128 Ribu Jamaah Haji Indonesia Telah Tiba di Tanah Suci

SAUDI (Jurnalislam.com)— Memasuki hari ke-19 masa operasional penyelenggaraaan ibadah haji, jumlah jamaah haji dan petugas yang telah berada di tanah suci telah mencapai 128.158 orang.

Jumlah tersebut lebih dari separuh kuota jemaah haji Indonesia, yakni 231 ribu orang.

Melansir data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) yang diakses pada hari Rabu (24/07), pukul 16.40 WAS.
Jemaah haji yang telah tiba di tanah suci ini berasal dari 317 kloter.

Sampai berita ini diturunkan, jemaah haji yang wafat tercatat ada 17 orang.

sumber: kemenag.go.id

 

Apa Itu Halal Digital?

JAKARTA (Jurnalislam.com) — CEO dan Founder Oorth, Krishna Adityangga mendukung halal value chain. Menurut Krishna, halal value chain adalah goal dari sebuah evolusi bisnis yang berlaku di pasar global.

Label halal tidak lagi sekadar halal on food (halal pada makanan). Lebih jauh, halal menjadi sebuah gaya hidup yang sedang menjamur di masyarakat. Selain itu, Implementasi halal juga dilakukan pada berbagai sektor industri, seperti pada sektor keuangan, fashion, dan pariwisata.

“Negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim pun coba menerapkan halal lifestyle, seperti di negara Thailand, Singapura, Jepang, Korea, China, Taiwan, Australia, dan Selandia Baru. Sejak dua tahun lalu, negara-negara tersebut sudah mengeluarkan buku panduan halal, khususnya diperuntukkan bagi para wisatawan,” kata Krishna.

Halal value chain menjadi indikator dalam perkembangan bisnis halal yang kini jadi tren di masyarakat. Ekosistem halal value chain secara digital sedang dikembangan oleh Bank Indonesia (BI). Banyak perusahaan dan pelaku bisnis halal yang menyampaikan kesiapannya dalam mewujudkan program dari BI tersebut.

Pengembangan halal value chain ini punya alasan. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 222 juta jiwa penduduk yang beragama muslim, yang merupakan pasar potensial untuk produk halal. Saat ini label halal tidak lagi sekedar halal on food (halal pada makanan). Lebih dari itu, masyarakat membutuhkan adanya kepastian halal pada berbagai aspek kehidupan.

Perkembangan media dan komunikasi juga tidak luput dari salah satu elemen vital ekosistem halal value chain. Pesatnya arus informasi dan perkembangan media harus terus diawasi secara bijak. Namun, seiring perkembangan tersebut, justru banyak bermunculan efek negatif, seperti ujaran kebencian, pelecehan, serta konten sara dan pornografi.

Sebagai produk komunikasi dalam wujud aplikasi komunitas, Oorth berbagi informasi positif terkait kebutuhan seluruh penggunanya.

Kedepannya, Oorth mengembangkan algoritma yang mencegah munculnya konten bermuatan negatif, seperti sara, pornografi, dan provokatif.

“Oorth akan berkontribusi untuk mewujudkan halal value chain di Indonesia. Kami punya fitur yang ramah untuk pengguna, baik user personal dan komunitas. Termasuk di dalamnya ada fitur zakat online yang mendapat rekomendasi langsung dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Oorth akan menjamin segala aktifitas di dalam aplikasi selalu dalam koridor kebaikan” ucap Krishna.

sumber: republika.co.id

 

Industri Kecil dan Menengah Diharap Mau Urus Sertifikat Halal

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Ketua Bidang Syariah dan Produk Halal MUI Jawa Barat Mustafa Jamaludin mengatakan hingga kini MUI Jawa Barat telah mengeluarkan 25 ribu sertifikat halal dan sekitar 7 ribu di antaranya merupakan fasilitasi dari berbagai lembaga.

IKM, kata dia, seharusnya sadar untuk menyertifikatkan halal produknya karena tuntutan dari konsumen. Apalagi, masuk gerai modern syaratnya harus ada sertifikat halal.

