Kelompok Saudi Keluarkan Daftar Individu dan Organisasi Islam yang Didanai Qatar

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com)Pernyataan bersama oleh Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA menempatkan 59 individu dan 12 organisasi Islam – yang berbasis Qatar atau didanai oleh Qatar – dalam sebuah “daftar teror, lansir Aljazeera, Kamis (8/6/2017).

Pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin Syeikh Yusuf al-Qaradawi termasuk dalam daftar individu.

“Pernyataan ini sehubungan dengan komitmen kami untuk memerangi terorisme, mengeringkan sumber pendanaan terorisme, memerangi ideologi ekstrem dan instrumen yang menyebarkan dan mempublikasikannya,” bunyi pernyataan tersebut.

“Ini adalah akibat berlanjutnya pelanggaran otoritas di Doha mengenai komitmen dan kesepakatan yang ditandatangani, termasuk komitmen untuk tidak mendukung atau melindungi elemen atau kelompok yang mengancam keamanan negara.”

Arab Saudi dan sekutunya termasuk UEA, Bahrain dan Mesir – yang bukan anggota GCC – pada hari Senin memangkas hubungan diplomatik dengan negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Qatar atas klaim Qatar mendukung “ekstremisme”.

Qatar membantah keras tuduhan tersebut.

Erdogan: Turki Sepakat Kirim Pasukan dan Melatih Tentara Qatar

TURKI (Jurnalislam.com)Presiden Recep Tayyip Erdogan Kamis malam (8/6/2017) meratifikasi dua kesepakatan untuk mengerahkan pasukan Turki di Qatar dan melatih pasukan negara Teluk tersebut, menurut kepresidenan, lansir World Bulletin.

Parlemen Turki sebelumnya telah meratifikasi kesepakatan tersebut pada hari Rabu. Keputusan tersebut diputuskan hanya beberapa hari setelah lima negara Arab memutuskan hubungan dengan Qatar.

Kesepakatan untuk menggelar pasukan di Qatar, yang bertujuan untuk memperbaiki angkatan bersenjata negara tersebut dan meningkatkan kerja sama militer, telah ditandatangani pada bulan April di Doha.

Di bawah undang-undang tersebut, tentara kedua negara juga akan bisa melakukan latihan bersama. Langkah ini bertujuan untuk berkontribusi pada perdamaian regional dan dunia.

Selain itu, pasukan Turki akan dapat melatih pasukan Qatar, di bawah kesepakatan lain antara kementerian dalam negeri kedua negara pada bulan Desember 2015.

Pada hari Senin, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman memutuskan hubungan dengan Qatar, menuduh Doha mendukung terorisme.

Qatar membantah tuduhan tersebut, menyebut tindakan tersebut “tidak dapat dibenarkan”.

Eskalasi tersebut terjadi dua pekan setelah situs resmi kantor berita resmi Qatar diduga diretas oleh orang-orang tak dikenal yang dilaporkan menerbitkan pernyataan yang dikaitkan dengan emir negara tersebut, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.

Insiden tersebut memicu perselisihan diplomatik antara Qatar dan tetangganya.

Hamas Bantah Tuduhan Kirim Pasukan ke Libya

PALESTINA (Jurnalislam.com)Kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas pada hari Kamis (8/6/2017) membantah klaim baru-baru ini bahwa mereka telah mengirim pasukannya ke Libya yang sedang dilanda perang, World Bulletin melaporkan.

Penyangkalan tersebut muncul satu hari setelah juru bicara komandan militer Libya Khalifa Haftar menuduh kelompok perjuangan Islam yang berbasis di Gaza itu mengirim anggota sayap bersenjata mereka untuk berperang di Libya atas nama Qatar, yang saat ini terlibat dalam perselisihan diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan beberapa Negara Arab lainnya.

“Hamas tidak – dan tidak akan – mengirim pasukannya dan senjata ke luar negeri,” kata pemimpin Hamas Khalil al-Hayya dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.

