Lawan Covid, MUI Minta Indonesia Bangun Aliansi Negara Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Indonesia disarankan membangun aliansi negara-negara Islam dan negara-negara berkembang untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di dunia.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi saat acara MUI Dakwah Online bertema “Pandemi Covid-19 dan Konspirasi Dunia Internasional”, Kamis (7/5).

KH Muhyiddin membahas persaingan antara China dan Amerika Serikat (AS) serta rekayasa virus atau senjata biologi. Dia mengatakan Indonesia adalah negara berkembang yang dulunya berkiblat ke Barat. Apakah Indonesia sekarang akan berkiblat ke China. Menurutnya Indonesia sekarang jangan berkiblat ke Barat ataupun China.

“Kalau menurut saya kita harus berada di tengah, kita harus membangun aliansi negara-negara Islam dan negara-negara berkembang,” kata KH Muhyiddin.

Ia berpandangan, kalau China dan Amerika Serikat (AS) mau berperang silakan saja perang dagang, perang urat saraf atau perang apa pun. Tapi Indonesia jangan ikut-ikutan, sebab Indonesia harus berada di tengah karena bangsa ini memiliki moral.

ia juga mengingatkan para ulama dan cendekiawan Indonesia jangan mudah diadu domba dan mengikuti keinginan pihak asing yang ingin memanfaatkan kekayaan Indonesia. Indonesia harus independen.

Terkait virus corona atau Covid-19, KH Muhyiddin meyakini itu adalah makhluk Allah, tapi para pakar dari Jepang, Rusia dan negara-negara maju lain melihat ada keanehan virus ini karena Covid-19 terus mengalami perubahan.

“Dari Wuhan (di China) virus ini setelah sampai ke AS berubah, (virus ini) pergi ke Eropa dan Asia melakukan perubahan lagi. Mengapa itu sampai terjadi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ada pakar virus yang mengatakan Covid-19 bukan sembarangan penyakit. Virus ini hasil rekayasa para ahli yang sudah memperhitungkan suhu udara dan perilaku manusia di berbagai wilayah.

Ia menerangkan, seorang ahli virus dari Rusia mengatakan hanya orang gila yang menambah kekuatan virus corona yang awalnya biasa saja menjadi super biasa. Meski itu hanya sebuah pernyataan, tapi keluar dari seorang ahli.

Sumber: republika.co.id

 

Optimisme Konsumen Terhadap Ekonomi April Melemah Cukup Tajam

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi pada April 2020 melemah cukup dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat, keyakinan konsumen berada dalam zona pesimis atau indeks di bawah 100.

Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2020 yang sebesar 84,8 atau turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 113,8. Penurunan IKK disebabkan oleh penurunan kedua indeks pembentuknya, terutama Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE) yang turun ke level 62,8 dari sebelumnya 103,3.

“Melemahnya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja,” ujar Onny Widjarnako, Kepala Humas BI dalam keterangan resmi di Jakarta (06/05/2020).

Melemahnya IKE ditengarai akibat kondisi darurat bencana nasional sebagai dampak penyebaran Covid-19. Penurunan indeks terdalam terjadi pada Indeks Penghasilan Saat Ini yang menjadi 63,5. Hal ini terutama disebabkan oleh pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berdampak pada penurunan penghasilan baik yang bersifat rutin seperti gaji dan honor, maupun omset usaha.

Penurunan indeks terjadi pada seluruh kategori pengeluaran, terutama pada kelompok responden dengan tingkat pengeluaran Rp 2,1 – Rp 3 juta per bulan dan pada seluruh kategori usia responden, terdalam pada usia 20 – 30 tahun.

Penurunan optimisme konsumen terhadap penghasilan seiring dengan keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini yang semakin menurun. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja turun menjadi 41,2. Hal tersebut disebabkan banyaknya pengurangan tenaga kerja yang dilakukan perusahaan akibat pandemi Covid-19.

“Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, per 20 April 2020 jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) telah mencapai 2,08 juta pekerja,” jelasnya.

