Jabhah Nusrah Kuasai Pangkalan Udara Militer Abu Zuhour di Idlib, 100 Pasukan Rezim Assad Tewas

IDLIB (Jurnalislam.com)Jabhah Nusrah cabang resmi  Al-Qaeda di Suriah telah menguasai pangkalan militer terakhir yang dipegang oleh rezim pemerintah di provinsi barat laut Idlib, Abu Zuhour, setelah pengepungan yang telah berlangsung selama dua tahun, sehingga seluruh provinsi terbebas dari pasukan rezim Assad, kelompok monitoring mengatakan pada hari Rabu, 9 September 2015.

Televisi pemerintah Suriah mengumumkan "mundurnya tentara dari pangkalan udara Abu Zuhour … yang telah melindungi bandara selama pengepungan dua tahun."

SANA, media propaganda rezim Suriah, tidak mengakui bahwa pasukan Assad kalah perang.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa Jabhah Nusrah dan koalisi mujahidin Suriah, merebut markas di bawah serangan badai pasir dan memaksa pasukan pemerintah meninggalkan pos terakhir mereka di provinsi Idlib, yang berbatasan dengan Turki.

Komite Koordinasi lokal memposting foto di halaman Facebook-nya menunjukkan mujahidin  Jabhah Nusrah berdiri di depan pesawat tempur di pangkalan tersebut.

Seperti yang dilansir The Long War Journal, Rabu (09/09/2015) dalam sebuah posting di salah satu Twitter resminya, Jabhah Nusrah mengatakan pangkalan udara itu "sepenuhnya telah dibebaskan" setelah lebih dari 100 pasukan rezim Bashar al Assad tewas dan 60 lainnya ditangkap.

Jabhah Nusrah telah merilis sebuah video pendek dan serangkaian gambar yang menunjukkan pertempuran sengit di dalam dan sekitar pangkalan. Sejumlah jet tempur MIG, helikopter dan senjata lainnya dari pangkalan udara tersebut berada dalam kendali mujahidin. Dalam salah satu video, Jabhah Nusrah terlihat berada di atas sebuah MIG.

Jabhah Nusrah bersama koalisi mujahidin Suriah telah berulang kali menyerang pangkalan udara Abu Zuhour.

"Tentara Penakluk (Army of Conquest)", yaitu gabungan Faksi faksi jihad Suriah, telah merebut ibukota provinsi Idlib pada bulan Maret dan sejak itu mendorong militer Suriah untuk keluar dari sebagian provinsi.

Jatuhnya Abu Zuhour ke Jabhah Nusrah adalah yang terbaru dalam serangkaian kemunduran bagi pasukan rezim Syiah Assad di provinsi Idlib.

Deddy | Jurniscom

Muslim India Desak Pencabutan Larangan Daging Sapi Selama Idul Adha

INDIA (Jurnalislam.com) – Menolak larangan daging sapi karena dianggap diskriminatif, liga Muslim terkemuka India mendekati Pengadilan Tinggi untuk membatalkan larangan selama hari-hari Idul Adha, berharap bahwa pencabutan larangan itu akan memungkinkan umat Islam untuk melakukan kewajiban Udhiyah selama hari raya.

"Mengorbankan hewan selama Idul Bakri [Idul Adha] adalah kewajiban agama kami dan kami ingin pengadilan mengindahkan permohonan kami karena sentimen agama kami terlibat," presiden Indian Union Muslim League (IUML) Mumbai, Parvez Lakdawala mengatakan kepada India Times pada hari Selasa, 8 September 2015.

Pemimpin IUML mengatakan bahwa umat Islam tidak mampu membeli kambing yang harganya tinggi sebagai hewan kurban, sambil mengumumkan bahwa permohonan akan diajukan pada Rabu 9 September.

Petisi itu juga didukung oleh anggota Lok Sabha, E Ahmed, yang ikut menulis surat tentang masalah ini bersama dengan presiden nasional IUML untuk menteri Devendra Fadnavis.