“Moncong senjata kita tetap diarahkan semata-mata ke Israel, yang akan terus kita usir – bahkan jika itu berarti mengorbankan pemimpin kita, anak-anak kita dan rumah kita,” al-Hayya menyatakan.

Dia membuat pernyataan tersebut saat mengambil bagian dalam pemakaman anggota Hamas yang baru saja meninggal di kota Rafah di Jalur Gaza selatan.

Haftar, yang berafiliasi dengan parlemen Libya berbasis Tobruk, mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab dan Mesir, yang keduanya – bersama dengan Arab Saudi, Bahrain dan Yaman – secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar awal pekan ini.

Garda Revolusi Iran Tuding Arab Saudi dan IS Dibalik Serangan di Teheran

TEHERAN (Jurnalislam.com)Korps Garda Revolusi Iran menuduh Arab Saudi berada di balik serangan ganda pada hari Rabu (7/6/2017) di ibukota Teheran yang menewaskan sedikitnya 12 orang.

Islamic State (IS) mengaku bertanggung jawab dan merilis video yang menunjukkan sekelompok orang bersenjata di dalam gedung parlemen.

Pasukan elit bersumpah dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu untuk membalas dendam.

“Fakta bahwa IS mengklaim bertanggung jawab membuktikan bahwa mereka terlibat dalam serangan brutal tersebut,” mengacu pada Arab Saudi.

Pernyataan tersebut juga mengatakan bahwa “darah orang yang tumpah tidak akan tetap diam tak berdaya”.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir, yang berbicara di ibukota Jerman Berlin, mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dan tidak ada bukti bahwa warga Saudi terlibat.

Ghanbar Naderi, wartawan Kayhan International, yang berbicara dari Teheran, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “banyak pihak tidak percaya bahwa IS bertindak sendiri”.

“Mereka memiliki pelanggan, mereka memiliki rekan di Timur Tengah dan sekitarnya. Arab Saudi adalah salah satu tersangka utama karena ideologinya yang sesuai dengan apa yang dirasakan, dipikirkan dan dipercayai oleh para anggota IS,” katanya.

Pesawat Militer Myanmar yang Hilang Ditemukan di Tengah Laut Andaman, 100 Tewas

MYANMAR (Juralislam.com) – Potongan-potongan pesawat militer Myanmar yang hilang bersama lebih dari 100 tentara dan anggota keluarga mereka ditemukan di Laut Andaman pada Rabu malam (7/6/2017), kata seorang pejabat setempat.

Lebih dari selusin anak diyakini berada di antara penumpang dalam pesawat yang melakukan perjalanan dari kota selatan Myeik menuju Yangon.

“Sekarang mereka telah menemukan potongan-potongan pesawat yang rusak di laut sejauh 136 mil (218 km) dari kota Dawei,” kata Naing Lin Zaw, seorang pejabat pariwisata di Myeik, menambahkan bahwa angkatan laut masih mencari-cari di laut.

Sebuah sumber angkatan udara mengkonfirmasi kepada AFP bahwa sebuah kapal pencari dan penyelamatan angkatan laut telah menemukan potongan-potongan pesawat di laut sekitar satu jam penerbangan di selatan Yangon, ibukota komersial Myanmar.

Kantor kepala komandan mengatakan pesawat tersebut kehilangan kontak sekitar pukul 01:35 waktu setempat (05:05 GMT) di lepas pantai selatan Myanmar.

Ada informasi yang bertentangan tentang jumlah orang yang ada di dalamnya.

Dengan informasi jumlah yang diperbarui, kantor tersebut mengatakan bahwa 106 penumpang yaitu tentara dan anggota keluarga mereka saat itu berada di dalam pesawat bersama 14 awak kapal.

Sumber angkatan udara mengatakan lebih dari selusin penumpang yang ada di dalamnya adalah anak-anak.

Empat kapal angkatan laut dan dua pesawat angkatan udara dikirim untuk mencari pesawat yang terbang pada ketinggian lebih dari 18.000 kaki (5.486 meter).

Saat ini adalah musim hujan di Myanmar tapi tidak ada laporan cuaca buruk saat pesawat hilang.