Penurunan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja terjadi pada seluruh kategori pendidikan dan responden. Terdalam, pada responden dengan pendidikan pasca sarjana dan berusia 41- 50 tahun.

Keyakinan konsumen untuk melakuan pembelian barang tahan lama (durable goods) pada April 2020 juga mengalami penurunan. Indeks Pembelian Durable Goods tercatat turun menjadi 83,7 pada April 2020.

Penurunan pembelian durable goods, menurut responden, terutama terjadi pada jenis barang elektronik, furnitur, dan perabot rumah tangga. Penurunannya terjadi di selruuh kategori tingkat pengeluaran dan kategori usia. Terutama pada responden pengeluaran Rp 1 – Rp 2 juta dan responden berusia 41 – 50 tahun.

Sementara itu, konsumen masih cukup optimistis terhadap perkiraan kondisi ekonomi 6 bulan ke depan meskipun tidak sekuat perkiraan bulan sebelumnya. Ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) April 2020 sebesar 106,8 melemah dari 124,3 di bulan sebelumnya.

“Optimisme konsumen tersebut didukung perkiraan telah meredanya pandemi Covid-19 pada 6 bulan ke depan sehingga kondisi ekonomi bisa mulai pulih,” kata nya.

Menurunnya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan disebabkan oleh penurunan seluruh komponen indeks, terutama Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha 6 bulan mendatang.

Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha dalam 6 bulan ke depan melemah dari 126,2 pada bulan sebelumnya menjadi 102,3 pada April 2020. Penurunan indeks terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran responden, terdalam pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 3,1 – Rp 4 juta per bulan. Dari kategori usia, penurunan terdalam pada responden berusia di atas 60 tahun.

Ekspektasi responden terhadap kenaikan penghasilan 6 bulan mendatang juga melemah. Hal ini erlihat dari Indeks Ekspektasi Penghasilan yang menurun dari 138,2 pada bulan sebelumnya menjadi 116,1. Penurunan indeks terdalam terjadi pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 2,1 – Rp 3 juta per bulan. Berdasarkan kategori usia responden, penurunan ekspektasi terhadap penghasilan ke depan terjadi pada responden berusia di bawah 60 tahun.

Selain itu, ekspektasi responden terhadap tersedianya lapangan kerja pada 6 bulan mendatang juga terpantau melemah. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja yang turun dari 108,4 menjadi 102,1 pada April 2020.

Penurunan indeks terjadi pada seluruh kelompok pendidikan, dan yang terdalam pada responden dengan tingkat pendidikan pasca sarjana. Sementara dari sisi usia, penurunan indeks terjadi pada responden berusia 20 – 50 tahun.

Sumber: republika.co.id

Hadapi Covid-19, Arab Saudi Lakukan Sejumlah Langkah Penghematan

JEDDAH(Jurnalislam.com) — Ekonom dari Al Rajhi, Mazen Al-Sudairy mengatakan, saat ini Arab Saudi akan terus melakukan berbagai langkah penghematan karena ekonomi yang sempat jatuh. Termasuk, penurunan harga minyak.

Mengutip Saudigazzete, Kamis (7/5) Dia memuji langkah rasionalisasi besar-besaran Saudi. Utamanya terkait pengurangan belanja modal dari 240 miliar riyal menjadi 143 miliar riyal. Pengurangan itu ia nilai akan terus berlanjut, mengingat Covid-19 yang masih belum bisa ditebak akhirnya.

Al-Sudairy melanjutkan, masalah dalam anggaran Saudi adalah bagian penting dan dinilai tidak fleksibel. Bahkan, ia sebut cukup sulit untuk memotongnya.

Khusus alokasi anggaran untuk gaji di Kerajaan, telah memakan jumlah sekitar 504 miliar riyal. Tentu hal itu akan berdampak pada harga minyak per barel yang menjadi 55 dolar AS, jika pendapatan minyak hanya digunakan untuk pembayaran gaji.

