Rangkuman Mencari Pesawat AirAsia Yang Hilang

INDONESIA (Jurnalislam.com) – Kapal dan pesawat dikerahkan kembali mencari pesawat penumpang yang hilang dalam penerbangan dari Indonesia ke Singapura.

Laksamana Pertama Sigit Setiayana, Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut Naval Aviation Center Commander di pangkalan angkatan udara Surabaya, mengatakan pada hari Senin bahwa 12 kapal angkatan laut, lima pesawat, tiga helikopter dan sejumlah kapal perang sedang menyisir daerah timur dan tenggara pulau Belitung Indonesia dan perairan terdekat.

Setiaya mengatakan visibilitas sedang dalam keadaan baik.

"Insya Allah, kita dapat menemukannya segera,'' Setiayana mengatakan kepada The Associated Press.

Airbus A320-200, yang membawa 162 orang, hilang setelah pengendali lalu lintas udara kehilangan kontak dengan pesawat bermesin ganda tersebut sekitar satu jam setelah meninggalkan bandara internasional Juanda di Surabaya, Jawa Timur pada pukul 5:20 pagi pada hari Minggu (22:20 GMT Sabtu ).

Sesaat sebelum menghilang, AirAsia mengatakan pilot pesawat telah meminta izin dari kontrol lalu lintas udara Jakarta untuk mengubah arah dan naik di atas cuaca buruk di daerah yang sedang terkena badai parah.

Maskapai ini, memberikan rincian revisi kebangsaan, mengatakan 155 penumpang pesawat QZ8501 adalah orang Indonesia, tiga warga Korea Selatan dan satu orang masing-masing dari Singapura, Malaysia, Inggris dan Perancis.

Enam belas orang di kapal adalah anak-anak dan terdapat seorang bayi.

"Kami telah mengerahkan semua kekuatan kita, mulai dari pencarian dan penyelamatan oleh lembaga, militer, polisi dan bantuan dari masyarakat serta nelayan," kata kepala badan penyelamatan, FHB Soelistyo, mengatakan dalam konferensi pers.

Dua pesawat angkatan udara dan helikopter Indonesia pada hari Minggu menyusuri perairan di sekitar pulau-pulau Bangka dan Belitung di Laut Jawa, melintasi pulau Borneo di Kalimantan, namun tidak ada tanda-tanda dari pesawat yang hilang tersebut.

Ia mengatakan tiga kapal dan tiga pesawat dari Malaysia akan bergabung dengan pencarian pada hari Senin. Singapura telah menawarkan pesawat C130 dan Australia juga menawarkan bantuan.

Dengan informasi yang sedikit dan tidak mendetail, kerabat yang panik berkumpul di bandara Changi Singapura.

Di Surabaya ratusan keluarga Indonesia memenuhi bandara, menanti berita.
Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan bahwa negaranya "berdoa untuk keselamatan" seluruh penumpang dan awak pesawat.

Pesawat itu dioperasikan oleh AirAsia Indonesia, sebuah unit dari AirAsia yang berbasis di Malaysia yang mendominasi booming pasar penerbangan murah di Asia Tenggara.

AirAsia mengatakan jet yang hilang tersebut menjalani perawatan terakhir pada 16 November. Perusahaan tidak pernah mengalami kecelakaan fatal.

Seorang pejabat dari kementerian transportasi Indonesia mengatakan pilot diminta untuk naik dari 6.000 kaki ke 38.000 kaki untuk menghindari awan tebal.

"Pesawat dalam kondisi baik tetapi cuaca tidak begitu baik," kata Djoko Murjatmodjo dalam konferensi pers di bandara Jakarta, mengomentari laporan badai di daerah di mana jet itu hilang.

Terbang naik menghindari awan hujan besar adalah prosedur standar untuk pesawat dalam kondisi seperti ini.

"Apa yang terjadi setelah itu masih tanda tanya," menurut analis penerbangan yang berbasis di Indonesia, Dudi Sudibyo.

Hilangnya pesawat itu datang pada terjadi di akhir tahun bencana bagi penerbangan Malaysia.

