Berita Terkini

Demo di Kendari, Satu Mahasiswa UHO Tewas Tertembak di Dada

KENDARI (Jurnalislam.com) – Aksi unjuk mahasiswa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra), Kota Kendari, Kamis (26/9/2019) menelan korban jiwa.

Dilansir dari media daring lokal, seorang mahasiwa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) bernama Immawan Randi (21) dikabarkan meninggal dunia akibat tertembak peluru tajam di bagian dada kanan.

Selain Randi, tiga mahasiswa lainnya yang belum diketahui identitasnya juga ikut mendapat kekerasan hingga luka parah. Satu kondisi sekarat dan dirujuk ke Rumah Sakit Bahteramas. Sementara dua orang lainnya masih di rawat di rumah sakit Korem.

“Kena tembakan di dada,” kata rekan mahasiswa korban yang enggan namanya ditulis saat ditemui di Rumah Sakit.

Hingga saat ini, keluarga korban terus berdatangan di rumah sakit Korem. Belum ada konfirmasi dari pihak Polda maupun Kepolisian Polres Kendari.

Sebuah akun twitter bernama MAJU TAK GENTAR mengunggah detik-detik Randi dibantu teman-temannya untuk dibawa ke Rumah Sakit dengan menggunakan mobil pick-up.

https://twitter.com/i/status/1177148425151737857

Sumber: Kendaripos.co.id

Tanggapi Aksi Pelajar STM, Ketua BEM UI: Mereka Sama-sama Kecewa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Turut sertanya para pelajar STM dalam demonstrasi #ReformasiDikorupsi di Jakarta menjadi perhatian banyak pihak. Tagar #STMmelawan pun sempat menjadi trending topic dunia pada tanggal 25 September kemarin.

Para pelajar STM itu mulai mendatangi sekitaran gedung DPR RI sejak Selasa (24/9/2019) setelah massa mahasiswa yang dipukul mundur aparat keamanan.

Menanggapi hal itu, Ketua BEM UI Manik Marganamahendra menilai, aksi yang dilakukan oleh para pelajar Sekolah Teknik Menengah (STM) merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap rezim dan parlemen.

“Kemungkinan bisa saja itu semua terjadi. Tapi yang jelas kalau kita misalnya (merasa) sama-sama kecewa, itu pasti (mereka) sama-sama kecewa,”ujar Manik kepada wartawan, Kamis, (26/9/2019).

Manik menjelaskan, rasa kekecewaan tersebut sedianya telah memunculkan kepedulian terhadap gerakan yang dimulai oleh mahasiswa

“Ketika kita aksi kemarin banyak sekali dukungan dari masyarakat yang simpati terhadap gerakan ini. Ketika kita dievakuasi kemudian banyak yang memberikan bantuan minuman dan makanan,” tutur Manik.

Bantuan itu, lanjut Manik, datang dari berbagai kelompok masyarakat seperti tukang ojek dan warga biasa. Manik menilai bantuan dari kelompok masyarakat tersebut juga sangat berguna.

“Itu kami rasa adalah sebuah bentuk gerakan yang memang mendorong dan mendukung gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa,” tandas Manik.

Untuk diketahui, sekelompok massa pelajar melakukan aksi unjuk rasa di depan DPR sejak siang hingga dini hari, Kamis, (26/9/2019). Massa dari STM tersebut terlibat bentrok dengan aparat hingga polisi menembakkan gas air mata.

Bentrokan itu sendiri terjadi hingga dini hari, Kamis, (26/9/2019) di sejumlah titik wilayah yang berdekatan dengan Gedung MPR/ DPR.

Sumber: Kedaipena.com

PMI Ungkapkan Kronologi Ambulans Paramedis Diserang Oknum Brimob

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Palang Merah Indonesia (PMI) menjelaskan kronologis penyerangan oknum anggota Brimob terhadap paramedis di dalam ambulans yang sedang membantu korban kerusuhan di Jakarta. Penyerangan tersebut direkam oleh salah seorang anggota PMI dan menjadi viral di sosial media.

Dalam video tersebut terlihat beberapa oknum anggota Brimob memukuli petugas paramedis dari PMI dan merusak ambulans mereka.

