Rais Aam PBNU Apresasi MUI Sukses Jadi Wadah Titik Temu Ormas Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam. Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar.

Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

 

Dia ingin, MUI terus istiqomah mengemban peran sebagai tenda besar ini. Perbedaan-perbedaan antra ormas Islam satu dengan yang lainnya semestinya bisa dijembatani oleh MUI.

Ibarat benang-benang yang berupa warna, tugas MUI menjahit benang-benang itu menjadi pakaian yang enak dipakai dan nyaman dipandang.

 

“MUI diharapkan terus istiqomah memerankan fungsi dalam menjahit perbedaan yang ada menjadi satu model pakaian yang satu, yang enak dipakai, dan elok dipandang. Pengurus MUI ibarat desainer handal yang meracik warna-warni kain menjadi satu kesatuan dalam satu tema bersatu dalam perbedaan, mencari titik temu atas perbedaan yang bisa disatukan, dan mewujudkan sikap saling memahami atas perbedaan yang tak mesti harus disatukan,” katanya.

 

Sebagai wadah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim, Kiai Miftah menilai MUI memiliki peran sangat penting.

Utamanya dalam menjalankan perannya sebagai melting pot, titik temu, rumah besar Umat Islam yang terdiri dari banyak kamar namun disatukan dengan dinding ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, MUI selama ini telah menjalankan peran sebagai majelis ini dengan baik.

 

“Komitmen ukhuwwah Islamiyyah inilah yang menjadi titik temu dalam warna warni organisasi ke-Islaman di Indonesia. Dan saya melihat MUI telah menjalankan fungsi ini secara sangat baik. MUI telah memfungsikan dirinya sebagai “majlis”, sebagai tempat duduk, di dalamnya berhimpun berbagai ormas Islam yang berbeda-beda, untuk meneguhkan khidmah persatuan umat dan bangsa,” ungkapnya.

Muhammadiyah Sebut MUI Berperan Rekatkan Ukhuwah Umat dan Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., berharap agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa.

 

“Merekatkan ukhuwah dalam berbagai aspek dan golongan serta menjadi uswah hasanah di dalam memajukan dan membangun kebersamaan di republik tercinta ini,” kata Prof Haedar dalam sambutannya di acara Milad MUI ke-45 yg diadakan secara virtual, Jumat (07/08) malam.

 

Indonesia sebagai negara dengan masyarakat muslim terbesar di Dunia haruslah memiliki  berbagai macam keunggulan pada setiap aspek kehidupan dengan tetap berbasis akhlaq mulia dan kecerdasaan keilmuan.

 

Menurutnya, kuantitas mayoritas harus tetap diimbangi dengan kualitas, terutama penguasaan teknologi dan peran kemanusiaan dalam kehidupan umat dan bangsa.

 

“Tidak mungkin kita umat Muslim sebagai kekuatan mayoritas dapat berperan strategis kalau kita masih tertinggal dalam setiap bidang kehidupan,” ungkap dia.

 

Prof. Haidar juga menyampaikan harapan dan doa terbesarnya kepada MUI untuk memajukan Indonesia, mencerahkan umat, dan membawa pesan rahmatan lil alamin bagi kemanusiaan alam semesta

 

“Mudah-mudahan seluruh ulama, zuama dan cendikiawan Muslim yg berhimpun di MUI tetap menjaga dan menjadi kekuatan yang menjunjung tinggi marwah Islam untuk Rahmatan Lil Alamin,” pungkasnya.

Festival Ekonomi Syariah 2020 Diharap Jadi Stimulus Pemulihan Ekonomi Indonesia

BATU(Jurnalislam.com)–Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berharap Festival Ekonomi Syari’ah 2020 bisa menjadi stimulus bagi proses pemulihan perekonomian di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Khofifah saat menghadiri Kick Off 7th ISEF 2020 yang dibuka secara virtual bersama Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin di Ballroom Hotel Amarta Hills Batu pada Jumat (7/8).

 

Pada kesempatan ini Jawa Timur mendapat kehormatan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESYar) 2020 regional Jawa yang akan digelar pada Oktober mendatang pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020.