“Hasil penelitian LIPI dan ITB, yang menyertifikasi halal produknya tumbuh sekitar 5 persen pertahun,” katanya.

Namun, kata dia, sertifikasi ini hanya berlaku 2 tahun. Sehingga, harus ada kontribusi dari berbagai pihak untuk menyertifikasi produknya.

“Dan fasilitasi terbesar adalah dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat adalah provinsi yang terbesar di republik ini yang telah memberikan fasilitasi kepada IKM dari pemerintah provinsi,” kata Mustafa.

Tidak heran, kata Mustafa, jika Jawa Barat disebut sebagai provinsi halal pertama di Indonesia. Mustafa pun berharap pada 2022 mendatang Jawa Barat bisa menjadi juara di bidang IKM dan UKM yang bersertifikat halal.

sumber: republika.co.id

 

Baru 25.000 Produk di Jabar yang Bersertifikat Halal

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Jabar yang sudah mengantongi sertifikasi halal hingga saat ini masih rendah.

Menurut Kepala Disperindag Jabar, Arifin Soedjayana, jumlah IKM yang bergerak di industri makanan, obat-obatan dan kosmetik di Jabar saat ini jumlahnya ada satu juta. Namun, yang sudah menyertifikasi halal  produknya baru 25 ribu

“Dari 25 ribu itu, yang sudah kami fasilitasi untuk sertifikasi halal ada 6.500 IKM. Memang, IKM yang sudah dapat sertifikasi ini masuh jauh dan masih rendah harus ditunjang oleh berbagai pihak,” Arifin Soedjayana usai acara Penyerahan sertifikat halal bagi 300 IKM,  di Aula Barat Gedung Sate Bandung, Selasa (23/7)

Arifin mengatakan, jumlah IKM yang sudah mendapatkan sertifikasi halal di Jabar memang masih rendah. Seharusnya, minimal di Jabar ada 10 persen saja atau sekitar 250 ribu IKM yang disertifikasi halal, itu sudah sangat baik.

“Tapi, perlu kerja keras semua pihak karena 5 tahun ke depan semua produk harus disertifikasi semua,” katanya.

Terkait kendala, Arifin memperkirakan kendala yang dihadapi IKM untuk menyertifikasi produknya di antaranya,  biaya, teknologi dan keyakinan UMKM kalau sertifikasi halal ini penting untuk menambah daya saing.

“Sertifikasi ini memang butuh  pemahaman dari IKM,” katanya.

Arifin menilai, butuh political will dari kabupaten/kota. Karena, IKM ada di daerah. Pemprov Jabar hanya memfasilitasi kabupaten/kota yang belum menggarkan.

“Kami berharap selain mandiri, perusahaan juga berperan aktif bantu IKM. Tahun kemarin, 300 IKM sertifikasi halalnya dibantu dari CSR Bank BJB,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Tak Ada Pelanggaran Pidana, Investigasi Pengibaran Bendera Tauhid Dinilai Janggal

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Lembaga Karim Indonesia mempertanyakan mengapa sampai ada investigasi terhada[ pengibaran bendera tauhid di MAN 1 Sukabumi.

Jubir Karim Indonesia, Nanang Irwanto mengaku heran dengan adanya tindakan berlebihan terhadap bendera tauhid.

“Kami Sangat Menyayangkan Apa Yang Terjadi Di MAN 1 Sukabumi, Ketika Sejumlah Siswa Mengibarkan Bendera Tauhid,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Rabu (25/7/2019).

Ia menilai pelarangan pengibaran dan esistensi Bendera Tauhid karena identik dengan ormas tertentu adalah mengada-ada, apalagi ormas tersebut sudah dibubarkan.

“Juga tidak ada alasan bagi pengibarnya untuk minta maaf, sebab pihak kepolisian menyatakan tidak ada tindak pidana,” katanya.

Walhasil, katanya, tidak ada alasan juga bagi polisi untuk menyita bendera tauhid.

“Karena barang tersebut tidak terkait dengan tindak pidana apapun,” pungkasnya.