Dalam siaran pers yang diterima redaksi hari ini, Kamis (26/9/2019) Ketua PMI Kota Jakarta Timur, Drs. H. R. Krisdianto mengungkapkan, beberapa paramedis terluka akibat ulah oknum Brimob tersebut. Berikut kronologis selengkapnya,

Pada Hari Rabu, Pukul 23.30 WIB, Lokasi: Depan lobby menara BNI, Pejompongan Ambulan PMI Kota Jakarta TIur bertugas siaga pelayanan ambulan di lokasi demonstrasi bersa,a dengan ambulan gawat darurat dari Dinas KEsehatan Provinsi DKI Jakarta dan PMI Kota Se-DKI Jakarta.

Pada saat tim medis ambulans PMI Kota Jakarta Timur sedang memberikan pertolongan pertama kepada korban kerusuhan, tiba-tiba ada sweeping dari oknum Anggota Brimob dan membuka paksa ambulan, memukul-mukul dan menarik paksa keluar pasien (kami tidak tahu nasib pasien seperti apa di luar ambulan). Dengan alasan mencari batu dan bensin yang disimpan dalam ambulan untuk pendemo.

Oknum Angota Brimob melayangkan pukulan dengan tongkat kayunya kepada semua tim medis PMI yang ada di dalam ambulan, petugas PMI terkena pukulan di bagian kepala bahkan salah satu perawat kami jatuh tersungkur ke belakang stretcher karena didorong dan kemudian diinjak oleh salah satu oknum Anggota Brimob.

Kaca mobil belakang ambulan PMI Kota Jakarta TImur dipecah dan dirusak oleh Anggota Brimbob yang mengakibatkan kaca mobil berhamburan masuk ke dalam ambulan. 2 petugas ditarik paksa keluar dan kaca samping kiri ambulan dipecahkan juga oleh oknum Anggota Brimob.

Beberapa petugas kesehatan PMI mengalami tindakan kekerasan dari oknum Anggota Brimob, seperti dipukul, ditendan, ditonjok, ditarik oleh oknum Anggota Brimob, dan ada beberapa ditarik oleh marinir justru diselamatkan ke belakang gedung. Setelah itu amblan jalan diarahkan ke Polda.

Demikian laporan kronologis ini dibaut sesuai dengna pernyataan dari salah satu perawat PMI Kota Jakarta Timur sebagai saksi hidup yang mengalami tindakan kekerasan dan menyaksikan tindakan pengrusakan terhadap ambulan PMI Kota Jakarta Timur.

Pengesahan RUU P-KS Ditunda, DPR dan Pemerintah Bentuk Timus

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dipastikan tidak akan disahkan oleh DPR pada periode 2014-2019.  Menurut Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, waktu kerja yang akan segera berakhir, tidak memungkinkan DPR dan pemerintah menyelesaikan RUU PKS.

“Saya sudah berkoordinasi dengan pimpinan Panja terkait, karena waktunya yang pendek dan masih banyak masalah yang belum selesai dibahas, maka kita putuskan ditunda,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Kamis (26/9/2019).

Bambang mengatakan, pembahasan RUU PKS akan dilanjutkan oleh anggota dewan periode 2019-2024 yang akan dilantik pada 1 Oktober 2019.

Bambang menjelaskan, saat ini DPR bisa melakukan carry over terhadap RUU yang belum selesai setelah disahkannya revisi UU Peraturan Pembentukan Perundangan Perundang-undangan (PPP).

Lebih lanjut, kata dia, DPR dan pemerintah sudah sepakat membentuk tim perumus (Timus) RUU PKS yang akan mulai bekerja pada periode mendatang.

“Saya mendengar dari Ketua Panja P-PKS bahwa sampai saat ini untuk judul RUU saja belum ada kesepakatan. Sehingga tidak bisa diteruskan karena waktu yang pendek,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VIIIDPR RI Marwan Dasopang memastikan, Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual ( RUU PKS) tidak dapat disahkan pada periode 2014-2019 ini.

Menurut Marwan, pembahasan RUU yang diinisiasi 2017 lalu ini akan dilakukan pada periode 2019-2024.

“Ya tidak mungkin dong (selesai periode ini). Enggak mungkin lagi,” ujar Marwan saat ditemui seusai Rapat Panita Kerja (Panja) RUU PKS di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Meski demikian, dalam Rapat Panja itu sendiri, DPR dan pemerintah sepakat untuk membentuk Tim Perumus (Timus) demi membahas RUU PKS. Tim Perumus bertugas membahas seluruh daftar inventarisasi masalah dan seluruh pasal dalam draf RUU.

