Survei: 94,5 Persen Umat Beribadah di Rumah Saat Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Survei yang dilakukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menunjukan 94,5 persen masyarakat telah mengikuti anjuran pemerintah untuk beribadah di rumah saat Ramadhan pada masa pandemi Covid 19.

Survei dilakukan sejak 29 April hingga 4 Mei yang melibatkan 669 responden yang tersebar di beberapa daerah, baik yang diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) maupun tidak.

“Itu menunjukkan bahwa orang beribadah di Indonesia kecenderungannya patuh terhadap (protokol) kesehatan dan seruan pemerintah,” ujar Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM Choirul Anam dalam video konferensi, Jumat (8/5).

Dari 94,5 persen yang beribadah di rumah, sebagian besar melakukannya atas kesadaran sendiri serta mengikuti imbauan pemerintah.

Sementara sebanyak 5,5 persen masyarakat tidak beribadah di rumah didominasi responden yang mengaku lebih khusyuk beribadah di tempat ibadah.

Melihat angka tersebut, ia menilai kesadaran masyarakat merupakan hal positif yang harus dipertahankan dan ditingkatkan sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk mendukung pemerintah dalam menekan penyebaran Covid 19.

Selain itu, juga diperlukan penyadaran kepada masyarakat yang lebih mementingkan kekhusyukan beribadah selama Bulan Ramadhan 2020.

“Ini jadi tantangan kita semua yang namanya beribadah dalam situasi darurat tujuan utama mengatasi kedaruratan, bukan kekhusyukan,” kata Choirul Anam.

Kemudian sebanyak 87,6 persen responden mengaku mengetahui adanya Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di Tengah Wabah Covid 19 dari Kemenag yang dikeluarkan pada 17 April 2020. Surat edaran itu mengimbau agar umat Islam menjalankan ibadah di rumah masing-masing pada Bulan Puasa dan Idul Fitri 2020 karena wabah Covid 19.

MUI pun mengeluarkan imbauan serupa. Komnas HAM menilai pelarangan beribadah di tempat ibadah saat wabah dalam konteks HAM diperbolehkan selama bukan esensi agama yang dicampuri.

Sumber: republika.co.id

Walau Tak Mudik, Silaturahim dengan Keluarga Jalan Terus

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Bersilaturahim dengan keluarga walau tak mudik tetap bisa dilakukan menggunakan teknologi komunikasi. Hal ini dituturkan salah satu pekerja perantau di Jakarta yang tak mudik akibat pandemi Covid-19.

“Sedih tidak mudik karena biasanya setiap tahun pulang saat Lebaran. Meskipun tidak pulang, tetap bisa berkomunikasi untuk bersilaturahim dengan keluarga,” kata Achmad Toha, pekerja perantau di Jakarta.

Ia hadir dalam jumpa pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dipantau melalui akun Youtube BNPB Indonesia di Jakarta, Jumat.

Toha yang berasal dari Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen itu bekerja di sebuah perusahaan penerbitan bersama adiknya di Jakarta Selatan.

Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan pemerintah melarang perjalanan masyarakat untuk mudik, Toha dan adiknya pun memutuskan untuk mengikuti imbauan itu. “Selain karena ada anjuran dari pemerintah untuk tidak mudik, juga dilarang orang tua terutama ibu karena saya ada di Jakarta yang termasuk zona merah,” tuturnya.

Toha mengatakan tidak ingin niatnya mudik untuk bersilaturahim dengan keluarga dan sanak saudara di desa malah bisa menjadi petaka. Bisa saja dia tidak sadar membawa virus corona penyebab Covid-19 ke desa.

Misriyati, ibu Toha yang sempat dihubungi Toha melalui sambungan telepon mengungkapkan kerinduannya yang mendalam kepada Toha dan adiknya. “Namun mau bagaimana lagi. Kan juga untuk menjaga keselamatanmu dan masyarakat desa. Ibu takut juga kalau nanti di jalan ada apa-apa. Makanya tidak usah mudik dulu,” kata Misriyati.

Saat Toha meminta kepada ibunya untuk melakukan panggilan video saat Lebaran nanti, Misriyati menjawab justru mereka harus melakukan panggilan video untuk saling bersilaturahim. “Lebaran nanti harus video-call. Yang penting kami di sana selamat dan hati-hati dengan adikmu,” pesan Misriyati.
Sumber: republika.co.id

Indonesia Butuh 1 Juta PCR Deteksi Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/ BRIN), Bambang PS Brodjonegoro mengatakan minimal perlu satu juta untuk uji polymerase chain reaction (PCR) deteksi Covid-19di Indonesia.