Al-Sudairy menekankan agar Kerajaan tertarik pada kesejahteraan warga dengan memastikan bahwa tidak ada karyawan Saudi yang diberhentikan dari pekerjaannya, terlebih dalam situasi ekonomi yang sulit.  Dalam perspektif ini, kata dia, pengurangan dapat terjadi di beberapa tunjangan tetapi tidak pada gaji pokok.

Meski demikian, dia mengatakan bahwa Kerajaan telah tertarik untuk mempertahankan kohesi masyarakat dengan memastikan tenaga kerja Saudi tidak terpengaruh oleh krisis. Bahkan menurut dia, Saudi juga telah tertarik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempertahankan proporsi kelas menengah dalam masyarakat, dengan menurunkan jumlah orang miskin di masyarakat.

Oleh sebab itu Al-Sudairy menegaskan, karyawan pada akhirnya adalah konsumen, dan oleh karena itu gaji mereka tidak boleh terpengaruh. Sehingga, ia menyarankan bahwa anggaran yang mungkin dapat dihapus dapat berupa alokasi untuk proyek-proyek yang tidak signifikan, atau pengeluaran seperti tunjangan perjalanan dan lainnya.

Sumber: republika.co.id

 

Uber Merugi 2,9 Miliar Dollar dan PHK Karyawannya

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)–Uber harus merugi sebanyak US$2,9 miliar pada kuartal pertama 2020. Ini merupakan kerugian terbesar Uber dalam tiga kuartal terakhir.

Uber juga melaporkan pendapatan US$3,54 miliar. Angka pemesanan dalam bisnis antar-jemput turun 3 persen, sementara pemesanan di divisi Uber Eats naik lebih dari 54 persen dari tahun ke tahun, berkat meningkatnya permintaan untuk pengiriman makanan.

Bisnis transportasi Uber telah anjlok akibat meluasnya penutupan karena pandemi. Dilansir dari The Verge (8/5/2020), Uber mengumumkan minggu ini bahwa mereka akan memecat 3.700 karyawan penuh waktu, atau sekitar 14 persen dari tenaga kerjanya.

Lebih dari 400 karyawan tambahan dari divisi Uber Jump Bike dan Scooter juga akan diberhentikan sebagai bagian dari kesepakatan investasi dengan Lime, menurut laporan The Information dikutip dari The Verge.

Dalam panggilan dengan investor pada Maret, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan total pemesanan perusahaan di sebagian besar kota besar turun hingga 70 persen.

Bisnis keseluruhannya dilaporkan turun 80 persen dari tahun ke tahun. Keuntungan baru-baru ini dalam pengiriman makanannya divisi Uber Eats telah gagal untuk menebus kerugian besar dalam produk inti perjalanannya.

Sumber: republika.co.id

Presiden Dinilai Sepelekan Covid-19, RS Brasil Kewalahan Tangani Pasien

BRASIL (Jurnalislam.com)–Jumlah orang yang meninggal dunia dalam sehari karena wabah corona di Brasil meningkat di atas 600 untuk pertama kalinya, kata Departemen Kesehatan Brasil hari Rabu (6/5).

Departemen Kesehatan memperingatkan bahwa tingkat penularan virus belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Pada hari Selasa (5/5) tercatat angka kematian mencapai 615 dan menjadi hari yang paling mematikan sejak penyebaran Covid-19 mulai terdeteksi di Brasil. Secara keseluruhan, hingga saat ini tercatat 8536 orang meninggal karena virus corona.

Angka resmi juga menunjukkan bahwa lebih 125 ribu orang telah terinfeksi virus corona. Namun jumlah kasus yang sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak terdeteksi. Para pengamat menilai, jumlah tes di brasil masih terlalu kecil.

Juru bicara presiden dikonfirmasi positif Covid-19

Juru bicara Presiden Jair Bolsonaro, Jenderal Angkatan Darat Otavio Rego Barros, dinyatakan positif tertular Covid-19, kata kantornya hari Rabu.

