mengawal aspirasi dari 68 juta suara yang diperolehnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu.

Selain itu, ia juga mengapresiasi pertemuan antara Prabowo dan Jokowi pada Sabtu lalu.

Bagi Alhabsyi, sikap yang diperlihatkan Prabowo tersebut menunjukkan bahwa Prabowo adalah seorang yang bersikap kesatria.

“Beliau selalu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Beliau tidak ingin persatuan dan kesatuan bangsa ini retak,” ujarnya.

Meski demikian, Alhabsyi mengaku menghormati apa pun pilihan yang diambil Prabowo.

Apalagi, Koalisi Indonesia Adil Makmur juga telah sudah dibubarkan sejak 28 Juni lalu.

“Tentunya pascapembubaran tersebut, semua partai memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dalam pemerintahan ke depan,” kata Alhabsyi.

sumber: republika.co.id

 

Amien Rais: Demokrasi Tanpa Oposisi Namanya Bohong-bohongan

Sebelumnya, Amien Rais memang berharap agar PAN dan sejumlah partai yang pernah mendukung Prabowo-Sandiaga tetap berada di oposisi.

Menurut dia, lucu jika rekonsiliasi diwujudkan dalam bentuk bagi-bagi kursi.

“Kalau demokrasi tanpa oposisi itu namanya demokrasi bohong-bohongan, jadi demokrasi bodong,” kata Amien, dalam konferensi pers, di Jalan Daksa I Nomor 10, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin.

Amien mengatakan, dirinya sepakat 1.000 persen jika rekonsiliasi diartikan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan bangsa.

Namun, menurutnya, rekonsiliasi tersebut jangan sampai diwujudkan sekadar bagi-bagi kursi.

Amien mengungkapkan, bagi- bagi kursi justru hanya akan menimbulkan aib bagi para politikus.

Dikhawatirkan para politikus akan dianggap tidak memiliki kekuatan moral karena tidak berpegang pada disiplin partai.

sumber: republika.co.id

Dengarkan Masukkan Amien Rais, PAN Siap Jadi Oposisi

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Drajad Wibowo, mengklaim sebagian besar kader PAN sepakat dengan nasihat Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais. Drajad menyebut, Amien Rais menginginkan PAN tetap berada di pihak oposisi.

Menurut Drajad, bahkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga akan mendengar nasihat dari Amien Rais.

“Bang Zul juga, insya Allah akan mengikuti nasihat Pak Amien,” kata Drajad di Jalan Daksa I, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (15/7).

Drajad mengaku, begitu juga dengan 34 DPW PAN di seluruh Indonesia akan mendengarkan nasihat tersebut.

Saat ini, kata Drajad, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak terkait keinginan dari Amien Rais tersebut.

“Insya Allah lebih banyak yang ingin tetap di oposisi,” ujar Drajad.

Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais meminta semua pihak untuk menunggu keputusan resmi PAN terkait arah koalisi.

Hanafi menilai, DPP PAN tetap akan mendengarkan nasihat dari mayoritas kader PAN, termasuk Amien Rais.

Sikap fraksi itu bergantung pada DPP-nya. “Nanti DPP akan membuat sikap resmi,” kata Hanafi, Senin.

 

 

Wakaf Sukuk Akan Mulai Dipasarkan Agustus 2019

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Instrumen wakaf untuk pembangunan negara, Waqf Linked Sukuk (WLS) akan segera ditawarkan kepada masyarakat umum atau ritel.

Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Imam T Saptono menyampaikan saat ini BWI masih terus melengkapi dan menyempurnakan instrumen tersebut.

“Target di bulan Agustus nanti mulai instrumen wakaf ini dipasarkan kepada umat,” kata dia lansir Republika, Senin (15/7).

Penerima manfaat di tahap-tahap awal instrumen ini adalah rumah sakit wakaf khusus mata, Achmad Wardi di Serang. Secara pararel, BWI akan menyiapkan objek lainnya.

Imam mengatakan instrumen ini terbuka akses bagi masyarakat umum. Namun BWI berharap ada lembaga syariah untuk melakukan endorser kepada staf-stafnya. Instrumen ini dapat dijangkau oleh masyarakat di bank yang ditunjuk oleh BWI dan anggota Forum Wakaf Produktif.

