Bersepatu Masuk Masjid untuk Kejar Mahasiswa, Polisi Dinilai Memancing Kemarahan Masyarakat

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Ketua Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) Yosse Hayatullah mengutuk tindakan aparat polisi yang bersepatu dan diduga berbuat kekerasan di dalam masjid di Sulawesi Selatan.

“Oknum Polisi yang masuk ke mas dengan menggunakan sepatu di Makasar, untuk mengejar dan menangkap mahasiswa yang sedang berlindung di masjid merupakan tindakan yang tidak terpuji dan sudah melecehkan Masjid, maka JPRMI sangat mengutuk keras tindakan Oknum Polisi tersebut,” kata Yosse, Rabu (25/9/2019) dalam keterangan yang diterima redaksi.

Menurutnya, polisi benar-benar tidak peka dan seperti sengaja memancing amarah umat Islam.

“Tidak mungkin polisi tidak tahu kalau apa yg mereka lakukan itu akan menyakiti dan membuat umat islam marah,” tambahnya.

JPRMI, tambahnya,  menghargai permintaan maaf Polda Sulawesi Selatan.

“Namun JPRMI meminta pihak Polri memberikan sanksi yang berat kepada para pelaku bukan hanya teguran dan sanksi ringan saja,” pungkasnya.

 

 

Hampir 100 Orang Ditangkap Polisi Terkait Aksi Mahasiswa

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Polda Metro Jaya menangkap 94 orang dalam kericuhan dalam aksi unjuk rasa di depan gedung DPR, Selasa 24 September 2019.

Saat ini polisi sedang mendalami kemungkinan adanya penyusup dalam demo kemarin di depan Gedung DPR.Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengatakan, hingga kini polisi masih memeriksa seluruh pelaku yang diduga melakukan perusakan dan anarkisme.

“Meraka yang kami tangkap sedang kami pilah-pilah dan periksa. Ada yang bawa bom molotov dan kami sedang periksa apakah dari mahasiswa, masyarakat atau dari pihak-pihak lain yang masih kami dalami,” katanya kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Rabu (25/9/2019).

Dari mereka yang ditangkap, terdapat satu pelajar. Dia diamankan polisi Polres Jakarta Barat karena membawa bom molotov saat demonstrasi.

Polisi hingga kini masih menyelidiki dugaan adanya oknum selain mahasiswa yang ikut berdemonstrasi dan merusak sejumlah fasilitas publik.

“Kami juga masih dalami ada kelompok di luar mahasiswa dan nanti kalau terbukti yang bersangkutan ikut tindakan perusakan kendaraan masyarakat, polri atau kerusakan pagar, kami akan tindak tegas mereka. Kami proses hukum sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku,” ujarnya.
sumber: sindonews.com

KM Al Azhar Berdoa Agar Faisal Cepat Sadar, Ceritakan Kisah dan Pelaku Sebenarnya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Faisal Amir menjadi korban aksi demonstrasi #Reformasidikorupsi di depan Gedung DPR pada Selasa (24/09).

Faisal mengalami kritis setelah ingin menyelamatkan teman-temannya yang tercerai berai setelah polisi menembakkan gas air mata. Akibatnya Faisal menderita pendarahan otak dengan retak tempurung kepala membentuk silang dari jidat kiri ke kepala belakang sebelah kanan dan patah bahu kanan.

Rahmat Ahadi, kakak Faisal berharap adiknya segera sadar dan bisa bicara seperti dulu agar dapat menceritakan kejadian yang dialaminya sebenarnya.

“Karena sangat berharap Faisal cepat sadar supaya bisa cerita,” katanya saat ditemui di RS. Pelni, Jakarta Pusat, Rabu (25/09/2019).

Rahmat menjelaskan saat ini keadaan adiknya belum bisa bicara dan tempurung kepala masih terbuka karena otaknya mengalami kebengkakan.

“Saat ini baru bisa buka mata. Cuma berbicara belum bisa. Pas sampai malam tadi sebenarnya bisa gerak, cuma bisa twriak aaaa gt,” tuturnya.

Pihak keluarga sangat berharap Faisal dapat menceritakan kejadian Selasa malam dengan secepatnya.

Agar pelaku pengeroyokan segera diadili. Karena ada beberapa hal yang janggal.

“Saya lihat sekujur tangan Faisal memar-memar. Kalau jatuh ga mungkin lebar gitu. Kayaknya dia nangkis,” tuturnya.

Ratusan Mahasiswa Korban Demo Dirawat Tersebar di 24 Rumah Sakit

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Pemerintah Provinsi Jakarta siap menanggung biaya perawatan terhadap 273 orang yang menjadi korban atas kericuhan yang terjadi karena demo kemarin.