Menristek Bambang mengatakan Jerman melakukan 15.000 tes PCR per satu juta penduduk, Jepang dengan 509 tes PCR per satu juta penduduk, dan Korea dengan 8.000 tes PCR per satu juta penduduk. “Kalau mencoba membuat kita setara dengan negara-negara tersebut, mungkin idealnya satu juta ya, minimal satu juta tes Indonesia atau kalaupun mau dikurangi ratusan ribu, tapi kalau bisa satu juta akan lebih baik,” kata Menristek Bambang dalam bincang yang ditayangkan secara langsung di Jakarta, Jumat (8/5).

Menristek menuturkan belum ada formulasi pasti mengenai jumlah sampel dari total penduduk suatu negara untuk melakukan uji PCR deteksi Covid 19. Sementara Amerika, Rusia, Turki, Inggris, dan Spanyol rata-rata sudah melakukan lebih dari satu juta uji PCR.

Saat ini, pemerintah Indonesia mengupayakan 10.000 tes spesimen per hari dengan metode PCR. Namun, belum bisa terpenuhi karena masih ada isu keterbatasan sumber daya manusia (SDM) terutama untuk laboratorium yang melakukan pengujian PCR.

“Yang paling susah adalah yang bekerja di lab Bsl-2, karena ini bukan sembarang lab. Ini lab yang punya safety (keamanan) yang cukup serius, cukup tinggi sehingga teknisinya harus dilatih dulu, kan kalau analisa bisa di ‘on the spot’ atau biasanya dikembalikan ke rumah sakit atau dikembalikan ke Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan),” ujarnya.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pelatihan untuk relawan di bidang uji PCR. Dari 800 peserta pelatihan, sudah 600 orang dilatih, sehingga sisa 200 lagi yang akan mengikuti pelatihan. Untuk menurunkan kurva Covid 19 pada bulan Mei 2020, Menristek Bambang menuturkan harus dilakukan tes masif untuk deteksi Covid 19 guna melihat peta penyebaran Covid 19.

Kemristek mendukung upaya itu melalui tes cepat dan uji PCR, serta kapasitas laboratorium untuk melakukan pemeriksaan PCR.

Sumber: republika.co.id

ABK Dilarung ke Laut, Bukti Lemahnya Perlindungan terhadap WNI

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetyani menilai peristiwa dilarungnya tiga warga negara Indonesia dari kapal berbendera Cina sebagai bukti lemahnya perlindungan tenaga kerja Indonesia. Terutama pada tenaga kerja di sektor perikanan.

“Masih lemah dan banyak catatan yang harus diperbaiki. Mulai dari pendaftaran tenaga kerja, penyaluran tenaga kerja oleh agen atau PPTKIS sampai saat mereka bekerja di kapal atau industri perikanan,” kata Netty kepada Republika.co.id, Jumat (8/5).

Ia menilai peristiwa meninggalnya empat ABK WNI tersebut ibarat fenomena gunung es yang tampak sedikit, namun di lapangan sangat sering terjadi. Padahal, konstitusi mengamanatkan negara harus hadir melindungi segenap jiwa dan raga seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada.

“Pekerjaan sebagai ABK sangat rentan mengalami kejadian kecelakaan kerja, pelanggaran SOP, human trafficking, eksploitasi tenaga kerja hingga pelanggaran HAM,” ujarnya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut meminta pemerintah melalui Kemenaker, Kemenlu, BP2MI, serta kementerian dan lembaga terkait segera merespon dan membentuk tim untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Jika ditemukan ada pelanggaran hukum, Netty mendesak agar pemerintah menunjukkan marwah bangsa sebagai bangsa maritim yang kuat.

“Jangan sampai ada lagi eksploitasi atas nama apapun di belahan dunia manapun,” tuturnya. Selain itu, ia juga menyarankan pemerintah untuk memperkuat pengawasan dan memberikan perlindungan kepada para ABK. Ia berharap perlindungan terhadap ABK dan pekerja migran Indonesia (PMI) secara keseluruhan harus dilakukan dengan terukur dan terencana.

