BI: Inflasi Masih Rendah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bank Indonesia menyampaikan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2020 tetap rendah dan terkendali. Inflasi IHK pada April 2020 tercatat 0,08 persen (mtm), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,10 persen (mtm).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Onny Widjanarko menyampaikan perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang melambat, serta kelompok volatile food dan administered prices yang kembali mencatat deflasi.

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan inflasi IHK April 2020 tercatat sebesar 2,67 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan lalu sebesar 2,96 persen (yoy).

“Ke depan, Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasarannya sebesar 3,0 persen kurang lebih satu persen pada 2020,” katanya dalam keterangan pers, Senin (4/5).

Koordinasi dengan Pemerintah tersebut termasuk untuk mengendalikan inflasi pada bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1441 H. Inflasi inti pada April 2020 tercatat melambat dari 0,29 persen (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,17 persen (mtm).

Menurut kelompok barang, perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh deflasi komoditas bawang bombay, di tengah komoditas gula pasir dan emas perhiasan yang mencatat kenaikan harga. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,85 persen (yoy), sedikit melambat dibandingkan dengan inflasi Maret 2020 sebesar 2,87 persen (yoy).

“Inflasi inti yang menurun tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi tetap terjaga dan dampak permintaan domestik yang melambat sejalan dampak pandemi Covid-19,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Temukan Peluang Bisnis Baru di Era Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Hingga hari ini,  Indonesia memasuki hari ke-51 sejak Presiden Joko Widodo pada 15 Maret 2020 menyampaikan arahan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tentu saja ini berimbas pada laju bisnis dan usaha. Walau demikian pandemi COVID-19 ini mestinya dijadikan pelaku usaha menjadi momen untuk melakukan terobosan dan perubahan dalam berbisnis.

Ini untuk mempersiapkan diri menghadapi ‘new normal’ selepas pandemi COVID-19.

Hal ini disampaikan Kemal E. Gani, Pimpinan Umum Grup SWA Media, dalam sebuah diskusi virtual dalam rangka 30 tahun HUT Markplus.

“Memang akibat krisis pandemi COVID-19 ini kita menghadapi tantangan kompleks dengan pembatasan gerak sosial, bisnis pun dibatasi geraknya. Dampaknya luar biasa pada para pelaku bisnis. Convidence level konsumen di Indonesia menurun luar biasa. Sebelumnya 100%, setelah krisis jadi 15%, prioritas konsumen bergeser pada kebutuhan pokok, kesehatan, paket data, daripada belanja konsumsi yang sifatnya sekunder,” terang pria yang juga Ketua Forum Pimred Indonesia ini.

Menurutnya, walau Pemerintah Indonesia mengucurkan stimulus dana yang besar untuk dunia usaha, pelaku usaha tetap menghadapi tantangan terutama dalam hal perilaku konsumen yang berubah.

“Di konsumen kini muncul budaya baru, budaya yang lebih sehat, higienis, mengutamakan virtual dan daring baik dalam hal belanja, bekerja maupun akses informasi dan belajar,” tuturnya.

Lebih jauh ia menerangkan, dalam konteks ini, kemampuan perubahan yang terjadi pada konsumen, untuk memenangkan masa depan sangat penting.

“Dalam pengalaman krisis sebelumnya, banyak perusahaan dan produk muncul saat krisis. Kita ingat Susi Air lahir saat tsunami Aceh, perusahaan airlines yang dibangun mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti ini, sebelumnya hanya terbatas membawa produk perikanan saja, lalu berkembang sekarang mengangkut penumpang dan barang lain,” terangnya.

Selain itu, Kemal mengatakan saat terjadi krisis akibat pandemi sindrom pernapasan akut atau SARS di China pada 2003, muncul e-commerce besar yaitu Alibaba dan JD.com.

Padahal Alibaba sendiri sebenarnya ddirikan Jack Ma sejak 1999, sedangkan JD.com didirkan Richard Liu pada 1998.

“Markplus pun makin besar saat krisis, kita mestinya bisa menangkap peluang-peluang baru saat krisis. Kita juga melihat saat pandemi, Zoom meroket luar biasa,” tutur Kemal.