Selanjutnya disebutkan, pria berusia 59 tahun itu harus menjalani karantina di rumah. Barros menambah daftar tertular Covid-19 di lingkungan dekat Presiden Jair Bolsonaro. Sejauh ini tercatat ada 23 anggota delegasi dalam rombongan presiden yang berkunjung ke Florida, AS, bulan Maret lalu yang dinyatakan positif Covid-19.

Pejabat tinggi pemerintahan yang mengidap Covid-19 antara lain Kepala Komunikasi Fabio Wajngarten dan Menteri Keamanan Nasional Augusto Heleno. Jair Bolsonaro sendiri menyatakan dia sudah dites negatif.

Rumah sakit kewalahan

Presiden Bolsonaro selama ini menyepelekan ancaman Covid-19 dan menyatakan dia tidak percaya pada pembatasan sosial.

Dia menyerukan agar kehidupan kembali ke situasi normal. Namun Kementerian Kesehatan tetap mengeluarkan peringatan kepada pembatasan sosial kepada publik.

Menurut data dari John Hopkins University, Brasil memiliki jumlah infeksi keenam tertinggi di dunia. Brasil adalah negara pertama di Amerika Selatan yang mencatatkan kasus Covid-19 pada tanggal 26 Februari lalu.

Rumah sakit dan tempat pemakaman di berbagai kota dan negara bagian Brasil kini diberitakan sudah mencapai batas kapasitasnya dan kewalahan menghadapi wabah corona, karena infeksi terus meningkat dengan cepat.

Sumber: republika.co.id

Masjid Salamah Solo Inisiasi Program Masjid Ketahanan Pangan

SOLO (Jurnalislam.com)–Penyebaran virus Covid-19 menimbulkan dampak ekonomi kepada banyak warga. Banyak diantara mereka mengalami penurunan pendapatan secara signifikan bahkan hingga kehilangan pekerjaan.

Hal ini mendorong jamaah Masjid Salamah Tipes Jln sri Narendro, Rt 06/14, Tipes, Serengan, Solo bersama Pelayanan Masyarakat (Yanmas) Ansharu Syariah membuat posko dapur umum untuk masyarakat.

Yakni melalui program Masjid Benteng Ketahanan Pangan atau disingkat dengan nama Matengan.

Takmir masjid Salamah Abu Khattab menjelaskan bahwa program Matengan itu bentuk upaya membantu masyarakat dalam menghadapi wabah virus covid-19, dan dimulai pada momen bulan ramadhan tahun 1441 Hijriyah.

“Jadi mereka yang hari ini kesulitan dengan pekerjaannya tidak ada masukan, itu langsung kita beri berupa nasi jadi sayur lauk pauk. Karna ini bulan Ramadhan ya kita sediakan untuk berbuka puasa dan sekaligus untuk sahur,” terangnya, Rabu, (6/5/2020).

“Bisa di bawa pulang, membawa tempat sendiri dari rumah, rantang atau wadah lainnya, kemudian sore itu sudah matang diambil kemudian untuk dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga,” imbuhnya.

Menurutnya, Masjid harus menjadi pusat kegiatan sosial di masyarakat dan bisa membantu warga dalam menjamin kebutuhan pangan di masyarakat.

“Jadi sasarannya ya sekitar masyarakat, jamaah masjid sekitar, mereka yang benar membutuhkan itu tidak lagi kesulitan untuk makan. Jadi sementara untuk karena momen Ramadhan, untuk konsumsi buka dan sahur itu yang ingin kita laksanakan,” ungkapnya.

Abu Khattab juga menghimbau kepada masjid masjid yang lain, supaya bisa meniru apa yang dilakukan oleh masjid Salamah tersebut.

“Jadi masjid kita fungsikan sebagai benteng ketahanan pangan, jadi berusaha kita memakmurkan masjid dengan jamaahnya dengan warga sekitar yang memang membutuhkan, kita buka posko dapur umum yang bisa membantu masyarakat sekitar,” paparnya.

