Wisma Atlet Penuh, Butuh Tambahan Perawat

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Koordinator RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Mayjen TNI Tugas Ratmono mengatakan, sejumlah langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan kasus Covid-19 usai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) telah dilakukan.

Salah satunya adalah penambahan jumlah tenaga medis baik perawat dan dokter. Ia mengatakan, Wisma Atlet berencana menambah hingga 400 perawat.

“Otomatis akan bertambah, kita rencanakan sampai 400 perawat ya. Kita saat ini hampir beberapa hari sekali kita tambahkan perawat. Hari ini kalau tidak salah datang 80 perawat,” kata Tugas dalam dalam talkshow BNPB, Senin (18/1/2021).

Selain perawat dan dokter yang akan bertambah, ia juga mengatakan, pihaknya akan menambah sejumlah tenaga non medis.

Tugas menyebut, penambahan sumber daya manusia (SDM) non medis di Wisma Atlet antara lain untuk petugas laboratorium, farmasi, hingga petugas limbah.

“Karena otomatis penambahan jumlah kasus ini akan memberikan dampak limbah yang cukup besar. Kemudian sarana prasarana kita tambahkan tenaga untuk me-manage sehingga ini akan betul-betul memberikan pelayanan yang baik,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, ia melaporkan sejumlah informasi terkini di Wisma Atlet pasca libur Nataru. Berdasarkan data yang dipaparkannya, hingga Senin (18/1/2021) tingkat hunian di Wisma Atlet Kemayoran mencapai 82,73 persen.

Kemudian, untuk jumlah pasien di Wisma Atlet mencapai 4.959 orang. Untuk jumlah bed yang ada sebanyak 5.994 bed. Sehingga, bed yang tersedia atau tersisa di Wisma Atlet saat ini sebanyak 1.035 bed atau 17,27 persen. Pada pukul 06.00 WIB, pasien Covid-19 yang masuk Wisma Atlet bertambah 309 orang Sedangkan 195 orang keluar.

sumber: kompas.com

Ini Daftar Para Ulama yang Wafat Januari 2021

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Belum hilang kesedihan atas wafatnya Dai ilallah Syekh Ali Jaber, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan kabar duka berpulangnya ulama kharismatik yang juga Pengasuh Majelis Ta’lim Al-Afaf Tebet Jakarta, Sayyidil Walid Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Jumat 15 Januari 2021.

 

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiu’un, sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita semua kembali. Pemisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit.

 

Bintang dapat memberi petunjuk kepada orang yang berada di gelap malam, di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk. Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam satu hadisnya yang diriwayatkan Imam Ahmad.

Berikut Daftar Ulama Wafat di Bulan Januari 2021:

  1. Habib Ja’far bin Muhammad Al Kaff Kudus (1 Januari 2021)
  2. KH R Muhaimin Asnawi – PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021)
  3. KH R Abdullah Nachrowi – PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021)
  4. KH R Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir – PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021)
  5. Drs M Sai M.HI – PP Nurul Yakin Malaka (5 Januari 2021)
  6. KH Muhammad Fatih Naim – Ulama asal Cipete (5 Januari 2021)
  7. KH Muhammad Nuruddin A Rahman – PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021)
  8. Habib Abubakar bin Salim Al Hamid Bondowoso (9 Januari 2021)
  9. KH Zainuddin Badrus – PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021)
  10. KH A Yasin Asmuni – PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021)
  11. Drs H Ibnu Hazen – LTMNU (12 Januari 2021)
  12. Habib Thohir Bin Husain Pimpinan Majelis Raudhatul Mustofa Semarang (13 Januari 2021)
  13. Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (14 Januari 2021)
  14. Sayyidil Walid Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf – Pengasuh Majelis Ta’lim Al-Afaf Tebet Jakarta (15 Januari 2021).

Sebelumnya, empat ulama kharismatik lebih dulu berpulang pada Kamis 3 Desember 2020 yaitu Al-Habib Thohir bin Abdullah Alkaff (Pengasuh Ponpes Darul Hijrah Tegal, Jawa Tengah); KH Qohwatul Adib Munawar (Pesantren Langitan, Jawa Timur); KH Faiq Robayan (Jepara, Jawa Tengah); dan Al-Habib Umar Bin Aqil Bin Yahya (Gresik, Jawa Timur).

