BSMI Tembus Wilayah Terdampak Paling Parah Gempa Halmahera

LABUHA (Jurnalislam.com)– Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Halmahera Selatan (Halsel) mengirim bantuan ke wilayah terdampak gempa di wilayah Gane Barat, Halmahera Selatan.

Wilayah ini merupakan wilayah yang terdampak paling parah saat gempa 7.2 SR mengguncang Halmahera beberapa waktu lalu.

Ketua BSMI Halsel Ady Saputra mengatakan timnya memberangkatkan empat relawan dengan membawa bantuan medis untuk para pengungsi. Perjalanan ke Gane, ujar Ady, harus ditempuh lewat jalur laut dari Labuha.

“Relawan BSMI berangkat bersama kapal dari Pemda Halsel dengan membawa bantuan obat-obatan setelah dibelanjakan di Labuha,” papar dia, Senin (22/7).

Ady menyebut, relawan BSMI membawa tenaga kesehatan dari Puskesmas Bajo guna melakukan pelayanan kesehatan pengungsi usai diguncang gempa 7,2 SR.

Selain tindakan pengobatan, relawan BSMI juga akan melakukan kegiatan trauma healing untuk anak-anak yang masih ada di pengungsian.

“Selain bawa obat-obatan juga beberapa bahan makanan, makanan ringan untuk anak-anak,terpal dan dua dus pakaian pantas pakai,” papar dia.

Ady menambahkan, tim BSMI mengirimkan bantuan ke Desa Kurunga, Yomen di Gane Barat dan Sekeli di Kecamatan Gane Barat Selatan. Ady menerangkan, di desa Sekeli masyarakat masih tinggal di tenda pengungsian karena rumah-rumah yang hancur. Tetapi, pengungsi mendirikan tenda dari bahan seadanya dari papan atau terpal pribadi.

“Bantuan untuk terpal belum semuanya masuk, ada satu posko yang sudah dapat tetapi dikarenakan posko lain belum dapat akhirnya tetap pakai terpal seadanya karena khawatir kecemburuan sosial,” ungkap dia.

Ady mengungkapkan salah satu kendala mengirimkan bantuan adalah transportasi lewat laut. Tingginya ombak dan cuaca di perairan Halmahera Selatan kadang menjadi hambatan dalam penyaluran bantuan ke korban gempa yang masih memerlukan bantuan.

Sinergi Foundation Gelar Green Fun Walk Kampanyekan Kurban Ramah Lingkungan

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Sinergi Foundation menggelar Green Fun Walk, Ahad (21/7/2019) di Car Free Day Dago. Sebanyak 200 peserta antusias mengikuti kegiatan bertajuk “Berkurban untuk Hijaukan untuk Lingkungan” ini.

Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud keseriusan Sinergi Foundation dalam melestarikan alam. Sebab itu, dalam Fun Walk, peserta diajak untuk berjalan sepanjang Car Free Day seraya menyuarakan sejumlah poster yang berbunyi “Give Me a Tree” atau “Make Everyday Earth Day”.

“Dengan begitu, tak hanya peserta saja yang diajak untuk concern terhadap penghijauan. Tapi juga orang-orang yang berada di Car Free Day,” katanya.

“Isu lingkungan memang bukan sesuatu yang baru. Ramai mencuat kembali sekitar satu-dua dekade ini. Kami tengah membangun kesadaran dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa amanah menjaga lingkungan adalah sesuatu yang kelak dipertanggungjawabkan,” Asep melanjutkan.

Sebab itu, kegiatan ini pun menjadi wadah sosialisasi tentang program Green Kurban. Asep menjelaskan, Green Kurban sendiri adalah inovasi Program Kurban Plus penghijauan, dimana dari satu hewan yang Anda kurbankan, turut ditanam satu pohon sebagai ikhtiar hijaukan bumi.