Ia juga yakin, walau saat ini bisnis penerbangan terhantam luar biasa akibat pandemi ini, Garuda Indonesia tetap mencari peluang bisnis lain, contohnya dengan penumpang terbatas hanya 40 orang, serta memaksimalkan armada untuk layanan logistik.

Hal yang sama dilakukan oleh Arif Wibowo CEO Airfast dengan lebih menggarap bisnis logistik. “Saya meyakini siapa yang bisa beradaptasi kondisi ekstrim, merekalah yang bisa meraih peluang untuk memenangkan bisnis di masa depan,” tandasnya.

Sumber: republika.co.id

Cina Diminta Transparan Soal Wabah Corona

LONDON(Jurnalislam.com) — Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Ben Wallace meminta China terbuka mengenai informasi wabah virus corona jenis baru atau Covid-19.

Ia mengatakan China perlu menjawab pertanyaan soal informasi yang dibagikan tentang wabah COVID-19.

“China harus menjawab hal itu setelah kita semua berhasil mengendalikan Covid-19 dan ekonomi kita kembali normal,” ujar Ben Wallace, Senin.

“China harus terbuka dan transparan tentang apa yang perlu diterangkannya, kekurangan dan kesuksesannya,” katanya.

Sebelumnya pada Ahad (3/5), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan ada ‘sejumlah bukti kuat’ bahwa virus corona jenis baru itu muncul dari laboratorium China. “Ada sejumlah bukti kuat bahwa ini berasal dari laboratorium di Wuhan,” kata Pompeo kepada ABC.

Ia merujuk pada virus yang muncul akhir tahun lalu di China dan telah menewaskan sekitar 240 ribu orang di seluruh dunia. Termasuk lebih dari 607 ribu di Amerika Serikat.

Pompeo kemudian secara singkat membantah pernyataan yang dikeluarkan beberapa hari sebelumnya oleh badan intelijen AS. Badan intelijen sebelumnya menyebut virus itu tampaknya tidak dibuat oleh manusia atau dimodifikasi secara genetis.

China berulang kali membantah menutup-nutupi informasi wabah Covid-19. Duta Besar China untuk Inggris bulan lalu mengatakan Amerika Serikat seharusnya tidak berusaha menggertak China dengan cara yang mengingatkan pada perang kolonial Eropa abad ke-19.

Sumber: republika.co.id

Kemampuan Membangun Networking Dinilai Penting di Tengah Kondisi Wabah

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Data dari Linkedln Opportunity Index 2020 mengungkapkan bahwa 83% orang Indonesia percaya bahwa memiliki koneksi yang tepat merupakan langkah penting untuk maju dalam kehidupan.

Namun, hanya 18% orang Indonesia yang berusaha membangun jaringan (network) profesional mereka. Hal ini menunjukkan bahwa banyak yang tidak yakin bagaimana cara membangun jaringannya.

Di tengah pandemi global Covid-19, menjadi penting bagi para pekerja profesional untuk tetap membangun hubungan dengan jaringan mereka dan membentuk koneksi baru, untuk mendapatkan akses ke peluang sekarang, dan persiapan untuk masa depan.

“Sebagai komunitas global, saat ini kita menghadapi masa yang tidak pasti. Kami melihat organisasi dan pekerja di seluruh dunia terdampak efeknya. Selama masa-masa sulit seperti ini, kami percaya bahwa yang terpenting adalah membangun jaringan yang lebih kuat. Hal ini berpotensi membantu kita dalam mencari peluang baru bahkan saat kita menghadapi situasi ini hingga pulih dari krisis ini,” kata Olivier Legrand, Managing Director LinkedIn Asia Pacific.

Di Indonesia, Generasi Z dan para pria menganggap kurangnya jaringan kerja sebagai penghalang terbesar mencapai peluang.

Dibandingkan dengan kelompok umur lainnya, kurangnya jaringan dan koneksi merupakan penghalang yang lebih besar bagi generasi Z (26%) dan milenial (25%), dan lebih terasa di kalangan pria (26%) dibandingkan dengan perempuan (21%).