Menuntut dicabutnya larangan selama Idul Fitri, Lakdawala mengutip larangan penjualan makanan yang diberlakukan di Mumbai selama delapan hari selama festival Paryushan Jain.

Sementara itu, legislator Majlis-e-Ittihadul Muslameen, mengatakan bahwa Waris Pathan, dan presiden unit negaranya, Syed Moin, telah menyerukan untuk mempersiapkan rumah potong sementara selama tiga hari selama Idul Adha.

"Pemerintah harus mengeluarkan pemberitahuan yang memungkinkan pendirian rumah potong sementara selama Idul Bakri," kata Pathan.

Idul Adha, atau "Hari Raya Kurban", adalah salah satu dari dua perayaan Islam yang paling penting, bersama-sama dengan Idul Fitri.

Idul Adha menandai berakhirnya ibadah haji tahunan.

Setelah sholat Idul Adha, Muslim melakukan Udhiyah, ritual yang mengingatkan tindakan besar pengorbanan yang bersedia dilakukan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail demi Allah.

Seorang Muslim yang mampu secara finansial mengorbankan seekor domba atau kambing atau bergabung bersama dengan enam orang lainnya untuk mengorbankan seekor unta atau sapi sebagai bentuk ibadah selama empat hari perayaan Idul Adha.

Ibadah tersebut memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail kepada Allah sebagai tindakan ketaatan dan penyerahan diri.

Daging Udhiyah dibagi dalam tiga bagian yang sama, masing-masing untuk keluarga sendiri, teman-teman dan orang miskin.

Dalam keputusan yang diskriminatif, Mumbai memberlakukan larangan menjual daging selama empat hari dan rumah potong diperintahkan untuk ditutup selama festival Paryushan.

"Hari-harinya diputuskan atas dasar pentingnya Jain. Paryushan dimulai pada tanggal 10 September, 13 September adalah Chaudas, 17 September adalah hari terakhir Paryushan untuk Shwetambar sementara 18 September adalah Sthanakwasi," kata Sangram Nagpurne, anggota VTAS, melaporkan.

Larangan itu menyebabkan kemarahan banyak orang yang menganggap itu "tidak demokratis".

"Tidak ada yang harus dilarang dalam lingkungan demokratis. Mengapa kita berjalan mundur, saya tidak paham. Setiap kasta atau agama seharusnya tidak diperbolehkan untuk mendominasi orang lain. Ada yang salah. Besok ikan dan bahan makanan lainnya akan dilarang. Kemana kita akan pergi," protes Mehernosh Fitter, warga koloni Dadar-Parsi.

Kritik serupa diajukan oleh para pemimpin Muslim dan aktivis hak asasi.

"Mengapa hanya daging kambing dan daging sapi, mengapa bukan ikan dan ayam? Besok jika mereka melakukan pelarangan, akan ada masalah dari komunitas Koli. Larangan ini dilakukan hanya untuk mempengaruhi umat Islam yang secara politik lemah," kata Maulana Hakim Mehmood Dariyabadi, sekjen All India Ulema Council.

"Ada peraturan tertulis di pengadilan tinggi memutuskan larangan daging sapi dan kebiasaan makanan. Pemerintah seharusnya tidak mencari masalah lagi," kata Shabbir Ansari, pendiri organisasi All India Muslim OBC.

Kongres juga telah mengatakan bahwa langkah untuk melarang daging sebagai "fasis".

"Apakah pemerintah harus memutuskan apa yang saya makan, apa yang saya minum, apa yang saya pakai, di mana aku tidur, kapan saya berbicara? …. Apa yang Anda lihat di seluruh negeri adalah momok Fasisme yang sedang merayap," pemimpin Kongres Manish Tewari mengatakan.

Hukum yang mengatur penyembelihan sapi berbeda di masing-masing negara bagian di India.

Sebagian besar negara-negara yang diperintah BJP memiliki hukum ketat mengenai pembantaian sapi. Beberapa negara mengizinkan penyembelihan ternak dengan pembatasan, sementara banyak Negara bagian lain benar-benar melarang penyembelihan.