Terakhir, Netty meminta pemerintah untuk melakukan pendampingan baik kesehatan, psikologis, maupun hukum bagi ABK yang masih selamat. Pemerintah harus memastikan para ABK sehat secara fisik dan psikis. “Kemudian gali informasi terkait kemungkinan pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan penyelenggara dan penyalur sehingga kasus ini menjadi terang benderang,” ujarnya.

Ekonomi Anjlok 14 Persen, Inggris Menuju Resesi

LONDON(Jurnalislam.com) — Bank of England telah memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 akan mendorong ekonomi Inggris ke arah resesi terdalam dalam catatan. Ekonomi Inggris menyusut 14 persen tahun ini, berdasarkan pelonggaran lockdown pada bulan Juni.

Skenario yang disusun oleh Bank untuk menggambarkan dampak ekonomi mengatakan, bahwa Covid-19 secara dramatis mengurangi lapangan kerja dan pendapatan di Inggris. Regulator memilih dengan suara bulat untuk mempertahankan suku bunga pada rekor terendah 0,1 persen, dilansir di BBC, Kamis (7/5).

Namun, Komite Kebijakan Moneter (MPC) yang menetapkan suku bunga, terpecah pada apakah akan menyuntikkan lebih banyak stimulus ke dalam perekonomian.

Dua dari sembilan anggotanya memilih untuk meningkatkan putaran pelonggaran kuantitatif terbaru dengan 100 miliar pound menjadi 300 miliar pound. Analisis Bank didasarkan pada langkah-langkah jarak sosial yang secara bertahap dihapus antara Juni dan September.

Laporan Kebijakan Moneter terbaru menunjukkan, ekonomi Inggris terjun ke dalam resesi pertama dalam lebih dari satu dekade. Ekonomi menyusut sebesar 3 persen pada kuartal pertama 2020, diikuti oleh penurunan 25 persen yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tiga bulan hingga Juni.

Ini akan mendorong Inggris ke dalam resesi teknis, yang didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut dari penurunan ekonomi.

Bank sentral mengatakan, pasar perumahan terhenti, sementara belanja konsumen telah turun 30 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Untuk tahun secara keseluruhan, ekonomi diperkirakan berkontraksi sebesar 14 persen. Ini akan menjadi penurunan tahunan terbesar dalam catatan, menurut data Office for National Statistics (ONS) sejak 1949.

Ini juga akan menjadi kontraksi tahunan paling tajam sejak 1706, menurut data Bank of England yang direkonstruksi kembali ke abad ke-18.

Sementara pertumbuhan Inggris diperkirakan akan pulih pada 2021 hingga 15 persen, ukuran ekonomi diperkirakan tidak akan kembali ke puncak pra-virusnya hingga pertengahan tahun depan.

Gubernur Bank of England, Andrew Bailey memperkirakan, kerusakan permanen dari pandemi itu relatif kecil. “Ekonomi kemungkinan akan pulih jauh lebih cepat daripada pulih dari krisis keuangan global,” katanya.

Bailey juga memuji tindakan pemerintah untuk mendukung pekerja dan bisnis melalui subsidi upah, pinjaman dan hibah. Dia mengatakan keberhasilan skema ini dan stimulus Bank Dunia berarti akan ada jaringan parut (kerusakan minimal) terbatas pada ekonomi.

Sumber: republika.co.id

Tak Pakai Masker, Berpotensi 75 Persen Tularkan Virus Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan orang pembawa virus Covid-19 yang tidak menggunakan masker berpotensi menularkan virus. Penularannya bisa capai 75 persen kepada orang lain.

“Beberapa pengamat mengatakan bahwa seseorang yang membawa virus, seseorang yang di dalam tubuhnya terdapat virus dan tidak menggunakan masker, orang di sekitarnya memiliki peluang tertular bisa sampai 75 persen,” kata Yurianto dalam konferensi video yang diadakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Kamis (7/5).

Karena, ketika orang yang memiliki virus Covid-19 di dalam tubuhnya pergi keluar, droplet atau percikan yang dikeluarkan akan mengenai semua benda. “Namun, manakala dia menggunakan masker, bisa ditekan sampai dengan 5 persen,” tuturnya.

Oleh karena itu, Yurianto meminta semua orang yang harus terpaksa keluar rumah, harus menggunakan masker. Penggunaan masker ini untuk melindungi diri dan orang lain agar tidak tertular atau mungkin menularkan penyakit itu.

Ia juga meminta masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. Jika harus keluar, batasi waktu di luar rumah dan sesegera mungkin kembali ke rumah. Sesampai di rumah, bersihkan diri, cuci tangan dan ganti baju.