“Masjid itu punya pemasukan reguler baik dari infaq jum’atan dari pengajian dari donatur dari muslimin-muslimin sekitar,hal ini yang kita manfaatkan masjid menjadi Baitulmalnya umat, masjid menjadi dana penyokong umat,” tandas Abu Khattab.

Kasus Corona di Afrika Tembus 50 Ribu Angka

ADDIS ABABA(Jurnalislam.com) — Jumlah total kasus virus korona di Afrika sudah mencapai 51.698, menurut data yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika pada Kamis.

Menurut update terakhir, jumlah kematian di benua itu naik menjadi 2.012, sementara 17.590 pasien virus korona pulih.

Afrika Utara melaporkan total 19.100 kasus, termasuk 1.200 kematian dan 6.700 pemulihan.

Afrika Barat melaporkan 14.500 kasus, dengan 330 kematian dan 4.300 pemulihan.

Afrika Selatan melaporkan 8.300 kasus, dengan 169 kematian dan 3.300 pemulihan.

Afrika Timur mengonfirmasi 5.100 kasus, termasuk 150 kematian dan 2.000 pemulihan.

Afrika Tengah melaporkan 4.700 kasus, dengan 188 kematian dan 1.200 pemulihan.

Afrika Selatan memiliki jumlah kasus terbanyak dengan 7.800, sementara Mesir memiliki 7.600 kasus; tetapi dalam hal kematian, Mesir mencatat 469 kematian, sementara Afrika Selatan lebih sedikit yaitu 153 kasus kematian.

Aljazair memiliki jumlah kematian tertinggi akibat virus korona yaitu 476, sementara Maroko melaporkan 183 kasus kematian.

Kamerun kehilangan 108 orang akibat virus itu, Nigeria 103, Burkina Faso 48, Sudan 49, Somalia 39, Kenya 26, dan Republik Demokratik Kongo 36.

Sumber: republika.co.id

 

Anggota Dewan Sebut PSBB Upaya Lepas Tangan Pemerintah Pusat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Anggota Komisi II DPR Guspardi Gaus meminta pemerintah mengkaji secara mendalam terkait wacana akan dilakukannya relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurutnya pemerintah harus merujuk pada tujuan utamanya, yakni menjaga nyawa, keamanan dan kesejahteraan rakyat.

“Tapi itu semua harus dikaji secara mendalam, baik soal penanganan medis, ketahanan pangan, hingga pendapatan warga. Mengkaji ini harus melibatkan pihak-pihak yang benar-benar kredibel di bidangnya agar kajian yang dihasilkan itu tidak beraroma politik,” kata Guspardi dalam keterangan tertulisnya Kamis (7/5).

Ia tidak mempermasalahkan rencana relaksasi PSBB tersebut. Namun ia menilai relaksasi tersebut tidak ada bisa direalisasikan dalam waktu dekat.

“Untuk relaksasi PSBB butuh perencanaan matang dan dilakukan secara bertahap. Kriteria relaksasi PSBB juga harus terukur dan dimatangkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, rencana pemerintah melakukan relaksasi PSBB tersebut justru memperlihatkan kepada publik, ketidakjelasan konsep penanganan Covid-19.

Bahkan dirinya berpendapat, sejak awal penerapan PSBB ini hanya upaya pemerintah pusat melempar tanggung jawab ke pemerintah daerah.

“Di lapangan, memang pemerintah provinsi, kabupaten/kota yang paling sibuk dalam upaya penanganan dan pengendalian Covid-19,” ungkapnya.

Ia pun menyayangkan adanya rencana relaksasi tersebut. Di satu sisi kepala daerah sedang berusaha mengetatkan pelaksanaan PSBB. Tetapi di sisi lain, pemerintah justru ingin melonggarkan PSBB.