Lebih lanjut Anies merinci, dari 273 orang tersebut, mayoritas sudah pulang. Hingga pukul 13.00 WIB, tersisa 14 orang yang masih dirawat pasca demo di gedung DPR/MPR.

“Mereka ada [dirawat] di 24 rumah sakit yang disiapkan. Dan kita bebas kita tanggung biaya pengobatan siapa pun yang jadi korban, yang harus dirawat di rumah sakit,” ujar Anies di Kompleks Parlemen, Rabu (25/9/2019).

Anies juga mengatakan  bahwa Pemprov Jakarta mengkomodir aksi mahasiswa yang terjadi selama kurang lebih tiga hari kemarin.

Kata dia, pihaknya menyiapkan 40 mobil ambulance dan menyediakan mobil toilet. Serta memastikan rumah sakit sekitar bisa responsif jika ada korban yang harus dirawat.

“Saya datangi rumah sakit yang memang kita kelola untuk pastikan bahwa rumah sakit kita siap responsif. Jadi itu yang kita lakukan,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Kurniawan Iskandarsyah mengatakan, pihak rumah sakit menerima sebanyak 90 korban luka.

Berdasarkan pendataan hingga pukul 01.00 dini hari, kondisi korban bervariasi dari luka ringan hingga berat. Namun sebagian besar mereka dirawat karena mengalami dampak dari adanya gas air mata.

Kurniawan juga mengatakan, ada tiga korban yang hingga saat ini memerlukan penanganan intensif, sehingga harus dirawat inap.

Tiga orang ini mengalami trauma tumpul atau luka di beberapa bagian tubuh, di bagian kepala dan tulang punggung belakang.

Sumber:cnbcindonesia

Pemprov DKI Gratiskan Seluruh Biaya Perawatan Mahasiswa Korban Demo

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Pemerintah Provinsi Jakarta siap menanggung biaya perawatan terhadap 273 orang yang menjadi korban atas kericuhan yang terjadi karena demo kemarin.

Lebih lanjut Anies merinci, dari 273 orang tersebut, mayoritas sudah pulang. Hingga pukul 13.00 WIB, tersisa 14 orang yang masih dirawat pasca demo di gedung DPR/MPR.

“Mereka ada [dirawat] di 24 rumah sakit yang disiapkan. Dan kita bebas kita tanggung biaya pengobatan siapa pun yang jadi korban, yang harus dirawat di rumah sakit,” ujar Anies di Kompleks Parlemen, Rabu (25/9/2019).

Anies juga mengatakan  bahwa Pemprov Jakarta mengkomodir aksi mahasiswa yang terjadi selama kurang lebih tiga hari kemarin.

Kata dia, pihaknya menyiapkan 40 mobil ambulance dan menyediakan mobil toilet. Serta memastikan rumah sakit sekitar bisa responsif jika ada korban yang harus dirawat.

“Saya datangi rumah sakit yang memang kita kelola untuk pastikan bahwa rumah sakit kita siap responsif. Jadi itu yang kita lakukan,” tuturnya.

sumber: cnbcindonesia.com

Mahasiswa Universitas Al Azhar Kritis, Pendarahan Diotak hingga Patah Tulang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Faisal Amir (21 tahun), kritis setelah mengalami luka serius saat berlari menghindari gas air mata. Ia harus menjalani operasi di bagian kepalanya karena mengalami pendarahan pada otaknya.

“Terakhir saya lihat kondisinya kata dokter dia pendarahan di otak,” ujar Rahmat Ahadi, kakak kandung mahasiswa semester delapan itu, saat ditemui di RS Pelni, Jakarta Pusat, Rabu (25/9) dini hari.

Selain mengalami pendarahan di otak, Faisal juga mengalami retak tulang di bagian kepalanya.

Di bagian badan, bahu kanan Faisal patah dan terdapat memar di bagian dada, tangan, hingga lengan kanannya.

Berdasarkan keterangan Rahmat, keluarga sudah mengetahui niat Faisal untuk turut ikut turun ke jalan bersama mahasiswa-mahasiswa lain.

Pada aksi itu, Faisal bertugas menjaga rombongan mahasiswa perempuan dari Universitas Al-Azhar.

“Sekitar jam lima dia posisi di depan DPR. Dipukul mundur dari arah Slipi menuju ke arah Senayan. Tiba-tiba dia maju ke depan untuk buka jalan rombongan,” kata Rahmat.