Bunga Haram, MUI Minta Masyarakat Jangan Tergiur Pinjaman Online

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat untuk tidak terlampau konsumtif dan tergiur berutang tanpa kalkulasi yang matang.

Imbauan ini sekaligus merespons kabar adanya gugatan hukum yang dilakukan seorang debitur terhadap perusahaan financial technology (fintech) Incash yang tak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sekretaris Jenderal MUI menegaskan, utang yang dilakukan secara tak terukur cenderung merugikan. Apalagi, bila utang demikian membuat seseorang jatuh ke dalam perbuatan riba.

“MUI menghimbau masyarakat agar tidak konsumtif dan tidak mudah tergiur untuk berutang,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas, Rabu (25/7).

Anwar menegaskan, suku bunga berapa pun besarannya adalah haram karena mengandung unsur riba. Jika tingkat suku bunga terlampau tinggi, tentunya akan sangat membebani debitur. “Iya (riba itu haram),” ujar Anwar.

Ketua PP Muhammadiyah bidang Ekonomi itu juga meminta aparat kepolisian untuk memproses pelaporan itu serta menangkap pihak yang diduga bertanggung jawab atas pencemaran nama baik.

“Supaya polisi menindak pengusaha fintech (itu) sesuai dengan hukum dan ketentuan yang berlaku,” ujar Anwar.

Dia mendukung upaya pelapor dalam melaporkan kasusnya kepada pihak kepolisian. Dengan itu, dia berharap pihak yang bersalah bisa ditindak dan dihukum. Selain itu, harapannya agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.

Sebelumnya, beredar kabar ihwal adanya perempuan yang diiklankan secara prostitusi terkait utang dengan suatu fintech.

Sumber: republika.co.id

Pelapor kasus ini bernama Yuliana. Dia melaporkan fintech Incash atas dugaan pencemaran nama baik.

sumber: republika.co.id

Megawati dan Prabowo Akhirnya Bertemu

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri rampung menerima kunjungan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto.

Keduanya melakukan pertemuan tertutup sekitar dua jam di kediaman Megawati, Rabu (24/7).

Dalam konferensi pers, Megawati mengungkapkan jika pertemuan kali ini merupakan agenda yang kerap tertunda.

Mega mengatakan, pertemuan keduanya selama ini tidak bisa terwujud lantaran sibuk dengan berbagai masalah, salah satunya Pemilu 2019.

Presiden RI kelima ini kemudian mengungkapkan jika Prabowo terus menagih untuk bertemu dirinya guna menyantap nasi goreng buatannya. Prabowo, kata Mega, mengaku jika nasi goreng buatannya enak sekali.

“Tapi ternyata telah dibuktikan beliau semua yang hadir bilang ‘ya emang enak ya bu, sering-sering di undang untuk bisa makan nasi goreng’,” kata Megawati menirukan penikmat nasi goreng buatannya.

“Untunglah kalau seorang perempuan pemimpin dan politisi rupanya ada bagian yang sangat mudah meluluhkan hati laki-laki, nah itu namanya politik nasi goreng yang ternyata ampuh,” ujar Megawati sembar tersenyum.

Megawati kemudian mengajak semua pihak untuk kembali merajut kerukunan.

Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu melanjutkan, perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa terjadi sehingga tidak perlu diteruskan.

“Mari kita rukun kembali, persahabatan kita mendapat ujung yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara,” kata Mega lagi.

Secara keseluruhan, Mega mengaku terbuka untuk melakukan diskusi apapun. Putri presiden pertama RI itu lantas akan terus membuka pintu bagi Prabowo untuk datang ke kediamannya kapanpun dia mau.

Sebelumnya, Prabowo Subianto tiba di rumah Megawati sekitar pukul 12.30 WIB. Prabowo datang bersama dengan Sekretaris Jendral Gerindra Ahmad Muzani dan Wakil Ketua Umum Gerindra Edy Prabowo dalam satu rangkaian iring-iringan mobil.