“Jika memang terpaksa harus keluar rumah hindari kerumunan orang yang cukup banyak, hindari berdesak-desakan di kendaraan umum, dan sampai di rumah secepatnya,” ujarnya.

Masyarakat juga harus membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Mencuci tangan adalah kunci untuk membunuh, merusak dan mematikan virus yang mencemari tangan. Menjaga jarak juga dapat melindungi diri dari percikan saluran pernapasan.

“Mungkin kita bisa melindungi diri dengan menggunakan masker untuk mencegah droplet langsung, tetapi cemaran pada benda di sekitar kita yang kemudian tidak sadar kita pegang dan kemudian kita gunakan tangan yang tercemar ini untuk memanipulasi mulut, hidung, mata, penularan itu akan menjadi sangat efektif,” tuturnya.

Masyarakat juga harus sama-sama mendukung dan mematuhi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Semua langkah pencegahan itu harus dilakukan secara menyeluruh dan bersama-sama dengan penuh tanggung jawab dan disiplin kuat agar bisa memutus mata rantai penularan Covid-19.

Sumber: republika.co.id

Bupati Bogor Abaikan Aturan Kemenhub Soal Transportasi Umum

BOGOR(Jurnalislam.com) — Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan akan tetap memperketat operasional moda transportasi di wilayahnya. Ade Yasin mengabaikan aturan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang kembali membuka seluruh moda transportasi mulai 7 Mei 2020.

“Kalau saya sih masih melaksanakan pengetatan baik kendaraan pribadi maupun umum. Kami tidak ingin mengambil risiko lebih tinggi terhadap penularan virus ini,” ujarnya, Kamis (7/5).

Bahkan, ia mengkritisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 Hijriah untuk Pencegahan Penyebaran Covid-19. Menurutnya, peraturan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi penyebaran Covid-19 di masing-masing daerah.

“Harusnya dilihat dulu kurvanya di daerah itu sudah melandai apa belum, rata-rata kan (di Kabupaten Bogor) setiap hari masih ada yang positif. Artinya justru angkutan umum itu adalah tempat paling mudah menularkan virus,” kata Ade Yasin yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bogor itu.

Ade Yasin menganggap aturan dari Kemenhub itu akan menghambat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ia bahkan mengakui kerap direpotkan dengan aturan yang berubah-ubah di level pemerintah pusat.

“Jadi ketika kita melaksanakan suatu aturan besoknya berubah lagi ini cukup membingungkan, bagaimana kita akan cepat menghabisi virus ini kalau beberapa regulasi tumpang tindih,” tuturnya.

Ia berharap ke depan ada harmonisasi mengenai regulasi dari tingkat pemerintah pusat hingga pemerintah daerah, sehingga penanganan Covid-19 bisa berjalan maksimal. “Yang kami minta kepada pemerintah pusat, mendukung apa yang kami lakukan, karena yang di lapangan ini kami yang melihat, sulitnya mengedukasi masyarakat agar patuh terhadap aturan,” kata Ade Yasin.

Sumber: republika.co.id

 

Tips Hindari Dehidrasi Saat Puasa

DUBAI(Jurnalislam.com) — Mengkonsumsi banyak cairan sangat penting untuk setiap fungsi tubuh. Cairan membantu membawa zat gizi ke sel tubuh, membersihkan bakteri dan racun dari kandung kemih, mempertahankan fungsi ginjal yang tepat, dan mencegah sembelit.

Hidrasi yang tepat memaksimalkan performa atletik, memacu tingkat energi dan menunda kelelahan otot. Kebanyakan orang yang berpuasa selama Ramadhan akan mengalami dehidrasi ringan, terutama jika cuacanya panas. Hal ini dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, sembelit, dan kurangnya konsentrasi.

Seperti dikutip Arab News, penelitian memperlihatkan satu persen dehidrasi sama dengan satu persen berat tubuh kehilangan air. Hal ini akan berdampak negatif terhadap fungsi mental dan fisik. Ingatlah Anda mungkin mengalami dehidrasi bahkan sewaktu duduk di meja tanpa banyak upaya fisik.

Rahasia hidrasi

Mulai iftar dengan dua gelas air. Setidaknya minum 1,5 liter air sepanjang malam sampai sahur. Meski demikian, jangan terlalu banyak minum air, karena hal ini akan membuat ginjalmu mengalami tekanan.