Malaysia Airlines Flight MH370, yang membawa 239 orang, hilang pada bulan Maret setelah secara misterius mengalihkan arah penerbangannya dari rute Kuala Lumpur-Beijing. Tidak ada jejak yang telah ditemukan.

Pesawat Malaysia Airlines lainnya dijatuhkan pada bulan Juli dari atas wilayah peperangan di timur Ukraina, menewaskan seluruh 298 penumpang. Pesawat tersebut diyakini terkena rudal.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

NATO Akhiri Misi di Afghanistan, tapi Ribuan Tentaranya Masih Menetap

KABUL (Jurnalislam.com) – Koalisi pimpinan Amerika di Afghanistan secara resmi mengakhiri misi tempurnya pada hari Ahad (28/12/2014), selama lebih dari 13 tahun setelah aliansi internasional itu menggulingkan pemerintah Taliban karena melindungi para perencana serangan 11 September 2001 di Amerika.

Sekitar 13.000 tentara koalisi asing, sebagian besar warga Amerika, akan tetap berada di negara itu dalam misi baru bernama "Dukungan Kuat (Resolute Support)" selama dua tahun dan akan melanjutkan pelatihan pasukan keamanan koalisi Afghanistan.

Para tentara dan polisi Afghanistan masih terus melawan mujahidin Taliban .

"Hari ini menandai akhir dari sebuah era dan awal yang baru," kata Jenderal AS John Campbell, komandan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF), pada upacara yang menandai berakhirnya misi di markas ISAF di Kabul.

"Kami akan terus berinvestasi di masa depan Afghanistan," lanjutnya.

Sejak tahun 2001, lebih dari 3.500 tentara asing tewas dalam perang Afghanistan, termasuk sekitar 2.200 tentara Amerika.

Taliban telah melancarkan serangan yang semakin mematikan, tercatat tahun lalu lebih dari 4.600 tentara boneka AS dan polisi Afghanistan tewas akibat serangan Mujahidin Taliban.

Bagi presiden baru Afghanistan, Ashraf Ghani, mengontrol pemerintah wilayah dan menjaga keamanan agar tidak memburuk adalah prioritas utama.

ISAF mengatakan bahwa mereka menahan rincian upacara hari Ahad sampai saat terakhir karena takut para mujahidin mungkin mencoba serangan dengan roket atau mortir.

Kabul, Brussels dan Washington memiliki hubungan erat setelah penandatanganan Perjanjian Keamanan Bilateral dan Status Angkatan dengan pasukan Agresor  NATO dan AS .

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

 

Agar Tidak Berbaur, Imigran Ilegal Harus Ditempatkan di Tempat Khusus

BOGOR (Jurnalislam.com) – Kepala Sub Seksi Penindakan Kantor Imigrasi Kelas II Kota Bogor, Dede Sulaiman menyatakan bahwa sejatinya para imigran Syiah ini adalah sesama manusia yang harus dihargai dan dihormati hak-haknya. Namun, mereka tetap harus dibatasi untuk tidak berinteraksi dengan masyarakat setempat karena mereka membawa ideologi dan budaya yang sama sekali berbeda dengan adat istiadat masyarakat di Nusantara.

“Tidak semua (imigran) jahat, tapi tidak semua baik juga. Plus minus lah. Sebagian besar butuh tempat yang aman sih intinya. Tapi yang harus diatasi sebenarnya itu, mereka harus dibatasi berinteraksi dengan masyarakat langsung. Sebab lama-lama bisa menimbulkan gesekan,” ujar Dede saat ditemui JITU di Kantor Imigrasi Kelas II Kota Bogor, di Jalan Ahmad Yani No 65, beberapa waktu lalu.

Apalagi, menurut Dede, masyarakat di Indonesia mudah tersulut ketika ada perbedaan-perbedaan pandangan yang sangat prinsipil, seperti perbedaan aqidah.

Ia menceritakan bahwa pihak Imigrasi Bogor pernah mengamankan sejumlah imigran dari Bangladesh dan Srilanka yang tinggal di kompleks penganut ajaran sesat Ahmadiyah di Parung, Bogor. Pasalnya, ada kekhawatiran bahwa kehadiran imigran asing di wilayah itu akan menembah keruh suasana. Hingga pada akhirnya, pihak imigrasi memindahkan imigran yang sudah berstatus sebagai pencari suaka tersebut ke tempat lain.

