Dituduh Terlibat Aktif dengan Hamas Seorang Staf PBB di Jalur Gaza Dipecat

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Sebuah agen PBB mengatakan pada hari Ahad (26/02/2017) bahwa mereka menonaktifkan seorang staf Gaza yang dituduh aktif secara politik di kelompok perlawanan Islam Palestina (Hamas), yang memerintah jalur Gaza.

UNRWA, badan PBB yang mengurus pengungsi Palestina, mengatakan, keputusan telah diambil menjelang panggilan Israel sebelumnya pada hari Ahad untuk memecat Suhail al-Hindi, kepala serikat staf di badan PBB itu, lansir Al Arabiya News Channel.

“Sebelum komunikasi terjadi, dan dalam penyelidikan internal independen kami yang berkelanjutan, kami telah disajikan dengan informasi yang cukup besar dari sejumlah sumber sehingga kami mengambil keputusan siang ini untuk menonaktifkan Suhail al Hindi, sambil menunggu hasil penyelidikan kami,” Juru bicara UNRWA Chris Gunness menulis.

COGAT, lembaga pertahanan kementerian zionis yang bertanggung jawab di bidang sipil di wilayah Palestina, mengatakan bahwa al-Hindi ditunjuk memegang kepemimpinan kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas dalam sebuah pemilihan internal 13 Februari.

Dia dipilih “sebagai anggota senior Hamas dari Jabalia di Gaza utara”, katanya dalam sebuah pernyataan berbahasa Inggris.

“Dia juga memegang posisi sebagai Ketua Asosiasi Pekerja Palestina UNRWA sejak 2012 dan juga sebagai kepala sekolah dasar di Jalur Gaza,” tambahnya.

“Karena keparahan situasi, kepala COGAT, Mayor Jenderal Yoav Mordechai menyerukan UNRWA untuk segera memecat al-Hindi,” katanya.

Kementerian luar negeri zionis membuat tuduhan yang sama pada hari Kamis di akun Twitter resminya.

UNRWA mengeluarkan penolakan di hari berikutnya.

“Berdasarkan uji tuntas terbaru yang dilakukan oleh lembaga, UNRWA tidak dapat mengungkap atau menerima bukti yang bertentangan dengan penolakan staf anggota kami bahwa ia terpilih untuk jabatan politik di Hamas.”

Pernyataan hari Jumat yang mengutip Hindi mengatakan bahwa ia “tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini”.

Dikatakan bahwa staf lembaga secara teratur diinformasikan bahwa aktivitas politik atau penggalangan dana dianggap sebagai perilaku yang tidak benar.

Jet Tempur Assad dan Rusia Targetkan Linkungan Sipil saat Perundingan Masih Berlangsung, Puluhan Tewas

IDLIB (Jurnalislam.com) – Pesawat tempur rezim Suriah dan Rusia meluncurkan agresi di provinsi Idlib pada hari Sabtu (25/02/2017), menargetkan provinsi itu dengan lebih dari 35 serangan udara, mengakibatkan puluhan warga sipil tewas dan terluka.

Koresponden Eldorar Alshamia melaporkan Ahad (26/02/2017) bahwa sedikitnya delapan orang tewas dan 25 terluka dalam serangan udara yang melanda kota Ariha di provinsi pedesaan barat; serangan memukul lingkungan timur kota dan pasar populer serta menyebabkan kebakaran dan perusakan rumah dan properti.

Wartawan kami menegaskan bahwa tiga warga sipil tewas dan 11 lainnya luka-luka dalam serangan udara terhadap kota Idlib; saat serangan juga menghantam Lingkungan Perumahan Petugas dan desa-desa di Gunung al-Zawya, serta Kafr NABL.

Pemboman udara intensif terjadi saat Konferensi Jenewa diadakan untuk menemukan solusi politik di Suriah; di mana delegasi oposisi Suriah menuntut untuk mempertahankan gencatan senjata, dan mencabut pengepungan, sebelum merinci solusi.

Pasukan Irak Kuasai Penuh Distrik Barat Mosul

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Tentara Irak pada hari Ahad (26/02/2017) merebut kabupaten besar di Mosul barat dalam serangan berkelanjutan untuk mendorong kelompok Islamic State (IS) keluar dari kota utara, menurut seorang komandan militer.