Kurangnya jaringan terutama menjadi penghalang bagi mereka yang mencari pekerjaan yang lebih stabil, ingin memanfaatkan keterampilan mereka, atau bahkan mendirikan bisnis.

Mereka yang memiliki jaringan dan koneksi yang lebih kuat memiliki keuntungan dalam mengakses peluang yang mereka inginkan. Di LinkedIn, inilah yang disebut dengan “Network Gap” (kesenjangan jaringan kerja). LinkedIn juga menemukan bahwa orang dengan jaringan yang kuat umumnya lebih optimis tentang masa depan mereka daripada orang dengan jaringan yang lebih sedikit atau kurang beragam. Oleh karena itu, memperkecil kesenjangan jaringan adalah kunci untuk memastikan akses yang setara bagi semua orang sehingga mereka dapat meraih peluang.

“Kita semua memiliki peran untuk mengatasi kesenjangan jaringan yang ada, baik bagi orang-orang yang baru memulai karir nya, atau bagi seorang pekerja profesional yang berpengalaman,” Olivier melanjutkan.

Pada kesempatan yang sama, Shabrina Koeswologito, Digital Manager di Mindshare memberikan testimoni bahwa membangun jaringan merupakan bagian dari kehidupan.

“Saya percaya ada tiga hal yang perlu diprioritaskan ketika membangun jaringan dengan seseorang: pertama, selalu memberikan lebih banyak daripada yang Anda terima, kedua, pastikan untuk menghargai waktu orang lain, terakhir, personalisasikan pesan Anda agar relevan dengan orang yang ingin dituju,” ujarnya.

Sementara Ananda Nadya, Senior UX Researcher di Tokopedia & LinkedIn Spotlight 2019, mengatakan, “Sebagai seorang peneliti, saya harus menjaga hubungan yang baik dengan orang lain karena salah satu peranan dalam pekerjaan saya mengharuskan  untuk dapat berkoneksi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di era digital saat ini, membangun jaringan dan koneksi juga dapat dilakukan secara online. Hal ini sangat penting, terutama karena kondisi pandemi global saat ini memberikan dampak bagi banyak industri.”

Sumber: republika.co.id

Singapura: Perlu Rencana Jangka Panjang Terkait Covid-19

SINGAPURA(Jurnalislam.com) – Pemerintah Singapura menganggap perlu ada rancangan tindakan berkelanjutan untuk jangka panjang terkait dampak dari pandemi Covid-19 mengingat vaksin belum ditemukan, demikian juga dengan pengobatan khusus antivirus corona.

Dalam pernyataan yang diterima pada Senin (4/5), Kedutaan Besar Singapura di Jakarta mengatakan Singapura meyakini kesiapan harus diterapkan atas kemungkinan pandemi Covid-19, yang mungkin akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Dengan belum adanya vaksin dan pengobatan antivirus khusus, maka penting bagi kami untuk memastikan bahwa rancangan tindakan kami tetap berkelanjutan untuk jangka panjang,” kata Kedubes Singapura.

Berbagai tindakan yang perlu dipersiapkan termasuk melakukan lebih banyak lagi tes untuk melindungi kelompok rentan. Selain itu, membatasi dan memperlambat penularan virus agar tidak memperberat sistem kesehatanserta transparan dan konsisten mengambil pendekatan rasional yang berbasis pada fakta.

Negara tersebut mengatakan akan bekerja sama dengan mitra internasional guna menjaga jalur perdagangan, jalur pasokan dan komunikasi tetap terbuka, khususnya terkait barang-barang penting seperti persediaan medis dan makanan.

“Negara-negara harus berkolaborasi untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, dan kita juga harus bekerja bersama untuk memosisikan diri dengan baik untuk pemulihan setelah situasi stabil kembali,” katanya.

Pada 1 Mei, para menteri perdagangan Singapura, Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Selandia Baru mengesahkan Joint Ministerial Statement on Action Plans to Facilitate the Flow of Goods and Services as well as the Essential Movement of People. Melalui dokumen itu, para menteri menyetujui sejumlah hal.

