Rengekan Prancis Akibat Boikot: Bukankah Mereka Lemah?

Oleh: Jumi Yanti Sutisna

Penayangan Karikatur Nabi Muhammad menggunakan proyektor ke gedung pemerintahan di Prancis oleh majalah Charlie Hebdo yang didukung oleh pemerintah Prancis sebagai bentuk penghormatan terhadap guru sejarah, Samuel Paty yang dipenggal kepalanya oleh seorang imigran muslim.

Samuel Paty tewas dengan kepala terpenggal saat dalam perjalanan pulang pada 16 Oktober 2020 lalu, yang sebelumnya guru berusia 47 tahun ini menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya saat mengajar tentang kebebasan berekspresi.

Ditayangkan selama 4 jam di dinding gedung pemerintahan Prancis sontak penayangan kontraversial ini menimbulkan kemarahan dan kecaman dari umat muslim dunia. Secara nabi Muhammad adalah nabi yang dimuliakan oleh muslim.

Sejak masa hidup Nabi Muhammad para pengikutnya rela mengorbankan nyawa untuk menjaganya. Kemuliaan nabi Muhammad bagi seorang muslim adalah lebih berharga dari apapun di dunia.

Wujud kemarahan muslim atas penayangan karikatur Nabi Muhammad adalah dengan mengeluarkan seruan boikot terhadap produk Prancis dan seruan aksi demontrasi melawan pemerintah Prancis khususnya presiden Emmanuel Macron yang telah mendukung majalah Charlie Habdo menayangkan karikatur Nabi Muhammad SAW ditambah lagi dengan  cuitannya di twitter “Kami tidak akan pernah menyerah kepada radikal Islam. Kami tidak menerima ujaran kebencian dan mempertahankan debat yang masuk akal”

Negara-negara Arab mempelopori aksi pemboikotan.  Di supermarket-supermarket Yordania, Qatar dan Kuwait sudah tidak menjual barang-barang milik Prancis.

Di Kuwait, serikat retail besar telah memerintahkan pemboikotan terhadap barang-barang Prancis hingga waktu yang tidak ditentukan, kemudian aksi boikot ini diikuti oleh 60 koperasi di negara ini. Serikat Non-pemerintah dari Masyarakat Koperasi Konsumen Kuwait menjelaskan perintah pemboikotan ini sebagai tanggapan atas penghinaan terhadap Nabi Muhammad Rasul yang dimuliakan oleh Muslim, dan kebebasan berekspresi yang menjadi dalih Prancis tidak bisa disamakan dengan penghinaan pada agama yang menyakiti umat Islam.

Tidak hanya melakukan boikot produk Prancis, perjalanan travel ke Prancis pun ditutup oleh negara-negara Arab.

Selain aksi pemboikotan, aksi demonstrasi pun terjadi di Libya, Suriah, dan Jalur Gaza. Para pemimpin negara-negara Arab seperti Pakistan dan Turki pun memberi kecaman.

Seruan tagar #NeverTheProphet dan #BoycottFrenchProducts pun ramai menjadi trending kedua di negara-negara Arab seperti Aljazair, Turki, Mesir, Irak, Palestina, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Qatar.

Rupanya kekompakkan negara-negara Timur Tengah melakukan embargo terhadap Prancis membuat Prancis kalang kabut dan menjerit.

Pemerintah Prancis melalui Kementerian Luar Negeri nya, meminta agar embargo ini segera dihentikan dan memberikan jaminan bahwa warga Prancis akan aman. Sungguh permintaan memalukan dari pemerintah Prancis setelah kelakuannya yang menyakiti umat Islam.

Permintaan pun tidak hanya dilakukan pemerintah Prancis, Federasi Pengusaha Prancis MEDEF pun mendesak perusahaan untuk menolak boikot produk yang dilakukan negara-negara Arab, karena menurut mereka boikot akan memperburuk keadaan. Apalagi sejumlah perusahaan di Prancis sudah terpukul karena pandemi virus corona.