“Pasukan khusus Irak telah membebaskan distrik Maamoun dan mengibarkan bendera Irak di atas bangunan di daerah tersebut,” Jenderal Abdul-Amir Yarullah, komandan operasi Mosul, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi, lansir Anadolu Agency.

“Distrik Maamoun adalah lingkungan pertama yang telah sepenuhnya dikendalikan pasukan Irak di Mosul barat,” katanya.

Pasukan Irak menguasai beberapa daerah di kabupaten itu pada hari Kamis sebelum sepenuhnya menguasai lingkungan tersebut pada hari Ahad.

Pekan lalu, militer Irak, yang didukung oleh koalisi udara pimpinan AS, memulai operasi baru yang bertujuan menyerang sisa pasukan IS dari wilayah barat Mosul.

Serangan itu dilancarkan sebagai bagian dari operasi lebih luas yang diluncurkan Oktober lalu untuk merebut kembali seluruh kota, yang dikuasai IS di sepanjang wilayah di utara dan timur Irak pada pertengahan 2014.

 

Dalam Sehari 10 Serangan Terjadi pada Pengungsi di Jerman

JERMAN (Jurnalislam.com) – Lebih dari 2.500 pengungsi di Jerman diserang tahun lalu, menurut laporan oleh kementerian dalam negeri, menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan mereka yang telah melarikan diri dari perang dan penganiayaan, lansir Aljazeera Ahad (26/02/2017).

Dalam sebuah pernyataan di hari Ahad, menteri dalam negeri mengutip polisi mengatakan bahwa Jerman mencatat total lebih dari 3.500 serangan terhadap pengungsi, migran dan tempat penampungan mereka tahun lalu, sebesar hampir 10 tindak kekerasan anti-migran sehari.

Serangan mengakibatkan sedikitnya 560 orang luka-luka, termasuk 43 anak-anak.

“Orang-orang yang meninggalkan negara asal mereka dan mencari perlindungan di Jerman memiliki hak untuk mengharapkan penampungan yang aman,” kata kementerian dalam negeri, menurut kantor berita AFP.

Dalam satu kasus, neo-Nazi Jerman dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada bulan Februari karena membakar sebuah gedung olah raga yang dirubah menjadi rumah bagi pengungsi, dan menyebabkan kerusakan senilai $ 3,7 juta.

Dalam contoh lain yang mengejutkan Jerman satu tahun yang lalu, kerumunan penonton bersorak dan bertepuk tangan saat penampungan suaka habis terbakar di timur wilayah bekas komunis di negara itu.

Ulla Jelpke, seorang anggota parlemen untuk partai sosialis Die Linke, menyalahkan kekerasan anti-migran dari pendukung sayap kanan di negara itu dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan yang lebih kuat.

“Kami melihat hampir 10 tindak [pidana] sehari,” katanya kepada Funke Mediengruppe, kelompok koran daerah Jerman. “Apakah orang harus mati sebelum kekerasan sayap kanan dianggap sebagai masalah keamanan pusat dalam negeri dan membawanya ke puncak agenda kebijakan nasional?”

Ada 988 serangan termasuk pembakaran di tempat penampungan bagi pengungsi dan pencari suaka, jumlah yang sama dengan tahun lalu. Pada tahun 2014, hanya ada 199 kasus seperti itu.

Kenaikan tajam dalam kejahatan kebencian muncul setelah Jerman, yang menjadi tuan rumah pengungsi terbesar di Eropa, menjadikan 890.000 pencari suaka pada tahun 2015 tersebut berada pada puncak krisis pengungsi Eropa.

Keputusan Kanselir Angela Merkel untuk menyambut pengungsi mempolarisasi negeri itu dan memicu dukungan bagi partai kanan-jauh Alternatif untuk Jerman (Alternative for Germany-AFD).

Jumlah kedatangan menurun tajam pada 2016 menjadi 280.000, terutama karena penutupan perbatasan di jalur darat Balkan dan kesepakatan Uni Eropa dengan Turki untuk membendung aliran pengungsi.