Polisi Klaim Tangkap 570 Pelajar yang Ikut Aksi di DPR

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Polisi menangkap para pelajar yang terlibat kericuhan dalam aksi demonstrasi menolak di sekitar Gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/9). Total 570 pelajar yang ditangkap polisi hingga malam ini.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan pelajar yang diamankan itu merupakan pelajar SMP dan SMA.

“Iya benar sudah 570 pelajar (yang diamankan),” kata Argo saat dikonfirmasi, Rabu (25/9).

Argo menyampaikan, para pelajar yang diamankan itu menjalani pembinaan dan pendataan oleh petugas. Saat ini, sebagian pelajar telah dijemput oleh orang tua mereka

“(Sebagian pelajar) didata kemudian dijemput orang tuanya,” ucap Argo.

Diketahui, polisi sebelumnya juga melakukan sweeping terhadap para pelajar yang diduga akan mengikuti aksi demo di sekitar Gedung DPR/MPR yang berakhir ricuh.

Aksi sweeping itu salah satunya dilakukan di Jalan Gatot Subroto arah Slipi, tepatnya di depan Polda Metro Jaya. Dalam sweeping itu, anggota kepolisian turut memeriksa barang bawaan yang dibawa oleh para pelajar.

Sumber:cnnindonesia.com

Polisi Tangkap Puluhan Orang di Daerah Slipi

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Polisi masih bergerak mengejar para pendemo di sekitar area DPR. Polisi menangkap puluhan orang di Kemanggisan, Jakbar dekat Slipi Jaya.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 03.35 WIB, Kamis (26/9/2019), anggota Brimob mulanya menembakkan gas air mata ke kerumunan massa bermotor.

Massa pun kocar-kacir ke sejumlah arah.
Polisi langsung melakukan penangkapan terhadap puluhan orang yang berada di situ. Mereka yang ditangkap diangkut dengan mobil Resmob Polda Metro Jaya.

Saat ini polisi bergerak ke lokasi lainnya untuk mengejar para pendemo di gedung DPR.

Titik kumpul massa sebelumnya berada di sejumlah titik seperti Palmerah belakang gedung DPR, Slipi juga Jl Gatot Subroto dekat JCC.

Pada Kamis (26/9) dini hari polisi berhasil membubarkan massa di perempatan Slipi yang sempat melakukan perlawanan.

Sumber: detik.com

YLBHI: 50 Mahasiswa Hilang Pasca Demo DPR

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 50 mahasiswa tidak diketahui keberadaannya usai aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI yang berujung kericuhan, Selasa (24/9/2019) malam.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyebut puluhan mahasiswa itu hilang berdasarkan kontak dari rekan-rekannya.

“Datanya bervariasi, yang pasti lebih dari 50 orang sampai 100 orang itu belum bisa diketahui kontaknya oleh teman-temannya,” kata Ketua YLBHI Asfinawati saat jumpa pers di Kantor LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).

Asfinawati menjelaskan, saat kerusuhan terjadi para mahasiswa tidak fokus untuk saling melindungi temannya. Karena itulah mereka saling berpencar dan berpisah dari rombongan.

“Itu teman-teman mahasiswa sangat resah sebetulnya, karena mereka kan terpencar-pencar kan. Karena mereka harus bertanggung jawab atas kelompoknya masing-masing,” jelasnya.

Asfinawati, menduga mahasiswa yang hilang itu menjadi korban luka di rumah sakit ataupun diamanakan oleh pihak kepolisian. Namun, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan data pasti mahasiswa dari instansi tersebut.

“Karena itu kepada rumah sakit, kepolisian, dan seluruh instansi yang ada di Jakarta khususnya dan daerah lain harus segera membuka akses agar ada kejelasan tentang nasib teman-teman mahasiswa atau teman-teman lain yanh belum ditemukan,” ungkapnya.

Selain itu, Asfinawati mengingatkan pentingnya perlindungan hukum dalam kasus ini.

Sebab, semua orang memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum termasuk mahasiswa.

Sumber:sindonewscom

Aliansi Masyarakat untuk Keadilan dan Demokrasi Buka Posko Pengaduan Mahasiswa Hilang

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Aliansi Masyarakat untuk Keadilan dan Demokrasi (AMUK) menyatakan masih ada puluhan mahasiswa yang belum jelas kabarnya setelah aksi massa di depan Gedung DPR MPR  pada Selasa (24/9) kemarin.

Jumlah laporan kehilangan ini berpotensi bertambah sebab data tersebut masih terus diverifikasi.  Setelah memverifikasi, tim pengacara AMUK akan memberikan bantuan hukum ke para mahasiswa.