Beberapa bulan sebelumnya, Kiyai DR Zarkasih Nur (Pimpinan Pesantren Gontor) wafat dua bulan dan ulama Betawi KH Rizki Zulqornain wafat pada usia muda yaitu 38 tahun.

Selain ulama di atas, mungkin masih banyak orang-orang saleh yang-wafat di bulan ini tidak terkespos media. Yang pasti kepergian para ulama dan orang-orang saleh adalah duka besar bagi umat Islam. Merekalah teladan dan guru panutan yang mengajarkan ilmu dan akhlak mulia. Semoga Allah memuliakan mereka dan mengangkatnya di tempat terpuji. Al-Faatihah!

Sumber:okezone.com

25 Relawan Uji Klinis Sinovac Terpapar Covid-19

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Uji klinis vaksin covid-19fase III buatan Sinovac yang dilaksanakan Tim Riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) masih berlangsung hingga Mei 2021.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Kusnandi Rusmil mengatakan setelah penyuntikan kedua vaksin asal China itu didapati sebanyak 25 relawan terpapar Covid-19.

Rinciannya, 18 orang penerima plasebo atau obat kosong dan 7 orang penerima vaksin. Adapun total jumlah relawan ada 1.603, atau berkurang 17 orang karena mereka tidak datang untuk suntikan kedua setelah ditunggu sepekan sesuai jadwal.

Menurut Kusnandi, terpaparnya sejumlah relawan di Bandung pasca penyuntikan adalah hal wajar. Sebabnya, para relawan tidak dilarang untuk beraktivitas. Sehingga bisa jadi mereka bertemu dengan orang yang sudah terpapar virus corona.

“Ya itulah gunanya penelitian (mengetahui) ada berapa yang sakit supaya kita bisa tahu berapa efikasi dari vaksin tersebut. Kan kita meneliti supaya tahu, manjur tidak vaksinnya,” tuturnya.

Dengan adanya orang yang terpapar covid tersebut, tim peneliti kemudian membandingkan penerima vaksin dan plasebo sehingga keluarlah angka efikasi.

Meski terpapar Covid-19, Kusnandi menyatakan bahwa relawan yang menerima vaksin berstatus orang tanpa gejala hingga bergejala ringan. Sedangkan penerima plasebo ada yang bergejala berat.

“Tapi sebagian besar itu (penerima vaksin) bergejala ringan, jadi enggak dirawat. Nah yang dapat plasebo ada yang dirawat,” tuturnya.

Sumber: cnnindonesia.com

Pakar: Paru-paru Penyintas Covid Lebih Buruk dari Perokok

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Covid-19 dapat menyisakan kerusakan yang cukup signifikan pada paru-paru orang yang sudah pulih. Hal ini diperkuat dengan foto-foto hasil pencitraan X-ray yang dibagikan oleh Dr Brittany Bankhead-Kendall yang telah merawat ribuan pasien Covid-19 sejak pandemi pertama kali terjadi.

Dokter yang juga merupakan asisten profesor di Texas Tech University Health Sciences Center ini membagikan tiga foto hasil rontgen. Ketiga foto rontgen ini diambil dari individu sehat, perokok, dan pasien Covid-10 yang sudah pulih.

Foto rontgen individu sehat menunjukkan sepasang paru-paru yang tampak normal. Pada foto rontgen milik perokok, tampak sepasang paru-paru yang sebagiannya tertutupi warna putih. Sedangkan paru-paru pasien Covid-19 yang tampak pada foto rontgen terlihat didominasi oleh warnah putih dan hampir tidak jelas terlihat.

Ketiga foto tersebut diunggah oleh Dr Bankhead Kendall melalui akun Twitter pribadi miliknya. Bersamaan dengan unggahan foto tersebut, Dr Bankhead Kendall ingin kembali mengingatkan masyarakat mengenai dampak Covid-19 terhadap kesehatan.

“Saya tidak tahu siapa yang perlu mendengarkan ini, tetapi paru-paru pasca-Covid-19 tampak lebih jelek daripada segala macam paru-paru buruk milik perokok yang pernah kami lihat,” tutur Dr Bankhead Kendall, seperti dilansir The Sun.

Setelah mengunggah ketiga foto tersebut, Dr Bankhead Kendall mengatakan dia menerima banyak sekali respons dari orang-orang yang juga mengalami hal serupa. Tak sedikit dari orang-orang tersebut yang kemudian mengkhawatirkan risiko kesehatan mereka di masa mendatang.

