Setelah Topi Tauhid, Yayasan Visi Generasi Inisiasi Gerakan Sejuta Bendera Tauhid

GARUT (Jurnalislam.com) – Terkait perlakuan tak menyenangkan terhadap  kalimat tauhid, Yayasan Visi Generasi menginisiasi gerakan ‘Sejuta Bendera Tauhid’, setelah beberapa waktu lalu menginisiasi gerakan ‘Sejuta Topi Tauhid.’

Ketua Yayasan Visi Generasi Mahsun Sofyan mengatakan bahwa gerakan sejuta topi tauhid sudah dimulai Jumat (12/10/2018) dan tersebar di seluruh Indonesia. Namun, saat itu gerakan ini sempat mendapat penolakan dari orang yang mengatasnamakan ‘aliansi santri dan mahasiswa Jabar.’

“Kami akan melanjutkan aksi ini ke seluruh rakyat indonesia bahkan kemudian kami juga akan menginisiasi gerakan sejuta bendera tauhid supaya masyarakat indonesia lebih mencintai simbol – simbol tauhid ditengah –tengah sekarang simbol Islam yang dikriminalisasi,” kata Mahsun kepada Jurnalislam.com di Garut, Selasa (23/10/2018).

Ia mengatakan bahwa Visi Generasi siap mendukung gerakan umat Islam Indonesia untuk membela kalimat tauhid.

“Mereka adalah phobia dg simbol tauhid dan mereka tidak bisa membedakan mana simbol Tauhid milik ummat islam dan mana simbol ormas tertentu. Kami mengecam tindakan mereka yang mengada-ngada,” pungkasnya.

 

 

Polres Garut Akan Pantau dan Dalami Pembawa Bendera Tauhid

GARUT (Jurnalislam.com) – Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan pihaknya sedang melakukan pendalaman kasus pembakaran bendera tauhid.

“Kita masih melakukan pendalaman, sore ini juga kita kedatangan rekan -rekan dari Mabes dan Polda untuk membantu melakukan pendalaman kasus ini. Agar bisa lebih terstruktur lagi, mudah-mudahan dalam waktu dekat perkembangannya  mulia ada titik terang,” kata Budi kepada awak media di Garut, Selasa (23/10/2018).

Menurutnya, saat ini sudah ada tiga orang yang diduga terlibat membakar bendera yang sudah diamankan, dan akan didalami juga peran pembawa bendera tauhid.

“Sudaj ada tiga orang yang diamankan, tapi masih ada 1 orang yang kita kembangkan yang berkaitan dengan yang mebawa bendera tersebut,” katanya.

Sampai saat ini, pembawa bendera tersebut masih dipantau dan akan segera diumumkan.

“Untuk sekarang masih dalam pemantauan, secepatnya kita umumkan kembali,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sejumlah ormas Islam seperti MUI, Muhammadiyah dan elemen masyarakat menyesalkan terjadinya pembakaran bendera tauhid. Muhammadiyah meminta Banser segera meminta maaf. MUI sendiri meminta masyarakat agar menyerahkan kasus kepada aparat penegak hukum.

GNPF Ulama akan Kawal Kasus Pembakaran Bendera Tauhid

GARUT (Jurnalislam.com) – Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Ustaz Haikal Hassan mengatakan bahwa pihaknya akan mengawal kasus pembakaran bendera tauhid hingga selesai.

Ia mengatakan, bahwa dirinya  khawatir jika dibiarkan umat Islam akan terprovokasi dan dapat menimbulkan konflik yang semakin meluas, jika kasus tidak diselesaikan.

“Kita tahu ini bukan yang dikehendaki Banser secara nasional walaupun pelakunya pake seragam banser, maka banser juga kooperatif dong,” ujarnya kepada Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Ia juga meminta, seorang anggota Banser  yang memakai masker dalam video pembakaran bendera itu diungkap. Sebab, menurutnya orang itulah yang terus memprovokasi anggota Banser lainnya untuk membakar bendera tersebut.

“Siapa dia, dia yang paling kenceng teriak-teriak bakar. Apakah ini adu domba,” tegasnya.

