Rengekan Prancis Akibat Boikot: Bukankah Mereka Lemah?

Rengekan Prancis Akibat Boikot: Bukankah Mereka Lemah?

Oleh: Jumi Yanti Sutisna

Penayangan Karikatur Nabi Muhammad menggunakan proyektor ke gedung pemerintahan di Prancis oleh majalah Charlie Hebdo yang didukung oleh pemerintah Prancis sebagai bentuk penghormatan terhadap guru sejarah, Samuel Paty yang dipenggal kepalanya oleh seorang imigran muslim.

Samuel Paty tewas dengan kepala terpenggal saat dalam perjalanan pulang pada 16 Oktober 2020 lalu, yang sebelumnya guru berusia 47 tahun ini menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya saat mengajar tentang kebebasan berekspresi.

Ditayangkan selama 4 jam di dinding gedung pemerintahan Prancis sontak penayangan kontraversial ini menimbulkan kemarahan dan kecaman dari umat muslim dunia. Secara nabi Muhammad adalah nabi yang dimuliakan oleh muslim.

Sejak masa hidup Nabi Muhammad para pengikutnya rela mengorbankan nyawa untuk menjaganya. Kemuliaan nabi Muhammad bagi seorang muslim adalah lebih berharga dari apapun di dunia.

Wujud kemarahan muslim atas penayangan karikatur Nabi Muhammad adalah dengan mengeluarkan seruan boikot terhadap produk Prancis dan seruan aksi demontrasi melawan pemerintah Prancis khususnya presiden Emmanuel Macron yang telah mendukung majalah Charlie Habdo menayangkan karikatur Nabi Muhammad SAW ditambah lagi dengan  cuitannya di twitter “Kami tidak akan pernah menyerah kepada radikal Islam. Kami tidak menerima ujaran kebencian dan mempertahankan debat yang masuk akal”

Negara-negara Arab mempelopori aksi pemboikotan.  Di supermarket-supermarket Yordania, Qatar dan Kuwait sudah tidak menjual barang-barang milik Prancis.

Di Kuwait, serikat retail besar telah memerintahkan pemboikotan terhadap barang-barang Prancis hingga waktu yang tidak ditentukan, kemudian aksi boikot ini diikuti oleh 60 koperasi di negara ini. Serikat Non-pemerintah dari Masyarakat Koperasi Konsumen Kuwait menjelaskan perintah pemboikotan ini sebagai tanggapan atas penghinaan terhadap Nabi Muhammad Rasul yang dimuliakan oleh Muslim, dan kebebasan berekspresi yang menjadi dalih Prancis tidak bisa disamakan dengan penghinaan pada agama yang menyakiti umat Islam.

Tidak hanya melakukan boikot produk Prancis, perjalanan travel ke Prancis pun ditutup oleh negara-negara Arab.

Selain aksi pemboikotan, aksi demonstrasi pun terjadi di Libya, Suriah, dan Jalur Gaza. Para pemimpin negara-negara Arab seperti Pakistan dan Turki pun memberi kecaman.

Seruan tagar #NeverTheProphet dan #BoycottFrenchProducts pun ramai menjadi trending kedua di negara-negara Arab seperti Aljazair, Turki, Mesir, Irak, Palestina, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Qatar.

Rupanya kekompakkan negara-negara Timur Tengah melakukan embargo terhadap Prancis membuat Prancis kalang kabut dan menjerit.

Pemerintah Prancis melalui Kementerian Luar Negeri nya, meminta agar embargo ini segera dihentikan dan memberikan jaminan bahwa warga Prancis akan aman. Sungguh permintaan memalukan dari pemerintah Prancis setelah kelakuannya yang menyakiti umat Islam.

Permintaan pun tidak hanya dilakukan pemerintah Prancis, Federasi Pengusaha Prancis MEDEF pun mendesak perusahaan untuk menolak boikot produk yang dilakukan negara-negara Arab, karena menurut mereka boikot akan memperburuk keadaan. Apalagi sejumlah perusahaan di Prancis sudah terpukul karena pandemi virus corona.

Ternyata, sangatlah lemah para Islamophobia ini, selemah rumah laba-laba yang mudah dihancurkan. Jadi teringat Irak semasa kepemimpinan Saddam Husain, diembargo selama 10 tahun, namun Irak dibawah kepemimpinan Saddam Hussain masih mampu menjaga marwah negerinya.

Bayangkan, selama 10 tahun di embargo tanpa merengek pada lawan, inilah kekuatan muslim sebenarnya. Sangat jauh berbeda dengan yang dilakukan pemerintah Prancis kini,  belum sepekan di embargo namun rengekan dan jeritan sudah terdengar, sungguh lemah.

