Harits Abu Ulya : Ancaman OPM Lebih Serius Ketimbang MIT

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati kontrateroris Harits Abu Ulya, mengatakan pemerintah tidak adil dalam menanggapi ancaman gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Kalau pemerintah bisa gerakkan Densus plus lebih dari seribu personel Brimob dan satuan lainnya untuk kejar jaringan teroris Santoso Cs kenapa tidak dilakukan hal yang sama terhadap kelompok separatis Papua?" ujar Harits seperti dilansir Okezone, Selasa (26/5/2015).

Dia menambahkan, pemerintah harusnya lebih tegas dalam kasus tantangan terbuka OPM kepada TNI dan Polri. "Sebab, OPM lebih terorganisir, dengan visi politik yang jelas dan ada unsur-unsur asing backup. Jika dibiarkan maka akan berpotensi melahirkan disintergrasi secara serius," sambungnya.

Harits menegaskan, skala ancaman teroris OPM jauh lebih serius dibandingkan jaringan teroris Santoso di Poso. Menurutnya, TNI sangat bisa masuk untuk operasi di Papua, karena sudah masuk ranah kedaulatan.

"Kalau pemerintah serius, ya Presiden tinggal keluarkan Perpres untuk TNI agar take over sepenuhnya. Tapi sering kali kepentingan politik yang tidak jelas menjadi faktor kasus OPM terkesan diambangkan," tutur Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu.

Sebelumnya, kelompok gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang bermarkas di Lany Jaya, Papua menantang perang secara terbuka terhadap TNI, Polri dan masyarakat non Papua.

Perang terbuka itu, kata Enden, untuk menyatakan ketegasan bahwa perjuangan Papua merdeka tetap menjadi harga mati. Mereka pun menolak segala bentuk dialog yang ditawarkan pemerintah.

Ally | Okezone | Jurniscom

Pengamat : Meski Sudah Melemah, MIT Sengaja "Diawetkan" Demi Proyek Kontraterorisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati kontra terorisme Harits Abu Ulya menilai jaringan Santoso yang masih berada di wilayah Hutan Tamanjeka, Poso telah melemah. Namun, keberadaannya sengaja "diawetkan" untuk menjaga proyek kontraterorisme.

"Saat ini kekuatan kelompok Santoso sebenarnya kecil dan tidak signifikan, baik dari jumlah personel maupun senjata. Cuma kelebihan mereka adalah menguasai medan dengan baik," ungkap Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu kepada Jurniscom, Selasa (26/5/2015).

Sementara, lanjut Harits, pihak Polri justru sebaliknya. Meski personel melimpah, senjata lebih dari cukup tapi mereka tidak menguasai medan. Anggota Polri yang dikirim ke Poso pengalaman perang gerilya di hutan pun tidak banyak.

"Kelompok Santoso harusnya dihadapi oleh pasukan dengan kemampuan TPRG (Taktik Perang Regu Gerilya). Kalau mau selesaikan kasus Poso, bisa saja turunkan TNI yang punya divisi antiteror seperti Densus 88," tegasnya.

Harits menyatakan kelompok Santoso tampaknya sengaja "diawetkan" untuk mengamankan anggaran proyek kontraterorisme dari APBN dan dana hibah lainnya.

"Lebih dari itu, tidak ada transparansi angggaran dan tidak akuntabel setiap kali operasi Densus itu berapa," ungkapnya.

Seperti diketahui, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap sembilan terduga teroris yang terlibat dalam jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Dua diantaranya tewas akibat baku tembak dengan Densus bersama Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, di Pegunungan Gayatri, Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Minggu 24 Mei 2015. Harits menduga kesembilan orang itu adalah anak buah Santoso yang hendak turun untuk mendapatkan suplai logistik. 

Ally | Jurniscom

Sudah Sebulan Ditangkap, Ustadz Basri Belum Bisa Dibesuk Keluarga

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI), selain melaporkan dugaan penculikan Aziz Hermawan oleh Densus 88, juga mendampingi Mukhlis yang mewakili keluarga Ustadz Basri melapor ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Dalam laporannya, keluarga Ustadz Basri mengungkapkan bahwa sudah satu bulan lebih Ustadz Basri ditangkap dan ditahan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, tapi beliau tak bisa dibesuk.

