Pengamat : Meski Sudah Melemah, MIT Sengaja "Diawetkan" Demi Proyek Kontraterorisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati kontra terorisme Harits Abu Ulya menilai jaringan Santoso yang masih berada di wilayah Hutan Tamanjeka, Poso telah melemah. Namun, keberadaannya sengaja "diawetkan" untuk menjaga proyek kontraterorisme.

"Saat ini kekuatan kelompok Santoso sebenarnya kecil dan tidak signifikan, baik dari jumlah personel maupun senjata. Cuma kelebihan mereka adalah menguasai medan dengan baik," ungkap Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu kepada Jurniscom, Selasa (26/5/2015).

Sementara, lanjut Harits, pihak Polri justru sebaliknya. Meski personel melimpah, senjata lebih dari cukup tapi mereka tidak menguasai medan. Anggota Polri yang dikirim ke Poso pengalaman perang gerilya di hutan pun tidak banyak.

"Kelompok Santoso harusnya dihadapi oleh pasukan dengan kemampuan TPRG (Taktik Perang Regu Gerilya). Kalau mau selesaikan kasus Poso, bisa saja turunkan TNI yang punya divisi antiteror seperti Densus 88," tegasnya.

Harits menyatakan kelompok Santoso tampaknya sengaja "diawetkan" untuk mengamankan anggaran proyek kontraterorisme dari APBN dan dana hibah lainnya.

"Lebih dari itu, tidak ada transparansi angggaran dan tidak akuntabel setiap kali operasi Densus itu berapa," ungkapnya.

Seperti diketahui, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap sembilan terduga teroris yang terlibat dalam jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Dua diantaranya tewas akibat baku tembak dengan Densus bersama Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, di Pegunungan Gayatri, Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Minggu 24 Mei 2015. Harits menduga kesembilan orang itu adalah anak buah Santoso yang hendak turun untuk mendapatkan suplai logistik. 

Ally | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.