Imam mengatakan pada dasarnya program wakaf tunai berkait dengan sukuk ini diluncurkan pada gelaran IMF-WB di Bali tahun lalu. Namun sambil berjalan, BWI masih terus menyempurnakan sejumlah ketentuan operasional termasuk dari sisi kesiapan penerima manfaat (mauquf alaih), pembelian, pelaporan dan sebagainya.

“Agar dikemudian hari instrumen ini benar-benar dapat menjadi instrumen wakaf yang handal dan memenuhi harapan seluruh pemangku kepentingan,” kata Imam.

Termasuk dari sisi kesesuaian fikih dan kehalalannya, imbal hasil dan risikonya, serta dari sisi penerima manfaatnya. Meskipun belum secara masif dipasarkan, Imam menambahkan, saat ini sudah ada dana wakaf yang terkumpul sebesar Rp 10-15 miliar yang berasal dari institusi.

Dana ini nantinya akan diinvestasikan dalam bentuk sukuk negara yang diterbitkan secara khusus. Pemilihan instrumen sukuk negara semata-mata karena pertimbangan risiko dan margin bagi hasil. Penempatan pada sukuk akan terjamin keamanannya.

Kedepan, seiring dengan semakin meningkatnya literasi umat juga semakin profesionalnya para pengelola aset wakaf (nadzir), BWI bisa juga menginvestasikannya ke produk-produk lain termasuk investasi langsung.

Sumber: republika.co.id

 

BPS Tunjukkan Data Orang Menjadi Miskin Karena Rokok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rokok masih mengambil peran cukup besar terhadap beban konsumsi penduduk miskin di Indonesia sehingga mereka tetap bertahan di bawah garis kemiskinan.

Hal ini bisa dilihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru saja dirilis, Senin (15/7/2019).

Rokok menempati posisi kedua setelah beras sebagai komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan.

Sementara itu, beban komoditas non makanan terbesar secara berurutan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Badan Pusat Statistik menyebut persentase penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen.

Menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41 persen poin terhadap Maret 2018.

Data BPS menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 6,89 persen.

Turun menjadi 6,69 persen pada Maret 2019.

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 13,10 persen, turun menjadi 12,85 persen pada Maret 2019.

Garis Kemiskinan (GK) pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp425.250/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp313.232 (73,66 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp112.018 (26,34 persen).

sumber: bisnis.com

 

KH Ma’ruf Tegaskan MUI Jaga Umat dari Akidah Menyimpang

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menggelar Anugerah Syiar Ramadhan pada Senin malam (15/7).

Acara ini bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin mengaku bersyukur penyelenggaraan Anugrah Syiar Ramadhan setiap tahunnya selalu mengalami kemajuan.

Menurutnya kemajuan ini merupakan tugas utama MUI sebagai penjaga umat dari akidah yang menyimpang.

Oleh karena itu, kata KH Maaruf, MUI selama berdirinya sudah banyak mengeluarkan fatwa untuk mencegah umat dari cara berpikir yang menyimpang, cara berpikir yang intoleran dan gerakan-gerakan yang ekstrem.

“Itu dilakukan menjaga diri umat dari perilaku yang tidak baik,” katanya saat membarikan sambutanya pada Anugerah Syiar Ramadhan, Senin (15/7).

KH Maaruf berpesan kepada semua lembaga penyiaran, ketika menyiarakan tayangan terutama program dengan konten beragama  harus tepat, mendidik memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat.

KH Maaruf mengatakan, tugas khadimul ummah (MUI) sebagai mitra pemerintah juga telah membantu pemerintah dalam rangka melakukan pembangunan fisik atau nonfisik terutama dalam membangun karakter bangsa.

KH Maaruf mengatakan, pada awalnya Anugerah Syiar Ramadhan ini diselenggarakan hanya oleh MUI pada tahun 2000 an. Baru pada tahun 2018-2019 KPI dan Kemenpora ikut bergabung bekerjasama mendukung acara ini.

“Alhamdulillah tahun ini Bank Syariah Mandiri turut berpartisipasi dalam acara ini,” katanya.

sumber: republika.co.d

 

Madani Institute Hadirkan Pembina Yayasan Muamalah Syariah Bahas Ekonomi Indonesia

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Madani Institute (Center for Islamic Studies) mengadakan Madani Islamic Forum (MIF) dengan pembahasan Perbandingan Sistem Ekonomi Islam dan Barat, bertempat di Aula Lantai 3 Rabbani Boleuvard Makassar, Sabtu (13/7/19).