Ternyata, sangatlah lemah para Islamophobia ini, selemah rumah laba-laba yang mudah dihancurkan. Jadi teringat Irak semasa kepemimpinan Saddam Husain, diembargo selama 10 tahun, namun Irak dibawah kepemimpinan Saddam Hussain masih mampu menjaga marwah negerinya.

Bayangkan, selama 10 tahun di embargo tanpa merengek pada lawan, inilah kekuatan muslim sebenarnya. Sangat jauh berbeda dengan yang dilakukan pemerintah Prancis kini,  belum sepekan di embargo namun rengekan dan jeritan sudah terdengar, sungguh lemah.

Ada hikmah yang dapat diambil dari tragedi Prancis ini. Seolah Allah hendak menunjukkan begitu lemahnya musuh Islam, sedangkan muslim sudah banyak contoh terdahulu bahwa seorang muslim memiliki kekuatan yang tangguh dan marwah yang tinggi tatkala muslim tegas berpegang teguh pada syariat, tidak terpecah dan tidak cinta dunia.

Seperti yang telah dicontohkan pula oleh Sultan Abdul Hamid II pada akhir 1800-an, seorang pemimpin terakhir Utsmani.

Kala itu Prancis mempertunjukkan drama komedi tentang kehidupan Nabi Muhammad di sebuah teater di Paris. Mendengar kabar ini, Sultan Abdul Hamid II sebagai pemimpin dari negara muslim terbesar saat itu menurut beliau ini adalah penghinaan yang sudah keterlaluan terhadap Nabi Muhammad SAW dan kemuliaan Islam.

Sultan Abdul Hamid II mengirim surat ultimatum kepada pemerintah Prancis agar segera menghentikan pertunjukkan drama itu sebelum datang kemarahan Umat Islam, kemudian Prancis tidak hanya mengakhiri drama tersebut, bahkan juga mengasingkan banyak aktor drama ke Inggris untuk menenangkan hati Sultan. Sungguh luar biasa marwah pemimpin Islam saat itu.

Kurun waktu tidak lama, di London Inggris pun akan mempertunjukkan drama yang sama, Sultan Abdul Hamid II segera  mengirim surat ultimatum yang sama kepada pemerintah Inggris dengan ultimatum serupa dan memberi tahu pemerintah Inggris bahwa pertunjukan itu belum lama ini telah dilarang di Prancis.

Pemerintah Inggris memberi jawaban atas surat ultimatum Sultan dengan mengatakan “Ini bukan Prancis. Kami memiliki kebebasan di perbatasan kami.”

Setelah menerima jawaban dari pemerintah Inggris itu, Sultan Abdul Hamid II memberi jawaban kembali dengan jawaban yang cukup keras, “Nenek moyang saya memberikan nyawa mereka tanpa ragu demi kebaikan Islam.

Dalam urusan ini, saya dengan tegas akan menyiapkan perintah kepada seluruh Umat Muslim di seluruh dunia dan memberi tahu mereka tentang sikap angkuh dan kepongahan Anda jika terus melanjutkan dan membiarkan drama tidak sopan ini terjadi. Anda perlu mempertimbangkan apa akibat besar atas keputusan yang Anda perbuat!”

Apakah pemerintah Inggris tetap bersikukuh menampilkan drama penghinaan terhadap Nabi Muhammad?

Rupanya Inggris telah mengenal begitu dalam tentang kepribadian Sultan Abdul Hamid II bahwa setiap kata-kata yang dikeluarkan beliau tidak bisa dianggap remeh dan jika itu berupa ancaman maka ancaman itu bukanlah ancaman kosong. Akhirnya pemerintah Inggris pun segera mengakhiri sandiwara itu.

Sebuah contoh yang indah bukan?

Hikmah lain selain Allah ingin menunjukkan kelemahan musuh Islam adalah Allah hendak mengingatkan kembali kepada umat Islam Quran Surat Ali Imron ayat 139

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman”

Memanglah tampak kekuatan Islamophobia musuh Islam begitu besar, namun bukankah berkali-kali telah dibuktikan oleh sejarah tentang kelemahan musuh Islam meski mereka tampak hebat dan berjumlah banyak namun dapat dikalahkan oleh muslim yang memiliki karakter tangguh dan bermarwah.

