Jenderal Turki Temui Komandan Militer AS di Washington Bahas Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Kepala Staf Umum Turki, Hulusi Akar bertemu dengan rekannya dari AS, Joseph Dunford di Washington pada hari Sabtu membahas perkembangan di Irak dan Suriah, kata militer Turki kepada Anadolu Agency dalam sebuah pernyataan, Ahad (7/5/2017).

Pertemuan tersebut diadakan menjelang kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke AS akhir bulan ini.

Kepala intelijen Turki Hakan Fidan dan juru bicara kepresidenan Ibrahim Kalin juga menghadiri pertemuan tersebut.

Turki, Rusia dan Iran menandatangani kesepakatan pada hari Kamis bahwa zona de-eskalasi yang ditunjuk adalah di kota Idlib, dan beberapa wilayah Latakia, Homs, Aleppo dan Hama serta Damaskus, Ghouta Timur, Daraa dan Quneitra.

Kesepakatan tersebut bertujuan untuk menghentikan penggunaan semua senjata, termasuk kekuatan udara, di antara pihak-pihak yang bertikai di daerah. Kesepakatan ini juga mencoba untuk memastikan “bantuan kemanusiaan segera muncul dan terus berlanjut” untuk dikirim ke daerah-daerah.

Perjanjian tersebut akan tetap berlaku selama enam bulan dan dapat diperpanjang secara otomatis jika ketiga negara penjamin tersebut setuju.

Pos pemeriksaan akan memastikan arus bantuan kemanusiaan yang aman dan memberikan jalan yang aman bagi warga sipil. Titik pengamatan akan memantau gencatan senjata di wilayah tersebut.

Sementara itu, Angkatan Udara Turki melakukan serangkaian operasi terhadap kelompok PKK di Irak utara dalam beberapa pekan terakhir, sedangkan serangan udara rezim Assad masih terjadi di sejumlah wilayah walaupun kesepakatan sudah berjalan.

Akhir bulan lalu beberapa serangan udara yang menargetkan PKK dan afiliasinya di Suriah – PYD / YPG – di wilayah Pegunungan Sinjar utara dan di utara Suriah, menewaskan sekitar 90 milisi.

PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki – melanjutkan operasi bersenjata melawan Turki pada bulan Juli 2015.

Meskipun AS telah menetapkan PKK sebagai kelompok teror, Washington mengandalkan cabang kelompok Suriah tersebut dalam pertempuran melawan kelompok IS.

Lagi, Sebuah Distrik di Provinsi Kunduz Direbut Taliban

KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Imarah Islam Afghanistan (Taliban) telah merebut sebuah distrik di provinsi Kunduz di Afghanistan utara, wilayah kedua yang jatuh ke Taliban sepekan setelah mereka meluncurkan serangan musim semi “Mansaori”

Mahfoozullah Akbari, juru bicara polisi Kunduz, mengatakan bahwa mujahidin Taliban menyerang distrik Qala-e Zal “dari beberapa arah” pada hari Jumat, dan mengambil alih kendali distrik tersebut pada pertengahan pagi hari Sabtu, lansir Aljazeera, Ahad (7/5/2017).

Akbari mengatakan pasukan Afghanistan telah menghadapi perlawanan keras namun dipaksa mundur oleh Taliban karena bala bantuan terlambat datang.

Dalam sebuah pernyataan yang diposting di situs resmi Taliban, mengatakan bahwa mereka telah membunuh sejumlah tentara, polisi dan anggota milisi pro-pemerintah dan menyita sejumlah besar senjata dan amunisi.

Taliban telah melancarkan serangan yang intensif di seluruh negeri untuk merebut kembali wilayahnya, menyerang pasukan Afghanistan bentukan AS (NATO) – yang sudah babak belur akibat perang panjang, desersi, dan ketiadaan kepemimpinan dan moral – tersebar di berbagai bidang.

Militer Afghanistan menderita korban jiwa yang tinggi, naik 35 persen pada 2016 dengan 6.800 tentara dan polisi tewas, menurut sebuah badan pengawas AS.

Bulan lalu Taliban melakukan pukulan yang menyakitkan kepada pemerintah bentukan AS, dengan para pejuangnya mengenakan seragam tentara Afghanistan membunuh sedikitnya 135 pemuda yang direkrut di sebuah pangkalan di dekat kota Mazar-i-Sharif utara dalam sebuah serangan.

