UIN Bandung Wisuda Online 800 Lulusan

BANDUNG(Jurnalislam.com) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung mewisuda 800 lulusan pada Wisuda ke-78. Berbeda dari biasanya, wisuda kali ini digelar secara virtual melalui telekonferensi aplikasi zoom. Prosesi wisuda yang berlangsung Minggu (09/08) ini juga disiarkan kanal youtube dan facebook UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ke-800 wisudawan itu berasal dari: Fakultas Ushuluddin (57 orang), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (153); Fakultas Syariah dan Hukum (219); Fakultas Dakwah dan Komunikasi (89); Fakultas Adab dan Humaniora (61); Fakultas Psikologi (21); Fakultas Sains dan Teknologi (35); Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (52); serta program pascasarjana S2 (96) dan S3 (17).

Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke-78 lulusan Program Sarjana, Magister dan Doktor UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini dibuka Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS.

“Setelah lulus dari UIN SGD Bandung, tugas saudara berikutnya adalah mengabdi kepada masyarakat, untuk mendapatkan ridha Allah swt., mengamalkan ilmu yang saudara dapatkan dari bangku kuliah, dan kini saudara sudah menyandang gelar kesarjanaan, sebagai cendikiawan muslim yang Ulul Albab, memadukan antara dzikir dan fikir, mampu berfikir mendalam, substansial, dan peduli dengan problem yang dihadapi masyarakat,” pesan Nanat.

“Hendaknya sudara menjadi teladan yang baik. Jadilah pembuka lapangan pekerjaan, menjadi seorang wirausahawan, entrepreneur handal, hindari menjadi seorang pencari kerja kesanakemari tanpa ujung. Berbuatlah apa yang bisa dilakukan dan bermanfaat bagi umat, bangsa dan Negara. Rasulullah saw., bersabada Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada mansuia lainnya,” sambungnya.

Tugas Lulusan UIN 
Rektor UIN Bandung Mahmud menjelaskan, wisuda digelar secara virtual sebagai ikhtiar memutus mata rantai virus Corona. Dia berharap, pelaksanaan secara virtual tidak mengurangi kekhusyuan wisuda.

Mahmud berpesan, dalam menghadapi situasi seperti ini, lulusan UIN Sunan Gunung Djati harus tampil memberikan solusi dan bermanfaat di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Terkait Covid-19, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, secara lahir (medis) mengikuti aturan-aturan protokol Covid-19, yakni jaga jarak, bermasker, cuci tangan, di rumah aja. Kedua, pendekatan batin (agama) seperti berdoa setiap pagi dan sore, dawam wudhu dan juga jangan mendatangi tempat yang sudah terkena wabah, banyak beristighfar.

“Saya yakin, ketika saudara-saudara para lulusan bergerak tampil menyelesaikan persoalan wabah ini dengan dua pendekatan sesuai dengan kapasitas saudara, maka wabah korona dengan usaha keras kita dengan usaha cerdas kita melalui izin Allah maka wabah Corona akan hilang dari negeri yang kita cintai ini,” ujarnya.

Mahasiswa Inspiratif
Sebanyak 36 wisudawan yang lulus dengan IPK tertinggi dibacakan Wakil Rektor I Bidang Akademik, Rosihon Anwar. Salah satunya, Siti Rodiah, Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiayah dan Keguruan (FTK) dengan IPK 3,71.  Bersama orangtuanya, Siti dipanggil ke depan panggung untuk mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa insiratif berupa netbook dan beasiswa kuliah S2.

Meskipun berada dalam keterbatasan ekonomi, perempuan asal Malangbong Garut yang pernah bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan dan penjual gorengan ini berhasil menyelesaikan studinya dengan cepat (3,5 tahun) dengan prestasi yang dapat membanggakan keluarga dan kampus tercinta.

“Perasaan Siti setelah mendapatkan bantuan dan penghargaan laptop serta beasiswa S2, sangat bersyukur dan berterima kasih sekali kepada semua sivitas akademik yang telah memberikan dorongan motivasi dan dukungannya kepada Siti. Siti sangat senang dan bangga mendapatkan fasilitas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Harapannya semoga kedepannya Siti dapat menuntaskan S2 dengan lancar dan dengan nilai yang lebih memuaskan, sehingga dapat meningkatkan derajat orang tua, keluarga dan guru serta dapat membawa nama baik bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung,” pungkasnya.