Dan selama ini banyak tragedi penghinaan terhadap marwah Islam, seperti tragedi Syuriah, berapa banyak muslimah dilecehkan dan anak-anak muslim kelaparan, rumah-rumah mereka dihancurkan.

Lalu di Palestina pun tak jauh berbeda, tempat suci Masjidil Aqsa diinjak-injak, muslimah dilecehkan, anak-anak ditangkap dan ditembak. Kemudian Rohingya dan Uyghur, belum lagi muslim di India dan dibelahan dunia lainnya.

Adakah tindakan tegas dimana umat Islam dunia bersatu untuk melakukan pembelaan? Minimal seperti yang dilakukan sekarang, yaitu negara muslim bersatu melakukan embargo.

Bukan sebuah kemustahilan, jika muslim dunia bersatu melakukan embargo, saudara muslim yang tertindas akan tertolong dan kembali marwah Islam tegak.

Begitu pun individu muslim Indonesia mesti berani mengambil keputusan boikot produk musuh Islam sebisa mungkin.[]

*Penulis adalah Jurnalis

Ada Serangan Pisau di Prancis, Dua Orang Tewas

NICE(Jurnalislam.com) — Seorang pelaku penyerangan membunuh dua orang dan melukai sejumlah orang lainnya di sebuah gereja di Nice, Prancis. Wali Kota Nice menyebut peristiwa ini sebagai serangan terorisme.

Pada Kamis (29/10), Wali Kota Nice Christian Estrosi mengatakan di media sosial Twitter ada sebuah serangan pisau yang terjadi di gereja atau dekat gereja Notre Dame. Ia mengatakan polisi sudah menahan pelaku penyerangan.

Polisi mengatakan dua orang tewas di lokasi kejadiaan, sementara sejumlah orang terluka. Serangan ini terjadi saat Prancis belum pulih dari pembunuhan guru sekolah menengah pertama Samuel Paty yang dipenggal di Paris.

Pelaku mengatakan ingin menghukum Paty yang menunjukan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran tata negara. Belum diketahui motif penyerangan di Nice.

Hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah serangan tersebut ada hubungannya dengan kartun Nabi Muhammad SAW. Sejak pembunuhan Paty, Prancis kembali menegaskan hak untuk menampilkan kartun itu.

Kebijakan tersebut didukung sebagian besar masyarakat Prancis. Banyak pengunjuk rasa pendukung kebebasan berekspresi yang membawa kartun tersebut untuk menunjukkan dukungan terhadap Paty.

Keputusan ini memicu gelombang kecaman dari negara-negara Muslim. Sejumlah pemerintah menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron ingin melaksanakan agenda anti-Islam.

Sumber: republika.co.id

Hidayatullah Gelar Munas V, 47 Tahun Kiprah Dakwah Kokohkan Bangsa

DEPOK(Jurnalislam.com)- Ormas Islam Hidayatullah secara resmi mulai menggelar Musyawarah Nasional (Munas) V secara virtual sejak Kamis hingga Sabtu (29-31/10/2020). Munas kali ini diikuti peserta secara terbatas karena pandemi Covid-19.

Pusat kegiatan munas kali ini bertempat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan secara serentak terdapat 34 kluster lain untuk kegiatan sebagai perwakilan wilayah DPW Hidayatullah se-Indonesia.

Panitia Munas memberlakukan protokol kesehatan secara ketat di lokasi acara, seperti memakai masker dan menjaga jarak, demi mencegah penyebaran Covid-19. Panitia membagikan masker medis secara gratis kepada semua peserta.

Munas V(irtual) Hidayatullah ini berpusat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan siarkan secara live melalui kanal Youtube Hidayatullah ID.

Setelah acara pembukaan, Munas dilanjutkan dengan acara musyawarah-musyawarah yang berlangsung secara tertutup dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, hingga Kamis sore dan malam.