Bagi mereka yang memiliki bertanya-tanya apakah yang terbaik minum air hangat atau dingin? Jika Anda berkeringat, kepanasan atau baru saja selesai berolahraga, air dingin akan menyegarkan.

Namun, air hangat di sisi lain akan mengurangi haus dan membantu pencernaan. Air hangat membantu sirkulasi darah yang sangat nyaman sebagai relaksan otot dan bantuan terhadap sembelit.

Air boleh diminum kapan saja. Anda bisa menetapkan jadwal untuk minum atau bisa dikaitkan dengan tugas tertentu sebagai pengingat misalnya, setiap kali Anda pergi ke dapur atau di antara jeda iklan TV.

Cerdaslah terhadap cairan yang Anda minum

Minuman tradisional Ramadhan seperti minuman asam manis (erk sous) dan minuman asam membantu menurunkan cairan asam. Licorice tidak direkomendasikan bagi mereka memiliki tekanan darah tinggi.

Jus yang berasal dari apricot-dikenal sebagai Qamar al-Din dikenal untuk membantu dengan gerakan usus dan membersihkan usus. Dan ingatlah semua minuman di atas mengandung gula dan kalori yang tinggi. Minumlah dengan bijak.

Minuman berbahan dasar susu

Ide cerdas dapat dipertimbangkan adalah minum susu atau yoghurt. Mereka menyediakan kalsium serta mineral dan vitamin lain yang kemungkinan besar tidak diminum pada makanan utama selama bulan suci ini.

Sup

Jangan melewatkan sup saat iftar, terutama jika diencerkan dengan kaldu, karena tidak hanya menghidrasi tubuh, tetapi juga menyediakan elektrolit yang hilang selama puasa.

Buah dan sayuran

Buah dan sayuran baik hidrasi maupun sarat dengan mineral, vitamin dan antioksidan. Contoh buah dan sayuran yang kaya air mencakup: mentimun (96 persen air), tomat (95 persen), bayam (93 persen), semangka (92 persen), nanas (87 persen), jeruk (86 persen), dan apel (86 persen). Waspadalah terhadap smoothie buah yang telah ditambahkan susu, gula, kacang-kacangan atau havermout karena mengandung kalori.

Jus bit

Jus bit sangat direkomendasikan dikonsumsi selama Ramadhan, karena secangkir jus bit biasanya mengandung sekitar 100 kalori dan 25 gram karbohidrat. Bit merupakan sumber yang baik untuk folat, kalium, kalsium, serat, antioksidan, dan nitrat. Mereka tidak hanya hidrasi, tetapi juga menurunkan tekanan darah dan meningkatkan stamina para atlet seraya mereka membantu mengangkut oksigen dengan merangsang sirkulasi darah.

Jus bit memiliki gizi vitamin dan mineral. Namun, kandungannya berkurang dalam bit yang dimasak. Membuat jus dari bit mentah adalah pilihan yang lebih baik.

Sumber: republika.co.id

PSBB Jabar, Kendaraan dan Orang di Jalan Masih Ramai

PURWAKARTA(Jurnalislam.com) – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diterapkan secara menyeluruh di Jawa Barat pada Rabu (7/5). Pada hari kedua penerapan pembatasan pergerakan manusia tersebut jalan-jalan raya justru tambah ramai.

Dengan diadakannya PSBB menyeluruh, semua 27 kota/kabupaten di Jabar mulai melakukan PSBB. Sebelumnya, PSBB hanya diterapkan di Bodebek dan Bandung Raya sejak 29 April lalu.

Pada Kamis (7/5) tercatat sebanyak 1.320 kasus Covid-19 terkonfirmasi di Jabar. Jumlah itu bertambah 20 pasien dari hari sebelumnya. Sedangkan jumlah kesembuhan mencapai 177 pasien, dan kematian 90 orang, bertambah tiga orang dari hari sebelumnya.

Angka penularan di Jabar sempat melandai selepas penerapan PSBB di Bodebek dan Bandung Raya. Penularan berkisar pada angka 5 hingga paling banyak 30 penularan perhari pada 2 Mei. Namun, terjadi lonjakan pada 4 mei sebanyak 180 kasus kemudian turun lagi jadi 48 kasus pada 5 Mei dan 20 kasus pada 6 Mei serta 56 kasus pada 7 mei.