 

Khofifah menjelaskan, penyelenggaraan ekonomi syariah di Jawa Timur secara aktif telah dilakukan di berbagai aspek. Dimulai dari produk fashion, makanan halal, hotel dan wisata syariah, UMKM, produk pertanian dan perbankan syariah.

 

Mengingat di Jawa Timur terdapat lebih 6000 pesantren, maka pemberdayaan ekonomi pesantren di Jawa Timur terus didorong. Khususnya untuk pesantren antara lain dilakukan melalui program OPOP (One Pesantren One Product), penyelenggaraan training Juleha (Juru Penyembelihan Halal) serta inisiasi produk halal, keuangan syariah, dana sosial syariah dan ikhtiar penguatan ekonomi syariah lainnya.

 

Melalui FESYar 2020, diharapkan juga bisa memberi dampak dan manfaat yang besar bagi masyarakat secara luas.

 

“Mudah-mudahan FESYar 2020 ini bisa memberi manfaat dan keberkahan yang luas bagi bangsa Indonesia,” harap Khofifah.

 

Adapun, Wapres RI KH. Ma’ruf Amin juga menyampaikan harapan besar agar Indonesia dapat menjadi referensi negara-negara lain di dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

 

“Saya sangat mendukung penyelenggaraan ISEF sebagai upaya mendorong ekonomi dan keuangan syariah agar menjadi arus utama kebijakan nasional dan internasional. Sekaligus menjadikan Indonesia sebagai referensi dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” ujar mantan ketua MUI ini.

Reporter: Budi

Pimpinan MUI Provinsi Sampaikan Tahniah 45 Tahun MUI

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-45 diadakan secara virtual via zoom. Diikuti oleh seluruh pimpinan dan pengurus MUI Provinsi dari Aceh sampai Papua, Jumat (07/08) malam.

Perayaan Milad ini berlangsung semakin khidmat dengan kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia yang juga merupakan Ketua Umum non-aktif MUI. Terlebih dengan limpahan doa yang bertabur untuk MUI dari segenap jajaran pengurus MUI wilayah se-Indonesia.

Ketua MUI Provinsi DKI Jakarta KH Munahar Muchtar, memaparkan bahwa kehadiran MUI ibarat seorang engineer, yaitu sebagai alat kontrol utama yang bisa melihat hal-hal yang menyimpang lalu memperbaiki dan menjadikannya kembali lurus.

“MUI harus berani menyampaikan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah, agar umat ini menjadi ummatan wahidah,” pungkasnya.

Sedangkan Ketum MUI Papua KH Syaiful Islam Al Payage menyampaikan, doa dan harapan dari masyarakat Indonesia bagian timur. Doa mereka agar MUI tetap istiqomah menjadi garda terdepan menjaga bangsa Indonesia, membangun dan memelihara kesejahteraan dan kejayaan umat dan bangsa Indonesia.

“Ini merupakan amanah dari pendiri bangsa terhadap kita sebagai anak bangsa agar memperjuangkan kemakmuran umat,” pungkasnya.

Ketua Umum MUI Jawa Timur KH Abdussomad Bukhori menyampaikan bahwa di usia 45 tahun, MUI semakin mantap eksistensinya baik shodiqul hukumah maupun khodimatul ummah. Ia mengambil contoh dalam pengawalan kasus RUU HIP, MUI mampu menjadi kekuatan yang menyatukan umat untuk mengambil keputusan yg sama menghadapi permasalahan yang menyangkut kebebasan berbangsa dan bernegara.

“Harapan umat kepada MUI sangat tinggi bahkan melebihi apa yang menjadi peran dan kapasitas MUI,” ungkapnya.

Buya Gusrizal Gazahar, Ketua MUI Sumatera Barat mengatakan posisi umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia menjadikan MUI semakin matang. Maraknya ta’wilan jahilin, yaitu takwilan-takwilan yang dibuat oleh orang yang tak mengerti ajaran Islam menjadikan peran dan posisi MUI sangat dibutuhkan.