“Kalau Ustadz Basri ini kan sudah hampir satu bulan keluarga belum bisa diperkenankan membesuk,” kata Direktur Kontra Terorisme dan Kontra Separatisme PUSHAMI, Yusuf Sembiring saat mendampingi keluarga korban di Komnas HAM, Jalan Latuharhari No. 4 B, Kelurahan Menteng,​ Jakarta Pusat, pada Senin (25/5/2015).

Pada kesempatan tersebut, disampaikan pula tentang aksi brutal penangkapan Ustadz Basri di depan anaknya.

“Jadi beliau sedang membawa anaknya ke pasar, lalu dipepet oleh dua mobil kemudian ditabrak dan terjatuh bersama anaknya yang masih kecil. Ada warga yang hendak menolong tapi aparat mengeluarkan senjata dan menceganya,” ungkap Yusuf.

Hingga kini, anak Ustadz Basri masih mengalami trauma atas kekerasan yang dilakukan Densus 88.

“Tadi keponakannya yang mengadukan hal tersebut, sampai hari ini anaknya dalam kondisi trauma,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Ustadz Basri yang merupakan pimpinan pondok pesantren tahfidzul qur’an (penghafal Al-Qur’an)  Ar-Ridha, ditangkap di depan apotik Bungadia, Jalan Manuruki, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, pada Jum’at (24/4/2015).

Ustadz Basri ditangkap Densus 88 saat bersama dengan anaknya yang masih kecil yang berumur 3 tahun. Ustadz Basri ditangkap dengan cara ditabrak motornya hingga dirinya dan anaknya terjatuh.

 Saksi mata di lokasi menuturkan, setelah terjatuh, sekitar delapan orang Densus 88 berpakaian preman turun dari 2 mobil menyuruh tiarap, lalu memborgol tangan Ustadz Basri, kemudian memasukkan ke dalam mobil berwarna hitam dan langsung dibawa. Sementara anak Ustadz Basri yang masih kecil ditinggalkan begitu saja.

Pushami | Ally | Jurniscom

Aziz Hermawan Diculik Densus 88, Keluarga Adukan ke Komnas HAM

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rinayuni, mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), karena suaminya, Aziz Hermawan hingga kini tak jelas rimbanya. Rina didampingi oleh sejumlah pengacara dari Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI) diantaranya Munarman SH, M Hariadi Nasutio SH MH, Yusuf Sembiring SH dan KL Pambudi SH.

Mereka diterima salah seorang Komisioner Komnas HAM, Nur Kholis di ruang pengaduan. Rina pun menceritakan pertemuan terakhir dengan suaminya, usai menjemput anak-anak pulang sekolah pada Rabu 20 Mei 2015 siang.

“Saya terakhir ketemu hari Rabu kemarin, dia ngantar anak pulang dari sekolah lalu nyervis motor ke bengkel terus gak pulang-pulang lagi. Jadi dia ngantar saya jemput anak sekolah, terus balik lagi ke bengkel di Rawa Kuning,” kata Rina di ruang pengaduan Komnas HAM, Jalan Latuharhari No. 4 B, Kelurahan Menteng,​ Jakarta Pusat, pada Senin (25/5/2015).

Rina semakin yakin Aziz Hermawan ditangkap ketika ada seseorang mengaku dari kepolisian menelpon dirinya pada hari Jum’at (22/5/2015) dan menanyakan sebuah barang milik suaminya.

“Ada yang nelepon saya hari Jum’at siang sekitar jam 14.30 WIB,” imbuhnya.

Rina pun bingung, apa alasan penangkapan Aziz yang kesehariannya bekerja sebagai pedagang ikan atau mencari cacing sutra untuk pakan ikan.

“Kerjanya sehari-hari hanya cari ikan atau cari cacing,” ungkapnya.

Menurut pendiri Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI), Munarman SH saat mendampingi keluarga korban, apa yang terjadi pada Aziz Hermawan adalah penculikan. Sebab hingga kini keluarga tak menerima surat penangkapan. Hal itu termasuk dalam Arbitrary Detention.

