Walhi: Seharusnya Jokowi Berani Memanggil Pemilik Perusahaan Tambang dan Sawit

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak Presiden Joko Widodo memanggil perusahaan yang memiliki izin usaha pada wilayah hutan dan lahan di Kalimantan Selatan

Walhi menduga para korporasi menjadi penyebab masifnya deforestasi yang dinilai merupakan akar masalah dari bencana banjir yang merendam 7 kabupaten/kota setempat.

“Seharusnya Jokowi hadir dan kuat. Salah satunya berani memanggil pemilik perusahaan-perusahaan tambang, sawit, HTI, HPH. Kita dialog terbuka di hadapan rakyat dan organisasi masyarakat sipil,” kata Koordinator Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono, Ahad (18/1).

Ia menyayangkan langkah mantan gubernur DKI Jakarta itu yang hanya menyalahkan curah hujan yang tinggi dan daya tampung sungai sebagai dalang dari banjir. Ini diungkap Jokowi ketika berkunjung ke Kalsel. Padahal menurutnya, banjir ini merupakan bencana ekologis dari banyaknya izin usaha di wilayah itu.

Menurut catatan Walhi, 50 persen dari luas Kalimantan Selatan yang mencapai 3,7 juta hektare sudah dibebani oleh izin tambang. Kemudian 33 persen oleh izin perkebunan sawit dan 17 persen untuk Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hak Tanaman Industri (HTI).

Kisworo mendesak pemerintah segera mengaudit perizinan usaha industri ekstraktif di wilayah tersebut dan menghentikan izin baru. Jika didapati adanya pengrusakan lingkungan, ia minta penegakan hukum dilakukan dengan tegas.

Ia juga mengkritik langkah pemerintah yang dinilai kurang sigap dalam mengantisipasi curah hujan tinggi. Ia menduga pemerintah tak siap meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi curah hujan tinggi.

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kalimantan mencatat angka deforestasi tertinggi dibanding pulau lain dalam kurun waktu 2017-2018. Angkanya mencapai 128,2 ribu hektar (netto).

Penyumbang deforestasi paling tinggi di wilayah ini didapat pada kawasan Hutan Produksi (HP) atau hutan yang digunakan untuk pembangunan, industri dan ekspor, dengan luas mencapai 25,3 ribu hektare.

Sumber: cnnindonesia

 

 

Kapasistas RS Covid DKI Tersisa 13 Persen, Masyarakat Diminta Waspada

 

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Daya tamping rumah sakit rujukan covid-19 di DKI Jakarta tersisa 13% dari total kapasitas ICU dan tempat tidur sebanyak 8.890 unit.

Terhitung sampai 17 Januari 2021 rumah sakit rujukan COVID-19 merawat pasien dari  DKI Jakarta sebanyak 63% dan pasien dari Bodetabek sebanyak 24%.

“Kita perlu bergandeng tangan untuk bersama menangani pandemi ini. Seluruh warga jabodetabek harus sama-sama tingkatkan disiplin, ingatkan sesama, saling menjaga, bersama kita putuskan rantai penularan COVID-19,” tulis akun facebook resmi Pemprov DKI Jakarta, Selasa (19/1/2021).

Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta mengimbau masyarakat menjalankan 3M: Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak. Dan batasi aktivitas keluar rumah, kecuali untuk keperluan yang amat penting.

Sumber: sindonews.com

Kuatkan Ketahanan Pangan, Muhammadiyah Kelola Lahan Wakaf 57 Hektar

BOGOR(Jurnalislam.com)– Menggerakkan kedaulatan pangan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai menanam sayur dan buah-buahan di tanah wakaf seluas 57 hektar di Jonggol, Bogor Jawa Barat, Ahad (17/1).

Ditemani Wakil Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PP Muhammadiyah Amirsyah Tambunan dan Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyatakan pengolahan tanah wakaf harus dioptimalkan untuk kesejahteraan Persyarikatan, umat dan bangsa.