Pada tahun 2012, Imigrasi Bogor juga pernah menggelar operasi terhadap para imigran ilegal. Operasi itu berhasil menjaring 170 orang imigran dan langsung dibawa ke Kantor Imigrasi Kota Bogor. “Tapi, karena tidak ada tempat, kita bawa ke Direktorat Jenderal (Imigrasi). Karena di sana juga tidak ada tempat, akhirnya balik lagi ke sini,” tutur Dede.

Ia mengkhawatirkan problematika sosial yang dihadapi para imigran. Sebab, hukum Indonesia tidak memperbolehkan para imigran untuk bekerja di Indonesia. “Kalau lama-lama nggak ada uang dikhawatirkan mereka berbuatjahat. Karena kalau sudah gak bisa makan, gak bisa dapat tempat kan bisa saja berbuat jahat,” tambahnya.

Ia menandaskan bahwa masalah imigran ini bukan masalah pihak imigrasi saja, tapi ini sudah patut dianggap sebagai masalah negara. Menurutnya, tindak lanjut dari permasalahan ini sebenarnya sudah ke tingkat pusat.

Pada bulan Maret-April 2014, pihak Kemenkopolhukam pernah membentuk Satgas Pendataan Penertiban Imigran Ilegal. Tapi lagi-lagi, upaya itu sebenarnya tidak memberikan solusi yang ampuh, sebab hanya sebatas pada pendataan saja.

“Akar permasalahannya hanya satu sebenarnya, yaitu tidak ada tempat untuk menampung mereka. Kabarnya, Kemenkopolhukam mau mengumpulkan kepala-kepala daerah yang ada di Indonesia untuk mencari tempat yang bisa digunakan mereka. Supaya mereka tidak liar dan tidak berbaur,” ujar Dede.

Idealnya, lanjut Dede, para imigran tersebut harus ditempatkan di tempat khusus. Jika mereka dibiarkan tinggal bersama penduduk seperti sekarang ini. Ketika mereka punya uang, tidak akan ada masalah yang terjadi. Tapi lambat laun, jika sudah bertahun-tahun mereka terkatung-katung, uang simpanan mereka pasti akan habis. Sementara, uang kiriman dari saudaranya yang sudah berada di negara ketiga atau dari negara asalnya lama-lama pasti akan berkurang.

“Ketika uang mereka sudah habis, ya sudah nggak ada uang buat ngontrak. Maka pasti bisa timbul kerawanan, bisa mencuri atau segala macam. Itu yang harus dipikirkan oleh pemerintah untuk jangka panjang,” tegasnya.

Hingga saat ini, pihak imigrasi Bogor masih menangani para imigran ilegal itu secara kondisional.

“Kalau sekarang mereka aman-aman saja, itu paling yang ditangani per case saja. Kalau mereka mengganggu baru kita ambil. Kalau yang enggak, ya memang tidak ada tempat, sementara seperti itu. Dari pusat pun belum ada solusi kan? Dari negara kita pun belum ada solusi,” pungkas Dede.

Muhammad Pizaro | Fajar Shadiq | JITU | Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Imigran Syiah di Bogor: Islam Syiah Real Islam!

Cuaca Bogor dan Keterbukaan Masyarakatnya Jadi Alasan Para Imigran

MUI Kab. Bogor: Imigran Syiah di Puncak Suburkan Praktek Pelacuran

MUI : Imigran Kotori Bogor, UNHCR Harus Bertanggungjawab

Cuaca Bogor dan Keterbukaan Masyarakatnya Jadi Alasan Para Imigran

BOGOR (Jurnalislam.com) – Bak bunga segar di antara para kumbang, Bogor memang sudah lama dikenal sebagai surganya para imigran. Menurut Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian Kota Bogor, Dede Sulaiman, Kota Bogor sudah dikenal oleh para imigran dari mulut ke mulut di kalangan mereka sendiri. Sementara, dulunya memang ada penempatan khusus bagi para imigran dengan dibentuknya comunity house di kota itu.