Kedatangan Prabowo lantas disambut langsung oleh Megawati, Puan Maharani, Prananda Prabowo, Hasto Kristiyanto, Pramono Anung yang sudah menunggu di depan pintu. Prabowo meninggalkan kediaman Mega sekitar pukul 14.25.

sumber: republika.co.id

 

Nasdem Dukung Anies di Pilpres 2024

JAKARTA(Jurnalislam.com) —  Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan untuk makan siang bersama.

Dalam pertemuan tersebut Surya menyampaikan hubungan ia dengan Anies layaknya kakak beradik.

“Ketika kita sudah bertugas cukup lama barang kali karena waktu yang memungkinkan, hari ini kita dipertemukan, kunjungan adik ke kakak,” ujar Paloh di Kantor DPP Nasdem, Rabu (24/7).

Saat disinggung terkait dukungan Nasdem terhadap pemerintahan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta, Surya menegaskan sudah pasti mendukung.

Surya juga berseloroh ketika ditanya soal dukungan secara politik ke Anies pada pilpres 2024.

Lahiriyah batiniyah-lah dukungan,” ujar Paloh sambil melepas tawa.

Menurut Paloh, untuk 2024 semua tergantung Anies. Meski ia yakin niat Anies untuk maju sudah ada. Niat tersebut, kata Paloh, harus tetap dipelihara.

Surya Paloh menambahkan, Anies menjadi salah seorang kandidat yang memiliki potensi untuk Pemilu 2024. Namun, proses itu masih panjang dan harus dapat dilewati dengan baik.

Menurut Paloh, bila semua berjalan sesuai dengan harapan, Nasdem membuka peluang untuk mendukung Anies.

Namun, dia menegaskan, untuk mengusung calon presiden tak cukup dari satu partai saja. “Kita mengharapkan para pihak untuk anak-anak bangsa ini memenuhi kapasitas dan kapabilitas pemimpin negeri ini,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Kajian Madani Islamic Forum Makassar Ungkap Hubungan Filsafat dengan Islam

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Direktur Eksekutif Madani, Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I menjadi pembicara di Madani Islamic Forum (MIF) yang di adakan oleh Madani Institute (Center For Islamic Studies) dengan pembahasan Posisi Filsafat dalam Islam, bertempat di Aula Lantai 3 Warung Bakso Mas Cingkrang Pettarani Makassar, Sabtu (21/7/19).

Syamsuar Hamka merupakan alumni Pascasarjana Universitas Ibnu Kaldum (UIKA) Bogor. Di awal materinya menyampaikan tentang definisi filsafat.

“Istilah ’filsafat’ atau ’falsafah’ dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab: فلسفة . Ia merupakan peng-arab-an dari kata majemuk (philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata philein (cinta) dan sophia (kearifan),” unkapnya

Lebih lanjut, definisi filsafat disampaikan oleh ilmuwan Islam Al-Farabi dan cendekiawan Muslim Dr. Syamsuddin Arif.

“Al-Farabi mengutarakan defenisi filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Singkatnya, menurut Syamsuddin Arif, “filsafat” adalah ilmu pengetahuan yang dicapai manusia dengan akal pikirannya,” ujarnya

Dari berbagai defenisi yang ada, kita bisa memilih apa yang dikemukakan oleh bapak Filsafat Islam, al-Kindi (800-870). Ia menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang hal-hal di dalam kemungkinan manusia,.

“Karena para filsuf yang berakhir pada pengetahuan teoretis adalah untuk mendapatkan kebenaran dan berperilaku sesuai dengan kebenaran,” imbuhnya.

Secara historisitas, di zaman Yunani kuno, dimana filsafat dianggap berkembang pertama kali.

Para filsuf mempelajari aneka persoalan alam semesta, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral dan lain sebagainya sebagai objek pengetahuan.

Di zaman itu, mereka adalah kelompok orang-orang yang di zaman sekarang kita memanggilnya sebagai saintis (ilmuwan).

Sebab dulu belum dikenal diferensiasi atau pengerucutan dan pembagian antara filsafat dan sains.