Negara bagian India tengah Madhya Pradesh pada tahun 2012 telah mengeluarkan hukum penyembelihan anti-sapi yang ketat.

Hukum tersebut memberikan hukuman penjara sampai tujuh tahun dan denda minimal Rs 5000 (US $ 83) untuk membunuh seekor sapi. Madhya Pradesh diperintah oleh partai nasionalis Bharatiya Janata Party Hindu (BJP).

Saat ini, tidak ada larangan penyembelihan sapi di beberapa negara seperti Arunachal Pradesh, Kerala, Meghalaya, Mizoram, Nagaland dan Lakshadweep.

Deddy | OnIslam | Jurniscom

PBB Serukan Negara Eropa untuk Menjamin Relokasi 200.000 Pengungsi Suriah

JURNALISLAM.COM – PBB menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk menjamin relokasi 200.000 pengungsi, sesuai jumlah pengungsi yang tercatat mengungsi diri ke Eropa dari negara yang dilanda perang.

Juru bicara UNHCR Melissa Fleming mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Selasa (08/09/2015)  bahwa Eropa adalah benua kaya yang bisa mengelola jumlah orang yang datang.

Pejabat PBB mengatakan negara-negara Uni Eropa perlu membentuk rencana yang mewajibkan negara-negara anggotanya untuk menerima pengungsi.

"Harus ada pusat penerimaan imigran yang dipimpin Uni Eropa didirikan di Yunani, di Italia dan juga di Hungaria – dimana orang-orang yang datang bisa pergi ke sana dan diterima dalam kondisi manusiawi yang layak, dan mengajukan permohonan suaka," kata Fleming.

Dia menambahkan bahwa di bawah sistem saat ini, negara-negara di perbatasan Eropa sedang "terbebani".

Pada konferensi pers sebelumnya, Fleming mengatakan tidak ada yang namanya "sebuah solusi Jerman untuk masalah Eropa", mengacu pada peran utama yang diambil oleh Kanselir Jerman Angela Merkel dalam mengakhiri krisis.

"Semua hanya bisa berjalan jika ada sistem relokasi terjamin dimana negara-negara Eropa mengatakan setuju dan akan mengambil nomor X. Kami percaya ada 200.000, yaitu jumlah yang kami yakin perlu relokasi di negara-negara Eropa."

ReporterAl Jazeera Mohammed Jamjoom, melaporkan dari Wina, mengatakan banyak pengungsi yang tiba di sana khawatir tentang langkah-langkah baru yang akan membatasi gerakan mereka.

"Bahkan pemerintah Austria saat ini tidak memiliki jalur yang jelas ke depan … Kami berbicara dengan anggota kementerian dalam negeri dan cukup jelas pemerintah sedang berjuang untuk membawa kebijakan yang koheren untuk tetap dalam aturan Uni Eropa," kata Jamjoom.

Sejumlah 7.000 pengungsi Suriah tiba di bekas Republik Yugoslavia Makedonia pada hari Senin, sementara 30.000 lainnya berada di pulau-pulau Yunani, termasuk 20.000 di Lesbos, menurut PBB.

Komentar Fleming muncul saat Presiden Uni Eropa Donald Tusk memperingatkan bahwa krisis pengungsi yang mempengaruhi Eropa adalah bagian dari "eksodus" negara-negara yang dilanda perang yang bisa bertahan bertahun-tahun.

Tusk mengatakan perpindahan orang-orang terutama dari Timur Tengah saat ini akan menjadi "masalah selama bertahun-tahun yang akan datang".

"Gelombang migrasi ini bukanlah insiden satu kali melainkan awal dari eksodus nyata," presiden Uni Eropa mengatakan kepada para kelompok pemikir di Brussels pada hari Senin.

Para pemimpin Eropa berebut memecahkan solusi saat konflik berdarah terutama di Suriah dan Irak mengirim ratusan ribu pengungsi dalam perjalanan berbahaya melalui Balkan dan Mediterania.

