Salurkan Kurban untuk 62.225 Dhuafa, Sinergi Foundation Siap Tanam Ribuan Pohon

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Sinergi kebaikan kita dalam program Green Kurban 2020 telah menceriakan 62.225 penerima manfaat dari Indonesia, Gaza dan Muslim Rohingya.

Program yang diinisiasi Sinergi Foundation ini menyalurkan daging kurban untuk dhuafa yang kebanyakan berprofesi sebagai buruh tani, nelayan, dan pedagang kecil di pelosok desa, serta masyarakat terdampak COVID-19 di simpul miskin perkotaan.

Alhamdulillah, hewan kurban Sahabat membawa kebahagiaan Idul Adha dan membantu memberikan pangan bergizi bagi mereka yang kesulitan ekonomi,” kata Eggie Ginanjar, Direktur Green Kurban.

Ia melanjutkan, “Kami ucapkan Jazakumullahu khairan katsiraan untuk semua muqarib yang sudah berkurban melalui Green Kurban – Sinergi Foundation,”

Eggie menuturkan, langkah Green Kurban tak hanya berhenti sampai di sana. Kini, langkah berikutnya adalah menanam pohon sebagai penghijauan. Sebab ikhtiar Green Kurban adalah menanam 1 pohon untuk setiap hewan yang dikurban.

Dalam kurun waktu 2013-2019 program Green Kurban berjalan, ada sekitar 28.197 bibit pohon yang ditanam dan disebar di berbagai wilayah.

Salah satu pohon yang ditanam adalah bambu yang dinilai ahli dapat memperbaiki lingkungan. Sejak 2017, Green Kurban menanam ribuan bibit bambu yang dikenal sebagai tanaman konservasi lingkungan di Selaawi Garut.

Ada lebih 2.000 bibit pohon bambu ditanam di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk – Kab. Garut. Daerah ini menjadi salah satu wilayah kritis langganan banjir setiap tahunnya.

“Tentu ini diharapkan bisa memperbaiki lahan kritis seperti risiko erosi, banjir, dan longsor. Insya Allah, tahun 2020 pun kami berencana menanam bambu,” kata Eggie.

Ia pun memohon doa dan dukungan masyarakat luas agar Green Kurban terus menebar manfaat dan cinta bagi sesama, dan juga untuk bumi.

 

Verifikasi Selesai, SK Bantuan Pesantren di Masa Covid-19 Segera Terbit

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kementerian Agama menerima amanah berupa anggaran sebesar Rp2,599 triliun untuk membantu pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam di masa pandemi Covid-19.

 

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono mengatakan, proses verifikasi penerima bantuan sudah selesai dan Surat Keputusan (SK) Dirjen Pendidikan Islam akan segera terbit.

 

“Insya Allah, SK bantuan akan terbit tanggal 12 atau 13 Agustus 2020. Proses verifikasi sudah selesai,” terang Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi Rabu (11/08/2020).

 

“SK sudah mencantumkan nama pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam, lengkap dengan alamat dan nomor rekening yang telah dibuat tim Direktorat. Para penerima akan mendapat surat pemberitahuan sebagai penerima, termasuk bagaimana mencairkannya,” sambungnya.

 

Menurutnya, proses verifikasi dilakukan secara cermat dan teliti untuk memastikan bantuan diberikan tepat sasaran. Proses persiapan dan pelaksanaan pemberian bantuan ini juga melibatkan Kementerian dan Lembaga terkait di luar Kemenag.

 

“Besar harapan kami, bantuan ini dapat meringankan beban pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang tentunya ikut terdampak dengan pandemi ini,” tuturnya.

 

Waryono menambahkan, anggaran akan diberikan sebagai Bantuan Operasional (BOP) untuk 21.173 pesantren. Jumlah ini terdiri dari 14.906 pesantren dengan kategori kecil (50-500 santri) yang mendapat bantuan sebesar Rp25juta. Lalu ada 4.032 pesantren kategori sedang (500-1.500 santri), yang akan mendapat bantuan Rp40juta.

 

“Bantuan juga akan diberikan kepada  2.235 pesantren kategori besar dengan santri di atas 1.500 orang. Nilai bantuannya adalah Rp50juta,” ujarnya.

 

Selain pesantren, bantuan juga akan disalurkan sebagai BOP untuk 62.153 Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Masing-masing MDT akan mendapat Rp10juta. Bantuan juga diberikan untuk 112.008 Lembaga Pendidikan Al Qur’an (LPQ). Masing-masing LPQ akan mendapat bantuan Rp10juta.