Anwar berharap, pengelolaan tanah wakaf berjalan produktif sehingga menjadi contoh bagi pengelolaan tanah wakaf di tempat lainnya.

“Mudah-udahan ada sejumlah tenaga kerja yang terekrut dan terlibat di dalam pengelolaan lahan ini. Insyaallah lahan ini secara pelan tapi pasti akan bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ujar Anwar.
Menyambung Anwar, Amirsyah Tambunan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia menambahkan bahwa pengelolaan tanah wakaf sebagai kebun produktif sangat dibutuhkan di tengah kesulitan pandemi Covid-19.

“Semoga Allah memberiakn anugerah kepada kita semua khususnya warga Persyarikatan dengan tanah yang subur ini. Kita butuh ketahanan pangan apalagi di tengah Covid-19,” ujarnya.
Tanah seluas 57 hektar tersebut merupakan wakaf dari Sutrisno, salah seorang warga Persyarikatan. Ke depan, tanah wakaf tidak hanya dikelola sebagai agro bisnis dan agro industri saja, tetapi juga diproyeksikan sebagai agrowisata dan tempat pendidikan tanaman Muhammadiyah.

Sumber: muhammadiyah

Kota Bekasi Paling Disiplin, Depok dan Tasikmalaya Tak Patuh Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil alias Kang Emil mengumumkan daerah-daerah di wilayahnya yang disiplin dan yang paling tidak patuh dalam menjalankan protokol kesehatan terkait penanganan COVID-19.

Kota Bekasi dinilai sebagai daerah di Jabar yang paling taat atau disiplin. “Yang patuh menjaga jarak, jatuh kepada Kota Bekasi, paling disiplin, walaupun belum sempurna, tetapi paling disiplin dibandingkan yang lain,” kata Kang Emil di Makodam III Siliwangi Kota Bandung, Senin (18/1).

Masyarakat di Kota Bekasi juga tercatat sebagai daerah yang paling patuh dalam urusan memakai masker.

Sementara itu, Kota Depok dan Kabupaten Tasikmalaya menjadi daerah yang paling tidak patuh dalam menjalankan protokol kesehatan di Jabar. “Kemudian yang tidak patuh menjaga jarak adalah Kota Depok. Yang paling tidak patuh mengenakan masker adalah Kabupaten Tasikmalaya,” kata Kang Emil.

sumber: jpnn.com

Ulama-ulama yang Diburu Penguasa

Oleh:  Jumi Yanti Sutisna

Ulama adalah cahaya-cahaya dunia, cahayanya mengalahkan cahaya mentari dan tsurayya, karena jika cahaya mentari dan tsurayya manfaatnya hanya sebatas untuk kehidupan dunia, namun lain halnya dengan ulama, ia tidak hanya mampu mengeluarkan seseorang dari kegelapan hidup di dunia melainkan juga mampu membuat kehidupan akhirat manusia menjadi penuh cahaya.

 

Mengapa bisa demikian?

Rasulullah mengabarkan,

 

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

 

Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (H.R. At-Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

 

Cahaya dari ulama adalah berupa ilmu, ilmu yang dimaksud tentulah ilmu syariat agama, dimana ilmu agama tidak hanya mampu menyelamatkan manusia dari kegelapan hidup di dunia namun juga menyelamatkan dari kegelapan hidup di akhirat yang merupakan kehidupan abadi.

 

Semasa nabi-nabi, mereka menyampaikan risalah dari Tuhan Yang Maha Pencipta, risalah berupa tuntunan agar hidup di dunia menjadi aman dan tentram untuk kemudian diakhirat pun demikian. Tentulah tuntunan ini disampaikan melalui ilmu dan perilaku para Nabi. Setelah masa nabi berakhir yang ditutup oleh Nabi Muhammad saw dengan Al-Quran dan Sunnah yang diwariskannya dan ajarannya telah disempurnakan, maka agar risalah itu tetap sampai kepada manusia-manusia yang datang kemudian tentulah harus ada penerus, yaitu mereka yang rela bersusah payah mempelajari Al-Quran dan Sunnah untuk disampaikan kepada segenap manusia, siapakah yang rela bersusah payah ini jika bukan ulama, seperti yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad saw bahwa ulama adalah Pewaris Nabi. Bahkan dahulu di saat ilmu syari’at agama menguasai peradaban manusia, rupanya ulama-ulama terbaik yang telah membimbing perjalanan mereka.