Ia juga berpesan agar independensi MUI jangan sampai ditawar oleh siapapun dalam keadaan bagaimanapun. “Bila ini berjalan maka tugas-tugas kemajelisan akan bisa dilanjutkan dalam ridho Allah swt,” ucapnya.

Ketua Umum MUI Kalimantan Timur, Drs. KH. Hamri Haz mengungkapkan kebangaannya kepada MUI yang dalam kemajemukan mampu mengawal umat Islam dalam menanamkan aqidah Islamiyah. Selalu optimis membimbing umat untuk menjalankan ibadah serta menuntut umat Islam dalam mengembangkan akhlakul karimah.

 

 

PT KAI Daop 9 Jember Berikan Layanan Rapid Tes Murah

JEMBER (Jurnalislam.com) – PT KAI Daop 9 Jember menyediakan layanan rapid tes murah seharga 85 ribu bagi calon penumpang kereta api jarak jauh di Stasiun Jember terhitung dari Jumat 7 Agustus 2020. Demikian penjelasan Manajer Humas PT KAI Daop 9 Jember Mahendro Trang Bawono.

 

Menurut Mahendro, layanan ini merupakan salah satu layanan yang diberikan PT KAI Daop 9 Jember berkejasama dengan PT Rajawali Nusindo di masa adaptasi kehidupan baru. Hanya saja untuk hari ini baru ada di Stasiun Jember. Untuk Stasiun Ketapang Kabupaten Banyuwangi akan dilaksanakan mulai tanggal 14 Agustus mendatang.

 

Layanan rapid tes tersebut, kata Mahendro dibuka setiap hari dan dikhususkan bagi calon penumpang yang sudah memiliki kode booking. Jika dari hasil rapid tes tersebut ditemukan ada calon penumpang yang reaktif pihaknya akan berkoordinasi dengan gugus tugas covid-19. Untuk biaya pembelian tiket yang bersangkutan akan dikembalikan secara penuh.

 

Mahendro berharap calon penumpang kereta api yang hendak menggunakan layanan rapid tes tersebut bisa datang lebih awal untuk menghindari adanya antrean panjang. Calon penumpang juga bisa melakukan rapid tes satu hari sebelum jadwal keberangkatan. (Bud1)

Sekum Muhammadiyah Abdul Mu’ti Diangkat Jadi Guru Besar Pendidikan Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti berhasil meraih kenaikan jabatan menjadi Profesor dalam bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

“Alhamdulillah kami PP Muhammadiyah dan saya selaku pribadi mengucapkan syukur kepada Allah sekaligus selamat atas keluarnya SK Mendikbud untuk Mas Abdul Mu’ti, sebagai Guru Besar sehingga resmi menjadi Peofessor. Selamat juga kepada keluarga atas kebahagiaan tersebut,” ucap Haedar pada Sabtu (8/8) lansir Muhammadiyah.or.id.

Haedar percaya sejak awal Prof Abdul Mu’ti tinggal menunggu waktu tibanya SK Guru Besar tersebut.

“Sebab ilmunya sudah lebih dari cukup dari jabatan tertinggi akademik tersebut,” imbuh Haedar.

Haedar percaya, Prof Mu’ti akan terus berkiprah di dunia akademik dan keilmuan secara luas, selain di Persyarikatan.

Diakhir, Haedar juga menuturkan bahwa para pimpinan Muhammadiyah saat ini dan ke depan semakin dituntut kedalaman dan keluasan ilmumya dalam membawa kapal besar Muhammadiyah ini sebagai gerakan Islam modern terbesar bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia Islam.

“Sekali lagi, kami sampaikan selamat, insya Allah bermanfaat bagi kemajuan Perayarikatan, umat, dan bangsa,” tutup Haedar.