Munas tadi dibuka secara resmi oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad. Dalam amanatnya sekaligus membuka acara, Abdurrahman menyampaikan, Hidayatullah kapan saja dan di manapun selalu membawa misi rahmatan lil alamin sebagaimana tertera pula dalam tema Munas.

“Itu artinya, semua aktivis Hidayatullah harus siap mengambil peran untuk membangun kekuatan dan mempersatukan umat Islam sebagai mayoritas dari bangsa ini. Jika umat Islam kuat dan bersatu, Insya Allah bangsa ini akan bermartabat. Bermartabat artinya terhormat, memiliki peradaban tinggi. Bukan bermartabak, diperbutkan oleh bangsa bangsa yang lain,” katanya sebagaimana siaran pers Panitia Munas V Hidayatullah kepada media, Kamis sore (29/10/2020).

Munas yang dimulai hari ini adalah untuk menyusun langkah-langkah strategi dakwah dan tarbiyah ke depan. Abdurrahman berpesan agar Munas ini bisa menyusun langkah sejauh mungkin dan membuat target setinggi-tinggi dan sebesar-besarnya.

“Buatlah harapan seideal mungkin, seoptimal mungkin, dan dengan penuh pengharapan. Jangan membuat program yang mengecilkan harapan. Jangan membuat program yang mematikan spirit. Buatlah program besar yang mewakili Allah yang Maha Besar. Wa robbaka fa kabbir,” ujarnya.

Meskipun demikian, dia mengingatkan sebagaimana telah dituntunkan Allah untuk tidak memaksakan diri dan tidak sombong. Artinya, kita harus mencermati Sunnatullah dalam proses ikhtiar usaha maksimal, bekerja keras, berdoa, menuntun diri dengan ilmu dan melengkapi diri dengan keterampilan dan profesionalisme.

“Dalam menaiki tangga perjuangan, tidak lompat-lompat karena ingin cepat sampai. Walaupun Allah memiliki kuasa, kun fayakun, tetapi ketika menciptakan langit membutuhkan enam masa. Tentukan tahapan dan harus melalui tahapan demi tahapan,” katanya.

Dompet Dhuafa Purwokerto Sisir Korban Banjir Kebumen dan Cilacap

CILACAP, JAWA TENGAH- Sejumlah wilayah di Indonesia mulai masuk musim penghujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Jawa Tengah bagian selatan menjadi wilayah yang terdampak dari intensitas curah hujan tinggi. Seperti di wilayah Kabupaten Cilacap, terdapat tiga Kecamatan hingga hari ini masih terendam oleh banjir. Tiga Kecamatan terdampak meliputi Kroya, Maos dan Sampang.

“Sampai hari ini (Selasa, 27/10) relawan Dompet Dhuafa (DDV) bersama Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Purwokerto, BPBD, hingga relawan dari masyarakat masih menyisir warga terdampak banjir didua kabupaten, Kebumen dan Cilacap, Jateng. Kelompok rentan menjadi sasaran utama dalam penyisiran tim yang turun dilapangan hari ini. Selain itu Dompet Dhuafa secara sigap menerjukan tim untuk membangun fasilitas bantuan untuk pengungsi banjir di wilayah tersebut seperti dapur umum, pos hangat, medis mobile hingga penyaluran air bersih untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK),” ujar Satria Nova, Pimpinan Dompet Dhuafa Jateng.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, ratusan lebih kepala keluarga mengungsi akibat banjir yang turun sejak Selasa dini hari (27/10). Di Dusun Karag, Desa Gentasari, Desa Mujur Lor, Kecamatan Kroya, terdapat 209 Kepala Keluarga (KK) dan di Desa Mujur Lor, terdapat 800 Kepala Keluarga yang kini mengungsi di sekolah-sekolah serta masjid. Sementara di Kabupaten Kebumen, Puluhan desa di beberapa kecamatan juga terkena banjir dengan ketinggian air bervariasi dari 30 cm hingga 1,6 m.