Kegiatan ini menghadirkan pembicara Dr. Khaerul Akbar, M.E.I. yang merupakan alumni Program Doktor Ekonomi Islam UIN Alauddin Makassar, dengan mengupas tema tentang perbandingan konsep antara ekonomi Islam dan barat.

Terdapat prinsip-prinsip dalam sistem ekonomi Islam, salah satunya di dasarkan pada nilai-nilai Islam itu sendiri.

“Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang di dasarkan pada nilai-nilai Islam. Prinsip dasarnya adalah prinsip tauhid yaitu segala sesuatu diciptakan oleh Allah dengan tujuan,” ucapnya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Prinsip yang lain dalam sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi barat memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

“Kapitalisme itu harta dikuasai penuh oleh manusia. Sosialisme itu dikuasai oleh negara, sedangkan Islam segala harta apapun bentuknya adalah pemberian Allah yang penggunaannya diatur menurut aturan-aturan Allah,” imbuhnya.

Di akhir materinya, pembina Yayasan Muamalah Syariah Indonesia ini, memaparkan manfaat yang didapatkan dalam menerapkan sistem ekonomi Islam seperti manfaat zakat, infak hingga wakaf.

 

BMH Jatim Distribusikan Air Bersih Untuk Daerah Kekeringan di Ngawi

NGAWI (Jurnalislam.com)–Terbatasnya ketersediaan air bersih mulai dirasakan warga Desa Kerek, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sejak beberapa pekan lalu.

Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  pada awal musim kemarau 2019 ini, sudah terdata 45 desa di Kabupaten Ngawi masuk dalam kategori rawan bencana kekeringan. Puncak kekeringan diprediksi pada bulan september hingga oktober mendatang.

Menyikapi informasi tersebut, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bergerak cepat dengan mengirim bantuan Air Bersih untuk warga yang membutuhkan.

BMH mulai mendistribusikan air bersih untuk warga Desa Kerek, yang sudah mulai kesusahan mendapatkan air bersih, sumur-sumur warga sudah mulai habis airnya dan terpaksa sebagian warga mencari air ke daerah lain.

Hampir 500 jiwa mengalami krisis air di daerah kekeringan tersebut, Ahad (14/7/19), dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com.

Bantuan air bersih diterima langsung oleh kepala dusun Kerek, bapak Arifin. Beliau menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan air bersih dari BMH dan berharap bantuan ini bukan yang terakhir.

“Kami berharap BMH masih bersedia mengirim bantuan air bersih ke desa kami, terutama pada puncak kemarau mendatang,’’harap Arifin kepada BMH.

Imam Muslim, Manager Program BMH Jawa Timur mengungkapkan bahwa,

“Semoga dengan bantuan air bersih tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan warga dalam keperluan sehari-hari khususnya memasak dan mandi”, ungkap Muslim.

Untuk mengatasi kekeringan di beberapa wilayah di Indonesia, BMH telah menyiapkan program Sedekah air bersih untuk daerah kekeringan. Dengan harapan, program tersebut bisa membantu pemerintah dalam menyelesaikan kebutuhan air warga dalam memasuki musim kemarau yang  akan datang.

Balada Impor Sampah dan Solusi Islam

Oleh: Wa Ode Sukmawati, (Anggota Komunitas Menulis For Peradaban )

Masyarakat Indonesia kembali di kejutkan dengan kebijakan pemerintah tentang impor. Jika yang lalu-lalu yang di impor adalah garam, buah-buahan, mesin-mesin dan baja. Maka kali ini kita di kejutkan dengan impor sampah. Tentu saja banyak yang kontra terhadap hal ini. Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi dalam jumpa pers di kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta, selasa (25/6) mengatakan Presiden Joko Widodo harus segera menghentikan impor sampah karena sejak tahun 2015 para peneliti mendapati bahwa Indonesia merupakan negara kedua pencemar laut dunia setelah China. Ditambahkannya, ada 43 negara mengimpor sampahnya ke Jawa Timur, antara lain Amerika Serikat, Italia, Inggris, Korea Selatan, Australia, Singapura dan Kanada. VOA, 25/06/2019.