 

Ekonom Minta Pemerintah Siapkan Kebijakan Skenario Resesi

JAKARTA(JUrnalislam.com) – Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebutkan, ekonomi Indonesia tidak akan terhindar dari resesi. Proyeksi ini setelah melihat penerapan jaring pengaman sosial yang kurang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Tauhid memprediksi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga akan kontraksi 1,7 persen (yoy), setelah tumbuh negatif 5,32 persen (year on year/ yoy) pada kuartal kedua lalu. Artinya, terjadi kontraksi dua kuartal berturut-turut secara tahunan (yoy) yang menandakan resesi.

Bahkan, Tauhid menjelaskan, tekanan pada ekonomi Indonesia sebenarnya terlihat dari pertumbuhan secara kuartalan yang negatif. “Ini berarti menandakan, bansos tidak ada efek, kurang nendang dan masih kurang efektif untuk dijalani,” tuturnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (6/8).

Tauhid menganjurkan, pemerintah segera menyiapkan skenario resesi, alih-alih skenario pemulihan ekonomi. Pemerintah juga sebaiknya realistis dan tidak berlaga optimistis, sehingga bisa memberikan kesempatan bagi masyarakat maupun dunia usaha untuk menyiapkan skenario pencegahan.

Pemerintah patut belajar dari negara lain yang berpotensi dan sudah menghadapi resesi. Tauhid menyebutkan, mereka berani menyatakan jika pertumbuhan ekonomi negatif dan akan masuk ke jurang resesi.

“Ini bertujuan untuk membangun mitigasi dari masyarakat dan dunia usahanya. Australia, Korea Selatan misalnya, dari jauh hari sudah menyatakan akan resesi,” katanya.

sumber: republika.co.id

Mahasiswa Indonesia di Lebanon Ajak Masyarakat Bantu Korban Ledakan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Libanon tengah berduka. Sebuah ledakan dahsyat telah mengguncang Beirut, ibu kota dari negara tersebut pada Selasa (4/8). Hingga saat ini, sudah 135 orang dinyatakan meninggal dunia dan 5000 orang luka-luka.

Ledakan ini diduga dipicu oleh  kebakaran yang berawal dari petasan yang tersulut di gudang pelabuhan Beirut, yang menyimpan 2.750 ton senyawa amonium nitrat. Senyawa kimia itu memiliki daya ledak tinggi dan kerap dipakai untuk bahan baku pembuatan pupuk dan peledak.

Jumlah kerugian akibat ledakan dahsyat itu ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Akibat dari ledakan ini, sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal akibat rusak terkena dampak ledakan.

Menurut mahasiswa Indonesia di Libanon, Fitra Alif, ledakan ini terjadi di gudang penyimpanan yang terdapat di pelabuhan Beirut.

“Di dalam gudang tersebut terdapat zat amonium nitrat, zat tersebut digunakan sebagai bahan pupuk atau bahan peledak. Sensitif sekali untuk meledak apalagi jika terkena percikan api. Namun sampai saat ini pemerintah Libanon belum mengeluarkan rilis resmi dari ledakan ini,” ujar Alif dalam live Instagram antara dirinya dengan platform crowdfunding SedekahOnline.com, Kamis (6/8) sore.

Ia melanjutkan, saat terjadi ledakan, ada 65 mahasiswa Indonesia di bawah naungan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Libanon yang sedang berada di negara ini.

“Alhamdulillah semuanya selamat. Saya sendiri kebetulan berada di Tripoli, sejauh 80 kilometer dari Beirut. Ada teman yang merasakan getaran dan dentuman seperti gempa, dengan angin kencang, karena kebetulan dia berada di radius lima kilometer dari lokasi kejadian,” papar mahasiswa jurusan Syariah Islamiyah di Universitas Tripoli dan sudah empat tahun berada di Libanon ini.

Menurut Alif, proses evakuasi dari ledakan masih berlangsung hingga saat ini. Ia juga bersyukur tidak ada korban meninggal yang berasal dari warga negara Indonesia.