Ustaz Haikal Hassan hadir dalam unjuk rasa “Aksi Umat Islam Bela Kalimat Tauhid” di Alun-alun Garut. Ia terlihat menyampaikan orasi di hadalan ribuan massa aksi.

Ustaz Haikal Hassan Desak GP Ansor Kooperatif dan Segera Minta Maaf

GARUT (Jurnalislam.com) – Penasehat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Ustadz Haikal Hassan menuntut GP Ansor untuk segera meminta maaf kepada umat Islam atas insiden pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh anggota Banser.

Pembakaran bendera umat Islam oleh anggota Banser itu dilakukan saat peringatan Hari Santri di Alun-alun Bulubur Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018).

“Wajib, wajib hukumnya karena pelakunya berseragam Banser,” tegasnya kepada Jurnalislam.com di Garut, Selasa (23/10/2018).

Ustadz Haikal meminta GP Ansor untuk kooperatif dalam kasus ini dan  menyampaikan secara jelas bagaimana kejadian sebenarnya.

“Karena kan yang tahu itu pelakunya, darimana bendera itu, kenapa dibawa, apakah sengaja, siapa yang bawa, kan baru tiga yang ditangkap, padahal yang kita lihat itu kan banyak orangnya,” paparnya.

Muhammadiyah : Wajar Umat Islam Marah Karena Bendera Kalimat Tauhid Dibakar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan bahwa sangat wajar kalau umat Islam kini marah karena bendera tauhid dibakar.

“Sangat wajar apabila sebagian umat Islam marah terhadap aksi pembakaran kalimat tauhid,” kata Sekum PP Muhammadiyag, Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Walapun demikian, kata Mu’ti, masyarakat, khususnya umat Islam, tidak perlu menanggapi persoalan pembakaran bendera secara berlebihan.

Kata Mu’ti, aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan berpotensi menciptakan perpecahan dan kekisruhan yang berdampak pada rusaknya persatuan umat dan bangsa.

“Bagi masyarakat yang berkeberatan dan melihat persoalan pembakaran sebagai tindak pidana penghinaan, sebaiknya menyelesaikan melalui jalur hukum, dan menghindari penggunaan kekuatan massa dan kekerasan,” pungkasnya.

PP Muhammadiyah : Banser Harus Meminta Maaf kepada Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta Banser meminta maaf atas aksi pembakaran bendera berlafaz tauhid.

“Pihak Banser Garut harus meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan tidak bertanggung jawab anggota mereka dan  melakukan pembinaan agar masalah serupa tidak terjadi lagi pada masa yang akan datang,” kata Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti memberikan keterangan resmi, Selasa (23/10/2018).

Menurutnya, Muhammadiyah menganggap aksi tersebut kebablasan, apalagi ini terjadi di hari santri. “Kalaupun yang mereka melakukan itu sebagai bentuk nasionalisme, ekspresi dan aktualisasinya keliru. Nasionalisme seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang santun dan tetap dalam bingkai akhlak yang luhur,” kata Mu’ti.

Jika yang mereka maksudkan adalah membakar bendera HTI, tambah Mu’ti,  maka ekspresinya bisa dilakukan dengan cara yang lain.

“Kalaupun dengan membakar bendera cukup dengan simbol atau tulisan HTI, bukan dengan membakar bendera bertuliskan kalimat  maka cukup ditulis Tauhid/Thayyibah,” pungkasnya.

Selain Muhammadiyah, MUI pun telah melakukan konferensi pers, dan menyayangkan kejadian tersebut dan meminta pelaku pembakaran agar meminta maaf. Sejumlah demonstrasi besar-besaran terjadi di beberapa daerah di Indonesia hari Selasa ini.

 

Desainer Grafis Protes Font AGA Islamic Phrases Malah Dituding Bendera HTI

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Desainer grafis profesional Kreathifa Studio, Ally M Abduh ikut angkat suara soal tudingan sekelompok orang yang menuding font dalam bendera kalimat tauhid  adalah bendera HTI.

Menurutnya, font kalimat tauhid yang ditudingkan bendera HTI sebenarnya sudah ada sejak lama, didigitaliasi dan dikenal dengan font AGA Islamic Phrases.