"Janganlah kita berilusi bahwa kita memiliki peluru perak untuk membalikkan keadaan," katanya.

Tusk, yang mewakili para pemimpin blok, mendesak untuk pragmatisme dan mengatakan negara-negara anggota harus mengesampingkan perbedaan mereka dalam menghadapi krisis.

Salah satu titik utama krisis adalah Hungaria, di mana puluhan ribu pengungsi berusaha untuk transit di sana setelah melalui perjalanan mereka ke negara kaya di Uni Eropa.

Pada Senin malam, ratusan pencari suaka yang marah dan frustrasi menerobos garis polisi di dekat perbatasan selatan Hungaria dengan Serbia dan mulai berbaris ke utara menuju Budapest.

Reporter Al Jazeera Andrew Simmons, melaporkan dari Roszke di Hungaria, berbicara dengan beberapa pengungsi yang mengatakan bahwa mereka telah diperlakukan buruk dan tidak memiliki akses ke tempat penampungan atau sanitasi yang memadai.

Salah satu pengungsi mengatakan bahwa ia telah dipukuli dengan tongkat, sementara yang lain memohon kepada pihak berwenang untuk membantu anak-anak yang sakit.

Seorang anak berusia lima tahun, yang menderita kelelahan akibat panas dan demam, akhirnya dibantu oleh tim medis Hungaria dan mendapatkan infus, kata Simmons.

Bentrokan baru juga meletus antara polisi dan pengungsi di pulau Lesbo, Yunani, Senin malam. Pihak berwenang mengatakan bentrokan itu berada "di ambang puncak".

Sejumlah negara Eropa telah mengumumkan bahwa mereka akan mengambil sebagian dari orang yang ingin mengungsi  dari konflik di Timur Tengah.

Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan negaranya akan menerima hingga 20.000 warga Suriah dari kamp-kamp di Turki, Yordania, dan Suriah untuk lima tahun ke depan.

Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan negaranya akan mengambil 24.000 pengungsi selama dua tahun ke depan.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Mujahidin IIA Sergap Konvoi Tank Musuh, 12 Pasukan Boneka Tewas

GHAZNI (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam menembaki konvoi tank militer dan kendaraan musuh di distrik Dayak provinsi Ghazni pada hari Senin, memicu baku tembak panjang yang menyebabkan terbunuhnya 12 pasukan boneka , sementara lebih dari 16 lainnya luka parah, El Emarah News melaporkan pada hari Selasa (08/09/2015).

Tiga tank lapis baja hancur dengan 3 senapan US, 1 PK senapan mesin berat, 4 Kalashnikov, dan peralatan militer lainnya direbut Mujahidin.

Tiga mujahidin syahid dan delapan lainnya mendapat cedera dalam operasi.

Dalam laporan lain, 5 polisi boneka tewas dan satu lainnya luka-luka dalam bentrokan dengan Mujahidin Imarah Islam Senin pagi.

Selasa pagi, milisi Arbaki meletakkan senjata dan bergabung dengan Mujahidin Imarah Islam di distrik Qarabagh provinsi Ghazni.

Laporan terbaru juga datang dari kabupaten Khas Uruzgan, mengatakan bahwa pos pemeriksaan Anar yang terletak di daerah bazaar tua 1 km dari gedung markas kabupaten diserbu oleh Mujahidin semalam, menewaskan 7 orang bersenjata namun informasi tentang Komandan Anar tidak tersedia.

Para pejabat mengatakan bahwa 2 PKM musuh, 6 senapan, peluncur RPG, 4 sepeda motor, pistol, teropong, sejumlah besar amunisi dan peralatan lainnya disita dalam operasi sementara Mujahid juga terluka oleh tembakan musuh.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Hadapi Meningkatnya Serangan Houthi, Pasukan Koalisi Arab Kerahkan Ribuan Tentara Tambahan

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sebuah aliansi yang dipimpin Saudi telah mengerahkan 10.000 tentara ke Yaman, sebagai tanda dari tekad mereka untuk mengusir milisi Syiah Houthi yang merupakan sekutu Iran setelah mereka menewaskan sedikitnya 60 tentara Teluk Arab pada hari Jumat, Al Jazeera melaporkan, Selasa (08/09/2015).