Dr Bankhead Kendall mengatakan semua pasien Covid-19 bergejala yang pernah dia rawat memiliki hasil ronsen dada yang buruk. Selain itu, sekitar sepertiga dari pasien Covid-19 tak bergejala juga memiliki hasil pencitraan X-ray dada yang buruk.

Sumber: republika.co.id

Sindikat Pemalsu Surat Keterangan Covid Ditangkap, Ada Petugas Terlibat

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sebanyak 15 orang terkait sindikat pemalsuan surat tes COVID-19 metode PCR ditangkap oleh Polresta Bandara Soekarno-Hatta.

Pihak internal bandara mulai pegawai maskapai, petugas tes hingga calo tiket. Masing-masing punya tugas dan mendapat bagian.

Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kompol Alexander Yurikho mengatakan penyelidikan berawal dari laporan warga berinisial AB.

“Dokumen kesehatan tersebut berupa hasil negatif swab PCR dari berbagai instalasi kesehatan, yang digunakan sebagai pemenuhan persyaratan penggunaan moda transportasi udara,” ujar Yurikho, Senin (18/1/2021).

Ia memaparkan peran masing-masing tersangka terdiri atas jaringan pelaku dan pemesan surat tes palsu.

Terdapat 13 pelaku berperan sebagai pembuat dan pencari surat tes palsu.Tersangka ke-1 ialah MHJ (51), seorang pekerja harian lepas. Dia bertugas mencari calon penumpang yang ingin memperoleh surat kesehatan tanpa tes resmi.

“Dia memasang tarif Rp1 juta hingga Rp1,1 juta dan per surat palsu mendapatkan keuntungan sekira Rp250 ribu,” jelas Yurikho.

Tersangka ke-2 yakni M alias A (53), seorang calo tiket, yang merupakan perantara antara calon penumpang dan pemalsu, ia mendapatkan Rp225 ribu per surat keterangan.

Tersangka ke-3 adalah calo tiket inisial ZAP (21), juga merupakan perantara dan mendapatkan untung serupa.

Tersangka ke-4 yaitu DS alias O (25), dia adalah bekas relawan validasi Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno-Hatta. Ia sebagai pencetak surat keterangan palsu, dan dapat untung Rp200 ribu per surat.

Tersangka ke-5 ialah AA (31), dia juga merupakan relawan validasi dan berperan sebagai penyedia tempat cetak dalam perkara ini.

Tersangka ke-6, U alias B (22), pegawai fasilitas rapid tes Kimia Farma area Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Dia memiliki soft copy surat keterangan hasil swab PCR dengan format PDF. File itu yang kemudian dicetak untuk calon penumpang.

Tersangka ke-7 merupakan petugas keamanan area parkir Bandara Soekarno-Hatta yakni U (20), tugasnya sebagai kurir surat kepada pelanggan dengan upah Rp50 ribu per surat.

Tersangka ke-8 YS, juga sebagai kurir dan merupakan salah satu relawan validasi. Tersangka ke-9 SB, pegawai di fasilitas Kimia Farma bandara, sebagai kurir.

Tersangka ke-10, S seorang karyawan PT Lion Air bagian kursi roda. Tersangka ke-11 S alias C seorang calo tiket, sebagai pencari calon peserta tes. Mereka dapat bagian Rp50 ribu per surat.

Tersangka ke-12 adalah RAS, seorang calo tiket dan tersangka ke-13 PA seorang protokol pegawai harian lepas instansi keamanan sebagai pencari calon peserta tes mereka diupah Rp100 ribu per surat.

Polisi juga menetapkan pemesan surat tes COVID-19 palsu sebagai tersangka.

Keduanya sebagai tersangka ke-14 yakni IS, seorang protokol sipil instansi pertahanan yang memesan lima surat keterangan. Dan tersangka ke-15 CY alias S, pemilik restoran, juga memesan 13 surat keterangan untuk keperluan pribadi dan keluarganya.

Polisi akan memeriksa pengguna surat keterangan palsu itu guna pengembangan perkara, serta meminta keterangan beberapa fasilitas kesehatan.

“Penyidik telah menghubungi pihak Naraya Medical Center, Farmalab dan fasilitas kesehatan perihal hasil PCR palsu tersebut dan didapatkan keterangan bahwa surat itu adalah palsu,” kata Yurikho.