Pertama, mempercepat prosedur bea cukai dan tidak mengeluarkan pembatasan ekspor pada barang-barang penting, seperti makanan dan pasokan medis. Kedua, memfasilitasi pembukaan kembali perjalanan lintas-batas esensial, dengan tetap mempertimbangkan kesehatan masyarakat sejalan dengan upaya untuk memerangi pandemi Covid-19.

Ketiga, meminimalkan dampak Covid-19 pada perdagangan dan investasi serta memfasilitasi pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dari pandemi Covid-19. Terkait perkembangan kasus Covid-19 di dalam negeri, Singapura melaporkan penurunan signifikan dalam penularan lokal selama satu bulan terakhir. Rata-rata harian jumlah kasus baru di masyarakat telah menurun dari 21 kasus per pekan, menjadi 11 pada pekan lalu.

Kasus yang masih banyak ditemukan berada di komunitas pekerja asing, meski sebagian besar kasus bersifat ringan. Para pekerja asing akan menerima perawatan medis yang sama dengan warga negara Singapura, berdasarkan komitmen yang terus digaungkan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan pemerintah setempat untuk menjaga kesejahteraan mereka.

Sementara itu, selama beberapa pekan ke depan, langkah-langkah pembatasan ketat yang diberlakukan akan semakin diperlonggar.

“Singapura juga sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk dimulainya kembali kegiatan masyarakat dan ekonomi secara aman dan bertahap setelah berakhirnya periode circuit breaker pada tanggal 1 Juni 2020. Kami harus berhati-hati dalam pencabutan larangan, dan tetap menerapkan langkah pengamanan lebih lanjut ketika melakukannya,” ujar pernyataan Kedubes Singapura.

Sumber: republika.co.id

Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Bisa Ajukan Keringanan UKT

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terdampak pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dapat mengajukan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada Rektor masing-masing.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi saat menanggapi pertanyaan salah satu mahasiswa UIN Surabaya tentang kebijakan pembatalan pemotongan 10% UKT, melalui sambungan pertemuan virtual dalam talkshow bertajuk OBSESI yang digelar Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam. “Bila ada mahasiswa yang keberatan untuk membayar UKT secara full, bisa mengajukan keringanan atau UKT banding kepada Rektor. Sehingga ini bisa diberikan keringanan,” kata Wamenag Zainut Tauhid, Senin (04/05).

Pemotongan anggaran Kemenag sebesar 2,6 triliun guna penanggulangan nasional Covid-19 disebut Wamenag menjadi faktor untuk mempertimbangkan kembali rencana pemotongan UKT PTKIN sebesar 10 persen.

“Itu jumlah yang tidak sedikit, sehingga kami mempertimbangkan kembali (pemotongan UKT),” ujar Wamenag.

“Karena apa, kami memikirkan yang lebih besar, yaitu program nasional yang itu juga bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini prioritas Pemerintah untuk menanggulangi Covid-19 menjadi hal utama. Pemerintah secara serius memberikan penanganan program Covid-19 ini melalui tiga hal.

Pertama adalah bagaimana Pemerintah berusaha menyelesaikan penyebaran penyakitnya. Kemudian kedua, Pemerintah membantu masyarakat yang terdampak Covid-19.

“Hari ini banyak saudara-saudara kita yang dia dibebastugaskan dari pekerjaan, banyak juga yang tidak bisa bergerak mencari (nafkah). Itu menjadi sasaran untuk dibantu yaitu melalui program jaring pengaman sosial dan itu pemerintah memberikan bantuan itu kepada masyarakat secara nasional,” ungkap Wamenag.

Kemudian ketiga, memberikan stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha, pemerintah memberikan relaksasi kepada pengusaha agar mereka tidak kolaps. “Saya ingin memberikan pemahaman bersama bahwa masalah ini harus menjadi tanggung jawab kita semuanya,” sambung Wamenag.

Hal ini diharapkan Wamenag juga menjadi pemahaman mahasiswa PTKIN. Wamenag menyampaikan .eskipun tidak ada pemotongan UKT 10 persen, PTKIN tetap memberikan peluang untuk pengajuan keringanan bagi mahasiswa yang terdampak Covid-19.