Melalui video telekonferensi, pendiri Bali Fokus Yuyun Ismawati menjelaskan sejak akhir 2017, China menerapkan kebijakan baru untuk memperketat impor sampah plastik yang dikenal sebagai kebijakan “Pedang Nasional”. Hal ini membuat perdagangan sampah, khususnya sampah plastik di seluruh dunia menjadi terguncang. Padahal selama 1988-2016, China menyerap sekitar 45,1 persen sampah plastik dunia. Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati mengaku sangat heran karena menangani sampah hasil domestik saja Indonesia belum mampu, namun sudah nekad mengimpor sampah dari negara lain. Dia juga menyoroti rumitnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengelolaan sampah. VOA, 25/06/2019.

Kita bisa melihat sendiri bagaimana tumpukan sampah domestik yang ada di Indonesia. ini dalam bentuk skala nasional, bagaimana jika kita melihat lebih sempit lagi. Yaitu hanya pada wilayah sekitar kita, bagaimana keadaan sampah tersebut. Setiap hari masyarakat Indonesia menghasilkan sampah dengan jumlah yang sangat banyak. Dan ini belum bisa di selesaikan secara maksimal. Namun sekarang pemerintah malah melakukan impor sampah, tentu hal ini menjadi sebuah polemik.

Sampah-sampah yang melimpah ini tentu memiliki berbagai jenis. Ada sampah yang mudah terurai dan dapat di daur ulang. Namun ada pula sampah yang sulit terurai dan tak dapat di daur ulang. Sampah yang sulit terurai ini lah yang dapat merusak lingkungan dan ekosistem secara perlahan. Contohnya seperti kaleng aluminium, popok bayi, styrofoam, kantong plastik, botol plastik, dan lain sebagainya. Namun sampai saat ini masih sulit bagi sebagian besar masyarakat untuk mengurangi beberapa jenis penggunaan wadah ini.

Perlu di ketahui bahwa, salah satu contoh sampah di atas seperti kaleng aluminium meski bisa di daur ulang tetapi jika sudah di buang membutuhkan waktu sekitar 80 sampai 200 tahun untuk bisa terurai. Bisa di bayangkan ketika manusia mulai bertambah tua, namun sampah yang kita gunakan bertahun-tahun yang lalu masih “awet muda” dan mengotori bumi. Dan ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya sampah-sampah yang sulit terurai.Hari ini seharusnya pemerintah lebih memfokuskan pada pengurangan sampah agar lingkungan tetap sehat, bukan malah mengimpor sampah yang membuat masyarakat semakin resah. Akan lebih baik jika pemerintah menangani pengelolaan sampah dengan lebih maksimal dan meminimalisir penggunaan sampah plastik serta sampah-sampah yang sulit terurai.Sampah harus di kelolah dengan baik agar tidak mengganggu kesehatan manusia dan ‘kesehatan’ bumi.

Islam dalam Menjaga Kebersihan dan Pengelolaan Sampah

Islam adalah agama yang sempurna, tidak ada satu hal dalam kehidupan kita melainkan Islam telah memberikan arahan dan petunjuknya. Semua kandungan ajaran dalam Islam bertujuan untuk menjadikan manusia hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat. Selain masalah kebersihan diri, Islam juga sangat memperhatikan kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita. Karena sebagai agama yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, Islam tidak akan membiarkan manusia merusak atau mengotori lingkungan sekitarnya. Lantas bagaimana kah islam dalam menjaga kebersihan dan mengelolah sampah?

  1. Individual

Islam mendorong kesadaran individu terhadap kebersihan hingga level asasi dan prinsipal yaitu keimnan terhadap surga dan neraka. “Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih” (HR. Baihaqi). Pemahaman tentang kebersihan yang mendasar ini menumbuhkan kesadaran individual untuk pemilahan sampah dan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri. pengurangan sampah secara individual dapat di lakukan dengan mengonsumsi sesuatu secukupnya, makanan misalnya. Upaya minimalisir juga tertancap dalam gaya hidup Islami karena setiap kepemilikan akan ditanya tashoruf-nya (pemanfaatannya). Bernilai pahala atau berbuah dosa.

  1. Komunal

Pada kondisi-kondisi tertentu, upaya individual menjadi sangat terbatas dalam pengelolaan sampah. Karena itulah upaya pengelolaan sampah komunal di perlukan. “sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, bagus dan menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At-Tirmidzi). Pengelolaan sampah komunal di lakukan dengan prinsip taawun, bekerja sama dalam kebaikan. Bahkan bisa jadi antar masyarkat terdapat aghniyaa’ (orang kaya) yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk mengelola sampah komunal. Masyarakat dapat di bebani kewajiban membakar, memilah atau mengelola secara bergantian.