“Saya mengajak para pekurban semua untuk berkurban di Green Kurban. Semoga ikhtiar melestarikan bumi ini jadi nilai tambah dan nilai positif dalam ibadah kurban kita,” pungkasnya.

Selain Fun Walk, Green Kurban pun membagikan aneka door prize, dengan hadiah utama 1 hewan kambing kurban. Kurban ini akan disembelih dan didistribusikan di wilayah kekeringan, miskin, dan terpencil di Garut. []

Setop Kriminalisasi Bendera Tauhid!

Oleh: Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)–Pada Sabtu malam, 20 Juli 2019, viral sebuah berita di media sosial atas beredarnya sebuah foto yang diduga adalah siswa – siswi Madrasah Aliyah Negeri 1 Sukabumi, Jawa Barat.

Di dalam foto tersebut terlihat para siswa membentangkan Bendera Tauhid hitam dan putih, yang dikenal dengan Liwa dan Rayah. Di samping itu, para siswa juga ada yang membentangkan bendera Merah Putih di sisi Bendera Tauhid (www.nasional.tempo.co, 21 Juli 2019).

Oleh sebuah akun @Karolina_ bee11, foto yang dimaksud diunggah hingga menjadi pembicaraan hangat. Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzili menyayangkan kejadian di dalam foto tersebut.

Menurut Ace, seharusnya sekolah yang masih bernaung di bawah Kemenag itu mengedepankan semangat NKRI, bukan justru mengibarkan bendera yang identik dengan sebuah organisasi terlarang.

Sontak Ace menautkan cuitannya tersebut kepada Menag, Lukman Syaifuddin. Sementara dari pihak Menag menegaskan akan melakukan investigasi segera (detiknews.com, Ahad/21 Juli 2019).

Terlihat sekali tanggapan dari Ace berisi upaya melakukan framing jahat terhadap Bendera Tauhid. Mengkaitkan pengibaran bendera Tauhid dengan sebuah organisasi terlarang, artinya secara langsung atau tidak langsung sama dengan menyatakan bahwa Bendera Tauhid itu terlarang.

Bahkan akun @Karolina_bee11 dalam postingannya memberikan caption yang berisi harus waspada akan adanya afiliasi terhadap Khilafah. Jadi yang dimaksud sebagai organisasi terlarang dalam hal ini adalah organisasi yang agendanya adalah menegakkan Khilafah.

Mereka seolah lupa pada peristiwa pengibaran Bendera Bintang Kejora. Waktu itu Direktur ICJR, Erasmus Napitupulu mengatakan “Soal isu mengenai Papua Merdeka, mereka tidak boleh dipidana lantaran punya bendera sendiri. Sebab bendera itu tidak boleh dimaknai sebagai persiapan makar. Jadi itu satu poin pentingnya. Dalam putusannya MK bilang, makar itu harus dibuktikan permulaan atas perbuatannya dan permulaan persiapannya. Jadi itu yang harus diperhatikan oleh para penegak hukum” (www.kbr.id, Rabu 31 Januari 2018).

Yang tidak habis pikir, terhadap pengibaran Bendera Papua Merdeka saja bisa – bisanya tetap berprasangka baik. Padahal mereka sudah memiliki milisi bersenjata dan sudah melakukan aksi berdarah, seperti contohnya penembakan yang dilakukan OPM terhadap 31 para pekerja proyek jalan tol Trans Papua (https://m.detik.com, 4 Desember 2018). Sedangkan terhadap Bendera Tauhid begitu teganya melakukan framing sedemikian rupa bahkan mengarah kepada kriminalisasi.

Sementara itu terkait langkah yang ditempuh oleh Menag, Lukman yang akan segera melakukan investigasi di MAN 1 Sukabumi, Jawa Barat, dipertanyakan motif dan tujuannya oleh KSHUMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia). Justru langkah Menag semakin mengukuhkan label atas rejim saat ini sebagai Rejim Anti Islam. Ketua Eksekutif KSHUMI, Chandra Purna Irawan meyatakan bahwa pengibaran Bendera Tauhid itu bukanlah perbuatan melanggar hukum (www.m.jpnn.com, 22 Juli 2019).