Kini 15 orang itu resmi jadi tersangka dan dijerat Pasal 93 juncto Pasal 9 ayat (1) UU 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dan/atau Pasal 14 ayat (1) UU 4/1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan/atau Pasal 263 KUHP dan/atau Pasal 268 KUHP. Mereka terancam enam tahun penjara.

Sumber: tirto.id

PMI: Akhir Bulan Ini Corona di Indonesia Tembus 1 Juta Kasus

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla memproyeksikan kasus positif  covid-19 di tanah air akan menembus 1 juta.

Proyeksi itu disampaikan JK, sapaan akrab Jusuf Kalla, dalam acara Pencanangan Gerakan Nasional Pendonor Plasma Konvalesen yang berlangsung di kantor pusat PMI, Jakarta, Senin (18/1/2021).

“Tiap hari masih banyak penularan positifnya. Apabila kondisi hari ini berjalan terus di atas 10 ribu, maka pada akhir bulan ini bisa tembus 1 juta yang tertular yang positif,” ujarnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, per 17 Januari 2021, kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 907.929. Dari jumlah itu, sebanyak 736.460 sembuh dan 25.987 meninggal. Per kemarin, ada penambahan 11.287 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19.

Menurut JK, pandemi Covid-19 merupakan salah satu bencana yang menimpa negara ini. Selain beberapa bencana lain yang hadir belakangan seperti banjir di Kalimantan Selatan hingga gempa di Sulawesi Barat.

“Ini semua ujian bagi kita, ini semua hal yang patut yang harus kita atasi sebaik-baiknya bersama. Hari ini kita berkumpul untuk bagaimana membantu secara baik para penderita atau yang tertular Covid-19,” kata JK.

“Dalam catatan kemarin, sudah lebih dari 900 ribu yang positif, yang meninggal 25 ribu lebih hampir 26 ribu, semua merupakan suatu musibah yang besar dan penularan yang cepat,” lanjutnya.

Wakil Presiden ke-10 & ke-12 RI itu mengungkapkan berbagai upaya telah dijalankan pemerintah dan semua stakeholder dalam penanganan Covid-19.

“Terakhir kita bersyukur telah mulai vaksinasi yang bisa dapat menghentikan penularan dengan imunisasi kepada tubuh kita. Kita berterima kasih kepada pemerintah dan semua pihak yang terlibat untuk itu,” ujar JK.

 

Banyak Ulama Wafat Saat Pandemi, Program Kaderisasi Ulama Harus Jadi Prioritas

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Berita duka dari kalangan ulama berturut-turut hadir selama beberapa waktu terakhir. Terbaru, Indonesia berduka dengan wafatnya Syekh Ali Jaber, serta Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf.

Beruntunnya berita duka ini membuat banyak umat Muslim berpandangan tentang terbuktinya dua hadits Rasulullah SAW. Hadits pertama diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, tentang diangkatnya ilmu keislaman dari umat Islam.

“Diangkatnya ilmu ke-Islaman dari umat Islam, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan,” ujar Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL), Ustadz Rakhmad Zailani Kiki, Ahad (17/1).

Tak hanya itu, kejadian yang beruntun menimpa ulama seakan menggenapi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, tentang salah satu tanda hari kiamat. Tanda itu adalah diangkatnya ilmu dan teguhnya kebodohan.

Dan pandangan tersebut, Ustadz Kiki menyebut ada kekeliruan dari sebagian umat Islam dalam memahami kedua hadits di atas. Kedua sabda Rasulullah SAW tersebut bukan untuk membuktikan maupun tergenapi, yang disebabkan telah banyaknya ulama yang wafat.

Kedua hadits tersebut merupakan peringatan bagi umat Islam dan ulama yang masih hidup untuk tidak lalai, serta lebih giat dan serius dalam melakukan regenerasi.

Kaderisasi ulama yang berkualitas dan miliki kompetensi yang tinggi perlu dilakukan, sehingga ilmu keislaman tidak jadi diangkat atau hilang dari umat Islam dan salah satu tanda kiamat tidak terjadi.

“Dikarenakan jelas, sudah menjadi ketetapan Allah SWT, sunnatullah, bahwa ulama juga manusia biasa, mortal, sehingga pasti mengalami kematian, cepat atau lambat, karena pandemi atau tidak karena pandemi,” kata dia.