Berikut data yang berhasil dihimpun tim dilapangan dari BPBD Kabupaten Kebumen. Desa yang terdapampak di Kecamatan Alian, Desa Krakal, Kalirancang, Sawangan, Seliling, Surotrunan dan Bojongsari. Kecamatan Adimulyo, desa terdampak, Desa Grenggeng, Panjangsari dan Adimulyo. Kecamatan Puring, Desa Madurejo, Desa Sidobunder. Kecamatan Kebumen, wilayah terdampak di Desa Roworejo, Desa Tanahsari, Desa Sumberadi, Desa Wonosari dan Desa Jatisari.

Sejumlah titik juga menjadi tempat pengungsian, maka fokus utama Tim Domoet Dhuafa adalah memberika layanan yang darurat seperti Dapur Umum dan kesehatan. Kepala LKC Purwokerto, Titi Ngudiati, menuturkan “Saat ini kami terus fokus utama pada pelayanan kesehatan para pengungsi. Mereka tersebar di beberapa pos pengungsian baik yang dikoordinir pemerintah setepmap maupun yang mandiri antar kelompok warga. Dengan adanya Pos Medis Mobile diharapkan kesehatan para penyintas banjir dapat tertangani secara cepat.”

Hingga sore ini para pengungsi membutuhkan hygiene kit, kebutuhan wanita dan bayi, makanan dan minuman siap saji hingga obat-obatan seperti minyak angin serta multivitamin. Meski ditengah bencana banjir, tim relawan Dompet Dhuafa tetap menerapkan protokol pandemi Covid-19.

Bertemu Menlu AS, Pemerintah Bahas Solusi Dua Negara Israel-Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menegaskan kembali posisi Indonesia untuk Palestina dalam pertemuan langsungnya dengan Menlu Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo di Jakarta, Kamis (29/10). Retno mengatakan solusi Palestina harus mengutamakan two state solution.

“Saya sebutkan bahwa masalah ini (Palestina) sangat dekat dengan hati masyarakat Indonesia,” ujar Menlu Retno dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Pompeo, Kamis.

“Saya tegaskan posisi Indonesia atas masalah tersebut, termasuk prinsip solusi dua negara,” ujarnya menegaskan.

Selain Palestina, pertemuan kedua menlu juga membahas mengenai perdamaian Afghanistan. Indonesia mengapresiasi AS yang memimpin membawa perdamaian di negara tersebut.

“Kami menghargai kepemimpinan AS untuk membawa perdamaian di Afghanistan dan Indonesia siap untuk berkontribusi lebih khususnya pada isu atau isu yang terkait dengan pemberdayaan perempuan,” kata Retno.

AS juga menghargai dukungan Indonesia dalam dukungan untuk negosiasi antara pemerintah Afghanistan dan Taliban. Pompeo mengatakan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan dalam upaya menuju perdamaian di Afghanistan.

“Saya ingin menyampaikan betapa menghargai keterlibatan Anda dalam proses perdamaian Afghanistan. Tentunya juga bisa memastikan seluruh rakyat Afghanistan, pria dan wanita punya hak meraih perdamaian, berharap konflik dapat berakhir dan memastikan bahwa pada akhirnya pria dan wanita memiliki semua hak yang layak mereka dapatkan,” ujar Menlu Pompeo.

Kedua negara juga sepakat memperkuat kerja sama di PBB yakni UN Peace Keeping Operations, termasuk pemberdayaan perempuan penjaga perdamaian. Sebagai komitmen RI dalam hal ini, Retno menyebut Indonesia siap mempertahankan kapal angkatan lautnya di Lebanon selama enam bulan lagi.

Sumber: republika.co.id

MUI: Umat Islam Hanya Bereaksi, Salahkan Penghina Rasulullah

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan bahwa bagi umat Islam, kalau ada orang yang menghina agamanya dan merendahkan Nabi Muhammad SAW, apalagi dia seorang presiden maka umat Islam tentu tidak akan tinggal diam.