Menurutnya, bahwa bagi setiap orang yang berusaha melakukan tindakan perampasan dan penyitaan terhadap Bendera Tauhid milik orang lain tanpa hak, bisa terancam pidana 9 tahun penjara dan termasuk tindakan persekusi sebagaimana dalam pasal 368 KUHP.

Sejarah Indonesia Erat dengan Bendera Tauhid

Bendera Tauhid telah lama digunakan sebagai lambang Kesultanan – Kesultanan Islam di Nusantara (www. Republika.co.id, Rabu 24 Oktober 2018). Pada tahun 1890, bendera Kesultanan Tidore berwarna kuning dengan tulisan kalimat Tauhid berwarna merah di atasnya. Begitu pula bendera Macan Ali dari Kesultanan Cirebon yang di dalamnya terdapat Kalimat Tauhid. Jadi kalimat Tauhid itu adalah urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Dengan kalimat Tauhid ini, berkobarlah semangat jihad untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Bahkan Laskar Hizbullah yang menjadi cikal bakal TNI, juga menggunakan bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid di dalamnya. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Memang dalam penggunaan kalimat Tauhid pada sebuah bendera dimungkinkan terjadinya variasi mengikuti local wisdom masing – masing daerah. Walaupun begitu, tetaplah bangsa ini dalam sejarahnya menjunjung tinggi bendera yang di dalamnya tercantum kalimat Tauhid. Tidak ada upaya persekusi, kriminalisasi dan framing jahat terhadap bendera Tauhid yang dimilikinya. Bagaimana mungkin seorang muslim akan mengkriminalkan kalimat Tauhid? Jangankan mengkriminalkan, berpikir curiga terhadap bendera Tauhid tidak akan pernah terbersit dalam benak seorang muslim yang baik.

Terhadap bendera Tauhid yang di dalamnya terdapat sentuhan local wisdom saja, bangsa Indonesia memuliakannya, apatah lagi terhadap bendera Liwa dan Rayah. Liwa dan Royah yang dikenal dengan sebutan al-Uqob merupakan bendera dan panji Rasulullah SAW.

Dalam riwayat yang shohih dari Abdulloh bin Abbas ra disebutkan bahwa panji Rasul SAW itu berwarna hitam, sedangkan bendera beliau berwarna putih. Tertulis padanya kalimat Tauhid. Tidakkah kita selama Bulan Romadhon sehabis Sholat Tarowih selalu berdoa agar  dikumpulkan di bawah panji Rasul SAW, pada hari Kiamat?!  Panji Rasul SAW pada hari Kiamat diberi nama Liwaul Hamdi.

Tinggal satu persoalan lagi yaitu mengenai track record Khilafah. Pertanyaan kritis yang bisa diajukan adalah apakah ada data yang menjelaskan bahwa Khilafah itu yang menyebabkan krisis yang terjadi menimpa negeri ini?? Apakah Khilafah yang menyebabkan disintegrasi bangsa?? Apakah Khilafah yang menjual kekayaan negeri ini kepada asing dan aseng?? Apakah Khilafah yang menyebabkan Indonesia masuk dalam jebakan utang luar negeri yang menumpuk??

Bukankah penerapan sistem Demokrasi yang menyebabkan krisis bagi negeri ini? Empat kebebasan yang diagung – agungkan yakni kebebasan berkepemilikan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkeyakinan telah menjadi  racun – racun yang mematikan dalam sistem Demokrasi. Lahirlah politik opportunis dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Tantangan terbesar negeri ini adalah mewujudkan kemandirian dalam segala bidang. Lantas bagaimana akan terwujud kemandirian ketika penerapan Demokrasi ternyata justru merupakan alat untuk mengeruk kekayaan alam dan menjadi alat penjajahan dari negara – negara besar?