Lebih dari 16 tahun setelah Taliban digulingkan dari kekuasaan oleh pasukan Multinasional, hampir separuh dari negara tersebut diperebutkan atau berada di bawah kendali Taliban.

Menurut perkiraan militer AS yang dikeluarkan oleh Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (the Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction-SIGAR), pemerintah Afghanistan hanya dapat mengklaim untuk mengendalikan atau mempengaruhi 57 persen dari 407 kabupaten di negara tersebut.

Pemimpin Baru Hamas akan Tetap di Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas mengatakan pemimpin kelompok mereka yang baru, Ismail Haniyeh, akan tetap berada di Jalur Gaza.

Berbicara kepada Anadolu Agency, juru bicara Hamas Hazem Qasim mengatakan bahwa Haniyeh akan meninggalkan jalur tersebut “jika keadaan memaksa”, Ahad (7/5/2017).

“Posisi baru Haniyeh bisa menyebabkan dia melakukan tur di luar Gaza,” katanya.

“Kepergiannya dari Jalur Gaza akan dinilai oleh pimpinan Hamas sesuai dengan evaluasi di masa depan,” kata juru bicara tersebut.

Haniyeh, mantan perdana menteri, terpilih sebagai kepala biro politik Hamas pada hari Sabtu, menggantikan Khaled Meshaal, yang telah menjadi pemimpin kelompok tersebut sejak 1996.

Jajak pendapat diadakan di Jalur Gaza dan Doha bersamaan melalui konferensi video.

Seorang sumber Hamas mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Sabtu bahwa Haniyeh kemungkinan tinggal di luar Gaza, yang telah berada di bawah blokade Israel selama satu dekade.

4 Orang Tewas dalam Bentrokan di Kashmir

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Dua warga sipil, seorang pejuang dan seorang polisi tewas dalam baku tembak antara polisi dan pejuang di Jammu dan Kashmir yang disengketakan, lansir World Bulletin, Ahad (7/5/2017).

Menurut pejabat polisi, pejuang melepaskan tembakan ke arah sekelompok polisi yang menjaga lalu lintas di jalan raya yang sibuk di daerah Mir Bazar di distrik Anantnag, Kashmir selatan, pada Sabtu malam (6/5/2017).

“Tampaknya tiga pejuang terlibat dalam serangan tersebut. Seorang pejuang tewas dalam serangan balasan oleh polisi, satu lagi diyakini terluka. Seorang polisi dan dua warga sipil kehilangan nyawa dalam bentrokan tersebut,” kata SP Vaid, kepala polisi Jammu dan Kashmir kepada media.

Kashmir, sebuah wilayah Himalaya yang berpenduduk mayoritas Muslim, dikuasai oleh India dan Pakistan di beberapa bagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil wilayah Kashmir juga dipegang oleh China.

Inda dan Pakistan telah bertempur dalam tiga perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – sejak dipisahkan pada tahun 1947, dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

Kelompok perlawanan Muslim Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan pemerintah India untuk kemerdekaan, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan. Lebih dari 70.000 orang dilaporkan terbunuh dalam konflik tersebut sejak 1989. India mempertahankan lebih dari setengah juta tentaranya di wilayah yang disengketakan tersebut.

Kisah Massa Aksi 55 Asal Babel: Harapan Realistis untuk Penista Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Semangat untuk menuntut tegaknya supremasi hukum di negara sendiri, sampai pada Kepulauan Bangka Belitung. Terbukti, pada Aksi 55 di Jakarta kemarin, Jumat (5/5/2017) peserta asal Bangka Belitung hadir menuntut hukuman berat terdakwa penistaan agama, Ahok.

Dia adalah Rozi, kelahiran Bangka Belitung. Menurut dia, tuntutan JPU sangat menyakiti hati umat Islam Indonesia, terlebih lagi umat Islam yang di Jakarta. Dalam tuntutannya JPU dinilai tidak menganggap terdakwa Ahok telah menistakan Agama.

Selain itu, kehadiannya dalam Aksi Simpatik 55 ini, ingin memberikan dukungan moril kepada Majelis Hakim agar bisa memutuskan terdakwa Ahok dengan adil.

“Yaitu divonis penjara 5 tahun ataupun sekurang-kurangnya 4 tahun kurungan penjara,” kata Rozi kepada jurniscom disela-sela aksi.

Ia berharap majelis hakim bisa bersikap netral, sehingga memutuskan Ahok dengan vonis maksimal yaitu 5 tahun penjara.