 

Visi Indonesia di Bawah Bayang-bayang Ekonomi Asing

Oleh: Novita Fauziyah*

(Jurnalislam.com)–Visi Indonesia ke depan makin jelas arahnya. Lewat pidato yang disampaikan oleh Presiden terpilih dalam acara bertajuk “Visi Indonesia” pekan lalu dirinya menyampaikan tentang investasi asing di Indonesia.

Dikutip dari bisnis.tempo.co (14/7) dirinya menyampaikan “Kita harus mengundang investasi yang seluas-luasnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, karena itu jangan alergi terhadap investasi asing”.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa investasi asing ke depan akan semakin diteguhkan. Sebelumnya memang sudah berjalan dan persentasenya makin naik. Catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dikutip dari bisnis.tempo.co.id (14/7) menunjukkan realisasi Triwulan 1 2019 total mencapai Rp 195,1 triliun.

Nilai ini naik 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 yaitu sebesar Rp 185,3 triliun. Adapun perinciannya, nilai investasi dalam negeri sebesar Rp 87,2 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 107,9 triliun.

Dari angkat tersebut sangat terlihat jelas bahwa nilai dari investasi asing lebih besar ketimbang investasi dalam negeri. Investasi tersebut bergerak di sektor publik dan menjadi hajat hidup orang banyak.

Dilansir dari suara.com (30/4), terdapat lima besar sektor usaha yaitu transportasi, gudang dan telekomunikasi (19,1 %), listrik, gas dan air (17 %), konstruksi, perumahan, kawasan industri dan perkantoran (9,7 %), serta pertambangan (7,7 %).

Proyek-proyek yang tersebar dalam berbagai sektor usaha tersebut adalah bentuk dari liberalisasi atas nama investasi. Segala hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru dikuasai oleh swasta bahkan asing. Rakyat tidak bisa lagi menikmati haknya secara gratis dan mudah karena adanya liberalisasi. Siapa yang memiliki modal besar dialah yang akan menguasai.

Alasan lapangan pekerjaan yang dilontarkan seiring dengan bebasnya investasi asing bukanlah dampak yang menguntungkan bagi Indonesia. Faktanya pos-pos lapangan pekerjaan pun makin dimudahkan untuk orang asing, apalagi pasca keluarnya Pepres tentang Tenaga Kerja Asing beberapa waktu lalu.

Sementara rakyat Indonesia hanya menikmati remah-remah lapangan pekerjaan yang tak seberapa dibanding para pemilik modal yang meraup untung yang besar.

Sebagai pemilik modal tentu berhak atas segala sesuatu dari negara yang dituju. Asing bisa mendikte negara tujuan dalam hal kebijakan yang arahnya menguntungkan bagi pemilik modal.

Konsekuensi pahit harus siap diterima oleh sebuah negara jika tidak mematuhi mereka. Negara di sini hanya berperan sebagai pengatur saja agar mekanisme pasar berjalan dengan lancar.

Inilah konsekuensi jika negara menerapkan sistem kapitalistik sekuler, lemah tak berdaya di hadapan asing dan rakyat menjadi korbannya. Sementara imperialisme asing makin menguat.

Sesungguhnya untuk menjadi negara yang kuat dan bervisi ideologis ia tidak boleh memiliki ketergantungan kepada pihak asing. Negara yang kuat akan memiliki kemandirian dari sisi pangan, ekonomi, pemerintahan, militer dan sebagainya. Tidak akan mengandalkan investasi asing apalagi untuk memenuhi hajat hidup orang banyak.

Segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak haram jika pengelolaanya diserahkan kepada pihak swasta atau asing. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Untuk menjadi negara yang bervisi kuat maka sudah semestinya mencampakkan sistem kapitalisme dan menerapkan sistem yang ditentukan Sang Pencipta yang menciptakan manusia yaitu Islam.

Islam memiliki seperangkat aturan yang komprehensif untuk mewujudkan kehidupan yang mulia, menciptakan kesejahteraan yang hakiki.

Allah berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (TQS. Al A’raf: 96).

 

*Penulis adalah pendidik generasi