Jika memang sistem Demokrasi tidak bisa lagi diharapkan menjadi kendaraan kemandirian dan kemajuan negeri ini, maka tentunya menjadi wajar jika Khilafah yang lahir dari aqidah mayoritas rakyat Indonesia menjadi alternatif. Logikanya negara besar seperti Amerika Serikat dan China hanya akan bisa dilawan dengan negara besar milik kaum Muslimin yakni al – Khilafah. Di sinilah kalimat tauhid yang terwujud dalam bendera Tauhid menjadi sumber energi yang terbesar bagi bangsa Indonesia agar bisa lepas dari penjajahan dalam segala bentuknya demi terwujudnya kemandirian yang nyata.

*penulis adalah guru, tinggal di Malang

 

 

 

 

Gerindra Minta Pertemuan Jokowi-Prabowo Jangan Ditafsirkan Negatif

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Pendudung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 diminta tidak berprasangka negatif terhadap wacana pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo.

Pertemuan Prabowo dan Jokowi diyakini untuk kepentingan bangsa.

“Seluruh relawan dan pendukung tidak usah berprasangka negatif, pertemuan ini benar-benar untuk kepentingan bangsa dan negara,” tutur Anggota Badan Komunikasi Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, Andre Rosiade di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Andre menambahkan, pertemuan kedua tokoh itu justru untuk menyelamatkan ratusan pendukung Prabowo-Sandi. “Pak Prabowo sebagai patriot dengan relawan harus menunjukkan kenegarawan beliau,” tuturnya.

Prabowo juga diyakini akan meminta penangguhan penahanan sejumlah pendukungnya.

“Kita berharap dalam politik ini pihak pemerintah tidak melakukan pendekatan keamanan, tapi bagaimana masalah itu bisa diselesaikan dengan pendekatan politik,” tandasnya.

Dia melanjutkan, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan pendekatan keamanan.

“Kecuali memang ada unsur pidananya. Kalau memang tidak ada unsur pidananya, harapan kita tentu dengan pendekatan politik ini yang akan dibicarakan,” tuturnya.

sumber: sindonews.com

Elit Parpol Pendukung Jokowi Kecuali PDIP Berkumpul

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Empat ketua umum partai politik (parpol) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) berkumpul di Kantor DPP Partai Nasdem pada Senin 22 Juli 2019 malam.

Mereka adalah Ketum Nasdem Surya Paloh, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, dan Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa.

Pada Senin siang, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Suharso Monoarfa juga sudah menemui Surya Paloh secara bergiliran di Kantor DPP NasDem, namun pada malam hari kembali bertemu di tempat yang sama. Kali ini bersama Airlangga Hartarto.

Keempat ketua umum (ketum) parpol itu kemudian melakukan konferensi pers setelah melakukan pertemuan tertutup.

Surya Paloh mengatakan dalam pertemuan tersebut keempat ketum ini di antaranya membahas mengenai jalannya pemerintahan dan pembangunan negeri ini ke depan.

“Kami bertemu di ruangan ini dengan satu hal yang luar biasa, yang memang kebetulan ada suasana kebatinan yang semuanya memang sudah lama tidak berkomunikasi secara lengkap. Jadi pada malam hari ini juga bisa berbicara dengan satu sama lain dari siang,” tuturnya.

Surya Paloh juga mengatakan, pertemuan tersebut juga untuk menyolidkan koalisi di antaraparpol pendukung pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Kami ingin mempertahankan agar suasana kebatinan tokoh ini, soliditas partai-partai pengusung pendukung Jokowi ini mau sekarang atau pun kedepan,” katanya.

Para ketum parpol ini juga berharap pertemuan ini bisa meningkatkan arti keberadaan parpol anggota KIK.