“Bendera yang dituduh bendera HTI, nggak ada bedanya dengan bendera tauhid secara umum karena font/khotnya sama. Lihat saja bendera tentara Hizbullah pada jaman kemerdekaan dulu, kan sama. Memang pasti sama karena isi kalimatnya sama dan khotnya sama,” kata Ally kepada Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Desain kalimat tauhid itu, kata berawal dari hadits Rasul tentang bendera Islam yg isinya dua kalimat syahadat itu.  Jenis khotnya itu, didigitalisasi oleh desainer, dan salah satu desainer yang  membuat font itu adalah Mohammad Alagha.

“Font itu dibuat pada tahun 1994 oleh Mohamad Alagha dari Almeida Interactive, seorang desainer grafis keturunan yang tinggal di Inggris. Dia telah banyak membuat font-font arab yang bisa dinikmati oleh para desainer secara cuma-Cuma,” tambah Ally.

Font yang berisi karakter-karakter seperti kaligrafi atau gambar-gambar arab, kata Ally disebut. Dingbat ini, tambahnya  sangat bermanfaat karena formatnya sudah vector.

“Dingbat kaligrafi dua kalimat tauhid itu adalah salah satu karakter dari font yang namanya AGA Islamic Phrases,” kata Ally.

Adalah aneh, kata Ally kalau sekarang font AGA Islamic Phrases malah dituding font-nya HTI, padahal font tersebut bebas digunakan siapapun untuk memudahkan para desainer.

“Alagha tidak ada hubungan dengan HTI. Fontnya pun bebas, bisa digunakan siapa saja, silakan gunakan AGA Islamic Phrases. Kalau font itu dituduh bendera HTI ya nggak bisa dong. Lalu, kami para desainer mau pake font apalagi? Saya yakin semua desainer muslim di dunia saat ini memakai font AGA Islamic Phrases untuk kebutuhan desainnya,” pungkasnya.

Desainer Grafis Bantah Tudingan Font Kalimat Tauhid Identik Bendera HTI

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com)–Desainer grafis professional Kreathifa Studio, Ally M Abduh membantah keras pernyataan yang menyatakan bahwa bendera dengan font kalimat tauhid adalah bendera HTI.

Font kalimat tauhid, menurut Ally sangat beragam. Para desainer dengan kreatifitasnya terinspirasi dari berbagai font yang beredar dan sudah dibuat sejak lama, bahkan zaman Rasulullah.

“Tidak ada yg mengetahui siapa desainer awalnya, tapi yang pasti desain dua kalimat tauhid itu berawal dari hadits Rasul tentang bendera Islam yg isinya dua kalimat tauhid itu. Jenis khotnya (font) Tsulutsh,” kata Ally kepada Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Kaligrafi / khot kalimat tauhid, kata Ally, akhirnya didigitalisasi oleh para desainer sehingga menjadi file TTF dan OTF. Hal itu katanya untuk memudahkan para desainer.

“Font yang berisi karakter-karakter seperti kaligrafi atau gambar-gambar itu disebut Dingbat,” tambahnya. Dingbat, tambahnya sangat bermanfaat karena sudah berformat vector, sehingga para desainer tidak perlu lagi meng-trace kaligrafi yang sudah ada.

“Dingbat kaligrafi dua kalimat tauhid itu adalah salah satu karakter dari font yang namanya AGA Islamic Phrases.Dibuat pada tahun 1994 oleh adalah Mohamad Alagha dari Almeida Interactive, seorang desainer grafis keturunan yang tinggal di Inggris. Dia telah banyak membuat font-font arab yang bisa dinikmati oleh para desainer secara cuma-Cuma,” ungkapnya.

Alagha, kata Ally jelas bukan anggota HTI, dan ia adalah desainer profesional yang  menghasilkan banyak karya kaligrafi, salah satunya kalimat tauhid. Tentu saja, kata Ally, kalimat tauhid yang ditrace Alagaha sudah ada sejak lama, dan Alagha hanya melakukan digitalisasi.