Beri Dukungan pada Qatar, Turki akan Kirim Ribuan Pasukannya

TURKI (Jurnalislam.com)Parlemen Turki telah menyetujui sebuah undang-undang yang mengizinkan ribuan pasukannya untuk dikirim ke sebuah pangkalan militer Turki di Qatar, lansir Aljazeera, Rabu (7/6/2017).

RUU tersebut, yang disusun pertama kali di bulan Mei, disahkan dengan 240 suara yang mendukung, sebagian besar dengan dukungan dari Partai AK yang berkuasa dan oposisi nasionalis. MHP

Keputusan di hari Rabuitu merupakan dukungan nyata bagi Qatar karena menghadapi isolasi diplomatik dan perdagangan dari beberapa kekuatan terbesar Timur Tengah.

Turki adalah sekutu penting Qatar dan mendirikan sebuah pangkalan militer di negara yang juga menjadi tuan rumah pangkalan udara terbesar AS di Timur Tengah.

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain memutuskan hubungan dengan Qatar dan menutup wilayah udara mereka bagi penerbangan komersial pada hari Senin, menuduhnya membiayai kelompok ekstremis.

Qatar dengan keras membantah tuduhan tersebut. Ini adalah perpecahan terburuk antara negara-negara Arab yang kuat dalam beberapa dasawarsa.

Presiden Turki Tayyip Erdogan telah mengkritik langkah negara-negara Arab tersebut, dengan mengatakan bahwa mengisolasi Qatar dan menjatuhkan sanksi tidak akan menyelesaikan masalah dan menambahkan bahwa Ankara akan melakukan segala upaya dengan kekuatannya untuk membantu mengakhiri krisis.

Turki telah mempertahankan hubungan baik dengan Qatar serta beberapa tetangga Teluk Arab lainnya.

Turki mendirikan sebuah pangkalan militer di Qatar, instalasi pertama di Timur Tengah, sebagai bagian dari kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2014. Pada tahun 2016 Ahmet Davutoglu, perdana menteri Turki, mengunjungi markas bagi 150 tentara, Harian Turki Hurriyet melaporkan.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada akhir 2015, Ahmet Demirok, duta besar Turki untuk Qatar pada saat itu, mengatakan bahwa 3.000 pasukan tentara darat pada akhirnya akan ditempatkan di pangkalan tersebut, yang direncanakan terutama sebagai tempat latihan bersama.

Dituduh Organisasi Teroris, Ikhwanul Muslimin Kecam Arab Saudi

KAIRO (Jurnalislam.com)Ikhwanul Muslim Mesir mengecam penunjukan kelompok mereka sebagai organisasi “teroris” baru-baru ini di Arab Saudi sebagai tindakan yang biadab, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (7/6/2017).

Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir meminta Qatar untuk menghentikan dukungan terhadap organisasi-organisasi Islam tertentu, dengan mengutip Ikhwanul Muslimin dan Hamas di Palestina.

Berbicara saat berkunjung ke Prancis, al-Jubeir mengatakan keputusan Arab Saudi baru-baru ini untuk memutuskan hubungan dengan Doha tidak ditujukan untuk merugikan Qatar namun untuk memaksanya “memilih” antara Arab Saudi dengan kelompok-kelompok ini (Hamas dan Ikhwanul Muslim) .

“Ikhwanul Muslimin protes, dengan kemarahan yang mendalam atas tuduhan pejabat Saudi tersebut terhadap kelompok mereka,” kata Ikhwanul Muslim dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

“Sejak pendiriannya, Ikhwanul Muslimin telah mempertahankan hubungan positif dengan penduduk dan penguasa negara-negara Teluk, memberi mereka layanan budaya, ilmiah, politik, ekonomi dan sosial,” bunyi pernyataan tersebut.