Setelah berhasil membuka jalan untuk rombongan itu, Faisal kembali ke arah Gedung DPR sekitar pukul 17.00 WIB. Tak lama berselang, situasi di depan Gedung DPR mulai kacau. Gas air mata megepul di kerumunan para mahasiswa.

Kemudian, sekitar pukul 17.40 WIB, Faisal ditemukan dalam kondisi terluka.  Kemudian, teman-teman Faisal datang dan membawanya ke RS Pelni dengan menggunakan mobil bak terbuka.

“Jam enaman sampai sini jam tujuh. Pas ditemui (Iman) itu sudah dievakuasi. Penyebab tidak ada yang tahu,” tutur Rahmat.

Atas luka tersebut tindakan operasi dilakukan terhadap Faisal. Operasi mulai berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Dokter sempat meminta transfusi darah karena Faisal kekurangan darah akibat luka yang dideritanya. Operasi masih berlangsung hingga pukul 01.00 WIB.

Sumber: republika.co.id

Warga Bahu Membahu Bantu Mahasiswa yang Diserang Polisi

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Warga Danau Gelingggang, Blok C2, Bendungan Hilir, membantu puluhan mahasiswa untuk kabur dari serangan tembakan gas air mata.

Sebab, gerbang masuk area perumahan ini tepat di seberang gerbang utama Gedung DPR/MPR RI, tempat mahasiswa berdemonstrasi.

Tepat di depan portal area perumahan tersebut, sejumlah warga berusaha mengarahkan mahasiswa yang mulai kelelahan untuk kabur.

Terlebih, mata dan kerongkongan para mahasiswa sudah sakit lantaran terkena gas air mata.

“Ke arah kiri ke Slipi, kalau ke kanan ke Semanggi. Sebaiknya adek-adek mahasiswa ke arah Semanggi untuk evakuasi,” ucap salah seroang warga yang berdiri tepat di portal perumahan.

Meski demikian, masih saja ada sejumlah mahasiswa yang ingin kembali ke area depan Gedung DPR.

Warga pun mengingatkan agar para mahasiswa yang perempuan agar tak ikut kembali ke depan gerbang utama DPR.

Memasuki waktu magrib, warga pun mengingatkan para mahasiswa untuk berhenti terlebih dahulu.

“Ayo shalat dulu. Berdoa agar diberikan keselamatan,” ucap warga sembari menunjukkan lokasi masjid.

Seperti diketahui, aparat kepolisian mulai menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran sekitar pukul 16.20 WIB.

Ribuan mahasiswa yang berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya itu langsung berhamburan kabur ke arah Semanggi dan Slipi.

Usai tembakan gas air mata itu, ternyata massa mahasiswa masih berupaya untuk kembali ke gerbang utama DPR.

Polisi pun mulai keluar dari area kompleks parlemen. Aparat pun mulai menembakkan puluhan gas air mata untuk memukul mundur mahasiswa sekitar pukul 16.30 WIB.

Mahasiswa kembali berhamburan. Pihak polisi mulai menduduki area JPO tempat wartawan berkumpul.

Sejumlah mahasiswa yang tak sempat lagi kabur melewati Jalan Gatot Subroto karena sudah ramai polisi dan menyeruaknya gas air mata, akhirnya bisa kabur ke area perumahan warga.

Aksi demonstrasi mahasiswa digelar untuk menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU) yang dinilai merugikan publik. Selain itu, mereka juga menolak pelemahan KPK.

Adapun RUU yang dikecam mahasiswa adalah Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang dinilai antidemokrasi dan mencampuri urusan privat warga negara. Mereka meminta DPR mencabut UU KPK yang telah disahkan.

Mereka juga meminta agar DPR menunda pengesahan RUU bermasalah lainnya, seperti RUU Pemasyarakatan, RUU Minerba, RUU Pertanahan, dan RUU Ketenagakerjaan.

Sumber: republika.co.id

Sedang Menembakkan Gas Air Mata, Polisi Imbau Ketua DPR Tak Dekati Mahasiswa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Aksi mahasiswa di depan Kompleks Parlemen, Senayan, masih terus berlangsung hingga Selasa (24/9). Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) pun menemui mahasiswa yang tengah menyampaikan aspirasi.

“Kami bersedia, kalau ingin dialog kita undang ke dalam,” kata Bamsoet. 

Dengan berjalan kaki, Bamsoet yang mengenakan kemeja putih langsung berjalan menuju dari ruang rapat paripurna ke pintu gerbang DPR/MPR tempat mahasiswa berkumpul. Seorang polisi mengimbau agar Bamsoet dan rombongan tidak mendekat. 