“Untuk itu bagi yang berat, terutama sebagian saudara atau teman kita yang terdampak secara serius, dapat diberikan kelonggaran. Untuk menyampaikan banding kepada Rektor agar diberikan keringanan,” ujar Wamenag menegaskan.

 

Rasulullah Lebih Dermawan Saat Ramadhan

JAKARTA(Jurnalisam.com) – Nabi Muhammad SAW tetap menjalani kehidupan yang sederhana saat memasuki Ramadhan. Tapi Rasulullah SAW memperbanyak sedekahnya pada bulan suci ini.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zein bin Umar Smith, menyampaikan Ramadhan bukan bulan untuk berpesta dan bermewah-mewahan dalam mengkonsumsi makanan.

Sekarang Allah SWT menakdirkan umat Islam untuk kembali melihat hakikat Ramadhan yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.

“Rasulullah menjalani Ramadhan dengan kesederhanaan yang luar biasa, kadang-kadang beliau berbuka puasa hanya dengan sebiji kurma dan air putih,” kata Habib Zein saat diwawancarai Republika.co.id, belum lama ini.

Dia menyampaikan, umat Islam diminta melakukan hal yang sama seperti teladan Nabi SAW, walau tidak sepenuhnya sama. Minimal kesederhanaan umat Islam dalam berbuka puasa menonjol pada Ramadhan ini.

Ketua umum organisasi Islam yang menjadi wadah resmi para habib se-Indonesia ini mengatakan, biasanya selama ini saat memasuki Ramadhan jumlah konsumsi makanan keluarga meningkat, karena segala macam makanan dibeli.

Sehingga umat Islam terkesan menyalurkan hawa nafsunya terhadap makanan saat Ramadhan. “Selama ini mungkin banyak yang lupa sehingga berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, maka Ramadhan kali ini mari menjalankan ibadah puasa ala Rasulullah dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Habib Zein mengatakan, di zaman Rasulullah banyak umat Islam melaksanakan qiamulail di rumah, sekarang umat Islam kembali kepada kebiasaan tersebut. Syiar yang biasanya ke luar sekarang syiar di dalam rumah masing-masing.

Karena pada Ramadhan tahun ini ada wabah virus corona atau Covid-19, maka umat Islam sebaiknya memanfaatkan momen ini untuk meramaikan rumah dengan berbagai kegiatan ibadah. Seperti tadabbur Alquran, sholat sunnah, mendidik anak-anak agar lebih mengenal Islam dan kegiatan ibadah-ibadah lainnya.

“Saya yakin bahwa pada saat kita beribadah di rumah masing-masing, di atas selalu terlihat kerlap-kerlip atau sinar-sinar di setiap rumah yang (penghuninya) melakukan tadabbur Alquran, membaca Alquran, tarawih bersama keluarga,” ujarnya.

Dia menanggapi kondisi masjid yang kosong di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, masjid digunakan untuk pusat pelaksanaan kegiatan sosial atau menyalurkan membantu.

Jadi kegiatan ibadah dilakukan di rumah, tapi kegiatan sosial dan koordinasi serta yang lainnya dilakukan di masjid. “Jadi di rumah tetap ada ibadah dan di masjid tetap ada ibadah, tapi ubudiyah-nya berbeda-beda,” jelasnya.

Habib Zein menerangkan, Rasulullah juga memperbanyak sedekah pada Ramadhan. Semua kegiatan ibadah dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT saat Ramadhan.

Jadi pahala dari sedekah juga dilipatgandakan, terlebih kalau sedekah untuk membantu saudara-saudara yang lemah dan membahagiakan orang lain.

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, artinya apabila Muslim memiliki kemampuan untuk berbagi maka berbagilah.

Pada Ramadhan pahala sedekah dilipatgandakan, mari manfaatkan Ramadhan untuk sedekah seperti yang diajarkan Rasulullah.

“Kesempatan ibadah dan sedekah Ramadhan jangan sampai terlewat dan menyesal, bulan suci lewat sementara umur berkurang dan kita tak bisa memanfaatkan kesempatan itu nanti menyesal,” kata Habib Zein.