 

MUI Diharap Jadi Teladan di Era Disrupsi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi menjelaskan bahwa milad (ulang tahun) merupakan momentum yang penting untuk melakukan konsolidasi organisasi, serta konsolidasi ide dan pemikiran.

Untuk hal demikian diperlukan tumbuhnya gagasan ataupun pemikiran yang dapat merefleksikan semangat untuk mengatasi fenomena-fenomena aktual, yang dapat dinilai sebagai tantangan zaman.

“MUI harus terus berkhidmah menyampaikan pesan-pesan mulia, ajaran luhur kepada umat melalui jalan dakwah dan tarbiyah sehingga maqasyidus-syariah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” kata Wamenag pada peringatan Milad MUI ke 45 yang digelar secara virtual, di Jakarta, Jumat (07/08).

Menurutnya, milad juga berarti mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala limpahan karunia-Nya hingga MUI saat ini tetap eksis dan terus dapat memberikan manfaat kepada umat.

“Ini juga sekaligus sebagai wadah untuk bermuhasabah dan refleksi terhadap perjalanan MUI hingga saat ini. Semoga MUI terus eksis dan milad MUI ini menjadi momentum bagi kita bersama untuk meneguhkan kembali komitmen dan jati diri diri MUI sebagai wadah ulama, zuamah dan cedikiawan muslim, untuk meneguhkan peran dan fungsinya melakukan himayatul ummah, takwiyatul ummah dan tauhidul ummah,” tambahnya.

Wamenag menilai bahwa tantangan MUI ke depan tidaklah ringan, terlebih saat ini kita hidup di tengah revolusi industri 4.0 dan era disrupsi.

“Salah satu tantangan era disrupsi sekarang ini adalah munculnya fenomena semakin banyak orang yang belajar dan memperoleh informasi keagamaan lewat internet dan media sosial. Namun boleh jadi sumber informasi keagamaan tersebut tidak mempunyai sumber informasi keagamaan yang otoritas tepat atau tidak memiliki jalur sanad yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata Wamenag

Dulu, lanjutnya, relasi antara umat dan ulama hadir dalam peristiwa temu muka pada ruang dan waktu, sehingga relasi tersebut sangat bersifat personal, terbatas, khusuk dan khidmat. Persoalan dapat diselesaikan pada ruang-ruang yang khusus dengan etika keilmuan dan keulamaan yang luhur.

“Kita sekarang ini sering menjadi saksi bahwa disrupsi hadir seiring dengan peralihan komunikasi antara manusia, yang biasanya bersifat personal dan bertemu tatap muka tergantikan dengan media sosial,” tambahnya.

Wamenag melhat, bahwa interaksi manusia pada media sosial bersifat artifisial atau malah sebaliknya, begitu fulgar dan mengabaikan kesopanan yang berlaku di dunia nyata. Namun, di tengah arus media sosial tersebut, MUI harus terus dapat memberikan teladan dengan mengeluarkan fatwa-fatwa seperti penggunaan media sosial dan tertuang menjadi panduan bagi masyarakat sebagaimana terangkum dalam hasil Munas MUI ke9 tahun 2015 di Surabaya.

 

Covid Masih Meningkat, Tangerang Perpanjang PSBB

TANGERANG(Jurnalislam.com) — Pembatasan Sosial Berskala Besar di wilayah Tangerang Raya kembali diperpanjang hingga 23 Agustus mendatang.

Perpanjangan dilakukan lantaran penambahan jumlah kasus di wilayah Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan cukup tinggi.

“Hasil rapat evaluasi kepala daerah dengan Gubernur Banten, PSBB kembali diperpanjang hingga 14 hari mendatang atau 23 Agustus,” ujar Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dalam keterangan tertulis, Senin (10/8).

Keputusan tersebut diambil setelah melihat jumlah kasus di dua wilayah itu berpotensi penularan Covid-19 yang masih tinggi.

Selain itu kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan juga dinilai masih belum mencapai angka ideal yakni 90 persen.