Ada hikmah yang dapat diambil dari tragedi Prancis ini. Seolah Allah hendak menunjukkan begitu lemahnya musuh Islam, sedangkan muslim sudah banyak contoh terdahulu bahwa seorang muslim memiliki kekuatan yang tangguh dan marwah yang tinggi tatkala muslim tegas berpegang teguh pada syariat, tidak terpecah dan tidak cinta dunia.

Seperti yang telah dicontohkan pula oleh Sultan Abdul Hamid II pada akhir 1800-an, seorang pemimpin terakhir Utsmani.

Kala itu Prancis mempertunjukkan drama komedi tentang kehidupan Nabi Muhammad di sebuah teater di Paris. Mendengar kabar ini, Sultan Abdul Hamid II sebagai pemimpin dari negara muslim terbesar saat itu menurut beliau ini adalah penghinaan yang sudah keterlaluan terhadap Nabi Muhammad SAW dan kemuliaan Islam.

Sultan Abdul Hamid II mengirim surat ultimatum kepada pemerintah Prancis agar segera menghentikan pertunjukkan drama itu sebelum datang kemarahan Umat Islam, kemudian Prancis tidak hanya mengakhiri drama tersebut, bahkan juga mengasingkan banyak aktor drama ke Inggris untuk menenangkan hati Sultan. Sungguh luar biasa marwah pemimpin Islam saat itu.

Kurun waktu tidak lama, di London Inggris pun akan mempertunjukkan drama yang sama, Sultan Abdul Hamid II segera  mengirim surat ultimatum yang sama kepada pemerintah Inggris dengan ultimatum serupa dan memberi tahu pemerintah Inggris bahwa pertunjukan itu belum lama ini telah dilarang di Prancis.

Pemerintah Inggris memberi jawaban atas surat ultimatum Sultan dengan mengatakan “Ini bukan Prancis. Kami memiliki kebebasan di perbatasan kami.”

Setelah menerima jawaban dari pemerintah Inggris itu, Sultan Abdul Hamid II memberi jawaban kembali dengan jawaban yang cukup keras, “Nenek moyang saya memberikan nyawa mereka tanpa ragu demi kebaikan Islam.

Dalam urusan ini, saya dengan tegas akan menyiapkan perintah kepada seluruh Umat Muslim di seluruh dunia dan memberi tahu mereka tentang sikap angkuh dan kepongahan Anda jika terus melanjutkan dan membiarkan drama tidak sopan ini terjadi. Anda perlu mempertimbangkan apa akibat besar atas keputusan yang Anda perbuat!”

Apakah pemerintah Inggris tetap bersikukuh menampilkan drama penghinaan terhadap Nabi Muhammad?

Rupanya Inggris telah mengenal begitu dalam tentang kepribadian Sultan Abdul Hamid II bahwa setiap kata-kata yang dikeluarkan beliau tidak bisa dianggap remeh dan jika itu berupa ancaman maka ancaman itu bukanlah ancaman kosong. Akhirnya pemerintah Inggris pun segera mengakhiri sandiwara itu.

Sebuah contoh yang indah bukan?

Hikmah lain selain Allah ingin menunjukkan kelemahan musuh Islam adalah Allah hendak mengingatkan kembali kepada umat Islam Quran Surat Ali Imron ayat 139

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman”

Memanglah tampak kekuatan Islamophobia musuh Islam begitu besar, namun bukankah berkali-kali telah dibuktikan oleh sejarah tentang kelemahan musuh Islam meski mereka tampak hebat dan berjumlah banyak namun dapat dikalahkan oleh muslim yang memiliki karakter tangguh dan bermarwah.

Dan selama ini banyak tragedi penghinaan terhadap marwah Islam, seperti tragedi Syuriah, berapa banyak muslimah dilecehkan dan anak-anak muslim kelaparan, rumah-rumah mereka dihancurkan.

Lalu di Palestina pun tak jauh berbeda, tempat suci Masjidil Aqsa diinjak-injak, muslimah dilecehkan, anak-anak ditangkap dan ditembak. Kemudian Rohingya dan Uyghur, belum lagi muslim di India dan dibelahan dunia lainnya.

Adakah tindakan tegas dimana umat Islam dunia bersatu untuk melakukan pembelaan? Minimal seperti yang dilakukan sekarang, yaitu negara muslim bersatu melakukan embargo.

Bukan sebuah kemustahilan, jika muslim dunia bersatu melakukan embargo, saudara muslim yang tertindas akan tertolong dan kembali marwah Islam tegak.

Begitu pun individu muslim Indonesia mesti berani mengambil keputusan boikot produk musuh Islam sebisa mungkin.[]

*Penulis adalah Jurnalis

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X