“Kalau dalam bahasa HAM ini disebut arbitrary detention atau penangkapan di luar proses hukum,” kata Munarman.

Sementara itu, Komisioner Komnas HAM, Nur Kholis berjanji akan menindaklanjuti pengaduan keluarga korban dengan menyurati Mabes Polri.

“Yang paling kongkrit paling kita akan surati Mabes Polri terkait aduan ini. Minimal kepastian bahwa ibu bisa berkomunikasi dengan suami dan bisa bertemu suami,” ujar Nur Kholis.

Nur Kholis juga mengungkapkan bahwa kasus-kasus seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Komnas HAM sudah menerima banyak laporan terkait perlakuan Densus 88 yang serupa. “Kasus ini bukan yang pertama kami terima,” ungkapnya.

Di sisi lain, Nur Kholis juga menyampaikan agar Rina mendapatkan perlindungan. Sebab bukan tidak mungkin aparat akan melakukan intimidasi kepada yang bersangkutan.

“Ibu ini perlu jaminan keamanan secara personal, biasanya ada intimidasi supaya memutuskan hubungan dengan pengacaranya,” tandasnya.

Pushami | Ally | Jurniscom

Ribuan Umat Islam AS Hadiri Konvensi Muslim ICNA

AMERIKA SERIKAT (Jurnalislam.com) –  Ribuan umat Islam dari seluruh AS diundang untuk menghadiri konvensi tahunan Islamic Circle of North America (ICNA) untuk menghormati Nabi Muhammad SAW, dengan menghadirkan para pembicara dari seluruh dunia untuk memberikan "pemahaman yang lebih baik" terhadap nabi.

Ketika orang-orang di Amerika Serikat menyebut-nyebut tentang nabi, "mereka benar-benar tidak tahu banyak tentang dia," Waqas Syad, wakil sekretaris jenderal ICNA mengatakan Anadolu Agency pada hari Sabtu (23/05/2015).

"Ketika Muslim melakukan sesuatu yang buruk, orang menyalahkan Nabi Muhammad dan pemikirannya," tambahnya, menyalahkan wacana sayap kanan AS.

Lebih dari 20.000 Muslim dari seluruh Amerika Serikat diperkirakan akan menghadiri konferensi, yang berlangsung sejak Sabtu 23 Mei hingga Senin, 25 ​​Mei 2015.

Tema dari konvensi tiga hari tahun ini, yang dibuka kemarin adalah "Muhammad SAW membuat 2015 menjadi The Year of Muhammad SAW."

Tahun ini Konvensi ICNA-MAS akan memberikan informasi kepada sesama Amerika untuk memahami pesan perdamaian dan cinta universal Nabi Muhammad SAW serta perannya dalam membangun fondasi gerakan yang ditujukan untuk kebenaran dan keadilan sosial," kata situs konvensi.

"Nabi telah mengilhami manusia sejak empat belas abad lalu dengan pesannya yaitu beriman kepada Satu Tuhan serta peduli dan penuh kasih sayang untuk semua manusia. Dalam konvensi ini kami bertujuan untuk member informasi bagaimana Muhammad SAW menetapkan prinsip-prinsip universal, yaitu martabat manusia, keadilan, keadilan, konsultasi, toleransi dan pengampunan, kesetaraan individu terlepas ras atau etnis, juga co-eksistensi damai antara bangsa-bangsa dan masyarakat dunia."

Konvensi tahun ini menandai ulang tahun ke-40 dari pertemuan tahunan, yang tahun ini menghormati Nabi Muhammad, karena hampir 140 pembicara di seluruh dunia memberikan ceramah untuk memberikan "pemahaman yang lebih baik" mengenai nabi.

Para pembicara konvensi termasuk Imam Siraj Wahhaj, Naeem Baig, Mazen Mokhtar, Ustadh Nouman Ali Khan, Imam Omar Suleiman, Syaikh Yasir Birjas, Imam Suhaib Webb, Syaikh Abdul Nasir Jangda, Ustadz Yasmin Mogahed, Dr. Mokhtar Maghraoui, Syeikh Abdool Rahman Khan, dan Syeikh Hafiz Inayatullah.