 

“Berbagai reaksi tentu akan terjadi. Dan kalau ada umat Islam yang melakukan tindak kekerasan maka jangan hanya mereka yang  disalahkan, tapi yang harus lebih disalahkan lagi adalah orang yang telah memantik reaksi dari umat islam tersebut,”  kata Anwar di Jakarta, Rabu (28/10).

 

Untuk itu, kata dia, dalam melihat setiap masalah yang terkait dengan umat Islam, umat  tidak mau dunia berlaku tidak adil dan tidak jujur karena biasanya mereka hanya melihat apa yang terjadi dan tidak mau mencari apa yang telah menjadi penyebab mengapa hal itu terjadi.

 

“Karena saya lihat berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh segelintir kecil orang dari kalangan umat Islam diberbagai belahan dunia nyaris tidak ada yang merupakan aksi yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan reaksi terhadap perlakuan tidak baik yang telah dilakukan oleh pihak lain kepada mereka yang menyakiti hati mereka  seperti yang dilakukan oleh majalah charlie hebdo dan presiden perancis tersebut,” tambahnya.

 

“Oleh karena itu kalau dunia ingin tenang dan damai maka jangan ada diantara kita yang menghina dan merendahkan orang lain dan agama serta keyakinannya atas dasar apapun. Untuk itu saya  meminta Macron agar mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam,” ujarnya.

sumber: gatra.com

Zona Merah Covid, Saudi Larang Jamaah Umrah dari 56 Negara

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi mengeluarkan larangan umrah bagi negara-negara dengan kasus Covid-19 masing tinggi. Tercatat, saat ini ada 56 negara dengan status merah dan 20 negara dengan status kuning di dunia.

Dilansir di 24.kg, Kamis (29/10). di antara 20 negara kuning yang belum bisa mengunjungi Arab Saudi, salah satunya adalah Kyrgyzstan. Informasi ini disampaikan Direktorat Spiritual Muslim Kyrgyzstan (Muftiyat).

Menurut catatan Muftiyat, 56 negara di dunia yang masuk dalam kategori merah dan warganya dilarang memasuki Arab Saudi adalah Rusia, Ukraina, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.

Diberitakan sebelumnya, mulai 1 November Arab Saudi berencana membuka pintunya bagi jamaah umrah internasional. Ada 108 negara yang dapat mengunjungi Makkah, termasuk Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan, China, Turki, Azerbaijan, dan Belarusia.

Arab Saudi melanjutkan perjalanan wisata untuk Umrah dan mengumumkan pembukaan atraksi utama Makkah, Masjidil Haram dalam tiga tahap, mulai 23 September. Warga negara asing diizinkan masuk ke negara itu hanya mulai 1 November.

Sumber: ihram.co.id

 

Dalih Kebebasan Hina Nabi ala Prancis Tidak Bisa Diterima

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan bahwa bagi umat Islam, kalau ada orang yang menghina agamanya dan merendahkan Nabi Muhammad SAW, apalagi dia seorang presiden maka umat Islam tentu tidak akan tinggal diam.

Anwar menegaskan bahwa umat tidak akan bisa menerima alasan Macron karena dia menghormati dan melindungi kebebasan berekspressi rakyatnya.

“Karena  kita harus tahu bahwa yang namanya kebebasan berekspresi itu tetap harus ada batasnya sebab kalau tidak maka dunia tentu akan kacau,” kata Anwar Abbas, Rabu (28/10/2020).

Untuk itu, MUI mengingatkan Macron dan  masyarakat dunia agar meletakkan konsep kebebasan tersebut ditempat yang tepat.

“Sebab bila tidak maka dia tentu akan bisa menyeret dunia kepada kekacauan dan permusuhan serta akan memunculkan dendam yang berkepanjangan, yang tidak akan kunjung berakhir,” pungkasnya.

sumber: gatra.com

Masjid Prancis Dilaporkan Mulai Dapat Ancaman

PRANCIS(Jurnalislam.com)–Pengurus masjid di Distrik Vernon, Prancis Utara, melaporkan mereka menerima surat ancaman, Selasa (27/10). Hal ini buntut dari pernyataan rasial Presiden Emmanuel Macron yang mengembuskan kembali nuansa islamofobia.