Sumber: republika.co.id

 

RM Wakaf Ampera Pasteur Sediakan 10.000 Paket Ifthar

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Melalui sinergi wakaf masyarakat, RM Ampera Pasteur berkontribusi menyalurkan paket ifthar untuk orang-orang terdampak COVID-19.
RM Ampera Pasteur berbasis wakaf produktif yang diinisiasi Sinergi Foundation ini menyalurkan sebanyak 10.000 paket sepanjang Ramadhan ini.

“Ramadhan di tengah pandemi, masyarakat mengalami kondisi sulit. Alhamdulillah, hasil perguliran wakaf produktif di RM Ampera Pasteur bisa membantu sesama,” kata Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation.

Ia menuturkan, 10.000 paket ifthar tersebut disalurkan pada pejuang nafkah yang berprofesi sebagai pekerja informal, seperti supir angkot, tukang parkir, pedagang asongan, dan dhuafa lainnya yang kehilangan pekerjaannya akibat COVID-19.

Asep berharap, paket ifthar lengkap bergizi dari RM Ampera ini menjadi tenaga untuk para dhuafa bertahan di tengah pandemi. Sehingga mereka bisa lebih kuat mencari nafkah, dan agar mereka bisa maksimal menjalankan puasa Ramadhan kali ini.

“Karena, seperti kita tahu, betapa dahsyatnya pandemi ini menggerus masyarakat kecil. Kini, satu porsi nasi saja sudah menjadi barang mahal bagi mereka,” katanya.

RM Ampera Pasteur adalah salah satu portofolio investasi wakaf produktif Sinergi Foundation. Setiap keuntungan yang diraih di RM Ampera ini, akan disalurkan untuk mereka yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, dari makanan yang kita makan di sini, terus menerus mengalir kebaikan,” tandas Asep.

ACT Ajak Masyarakat Ikut Berkolaborasi dalam Berbagai Program Bantuan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Hingga akhir April, Aksi Cepat Tanggap merilis jumlah aksinya yang telah menjangkau lebih dari juta penerima manfaat melalui berbagai aksi penanganan dampak Covid-19.

Seluruh aksi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan medis, tapi juga membantu warga yang terdampak secara sosial ekonomi. Program Operasi Pangan Gratis telah bergulir, kini dilengkapi dengan Humanity Care Line.

Meluasnya persebaran Covid-19 berdampak pada sejumlah sektor di Indonesia, terutama kesehatan dan sosial ekonomi. ACT turut menggencarkan rangkaian aksi penanganan dampak Covid-19.

Aksi penanganan dampak pandemi corona yang bertajuk “Bersama Selamatkan Bangsa” ini telah menjangkau 25 provinsi di Indonesia dan 5 negara di seluruh dunia sejak 2 Maret hingga 29 April 2020 lalu.

Dari aksi Bersama Selamatkan Bangsa ini, ribuan rumah dan fasilitas umum telah menerima bantuan kemanusiaan yang diamanahkan publik kepada ACT.

Selain itu, terdapat area-area publik lainnya seperti tempat ibadah, sarana umum, instansi pendidikan, rumah sakit, perkantoran, musala, kantor pemerintahan, SPBU, pertokoan, puskesmas, dan panti asuhan yang turut menerima manfaat dari rangkaian aksi penanganan Covid-19 ini.

Untuk bantuan kesehatan dan pangan berupa beras, ACT sudah mencapai 8.759 aksi. Aksi-aksi ini akan terus berlanjut selama masa darurat pandemi corona berlangsung. Bambang Triyono, Direktur Program ACT, mengajak kepada semua pihak untuk terus memberikan dukungan kepada mereka yang terdampak virus corona.

“Saatnya kita terus membantu mereka, baik mereka yang rentan dari sisi kesehatan maupun sisi ekonomi. Dan semoga dengan bersama-sama, kita bisa melewati masa pandemi ini segera,” sambung Bambang.

Bantuan untuk kebutuhan pangan juga wujudkan melalui Humanity Care Line. Khusus untuk warga DKI Jakarta, ACT bekerjsama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Jakarta Care Line yang diresmikan Sabtu lalu (2/5).

Dalam launching tersebut, Dewan Pembina ACT, Ahyudin menyatakan program Jakarta Care Line distimulasi oleh kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB).

KSBB sangat menyemangati ACT dan mewujudkan kolaborasi tersebut dalam sebuah program bernama Jakarta Care Line.

Ini Tata Cara Shalat Id di Rumah Menurut UAS

PEKANBARU(Jurnalislam.com) — Ulama asal Pekanbaru, Riau, Ustadz DR Abdul Somad Lc MA, memberikan penjelasan soal cara sholat idul fitri di tengah pandemi covid-19.

Hal ini jika wabah Covid-19 belum berakhir dan aturan serta imbauan untuk tidak sholat Idul Fitri berjamaah di masjid atau di lapangan masih berlaku.

Selesai Ramadhan, malam Idul Fitri, besoknya kita (bertanya) sholat Idul Fitri di mana? Andai (Covid-19) tidak selesai, tapi kita harap selesai. Semoga video ini (penjelasan UAS) selesai (bisa menjelaskan),” kata UAS dalam video pribadinya, Ahad (3/5) malam.

Dalam penjelasanya, UAS mengutip penjelasan dari Imam al-Muzani yang merupakan murid Imam Syafii. Penjelasan itu diterangkan dalam ringkasan kitab Al Umm, kitab induk Imam Syafii.

Menurut UAS, dalam kitab itu disebutkan boleh sholat Idul Fitri maupun Idul Adha seorang diri saja. “Pagi Idul Fitri gak bisa pulang kampung. Sendirian di rumah kos-kosan. Sholat Idul Fitri di situ sendiri. Allahu Akbar. Di rumahmu,” kata UAS.

“Yang gak bisa mudik, gak boleh mudik, mudik pulang kampung ditangkap di tol. Sedih, jangan sedih. Sholat sendiri di rumah,” kata UAS menambahkan.

Menurut UAS, berdasarkan penjelasan kitab itu, orang yang sholat Idul Fitri ini juga berlaku untuk hamba sahaya (budak) yang pada zaman dahulu tuannya tidak membolehkannya keluar. Kemudian, hal ini juga berlaku untuk perempuan yang tidak bisa keluar rumah karena takut tak ada muhrimnya.

Selain boleh sholat Idul Fitri sendirian, UAS juga menjelaskan jika sholat Idul Fitri nanti bisa dilakukan berjamaah di rumah dengan orang yang terbatas. “Di rumah itu ada bapak, ada anaknya, ada ponakannya, ada istrinya, keluarganya. Sesungguhnya sholat Idul Fitri, Idul Adha, sah dilaksanakan empat orang,” kata UAS.

Menurut UAS, empat itu merupakan batas minimal jamak. Jadi, menurut UAS, tidak ada alasan untuk tidak sholat Idul Fitri dan Idul Adha di rumah, baik itu sendiri maupun berjamaah.

Kemudian, untuk khatib sholat Idul Fitri di rumah nanti, UAS menjelaskan, rukun khutbahnya sama seperti khutbah Idul Adha dan khutbah Jumat. “Cuma lima saja,” kata UAS.

UAS menjelaskan, khatib harus berdiri. Kemudian, takbir, mengucap alhamdulillah, setelah itu membaca shalawat (Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa’ala ali sayyidina Muhammad).

Setelah itu, membaca ayat Alquran ( Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullah). Jika tidak hafal, boleh membaca qul huwallāhu aḥad Allahus somad. Setelah itu, wasiat takwa (Usikum wanafsi bitaqwallahi). Jika tidak bisa bahasa Arab, sebutkan, “Kuwasiatkan kepada kamu, takutlah kepada Allah.”

Kemudian, duduk sebentar. Sebab, khutbahnya terdiri atas dua khutbah.

“Setelah itu, berdiri lagi dan ulang lagi. Alhamdulillah, shalawat, membaca qul huwallāhu aḥad Allahus somad, jamaah sekalian mari kita tingkatkan takwa, mudah-mudahan kita smeakin takwa kepada Allah,” kata UAS

Sumber: republika.co.id