Ia juga mengharapkan para pemimpin bangsa tidak memihak kepada si terdakwa Ahok, dan tidak mengintervensi majelis hakim dalam memvonis petahana DKI Jakarta itu.

Kendati demikian, jika putusan majelis hakim menyatakan Ahok tidak bersalah dan bebas, dia berdoa semoga Allah SWT memberikan teguran kepada Ahok dan Allah SWT memberikan hidayah kepada Ahok.

Reporter: Br

Keranda Mayat untuk Ahok di Aksi Simpatik 55

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aksi Simpatik 55 yang telah mengumpulkan ratusan ribu umat Islam ke Jakarta tidak hanya di isi dengan lantunan ayat suci alquran dan orasi dari para tokoh.

Ada peristiwa menarik dibalik tumpah ruah massa aksi di sekitar pintu masuk stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (5/5/2017).

Beberapa pemuda tampak membawa sebuah keranda mayat dengan ditutup kain bewarna hijau. Mereka membawa keranda mayat dipundaknya dan memecah kerumunan massa yang hikmat mendengarkan taushiyah dari para orator.

Sambil membawa keranda, secara serentak mereka meneriakkan sesuatu yang membuat massa aksi takjub lagi terbelalak.

“Ini keranda mayat untuk Ahok,” teriak para pemuda pembawa keranda itu.

Salah satu pemuda pembawa keranda mayat tersebut memakai baju putih yang bertuliskan Front Pembela Islam. Mereka adalah anggota FPI dari Petamburan Jakarta yang dengan semangatnya membawa keranda mayat sebagai simbol bahwa Ahok harus dihukum.

Aksi Simpatik 55 ini telah berhasil membuat Mahkamah Agung memberikan jaminan garansi independensi majelis hakim kasus penistaan agama Ahok. Mereka juga menjamin Hakim tidak akan diintervensi oleh pihak manapun, termasuk dirinya sendiri.

Reporter: Br

Aksi 55 di Klaten Desak Ahok Segera Dipenjara

KLATEN (Jurnalislam.com) – Ribuan umat Islam Klaten dan sekitarnya menggelar aksi ‘Simpatik 55’ bertajuk ‘Menegakkan Supremasi Hukum di Indonesia’. Aksi berupa longmarch dari Masjid Al-Aqso Klaten menuju Kejaksaan Tinggi Klaten itu menuntut Ahok dipenjara karena telah menista agama.

Ustaz Nurhadi Wasono, orator dari Dewan Syariah Kota Surakarta, mengaku heran dengan tuntutan JPU yang hanya 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun. Ia menilai itu merupakan pembelaan bukan tuntutan.

“Saya heran, Jaksa hanya menuntut 1 tahun penjara buat Ahok, yang seharusnya 5 tahun. Ini namanya pembelaan, bukan tuntutan, ini namanya pengadilan dagelan,” tegasnya dalam orasi dihadapan peserta aksi.

Sementara itu, ustaz Ismail perwakilan dari KOKAM Klaten, mempertanyakan dengan agama JPU. Menurutnya, jika beragama Islam pasti JPU ikut tersakiti.

“Bahwa kita bersama tahu, kalau bicara Ahok, pasti bicara komunis, kalau bicara Ahok pasti bicara tentang penguasa. Saya mau tanya pada kejaksaan, jaksa yang menuntut Ahok agamanya apa? kalau mereka agamanya islam pasti mempunyai kebenaran di hati,” paparnya.

Menurut pantauan jurnalislam.com dilapangan, antusias warga terlihat dalam aksi ini, banyak dari mereka yang menyiapkan makanan sepanjang jalan. Aksi Simpatik 55 Klaten berakhir sore hari.

Reporter: Arie Ristyan

MA Appreciation Towards Participants Of The Simply Sympathetic Action 55

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Supreme Court (MA) Rawa Aryawan said that the sympathetic 55 action that was attended by hundreds of thousands of Muslims in front of the Supreme Court building did not put pressure o the highest judicial institution.

“In enforcing law we are always ready to receive input from anyone, because in the Act follows and explores and also assess the value in society that is considered fair and proper,” he said in Building MA Jakarta, Friday (05/05/2017).

Moreover, MA and the ranks created good faith to support the judges into giving fair decisions and uphold the value of justice in the eyes of society.