Konvensi ini juga akan dihadiri oleh Syeikh Hafiz Zafeer Ali, Dalia Mogahed, Nihad Awad, Imam Khalid Griggs, Suzy Ismail, Nahela Morales, Syeikh Mohammad Qatanani, Docteur Oury Barry, Dr. Altaf Hussain, Azhar Aziz, Dr. Anis Ahmed, Dr. Zahid Parvez, Ustadz Abdelrahman Murphy, Qasim Mazhar, Dr Farhan Abdul Azeez, Saadia Z. Yunus, Dr. Ridha Bashir, Imam Safi Khan, Syeikh Ali Suleiman Ali, Syeikh Saad Tasleem, Dr. Abu Zayd, Dr. Jamal Badawi, Br . Hermano Hernan Guadalupe, Dr. Ibrahim abdul matin, Imam Daud Haqq, Dr. Jonathan Brown, Imam Mohamed Magid Hag, Imam Talib Abdur Rasyid, Joshua Salaam, dan GI Jaaber – Ibrahim Jaaber.

Amerika Serikat adalah rumah bagi minoritas Muslim dari antara 6 juta -8 juta umat muslim.

ICNA adalah salah satu organisasi Muslim akar rumput non-profit yang terbesar di Amerika Utara, yang memiliki banyak proyek, program, dan kegiatan yang dirancang untuk membantu mereformasi masyarakat pada umumnya.

Sejak tahun 1968, ICNA telah bekerja membangun hubungan antara masyarakat dengan mengabdikan diri untuk pendidikan, penjangkauan, pelayanan sosial dan upaya bantuan.

 

Deddy | On Islam | Jurniscom

Laporan Operasi Azm di Tiga Provinsi Afghanistan

NANGARHAR (Jurnalislam.com)  – Setidaknya tiga tentara boneka tewas dan satu orang cedera ketika Mujahidin menembak kendaraan musuh dengan tembakan roket di distrik Surkh Rowd provinsi Nangarhar pada hari Ahad (24/05/2015). Kendaraan musuh tersebut juga rusak parah.

Menurut laporan lain, lebih 14 tentara boneka tewas dan 22 lainnya luka-luka dalam bentrokan setelah Mujahidin menyerang konvoi militer musuh yang mencoba untuk memulai serangan di distrik Surkh Rowd.

Dua kendaraan lapis baja hancur dalam pertempuran itu, sementara 1 Mujahid tempur mendapat kesyahidan dengan 4 orang lain menderita luka-luka dalam operasi hari Ahad.

Dua tentara boneka juga terluka selama pertempuran melawan Mujahidin di distrik Khogyani provinsi Nangarhar, Senin (26/05/2015).

Sedangkan di Kabul  Sebuah pertempuran berat terjadi saat Mujahidin menembaki konvoi musuh di distrik Sarobi provinsi Kabul pada hari Ahad, memaksa konvoi untuk berhenti.

Setidaknya 4 tentara boneka tewas dan 6 lainnya luka-luka dalam pertempuran sepanjang enam jam, sementara dua kendaraan hancur setelah dihantam senjata berat Mujahidin.

Di Kandahar sendiri,  Mujahidin Imarah Islam melancarkan serangan sengit di pos pemeriksaan musuh di pusat distrik Miyan-e-Sheen sekitar waktu sore hari.

4 pos pemeriksaan musuh berhasil direbut setelah bentrokan singkat dan kemudian diledakkan dengan bahan peledak. 5 pria bersenjata tewas, 7 luka-luka dan sisanya terpaksa mengungsi.

Seorang Mujahid juga mendapat kesyahidan dalam serangan (semoga Allah menerimanya).

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Pertempuran Sengit Kembali Terjadi di Taez dan Daleh, Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pertempuran sengit pada hari Senin (25/05/2015) antara pemberontak Houthi dan pasukan pro-pemerintah di kota ketiga Yaman, Taez, menewaskan dan melukai puluhan orang, penduduk dan seorang pejabat mengatakan.