 

Dapat dibayangkan, jika dunia ini tanpa ulama,  terputus pelajaran kehidupan yang terdapat di dalam Al-Quran dan sunnah. Dunia akan bebas tanpa batas, seperti halnya zaman jahiliyah dahulu dimana anak perempuan dikubur hidup-hidup bahkan bisa lebih parah lagi. Dan peran ulama lah yang mengingatkan manusia agar kembali kepada Allah penciptanya. Sehingga sungguh patutlah kemuliaan yang dinisbatkan untuk para ulama,

 

 

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِى فِيهِ وَالْجَافِى عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ. رواه أبو داود

 

“Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah dengan menghormati seorang muslim yang lebih tua, dan para penghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan, serta menghormati pemimpin yang adil.”

 

 

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk ummatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda dan tidak pula mengerti hak seorang ulama.” (H.R Ahmad. Bab Hadis ‘Ubadah bin as-Shamit. No 22755)

 

Namun meski telah jelas kedudukan dan kemuliaan ulama seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah, tidak sedikit manusia bahkan seringnya dari kalangan penguasa yang bukan sekedar tidak memuliakan namun juga mempersekusi,  menangkap bahkan membunuh para ulama.

 

Hal ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, sebagaimana yang dicatat oleh sejarah bahwa tidak sedikit ulama yang mengingatkan penguasa agar kembali kepada ajaran Allah namun ulama-ulama tersebut dibalas dengan penangkapan dan pembunuhan.

 

Berikut daftar ulama-ulama yang dipenjara dan dibunuh oleh penguasa.

 

Imam Syafi’i tangan dan kakinya dirantai lalu dibawa menghadap pemerintah dan hampir-hampir dipancung karena dituduh Syiah dan pemecah-belah masyarakat.

 

Imam Hanafi ditangkap, dipenjara, dicambuk, disiksa dan dipaksa minum racun oleh pemerintah lalu meninggal dunia karena tidak setuju dengan dasar-dasar pemerintah.

 

Imam Malik dicambuk dengan cemeti lebih dari 70 kali sepanjang hayatnya oleh pemerintah kerana sering mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan kehendak pemerintah.

 

Imam Hambali dipenjara oleh pemerintah dan dirotan belakangnya hingga hampir terlucut kainnya karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak pemerintah. Pemerintah menganggap mereka lebih betul daripada ulama.

 

Sufyan Attsauri seorang wali Allah yang termasyhur. Ditangkap tanpa bicara karena berani menegur kesalahan khalifah dan dihukum gantung tetapi sewaktu hukuman hendak dijalankan kilat dan petir menyambar pemerintah dan menteri-menterinya lalu mereka mati tertimbun tanah.

 

Said bin Zubair seorang wali Allah yang dikasihi harimau. Dibunuh karena didakwa memecah-belahkan masyarakat, menentang kerajaan dan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah.

 

Abu Yazid Al-Bustami wali Allah yang terkenal dengan berbagai karomah. Dituduh sesat karena ilmu agamanya lebih tinggi daripada pemerintah. Dihukum pancung oleh pemerintah tetapi tiada siapapun berhasil memancungnya.

 

Abul Husin An-Nuri wali Allah yang mampu menundukkan api. Ditangkap dan hampir dihukum karena dia menentang tindakan pemerintah yang membenarkan minuman arak berleluasa dalam negara.

 

Imam Nawawi Addimasyqiy, hampir-hampir dipukul dan telah dibuang negara oleh pemerintah karena menegur tindakan pemerintah menyalahgunakan uang rakyat. Juga seorang wali Allah yang terkenal sepanjang zaman.