Tapi, faktor yang paling dominan sebenarnya adalah masyarakat Kota Bogor sendiri yang sebagian membuka diri pada para imigran.

“Sebagian masyarakat tidak berkeberatan, sebagian lagi menentang, jadi plus minus lah mereka. Kalau yang diuntungkan dengan keberadaan mereka ya pasti mau terima kan. Kalau yang tidak suka, paling (karena) mereka (imigran-red) itu ganggu ketertiban lah, telepon malam-malam, berisik dan segala macam, itu yang mungkin mengganggu,” tambah Dede saat ditemui dua anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Kantor Imigrasi Kelas II Kota Bogor di Jalan Ahmad Yani, beberapa waktu lalu.

Selain itu, faktor iklim Kota Bogor yang sejuk juga menjadi daya tarik para imigran ilegal untuk berbondong-bondong ke Kota Bogor.

“Kalau saya wawancara langsung sama beberapa imigran ya cuaca mendukung dan masyarakatnya baik-baik, itu saja sih sebenarnya yang paling utama saya kira,” tambah Dede.

Akibatnya, karena faktor-faktor tersebut para pengungsi yang sudah menumpuk di Malaysia, baik dari Afghanistan, Pakistan maupun negara lainnya akhirnya bergerak ke Indonesia. Dede melanjutkan, hal itu diperkuat dengan adanya informasi bahwa pihak UNHCR di Indonesia itu lebih gampang untuk penempatan dan pemberian status pencari suaka dan pengungsi. Meskipun pada kenyataannya tidak seperti itu.

Dede menuturkan, realisasi penempatan ke negara ketiga itu jumlah imigran yang akan diterima kecil sekali dibanding mereka yang ditampung di Indonesia. Pasalnya, negara-negara yang mau terima para imigran itu, seperti Australia, Kanada, Amerika atau negara Eropa melakukan seleksi ketat dan keputusan ada di tangan mereka.

“Jadi mereka pilih (imigran-imigran) yang bagus-bagus. Kalau dia dokter, atau punya keahlian khusus, cepat mereka diterima. Tapi sampah-sampahnya jadi banyak di Indonesia. Di rudenim-rudenim banyak sekali itu yang nggak punya keahlian,” tukas Dede.

Bogor larang penempatan imigran

Berbeda dengan imigran di sejumlah wilayah lain, para imigran ilegal di Kota Bogor ini sudah dianggap mandiri. Mereka hidup dari biaya sendiri dan sudah tidak difasilitasi lagi oleh NGO-NGO yang mengurusi masalah pengungsi.

Hal itu berlaku sejak tahun 2012, ketika Bupati Bogor mengeluarkan surat edaran terkait larangan penempatan imigran di wilayah Bogor. Sehingga, NGO-NGO banyak yang menarik diri dan tidak lagi memfasilitasi imigran ilegal.

“Dulu memang ada IOM (International Organization of Migration), ada JRS (Jesuit Refugee Service), ada CWS (Church World Service) mereka kasih uang. Sekarang semenjak tahun 2012 kan memang ada surat Bupati itu yang melarang ada penempatan baru, ada surat Bupati Bogor yang isinya itu melarang penempatan imigran di wilayah Bogor. Jadi memang setelah dari situ organisasi kemanusiaan itu mereka sudah tutup di sini, sudah tidak jalan di sini. Dan mereka yang di Puncak itu sudah tak ada yang difasilitasi,” ujarnya.

Muhammad Pizaro | Fajar Shadiq | JITU | Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Imigran Syiah di Bogor: Islam Syiah Real Islam!

MUI Kab. Bogor: Imigran Syiah di Puncak Suburkan Praktek Pelacuran

Agar Tidak Berbaur, Imigran Ilegal Harus Ditempatkan di Tempat Khusus

MUI : Imigran Kotori Bogor, UNHCR Harus Bertanggungjawab

Imigran Syiah di Bogor: Islam Syiah Real Islam!