Perundingan Damai Suriah Hari Ketiga

JENEWA (Jurnalislam.com) – Delegasi oposisi utama Suriah di putaran baru perundingan perdamaian di Jenewa mengatakan pada hari Sabtu (25/02/2017) bahwa mereka “tidak akan pernah menjadi alasan kegagalan negosiasi.”

Juru bicara Komite Negosiasi Tinggi (High Negotiations Committee-HNC) Salem al-Muslat kepada Anadolu Agency di sela-sela hari ketiga babak keempat pembicaraan intra-Suriah, mengatakan bahwa “apapun yang harus dikorbankan, kami akan terus bernegosiasi untuk mencari solusi.”

Muslat mengatakan bahwa mereka ingin mendirikan sebuah pemerintahan transisi dengan menerapkan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB), nomor 2254 yang diadopsi pada bulan Desember 2015, dan menyerukan pemerintahan transisi setelah oposisi dan delegasi rezim menyelesaikan rincian dalam negosiasi.

Menurut resolusi 2254, negosiasi harus diselesaikan dalam waktu enam bulan untuk membentuk pemerintahan tersebut. Kemudian harus mempersiapkan konstitusi dan menyelenggarakan pemilu yang adil dalam periode 12 bulan.

“Tidak benar jika kita berbicara tentang konstitusi dan pemilihan sebelum mendirikan pemerintahan transisi,” katanya.

Sementara itu, Anadolu Agency telah melihat proposal Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan De Mistura, yang ia kirim hari Sabtu untuk pihak yang bernegosiasi di Jenewa, menawarkan untuk membicarakan pemerintahan transisi, konstitusi dan pemilu secara bersamaan saat negosiasi.

Dalam surat tersebut, De Mistura menawarkan untuk membangun administrasi transisi yang inklusif, handal, non-sektarian, menyiapkan waktu untuk konstitusi, dan pemilihan umum baru yang bebas dan adil di bawah naungan PBB.

“Sudah jelas bahwa tidak ada kesepakatan sampai semuanya disepakati,” tambah surat itu.

Muslat menyatakan bahwa mereka datang ke perundingan Jenewa di bawah “kondisi keras yang sama” di mana serangan rezim di daerah yang diadakan oposisi terus berlanjut meskipun terdapat perjanjian gencatan senjata.

“Sampai sekarang, kami belum melihat keseriusan apapun oleh rezim. Rezim hanya percaya pada solusi militer, membunuh dan menghancurkan,” katanya.

Muslat juga menekankan bahwa mereka mengharapkan “kebijakan aktif dari pemerintahan AS,” mengkritik pemerintahan Obama atas “sikap pasif” mereka selama pembicaraan Jenewa sebelumnya.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump mengenai Suriah masih belum jelas, namun rezim Assad terus menggambarkan tim negosiasi oposisi sebagai teroris.

Masyarakat internasional menyepakati dimulainya kembali negosiasi politik di Jenewa, saat gencatan senjata yang dideklarasikan pada 30 Desember 2016 di bawah jaminan Turki dan Rusia berhasil mengurangi keparahan perang.

De Mistura pada hari Kamis bertemu secara terpisah dengan delegasi rezim Suriah, yang dipimpin oleh Bashar al-Ja’aafari dan delegasi oposisi Suriah, yang dipimpin oleh Nasr Hariri, anggota senior kelompok oposisi terbesar, Koalisi Nasional Suriah (the Syrian National Coalition).

Dia juga berharap untuk bertemu dengan perwakilan dari Kelompok Internasional Pendukung Suriah (International Syria Support Group -ISSG) termasuk AS, Rusia, Turki dan Iran.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad menumpas aksi unjuk rasa dengan kebrutalan militer tak terduga.

Sejak itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negara yang dilanda perang tersebut, menurut PBB. Pusat Penelitian Kebijakan Suriah melaporkan korban tewas lebih dari 470.000.