 

Kemudian kita lihat kini, berapa ulama yang dipersekusi di negeri ini, dituduh dengan dicari-cari kesalahan, tidak sedikit ulama yang dilukai, dibunuh dan disimpulkan pelakunya adalah orang gila kemudian selesai sudah tanpa upaya perlindungan terhadap ulama.

 

Hingga pada peristiwa beberapa bulan yang lalu, penusukan terhadap ulama Syaikh Ali Jaber, seorang ulama yang rela mati membela agama jika agama dihina seperti yang disampaikannya pada aksi 411. Pelaku penusukan ditengarai sebagai orang gila. Apakah pelaku berhasil membunuh Syaikh Ali Jaber? Kita tidak pernah tahu, karena yang terlihat pisau hanya masuk di lengan bagian atas Syaikh Ali Jaber. Syaikh baru meninggal beberapa bulan kemudian setelah tragedi penusukan. Wallahu a’lam.

Semua Korban Longsor Sumedang Ditemukan, 40 Orang Meninggal Dunia

SUMEDANG(Jurnalislam.com)- Semua korban longsor di Dusun Bojong Kondang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ditemukan. Dua korban terakhir ditemukan tim SAR gabungan di lokasi longsor pertama di Perumahan Pondok Daud, Senin (18/1/2021) malam.

Kepala Basarnas Bandung Deden Ridwansah mengatakan, dengan telah ditemukannya semua korban hilang dalam bencana longsor Sumedang ini, operasi SAR resmi ditutup pukul 21.35 WIB. “Sebanyak 40 korban telah kami temukan, maka operasi SAR kami tutup pukul 21.35 WIB,” ujar Deden, Senin malam.

Deden menuturkan, pada operasi SAR hari ke-10 ini, pencarian difokuskan pada sektor II di lokasi longsor pertama di Perumahan Pondok Daud.

“Upaya ini membuahkan hasil, di mana sejak pagi hingga malam hari ini, delapan korban kami temukan,” tutur Deden.

“Dua korban lainnya berjenis kelamin laki-laki ditemukan pukul 19.59 WIB, kemudian korban berjenis kelamin perempuan ditemukan pukul 21.13 WIB. Nama keduanya masih proses identifikasi tim DVI Polda Jabar di Puskesmas Sawahdadap,” sebut Deden.

sumber: kompas.com

Kuasa Hukum: Kondisi Habib Rizieq Belum Membaik, Mohon Doanya

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Kuasa hukum Habib Rizieq Shihab, Aziz Yanuar kembali menginformasikan kondisi terkini kesehatan kliennya, yang berstatus tahanan Bareskrim Mabes Polri.

Saat dikunjungi Aziz pada Senin (18/1), Habib Rizieq tengah dicek kesehatanya oleh tim dokkes Mabes Polri.

Aziz menyebut kondisi Habib Rizieq sampai saat ini belum juga membaik. Karena itu, dia meminta doa dari masyarakat supaya kondisi Habib Rizieq segera pulih.

“Beliau tadi masih sesak kadang. Tadi dicek kesehatannya. Mohon doanya,” ujar Aziz, Senin (18/1) malam.

“Belum membaik (kondisinya),” imbuh Aziz. Lebih lanjut, mantan Sekretaris Bantuan Hukum Front Pembela Islam (FPI) ini juga mengucapkan terima kasih kepada penyidik karena sudah menangani Habib Rizieq dengan baik.

“Alhamdulillah sangat baik. Kami sangat berterima kasih kepada para penyidik dan tim dokkes Mabes Polri dalam menangani kesehatan Habib sangat baik, profesional dan responsif,” tutup Aziz

sumber: jpnn.com

Muhammadiyah: Pembunuhan Laskar FPI Pelanggaran HAM Berat!

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menilai kasus kematian sejumlah anggota Laskar FPI merupakan kategori pelanggaran HAM berat, bukan biasa.