Ustadz Kiki lantas menyebut, banyaknya ulama yang wafat secara beruntun bukan hanya kali ini saja. Sejak peristiwa perang Yamamah, Jamal dan perang Shiffin, perang antara sesama sahabat Rasulullah SAW yang merupakan Al-Fitnatul Kubro yaitu fitnah yang paling besar dalam sejarah umat Islam, banyak ulama dari kalangan sahabat yang tewas terbunuh.

Peristiwa yang paling dahsyat adalah saat serbuan pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan ke jantung kekuasaan kekhilafahan Abbasiyah di Kota Baghdad pada tahun 1258 M. Serbuan ini bukan saja meruntuhkan Kekhalifahan Abbasiyah, tetapi banyak sekali ulama terbunuh.

Dikisahkan, pasukan Mongol ini membunuh banyak ulama, cendekiawan, membunuh imam-imam masjid dan penghafal-penghafal Alquran, masjid, sekolah dan segala aktivitas keilmuan berhenti total.

Perpustakaan yang merupakan gedung ilmu dihancurkan dan buku-buku yang ada di dalamnya dibakar dan dibuang ke sungai Tigris. Saking banyaknya buku yang dibuang di sungai Tigris, konon, dilaporkan air Sungai Tigris menjadi berwarna hitam sekelam tinta pada hari itu.

Pertanyaannya, apakah dengan peristiwa dahsyat ini, yang ulama banyak sekali terbunuh dan kitab-kitab terbakar habis dan hancur di sungai Tigris, bahkan konon hanya kitab Ihya Ulumidin karya Imam Al-Ghazali yang terselamatkan, lalu serta merta ilmu keislaman diangkat, hilang dari umat Islam dan salah satu tanda kiamat tergenapi?

“Jawabannya jelas tidak. Karena setelah itu generasi ulama muncul kembali dan kitab-kitab keislaman kembali banyak diterbitkan. Ini terjadi karena umat Islam dan ulama yang tersisa sangat gigih melakukan regenerasi, kaderisasi ulama,” ucap Ustaz Kiki.

Hal yang sama ia sebut juga harus terjadi dengan wafatnya ulama karena pandemi. Peristiwa meninggalnya banyak ulama karena pandemi tidak hanya terjadi saat Covid-19 menyebar. Namun, tidak serta merta ilmu ke-Islaman diangkat dan hilang, maupun tanda kiamat tergenapi.

Bagi para ustadz dan mubaligh, Ustaz Kiki berpesan agar jangan berceramah yang terkesan menakut-nakuti. Ia meminta agar ustadz tidak membuat umat berpandangan keliru tentang banyaknya ulama yang wafat, terutama di masa pandemi Covid-19 ini, sehingga umat menjadi makin sedih, pesimis, bahkan putus asa.

Terlebih, ia mengingatkan saat ini banyak umat sedang merana karena kesulitan ekonomi dan pendidikan, akibat pandemi Covid-19 yang masih belum jelas kapan berakhirnya. Ia meminta para pendakwah untuk memberikan ceramah yang membangkitkan optimisme, harapan dan kebahagiaan.

Memang, ketika ada ulama yang wafat bahkan dalam jumlah banyak, uumat Islam harus bersedih. Namun, kesedihan itu harus dibalas dengan kerja keras bersama ulama yang masih ada, untuk melakukan regenerasi, kaderisasi, agar kedua sabda Rasulullah SAW tersebut tetap menjadi peringatan yang tidak terjadi.

Sumber: republika.co.id

Langgar Prokes Saat Pesta, Raffi Ahmad DIlaporkan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Imbas hadirnya presenter kondang Raffi Ahmad dalam sebuah pesta ulang tahun rekannya seusai mendapatkan vaksinasi Covid-19 di Istana Negara, berbuntut panjang. Ormas Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) memperkarakan Raffi Ahmad ke Polda Metro Jaya.

“Jadi ada dua opsi, pertama saya mengusahakan di SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) untuk melaporkan. Kedua, saya usulkan ke Pak Kapolda untuk penegasan pemanggilan Raffi Ahmad langsung, karena ada pelanggaran protokol kesehatan,” kata Ketua Infokom DPP Pekat IB Lisman Hasibuan, Jumat (15/1/2021).

Lisman menegaskan, dirinya selaku masyarakat mengaku kecewa dengan sikap Raffi Ahmad usai mendapat keistimewaan menjadi salah satu penerima vaksin Covid-19.