 

“Selain bantuan operasional, Kemenag juga berikan bantuan pembelajaran daring kepada 14.115 lembaga. Masing-masing lembaga akan mendapat Rp15juta, namun diberikan per bulan Rp5juta selama tiga bulan,” tandasnya.

Entrepreneur Muslim Berbagi Tips Agar Para Dai Mengambil Peluang di Masa Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pendiri Rumah Zakat, Ustaz Abu Syauqi dalam Seminar Ekonomi yang digelar Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) memaparkan materi bagaimana entrepreneur bisa mengambil peluang yang ada di masa pandemic.

 

Ia mengajak para dai membangun mindset dan  memiliki jiwa enterpreunership dan optimis melihat banyak peluang dalam era Covid-19.

 

Ustadz Abu Syauqi juga membuka dan merubah mindset para Da’i dengan pembahasan yang berfokus pada pembangunan kesadaran atau mindset kebangkitan ekonomi dai dan keluarga dai sebagai penopang dakwah Islam.

Covid-19 ini bukan hanya ujian atau musibah, tetapi juga menyimpan keberkahan dan peluang bagi siapapun yang cerdas dan memandang pandemi ini sebagai peluang.

 

Pembicara lainnya,  Ustadz Salim A. Fillah, peraih penghargaan Da’i Milenial di acara Grand IKADI Awards 2020 mengajak agar dai membangun mindset bahwa berda’wah lewat media sosial itu niscaya, mudah, murah dan efektif.

 

Diberikan contoh-contoh aplikasi dakwah yang saat ini dilakukan oleh Ustadz Salim A. Fillah dan beliau berbagi tips dan trik praktis yang diharapkan bisa langsung bisa dipraktikan para Da’i setelah acara seminar daring ini.

 

Di akhir sesi seminar daring ini, Hernawan Adi Wibowo (Founder Hervet, Garnesia, Krenies – Bendahara Umum Komunitas TDA) menyampaikan kiat-kiat tentang bagaimana menghadapi era covid dari sisi enterprenership.

 

Pengalaman beliau pribadi dalam membangun dan meningkatkan secara drastis pertumbuhan penjualan (400%) di masa covid 19 ini.

 

Beliau berfokus pada cara memilih produk yang tepat untuk dikembangkan di era covid ini sekaligus memberikan  kiat cerdas membesarkan jaringan dan menumbuhkan usaha-usaha di era pandemi Covid-19.

 

Gandeng BMH, Klub Innova Jatim Salurkan Bantuan untuk Mualaf Tengger

JATIM(Jurnalislam.com)–Klub Innova Jawa Timur menggelar konvoi touring ke puncak B29 Senduro, Lumajang yang dilanjutkan dengan aksi sosial berbagi & peduli bersama Mualaf Suku Tengger. Sabtu, 8/8/20.

Aksi sosial yang dilakukan Klub Innova Jatim ialah berbagi paket sembako untuk para Mualaf Suku Tengger setempat yang membutuhkan bantuan pipanisasi  saluran air di masjid Baiturrahmah Hidayatullah, Senduro, kabupaten Lumajang.

Penyaluran paket sembako dan bantuan dana pipanisasi dari Komunitas Innova Jawa Timur yang menggandeng Laznas BMH berlangsung di halaman masjid Baiturrahman Hidayatullah, Desa Argosari, kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang pada hari sabtu (08/08/2020).

“Alhamdulillah, bantuan yang diberikan Klub Innova Jatim yaitu berupa paket sembako untuk masyarakat muslim mualaf suku tengger dan bantuan sebesar tiga juta rupiah untuk batuan pipanisasi masjid Baiturrahman Hidayatullah,”Ungkap Bripka Wiji Arif Wibowo, S.Sos, selaku penggagas ide kegiatan & anggota Klub Innova Jatim sekaligus anggota Polres Gresik.

Kegiatan yang dilakukan Klub Innova Jatim bertujuan untuk membantu perkembangan penyebaran agama Islam di seluruh pelosok negeri. Dalam aksi sosial ini, Komunitas Innova Jawa Timur menggandeng Laznas BMH dalam penyaluran bantuan.

“Kami dari Klub Innova Jatim mempercayakan Laznas BMH dalam penyaluran bantuan, Karena kami tahu BMH  memiliki pengalaman yang luas dalam hal kemaslahatan umat Islam di Indonesia,”Imbuh Deddy Purwono, S.E, selaku Ketua Distrik Gresik Klub Innova Jatim.