BOGOR (Jurnalislam.com) – Menurut data terakhir bulan Agustus 2014, Kantor Imigrasi Kelas II Kota Bogor menyatakan ada sekitar 600 orang imigran ilegal yang berada di Kota Hujan itu. Namun, Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian Kota Bogor, Dede Sulaiman menegaskan pendataan kepada imigran sangat sulit dilakukan karena sifatnya yang dinamis.

“Jadi imigran ini kan manusia bukan benda, sifatnya mobile, dinamis. Setiap ada keinginan mereka maupun kesempatan mereka pergi ya pasti akan mempengaruhi data yang ada. Nah, kalau Kantor Imigrasi Kelas II Bogor sendiri telah melakukan pendataan, pada bulan Agustus memang jumlahnya sekitar 600-an,” ujar Dede saat ditemui di kantornya oleh dua anggota Jurnalis Islam Bersatu, Muhammad Pizaro dan Fajar Shadiq, beberapa waktu lalu.  

Menurut Dede, data itu didapatkan setelah pihak keimigrasian Bogor bekerja sama dengan aparat polisi, TNI, pihak Kecamatan dan Kelurahan, khususnya Kelurahan Megamendung dan Cisarua. Pasalnya, dua tempat itu merupakan konsentrasi imigran ilegal di daerah Bogor.

Dari sekitar 600 imigran ilegal itu lebih dari separuhnya berasal dari Afghanistan, sementara sisanya berasal dari Pakistan, Rohingya, Somalia, dan wilayah lainnya. Dede pun dapat memastikan keseluruhan imigran Afghanistan itu memang berasal dari etnis Hazara yang beraqidah Syiah.

“Kalau yang datang dari Afghanistan ke sini yang putih-putih itu. Itu etnis Hazara. Kalau Hazara memang mayoritas Syiah. Di sini pun hampir semua Syiah. Yang kemarin pun kita amankan di sini itu pemeluk Syiah juga,” tutur Dede.

Meski demikian, Dede tidak melihat ada perilaku yang aneh dari para imigran Syiah tersebut. Sehingga ia pun memberi keleluasaan kepada mereka saat ditahan di Kantor Imigrasi.

“Saya pernah lihat syiah-syiah yang ada di buku, salatnya tidak banyak berbeda sebenarnya. Cuma memang tangannya diluruskan (tidak bersedekap, red). Jadi kalau golongan Syiah itu memang kayaknya macam-macam. Tapi dia bilang kalau ditanya agamanya apa, dia bilang: Islam Syiah Real Islam,” tandas Dede.

Bahkan, selain imigran dari Afghanistan, wilayah Bogor pun dahulu pernah kebanjiran pengungsi asal Iran.

Dede juga membenarkan data UNHCR yang menyatakan bahwa ada 6.000-10.000 imigran Syiah Afghanistan di Indonesia. Namun hal itu menunjukkan adanya ketimpangan dalam penempatan para imigran menuju negara ketiga, seperti Australia atau New Zealand.

“UNHCR memang memberikan informasi kalau di Indonesia ada sampai 10.000 lebih kan. Dan itu memang perbandingannya tak sesuai dengan penempatan ke negara ketiga. Contohnya kalau ditempatkan di negara ketiga itu satu tahun paling cuma 200-300 orang tapi yang datang lebih dari itu,” pungkasnya.

Muhammad Pizzaro | Fajar Shadiq | JITU | Ally | Jurniscom

 

 

MUI Kab. Bogor: Imigran Syiah di Puncak Suburkan Praktek Pelacuran

BOGOR (Jurnalislam.com) – Resah dengan maraknya pelacuran di kawasan Puncak, seorang aktivis Islam mengambil inisiatif untuk mendatangi lokasi. Tujuannya mencari tahu, sekaligus mengingatkan bahwa “bisnis” ini dapat merusak moral masyarakat.

Namun, alih-alih imbauannya didengarkan, pemuda ini justru memicu kemarahan para warga. Mereka -yang diantaranya para mucikari- lalu mengambil botol dan menghampirinya. Berkali-kali ayunan botol itu bersarang di kepalanya dan tinjuan bertubi-tubi melayang ke wajahnya. Beruntung, aktivis tersebut masih selamat.