Bentrokan terjadi sehari setelah seorang pejabat PBB mengatakan bahwa konferensi perdamaian yang diusulkan untuk negara tersebut ditunda tanpa batas waktu.

Saksi mata mengatakan pertempuran di beberapa kabupaten di Taez pada Senin pagi menimbulkan kepanikan bagi penduduk.

Bentrokan yang meletus pada hari Ahad dan berkecamuk sepanjang malam, telah menewaskan sedikitnya 30 Syiah Houthi dan pasukan sekutu, pejabat setempat mengatakan kepada Agence France-Presse.

Dia mengatakan korban sementara menunjukkan setidaknya lima loyalis Presiden Abedrabbu Mansour Hadi juga tewas.

Setidaknya 10 pasukan Syiah Houthi tewas di sebuah pos pemeriksaan di Taez barat, pasukan Perlawanan Rakyat yang bersekutu dengan Hadi mengatakan kepada Al Arabiya News Channel.

Pada hari kedua, Houthi dan sekutu mereka menargetkan beberapa lingkungan di Taez dengan roket dan tembakan tank, kata warga.

Menurut kantor berita Reuters, pemberontak Houthi memukul mundur milisi suku dalam pertempuran jalanan yang sengit, saat serangan udara yang dipimpin Arab menghantam sebuah pangkalan militer pendukung  Houthi di ibukota Sanaa.

Petugas medis dan warga mengatakan kepada AFP bahwa pemboman hari Ahad di Taez telah membunuh 10 warga sipil dan melukai 80 lainnya.

"Pembantaian nyata terjadi di Taez, kota yang mempelopori pemberontakan" yang menyebabkan keberangkatan Presiden Ali Abdullah Saleh yang mendukung Houthi di awal 2012, kata seorang warga, Bassam al-Qadhi.

"Saleh telah bergabung  dengan para pemberontak untuk membalas dendam," tambahnya.

Sementara itu, para pejabat di provinsi tetangga Daleh mengatakan bahwa pejuang pro-Hadi telah merebut kembali beberapa posisi dari tangan pemberontak, termasuk sebuah kamp militer, dalam pertempuran di waktu fajar.

Bentrokan yang berlangsung pada hari Senin, kata mereka, terutama terjadi di Brigade Lapis Baja ke-33, sebuah pangkalan yang dikuasai pemberontak.

Pasukan pro-pemerintah telah menyita enam tank selama pertempuran, kata mereka.

Bentrokan juga dilaporkan terjadi di provinsi selatan Yaman lainnya pada hari Senin, termasuk di Aden, Shabwa dan Abyan.

Bentrokan terjadi setelah penyerangan  intens satu hari oleh pesawat tempur koalisi pimpinan Arab yang menargetkan depot dan posisi kelompok pemberontak, kata para saksi mata.

Penundaan konferensi perdamaian PBB terjadi hanya empat hari sebelum rencana pembukaan di Jenewa.

Tidak ada kepastian mengenai siapa saja yang akan menghadiri pembicaraan tersebut, dan penundaan merupakan sebuah pukulan bagi upaya PBB untuk menengahi perdamaian di negara dimana hampir 2.000 orang telah tewas sejak Maret, menurut AFP.

Koalisi yang dipimpin Arab telah membom pemberontak Houthi, yang merupakan sekutu Iran, selama berbulan-bulan dan mendukung para pejuang Yaman yang menentang Houthi di garis pertempuran yang terbentang di seluruh negeri.

 

Deddy | Al Arabiya | AFP | Reuters | Jurniscom

Mengaku Tidak Bermaksud Menghina Allah, Ade Armando Tolak Minta Maaf

Jakarta (Jurnalislam.com) – Dosen FISIP Universitas Indonesia (UI), Ade Armando membuat pernyataan kontroversial di akun media sosial Facebook dan Twitter miliknya. Ade menyebut Allah bukan orang Arab dan Allah akan senang jika ayat-ayat Al Quran dibaca dengan berbagai gaya, salah satunya secara hip-hop.