Sayyid Abu Bakar Syatha dan Ijazah Nama”Haji Achmad Dachlan”

Oleh : Arsyad Arifi (Muhammadiyah Yaman)

Guru dalam “kerata basa” atau pepatah Jawa adalah ”tiang kang digugu lan ditiru” atau orang yang dijadikan panutan dan yang diikuti segala perilaku hidupnya. Filosofi ini tentunya tak lepas dari infiltrasi norma-norma Islam didalamnya.

Islam memandang guru adalah sesosok qudwah dari segala aspek kehidupannya baik secara kognitif maupun afektif. Hal ini dikarenakan guru dalam artian ulama adalah pewaris yang menggantikan posisi seorang nabi dalam menuntun umat seperti dalam hadis,

 

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

 

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Hal inilah yang benar-benar dipegang oleh Muhammad Darwisy muda semasa berguru kepada Sayyid Abu Bakar Syatha.

 

Biografi Sayyid Bakri Syatha al-Masyhur

Sayyid Abu Bakar Syatha seorang tokoh ulama besar yang nama lengkapnya ialah al-‘Allamah Abu Bakar Utsman bin Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimyathi al-Bakri. Beliau lahir di Mekkah tahun 1266 H/1849 M. Beliau berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya.

Sayyid Abu Bakar Syatha merupakan seorang ulama madzhab Syafii yang  mengajar di Masjidil Haram di Mekah al-Mukarramah pada permulaan abad ke 14 H. Beliau adalah salah satu dari ribuan tokoh ulama Ahlussunnah wal Jamaah ‘Asya’irah wal Maturidiyyah yang menjadi rujukan ulama berbagai belahan dunia, khususnya nusantara.

Sayyid Abu Bakar Syatha meninggal dunia pada tanggal 13 Dzulhijjah tahun 1310 H/1892 M setelah menyelesaikan ibadah Haji. Usia beliau memang tidak panjang (hanya 44 tahun menurut hitungan Hijriyyah dan kurang dari 43 tahun menurut hitungan Masehi). Akan tetapi umur beliau penuh manfaat yang sangat dirasakan umat muslim berbagai belahan dunia.

Jasanya begitu besar, dan peninggalan-peninggalannya, baik karya-karya, murid-murid, maupun anak keturunannya, menjadi saksi tak terbantahkan atas kebesaran ilmu beliau. Peninggalan tertulis yang menjadi “magnum opus” beliau ialah Kitab I’anah Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in yang menjadi pegangan dalam pembelajaran fikih di berbagai penjuru dunia. Sedangkan peninggalan ideologis berupa “rijal” adalah seorang murid yang bernama KH Achmad Dachlan yang mencerahkan dunia melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

 

Kisah Thalabul Ilmi

Pada tahun 1889an, yaitu beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Darwisy berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana, sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu. Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah.

Salah satunya ialah Sayyid Abu Bakar Syatha. Muhammad Darwisy bermulazamah dan mengambil banyak disiplin keilmuan termasuk qiraah al-Qur’an kepadanya, ta’dzim sebagai seorang murid sangat diperhatikan oleh beliau. Muhammad Darwisy sangat dekat dan menjadikan beliau sebagai qudwahnya dalam berbagai hal baik manhaj beragama maupun akhlak tasawufnya hingga menjadi salah satu murid yang amat dicintainya.

Hal ini ditegaskan dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi yang ditulis oleh MPI PP Muhammadiyah halaman 4, bahwasannya KH Dahlan mendalami manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam ilmu ‘Aqaid, kitab Madzhab Syafi’i dalam ilmu Fiqh dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf. Hal ini sesuai dengan gurunya tersebut karena kedekatannya inilah Muhammad Darwisy mendapat perintah gurunya tersebut untuk berganti nama baru, yaitu Haji Achmad Dachlan. Sebagai seorang murid tentunya Muhammad Darwisy menyetujuinya, karena sesuatu pemberian dari guru itu berbarokah. Dengan inilah beliau mendapatkan ijazah nama baru dari Sayyid Bakri Syatha.

Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Achmad Dachlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Dia mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya. Bakda Ashar, dia ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, dia diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Achmad Dachlan pun dipanggil Kyai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kyai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kyai Haji Achmad Dachlan.

Dari kisah inilah kita pahami bahwasannya KH Achmad Dachlan begitu memahami nilai seorang guru dalam kehidupannya. Apapun beliau lakukan demi manggapai ridha gurunya hingga mengubah nama beliau taat dengannya. Hal inilah yang beliau tanamkan kepada para murid-muridnya yang menjadi penerusnya dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Hal ini bukanlah berlebihan karena telah menjadi budaya yang dilakukan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai jumhur ulama yang merepresentasikan Islam secara umum yang musalsal hingga Rasulullah SAW. Taklim seperti inilah yang diistilahkan oleh Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Ba’athiyah sebagai “taklim abawy”.