“We express our gratitude and respect to the envoy for their support and respect. Also because the action is done peacefully, “he concluded.

“The Supreme Court is the property of the Indonesian nation,” he said proudly.

As is known, hundreds of thousands of Muslims joined the 55-day sympathetic Action today. The action was conducted in order to support the independence of judges who handle the case of defamation of religion.

The panel of judges is scheduled to read a verdict on Tuesday, May 9, 2017.

Reporter: Muhammad Fajar

Translator: Taznim

DSKS, ANNAS, dan MUI Cegah Tokoh Syiah Isi Materi di IAIN Surakarta

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Majelis Ulama Indonesia(MUI) Solo, dan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) kembali mendatangi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Sukoharjo, Kamis (4/5/2017). Mereka menolak acara bedah buku yang akan digelar IAIN Surakarta bertajuk ‘Islam Tuhan, Islam Manusia’ dengan pemateri dari tokoh Syiah, Haidar Bagir.

Perwakilan langsung diterima oleh kepala senat IAIN, Prof. Dr. Utsman dan melanjutkan diskusi di dalam ruangan Pasca Sarjana IAIN. Dalam diskusi berdurasi 30 menit ini, ketua DSKS, Dr. Muinidillah Basri menjelaskan secara singkat kesesatan dan penistaan aliran sesat syiah terhadap Islam.

” Syiah itu sesat mereka mencela para sahabat Rasulullah, Syiah juga melakukan penghinaan terhadap keluarga dan istri nabi Muhammad, terlebih Syiah sangat berbahaya bagi NKRI,” papar Muin.

Sementara itu, ustaz Mas’ud Izzul Mujahid, Sekjen ANNAS Soloraya menawarkan kerja sama kepada pihak IAIN dalam hal kajian ilmiyah tentang Syiáh. Mengupas tuntas paham syiah dan apa yang membuat aliran agama dari negri Iran ini sesat dan membahayakan.

“Jika memang IAIN terkhusus pihak pengurus hendak berbicara ilmiyah tentang Syiáh, kita hadirkan saja kajian ilmiyah tentang kesesatan Syiáh, baik dalam bentuk tabligh akbar, atau kajian-kajian berseri dan ini lebih ilmiyah,” seru Mas’ud.

Perwakilan MUI Surakarta, ustaz Nurhadi Wasono menguatkan pentingnya kerja sama ini. ÏAIN, kata dia, adalah milik umat Islam, sudah seharusnya pihak pengurun mendengarkan umat Islam di sekitar. Ia menegaskan, kedatangan sejumlah ormas ini untuk menjalin hubungan baik dengan IAIN, bukan sebaliknya.

Menanggapi itu, Kepala senat IAIN Prof. Dr.Utsman, engaku siap untuk memperjuangkan keinginan masyarakat untuk tidak menghadirkan Haidar Baghir, tokoh syiah yang MUI juga sudah menyatakan sesat dalam buku tentang kesesatan syiah. Ia juga berjanji untuk menyampaikan keberatan ini kepada pihak-pihak terkait.

reporter: Abu Roihanain

[Breaking News] Result of GNPF MUI Meeting

JAKARTA (Jurnalisman.com) – The Supreme Court declared to the representatives of the GNPF-MUI delegation in the sympathetic action 55 that it would not be interfered with by anyone, including himself.

This was expressed by Coordinator of GNPF-MUI advocate Kapitra Ampera after meeting with the Secretary General of the Supreme Court.

“The Supreme Court guarantees that the panel of judges will not be intervened with by anyone including by himself,” Kapitra said in front of MA Office, Jalan Medan Merdeka Utara Jakarta, Friday (05/05).

The second guarantee from the Supreme Court, Kapitra continued, is the Supreme Court guarantees the panel of judges to determine the verdict of the blasphemy case with the accused Ahok based on the facts of the trial and the values ​​of justice.

The statement was the response of the Supreme Court after 12 representatives of the sympathetic Action 55 met the Secretary General of the Supreme Court.

“It’s a guarantee given by the Supreme Court,” Kapitra told the Islamic News Agency (INA), a news agency initiated by the Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Tens of thousands of Muslims joined the 55/day sympathetic Action today. this action was in order to support the independence of judges who handle cases of blasphemy that drags on with Ahok.

The panel of judges is scheduled to read a verdict on Tuesday, May 9, 2017.

Reporter: Imam S – Fajar Shodiq / INA

Translator: Taznim