Namun, dia berkilah bahwa pernyataan itu mengandung unsur penistaan agama. Menurut Ade, pernyataan bahwa Allah bukan orang Arab tidak serta merta artinya adalah Allah adalah makhluk.

"Kalau kita belajar dasar-dasar logika, pernyataan bahwa Allah itu bukan orang Arab tidak otomatis artinya saya mengatakan Dia (Allah-red) adalah orang," kata Ade kepada Jurniscom di depan Gedung Nusantara 1 FISIP Universitas Indonesia, Depok, Senin (25/5/2015).

Contohnya, lanjut Ade, kalau dia menyebut seseorang bukan anjing kudis, pernyataannya itu bukan berarti orang itu adalah Anjing bersih. Selain itu, kalau dia mengatakan bahwa fulan itu bukan anjing tolol, bukan berarti bahwa dia anjing pintar bisa juga artinya memang bukan anjing.

"Karena itu, memang silogisme dalam dasar-dasar logika itu sebetulnya sederhana. Saya bilang Allah itu bukan orang sebetulnya," cetus Ade.

Menurut Ade, dia menggunakan penjelasan bahwa Allah bukan orang Arab, karena selama ini yang mempersoalkan soal kearaban sesuatu itu datangnya dari kalangan wahabi.

"Kalau orang salah faham, boleh-boleh aja, cuma kalau orang salah paham terus dia tanya, saya jelaskan, selesai dong," ungkapnya.

Ade merasa tidak habis pikir, mengapa orang bersikeras menuduhnya telah menghina Allah setelah dia jelaskan duduk persoalannya. Begitu juga dia merasa tidak habis pikir kepada netizen yang menuntutnya secara hukum, Johan Khan. Ade mengaku sudah menjelaskan, tapi mengapa Johan tetap meminta Ade untuk meminta maaf. 

"Kenapa saya harus minta maaf, kalau saya minta maaf berarti itu saya yang salah," ujar Ade mengelak.

"Dalam sebuah percakapan, saya rasa dalam wall-nya Johan, saya memang salah tulis, harusnya Allah itu khalik saya tulis Allah itu makhluk yang menciptakan manusia, itu salah, makanya saya minta maaf," bebernya.

Menurut Ade, kalau dia salah tentu dia akan mengaku salah. Dalam hal ini dia meminta maaf, tapi Ade tidak mau kalau dia harus mencabut pernyataan Allah itu bukan orang Arab.

"Saya gak mau dong. Kalau saya cabut, salahnya dimana?" tanya Ade.

Ade berpendapat, bila pernyataannya itu terus dipermasalahkan kemungkinan karena niat orang yang menuduh dirinya itu memang sudah jahat sejak awal. Bahkan, lanjutnya, mereka tidak mau mendengar apapun penjelasan dirinya. "Pokoknya buat mereka saya harus terbukti bahwa saya itu menghina Allah," tuduhnya.

Ade bersikukuh, kalau tuntutan pihak pelaporan adalah mencabut pernyataannya atau minta maaf kepada umat Islam, Ade tidak mau melakukannya.

"Saya bukan tipe orang yang mengabaikan kritik dan protes orang, saya jawab," tandasnya.

Unsur Pelecehan Al Qur'an

Atas apa yang dilakukannya, salah seorang netizen bernama Johan Khan melaporkan Ade ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan penistaan agama. Tidak hanya Johan, sejumlah tokoh dan ormas Islam pun mengecam pernyataan Ade yang dinilai telah melecehkan agama. 

Menanggapi penjelasan Ade Armando itu, juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Ustadz Abdul Rahim Ba'asyir, menilai permasalahannya bukan hanya pada ucapan Ade Armando yang mengatakan Allah bukan orang Arab. Akan tetapi pernyataan Ade yang membolehkan Al Qur'an dibaca dengan gaya hip-hop dan genre lainnya. 

"Itu kan ada unsur mempermainkan Al Qur'an. Coba bayangkan kalau orang baca Al Qur'an pakai iringan musik hip-hop, itu jelas mempermainkan. Jadi, itulah unsur penghinaannya pada Al Qur'an," jelas Ustadz Iim, sapaan akrabnya, kepada Jurniscom, Senin (25/5/2015).