Pada PSBB perpanjangan pekan sebelumnya sejak 26 Juli sampai dengan 8 Agustus 2020 peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Tangsel terus meningkat. Maka dari itu Pemerintah Kota Tangsel kembali memberlakukan perpanjangan PSBB.“PSBB diperpanjang lantaran penularan masih tinggi,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bupati Kabupaten Tangerang Ahmad Zaki Iskandar yang menyatakan PSBB diperpanjang karena masih adanya peningkatan kasus Covid-19 dalam beberapa hari terakhir. Terlebih pada minggu lalu, dua pegawai AEON Mall BSD City dinyatakan positif Covid-19 sehingga pusat perbelanjaan di tutup selama sepekan.

Tak hanya itu, Zaki mengatakan peningkatan jumlah kasus juga diakibatkan laju pergerakan masyarakat yang kini tidak bisa lagi ditahan. Sehingga penyebaran virus Covid-19 di wilayah Tangerang Raya tidak mudah untuk diminimalisir.

“PSBB tetap kita lanjutkan, untuk mencegah penularan Covid-19 yang terjadi kasus impor dari DKI Jakarta karena daerah Kabupaten Tangerang maupun Tangerang Raya yang sangat dinamis pergerakan masyarakatnya,” jelas Zaki.

Untuk menekan penularan virus, pihaknya berencana akan melakukan pengetatan aturan bagi masyarakat. Hal itu akan segera dibahas dalam waktu dekat.

Sementara Gubernur Banten Wahidin Halim menerangkan perpanjangan tersebut dilakukan khawatir tiga wilayah yang sudah masuk zona kuning kembali ke zona merah. Terlebih hasil evaluasi PSBB pekan lalu penambahan kasus cenderung dari wilayah Kota Tangerang dan Kota Tangsel.

“Waspadai dan pertahankan. Jangan sampai posisi zona kuning kembali lagi ke zona merah karena akan sangat berat untuk penanganannya,” ujarnya.

Wahidin pun rencananya akan menerapkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang peningkatan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian virus corona.

Intruksi Presiden tersebut di antaranya mengatur sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan.

Sanksi berlaku bagi pelanggaran yang dilakukan perorangan, pelaku usaha, pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab tempat dan fasilitas umum.

Sanksi dapat berupa teguran lisan atau teguran tertulis, kerja sosial, denda administratif, hingga penghentian atau penutupan sementara penyelenggaraan usaha.

Sumber: republika.co.id

PBNU Dorong MUI Berperan Sebagai Penjaga Akhlak Umat dan Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam.

Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar. Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

 

Sebagai organisasi keulamaan, MUI mengemban risalah kenabian. Risalah kenabian paling utama adalah risalah keutamaan akhlak. Nabi sendiri diutus untuk memperbaiki akhlak umatnya. Sesuai hadis nabi Muhammad SAW, innama buitstu li utammima makarimal akhlak.

 

“Untuk itu, MUI harus memantabkan diri sebagai penjaga akhlak umat dan bangsa, menjadi teladan makarimal akhlak oleh ulama untuk kemaslahatan bangsa. Akhlak ulama akan menjadi faktor munculnya keberkahan bagi umat dan bangsa, terutama saat berada dalam krisis,” ujarnya.

 

Bentuk makarimal akhlak yang ingin dicapai pada Milad ke-45 adalah terus menerus istiqomah mendakwahkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan dan menyatukan.

Bukan sebaliknya yaitu membelah dan menegasikan perbedaan. Ulama juga harus mengedepankan prinsip tasamuh (toleransi) dalam hubungan insaniyah, tafahum (saling pengertian) dan mengedepankan maslahah ammah (kepentingan umum) atas dasar ukhuwah.

 

“Ulama juga menjauhi sikap dan perilaku ananiyyah (egoisme) dan ‘ashabiyyah hizbiyyah (fanatisme kelompok), yang bisa mengakibatkan ‘adawah (saling permusuhan), tanazu’ (pertentangan), dan syiqaq (perpecahan) di antara kita,” katanya.

 

Kiai Miftah menilai, hal-hal yang harus dihindari itu merupakan sebab pasang surut ukhuwah Islamiah. Sikap yang cenderung mengedepankan ananiyyah dan ashabiyyah baik ashabiyyah hizbiyah maupun ashabiyyah jam’iyyah itu merusak konsistensi ukhuwah.