Seorang Muslimah Pembuat Film ‘Amerika Berjilbab’ Memecah Stereotip Kelompok Islamophobia

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Dia adalah Iman Zawahry, seorang Muslimah pembuat film Amerika berjilbab. Iman tidak hanya seorang pembuat film vokal, dia juga seorang profesor perguruan tinggi, instruktur zumba, full-time mom, istri, dan anak, yang mencoba untuk memecah semua stereotip yang dikatakan kelompok xenophobia/Islamophobia tentang dia.

Sambil mengoreksi makalahnya untuk kelas Islam, Media dan Budaya dan menjalankan proyek beasiswa pertama untuk Film Amerika-Muslim, Iman juga sedang mengarahkan sebuah film berdasarkan drama yang diakui kritikus, Dirty Paki Lingerie, bersama penulis dan aktor Aizzah Fatima. Zawahry menyatakan bahwa, supaya sempurna, dia menginginkan Tom Hanks untuk memproduksi filmnya.

Film Iman Tough Crowd memenangkan Student Emmy Award dan menjadi finalis untuk the NBC Comedy Short Cuts. Filmnya yang lain, Undercover memenangkan penghargaan bergengsi Princess Grace Award.

Zawahry baru-baru ini berbicara di Washington Post, membahas the American-Muslim Storyteller Grant (ASG). Iman berbicara tentang xenophobia di Amerika dan Hollywood, dari sudut pandangnya salama menjadi pembuat film Muslim di Amerika Serikat.

100.000 Warga AS Masuk Islam Pertahun, Muslim akan Menjadi Umat Terbesar di Amerika

Muslim mencarinya untuk belajar lebih banyak tentang dia, Dana Beasiswa Islam (the Islamic Scholarship Fund-ISF), dan beasiswa bagi pembuat film Muslim-Amerika (ASG).

Iman adalah salah satu pendiri dan Direktur Utama Beasiswa Film Nasional ISF (the ISF National Film Grant -NFG). Dia telah mengumpulkan uang untuk beasiswa ini selama bertahun-tahun. Dia menyatakan dalam wawancara kami bahwa, “Sangat sulit mengumpulkan uang untuk beasiswa ini dan saya tidak tahu mengapa.”

Michael Mogensen, seorang pembuat film tentang Yahudi, terkejut setelah Presiden Trump menandatangani Executive Order yang melarang umat Islam dari tujuh negara. Setelah “Muslim Ban” ini ia mencari cara untuk mendukung komunitas Muslim di AS. Itulah saat ketika Michael mengulurkan tangan untuk Dana Beasiswa Islam, dan Beasiswa pembuat Film Muslim Amerika (the American-Muslim Storyteller GrantASG) lahir. Beasiswa ini masih merupakan bagian dari ISF, dan Iman adalah jurinya. ASG masih sangat baru.

“ASG secara khusus bertujuan untuk memfasilitasi dan mendukung Muslim memasuki dunia film, Muslim yang berniat untuk membuat cerita artistik, menarik, dan positif tentang Islam.”

Sebagai Muslim, kita tumbuh dalam masyarakat di mana satu-satunya cara untuk dianggap berhasil adalah dengan menjadi seorang dokter, pengacara, dan lain lain. Iman adalah salah satu orang yang membuka jalan bagi orang lain di generasi kita untuk dianggap serius sebagai pembuat film atau artis.

Jadi mengapa kita, sebagai Muslim-Muslimah, tidak mendukung lebih banyak orang seperti dia? Orang-orang seperti Iman membuat jalan bagi orang lain untuk melihat Muslim sebagai manusia paling beradab, bukan sebagai barbar atau teroris. Iman menyatakan bahwa dia ingin “memanusiakan Muslim.” Beasiswa ASG dan NFG memberikan orang kesempatan untuk mengubah narasi yang sangat menghina – sebagaimana Muslim sering ditampilkan dalam industri media dan film.

Kita selalu marah dengan bagaimana Muslim digambarkan di media dan di Hollywood sebagai ekstremis. Kini kita memiliki pilihan untuk mendukung seseorang yang memiliki kekuatan untuk mengubah cara seluruh dunia melihat kita .. ISF memberi langsung tempat bagi kita untuk melakukan ini; yang harus dilakukan semua orang adalah memberi donasi.