Sejak penggulingan Muhammad Mursi – presiden pertama yang terpilih secara bebas di Mesir dan juga merupakan pemimpin Ikhwanul Muslimin – dalam sebuah kudeta militer 2013, kelompok tersebut telah dilarang di Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Ikhwanul Muslimin menekankan komitmennya terhadap demonstrasi “damai” dengan tujuan untuk membalikkan kudeta berdarah tahun 2013 di Mesir, yang kudeta tersebut dilakukan jenderal As sisi yang sekarang menjabat presiden dan peristiwa itu didukung secara terbuka pada saat itu oleh Riyadh dan Abu Dhabi.

Pada hari Senin, lima negara Arab – Arab Saudi, Mesir, UEA, Bahrain dan Yaman – secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduhnya mendukung terorisme.

Mauritania mengikuti hari berikutnya, sementara Yordania telah menurunkan hubungan diplomatiknya dengan Doha.

Arab Saudi juga telah menutup perbatasan daratnya dengan Qatar, sehingga secara geografis mengisolasi negara Teluk kecil tersebut.

Doha secara keras membantah tuduhan terhadapnya, yang menggambarkan langkah yang secara diplomatis mengisolasinya baru-baru ini “tidak dapat dibenarkan”.

Rusia Bantah Tuduhan AS sebagai Penyebar Berita Palsu Penyebab Krisis Qatar

RUSIA (Jurnalislam.com)Moskow pada hari Rabu (7/6/2017) menolak tuduhan bahwa hacker Rusia membantu memicu krisis diplomatik di sekitar Qatar, setelah CNN melaporkan bahwa pejabat AS percaya Rusia menyebarkan sebuah berita palsu, lansir World Bulletin.

“Apapun yang terjadi, itu adalah hacker. Ini adalah klaim basi dan seperti sebelumnya tidak ada bukti, namun kesimpulan ditarik sebelum kejadian tersebut diselidiki,” katanya.

CNN melaporkan pada hari Selasa pejabat intelijen AS percaya bahwa hacker Rusia menyebarkan sebuah berita palsu yang menyebabkan Arab Saudi dan beberapa sekutunya memutuskan hubungan dengan Qatar.

Pakar FBI mengunjungi Qatar pada akhir Mei untuk menganalisis dugaan pelanggaran cyber yang membuat para peretas menempatkan berita palsu tersebut di kantor berita negara Qatar, kata penyiar AS.

Laporan tersebut mencakup komentar dari penguasa emirat yang tampak ramah terhadap Israel dan Iran dan meragukan berapa lama Presiden AS Donald Trump akan tetap menjabat.

Arab Saudi kemudian mengutip berita palsu tersebut sebagai alasan untuk memberlakukan blokade diplomatik dan ekonomi melawan Qatar, kata laporan tersebut.

Peretas Rusia saat ini menjadi pusat perhatian internasional setelah laporan bahwa Kremlin meluncurkan serangan cyber untuk mengatur pemungutan suara presiden AS tahun lalu.

Moskow berulang kali membantah bahwa mereka berada di balik serangan hacking terhadap AS dan serangkaian pelanggaran cyber lainnya yang diduga terjadi di luar negeri

Pasukan Qatar yang Memerangi Syiah Houthi di Yaman Pulang ke Doha

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pasukan Qatari di koalisi pimpinan-Arab yang memerangi pemberontak Syiah Houthi Yaman telah kembali ke tanah air, menurut kantor berita resmi Qatar QNA, lansir World Bulletin, Rabu (7/6/2017).

Langkah tersebut dilakukan beberapa hari setelah koalisi tersebut menghentikan keanggotaan Qatar di blok anti-Houthi, yang telah meluncurkan serangan udara melawan pemberontak Syiah Houthi yang menguasai Sanaa dan provinsi Yaman lainnya pada tahun 2014.

Menurut QNA, petinggi militer menyambut baik pasukan tersebut pada hari Selasa.

Pada hari Senin, lima negara Arab – Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman – memutuskan hubungan dengan Qatar, menuduh Doha mendukung terorisme.

Qatar membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa tindakan untuk memutuskan hubungan dengan mereka “tidak dapat dibenarkan” dan bertujuan untuk memberlakukan perwalian di negara Teluk.