Ally jelas menyesalkan tudingan pihak tertentu kalau font AGA Islamic Phrases malah dituding font khas HTI.

“Kalo font itu dituduh bendera HTI ya nggak bisa dong. Terus kami para desainer mau pake font apalagi?” tanyanya.

“Saya yakin semua desainer muslim di dunia saat ini memakai font AGA Islamic Phrases utk kebutuhan desainnya,” pungkasnya.

 

Tagar #BubarkanBanser Jadi Trending Topik

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Tagar #BubarkanBanser masih menjadi trending topik di twitter. Pantauan Jurnalislam.com Selasa pagi (23/10/2018) , sudah hampir 32 ribu cuitan warganet dengan tagar #BubarkanBanser.

Akun dengan nama @ivankristeria misalnya, berkicau,”Menjadi alergi dengan kalimat Tauhid dan bahkan menggadaikan Aqidah hanya demi obsesi paling pancasilais dan nasionalis! Kedunguan yang semakin meroket!

Akun lain atas nama @deandry mengatakan bahwa Banser sudah layak dibubarkan sebagai ormas mengacu Perppu ormas karena dianggap meresahkan masyarakat.

“kalo baca pasal 59 ayat 3 Perppu no 2/2017 yg sdh disahkan jd UU no 16/2017 (UU Ormas) mka tndkan BANSER @Banser_CyberNU slm ini memenuhi kriteria delik pembubaran ormas dn tepat jk publik mnta #BubarkanBanser bener gak,”cuitnya.

Akun atas nama @cakkhum membandingkan bendera tauhid yang dibakar banser dengan bendera yang dipakai pasukan pejuang kemerdekaan Indonesia, Hizbullah dan Sabilillah pada tahun 40-an.

“PIN Laskar Hizbullah bagian dari BKR/TKR. Barisan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat cikal bakal ABRI TNI Polri. Ada tulisan kalimat syahadat. Pin ini sekarang ada di museum KNIL Belanda. Jadi sejak dulu kalimat syahadat dan merah putih adalah satu. #BubarkanBanser,” ungkapnya.

Kemarahan warganet ini dipicu oleh beredarnya video yang berisi tentang tindakan orang berseragam Banser yang membakar bendera berlafaz kailmat tauhid. Ketua GP Ansor Yaqut Cholil sendiri mengakui bahwa pihaknya terlibat dalam pembakaran bendera tersebut.

Forum Me-DAN Bantu Korban Gempa Situbondo di Pulau Sapudi

SAPUDI (Jurnalislam.com) Forum Medis dan Aksi Kemanusian (Me-DAN) turut membantu korban gempa Jatim Situbondo di Pulau Sapudi, salah satu pulau dengan dampak terparah pasca gempa magnitudo 6,4 melanda Jatim Kamis (11/10/2018).

Gempa tersebut mengakibatkan rumah ratusan rumah rusak, 4 orang meninggal dunia dan 24 orang mengalami luka.

 

Hanya membutuhkan waktu 1 hari dari Forum Me-DAN Indonesia mengutus tim untuk melakukan asessement. Setelah data valid terkumpul team logistik melakukan pendistribusian bantuan langsung kepada keluarga korban bencana gempa di Pulau Sapudi, Madura, Ahad (21/10/2018).

 

“Hingga saat ini kami belum sedikitpun menerima bantuan dari pemerintah disini sedikitnya ada sekitar 30KK. Kami sangat senang atas bantuan dari Forum Me-DAN Indonesia dan kami hanya dapat membalas dengan doa”, ungkap Nasir sebagai salah satu warga Ds. Prambanan, Dsn. Kon Laok, Kec. Gayam.

“Wajah senang dan haru dari warga tidak dapat tertutupi saat warga menerima bantuan. Kehangatan persaudaraan sangat terasa walau kami tidak pernah ketemu. Hal sudah seperti selogan dari Forum Me-DAN Indonesia Merajut Ukhuwah Peduli Sesama.Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih team yang telah mensupport dalam pendistribusiaan ini “, terang Adit selaku tim yang diutus dari Forum Me-DAN Indonesia.