KH Cholil Ridwan : Syiah itu Bukan Islam

BEKASI (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Ridwan menegaskan bahwa Syiah adalah aliran sesat. Hal tersebut beliau sampaikan dalam tabligh akbar “Bantu Suriah, Pertahankan Al-Aqsha,” di Islamic Center KH. Noer Ali, Bekasi, Ahad Kemarin (15/11/2015).

”Jadi, Syiah itu sebetulnya bukan Islam. Rukun Islamnya beda, rukun Imannya beda,” katanya.

Berbicara Syiah, lanjut Kyai Cholil, berarti berbicara politik. Karena Syiah adalah madzhab politik dan gerakan politik. Maka sasaran Iran untuk menyebarkan ideologi Syiahnya adalah negeri-negeri kaum muslimin yang berfaham ahlusunnah.

"Iran mengekspor ideologi Syiah ke seluruh negara muslim Sunni. Tidak pernah Iran mengekspor akidah Syiah ke Eropa. Sasarannya adalah negara muslim seperti Indonesia," lanjutnya. "Indonesia adalah lahan yang subur untuk ditanankan akidah apapun termasuk akidah Syiah," sambungnya.

Beliau juga mengatakan bahwa tanah suci agama Syiah itu ada empat. "Yang ke empatnya adalah Karbala. Makanya mereka kalau shalat membawa tanah Karbala untuk dijadikan alas sujudnya," ungkapnya.

"Kalau ada yang bilang Syiah gak sesat, silahkan keluar dari sini," tegasnya

Reporter : Sutam | Editor : Ally

 

Teror Paris untuk Apa?

DUNIA kembali heboh, serangan teror di Paris menjadi topik terpanas disemua media. Serangan yang mengakibatkan lebih dari 300 orang luka-luka dan 127 lebih tewas. Pelakunya diketahui sebagian memegang paspor Mesir, Suria, dan juga ada 4 pelaku lain teridentifikasi adalah warga negara Perancis sendiri. Tidak berapa lama kemudian serangan tersebut di klaim oleh pihak Islamic State (IS). Tentu dengan mudah dan tidak perlu investigasi lebih jauh untuk menyimpulkan siapa dalang dan jaringan dibalik teror ini.

Jujur, semua orang tidak suka dengan teror apalagi hidup dalam kubangan teror. Kita bisa tanya kepada penduduk sipil Afghanistan, Iraq atau bahkan hari ini mereka yang berada di Suriah. Masyarakat sipil berhadapan dengan “state terrorism” dari rezim Bashar Asaad ditambah teror oleh koalisi negara-negara Barat dengan mengirimkan pasukan, senjata dan drone-drone mereka.

Kalau mau obyektif kalkulasi akibat state terrorism ini jauh lebih besar korban nyawa dan material dari apa yang terjadi di Paris hari ini. Dan masyarakat sipil Barat khususnya Perancis kini merasakan bahwa apapun bentuk teror dan terorisme itu kontra dengan kecondongan fitrah manusia. Dan jika mau obyektif, semua tidak bisa terima terorisme baik yang dilakukan individu, kelompok maupun negara apalagi gabungan negara-negara atas nama apapun.

Peristiwa teror di Paris bukanlah peristiwa independen, namun sebelumnya ada stimulan dan variabel pelengkapnya. Terorisme masih konstan sebagai fenomena kompleks yang lahir dari beragam faktor yang juga komplek. Ada faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi (kemiskinan), ketidakadilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit, dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya.

Ada faktor internasional seperti ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis (AS) dan sekutunya, imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara superpower, dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya (unipolar). Selain itu adalah adanya realitas kultural terkait substansi atau simbolik dengan teks-teks ajaran agama yang dalam interpretasinya cukup variatif.

Ketiga faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme.

Klaim dari pihak IS-ISIS atas serangan Teror di Paris, jelas bagi dunia Barat dengan mudah bisa menghakimi sebagai aksi terorisme produk dari kelompok Islam. Tapi penting kiranya bagi kita secara kritis menghadirkan pisau analisis framework rasional untuk mengeja tragedi Paris.