Lebih mudah baginya untuk menerima dukungan dari komunitas Muslim juga non-muslim. Mari kita mencoba dan mengubahnya, kata Iman.

Menlu Saudi Tiba di Irak Lakukan Pertemuan Dadakan, Ada Apa?

BAGHDAD (Jurnalislam) – Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir tiba di Baghdad, Irak pada hari Sabtu (25/02/2017) dalam kunjungan tak terjadwal, menurut seorang pejabat Irak, lansir Anadolu Agency.

Al-Jubeir memimpin delegasi resmi untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Irak, kata pejabat Kementerian Luar Negeri pada kondisi anonimitas karena pembatasan berbicara kepada media.

Ini adalah kunjungan pertama seorang menteri luar negeri Saudi ke ibukota Irak tersebut sejak invasi yang dipimpin AS ke Irak pada tahun 2003.

Ketegangan telah merusak hubungan Saudi-Irak dalam beberapa bulan terakhir sejak duta besar Saudi Thamer al-Sabhan melaporkan milisi Syiah yang berafiliasi dengan Iran berencana untuk membunuhnya. Sebagai balasan, Baghdad menuntut Riyadh untuk mengganti diplomatnya.

Al-Jubeir sendiri menyampaikan milisi Syiah Hashd al-Shaabi – mitra utama tentara Irak dalam pertempuran melawan IS – menjadi kekuatan proxy untuk Iran. Baghdad menuduhnya ikut campur dalam urusan Irak.

Kunjungan al-Jubeir ini terjadi di tengah serangan besar Irak untuk merebut kembali kota Mosul yang dikuasai IS sejak kelompok tersebut menyerbu pada tahun 2014.

Pemimpin Tertinggi Intelijen Suriah Tewas Dihantam Bom di Homs

SURIAH (Jurnalislam.com) – Kepala intelijen militer Suriah adalah salah satu dari 32 orang yang tewas dalam serangkaian serangan martir di instalasi militer di barat kota Homs yang dikuasai rezim Suriah.

Kematian Jenderal Hassan Daabul – tokoh kepercayaan yang dekat dengan Bashar al-Assad – dalam pemboman Sabtu kemarin (25/02/2017) dilaporkan oleh televisi negara Suriah.

Seorang saksi mengatakan bahwa seorang pembom masuk ke kantor Daabul dan meledakkan bahan peledak.

Brigadir Ibrahim Darwish, kepala Cabang Militer Negara, juga terluka kritis, Al Ikhbariya TV yang berafiliasi denganrezim melaporkan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan serangan udara oleh pasukan rezim Assad menewaskan 13 orang di seluruh negeri, termasuk sedikitnya tiga orang di al-Waer, kantong oposisi Homs.

Serangan itu terjadi saat negosiator melanjutkan pembicaraan untuk hari kedua di Jenewa, Swiss.

Berbicara kepada Al Jazeera di Jenewa, Issam al-Reis, juru bicara untuk cabang selatan dari Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA), mengatakan rezim Nushairiyah Assad meluncurkan serangan untuk mempengaruhi pembicaraan Jenewa.

“Selama pembicaraan Jenewa terakhir ledakan terjadi di wilayah pemerintah Sayyda Zeinab, tapi sekarang kita sedang berbicara tentang cabang-cabang militer dan pertahanan, yang merupakan zona militer di dalam Green Zone [Homs]. Tidak ada yang diperbolehkan untuk memasuki bahkan mendekati wilayah tersebut,” katanya.

“Jadi jelas bahwa perintah membuat ledakan ini datang dari cabang yang sama karena semakin kuatnya tekanan terhadap rezim untuk mendukung gencatan senjata kemungkinan telah mendorong rezim mencari alasan untuk melancarkan serangan.”

Talal Barzani, gubernur provinsi Homs, mengatakan total ada tiga ledakan, menewaskan 32 orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.

SOHR, yang menyebutkan korban di Homs berjumlah 42, mengatakan ledakan keras dan tembakan terdengar setelah serangan itu.

“Ada sedikitnya enam penyerang dan beberapa dari mereka meledakkan diri di dekat markas pertahanan negara dan intelijen militer,” Rami Abdel Rahman, direktur SOHR, mengatakan kepada kantor berita AFP.