“Kami berusaha meningkatkan arti keberadaan kami dengan mendorong kesatuan, meningkatkan efektivitas keberadaan kami untuk lebih baik,” katanya.
sumber: sindonews.com

Pengamat Sarankan Milenial Masuk dalam Kabinet Jokowi-Ma’ruf

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Arus Survei Indonesia telah merilis puluhan nama dari kalangan Milenial yang dianggap pantas mengisi Kursi Kabinet Pemerintah Jokowi- Ma’ruf Amin untuk periode kedua. Puluhan nama tersebut berasal dari partai politik dan unsur profesional.

Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli menilai masuknya kalangan sosok milenial dalam kabinet jangan hanya menjadi wacana.

“Yang harus disambut dengan antusias, jangan kemudian mencibir karena milenial sudah membuktikan,” kata Lili di Jakarta, Senin 22 Juli 2019.

Menurut Lili, ada beberapa aspek penting kenapa kalangan milenial berhak duduk dalam jajaran Menteri Kabinet Jokowi-Ma’ruf. Pertama, banyak kelompok anak muda atau milenial yang memiliki pengalaman dan skill yang dianggap tak kalah dari seniornya dan berhasil.

Untuk itu, kata Lili, mereka jangan dibiarkan begitu saja tanpa memberikan manfaat terhadap keahlian yang mereka miliki.

Kedua, lanjut Lili, masuknya kalangan milenial ke dalam kabinet sebagai bentuk memberikan kesempatan kepada anak muda untuk partisipasi dalam pemerintahan.

Ketiga, dengan memberikan kesempatan kepada milenial maka pemerintah dianggap telah menciptakan regenerasi kepemimpinan nasional.

“Kalau tak seperti itu akan stuck. Sudah banyak kritik ke parpol, organisasi kalau enggak ada regenerasi akan stagnan. Dengan anak muda masuk kabinet, list (calon pemimpin-red) 2024 bertambah lagi,” ujarnya.

sumber: sindonews.com

Jadi Tren, Bandung Akan Buat Pilot Project Wisata Halal

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengaku serius menggarap pengembangan wisata halal.

Pada tahun ini, Pemkot Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) akan mendeklarasikan pilot project pengembangan wisata halal di Jalan Gelap Nyawang, Tamansari.

Kepala Disbudpar Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan sejak 2017 pihaknya sudah mulai mencoba menyiapkan wisata halal di Kota Bandung.

Mengingat saat ini wisata halal sedang menjadi tren di dunia pariwisata

Pada tahun ini, kata Kenny, pihaknya serius akan membuat kawasan wisata halal di sekitar Jalan Gelap Nyawang.

Kawasan ini dinilainya sudah mulai mengembangkan wisata halal dari sektor kulinernya.

“Di sini juga ada pusat pengkajian Islam yaitu Salman ITB. Selain itu di sekitaran Gelap Nyawang banyak PKL (pedagang kaki lima) kuliner yang sama Salman ITB sudah dicek dan ikut pelatihan halal, mereka mendapat stiker yang ditempel di warungnya,” kata Kenny, Ahad (21/7).

“Alhamdulillah katanya begitu ada stiker itu transaksi penjualannya katanya meningkat. Itu artinya kan ada potensi untuk dikembangkan,” sambung dia.

Di sekitar Jalan Gelap Nyawang juga diketahui terdapat sejumlah destinasi wisata lainnya. Mulai dari Kebun Binatang Bandung, Forest Walk Babakan Siliwangi hingga hotel-hotel dan restoran yang cukup lengkap.

sumber: republika.co.id

BPJS Belum Bayar, Layanan JKN di Rumah Sakit Terancam Disetop

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Defisit yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyebabkan keterlambatan pembayaran klaim ke fasilitas kesehatan mitra.

Jika hal tersebut berlarut-larut hingga akhir pertengahan tahun ini, layanan kesehatan untuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dikhawatirkan terhenti seperti yang terjadi tahun lalu.