Eskalasi baru tersebut terjadi dua pekan setelah situs resmi kantor berita resmi Qatar yang diduga diretas oleh orang-orang tak dikenal dilaporkan menerbitkan pernyataan salah yang dikaitkan dengan emirnya, Sheikh Tamim Bin Hamad al-Thani.

Insiden tersebut memicu perselisihan diplomatik antara Qatar dan tetangganya, UEA dan Arab Saudi.

Gedung Parlemen Iran dan Kuil Khomeini di Teheran Diserang, 12 Tewas

TEHRAN (Jurnalislam.com)Orang-orang bersenjata di Teheran melepaskan tembakan ke gedung parlemen Iran dan di dekat sebuah kuil Syiah yang dikhususkan untuk Ayatollah Khomeini pada hari Rabu (7/6/2017), menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 43 lainnya, menurut pejabat Iran.

Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa pasukan Iran telah melumpuhkan semua penyerang, lansir Anadolu Agency.

Empat orang bersenjata terlibat dalam serangan di parlemen, kantor berita IRNA melaporkan, mengutip anggota parlemen Iran Qolam-Ali Jafarzadeh Imenabadi.

Tiga penjaga dilaporkan terluka saat penyerang, yang dipersenjatai dengan senapan serbu Kalashnikov dan sebuah pistol, melepaskan tembakan ke dalam gedung parlemen.

Imenabadi mengatakan bahwa sedikitnya satu penjaga terbunuh dalam baku tembak berikutnya.

Sementara itu Kantor Berita Fars juga melaporkan bahwa lima orang telah terbunuh, dan sedikitnya 10 lainnya cedera, dalam serangan terhadap parlemen tersebut.

Penyerang juga membawa empat orang sandera di lantai atas gedung parlemen, Tasnim melaporkan.

Kantor berita tersebut, yang melaporkan bahwa korban tewas akibat serangan parlemen berjumlah tujuh orang, juga menerbitkan sebuah gambar seorang penyerang yang diduga menyandera seorang sandera dari sebuah jendela.

Dalam serangan serentak ke selatan Teheran, empat penyerang melepaskan tembakan ke sebuah kuil Syiah yang didedikasikan untuk Ayatollah Khomeini, pendiri republik Iran tersebut, Fars melaporkan.

Menurut kantor berita tersebut, satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan bom dan senjata.

Fars melaporkan bahwa tiga penyerang menembaki pengunjung di tempat ritual itu, sementara penyerang yang keempat meledakkan dirinya di luar sebuah kantor polisi di seberang situs tersebut.

Kantor berita yang sama menambahkan bahwa satu penyerang melakukan bunuh diri dengan menelan pil sianida, sementara seorang teroris wanita ditangkap oleh pihak berwenang.

Ali Khalili, seorang pejabat di tempat ritual tersebut, mengatakan kepada IRNA bahwa “seorang laki-laki bersenjata” meledakkan dirinya di luar makam.

Pasukan keamanan di kuil tersebut, sementara itu, mengatakan bahwa mereka telah menjinakkan satu lagi rompi bunuh diri di lokasi kejadian.

Media lokal melaporkan bahwa kelompok Islamic State (IS) telah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui situs Amaq.

Moskow pada hari Rabu menyuarakan kesiapan mereka untuk melakukan tindakan gabungan lebih lanjut melawan penyerang dengan Teheran menyusul serangan kembar mematikan yang menargetkan parlemen Iran dan tempat ritual Syiah Ayatollah Khomeini.

Presiden Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa kepada rekannya dari Iran Hassan Rouhani dalam sebuah telegram, kata Kremlin dalam sebuah pernyataan.

“Kepala negara Rusia dengan tegas mengecam serangan ini, yang sekali lagi menguatkan kebutuhan untuk meningkatkan kerja sama internasional dalam memerangi militan, dan mengkonfirmasi kesiapan Rusia untuk melakukan tindakan bersama lebih lanjut dengan mitra Iran di daerah ini,” kata pernyataan tersebut.