  1. Peran Pemerintah

Sejak Kekhilafahan Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 M. Pada masa Bani Umayah, jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah karena ada mekanisme menyingkirkan sampah di perkotaan yang idenya di bangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi. Tokoh-tokoh muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya di serahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk telah berpotensi menciptakan kota yang kumuh (Lutfi Sarif Hidayat, 2011). Sebagai perbandingan, kota-kota lain di Eropa pada saat itu belum memiliki sistem pengelolaan sampah. Sampah-sampah dapur di buang penduduk di depan-depan rumah mereka hingga jalan-jalan kotor dan berbau busuk. (Mustofa As-Sibo’i, 2011).

Kebersihan membutuhkan biaya dan sistem yang baik, namun lebih dari itu perlu paradigma mendasar yang menjadi moral keseriusan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah merupakan upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Edukasi masyarakat dapat di lakukan pemerintah dengan menyampaikan pengelolaan sampah yang baik merupakan amal salih yang di cintai Sang Pencipta. Oleh karena itu kesadaran untuk menggunakan sistem yang langusng berasal dari Sang Khaliq adalah menjadi hal yang urgen untuk menjadikan Indonesia dan dunia lebih baik.

 

Wallahu’alam.

ITB Kembangkan Garuda Bike, Sepeda Berbasis IoT

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Sepeda merupakan alat transportasi atau olahraga yang masih banyak digunakan di Indonesia.

 

Bahkan di kota-kota besar seperti Bandung, bersepeda kini sudah menjadi gaya hidup. Banyak fitur teknologi yang digunakan saat bersepeda, terutama untuk kepentingan berolahraga.

 

Para pesepeda biasa menggunakan alat pengukur detak jantung, pengukur kalori, maupun Global Positioning System (GPS) untuk melihat rute perjalanan.

 

Perkembangan Internet of Things (IoT) turut memberikan banyak manfaat yang memaksimalkan kegiatan bersepeda.

 

Gabungan antara kegiatan bersepeda, kebutuhan pesepeda akan data, dan jaringan internet dalam bentuk IoT menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh Laboratorium IoT dan Perkembangan Ekonomi Digital Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengembangkan startup bernama Garuda Bike.

 

Garuda Bike merupakan program Bike Sharing sepeda yang dikombinasikan dengan teknologi IoT di antaranya GPS, sistem otomatis, dan alarm.

 

Sepeda ini ditargetkan untuk digunakan pada area tanpa kendaraan bermotor, seperti kampus dan area khusus sepeda.

 

Pada pelaksanaannya, sepeda ini digunakan pada area tertentu yang dibatasi, terhubung dengan Wi-Fi dan satu server untuk mengumpulkan data aktivitas yang dilakukan selama bersepeda dalam bentuk Big Data.

 

Big Data kemudian dianalisis untuk mendapatkan berbagai prediksi terkait kesehatan, pola kegiatan masyarakat, tingkat polusi udara, bahkan prediksi bencana.

 

Project Manager Garuda Bike, Taufiqurrahman Akmal, menjelaskan tentang Garuda Bike dan kegunaan tiap sensor yang dipasang.

 

“Tiga tahap utama yang dilakukan Garuda Bike yaitu sensing, understanding, and acting. Kita gunakan sensor dulu, kita analisis datanya, baru nanti kita pahami hasil data ini. Hasilnya bisa kita manfaatkan kemana saja. Misalnya dengan tau area mana saja yang biasa dilewati pesepeda, kita tahu area yang ramai, sehingga cocok untuk berjualan makanan atau minuman,” ujar Taufiqurrahman saat ditemui di Lab IoT ITB, belum lama ini.

 

Untuk pengembangan jaringan, proyek Garuda Bike sedang melakukan kerjasama dengan Dishub Kota Bandung dan Indosat. Garuda Bike saat ini sudah siap diuji coba dan dijual prototype-nya pada bulan Juli 2019.

 

Rencananya, Garuda Bike akan dicoba pada skala kampus di ITB serta menjalin kerjasama dengan pemerintah kabupaten Ambarawa.

Sumber: itb.ac.id