Itulah gambaran dampak buruk maraknya bisnis pelacuran di kawasan berhawa sejuk Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut. Para ulama mengaku kian resah, karena keberadaan bisnis esek-esek tersebut semakin subur setelah kedatangan para imigran gelap.

Ketua Bidang Pengkajian, Penelitian, dan Aliran Sesat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, KH. Muhammad Zen Mahfudin menilai, kawasan wisata Puncak menjadi ladang empuk para imigran menjadi pekerja bisnis haram ini.

“Saya gak mau sebut wanita susila, mereka ini pelacur!” ujarnya saat ditemui dua anggota Jurnalis Islam Bersatu, Muhammad Pizaro dan Fajar Shadiq di kediamannya, desa Cipayung, Kecamatan Cisarua.

Pria yang akrab disapa Kyai Zen ini makin merasa iba melihat respon masyarakat. Warga yang harusnya menolak, justru merasa tenang-tenang saja karena mendapatkan keuntungan ekonomi. Akhirnya, tidak sedikit dari warga yang menerima kehadiran imigran gelap.

“Kalau sudah urusan fulus, memang susah,” tegasnya.

Pangkal masalah ini, kata Kyai Zen, berangkat dari konsep nikah mut’ah para imigran Syiah. Pihak MUI sendiri sudah mengingatkan warga tentang bahaya ini. Apalagi sekarang MUI hadir sampai tingkat desa.

“Respon masyarakat acuh saja, orang mau mengingatkan saja dipukuli,” ujarnya cemas.

Berdasarkan keterangan Kantor Kelas II Imigrasi Bogor, ada sekitar 600 imigran gelap di Bogor. Dari jumlah itu, setengahnya berasal dari Afghanistan. Sisanya berasal dari Pakistan, Somalia dan Rohingya.

“Mayoritas Imigran Afghanistan adalah pengikut Syiah dari etnis Hazara,” ujar Dede Sulaeman, Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian.

Namun, Dede mengaku tidak bisa memastikan jumlah para imigran di Bogor setiap bulannya, karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. “Sekarang bisa berkurang menjadi 300, bisa juga bertambah menjadi 1000,” paparnya.

Dede menerangkan Indonesia menjadi tujuan utama para imigran karena pihak UNHCR mudah mengeluarkan sertifikat para pengungsi. Selanjutnya Puncak menjadi sasaran hunian para imigran karena iklimnya mendukung.

“Puncak ini cuacanya sejuk, masyarakatnya juga ramah-ramah,” terangnya.

Selain masalah prostitusi, persoalan dihadapi para ulama adalah gaya hidup para imigran Syiah. Mereka gemar menenggak minuman keras hingga pagi. “Malam jadi siang, siang jadi malam,” sindir Kyai Zen yang melihat para imigran memilih tidur saat adzan Subuh.

Muhammad Pizzaro | Fajar Shadiq | JITU | Ally | Jurniscom

 

Ratusan Jilbab Ditebar TJ di CFD

JAKARTA (Jurnarislam.com) – Hadirnya komunitas Tebar Hijab membuat suasana Car Free Day (CFD) Jakarta Ahad 16 November 2014 terlihat menarik, sejumlah muslimah berjilbab mengkampanyekan untuk menutup aurut dengan berhijab.

Komunitas Tebar Hijab ini melakukan dengan santun. Dengan senyuman menyapa para peserta CFD untuk mampir di stand dan membagikan ratusan hijab gratis bagi Muslimah yang belum berhijab.

Bentangan spanduk kecil berwarna putih dengan bingkai berwarna pink bertuliskan “Yuk Berjilbab” nampak meramaikan suasana .

Ada juga ajakan menarik lainya yang tertulis dispanduk kecil dengan tulisan “BUKAN KEBETULAN, Disinilah Tempat Mengambil Jilbab Pertamamu”.

Seruan dakwah yang dilakukan komunitas ini sangat kreatif dan mendapat perhatian para peserta CFD. Nampak dari banyaknya pengunjung yang mampir dan beberapa pengunjung langsung diajarkan bagaimana menggunakan hijab pertamanya.