Oleh karena itu, PP Muhammadiyah mendorong Komnas HAM untuk melanjutkan kasus tersebut ke ranah pengadilan pidana. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM dan Kebijakan Publik Busyro Muqoddas mengatakan, pernyataan pihaknya itu harus disikapi oleh pemerintah dengan kepala jernih.

Begitu juga dengan aparat, Busyro meminta aparat penegak hukum tidak perlu menyikapi dengan berlebihan.

“Muhammadiyah kritis adalah kritis penuh kesayangan, bukan kebencian dan tidak perlu aparat Kepolisian menyikapi dengan mispersepsi atau kesalahan pandangan yang berlebihan seakan-akan kalau ada masyarakat sipil yang bersikap kritis itu sebagai musuh, sama sekali tidak,” kata Busyro dalam keterangan pers, Senin (18/1).

Muhammadiyah, lanjut Busyro, merupakan organisasi yang turut merintis TNI-Polri melalui Jenderal Besar Soedirman.

Busyro juga mengingatkan bahwa Soedirman merupakan tokoh pemuda Muhammadiyah. Ia menilai posisi Muhammadiyah independen untuk kepentingan rakyat Indonesia.

sumber: jpnn.com

BNPB: 84 Meninggal Dunia, 19 Ribu Mengungsi Akibat Gempa Sulbar

SULBAR(Jurnalislam.com)- Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa Sulbar tercatat sebanyak 84 orang.

“Jumlah itu merupakan data terakhir per 18 Januari 2021 pukul 14.00 WIB,” Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Sebanyak 84 orang korban meninggal dunia itu berasal dari Kabupaten Mamuju 73 orang, dan Kabupaten Majene 11 orang.

Selain itu, tercatat 679 orang luka ringan serta terdapat 253 orang mengalami luka berat, yaitu 189 orang luka berat di Kabupaten Mamuju dan 64 orang luka berat di Kabupaten Majene.
Raditya menjelaskan, Pusdalops BNPB juga melaporkan sebanyak 19.435 orang mengungsi. Jumlah pengungsi berada di Kabupaten Majene 4.421 orang dan di Kabupaten Mamuju 15.014 orang.

sumber: jpnn

Relawan Jamaah Ansharusy Syariah dan Me-Dan Bantu Korban Banjir Semarang

SEMARANG(Jurnalislam.com)-Pelayanan Mayarakat (Yanmas) Ansharusy Syariah bersama Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-Dan) menerjunkan relawan kelokasi bencana guna membantu warga terkena dampak banjir di perumahan Dinar Indah, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Semarang, Senin (18/1/2021)

Banjir yang mulai surut menyisakan lumpur yang tebal menyelimuti rumah-rumah dan jalanan, sehingga menggangu aktifitas warga.

Amur Huda, Koordinator lapangan Yanmas menyampaikan bahwa relawan yang diturunkannya berusaha membersihkan lumpur dan kotoran dengan menyemprotkan air menggunakan diesel.

“Ini relawan ada yang kita fokuskan untuk membersihkan lumpur dan kotoran di rumah rumah dan jalanan,” ucapnya.

Tak hanya membersihkan kotoran lumpur, sebagian tim juga ditugaskan membagikan makanan cepat saji kepada warga yang membutuhkan.

“Selain itu tim juga membagikan tikar untuk alas tidur, dan juga makanan cepat saji seperti mie instan dan roti basah.

Dari pantuan dilokasi, warga terdampak banjir masih memerlukan bantuan tikar, makanan cepat saji, seperti nasi bungkus, mie instan, roti.

Sebelumnya hujan deras pada Ahad (17/1/2021) sejak sore hingga malam, menyebabkan air mulai menggenang di wilayah Perumahan Dinar Indah, Kelurahan Meteseh, Tembalang.

 

Akibat hujan deras yang melanda Kota Semarang selama beberapa jam, Sungai Kali Babon kembali meluap dan membanjiri kawasan permukiman warga di Dinar Indah, Meteseh. Akibatnya, sedikitnya 33 keluarga di sana rumahnya terendam banjir ada yang sampai pundak orang dewasa.