Negara tetangga Yaman melakukan serangan udara di ibukota Sanaa pada hari Selasa dan bersiap segera meluncurkan serangan yang menentukan di kota yang dikuasai milisi tahun lalu.

"Jumlah tentara koalisi yang memasuki Yaman telah meningkat menjadi 10.000," koresponden Al Jazeera, Abdul Mahsi al-Sheikh melaporkan dari selatan Arab Saudi.

"Kontingen kedua tentara Qatar akan tiba hari ini ke Yaman setelah memasuki perbatasan al-Wadee (dengan Arab Saudi) … pasukan koalisi juga telah menambahkan peralatan militer mereka dengan 30 helikopter Apache, kendaraan lapis baja dan peluncur roket," ia menambahkan.

Pejabat Qatar dan koalisi tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar.

Pemerintah Yaman melarikan diri ke Riyadh pada akhir Maret saat pasukan Houthi, yang mengatakan bahwa mereka melakukan perang revolusi melawan mereka, menguasai benteng terakhir mereka di Aden, memicu intervensi asing dan pertempuran yang telah menewaskan lebih dari 4.500 orang.

Negara-negara aliansi Arab beranggapan serangan mereka tersebut sebagai perang melawan pengaruh Iran yang merayap di halaman belakang mereka, tapi Houthi menyangkal terikat dengan Teheran dan mengatakan pemerintah yang diasingkan di Riyadh dan koalisi adalah boneka Amerika.

Pasukan loyalis Yaman dan tentara Teluk Aden telah mengambil kembali sebagian dari selatan Yaman pada bulan Juli, tapi garis pertempuran hampir tidak bergerak sejak pasukan sekutu menghadapi perlawanan keras di utara Houthi.

Milisi Houthi dan sekutu mereka tentara Yaman menembakkan rudal balistik buatan Soviet di sebuah pangkalan militer di provinsi Mareb, pada hari Jumat, menewaskan puluhan pasukan Emirat, Saudi dan Bahrain.

Serangan itu sangat mematikan bagi tentara Teluk dalam perang tersebut, dan mungkin menjadi titik balik dalam konflik karena mereka tampaknya mulai berkomitmen untuk perang di darat yang selama ini mereka hindari.

Koran milik Saudi Al-Sharq Al-Awsat mengutip sumber koalisi mengatakan bahwa beberapa tentara Mesir dan 6.000 tentara Sudan akan segera bergabung dengan perang di Yaman. Pemerintah mereka tidak segera berkomentar.

Tapi sebuah sumber yang dekat dengan militer Qatar menegaskan bahwa emirat Teluk mengirim "infanteri mekanik dan kendaraan lapis baja " dan bahwa Sudan telah berkomitmen untuk mengirim 6.000 tentara.

"Operasi di Sanaa … akan menggunakan banyak bom dan kekuatan udara, untuk mendukung serangan darat," tambah sumber itu.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom
 

Mujahidin IIA: 32 Pasukan Musuh Gabungan Tewas dan 11 Kendaraan Tempur lapis Baja Hancur

PAKTIKA (Jurnalislam.com)Al-Emarah News melaporkan hari Senin (07/09/2015), Mujahidin Imarah Islam telah menyerbu 7 pos di distrik Waza Khwa provinsi Paktika si tenggara Afghanistan dalam operasi tiga hari.

Sebanyak 32 pasukan musuh gabungan termasuk ANA, ANP dan Arbakis tewas dan 58 lainnya cedera dalam pertempuran selama tiga hari terakhir, sementara 6 tank  dan 5 kendaraan tempur lapis baja lainnya hancur dalam operasi tersebut.