Metodologi ini mengkaji korelasi antara teroris dan sasaran dalam aspek kesamaan-kepentingan, konflik kepentingan dan pola interaksi diantara keduanya. Dalam framework ini teroris dan sasaran terornya diletakkan sebagai aktor rasional dan strategis. Rasional dalam arti tindakan mereka konsisten dengan kepentingannya dan semua aksi mencerminkan tujuan mereka. Strategis dalam artian pilihan tindakan mereka dipengaruhi oleh langkah aktor lainnya (lawan) dan dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.

Dalam framework rasional berasumsi kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror. Frame ini mengharuskan evaluasi terhadap langkah, kebijakan, strategi yang digunakan oleh kedua belah pihak; teroris dan sasaran teror.

Sebagai catatan, resiko logis penggunaan metodologi ini akan di anggap analisis yang obyektif dan rasional atau dianggap sebagai simpatisan teroris karena manganalisa secara kritis sasaran teror, di saat “sasaran” sedang menjadi “korban”.

Penggunaan framework rasional penting karena mampu menjawab dua hal penting; kondisi yang memunculkan dan kondisi yang meredam terjadinya teror. Belajar paska penyerangan WTC di New York, Amerika yang disusul dengan kampanye Global War on Terrorism, mereka fokus menuduh the evil ediology sebagai penyebab terorisme namun abai pada faktor penyebab lain. Akhirnya solusi yang digelar justru malahirkan spiral kekerasan yang tidak berujung.

“Teroris” dengan aksi terornya konfrontatif dengan teror oleh kekuatan negara (state terrorism). Hari ini kita juga menyaksikan konflik akut di dunia Islam, khususnya dikawasan Timur Tengah tidak bisa di katakan steril dari campur tangan dunia Barat. Bahkan mereka melanjutkan deklarasi Global War on Terrorism dengan memobilisasi kekuatan koalisi negara-negara Barat konfrontasi langsung di Aghanistan, Iraq dan terkini adalah Suriah.

Tindakan koalisi ini disambut dengan perlawanan dari berbagai komponen di Suria yang memiliki beragam ideologi maupun kekuatan. Mengikuti framework rasional secara konsisten kita bisa ambil kesimpulan kenapa Paris-Perancis jadi sasaran target teror dari kelompok IS-ISIS?

Pilihan Perancis terlibat dalam konflik Suriah bersama negara koalisi adalah jawabannya. Disamping Perancis menjadi negara terbuka yang mengaminkan peluang munculnya tindakan yang melahirkan ketersinggungan yang amat sangat terkait dimensi keyakinan.

Dari sini kita melihat benang merah bahwa Teror Paris adalah analog kecil dari peristiwa runtuhnya WCT. Peristiwa WTC bisa dianggap sebagai artikulasi penting dari akumulasi perlawanan sporadis oleh kelompok Islam terhadap imperialisme Barat dan AS menjadi representasi utamanya. Begitu juga teror Paris, bisa di anggap sebagai representasi perlawanan di kandang musuh atas pilihannya terlibat konflik berdarah di Suria. Dan teror yang terjadi tidak bisa di negasikan korelasinya dengan konteks perang dan bukan semata-mata terorisme.

Meski disisi lain, target besar di balik serangan teror sangat mungkin bukan sekedar “dendam” atau perlawanan atas Perancis, tapi menebar teror secara meluas untuk semua negara Barat yang tangan mereka dianggap berdarah-darah di bumi Suriah. Sekaligus sebagai sinyal jawaban atas apa yang terjadi di Suria dan sekitarnya, berikut memancing semua negara-negara Barat masuk terseret jauh dalam kubangan konflik Suria khususnya.

Sikap Indonesia

Bagaimana Indonesia harusnya bersikap atas peristiwa teror di Paris kali ini? Apakah teror susulan akan muncul di tempat yang berbeda? Bagaimana potensi serangan teror tersebut terjadi di Indonesia?

Jika cermat melihat pola dan spirit dibalik teror maka teror susulan sangat berpeluang terjadi khususnya konsisten diarahkan ke negara-negara yang dianggap terlibat dan tangan mereka berdarah-darah di konflik Suriah khususnya. Respon pemerintah Indonesia harus proporsional, khususnya instansi terkait tidak perlu berlebihan yang justru terkesan bisa menjadi sumber kepanikan baru di Indonesia.

Teror di Paris rasionalnya adalah negara tetangga seperti Inggris atau negara koalisi yang terlibat perang di Suriah yang perlu siaga untuk antisipasi kemungkinan serangan teror susulan. Tereksposnya teror di Paris secara global, resikonya melahirkan beragam sikap dan akibat. Ini tergantung sudut pandang masing-masing pihak.
Bagi element yang pro dengan aksi teror tentu peristiwa di Paris menjadi inspirasi dan spirit baru bagi mereka dimanapun berada.

Tapi dalam konteks Indonesia level ancaman seperti serangan di Paris resonansinya sangat rendah (minor). Kenapa? Karena kemampuan untuk melakukan serangan terbuka secara terkordinasi dan tidak kehendus oleh pihak aparat keamanan itu tidak dimiliki atau belum dimiliki sel-sel kelompok yang selama ini dianggap terkait jaringan terorisme IS-ISIS di Indonesia. Meski pernah ada eksperiment kecil-kecilan dan sangat amatiran untuk melakukan serangan bom.

Prediksinya, Indonesia relatif kondusif dan aman dari gangguan teror sejenis serangan di Paris Perancis. Para pengikut IS-ISIS dari Indonesia lebih berhasrat untuk hijrah (pindah) ke Suria wilayah IS daripada bertahan.

Andaikan muncul ganguan itu potensial bisa jadi rembesan dari wilayah timur Indonesia, disana ada kelompok Santoso yang selama ini dijadikan “icon” kelompok terorisme oleh Polri dan BNPT. Atau muncul dari “lonewolf” yang terkondisikan oleh “siluman” untuk melakukan serangan dengan target dibalik itu mengais keuntungan opurtunis dari proyek war on terrorism. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Pemerhati Kontra Terorisme dan Direktur CIIA (Community of Ideological Islamic Analys)

15 Pengungsi Sudan ditembak Mati di Perbatasan Mesir-Israel

MESIR (Jurnalislam.com) – Setidaknya 15 pengungsi Sudan ditembak mati dan delapan lainnya cedera di wilayah Sinai Mesir saat berusaha memasuki Israel.

Berbicara pada kondisi anonimitas, pejabat keamanan Mesir mengatakan kepada Associated Press bahwa para pengungsi tersebut tewas saat terjebak dalam baku tembak antara pasukan keamanan dan kawanan penyelundup manusia pada hari Ahad (15/11/2015).

Namun para pejabat mengatakan bahwa pasukan keamanan menembak pengungsi Sudan saat mereka mendekati pagar perbatasan yang memisahkan Sinai dan Israel selatan.

Banyak pengungsi yang ditembak, banyak yang tewas, oleh pasukan bersenjata, sementara yang lainnya disiksa oleh kelompok pedagang manusia Mesir dan Sudan, menurut kelompok hak asasi manusia.

Gerry Simpson, seorang peneliti di Human Rights Watch (HRW), mengatakan bahwa pembunuhan tragis di hari Ahad itu bukanlah hal yang baru.

"Mesir memiliki catatan menembaki pengungsi Afrika sub-Sahara ketika mereka mendekati perbatasan Israel," katanya kepada Al Jazeera.

"Kami meminta Mesir untuk mengakhiri kebijakan menembak orang dan menyelidiki mereka untuk bertanggung jawab atas kematian tersebut."

 

Deddy | AP | Aljazeera | Jurniscom

Taliban: 17 Desa di Faryab Dikuasai, 10 Komandan dan 150 Pasukannya di Pashtun Kot Bergabung

FARYAB (Jurnalislam.com) – Laporan dari distrik Sar Chakan provinsi Faryab utara mengatakan bahwa daerah besar seperti Alinji, Sar Jangal, Dewalak dan Kokak yang terdiri dari 17 desa jatuh di bawah kendali penuh Imarah Islam setelah seorang komandan Arbaki  bernama Ibrahim, bersama dengan 20 pasukannya bertobat dari kesalahan mereka dan bergabung dengan Mujahidin, El Emarah News melaporkan, Ahad (15/11/2015).

Kelompok yang disambut hangat oleh Mujahidin itu bersumpah untuk tidak pernah bekerja sama dengan pemerintah antek lagi dan berjanji untuk terus melawan penjajah dan orang sewaan mereka sampai napas terakhir mereka.

Ini datang sehari setelah 10 komandan bersama dengan 150 pasukannya bergabung kepada Mujahidin di distrik Pashtun Kot provinsi disebutkan, mengendalikan seluruh area Gelum Baaf  yang terdiri dari 12 desa dan sedikitnya 5500 rumah di bawah kendali Imarah Islam.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Bupati Purwakarta Tolak Deklarasi ANNAS, KH Athian Ali : Dia Belum Mengerti

PURWAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat, KH Athian Ali M Dai menanggapi Surat Edaran (SE) Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, No : 450/2621/Kesra tertanggal 10 Nopember 2015 tentang jaminan melaksanakan ibadah berdasarkan keyakinan. 

SE tersebut diterbitkan sebagai respon dideklarasikannya ANNAS Kabupaten Purwakarta, Ahad (15/11/2015) kemarin di Gedung PGSD UPI Jl. Veteran, Purwakarta.

Ustadz Athian mengatakan pernyataan Dedi Mulyadi dalam SE tersebut menunjukkan Dedi tak mengerti apa itu ANNAS. 

"Saya yakin Pak Bupati belum mengerti apa itu ANNAS. Kalau yang bersangkutan mengerti pasti dia akan setuju (dengan ANNAS-red) dan menjaga kententeraman Purwakarta," tuturnya kepada sejumlah awak media di Gedung PGSD UPI Purwakarta, Ahad (15/11/2015).

Terkait Syiah sendiri, Dedi Mulyadi mengatakan pihaknya menjamin seluruh penduduk Kabupaten Purwakarta untuk dapat melaksanakan peribadatan sesuai dengan agama dan keyakinan masing masing. 

“Selama kegiatan peribadatan dimaksud tidak bertentangan dengan asas ketertiban umum,” tegas Dedi di Pendopo Pemkab Purwakarta, Kamis (12/11/2015).

Namun, Kyai Athian meyakini pernyataan Dedi tersebut berasal dari ketidakpahaman Dedi akan bahaya Syiah. "Saya yakin itu karena yang bersangkutan (Dedi-red) tidak mengerti. Ya, kita akan temui yang bersangkutan Insya Allah," ucap Kyai Athian.

Kyai Athian menambahkan, setiap orang mempunyai hak untuk berkeyakinan apapun. Namun, jangan sampai keyakinan tersebut menodai keyakinan yang lain. Hal tersebut berkenaan dengan keyakinan penganut Syiah yang kerap menghina dan melaknat para sahabat serta istri-istri Nabi Muhammad Saw yang sangat dimuliakan oleh umat Islam.

Ally | Jurnalislam

Jurnalis Idlib: Pembicaraan Damai di Wina itu Hanya Lelucon

SURIAH (Jurnalislam.com) – Anas, seorang jurnalis Suriah di provinsi Idlib, mengatakan pembicaraan Wina itu lelucon, lansir Aljazeera, Ahad (15/11/2015).

"Saya pikir konferensi tersebut berlangsung di planet lain. Apa yang terjadi di Suriah akan terus berlangsung dan tidak ada yang akan berubah," kata Anas.

Seorang diplomat Suriah, berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa solusi yang diusulkan di Wina akan terwujud dalam waktu lama.

"Ada upaya besar yang tertinggal. Kami tidak memiliki perwakilan yang tepat dari pihak oposisi," kata diplomat itu.

"Ada begitu banyak kelompok pejuang independen yang berbeda satu sama lainnya. Ini adalah fase dini. Kita tidak bisa menilai apa yang akan terjadi dari situasi sekarang."

Aktivis oposisi Suriah bereaksi terhadap seruan dari para pemimpin dunia untuk mengadakan pemilihan dalam waktu 18 bulan dan segera menerapkan gencatan senjata. Mereka mengatakan bahwa,untuk saat ini, rencana yang diusulkan tidak lebih hanya komentar-komentar saja.

Deddy | Jurniscom
 

Hampir Bersamaan Serangan di Paris, Pesawat Tempur Rusia Bunuh 127 orang di Suriah, Dunia Bungkam

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pada hari Sabtu (14/11/2015), hampir bersamaan dengan  serangan berantai di Paris, sedikitnya 127 orang tewas dalam serangan udara Rusia dan serangan roket di seluruh negeri, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris melaporkan.

Sehari setelah pembicaraan di Wina, tiga orang, termasuk dua anak, tewas dalam serangan udara yang juga dilakukan Rusia di provinsi Idlib pada hari Ahad (15/11/2015), lansir AlJazeera.

Sedikitnya 15 lainnya luka-luka dalam serangan itu, dunia menutup mata atas berbagai peristiwa itu.

Reaksi dunia terhadap kejahatan perang Rusia dan Barat di Suriah, seolah-olah Suriah berada di planet lain.

Deddy | Juniscom

 

Biro Politik Hamas: Intifadhah III Ubah Strategi Perlawanan di Al Quds

GAZA (Jurnalislam.com) – Ismael Haneya, wakil ketua biro politik gerakan perlawanan Islam Hamas menegaskan, intifadhah Al-Quds telah menggempur system keamanan Israel serta rencana mereka di Al-Aqsha, Infopalestina melaporkan, Ahad, (15/11/2015).

Ia menekankan, intifadhah akan terus berlangsung melampaui semua rintangan dan mengubur kesombongan zionis yahudi, setelah hampir dua bulan berjalan.

Saat acara pemberian penghargaan kepada para hafiduz Qur’an yang diadakan departemen wakaf Palestina di Gaza, Ahad, Haneya mengatakan, Al-Quds, Al-Aqsha dan Palestina tidak akan merdeka tanpa hadirnya para generasi Al-Qur’an. Ia menambahkan, wisuda para hafiidz Al-Qur’an akan membuka jalan menuju kemenangan dan kebebasan.

Perubahan Strategi

Haneya kembali menegaskan, “Intifadhah telah mengubah setrategi keamanan Israel di kawasan, khususnya di Palestina. Intifadhah muncul atas takdir dari Allah. Dia datang pada saat dan kondisinya yang tepat. Ia punya latar belakang. Namun tentu kemunculannya tidak terlepas dari semangat perlawanan. Dan tentu tidak asing. Kami bangsa Palestina telah terbiasa dengan intifadhah”.

Haneya memuji aksi para pemuda Palestina dalam aksi individunya di jalan-jalan Tepi Barat dan Al-Quds. Mereka adalah generasi yang akan membebaskan Al-Aqsha serta seluruh wilayah Palestina.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Angkat Tema Persatuan Ahlusunnah, ANNAS Purwakarta Dideklarasikan

PURWAKARTA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya seribu umat Islam menghadiri deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Purwakarta di aula Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Purwakarta, Ahad (15/11/2015).

Deklarasi bertema "Memperkokohkan Persatuan dan Kesatuan untuk Mencegah Perkembangan Paham Syiah di Purwakarta" ini didukung oleh tokoh dan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Al Irsyad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta perwakilan dari 17 kecamatan di Kabupaten Purwakarta.

Acara diisi dengan orasi-orasi dari tokoh dan ulama seperti  KH. Ridwan Syah Alam, KH Abdul Wahid, KH Tubagus Ahmad Sanusi, Dewan Pakar ANNAS Pusat, Rizal Fadillah, dan Ketua ANNAS KH Athian Ali.

Para orator memaparkan bahaya faham sesat Syiah dan mengajak umat Islam untuk mewaspadai pergerakan Syiah di Indonesia khususnya di Purwakarta. Seperti yang dikatakan KH Ridwan Syah Alam, bahwa umat Islam harus menjaga akidahnya dengan cara kembali kepada Syariat Islam.

"Kita harus membentengi saudara-saudara kita dan mengajak para penganut Syiah untuk kembali kepada faham ahlu sunnah dan kembali ke jalan Syariat Islam," tegasnya.

Selain itu, para orator juga mengajak umat Islam untuk memperkokoh persatuan ahlusunnah wal jamaah dan mengenyampingkan ikhtilaf untuk  bersama melawan Syiah.

"NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad syahadatnya sama Asyahadu an laa ilaah illah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah. Tetapi Syiah syahadatnya beda. Maka dari itu mari kita rapatkan barisan," tegas Ketua ANNAS Purwakarta, KH Dadang Mustafa, M.Si

Sementara itu, KH Athian dalam orasinya menegaskan keberadaan ANNAS di mana pun, lebih kepada membantu pemerintah, termasuk kepolisian menjaga keutuhan negara. Karena ANNAS, imbuhnya, ingin menunjukkan diri sebagai warga negara yang taat undang-undang, tidak main hakim sendiri.

“Bahwa ada segolongan kelompok yang mungkin tidak setuju dengan deklarasi ini, mungkin mereka memang belum mengenal ANNAS. Kalau mereka sudah kenal, mereka tidak akan menolak,” tandasnya.

Selain deklarasi, ANNAS Purwakarta juga mengukuhkan kepengurusannya yang anggotanya terdiri dari perwakilan 17 kecamatan di Kabupaten Purwakarta. KH Dadang Mustafa, SH, M.Si diamanatkan menjadi ketua.

Ally | Jurnalislam

2 Komandan dan 18 Pasukan Afghanistan Bergabung ke Taliban di Bandar

FARYAB (Jurnalislam.com) – Laporan yang datang dari kabupaten Bandar provinsi Faryab utara mengatakan bahwa 2 komandan – Sayed Alauddin dan Muhammad – bertobat atas kesalahan mereka dan bergabung dengan Mujahidin bersama dengan 18 pasukan bersenjata, menyerahkan kendali daerah Janglak dan Laghra ke Imarah Islam, lansir El Emarah News, Sabtu, (14/11/2015).

Kelompok itu bersumpah berjuang bersama Mujahidin sampai napas terakhir mereka dan untuk terus berjihad melawan penjajah dan pasukan bayaran.

Sedangkan pada hari Jumat sekitar pukul 09:00 waktu setempat, Mujahidin Imarah Islam melancarkan serangan terkoordinasi pada basis strategis musuh dan 2 pos pemeriksaan pertahanan yang terletak di daerah Sar Chahano kabupaten Shorabak.

Operasi berlangsung selama sekitar 2 jam. Semua posisi musuh diserbu, 2 gudang  bahan bakar hancur, 8 pasukan musuh termasuk komandan mereka – Sakhi Daad – tewas dan tubuh mereka ditinggalkan oleh pasukan musuh yang melarikan diri.

Sebuah truk pickup musuh, sepeda motor, pistol mesin berat DShK dengan 122 magazin dan 10 kotak amunisi, tabung mortir, 2 PKM 950 putaran dan 13 kotak amunisi, 2 senapan Ak dengan 3000 magazin, 3 rompi amunisi dan sejumlah besar peralatan lainnya disita.
 

Deddy | Shahamat | Jurniscom