Dilansir di Anadolu Agency, Selasa (27/10), teror itu ditinggalkan di kotak surat masjid yang berisi ancaman pembunuhan dan pesan penghinaan terhadap orang Turki, Arab, dan komunitas yang datang ke masjid secara teratur. “Perang telah dimulai. Kami akan mengantarmu ke luar negeri. Anda akan memberi pertanggungjawaban atas kematian Samuel,” bunyi teror dalam surat tersebut.

Samuel yang dimaksud adalah Samuel Paty adalah seorang guru di Bois-d’Aulne College di Conflans-Sainte-Honorine yang dipenggal pada (16/10) oleh Abdullakh Anzorov, seorang remaja 18 tahun asal Chechnya, sebagai pembalasan karena memperlihatkan kartun kontroversial yang menggambarkan Nabi Muslim Muhammad kepada murid-muridnya.

Paty melakukan itu dengan dalih kebebasan berekspresi. Namun, kebebasan berekspresi Paty berisi pemberitahuan dan komentar buruk yang ditujukan kepada wanita Muslim berjilbab.

Adapun buntut lainnya dari pernyataan Macron adalah penutupan masjid Agung Pantin, di luar Paris, baru-baru ini. Masjid ini ditutup selama enam bulan setelah membagikan video di halaman Facebook-nya sebelum pembunuh Paty mengkritiknya. Awal bulan ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron menuduh Muslim Prancis sebagai gerakan separatisme dan menggambarkan Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia.

Ketegangan semakin meningkat setelah pembunuhan Paty. Macron memberikan penghormatan kepadanya dan mengatakan Prancis tidak akan melepaskan karikatur tersebut sebagai bentuk berekspresi. Karikatut menghina oleh Charlie Hebdo, majalah mingguan satir Prancis, juga diproyeksikan pada gedung-gedung di beberapa kota.

Beberapa negara Arab, Turki, Iran, dan Pakistan mengecam sikap Macron terhadap Muslim dan Islam. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pemimpin Prancis itu membutuhkan perawatan mental. Sementara seruan memboikot produk Prancis beredar secara online di banyak negara, Erdogan telah mendesak orang Turki tidak pernah membantu merek Prancis atau membelinya.

Sumber: ihram.co.id

Asosiasi Dagang Timur Tengah Kompak Boikot Produk Prancis

ARAB(Jurnalislam.com)–Berbagai  negara di dunia, khususnya negara-negara muslim, melakukan boikot terhadap produk asal Prancis. Itu dilakukan sebagai buntut dari pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang dianggap menghina Islam.

Melansir Aljazeera,  beberapa asosiasi dagang di beberapa negara Timur Tengah mengumumkan boikot produk-produk Prancis sebagai sikap mereka menentang pernyataan Macron.

Dunia maya juga diramaikan dengan seruan serupa, beberapa tagar seperti #BoycottFrenchProducts dan #NeverTheProphet ramai dicuitkan di beberapa negara seperti Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki.

Di Kuwait, Ketua dan Anggota Dewan Direksi dari Al-Naeem Cooperative Society mengatakan boikot semua produk Prancis dilakukannya dengan mengeluarkan barang dagangan dari rak supermarket.

Di Qatar, perusahaan Wajbah Dairy melalui akun Twitternya mengumumkan boikot produk Prancis dan berjanji untuk memberikan alternatif.

“Kami telah segera menarik produk Prancis dari rak kami hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Al Meera Consumer Goods Company, perusahaan saham gabungan Qatar, mengumumkan di Twitter.

Tak hanya di negara-negara Timur Tengah, Bangladesh pun ikut menyatakan sikap. Puluhan ribu orang di Dhaka turun ke jalan mendesak pemerintah Bangladesh memboikot produk Prancis.

Sumber: cnnindonesia