Kelompok bersenjata terlibat dalam pertempuran senjata panjang dengan perwira intelijen sebelum meledakkan rompi peledak mereka.

Steffan de Mistura, utusan PBB untuk Suriah, mengatakan bahwa ia menduga “spoilers” mencoba untuk menggagalkan negosiasi.

“Sayangnya saya memperkirakan mereka itu spoiler untuk mengganggu pembicaraan ini,” katanya.

“Setiap kali kami melakukan pembicaraan atau negosiasi, selalu ada seseorang yang mencoba merusaknya. Kami telah menduganya.”

Homs telah berada di bawah kontrol penuh rezim Suriah sejak Mei 2014 ketika oposisi mundur dari pusat kota di bawah gencatan senjata yang ditengahi PBB.

Namun, terjadi pemboman berulang sejak saat itu: pemboman ganda menewaskan 64 orang awal tahun lalu.

 

Serangan Bom Mobil Targetkan Pos Pemeriksaan FSA, 45 Tewas dan 70 Terluka

SURIAH (Jurnalislam.com) – Serangan bom mobil menargetkan sebuah pos pemeriksaan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang penuh sesak dengan warga sipil terjadi pada Jumat pagi (24/02/2017).

Oposisi yang didukung Turki pada hari Kamis menyerang IS di Al Bab, kubu terakhir IS di barat laut Suriah, bersama dengan dua kota kecil, Qabasin dan al-Bezah, setelah beberapa pekan bertempur pada pertempuran jalanan.

Badan amal medis Ambulanciers Sans Frontieres mengatakan 45 orang, kebanyakan warga sipil, telah tewas dan sekitar 70 lainnya luka-luka.

“Sejumlah besar warga sipil berkumpul di sekitar pos pemeriksaan dan tiba-tiba seorang pembom mobil melaju dan meledakkan diri,” reporter Al Jazeera Andrew Simmons, melaporkan dari Gaziantep di perbatasan Suriah-Turki.

“Mungkin ada anggota Tentara Pembebasan Suriah yang juga menjadi korban. Ini benar-benar serangan dari IS seperti yang telah diperkirakan.”

Bom mobil menghantam bagian luar kantor keamanan di mana warga sipil berkumpul meminta izin untuk kembali ke Al Bab.

 

Pasukan FSA Kuasai Penuh Al-Bab

SURIAH (Jurnalislam.com) – Tentara Pembebasan Suriah (FSA), yang didukung oleh militer Turki, merayakan kemenangan di jalanan Al-Bab pada hari Kamis (23/02/2017) setelah mengambil kendali kota strategis tersebut dari kelompok Islamic State (IS).

Sebelumnya pada hari yang sama, komandan FSA Ahmed al-Shahabi mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat (24/02/2017): “Pusat Al-Bab sekarang di bawah kendali oposisi.”

Kemudian, Menteri Pertahanan Turki Fikri Isik juga menegaskan pembebasan kota dengan mengatakan: “Hampir semua wilayah Al-Bab terkendali sekarang, dan operasi pembersihan sedang berlangsung.”

Pasukan FSA berkumpul di kota untuk merayakan kemenangan, menembak ke udara dan berdoa.

“Organisasi IS juga akan dibersihkan dari seluruh Suriah. Negara kita akan segera bebas,” Ahmad Ali, seorang komandan lapangan FSA, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Sharef Akel, warga sipil, mengatakan kepada Anadolu Agency beberapa keluarga Al-Bab mulai kembali ke rumah mereka.

“Untungnya, kota kami dibersihkan dari organisasi IS. Konflik ini berakhir dan kami lega,” kata Akel.

Tim Anadolu Agency menyaksikan perayaan oleh unit oposisi di tengah hancurnya rumah-rumah di Al-Bab.

Operasi Perisai Efrat yang dipimpin Turki bertujuan untuk mendukung pasukan FSA dan menghilangkan keberadaan IS, PYD di sepanjang perbatasan utara Suriah dengan Turki.

Operasi yang dimulai musim panas lalu, sangat bergantung pada pejuang FSA yang didukung oleh artileri dan dukungan udara Turki.