Responsive image

Bentrokan Meningkat di Kashmir Setelah Bocah Muslim Tewas Diperkosa 4 Hari di Kuil Hindu

Bentrokan Meningkat di Kashmir Setelah Bocah Muslim Tewas Diperkosa 4 Hari di Kuil Hindu

Srinagar (Jurnalislam.com) – Para pengunjuk rasa di Kashmir yang dikuasai India turun ke jalan selama empat hari berturut-turut di tengah meningkatnya kemarahan atas perkosaan yang mengerikan dan pembunuhan seorang gadis nomaden Muslim berusia delapan tahun.

Petugas medis setempat mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Kamis (19/4/2018) bahwa sedikitnya 30 pelajar terluka dalam dua hari terakhir selama bentrokan dengan pasukan keamanan di berbagai bagian wilayah yang bergolak.

Para demonstran menuntut keadilan bagi gadis itu, yang pembunuhannya mengirimkan gelombang kejut ke seluruh wilayah mayoritas Muslim tersebut.

Anak perempuan itu sedang menggembalakan ternak di desa Rasana di distrik Jammu di Kathua ketika dia diculik pada bulan Januari.

Dia kemudian dibius di sebuah kuil Hindu, di mana dia diperkosa oleh sedikitnya tiga laki-laki selama empat hari, menurut penyelidikan polisi. Dia kemudian dicekik dan tubuhnya ditemukan di hutan dekat kuil.

Delapan pria, semuanya Hindu, telah terlibat dalam pemerkosaan dan pembunuhan gadis itu. Menurut laporan polisi, tindakan para tersangka bertujuan untuk mengusir para nomaden Muslim dari daerah tersebut.

Kasus ini telah menjadi penyebab kemarahan lain di wilayah yang kadang-kadang menyaksikan protes anti-India.

Sementara itu, sejumlah anggota terkemuka partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa di India telah bersatu untuk mendukung terdakwa dalam beberapa hari terakhir.

Perdana Menteri Narendra Modi memecah keheningannya pekan lalu, tiga bulan setelah pembunuhan gadis itu, mengatakan bahwa “keadilan akan ditegakkan dan tidak ada penjahat yang akan selamat.”

Giliran Mahasiswa Kashmir Hadapi Pasukan Penjajah India

Sana Beigh, seorang mahasiswa yang memprotes di Srinagar pada hari Kamis, mengatakan bahwa ada “respon solidaritas yang enggan dan tertunda dari India.”

“Ini benar-benar memalukan. Bagaimana seseorang bisa mendukungnya atau bahkan diam tentang hal itu?

“Tidak ada Muslim yang aman di India, lihat maksud di balik kejahatan itu,” tegasnya.

Selama masa berkuasa, BJP telah menghadapi tuduhan meningkatnya permusuhan terhadap komunitas minoritas India.

Sementara itu, dalam konflik dua dekade yang sedang berlangsung di Kashmir di mana sedikitnya 70.000 orang tewas, tentara India juga dilaporkan melakukan kekerasan seksual.

“Perkosaan yang terjadi di Kashmir bukan hanya kasus kekerasan seksual, struktur negara juga terlibat dalam kasus-kasus ini. Mereka tidak terlibat langsung, tetapi mereka melakukan banyak hal untuk melindungi terdakwa,” kata Essar Batool, seorang aktivis wanita lokal.

Mariya Salim, juru kampanye senior untuk hak-hak perempuan di Amnesty International India, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kasus-kasus perkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya terhadap perempuan dan anak perempuan adalah hal yang biasa di seluruh India.

Dia mengatakan bahwa kasus gadis berusia delapan tahun itu menarik perhatian nasional dan internasional hanya setelah sejumlah pengacara dan sebuah kelompok Hindu menghalangi penyelidikan polisi dan penuntutan terhadap para tersangka pelaku.

“Kenyataan bahwa pada hari Senin Mahkamah Agung harus memerintahkan perlindungan polisi untuk keluarga korban, seorang teman keluarga dan pengacara mereka karena ancaman dan pelecehan yang mereka hadapi karena mengejar kasus ini, menunjukkan seberapa dalam kefanatikan seputar kasus ini,” Kata Salim.

Deepika Rajawat, pengacara yang mewakili keluarga gadis itu, dan aktivis lokal Talib Hussain menuduh pendukung tersangka mengeluarkan ancaman terhadap mereka.

Kelompok sayap kanan Hindu di Jammu menuduh petugas lokal bias dalam melakukan penyelidikan, mengatakan beberapa petugas polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut adalah Muslim.

Berbicara kepada Al Jazeera, Heena Khan, seorang penduduk setempat, mengatakan kasus gadis itu mengungkapkan kebencian yang mengakar kuat terhadap minoritas Muslim di Kashmir.

“Sekali lagi terbukti bahwa seorang wanita, berdasarkan jenis kelaminnya, adalah alat yang paling mudah,” katanya.

Kashmir diperebutkan oleh India dan Pakistan, dimana kedua negara berbagi mengelola beberapa bagian wilayahnya, menjadikannya salah satu zona dunia yang sangat termiliterisasi.

The Coalition of Civil Society, sebuah kelompok hak asasi manusia lokal, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerkosaan dan pembunuhan gadis itu “perlu dipahami dalam paradigma militerisasi yang meluas di Jammu dan Kashmir.

“Penggunaan kekerasan seksual secara sistematis sebagai senjata perang oleh pasukan bersenjata adalah ciri umum dari kekerasan militer ini,” katanya.

 

Bagikan
Close X