 

“Untuk itulah, perlu ada komitmen untuk terus memupuk ukhuwah Islamiyah kita di tengah realitas perbedaan yang ada. MUI tanpa komitmen menghargai perbedaan dengan semangat ukhuwah islamiyah dan al tafahum akan kehilangan makna sebagai tenda besar,” pungkasnya.

Madarasah Diiznikan Buka di Zona Hijau dan Kuning, Ini Syaratnya

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Fachrul Razi memperbolehkan madrasah di zona hijau dan kuning untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, ada syaratnya dan madrasah harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Hal ini disampaikan Menag dalam webinar Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. “Madrasah boleh memilih (pembelajaran tatap muka), dengan pertimbangan masing-masing. Namun tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan, agar semuanya tetap aman,” kata Menag pada Webinar yang disiarkan pada kanal Youtube Kemendikbud RI, Jumat (07/08). 

Menag menyampaikan hal ini diputuskan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuatnya bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri. “Saya akan dukung apa yang sudah disampaikan (Mendikbud) tadi. Sama-sama kita dukung ini, sama-sama kita upayakan untuk mensukseskan dengan sebaik mungkin,” ujar Menag 

Sekurangnya ada empat hal yang menjadi persyaratan madrasah atau pun pesantren melakukan pembelajaran tatap muka. Pertama, lingkungan madrasah/pesantren aman covid. Kedua, guru, ustadz, atau pengajar lainnya aman covid. Ketiga, murid atau santrinya aman covid. Keempat, pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat. 

Menag juga menuturkan, saat ini hampir seluruh pesantren di Indonesia telah melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka. Dengan melakukan empat hal di atas, Menag menyampaikan bahwa kondisi pesantren hingga saat ini aman dari penyebaran Covid-19. 

“Alhamdulillah sejauh ini boleh dikatakan yang kita tahu, hanya ada tiga pesantren (ada kasus covid-19). Jadi kalau dihitung presentasenya hanya 0,0000 sekian persen,” imbuh Menag. 

Menag menyampaikan, pembukaan madrasah tentunya memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan pesantren. “Kalau pesantren, ustadz dan santrinya masuk, sudah tidak keluar lagi. Masuknya sehat, di dalam suasana sehat, kemudian nggak boleh keluar lagi, protokol kesehatan diterapkan, Alhamdulillah semua sehat,” kata Menag.

“Sementara kalau di madrasah kan siswanya datang, kemudian kembali lagi ke rumah. Kita tidak tahu dia mampir kemana dulu,” lanjutnya. 

Untuk itu Menag mengajak masyarakat khususnya orang tua siswa untuk ikut memantau pergerakan siswa bilamana madrasah mulai melakukan pembelajaran tatap muka. “Ingatkan anaknya agar langsung pulang ke rumah,” pesan Menag. 

Kiai Ma’ruf Bersyukur MUI Berhasil Jadi Wadah Silaturahim Ormas Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan, MUI patut bersyukur karena berhasil menjadi saluran silaturahim antar ormas Islam.

Ada sekitar 70 ormas Islam di dalam MUI yang terdiri dari beragam corak madzhab yang berbeda-beda, namun minim sekali konflik internal yang terdengar di dalamnya.

Dalam acara peringatan Milad ke-45 MUI, Jum’at (07/08) malam, Kiai Ma’ruf menyampaikan, apa yang dicapai MUI sudah luar biasa. Mui sudah bermur 45 tahun dan masih sehat, masih bugar, masih kompak, masih kokoh.

“Ini sesuatu yang tidak mudah, padahal MUI terdiri dari berbagai macam ormas Islam yang tentu ada perbedaan ada kesamaan, tetapi dengan izin Allah dengan kemampuan yang kita lakukan, kita masih bisa mengelola MUI ini masih tetap utuh,” ungkapnya saat acara Milad ke-45 MUI, Jumat (07/08) di Rumah Dinas Wapres, Jakarta.

Karena itu, ia berharap, jangan sampai nasib MUI seperti perhimpunan-perhimpunan lain yang usianya tidak lama sebab adanya selisih paham antar tokoh.

Menurutnya, MUI sudah lama membangun kesamaan pandangan di dalam organisasi. Kesamaan pandangan yang kerap disebut ‘taswiyatul manhaj’ itu masuk dalam dasar organisasi MUI. Taswiyatul manhaj ini, tuturnya, membuat terbangunnya toleransi terhadap pendapat yang berbeda, sepanjang perbedaan itu masih dalam koridor ‘mukhtalaf fiih’. Tetapi tentu saja tidak akan diberikan toleransi kalau itu sudah mujma’ alaih.

 

Rais Aam PBNU: Umat Islam Indonesia Harus Bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam. Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar.

Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

Dia ingin, MUI terus istiqomah mengemban peran sebagai tenda besar ini. Perbedaan-perbedaan antra ormas Islam satu dengan yang lainnya semestinya bisa dijembatani oleh MUI.  Ia menilai MUI sukses menjadi wadah titik temu ormas Islam.

Kiai Miftah mencermati, ada tiga kondisi perbedaan di dalam umat Islam yang itu harus dipahami sehingga tetap bersatu di bawah ukhuwah Islamiah.

Perbedaan itu, ujar dia, muncul karena perbedaan tafsir terhadap suatu masalah, yang masih mungkin disatukan. Pada kondisi seperti ini, maka upaya menyatukan menjadi suatu hal yang amat mulia sesuai dengan kaedah “al-khuruj minal khilaf mustahabb”.

 

Sedangkan perbedaan kedua berdasar pada ijtihadi dengan argumen shahih pada wilayah majalul ikhtilaf. Perbedaan di titik ini tidak mungkin disatukan.

Maka perlu dibangun komitmen saling pengertian atau saling memahami untuk mewujudkan harmoni di tengah perbedaan. Sementara perbedaan ketiga adalah perbedaan yang harus diluruskan karena sudah masuk kategori menyimpang.

 

“Ketiga, perbedaan terhadap masalah keagamaan yang masuk kategori ma’lum mind din bi al-dlarurah, seperti tentang otentisitas al-Quran, soal kewajiban shalat, maka pada hakekatnya, ini bukan wilayah perbedaan yang bisa dimaklumi,” katanya.

 

“Dalam Islam, perbedaan pendapat yang ditoleransi adalah perbedaan pendapat yang dengan dlawabith dan hudud, bukan waton suloyo atau asal beda tanpa kaedah yang dibenarkan.Yang ketiga ini adalah penyimpangan yang harus diluruskan,” imbuhnya.

 

Pemahaman terhadap jenis-jenis perbedaan itu penting sehingga bijak dalam merespon sebuah perbedaan. Dalam kondisi Pandemi Covid-19 seperti sekarang, menurut Kiai Miftah, salah satu caranya adalah komitmen bersama melalui persatuan.

Bersatu dalam bingkai ukhuwah di tengah perbedaan, bukan dengan bercerai berai dan saling menyalahkan.

45 Tahun MUI, Menag Apresiasi Kiprah Ulama Membangun Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, ulama adalah tokoh yang tak pernah lelah mengabdi kepada bangsa dan negara dari dulu hingga sekarang.

Ia memuji kiprah Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah berkumpul alim ulama dalam pembangunan bangsa.

 

“Ulama yang tak kenal lelah mengabdi dan mengawal bangsa sepanjang waktu. Semoga MUI terus berkiprah dan memberi warna bagi pembangunan Indonesia, bangsa Indonesia,” ujarnya di acara Milad ke 45 MUI yang diadakan secara virtual, Jumat (7/8/2020) malam.

 

MUI merupakan wadah persatuan para ulama yang ikut mengusir para penjajah pada era pra kemerdekaan. Setelah merdeka, kehadiran MUI juga masih terus diharapkan oleh umat sampai sekarang.

 

“Salah satu unsur penting dalam perjuangan (Indonesia) tersebut adalah hadirnya para ulama, dan tokoh-tokoh agama yang kemudian bergabung dalam wadah Majelis Ulama Indonesia atau biasa disebut dengan MUI. Didirikan pada tanggal 17 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juni 1975 Masehi oleh Munas pertama Majelis Ulama se-Indonesia di Jakarta,” tuturnya.

 

“MUI adalah wadah musyawarah ulama dan cendekiawan muslim untuk mengamalkan ajaran Islam untuk ikut serta mewujudkan masyarakat yang Aman damai adil makmur rohaniah dan jasmaniahnya diridhoi Allah Subhanahu wa taala dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.

 

Menag bilang, fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI yang meluruskam dan menyejukan masyarakat, yakni di tengah-tengah persoalan, khususnya wabah Covid-19 yang sedang dihadapi kali ini.

Kementerian Agama dan MUI merupakan partner yang saling berdampingan. Terlebih, sebagian langkah-langkah yang diambil MUI sejalan dengan pemerintah.

 

“Banyak fatwa yang telah diterbitkan MUI, dan itu sangat berhubungan dengan tugas-tugas Kementerian Agama dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersamaan,” pungkasnya.

RSUD Bogor Siap Operasikan Laboratorium PCR

BOGOR(Jurnalislam.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor dalam waktu dekat akan mengoperasikan Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengakserasi mitigasi infeksi Covid-19 di Kota Bogor.

Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim meninjau persiapan laboratorium PCR atau di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor, Jalan Semeru, Bogor Barat, Jumat (7/8/2020).

 

Dalam kesempatan itu, Bima Arya mengatakan, sebagai ‘alumni Covid-19’ dirinya tidak menyesal telah memutuskan untuk dirawat di RSUD Kota Bogor saat hasil tes menyatakan sang wali kota terkonfirmasi positif.

 

“Saya tidak pernah menyesal dan merasa keputusan itu tepat untuk dirawat di RSUD. Padahal waktu itu ada orang juga yang mengingatkan dan bilang ‘Pak wali, sebaiknya dirawat di Jakarta saja lebih siap, lebih pengalaman. RSUD kan belum pengalaman, jangan ambil risiko.’ Yakinilah tidak ada yang kebetulan, semua itu ada hikmahnya. Bayangkan, RSUD ini saya yang meresmikan gedungnya, saya pula jadi pasien Covid pertamanya disitu. Tapi lagi-lagi saya percaya bahwa semuanya itu sudah jalan-Nya,” ungkap Bima.

 

Namun, lanjut Bima, ujian belum selesai. Ia meminta RSUD Kota Bogor membuktikan bahwa telah memiliki sistem yang siap.

 

“Saya senang dan bangga. Diulang tahun ke-6 ini, Pemkot Bogor mengumumkan kepada publik bahwa laboratorium PCR segera beroperasi di RSUD ini untuk memenuhi target kita 11 ribu swab sesuai standar WHO, yakni 1 persen dari jumlah penduduk. Sekarang sudah 8.400 swab, mungkin sekitar satu bulan lagi bisa 11 ribu ya,” jelasnya.

 

Bima menambahkan, Laboratorium PCR sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas uji diagnostik spesimen Covid-19.

 

“Apalagi kita membaca bahwa kalaupun selesai covid ini tidak akan selesai dalam waktu yang cepat, masih lama. Kalaupun Covid nanti sudah selesai, alat ini tetap akan dibutuhkan untuk case lainnya,” ujarnya.

 

“Semoga RSUD bisa semakin mengakselerasi mitigasi infeksinya. Ketika satu orang ketahuan positif, ini kan ada Detektif Covid langsung bergerak, ada tracing kontaknya melalui unit lacak dan unit pantau. 2 x 24 jam muncul nama-nama ODP lalu kita tes swab dan hasilnya bisa kita ketahui segera karena ada Lab PCR di RSUD. Jadi, membuat sistem ini lebih terakselerasi, memaksa sistem bekerja. Insya Allah segera prosesnya kita percepat. Mudah-mudahan Minggu depan bisa dioperasionalkan Lab PCR ini,” tambahnya.

 

Di tempat yang sama, Direktur Utama RSUD Kota Bogor dr Ilham Chaidir mengungkapkan, saat ini proses pengoperasian laboratorium PCR di RSUD masih menunggu izin dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Kesehatan.