Bagi yang ingin berpartisipasi dapat menghubingi Contact Person : Bang Bento ( 0813 8675 9932 ) sedang Bagi relawan akhwat dapat menghubungi kak vita ( 081284757195 ).

Acara ini terselenggara dengan didukung Oleh :

@AntiLiberalNews
@GAULtapi_ISLAMY
@Muslimah_Talk
@sobat_loversh
@HijabiSy
@tausiyahku
@MudaBerdakwah
@PejuangSubuhTNG

Donasi Berupa Hijab dapat dibawa saat acara pembagian berlangsung atau hubungi Contact person/korlap
Donasi uang Transfer ke rekening:
BCA 3452511221 A/N Nur Aini Dwi

 

Ally | AntiLiberalNews | Jurniscom

Cuaca Mendung, Hari Pertama Pencarian Air Asia QZ8501 di Pulau Nangka Nihil

MANGGAR (Jurnalislam.com) – Upaya pencarian Pesawat AirAsia QZ8501 yang dikabarkan jatuh di perairan Pulau Nangka, Belitung Timur (Beltim), kemarin (28/12/2014) tanpa hasil. Hampir 6 jam, tim yang dipimpin Kasat Polairud Polres Beltim AKP Yanto dibantu nelayan setempat mencari keberadaan pesawat tujuan Surabaya-Singapura ini. Namun sayangnya, tidak menemukan tanda-tanda apapun lantaran cuaca mendung.

Titik lokasi pencarian memang salah satunya difokuskan di sekitar Pulau Nangka atau wilayah selatan laut Beltim. Sebab, sempat beredar kabar jika nelayan Kelapa Kampit mendengar suara ledakan cukup keras di sekitar pulau tersebut. Selain Pulau Nangka, petugas di posko Kamla juga mendapat kabar adanya nelayan yang berhasil menyelamatkan penumpang AirAsia di Pulau Serutu wilayah Kalimantan Barat. Namun, kepastian kabar tersebut hingga kini belum dapat dipastikan.

Tidak hanya itu, sejumlah penduduk Pulau Long Desa Selinsing dikabarkan heboh karena melihat tumpahan minyak di sekitar perairan pulau tersebut. Hanya saja, pengecekan ke lapangan masih terkendala cuaca dan keterbatasan alat transportasi. Bupati Beltim Basuri T Purnama menjelaskan, pencarian terpaksa dihentikan sementara. Upaya pencarian akan dilanjutkan hari ini (29/12) menunggu tim dari Pangkalpinang.

"Rencananya, pencarian akan menggunakan helikopter dan pesawat kecil dengan titik pencarian disekitar wilayah selatan dan utara laut Beltim," ujar Basuri ditemui tadi malam.

Sementara itu, suasana di pos Kamla cukup ramai. Sejumlah anggota tim pencarian yang melibatkan, Polairud, TNI, Tagana Beltim dan Basarda Babel terlihat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melanjutkan pencarian. Tim kesehatan dari RSUD Beltim dan Puskesmas terdekat juga disiagakan di pos Kamla sebagai antisipasi jika ada korban ditemukan.

Kapolres Beltim AKPB Nugrah Triadi.,S.Ik menambahkan, selain pihaknya upaya pencarian juga dilakukan TNI Angkatan Laut Pos Beltim, DKP dan Kesbangpol Pemkab Beltim serta Tagana.

"Kemudian, tim segera mengecek koordinat lost kontak yang diduga berlokasi di Pulau Tanjung Kelumpang berjarak 32 mil dari Pos Angkatan Laut, Manggar," ujar Kapolres.

AKBP Nugrah mengatakan pada pukul 11.30 wib, tim evakuasi segera melakukan persiapan kapal dan melakukan pemasangan tenda. "Setelah itu, kita kembali melakukan pengecekan peta bersama Danlanud Tanjungpandan, Letkol Setiawan," ujarnya.