Tidak lama, setelah polisi langsung melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa.

Serentak wartawan dan kerumunan orang di sekitaran Bamsoet langsung berhamburan ke arah gedung Nusantara V. 

Beberapa polisi tampak ikut berlindung di halaman Nusantara V.

Beberapa ada yang terlihat kesulitan bernafas sehingga harus dibantu dengan rekan sesama polisi. 

Hingga pukul 17.23 WIB suara petasan masih menggema di sekitaran Kompleks Parlemen, Senayan.

Sumber: republika.co.id

Terkena Gas Air Mata, Sejumlah Mahasiswi Terkapar di Stasiun Palmerah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sebanyak lima mahasiswa terkapar di Stasiun Palmerah, Jakarta Barat, akibat kehabisan oksigen setelah terkena asap gas air mata sepulang aksi menolak Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan revisi UU KPK di depan Gedung DPR RI, Selasa.

Lima mahasiswa tersebut terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan yang berasal dari pergurungan tinggi berbeda. Tiga mahasiswa asal STMIK Bani Saleh Bekasi, satu mahasiswa dari STIKES Bani Saleh, dan satu orang mahasiswa dari ISIP Jakarta.

Lima mahasiswa itu mengeluhkan sesak nafas, batuk, lemas dan pusing. Selanjutnya petugas Stasiun Palmerah membantu memberikan perawatan medis.

Dua orang mahasiswa laki-laki ditandu karena kondisinya cukup lemah dan tiga mahasiswa lainnya dibopong ke pintu masuk stasiun yang dijadikan posko darurat.

Tiga tim medis Stasiun Palmerah memberikan pertolongan pertama kepada mahasiswa yang mengalami sesak nafas, pusing dan lemas.

Irma (21) mahasiswa STMIK Bani Saleh Bekasi mengaku terkena asap gas air mata saat berjalan pulang dari DPR RI ke Stasiun Palmerah.

“Saya tadi kena asapnya gas air mata padahal kita sudah berjalan pulang, langsung mual, perih dan sesak nafas,” kata Irma.

Hingga berita ini diturunkan sebanyak empat mahasiswa sudah berangsur pulih kondisinya setelah mendapatkan pertolongan pertama dan oksigen dari petugas kesehatan di stasiun.

Sisa satu orang mahasiswa dari STMIK Bani Saleh Bekasih masih dirawat menggunakan infus di tempat tidur darurat. Saat berita ini diturunkan situasi di Stasiun Palmerah padat oleh mahasiswa dan penumpang kereta yang jam pulang kerja.

Sumber: republika.co.id

Diserang Gas Air Mata, Para Mahasiswi Berjatuhan dan Sesak Napas

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Demonstrasi mahasiswa di seputar Gedung DPR dan MPR RI ricuh.

Polisi menembakan gas air mata dan menyebabkan banyak peserta terutama wanita berjatuhan sehingga harus dievakuasi.

Pada Selasa pukul 17.44 WIB, peserta demo yang masih dapat bergerak, mengevakuasi teman-temannya yang terkena gas air mata, mayoritas adalah peserta wanita.

Hal ini disampaikan juga oleh salah satu peserta aksi Rian yang membantu evakuasi teman-temannya yang menjadi korban gas air mata di belakang Gedung DPR RI.

“Itu dari tadi bolak-balik ambulansnya. Sekarang kami mengevakuasi, banyaknya mahasiswi yang sesak napas. Kena gas air mata,” kata Rian.

Menurut Rian, dua mahasiswi secara langsung terkena tembakan gas air mata dan langsung sesak nafas. Setelah itu, ambulans yang berasal dari Polri datang dan kedua mahasiswi itu segera dievakuasi.

Hingga saat ini massa aksi di belakang Gedung DPR dan MPR RI masih bertahan untuk berdemo dan menyanyikan lagu “Buka buka buka pintu!” kepada petugas yang berjaga.

Demo mahasiswa di Gedung DPR dan MPR RI berakhir ricuh setelah pagar di sebelah kanan Gerbang Utama Gedung DPR RI ambruk.

Setelah tembakan water cannon tidak berhasil menghalau massa, polisi menembakan gas air mata karena mahasiswa melempari petugas yang menjaga keamanan dengan batu dan botol air mineral.

Sebelumnya, para mahasiswa dari “Aliansi Mahasiswa Indonesia Tuntut Tuntaskan Reformasi” berunjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, hingga Senin (23/9) malam.

Mahasiswa tersebut kembali berunjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI pada Selasa guna menyampaikan aspirasi menolak pengesahan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).

Sumber: republika.co.id