“Untuk kondisi saat ini memotong mata rantai penyebaran Covid-19 sesuatu yang mutlak, agar penyebaran wabah ini tidak banyak menimbulkan korban. Keselamatan warganegara dan nyawa masyarakat lebih penting dari faktor lainnya termasuk masalah ekonomi. Oleh karena itu penanganan Covid-19 ini harus menjadi fokus utama dan menjadi tujuan utama,” ucap anggota Baleg DPR RI tersebut.

Sumber: republika.co.id

Amerika Latin Berpotensi Jadi Episentrum Baru Corona

LIMA(Jurnalislam.com) — Sejumlah negara Amerika Latin melaporkan lebih dari 270 ribu kasus infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) dan terdapat lebih dari 14 ribu kematian terkait penyakit ini. Organisasi Kesehatan Pan American mengatakan, kawasan ini mengalami apa yang terjadi di Eropa pada enam pekan lalu.

Dilansir Aljazirah, meski sebagian besar kasus Covid-19 dilaporkan di negara seperti Brasil dan Peru, diperkirakan negara lainnya dapat mengalami peningkatan dramatis dalam beberapa pekan mendatang.

Seperti diketahui, pada Maret, Eropa dinyatakan sebagai episentrum pandemi virus corona jenis baru, yang mengakibatkan banyak negara di kawasan itu melakukan lockdown untuk mengendalikan penyebaran wabah.

Amerika Serikat (AS) kemudian juga dinyatakan sebagai episentrum Covid-19, dan saat ini jumlah kasus infeksi virus di negara itu menjadi yang tertinggi di dunia.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan ada kemungkinan episentrum wabah terus berubah. Selain Amerika Latin, kekhawatiran telah dinyatakan terhadap Afrika, yang juga dinilai berpotensi menjadi pusat wabah virus selanjutnya.

Sumber: republika.co.id

Dua Pekan Brunei Tanpa Penambahan Kasus Corona

BANDAR SERI BEGAWAN(Jurnalislam.com) – Pemerintah Brunei Darussalam melaporkan tidak ada kasus baru Covid-19 selama dua pekan lebih atau 16 hari berturut-turut. Kasus yang dikonfirmasi tetap pada angka 138 orang. Sementara ada tambahan untuk satu orang pasien sembuh dengan total pasien sembuh sebanyak 131 orang.

“Alhamdulillah, dengan rahmat Allah SWT, tidak ada kasus Covid-19 baru di negara ini. Oleh karena itu, jumlah total kasus Covid-19 di Brunei Darussalam tetap mencapai 138,” ujar Menteri Kesehatan Dato Seri Setia Dr Haji Mohd Isham bin Haji Jaafar, dikutip dari Borneo Bulletin, Rabu (6/5)

Mohd Isham menambahkan, jumlah kasus aktif masih dirawat di NIC, dua di antaranya masih dalam kondisi kritis dan membutuhkan mesin jantung-paru (ECMO) dan bantuan pernapasan. Sedangkan sisanya dalam kondisi stabil. “Dua puluh empat orang sedang menjalani karantina sesuai dengan Undang-Undang Penyakit Menular (Bab 204) sementara 2.551 orang telah menyelesaikan karantina mereka,” ungkapnya.

Menteri Mohd Isham mengatakan dalam 24 jam terakhir, 134 sampel telah diuji untuk virus SARS-CoV-2 sehingga total jumlah tes laboratorium yang dilakukan sejak Januari 2020 menjadi 14.610. Berkenaan dengan kasus-kasus yang telah pulih tetapi ditemukan positif lagi selama pemeriksaan lanjutan, Dato Seri Setia Dr Haji Mohd Isham mengatakan tidak ada kasus yang telah diuji ulang positif.

“Dari mereka yang sebelumnya dinyatakan positif, satu diizinkan pulang ke rumah. Ini membawa jumlah total kasus tersebut ke 22 yang telah menjalani penyelidikan lebih lanjut dan telah diizinkan untuk pulang,” tutup Haji Mohd Isham.

Sumber: republika.co.id