Menurut Nugrah, beberapa informasi kemudian masuk. Dari Pospam Kelapa Kampit, Beltim. Pesawat terlihat di Pulau Nangka, lalu terdengar ledakan. "Informasi ini dari Pak Yudi, bahwa saudaranya, yaitu Erwin yang sedang melaut mendengar ledakan keras di Pulau Nangka," ujar Nugrah.

Sementara itu, lanjutnya, di Kecamatan Gantung, Beltim dan Pulau Buku Limau, para nelayan sudah dikerahkan untuk melakukan penyisiran di laut. "Informasi ini, bagaimana pun belum tentu akurat, namun, semua informasi-informasi ini tetap kita tampung," ujarnya.

msi | Ally | Jurniscom

 

Ini Kronologi Hilangnya Pesawat Air Asia QZ 8501

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merilis kronologi dan status pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 8501.

Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskompublik) Kemenhub, JA Barata, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, menyatakan kronologi hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 diawali dengan pesawat berangkat dari Surabaya pada pukul 05.36 WIB.

"Pesawat terbang dengan ketinggian 32.000 kaki dan pesawat mengikuti jalur penerbangan M-635," katanya.

Selanjutnya pesawat kontak ATC Jakarta pukul 06.12 WIB pada ketinggian FL.320 pada frekuensi 125.7 MHz.

Pada saat kontak, ATC Radar Jakarta mengidentifikasi pesawat pada layar radar dan pada saat kontak, pesawat menyatakan menghindari awan ke arah kiri dari M-635 dan meminta naik ke ketinggian 38.000 kaki (FL.380).

"Pukul 06.16 WIB pesawat masih terlihat di layar radar dan pukul 06.17 WIB pesawat hanya tampak signal ADS-B, pada saat ini sekaligus hilang kontak dengan ATC," katanya.

Kemudian pada pukul 06.18 WIB target hilang dari radar, hanya tampak "flight plan track" saja.

"Tindakan yang dilakukan ATC, menyatakan INCERFA atau tahap awal pesawat hilang kontak pada pukul 07.08 WIB, menyatakan ALERFA atau tahap lanjut pesawat pada pukul 07.28 WIB, dan pernyataan DETRESPA atau pernyataan pesawat hilang pada pukul 07.55 WIB," katanya.

Ia menambahkan, pada pernyataan INCERFA dan seterusnya, Basarnas sudah terinformasi.

Ally | ANTARA | Jurniscom

Harga BBM Premium Ternyata Dintentukan oleh Mafia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas (RTKM) Faisal Basri mengungkapkan harga bahan bakar minyak (BBM) RON 88 atau premium saat ini ternyata ditentukan oleh mafia migas.

Menurutnya, jenis RON 88 sulit dicari di pasar karena sudah tidak lagi digunakan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Karena tidak tersedia, lanjut Faisal, produksi BBM RON 88 diperoleh dari RON 92 yang diturunkan kualitasnya dengan memakan biaya tambahan. Sebab itu, penetapan harga dilakukan tidak sesuai.

"Datangnya keinginan premium dihapus karena proses pembentukan harga RON 88 tidak jelas. Kemudian, dinamika pasar yang terjadi di kawasan kita di ASEAN. Itu tidak ada yg produksi," ujarnya dalam acara Diskusi Polemik Sindo Trijaya FM di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (27/12/2014).

"Karena tidak ada harga di pasar, diterka menjadi harga RON 92. Harga RON 88 ada di ruangan gelap. Lalu, munculah mafia ini menentukan harga, tidak lewat pasar," beber Faisal.

Dia menuturkan, biaya produksi RON 88 sangat rumit. Sebab itu, sebaiknya pemerintah menjual RON 92 untuk BBM jenis premium karena efektif menghilangkan praktik mafia migas yang mengatur harga. "Kalau RON 92 perhitungan dan persediannya jelas," tegasnya.

Dia menambahkan, migrasi tersebut tidak merugikan pemerintah dan akan bermanfaat untuk masyarakat.

"Ada selisih keuntungan sekitar Rp800, maka pemerintah masih untung. Rakyat dengan harga yang sama bisa memperoleh bensin lebih baik. Rp8.500 memperoleh bensin setara pertamax," pungkasnya.

Ally | SINDO | Jurniscom