 

“Laboratorium PCR kita masih menunggu keluar izin. Sudah diajukan surat ke Dinkes Provinsi dengan bantuan dari Dinkes Kota Bogor. Nanti akan ada visitasi dari provinsi untuk diajukan ke Kemenkes, kemudian nanti keluar izin. Mudah-mudahan bisa cepat karena sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan diagnostik kami,” terang Ilham.

 

Ia menambahkan, jika sudah beroperasi kapasitas uji diagnostik maksimal bisa mencapai 200 spesimen per hari.

 

“Jadi, hasil swabnya bisa keluar satu hari. Kapasitasnya nanti sekitar 96 spesimen untuk sekali running. Maksimal bisa 2-3 kali running, Mudah-mudahan kemampuan diagnostik kita menjadi meningkat sehingga lebih mempermudah tracing dalam mitigasi serta fungsi RSUD lebih kompleks,” katanya.

 

Saat ini, RSUD Kota Bogor sudah menyiapkan 112 tempat tidur khusus untuk pasien Covid yang dirawat. “Delapan tempat tidur diantaranya sudah memiliki ventilator dan tekanan negatif. Tempat tidur yang terisi ada 64 dari 112 kapasitas,” terangnya.

 

Nama RSUD

Dalam kesempatan tersebut juga Bima Arya meminta masukan dari berbagai pihak untuk pilihan nama yang akan dipakai menjadi nama RSUD. “RSUD ini harus punya nama. Masa RSUD Kota Bogor terus. Untuk identitas sangat perlu. Silahkan diusulkan nanti teman-teman dewan bisa mengusulkan, RSUD bisa mengusulkan, dan lain sebagainya. Usulkan nama yang meyakinkan, punya kredibilitas terutama dibidang kesehatan. Saya inginnya nama dari tokoh Bogor yang lekat dengan perjuangan dibidang kesehatan,” ujar Bima.

‘Keberkahan yang Lahir di Negeri Ini Karena Kehadiran Ulama’

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Fachrul Razi menuturkan berbagai keberkahan yang selalu dirasakan bangsa Indonesia, seperti kemerdekaan dan kedamaian, adalah berkat hadirnya para ulama.

“Berbagai keberkahan yang lahir di bumi kita tercinta adalah saksi atas kiprah para ulama dalam mengawal pembangunan,” tutur Menag dalam sambutannya pada peringatan Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-45, di Jakarta, Jumat (07/08).

“Sejarah tak boleh dilupakan oleh bangsa ini. Ulama dan Umaro adalah dua entitas yang tak bisa dipisahkan, juga tak saling menegasikan. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang saling menguatkan, melengkapi dan memotivasi,” lanjut Menag yang menyampaikan sambutannya melalui sambungan videoconferense.

Keberadaan MUI sebagai wadah musyawarah para ulama, menurut Menag juga menjadi keuntungan tersendiri dalam pengelolaan negara Indonesia yang majemuk dan religius.

Ia mencontohkan, setiap ada upaya memecah belah bangsa dengan membawa bendera agama, MUI selalu tampil dengan fatwa-fatwa yang meluruskan dan menyejukkan. “MUI juga menjadi partner pemerintah dalam berkonsultasi memecahkan persoalan kemasyarakatan dan bangsa,” kata Menag.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak untuk melihat kiprah para ulama sejak zaman sebelum kemerdekaan. Ia menyampaikan, sebagai negara yang diberkahi sumber daya alam, Indonesia adalah negara yang menarik dunia luar untuk datang.
“Seperti itulah dahulu bangsa-bangsa luar datang berusaha menguasai sumber daya alam kita yang melimpah. Ratusan tahun kita dijajah, namun kekuatan persatuan anak-anak bangsa berhasil mengusir para penjajah dari bumi nusantara tercinta,” paparnya.
“Dan salah satu unsur penting dalam perjuangan tersebut adalah hadirnya para ulama, tokoh agama, yang kemudian bergabung dalam wadah Majelis Ulama Indonesia (MUI),” imbuh Menag.
Berdasarkan catatan sejarah, diketahui bahwa MUI didirikan pada tanggal 17 Rajab 1395 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975, oleh Munas 1 Majelis Ulama se Indonesia, di Jakarta.
Hadir dalam peringatan Milad MUI ke-45 tersebut Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin, dan Wakil Menteri Agama KH Zainut Tauhid Sa’adi.