Menurut dia, Raffi Ahmad telah gagal menjadi contoh yang baik sebagai seorang tokoh publik terkait kedisiplinan menjalani protokol kesehatan. “Kan dia baru vaksin, terus dia kan tokoh publik, apalagi sekarang inikan lagi PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat),” jelasnya.

Sumber:sindonews.com

Aa Gym: Wajah Jenazah Syekh Ali Jaber Bersih dan Tersenyum

 

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Syekh Ali Jaber meninggal dunia pada Kamis (14/1/2021). Menurut pengakuan Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, Syekh Ali meninggal dalam keadaan bersih dan tersenyum.

Bersama Ustaz Yusuf Mansur, melalui akun Instagramnya @aagym, Kamis (14/1/2021) menyampaikan, dirinya diundang oleh keluarga Alm. Syekh Ali untuk bertemu terakhir kalinya.

Dalam Video IGTV yang diunggah, Aa Gym mengatakan “Sudah berjumpa dengan almarhum, alhamdulillah Aa jadi saksi, beliau wajahnya bersih dan tersenyum, demi Allah wajahnya bersih dan tersenyum, senyum banget.”

Dengan penuh keharuan, bersama Ustad Yusuf Mansur menyampaikan bahwa almarhum merupakan ciri-ciri orang yang semoga wafatnya betul-betul wafat yang dimuliakan oleh Allah.

“Sahabatku yang baik, semangatlah untuk terus mencari husnul khatimah, karena kesuksesan yang kita punya bukan dari dunia yang kita miiki, tapi seperti apa akhir hayat kita semua,” ucap Aa Gym.

Aa juga mengimbau kepada para pecinta Syekh, untuk mendoakan Syekh dari rumah masing-masing. Tetap mematuhi protokol kesehatan dan Allah maha melihat segala hal baik. Semoga doa-doa yang dipanjatkan bisa kembali.

Sumber: okezone.com

Warga dan Ulama Palestina Kenang Kebaikan Syekh Ali Jaber

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Jasa dan ilmu almarhum Syekh Ali Jaber bukan hanya membekas bagi warga Indonesia. Kenangan akan kebaikan dan ilmu dari ulama tersebut pun dikenal dengan dalam oleh Muslim Palestina.

Untuk mengenang kebaikan serta mendoakan kepulangan Syekh Ali Jaber, ratusan Muslim Palestina menggelar sholat ghaib berjamaah. Sholat Ghaib digelar di Masjid Umari, Kota Jabalia, Gaza Utara, Palestina, Jumat (15/1). Sholat ghaib dilaksanakan ebagai bentuk rasa duka dan belasungkawa dari Muslim di Palestina.

“Sholat gaib dilakukan Muslim Palestina karena selama hidupnya almarhum Syekh Ali Jaber selalu memberikan dukungan kemanusiaan bagi warga Palestina,  terutama di Jalur Gaza,” kata ulama senior di Palestina Syekh Mahmud Abo Jamel (Al-Hafidz), Jumat (15/1).

Salah satu dukungan Almarhum Syekh Ali Jaber, kata dia, adalah berdakwah dan selalu mengingatkan serta menghimbau kepada para jamaah umat Islam di Indonesia agar tak lupa untuk selalu mendoakan saudaranya di Palestina.

Umat Islam di Indonesia, lanjutnya, selalu diingatkan Syekh Ali Jaber agar mengingat bahwa bangsa Palestina masih hidup terjajah dan dilanda krisis kemanusiaan. Untuk itu diharapkan senantiasa Indonesia tak lupa membantu Palestina dalam hal kemanusiaan dan agama.

Pihaknya pun menyatakan bahwa sosok Syekh Ali Jaber bagi Muslim Palestina dikenal sebagai seorang yang ikhlas dalam berdakwah dan sangat dermawan. Untuk itu dia menyebut, rakyat Palestina pun merasa sangat kehilangan akan figur seperti almarhum Syekh Ali Jaber.

Kenangan akan sosok Syekh Ali Jaber juga membekas di ingatan warga Palestina. Seorang pemuda Palestina di Gaza pernah mengikuti kajiannya di tv, Mutasem menyatakan bahwa sosok Syekh Ali Jaber tak asing dalam dunia dakwah. “Wajahnya tak asing bagi saya karena berkali-kali menyaksikan dakwahnya di Indonesia semasa waktu itu saya berada di Indonesia,” ungkapnya.

Sumber: republika.co.id