Balada Menpora dan Menkominfo : Makin Mengada-ada!

Balada Menpora dan Menkominfo : Makin Mengada-ada!

Oleh : M Rizal Fadillah
Ketua Maung Institute

 

JURNIS – Ada dua Menteri Pemerintahan Jokowi  baru baru ini membuat kebijakan atau sikap yang dinilai mengada-ada.

Pertama adalah Menpora dan kedua Menkominfo.

Menpora Imam Nachrowi membuat surat kepada pengelola bioskop agar setiap sebelum pemutaran film di bioskop penonton bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sedangkan Menkominfo dalam acara “Kominfo Next” di Hall Basket Senayan  meminta pegawai melakukan pilihan disain stiker pemilu 2019 apakah nomor satu atau nomor dua.

Nomor dua ternyata pilihan terbanyak. Ketika seorang ASN wanita ditanya alasan pilihan nomor dua nya maka jawabannya adalah “keyakinan saja, atas visi dan misi yang disampaikan nomor dua…”. Rupanya menteri kesal lalu menanyakan “siapa yang menggaji ibu, apakah yang diyakini ibu ?”.

Rupanya soal “disain” itu tendensius, maka jawaban diberikan atas asumsi dari tendensi tadi. Ibu ASN memilih nomor dua, Prabowo-Sandi, maka pak Menteri pun marah.

Surat  Kemenpora katanya hanya merupakan himbauan saja. Maksudnya untuk meningkatkan rasa nasionalisme para penonton.

Meskipun tujuannya baik akan tetapi penerapannya kurang tepat, bahkan cenderung mengada-ada.

Berbeda mungkin dengan di lapang bola dimana kesebelasan negara kita bertanding, maka menyanyikan lagu kebangsaan mungkin dapat memotivisasi agar kesebelasan memiliki daya juang tinggi untuk menang dan membela wibawa negara.

Tetapi menjadi berlebihan jika yang bertanding di Jakarta dua kesebelasan asing misal Manchester United inggris melawan klub Home United FC Singapura. Pasti aneh sebelum bertanding para  penonton menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Begitulah penonton bioskop jika pun  menyanyikan “Indonesia Raya” harus tergantung film yang ditonton. Nonton film “Batman”, “Romeo and Juliet”, “Holiday Mr Bean”, “Suster Ngesot” atau “Jailangkung” diawali penonton menyanyikan lagu kebangsaan rasanya tidak “nyambung”.

Apalagi jika jika dari imbauan kemudian dikembangkan jadi “budaya”, maka dipastikan tercatat Menpora telah sukses mengubah negara Indonesia menjadi negara fasis.

Menteri Rudiantara yang berwajah kesal dan  mengaitkan jawaban berbau pilpres dari ibu ASN dengan pemberian gaji yakni pemerintah untuk maksud Jokowi, bukan prabowo, sangatlah “radikal”.

Naif dan seperti kehilangan kendali intelektualitasnya. Anak SD juga tahu yang membayar gaji itu pemerintah. Sumber keuangannya dari rakyat bukan dari kantong Jokowi.

Sehingga tak pantas menyindir ibu ASN bahwa yg bayar gaji itu bukan “yang diyakini” untuk maksud Prabowo.

Di sisi lain bapak Menteri ini kena tembak peluru sendiri. Senjata makan tuan. Maksud hati mengaitkan pilihan “disain stiker pemilu 2019” dengan nomor satu dan nomor dua (mungkin) berharap nomor satu yang dipilih hingga jadi simbol yang bisa  dikomentari.  Akan tetapi yang terjadi justru pilihan terbanyak ASN pada nomor dua. Simbol lain yang diluar dugaan.

Apapun maksud-maksud baik kedua Menteri ini namun publik bisa membaca betapa memprihatinkannya menteri-menteri Pemerinrahan Jokowi ini. Terlalu “membuka” ruang bagi kritik masyarakat.

Moga saja tidak menjadi bagian dari karakter pemimpin yang senantiasa memprioritaskan pencitraan daripada bukti dan prestasi.

Bukan yang sibuk  teriak “kerja kerja” untuk menutupi banyak kegiatan yang  “kurang kerjaan” dan kurang terasa mashlahatnya bagi rakyat banyak.  Secara nyata.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X