Sementara itu, Mujahidin menyita 4 roket-granat musuh, dengan 60 putarannya, 2 senapan mesin berat dan 9 kotak berisi amunisi, 2 Kalashnikov, 1 DShK, sebuah kendaraan yang dipasang senapan mesin berat anti pesawat terbang, 40 granat tangan, 20 putaran SPG-9, 1 tank lapis baja, 1 kendaraan dan 1 truk bahan bakar sebagai ghanimah.

Tiga Mujahidin dilaporkan syahid dengan lebih dari enam lainnya terluka dalam operasi itu.

Setelah pertarungan dan serangkaian ledakan tiga hari, Mujahidin membersihkan sejumlah besar wilayah di kabupaten Waza Khwa dari musuh.

Bala bantuan musuh yang dikirim ke daerah tersebut disergap oleh para pejuang Mujahidin sehingga mereka mundur.

Serangan ini dilakukan ketika Mujahidin Imarah Islam mengejar kekuatan musuh di seluruh negeri.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Ibu Ali Dawabsheh Akhirnya Meninggal Dunia

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Rumah sakit Israel Shaiba di Tel Hashomer pagi ini Senin (07/09/2015) mengumumkan bahwa Riham Dawabsheh (28) yang terluka bakar akibat pembakaran rumahnya bersama anak—anak dan suaminya oleh warga Yahudi di desa Doma, selatan Nablus telah meninggal dunia.

Keluarga Dawabsheh mengatakan kepada Pusat Informasi Palestina bahwa kesehatan ibunda Riham menurun drastis selama beberapa terakhir setelah tubuhnya terkena virus setelah dokter mencangkok kulit karena kulit aslinya terbakar. Sejak kemarin Riham mengalami koma dan hembusan nafasnya berakhir kemarin malam menyusul bayinya yang masih bayi yang sudah gugur terlebih dulu di hari kejahatan pembakaran yang dilakukan warga Yahudi bersama suaminya Sa’d Dawabsheh yang juga sudah gugur pada 8 Agustus lalu.

Sebelumnya, Asy-Syahidah Reham berbaring di ruang yang sama dengan anaknya yang kedua yang juga terbakar Ahmad Dawabsheh di rumah di Tel Aviv dalam ruang ICU karena mengalami luka bakar sangat parah.

Usai pengumuman meninggalnya Riham, keluarganya mulai mengurus keluarnya dari rumah sakit untuk dipindahkan ke RS Nablus kemudian ke universitas An-Najah untuk dilakukan otopsi dan kemudian diantarkan ke kuburan terakhir di Doma, selatan Nablus.

Pada Jumat 31 Juli, warga pemukim Yahudi membakar rumah keluarga Dawabsheh di desa Doma, selatan Nablus. Akibatnya empat orang yang ada di dalam rumah itu terbakar; suami istri dan dua anaknya; Ali Dawabsheh bayi (18 bulan) menyusui gugur saat itu juga, sementara tiga lainnya sang ibuda Riham akhirnya gugur hari ini, ayah bayi Sa’d juga gugur beberapa hari lalu, dan anaknya terluka parah.

Baca juga:

Astaghfirullah, Warga Yahudi Bakar Bayi Palestina Berusia 18 Bulan di Tepi Barat

Israel Bebaskan Pelaku Pembakaran Keluarga Dawabsheh

Ayah dari Bayi Palestina yang Dibakar oleh Yahudi Akhirnya Meninggal Dunia

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Friendly Fire: Serangan Udara NATO Bunuh Tentara Anti Narkotika Afghanistan

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan udara telah menewaskan sedikitnya 17 anggota pasukan khusus anti-narkotika Afghanistan yang berada di sebuah misi di provinsi Helmand, pejabat pemerintah lokal mengatakan kepada Al Jazeera, Senin (07/09/2015).

Omar Zwak, juru bicara gubernur provinsi Helmand, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Senin bahwa "serangan udara NATO" yang menewaskan pasukan pemerintah tersebut berlangsung pada hari Ahad..