Sebagai penutup marilah merenungi perkataan Sayyiduna Ali Bin Abi Thalib dalam hal memuliakan guru dengan seksama, beliau berkata: ”Aku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba.”

Wallahua’lam bishawab.

 

 

PLN Diingatkan Agar Jangan Buat Masyarakat Merasa Terzalimi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Direktur Bisnis dan Usaha Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Hendra Iswahyudi, menjelaskan soal keluhan tagihan listrik pelanggan berdaya 900 VA yang mencapai Rp19 juta. Dia mengatakan, pihak PLN sudah bertemu dengan pelanggan tersebut dan telah disepakati solusi bersama.

“Jadi masalah tagihan Rp19 juta itu sudah dibereskan, sehingga pelanggan hanya membayar kurang tagihnya Rp1.050.504 dan dicicil empat kali yang per bulannya Rp262.626,” kata Hendra dalam konferensi pers virtual, Selasa, (11/10/2020).

Dia mengatakan, pemerintah turut mengawasi sejumlah keluhan yang disampaikan masyarakat dan akan terus berusaha menemukan solusi bersama.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, berharap ke depannya tidak ada masalah serupa. PLN juga diharapkan mampu mengkomunikasikan berbagai masalah dengan lebih baik kepada para pelanggan.

“Jangan sampai orang lagi susah berbalik arah karena merasa dizalimi,” kata Rida.

Rida mengakui ada sejumlah keluhan terkait lonjakan tagihan listrik saat masa pandemi. Hal itu bukan karena salah pecatatan meter oleh PLN, tapi kata Rida, karena adanya mekanisme penghitungan rata-rata tiga bulan.

Sumber: sindonews.com

Pandemi Harus Jadi Momentum Pemerintah Sederhanakan Birokrasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah terus “tancap gas” menjalankan program penyederhanaan birokrasi yang sudah dicanangkan sejak Desember tahun lalu. Pandemi Covid-19 justru membuka wajah dan cara kerja birokrasi yang sesungguhnya dalam menghadapi krisis.

Berdasarkan data Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan PRB) perubahan jabatan struktural ke fungsional dengan memangkas Eselon III-V sudah berjalan 68%. Menpan RB, Tjahjo Kumolo mengatakan seluruh sekjen, sesmen, dan sestama dari kementerian dan lembaga, serta sekda provinsi, kabupaten, dan kota terus melakukan konsolidasi internal dalam upaya menyederhanakan birokrasi.

Dalam Rapat Koordinasi Penyederhanaan Birokrasi,  Waki Presiden Maruf Amin mengeluarkan unek-uneknya mengenai kinerja lambat birokrasi dalam menangani pandemi COVID-19. Ma’ruf Amin mengatakan pandemi COVID-19 memberikan dampak besar pada seluruh sendi kehidupan, terutama kesehatan dan ekonomi.

“Pemerintah telah mengalokasi dana Rp695 triliun untuk memulihkan kedua sektor itu. Salah satu sumbatannya, birokrasi yang lambat merespons keadaan,” keluhnya dalam rapat dengan sejumlah kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif itu mengungkapkan beberapa permasalahan birokrasi dalam menangani pandemi, seperti lambatnya proses perencanaan, penganggaran, ketidakakuratan data, serta overlapping antar kementerian dan lembaga.

“Pandemi COVID-19 harus menjadi momentum yang memaksa birokrasi di berbagai negara melakukan akselerasi, mengubah cara kerja. Tingkatkan kualitas SDM dan melakukan kolaborasi, mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian,” tuturnya.

Sumber: sindonews.com

Menko Pesimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III RI Masih Minus

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 berada di rentang antara minus 1% hingga 2%.

“Tentu Indonesia yang turun 5,32% diharapkan bisa membaik di kuartal III dengan prediksi minus 2 minus 1, atau bahkan berharap bisa masuk positif,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (11/8/2020).

Untuk menggenjot perekonomian di sisa kuartal tahun ini, pemerintah melakukan berbagai upaya. Salah satunya, menurut Airlangga, pemerintah terus memberikan dukungan tambahan kepada UMKM melalui kebijakan kredit usaha rakyat (KUR) khusus selama masa pandemi.

“Tambahan subsidi bunga atau margin KUR, penundaan angsuran pokok, dan relaksasi ketentuan restrukturisasi KUR telah diberikan kepada penerima KUR,” katanya.

Dia menambahkan, calon penerima KUR juga telah menerima fasilitas kemudahan berupa relaksasi pemenuhan persyaratan administrasi dalam proses pengajuan KUR dan relaksasi pemenuhan berupa penundaan sementara penyampaian dokumen administrasi.

“Pemerintah pun memberikan beberapa program antara lain Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan Bantuan Produktif (Modal Kerja) bagi Pelaku Usaha Mikro,” tandasnya.

Sumber: sindonews.com

Warga Duren Sawit Dirikan Tenda Internert Gratis, Bantu Pelajar Kurang Mampu

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi covid-19 mengharuskan para siswa didik belajar dari rumah. Namun, syarat mutlak untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di rumah membutuhkan jaringan internent.

Bagi sekelompok warga yang berpenghasilan rendah, hal itu menjadi beban tersendiri. Pasalnya, tak semua orang tua dapat menyediakan internet guna memenuhi keperluan anak untuk belajar.Melihat keterbatasan itu, warga di Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur gotong royong mendirikan tenda internet gratis untuk memenuhi keperluan pelajar yang harus mengikuti KBM dari rumah.

Ketua RT 13 Agus Sugianto menjelaskan, tenda internet gratis itu didirikan guna membantu pelajar mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).”Ini untuk meningkatkan prestasi anak sekolah maka kami sebagai pengurus RT 13 membuka WiFi gratis untuk meningkatkan prestasi anak-anak sekolah maupun mahasiswa,” kata Agus di Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (11/8/2020).

Lokasi tenda internet gratis itu terletak di Blok K dan sudah didirikan sejak 13 Juli 2020 lalu. Internet gratis itu didirikan dari hasil urunan warga untuk memfasilitasi siswa didik di lingkungan sekitar. “WiFi ini disumbang warga RT 13 dan sekitarnya, cukup untuk sekitar 50 orang bersekolah. Ada empat WiFi yang disediakan, satu lingkungan, tiga dari rumah warga,” ujarnya.

Dengan kecepatan jaringan berkisar 30-75 MPBS, pelajar yang mengikuti PJJ di tenda tersebut merasa terbantu. Terlebih mereka dipandu dengan dua guru yang bertugas memantau mereka.”Kedua guru SD tersebut merupakan warga RT 13, mereka ikut membantu PJJ di tenda dan Alhamdulillah disambut baik warga,” ucapnya.

 

Sumber: sindonews.com

 

Hukum Internasional Tak Akui Kalau Yerusalem Ibu Kota Israel

 ROMA(Jurnalislam.com) – Pengadilan Roma (Tribunale di Roma) memutuskan mendukung dua organisasi pro-Palestina Italia melawan perusahaan penyiaran publik negara itu, RAI dalam sengketa mengenak penyebutan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Dengan putusan itu, pengadilan memerintahkan Flavio Insinna, pembawa acara televisi populer Italia, “L’Eredità”, untuk menyampaikan pernyataan bahwa “Hukum internasional tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Negara Israel,” saat dia kembali tampil dalam siaran.

Diwartakan Middle East Monitor, kasus ini bermula pada 21 Mei saat kontestan acara permainan televisi ditanya apa Ibu Kota Israel, jawaban “Tel Aviv” dianggap sebagai jawaban yang salah. Kontestan diberitahu bahwa jawaban yang benar adalah “Yerusalem”.

Insiden tersebut memicu debat publik di Italia. Kebijakan luar negeri Italia tetap konsisten dengan hukum internasional, yang tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pada 5 Juni, pembawa acara, Insinna, mencoba meredam kontroversi tersebut, dengan memberikan pernyataan yang sebagian berbunyi “ada pandangan yang berbeda tentang masalah tersebut”.

Namun, pengacara Italia Fausto Gianelli dan Dario Rossi, masing-masing mewakili “Associazione Palestinesi di Italia” dan “Associazione benefica di solidarietà con il popolo Palestinese”, memutuskan untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

Setelah berunding, Hakim Cecilia Pratesi menyampaikan putusan yang sangat dinanti-nantikan: “Negara Italia tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.”

“Sudah diketahui umum bahwa pada 21 Desember 2017, Italia mendukung Resolusi Majelis Umum PBB yang menolak keputusan Amerika Serikat (AS) untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” kata hakim.

“Juga diketahui bahwa PBB sendiri berulang kali mengeluarkan pendapatnya, mengutuk pendudukan Israel di wilayah Palestina dan Yerusalem Timur, dan menyangkal validitas hukum apa pun atas keputusan Israel untuk mengubah Yerusalem menjadi ibukotanya,” tambahnya.

“Resolusi PBB”, lanjut putusan, “harus dianggap sebagai hukum konvensional, yang langsung berlaku dalam sistem hukum kita.”

Sumber: okezone.com