Reporter : Irfan | Editor : Zarqawi, Ally | Jurniscom

Kepsek SMPN 2 Sragen Kena SP 1 atas Penyimpangan pada Upacara Peringatan Hari Kartini

SRAGEN (Jurnalislam.com) – Forum Cinta Sragen (FCS) pagi tadi, Senin (25/5/2015) sekitar pukul 10.00 WIB mendatangi pemerintah Kabupaten Sragen dengan agenda mengadukan Kepala SMPN 2 Sragen terkait peringatan hari Kartini yang diiringi dengan penghormatan berlebihan menyerupai ritual penyembahan terhadap RA Kartini di SMPN 2 Sragen.

FCS menuntut Kepala SMPN 2 untuk meminta maaf dan mendesak Dikpora untuk memberi sanksi. "Natalia selaku Kepala Sekolah sudah minta maaf saat upacara bendera di depan para guru dan siswa," kata Wanto. Namun yang dikehendaki FCS adalah minta maaf didepan 

"Kepala SMPN 2 Sragen juga sudah mendapat SP (Surat Peringatan-red) I dari atasannya," tambah Wanto.

Audiensi FCS bersama Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan Jamaah Ansharusy Syariah Karanganyar itu dipimpin oleh Jamal selaku Ketua FCS yang diterima langsung oleh perwakilan Kesbangpol, Giyadi dan dari Dikpora, Sauman.

Sementara itu LUIS menilai penghormatan berlebihan terhadao Kartini tersebut dikhawatirkan menjadi sebuah pengkultusan terhadap seseorang yang bisa merusak aqidah umat Islam.

Sebelumnya pada tanggal 29 April 2015, FCS sudah mengadu ke Dikpora Sragen terkait peristiwa tersebut.

Reporter : Endro | Editor : Ally | Jurniscom

Seorang siswi mencium foto RA Kartini pada Upacara Peringatan Hari Kartini di SMPN 2 Sragen, 22 April 2015

Forum Cinta Sragen Beraudiensi dengan Pejabat Pemkab Sragen, 25 Mei 2015

Ansharusyariah Jakarta Kecam Penistaan Agama oleh Dosen UI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Amir Jamaah Ansharusy Syariah Jakarta, Ustadz Haris Amir Falah mengecam keras pernyataan dosen FISIP Universitas Indonesia, Ade Armando.

Dalam twitternya, @adearmando1, dia mengatakan "Allah bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatnya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Hiphop"

"Ini adalah suatu pelecahan yang sangat serius betul, karena yang dilecehkan langsung Allah SWT," tegas Ustadz Haris yang ditemui di acara bedah buku di daerah Jakarta Barat, Ahad (24/5/2015).

Ustadz Haris mengatakan jika Ade Armando orang Islam, maka sudah batal aqidahnya. "Ditinjau dari tauhid Asma wa Sifat sudah rusak karena menyamakan Allah SWT dengan mahluk.  Ini adalah pelanggaran yang tak bisa ditolelir yang harus mendapat protes keras dan dilakuan nahy mungkar," ungkapnya.

Beliau berharap aparat pemerintah bersikap tegas terhadap pelecehan agama Islam baik pelecahan terhadap Al-Qur'an maupun pelecehan terhadap Allah SWT. "Jangan sampai hal-hal semacan ini dibiarkan yang mengundang bencana yang besar terhadap negri ini," lanjutnya.

Lebih lanjut beliau mengatakan jangan sampai aparat bersikap terbalik. Bersikap tegas dan menuduh memberi stigma teroris terhadap orang-orang yang memperjuangkan Al-Qur'an dan orang-orang yang memuliakan Alloh SWT.

"Akan tetapi orang-orang yang melecahkan agama Alloh SWT justru mendapatkan pembiaran dan mendapatkan tempat dan kesempatan yang luar biasa," pungkasnya.

Akibat ulahnya, Ade dilaporkan seorang netizen bernama Johan Khan kepada Polda Metro Jaya pada 23 Mei 2015 atas tuduhan penistaan agama.

Reporter : Irfan | Editor : Ally | Jurniscom