Ketua Kompartemen Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Persi Daniel Budi Wibowo mengungkapkan, sejauh ini BPJS Kesehatan mengalami ketaksesuaian pembayaran klaim layanan kesehatan dengan iuran yang terkumpul.

Dengan demikian, jika tak segera ditalangi sebelum Agustus 2019, dia melanjutkan, BPJS Kesehatan akan mengalami kesulitan cash flow alias aliran dana.

Dampaknya, ia mengakui pihak RS tidak bisa menerima pembayaran klaim pada waktunya. Padahal, dana ini ditunggu untuk dipakai membayar kewajiban RS.

“Jika ini terjadi, terjadi efek berantai, yang dikhawatirkan adalah saat sumber daya menjadi terbatas, bisa berimbas ke pelayanan pasien. Dari pengalaman tahun lalu, saat terjadi kesulitan yang sama, kekhawatiran ini telah terjadi di beberapa RS yang terpaksa menghentikan layanan (untuk JKN-KIS) karena tidak bisa membeli sarana untuk pelayanan pasien,” ujarnya, Senin (22/7).

Kendati demikian, ia menyebut RS mitra pasti berusaha keras agar kejadian itu tidak berulang.

sumber: republika.co.id

KNKS Dorong Pesantren Lakukan Kegiatan Ekonomi Terintegrasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mendorong pengembangan pesantren dengan integrasi sistem pembayaran.

Direktur Pengembangan Keuangan Syariah dan Industri Halal KNKS, Afdhal Aliasar menyampaikan pesantren adalah bagian penting dari pengembangan ekonomi syariah karena potensinya yang tidak bisa dibilang kecil.

“Meski core utamanya pendidikan, para santri juga bisa mengembangkan kegiatan ekonomi di sana,” kata Afdhal, Ahad (21/7).

Dengan potensinya, imbas ekonomi yang dihasilkan pesantren bisa masif.

Afdhal merujuk pada sejumlah pesantren yang telah punya basis pengembangan ekonomi hingga dapat memberdayakan lingkungan sekitar.

Menurutnya, KNKS akan bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk Bank Indonesia yang memiliki program fokus untuk pengembangan pesantren. KNKS bertugas menjahit kolaborasi agar menciptakan infrastruktur yang matang.

“Kalau infrastruktur sudah tercipta maka akan mudah untuk pengembangan,” kata Afdhal.

Ia menyebut salah satu yang paling penting adalah sistem pembayaran sesuai syariah.

Afdhal mengatakan KNKS akan menggandeng LinkAja untuk dikembangkan di pesantren. Karakteristiknya yang mudah digunakan dan digital milenial dianggap cocok dengan para santri.

LinkAja dengan skema syariah akan segera melakukan uji coba sekitar bulan Agustus. Selama proses melibatkan sejumlah pihak termasuk masyarakat untuk mendapatkan rekomendasi dan penyempurnaan.

“LinkAja ini dapat masuk ke ekosistem pembayaran syariah, sehingga bisa dipakai oleh para santri yang mengembangkan bisnis,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

 

Peneliti BPPT: Indonesia Miliki 16 Segmen Megathrust dan Tsunami

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut daerah Selatan Jawa berpotensi diguncang gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami setinggi 20 meter. Namun, ancaman serupa ternyata juga dihadapi daerah-daerah lain.

Pakar Tsunami Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan potensi gempa dan tsunami dashyat disebabkan segmen-segmen megathrust atau sesar naik.

Sebelumnya, Widjo, membuat pemodelan bencana dengan fokus ke daerah Selatan Jawa dan menemukan gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami dengan tinggi 20 meter berpotensi terjadi di daerah itu.

Widjo menekankan, Indonesia memiliki 16 segmen megathrust yang mencakup Pulau Sumatera, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), juga Laut Banda.

Maka, ujarnya, daerah-daerah itu, katanya, juga menghadapi ancaman serupa.

sumber: viva.co.id