Pemerintah Kabupaten Purwakarta melansir, pada Kamis (7/5) masih banyak warga yang melanggar aturan yang ditetapkan dalam PSBB.  “Masih banyak warga yang belum paham tetang PSBB. Jadi kita masih kita edukasi masyarakat agar patuh terhadap aturan,” kata Kasatlantas Polres Purwakarta AKP Zanuar Cahya Wibowo, kemarin.

Ia mengatakan, sejak Rabu (6/5) personelnya telah mulai berjaga di titik cek kendaraan lalu lintas. Nyatanya tetap saja  masih banyak warga yang kedapatan melanggar aturan PSBB. Ia mengatakan ada 22 cek poin yang disiapkan Polres Purwakarta.

Di titik-titik ini kendaraan yang lalu lalang akan diperiksa sesuai dengan aturan PSBB. Mulai dari penggunaan masker, arah tujuan, hingga jumlah penumpang.  Menurut Zanuar, pada pelaksanaan PSBB ini kebanyakan pelanggaran masih berupa tidak menggunakan masker saat berkendara. “Saat ini sanksinya masih bersifat teguran,” ujarnya.

Ia menambahkan pihaknya mengevaluasi pelaaksanaan PSBB tiap empat hari sekali. Sehingga penerapannya masih sesuai aturan awal dan belum ada perubahan.

 

Sumber: republika.co.id

ACT Salurkan Bantuan untuk Guru Honorer dan Pendidik Terdampak Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sejak wabah pandemi Covid-19 banyak sektor mengalami perubahan yang signifikan.

Tidak hanya para pekerja harian di sektor informal saja yang sangat terdampak wabah Covid-19 secara perekonomian, para pendidik dengan status honorer pun turut merasakannya.

Banyak para guru yang harus terpaksa dirumahkan atau mengalami penurunan pendapatan, beralih profesi menjadi tukang parkir, pemulung, dan lain-lain sekadar menyambung hidup. Hal ini menjadi catatan tersendiri di bulan pendidikan.

Setelah adanya imbauan untuk tidak berkegiatan di luar rumah, mayoritas sekolah-sekolah diliburkan.  Penyaluran bantuan operasional sekolah pun turut terhambat. Alhasil, para guru honorer yang biasanya mendapatkan tunjangan dari dana ini pun otomatis tidak mendapatkan haknya. Terlebih, banyak dari mereka yang diupah berdasarkan dari kehadiran dalam sebulan.

Salah satunya kisah Sholichudin, seorang guru yang mengajar pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Ma’mur Nikmah, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Delapan tahun sudah ia mengabdikan dirinya menjadi guru. Tak besar gajinya, kurang dari 500 ribu rupiah per bulan.

Sejak wabah Covid-19 melanda, Sholichudin terpaksa dirumahkan. Sudah dua bulan ini ia melakukan kegiatannya dari rumah.

Warung kelontong yang ia kelola pun mulai sepi pembeli. Saat ini, Sholichudin berjualan kurma untuk menambah penghasilan. Dari sanalah ia mendapatkan selisih keuntungan untuk menghidupi keluarga. Namun, menurut Sholichudin penjualan kurma yang identik dengan Ramadan kini menurun akibat pandemi.

Kepala Cabang Global Zakat – ACT Tegal Siswartono mengatakan, bantuan biaya hidup ini merupakan bentuk apresiasi kepada guru yang telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. “Dedikasi guru-guru yang telah mengabdikan dirinya perlu mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Selain  di Tegal, terdapat pula kisah Arni dan Ahmad Faizal yang merupakan guru honorer di SDN 410 Akkotengeng, Sulawesi Selatan. Arni dan Faizal merupakan guru yang tinggal di Dusun Totakki, Desa Akkotengeng, Kecamatan Sajoanging, Wajo.

Bertahun-tahun mereka telah mengabdi menjadi guru dalam kondisi ekonomi yang prasejahtera. Selain menjadi guru, Arni sendiri merupakan seorang ibu rumah tangga, sedangkan Faizal merupakan petani.

Dengan adanya program Sahabat Guru Indonesia dari Global Zakat – ACT, Faizal mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Ia berharap, perhatian ke guru honorer dapat terus dilakukan. “Ini merupakan semangat bagi kami untuk terus membina anak didik. Pengalaman paling tak terlupakan itu, beberapa tahun lalu sekolah ini tidak memiliki perahu. Jadi harus jalan kaki sejauh 7 kilometer untuk mengajar ke sekolah,” kenang Faizal.