Ayoub Omar Omari, gubernur distrik Garamsir di Helmand, juga menegaskan laporan Al Jazeera, menambahkan bahwa kendaraan pasukan khusus terkena serangan di daerah Registan, antara provinsi Kandahar dan Helmand.

Daerah ini adalah lokasi dimana pasukan polisi pemerintah anti-narkoba secara teratur melakukan penyergapan untuk mencegat para penyelundup narkoba.

Pejabat Afghanistan lain mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa serangan udara itu dilakukan oleh pasukan NATO dan merupakan sebuah operasi yang bermaksud untuk menangkap tersangka penyelundupan narkoba.

Al Jazeera telah menghubungi NATO dan pasukan koalisi pimpinan AS, tetapi mereka belum mengomentari serangan yang dilaporkan tersebut.

NATO mengakhiri misi tempurnya di Afghanistan pada bulan Desember 2014, dan menarik keluar sebagian besar pasukannya – meskipun masih menyisakan 13.000 pasukan untuk pelatihan dan operasi kontraterorisme.

Afghanistan membentangkan pasukannya di berbagai bidang untuk menghadapi meningkatnya serangan Imarah Islam Afghanistan (Taliban), dan menghadapi musim pertempuran pertama mereka tanpa dukungan penuh dari pasukan NATO pimpinan AS.

Taliban meningkatkan serangan musim panas "Operasi Azm", yang diluncurkan sejak akhir April.

 

Deddy | Aljazeera | AP | Jurniscom

Serangan Islamophobia di London Naik 70 persen

LONDON (Jurnalislam.com) – Kejahatan kebencian terhadap Muslim naik 70 persen di London dalam 12 bulan hingga Juli, menurut statistik polisi, Anadolu Agency melaporkan, Senin (07/09/2015).

Laporan menunjukkan ada 816 kejahatan Islamophobia di ibukota Inggris dibandingkan dengan 478 kejahatan 12 bulan sebelumnya.

Kejahatan kebencian Islamophobia di Inggris meningkat setelah pembunuhan Drummer Lee Rigby di Woolwich selama musim panas 2013 dan serangan Charlie Hebdo pada Januari di Paris, menurut laporan sebelumnya oleh berbagai organisasi seperti Tell MAMA – layanan yang memungkinkan orang dari seluruh Inggris untuk melaporkan segala bentuk pelecehan anti-Muslim.

"Sebuah Pelanggaran Islamophobia adalah setiap pelanggaran yang dianggap Islamophobia oleh korban atau orang lain, yang dimaksudkan untuk berdampak pada orang-orang yang dikenal atau dianggap Muslim," Polisi Metropolitan menunjukkan di situs web mereka.

Menurut sensus tahun 2011, lebih dari 1 juta Muslim tinggal di London (12% dari populasi kota).

4,8 persen dari total penduduk di Inggris adalah Muslim.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Eropa Siap Terima Tambahan 120.000 Pengungsi Lagi

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Presiden Prancis Francois Hollande mengumumkan negaranya akan mengambil 24.000 pengungsi selama dua tahun ke depan, sementara telah diketahui bahwa Jerman akan mengambil 31.000 orang tambahan di bawah rencana Eropa yang sangat ditentang oleh Hungaria.

Jumlah yang diungkapkan oleh pemimpin Perancis pada hari Senin (07/09/2015) tersebut merupakan keikutsertaan Perancis dalam proposal Eropa untuk menerima 120.000 pengungsi lagi.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker akan mengungkapkan proposal baru itu pada hari Rabu.

Para pejabat Uni Eropa mengatakan Juncker akan mengusulkan tambahan 120.000 orang di atas 40.000 yang sebelumnya diusulkan komisi untuk direlokasi.

Namun Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mengatakan dalam pertemuan para duta besar asing pada hari Senin, bahwa rencana itu tidak bisa dibahas sementara perbatasan luar Uni Eropa tidak dijamin.