“Mereka semua yang ditangkap di kantor kepolisian memiliki hak atas bantuan hukum, tidak boleh ada penyiksaan, tidak boleh ada penghalangan bantuan hukum yang mestinya diperoleh kawan mahasiswa,” kata Arif anggota AMUK yang juga Direktur LBH Jakarta Arif Maulana ditemui usai konferensi pers di LBH Jakarta, Rabu (25/9).

Arif menyatakan sejak aksi mahasiswa pecah usai pembubaran paksa polisi dari depan DPR pada Selasa (24/9) petang, pada malam harinya mereka pun membuka komunikasi dan koordinasi dengan sejumlah elemen mahasiswa berbagai kampus.

“Dan kalau diidentifikasi kurang lebih ada 50-an yang mengadu ke kami. Ada yang mengatakan temannya ditangkap, ada yang hanya mengatakan temannya belum kembali. Kalau ditanya soal pengaduan orang hilang, itu data sampai semalam saja. Ini baru data awal,” katanya.

Itulah sebabnya aliansi yang terdiri atas pelbagai lembaga bantuan hukum tersebut memutuskan membuka posko pengaduan mulai hari ini.

“Bagi teman-teman atau warga yang merasa anggota keluarga atau kawannya belum kembali ke rumah atau kampus setelah silakan kontak ke YLBHI, LBH Jakarta, Kontras, Lokataru, ICJR, LBH Masyarakat, Amar, atau PP Muhammadiyah,” kata Arif.

Ia mengatakan laporan atau aduan yang masuk bakal dicek ulang ke sejumlah lembaga seperti rumah sakit hingga kepolisian. Anggota lain AMUK dari Sindikasi,

Irene Wardani mengeluhkan sulitnya akses ke sejumlah fasilitas pelayanan publik.

Oleh karena itu pula aliansi mendesak seluruh institusi baik rumah sakit ataupun kepolisian untuk terbuka dan transparan terhadap informasi mengenai keberadaan mahasiswa.

sumber: cnnindonesia.com

Aliansi Mahasiswa Bima Turun Tolak UU KPK dan RKUHP

BIMA (Jurnalislam.com) – Aksi penolakan Mahasiswa tentang RKUHP dan UU KPK yang beberapa hari terakhir di Jakarta menular ke aliansi  mahasiswa kota Bima.

Mereka yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat menolak putusan pemerintah yang dipandang merugikan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Mahasiswa dan siswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa Kota Bima menggelar long march menuju kantor DPRD kota Bima dan kantor DPRD Kabupaten Bima.

Gafur selaku koordinator yang memimpin aksi ini menuturkan poin-poin  yang menjadi tuntutan mahasiswa.

”Memberikan keadilan Kepada para koruptor karna memang negara ini menjujung tinggi nilai Pancasila,” katanya.

Ia juga menilai adanya kerancuan dari RKUHP dan putusan KPK.

“Kami memberikan warning kepada pemerintah agar keadilan itu dijunjung tinggi,” katanya.

KPAI Desak Disdik DKI Keluarkan Edaran Cari Pelajar yang Demo di DPR

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan keprihatinan atas sejumlah besar anak-anak berseragam putih abu-abu yang melakukan unjuk rasa di Gedung DPR RI.

Menurut informasi yang beredar kebanyakan dari mereka adalah siswa SMK atau STM.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pejabat Kemendikbud RI untuk segera menyikapi fenomena tersebut.

“KPAI sudah berkoordinasi dengan pejabat Kemdikbud RI, yaitu Ibu Dian Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kemdikbu agar dapat segera di sikapi ke Dirjen Dikdasmen demi melindungi anak-anak karena aksi berpotensi rusuh,” kata Retno melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Rabu (25/9/2019).

KPAI juga telah meminta Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk membuat surat edaran kepada seluruh Kepala Sekolah agar segera melakukan komunikasi kepada para orangtua untuk mendeteksi keberadaan anak-anaknya.

“KPAI menghimbau kepada para orangtua siswa SMA/SMK yang berdomisili di DKI Jakarta, Depok dan Bekasi untuk mengecek keberadaan anak-anaknya saat ini, karena khawatir menjadi bagian dari peserta aksi demo di gedung DPR RI,” paparnya.

Retno menginformasikan bahwa saat ii KPAI, Kemendikbud, dan Disdik DKI sedang menuju Gedung DPR RI untuk meninjau kondisi.