“Alhamdulillah tidak ada korban meninggal dari WNI, namun ada dua orang yang luka-luka. Yaitu satu pasien yang sedang dirawat di RS Rafic Hariri Beirut, itu mengalami luka ringan, dan sudah ditangani. Lalu ada TKI yang sedang bekerja di radius sekitar dua hingga tiga kilometer dari lokasi ledakan yang mengalami luka-luka cukup parah, namun sudah mendapat perawatan juga,” ujar Alif yang mengaku kuliah di Libanon untuk mengambil berkah negeri Syam yang sering didoakan oleh Rasulullah Saw.

Alif juga mengajak mahasiswa dan masyarakat Indonesia untuk mendukung dan membantu warga Beirut, Libanon bangkit dari keterpurukan akibat ledakan dahsyat tersebut.

“Bagi teman-teman yang ingin berdonasi bisa lewat SedekahOnline.com, karena di sini kami yang akan mengawal langsung ke lapangan ya. Insya Allah akan sampai dan tepat kepada korban-korban yang terdampak ledakan ini,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.

Sumber: republika.co.id

 

Akibat Pandemi, Angka Pengangguran di Australia Melonjak

SYDNEY(Jurnalislam.com) — Tingkat pengangguran di Australia diperkirakan akan mencapai puncaknya sekitar 10 persen sebagai akibat dari aturan pembatasan yang dirancang untuk memperlambat penyebaran virus corona baru. Hal itu diungkap Perdana Menteri Scott Morrison, Kamis (6/8).

Australia sebelumnya mengalami tingkat pengangguran hingga mencapai 9,25 persen tahun ini. Namun, setelah Victoria, negara bagian terpadat kedua di negara itu, memerintahkan penutupan perbatasan selama enam minggu di sekitar Melbourne, angka pengangguran akan mencapai puncaknya sekitar 10 persen, kata Morrison.

Angka tersebut akan meningkat jika jumlah penerima skema subsidi gaji dari pemerintah dihitung. Tingkat pengangguran efektif diperkirakan naik menjadi lebih dari 13 persen setelah sebelumnya diperkirakan hanya mencapai setinggi sekitar 11 persen.

“Itu sangat meresahkan tetapi itu tidak terduga,” kata Morrison kepada wartawan di Canberra.

“Langkah-langkah pembatasan ini akan menimbulkan dampak biaya yang sangat signifikan, dan akan berdampak pada upaya pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Sumber: repubika.co.id

DK PBB Bersidang Soal Kashmir, Pasca India Memanas

NEW YORK(Jurnalislam.com) — Dewan Keamanan PBB kembali membahas Kashmir untuk ketiga kalinya sejak India mencabut status semi-otonomi wilayah itu tahun lalu. Pakistan yang meminta agar isu ini dibahas.

Usai rapat virtual yang tertutup, DK PBB tidak mengambil tindakan atau mengeluarkan pernyataan apa pun. Tapi Pakistan mengatakan rapat ini menandakan isu Jammu dan Kashmir perselisihan internasional.

“Jammu dan Kashmir adalah perselisihan internasional yang jelas berada dalam agenda Dewan Keamanan dan membatalkan, klaim sepihak India sebelumnya yang menyatakan hal itu ‘urusan internal’,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi, Kamis (6/8).

Pada 5 Agustus 2019 lalu pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi mencabut status khusus semi-otonomi Jammu dan Kashmir. Modi yang berasal dari sayap nasionalis Hindu menghilangkan konstitusi dan perlindungan terhadap tanah dan pekerjaan warisan warga Kashmir.

Tindakan keras pemerintah dan pasukan keamanan India di Kashmir memicu gejolak amarah dan ekonomi di kawasan. “(Masyarakat internasional) harus menggunakan otoritas moral, hukum dan politik untuk meminta India mengembalikan impunitas dan menghentikan genosida terhadap rakyat Kashmir,” kata pidato Qureshi yang diedarkan Misi Pakistan di PBB.

Ia meminta India tak kembali ke jalur unilateral, berhenti melanggar hak asasi manusia dan perjanjian gencatan senjata, mengembalikan saluran komunikasi, mengizinkan lagi warga bergerak dan menggelar pertemuan massal. Pakistan juga meminta India membebaskan para pemimpin Kashmir.

Sumber: republika.co.id