"Masalah kita adalah dengan waktu. Selama kita tidak bisa membela perbatasan di luar Eropa, maka kita tidak layak berbicara tentang berapa banyak orang yang bisa kita ambil," kata dia.

"Apa masalah bisa terpecahkan jika kita menerima 100.000 orang, sedangkan jutaan orang yang datang?"

Pemimpin Hungaria sebaliknya menginginkan agar Uni Eropa memberikan dana bagi Turki untuk menjaga pengungsi di sana, menjelaskan pengungsi datang ke Uni Eropa untuk keuntungan finansial.

“Jika mereka ingin melanjutkan perjalanan meninggalkan Hongaria, itu bukan karena mereka berada dalam bahaya, tapi karena karena mereka ingin sesuatu yang lain,” katanya sambil menambahkan bahwa mereka ingin "sebuah kehidupan Jerman", bukan keselamatan fisik.

Jika dibiarkan, aliran pengungsi akan menempatkan beban keuangan di negara-negara Eropa menjadi tak tertahankan, katanya, menambahkan bahwa ini akan membahayakan "kesejahteraan negara mayoritas  Kristen" di benua Eropa.

Rencana Uni Eropa ini didukung oleh negara-negara termasuk Jerman, Austria, dan Swedia, tetapi negara-negara bekas Blok Timur seperti Hongaria, enggan menerima masuknya pengungsi terutama Muslim.

Hungaria telah berjuang untuk mengatasi lebih dari 150.000 pengungsi yang memasuki negara itu tahun ini, termasuk 50.000 di bulan Agustus saja dengan beberapa ribu tiba setiap hari. Sebagian besar dari mereka menuju negara-negara Eropa utara seperti Jerman dan Swedia.

Kritik Orban terhadap rencana Uni Eropa muncul saat Austria mengatakan akan mengakhiri langkah-langkah darurat yang memungkinkan ribuan pengungsi mengalir ke negara itu sejak Sabtu.

Dalam sebuah pengumuman pada hari Ahad, Kanselir Austria Werner Faymann mengatakan negaranya akan bergerak secara bertahap "menuju normalitas".

"Kami selalu mengatakan ini adalah situasi darurat di mana kita harus bertindak cepat dan manusiawi. Kami telah membantu lebih dari 12.000 orang dalam situasi akut," kata Faymann, menurut kantor berita Reuters.

Wina telah menangguhkan pemeriksaan acak perbatasan setelah foto-foto balita Suriah yang tergeletak mati di pantai Turki muncul secara online. Gambar tersebut memicu protes global dan panggilan di Eropa bagi pemerintah agar berbuat lebih banyak untuk membantu mereka yang berusaha mencapai Uni Eropa.

Wina telah setuju dengan Jerman untuk membebaskan aturan yang mengharuskan pengungsi mendaftarkan klaim suaka di negara Uni Eropa pertama yang mereka capai.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, melaporkan dari Nickelsdorf di Austria, mengatakan bahwa para pengungsi "prihatin tentang pernyataan yang mereka dengar" dari Perdana Menteri Orban dan kanselir Austria.

"Para pejabat Austria mengatakan kepada kami tidak akan ada kontrol perbatasan, tetapi akan ada tempat pemeriksaan karena mereka berusaha untuk membendung gelombang perdagangan manusia," katanya.

Para pemimpin koalisi pemerintahan Merkel juga sepakat untuk mempercepat prosedur suaka dan memfasilitasi pembangunan tempat penampungan suaka dalam pertemuan pada hari Ahad.

Perjanjian tersebut juga termasuk memperluas daftar negara yang dianggap "aman",yaitu memasukkan Kosovo, Albania, dan Montenegro. “Aman” berarti warga negara mereka umumnya tidak memiliki klaim suaka. Di antara mereka yang sudah ada dalam kategori adalah Serbia, Macedonia, dan Bosnia.

Tujuannya adalah untuk mempercepat prosedur suaka dan ekstradisi bagi mereka dari Eropa tenggara, untuk fokus pada pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak, dan Afghanistan.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom