SOHR: Jumlah Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara AS adalah 1.953 Orang

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 472 warga sipil, termasuk 137 anak-anak, tewas bulan lalu akibat serangan udara koalisi pimpinan AS di Suriah, kata sebuah kelompok pemantau, lansir Aljazeera Jumat (23/6/2017).

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) mengatakan pada hari Jumat bahwa pada periode antara 23 Mei dan 23 Juni terdapat jumlah korban tewas sipil tertinggi dalam serangan koalisi selama satu bulan sejak mereka memulai pada tanggal 23 September 2014.

Lembaga monitor yang berbasis di Inggris ini mengatakan bahwa korban tewas tersebut terutama tercatat di provinsi Deir Az Zor dan Raqqa. Kota Raqqa adalah ibukota kelompok Islamic State (IS).

Kepala SOHR, Rami Abdel Rahman, mengatakan bahwa korban tewas termasuk 222 warga sipil di Deir Az Zor, di Suriah timur, dan 250 lainnya di provinsi Raqqa, provinsi timur laut.

“Ini adalah korban tewas warga sipil tertinggi dalam serangan udara aliansi AS sejak mereka [koalisi] mulai melakukan pemboman di negara tersebut pada tanggal 23 September 2014,” kata Abdel-Rahman.

Jumlah korban terakhir membawa jumlah warga sipil yang tewas akibat serangan udara pimpinan AS di Suriah menjadi 1.953, katanya.

Koalisi pimpinan AS mengatakan kepada kantor berita AFP dalam sebuah pernyataan bahwa pasukannya “bekerja dengan tekun dan teliti agar tepat sasaran” dalam serangan udara mereka.

“Tujuan kami selalu untuk menihilkan korban sipil,” kata pernyataan tersebut.

Dalam laporan terbaru tentang korban sipil, yang dikeluarkan pada 2 Juni, koalisi mengklaim bahwa pihaknya telah “membunuh” 484 warga sipil secara tidak sengaja di Irak dan Suriah.

Ratusan ribu orang telah terbunuh sejak konflik Suriah meletus saat warganya menentang rezim Nushairiyah Bashar al-Assad pada Maret 2011. Sejak itu pertikaian meningkat menjadi konflik bersenjata lengkap antara pasukan pemerintah dan kelompok oposisi.

The Guardian: Desakan Kelompok Arab Tutup Aljazeera adalah Konyol dan Harus Dilawan

DOHA (Jurnalislam.com) – Permintaan oleh sekelompok negara Arab untuk menutup Al Jazeera Media Network adalah “salah”, “konyol” dan “harus dilawan”, surat kabar The Guardian mengatakan dalam sebuah editorial, bergabung dengan suara kekhawatiran tentang tekanan kebebasan pers di Teluk yang terus meningkat.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir dilaporkan memberi Qatar waktu 10 hari untuk memenuhi 13 tuntutan demi mengakhiri krisis diplomatik besar di Teluk, dengan bersikeras, antara lain, bahwa Doha menutup Al Jazeera, menutup sebuah pangkalan militer Turki dan menurunkan hubungan dengan Iran

“Serangan terhadap Al Jazeera adalah bagian dari serangan terhadap kebebasan berbicara untuk menumbangkan dampak media lama dan baru di dunia Arab. Itu harus dikutuk dan ditolak,” editorial yang diterbitkan oleh The Guardian pada hari Jumat (23/6/2017) mengatakan.

Dengan menyerang Al Jazeera yang berbasis di Doha, “Negara-negara tetangga Qatar ingin membungkam media yang membangkitkan pertanyaan tentang bagaimana negara-negara tersebut dijalankan,” kata surat kabar Inggris yang terhormat tersebut dalam sebuah tulisan berjudul, “Pandangan Guardian terhadap Al Jazeera: jurnalisme yang memberangus”.

Al Jazeera adalah sumber utama berita saat Arab Spring merebak di Timur Tengah pada tahun 2011, “membuat kesal banyak pemimpin Arab yang tidak diragukan lagi berharap hal itu tidak akan disiarkan secara permanen”, The Guardian menulis.

Al Jazeera, yang sudah ada jauh sebelum internet di kawasan ini, memecahkan tradisi dengan menjangkau langsung ke ruang-ruang tamu di Arab. Seiring dengan media sosial, Al Jazeera dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong opini publik dengan cara yang tidak dapat diabaikan oleh pemerintah Arab.

“Tapi sekarang Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berpikir mereka bisa membungkamnya dengan blokade Qatar yang hanya akan dicabut jika Al Jazeera dimatikan.”

Sambil mengatakan bahwa “Al Jazeera tidak sempurna”, The Guardian mengatakan bahwa Qatar menghapuskan penyensoran formal 20 tahun yang lalu.

“Sebagai perbandingan, pada tahun 2012 UEA menuntut [mantan Perdana Menteri Inggris] David Cameron mengendalikan liputan BBC yang merugikan atau akan menghentikan kesepakatan senjata yang menguntungkan,” katanya.

“Abu Dhabi adalah media player regional, wakil perdana menteri UEA memiliki Sky News Arabia, bersama dengan penyiar Rupert Murdoch. Menurut pengamat, stasiun ini mengeluarkan berita palsu tentang penguasa Qatar.”

Sebelumnya pada hari Jumat, pengawas media, kelompok hak asasi manusia dan komentator terkemuka semuanya mengutuk tuntutan untuk menutup Al Jazeera sebagai “keterlaluan”, “tidak masuk akal” dan “mengkhawatirkan”.

Jaringan berbasis Qatar ini juga menggambarkan seruan penutupannya sebagai “tidak ada yang lebih mudah dari pengepungan terhadap profesi jurnalistik”.

“Kami menegaskan hak kami untuk mempraktekkan jurnalisme kami secara profesional tanpa tunduk pada tekanan dari pemerintah atau otoritas manapun dan kami menuntut agar pemerintah menghormati kebebasan media agar jurnalis terus melakukan pekerjaan mereka tanpa intimidasi, ancaman, dan rasa takut,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Awal pekan ini, Dewan Editorial New York Times mengatakan sebuah “serangan yang salah arah” terhadap Al Jazeera merupakan upaya oleh Arab Saudi dan koalisi anti-Qatar untuk “menghilangkan suara yang dapat menyebabkan warga mempertanyakan penguasa mereka”.

Takut Dominasi Turki di Masjid Al Aqsha, Parlemen Israel Serukan Rapat Darurat

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Dua anggota sayap kanan Knesset (parlemen Israel) pada hari Kamis (22/6/2017) menyerukan diadakannya sebuah sidang parlemen untuk membahas dukungan Turki dan alokasi bantuan yang sedang berlangsung untuk Yerusalem Timur dan Masjid Al-Aqsha.

Sebagaimana yang dilansir Anadolu Agency, Israel HaYom, sebuah harian berbahasa Ibrani yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melaporkan bahwa Rabbi Yehuda Glick, anggota partai Likud sayap kanan Israel, dan Shuli Maalem, anggota partai rumah Yahudi sayap kanan, telah menyerukan diadakannya pertemuan komite keamanan dan urusan luar negeri Knesset untuk membahas peran penting Turki di Yerusalem Timur yang diduduki Israel.

Mereka membuat permintaan tersebut setelah surat kabar yang sama menerbitkan sebuah laporan edisi Rabu di halaman depan yang mengkritik aktivitas kemanusiaan Turki di kota bersejarah tersebut.

Laporan itu menegaskan bahwa, satu abad setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman, Turki mulai menegaskan kembali pengaruhnya di wilayah tersebut dengan menuangkan jutaan dolar bantuan ke Yerusalem Timur dan kompleks Masjid Al-Aqsha, Palestina.

Menurut laporan tersebut, sekutu Turki di Yerusalem Timur adalah musuh bebuyutan Israel: yaitu Sheikh Raed Salah, kepala Gerakan Islam di Palestina utara, dan Sheikh Ekrima Sabri, mantan mufti Yerusalem.

“Sejak tahun 2004, Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (the Turkish Cooperation and Coordination Agency-TIKA) telah menginvestasikan jutaan dolar di 63 proyek yang berbeda di seluruh Yerusalem Timur,” kata laporan tersebut.

Ditambahkan: “Tujuan keseluruhan kegiatan Turki adalah pengamanan dan penguatan warisan dan identitas Muslim Yerusalem.”

Laporan tersebut kemudian menunjukkan bahwa TIKA saat ini sedang berupaya mengembalikan arsip Muslim era Utsmaniyah di Yerusalem Timur dan Masjid Dome of the Rock yang ikonik, mencatat bahwa “kehadiran Turki” mudah terlihat di kota.

“Bendera dan makanan Turki dapat dilihat di mana-mana, yang menunjukkan pengaruh negara tersebut di kota,” katanya.

Menurut laporan yang sama, investasi Turki yang sedang berlangsung di Yerusalem telah mengikis pengaruh Jordania sebelumnya, terlepas dari status historis Kerajaan Hashemite sebagai “penjaga situs suci Muslim di Yerusalem”.

Surat kabar tersebut kemudian meratapi popularitas Turki dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di antara penduduk Palestina Yerusalem.

Awal bulan ini, sebuah laporan disiapkan untuk Nir Barkat, walikota Yahudi di Yerusalem, mengenai meningkatnya pengaruh Turki di kota tersebut, yang berjudul, “Orang-orang Turki merebut Yerusalem”.

PM Irak: Pembebasan Kota Mosul akan Diumumkan Beberapa Hari Lagi

IRAK (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan bahwa “pembebasan” kota Mosul dari kelompok Islamic State (IS) akan diumumkan dalam beberapa hari ini.

“Hanya beberapa hari lagi dan kami akan mengumumkan pembebasan total Mosul,” kata Abadi kepada wartawan pada hari Kamis (22/6/2017), menurut Sumaria TV yang berbasis di Baghdad, lansir Aljazeera.

Pengumuman tersebut disampaikan saat pasukan Irak melanjutkan perang melawan IS di benteng terakhir mereka di Mosul barat, kota tua di Mosul.

Rekaman yang diperoleh oleh kantor berita Associated Press menunjukkan pasukan Irak merangsek ke lingkungan Bab al-Beed di Kota Tua Mosul – benteng IS terakhir dalam pertempuran yang tampaknya merupakan pertempuran besar terakhir di Irak.

Kelompok bersenjata IS telah kehilangan sebagian besar wilayah mereka selama tiga tahun terakhir, dan Mosul adalah kota benteng terakhir mereka di Irak.

Para milisi kelompok tersebut diperkirakan untuk mempertahankan posisi terakhir mereka di Kota Tua – sebuah kota berpenduduk padat dengan lorong-lorong sempit dan berkelok-kelok.

Hingga 150.000 warga sipil diyakini terjebak di sana, dalam mana kondisi yang digambarkan oleh PBB sebagai sesuatu yang sangat menyedihkan.

Pertempuran memperebutkan Mosul telah berlangsung selama lebih dari delapan bulan.

Pada hari Rabu, pasukan IS meledakkan masjid Nuri saat pasukan Irak maju ke kompleks keagamaan kuno di kota utara yang diperangi tersebut.

Pejabat dari Irak dan koalisi mengatakan penghancuran situs tersebut merupakan tanda segera hilangnya IS dari Mosul, dengan Perdana Menteri Irak al-Abadi menyebutnya sebagai “deklarasi resmi kekalahan”.

Hilangnya menara abad ke-12 yang ikonik – salah satu monumen negara yang paling dikenal yang kadang disebut Menara Pisa Irak – membuat negara ini terguncang.

Menlu Austria Tolak Sekolah Taman Kanak-kanak Islam di Negaranya

WINA (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Austria mengungkapkan penentangannya terhadap taman kanak-kanak Islam di negara tersebut, dengan mengklaim bahwa sekolah-sekolah ini membatasi integrasi para imigran.

Berbicara pada sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh surat kabar Kurier yang berbahasa Jerman, Sebastian Kurz berpendapat bahwa sekolah-sekolah ini meningkatkan individu yang terisolasi dari masyarakat, Anadolu Agency melaporkan Kamis (22/6/2017)

Ketika ditanya apakah sekolah tersebut harus ditutup, Kurz mengatakan bahwa sekolah tersebut mendapat bantuan dari negara bagian. Jika dibuat sulit untuk mendapat dukungan, sekolah akan tutup, tambahnya.

“Selain itu, saya pikir tidak ada kebutuhan [atas sekolah-sekolah ini]. Seharusnya tidak ada taman kanak-kanak Islam,” katanya.

Kurz mengatakan bahwa sekitar 10.000 anak-anak menghadiri sekolah-sekolah Islam di ibukota Wina saat ini. Dia mengatakan bahwa institusi pendidikan pra-sekolah ini didanai oleh pajak dan memberikan ‘pendidikan tingkat rendah’.

Anak-anak yang bersekolah di sekolah ini tidak bisa belajar bahasa Jerman dengan baik, menteri menambahkan.

Awal tahun ini, Kurz merancang larangan jilbab bagi pegawai negeri.

Dia juga berkeras dalam pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa sebelumnya untuk membekukan perundingan keanggotaan Turki dalam UE, dengan alasan bahwa ini akan menjadi tanggapan yang tepat terhadap perkembangan politik di negara kandidat UE tersebut baru-baru ini.

Rusia: Ada Indikasi Kuat al Baghdadi Terbunuh dalam Serangan Udara

RUSIA (Jurnalislam.com) – Ada indikasi kuat bahwa pemimpin kelompok Islamic State (IS) Abu Bakr al-Baghdadi telah terbunuh oleh serangan udara Angkatan Udara Rusia di Suriah pada akhir Mei, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan pada hari Kamis (22/6/2017).

“Sangat mungkin bahwa pemimpin IS [Abu Bakr] al-Baghdadi terbunuh dalam serangan udara Angkatan Udara Rusia pada sebuah pos komando militan di pinggiran selatan kota Raqqa pada akhir Mei,” Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Oleg Syromolotov kepada Sputnik News, mengutip data Kementerian Pertahanan Rusia, lansir Al Arabiya.

Kematian Baghdadi sekarang diverifikasi melalui “berbagai saluran,” kata Syromolotov.

Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa dia tidak dapat memberikan bukti kuat bahwa Baghdadi telah terbunuh.

Menteri Pertahanan Rusia mengatakan pada 16 Juni bahwa pemimpin IS mungkin telah terbunuh dalam sebuah pertemuan dewan militer IS oleh serangan udara Rusia pada 28 Mei di selatan benteng kelompok militan tersebut di Raqqa, Suriah.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan pada hari Kamis bahwa “pembebasan” kota Mosul dari IS akan diumumkan dalam beberapa hari ini.

“Hanya beberapa hari lagi dan kami akan mengumumkan pembebasan total Mosul,” kata Abadi kepada wartawan di Baghdad, menurut al-Sumaria.

Rombongan Kedua Pasukan Turki telah Tiba di Qatar

DOHA (Jurnalislam.com) – Rombongan kedua pasukan Turki tiba di Qatar pada hari Kamis (22/6/2017), bergabung dengan kelompok pertama yang tiba awal pekan ini untuk memulai latihan dengan rekan-rekan Qatar mereka, kantor berita resmi Qatar QNA melaporkan, lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh QNA, Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan kedatangan kelompok kedua pasukan Turki ke Pangkalan Udara Al-Udeid yang terletak di sebelah tenggara ibukota Qatar, Doha – pada hari Kamis pagi.

Kelompok pertama pasukan Turki tiba di Qatar pada hari Ahad, setelah mereka melakukan putaran pertama latihan militer – termasuk sebuah parade tank tempur – di kamp militer Qatar Tariq bin Ziyad.

Latihan bersama dilakukan hanya beberapa hari setelah parlemen Turki meratifikasi dua perjanjian kerja sama militer yang memungkinkan penggelaran pasukan ke Qatar untuk melatih pasukan gendarmerie negara itu.

Kesepakatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan angkatan bersenjata Qatar, mendukung upaya negara tersebut untuk memerangi terorisme, dan berkontribusi terhadap keamanan regional dan global.

Penyebaran pasukan Turki terbaru terjadi dengan latar belakang embargo selama sepekan yang diberlakukan terhadap Qatar oleh beberapa negara Arab lainnya.

Pada tanggal 5 Juni, lima negara Arab – Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman – secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduhnya mendukung terorisme.

Mauritania menyusul segera sesudahnya, sementara Yordania menurunkan perwakilan diplomatiknya di Doha.

Arab Saudi juga telah menutup perbatasan daratnya dengan Qatar, sehingga secara geografis mengisolasi negara Teluk kecil itu.

Doha secara keras membantah tuduhan bahwa mereka mendukung terorisme, dan menggambarkan usaha untuk mengisolasi mereka sebagai “tidak dapat dibenarkan”.

Sementara itu Turki, sekutu lama Qatar, sejak itu bergegas membantu Doha, mengirim sejumlah besar bantuan kemanusiaan – di samping tentara – ke negara yang dikepung itu.

Kebencian Anti Muslim di Manchester Melejit Hingga 500 Persen, Ini Sebabnya

LONDON (Jurnalislam.com) – Kejahatan kebencian anti-Muslim di Manchester melejit hingga lebih dari 500 persen menyusul pemboman bunuh diri pada 22 Mei di kota tersebut, kata polisi Kamis, lansir Anadolu Agency.

Jumlah kejahatan Islamofobia yang dicatat oleh Polisi Greater Manchester sejak 22 Mei 2017 (tanggal serangan mematikan oleh Salman Abedi) hingga 19 Juni 2017 adalah 224.

Angka ini meningkat tajam dari jumlalah 37 pada periode yang sama tahun lalu, menurut polisi. Tingkat kenaikannya adalah 505,40 persen.

Laporan terbaru ini muncul sejak dijanjikannya peningkatan keamanan bagi komunitas Muslim setelah serangan teror Islamophobia hari Senin di Finsbury Park, London utara.

Begini Kronologi Penabrakan Brutal pada Jamaah Shalat Terawih di London

Kejahatan kebencian anti-Muslim sudah meningkat sebesar 186 persen pada bulan April (22 April hingga 17 Mei) sebelum serangan Manchester yang menewaskan 22 orang dan mencederai puluhan lainnya terjadi.

Lonjakan ini disebabkan oleh serangan teror besar di Manchester dan London, kata seorang kepala polisi senior.

“Ketika sebuah tragedi besar terjadi seperti serangan di Manchester dan London, sayangnya jumlah kejahatan kebencian melonjak, khususnya terhadap ras dan agama, tapi untungnya mereka mengalami penurunan lagi dengan cepat,” Asisten Kepala Polisi Greater Manchester Rob Potts mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Perdana Menteri Theresa May mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak masalah pertentangan apa pun yang muncul, “sedikitnya kita dapat menyambut baik Pidato Ratu untuk menyingkirkan ideologi ekstremis dan kebencian dalam bentuk apapun, termasuk Islamophobia.”

May mengatakan serangan Finsbury Park hari Senin, di mana sebuah van diarahkan ke sekelompok Muslim yang baru saja selesai shalat terawih, merupakan serangan teroris dan menggambarkannya sebagai “peringatan yang brutal dan memuakkan bahwa terorisme, ekstremisme, dan kebencian dapat dilakukan oleh siapa saja dalam banyak bentuk”.

Polisi Metropolitan London pada hari Kamis secara resmi mengidentifikasi seorang ayah dari enam orang berusia 51 tahun yang meninggal dunia di lokasi serangan pada Senin adalah Makram Ali, yang berasal dari Bangladesh.

Didaftarkan AS ke PBB sebagai Teroris, Hamas: Pendukung Zionis yang Teroris!

GAZA (Jurnalislam.com) – Hamas pada hari Rabu (21/6/2017) mengecam permintaan AS baru-baru ini ke Dewan Keamanan PBB untuk menambahkan nama mereka masuk daftar resmi “kelompok teroris”.

“Hamas menolak ucapan perwakilan permanen Washington kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa [Nikki Haley] di mana dia menggambarkan Hamas sebagai ‘organisasi teroris’ dan mendesak Dewan Keamanan untuk memasukkannya ke dalam daftar terorisme,” juru bicara Hamas Abdul Latif al-Qanua mengatakan dalam sebuah pernyataan Rabu, lansir Anadolu Agency.

Dia melanjutkan untuk menggambarkan permintaan Haley sebagai “bagian dari kampanye yang sedang berlangsung melawan Hamas yang mendukung entitas Zionis demi menolak hak orang-orang Palestina untuk melawan Israel, yang menempati tanah kami dan mempraktikkan terorisme melawan rakyat kami”.

“Hamas adalah gerakan pembebasan Palestina; Semua upaya untuk menjuluki Hamas sebagai sebuah kelompok ‘teroris’ ditakdirkan gagal,” al-Qanua menambahkan.

Pada sidang Dewan Keamanan hari Selasa, Haley dengan tajam mengkritik Hamas, mendesak dewan untuk “menghukum” semua negara dan organisasi yang mendukung kelompok tersebut.

“Kami harus menekan Hamas untuk mengakhiri tirani mereka atas rakyat Gaza,” kata Haley, yang selanjutnya meminta Dewan Keamanan untuk mengadopsi sebuah resolusi yang menunjuk kelompok tersebut sebagai “organisasi teroris”.

Dalam sebuah perjalanan ke Arab Saudi bulan lalu, Presiden A.S. Donald Trump mengutip bahwa Hamas, bersama dengan IS, Al-Qaeda dan Hizbullah, sebagai “ancaman teroris terhadap wilayah ini” – pernyataan yang dikecam oleh Hamas pada saat itu.

Kini Taliban Kuasai Pusat Distrik Provinsi Utara Afghanistan

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Taliban mengambil alih sebuah pusat distrik di provinsi utara Afghanistan, Jawzjan, dalam 24 jam terakhir. Gubernur Darzab, distrik yang jatuh ke tangan Taliban, memastikan bahwa pejuang Taliban menyerbu distrik tersebut satu hari setelah kelompok IS menyerang kompleks administrasi tersebut, Long War Journal melaporkan, Rabu (21/6/2017).

Menurut sebuah pernyataan Voice of Jihad, media resmi Imarah Islam Afghanistan, Taliban “meluncurkan serangan terkoordinasi ke pusat distrik Darzab” dan pos-pos terdepan di pagi hari.

Taliban mengatakan bahwa “lima pos pemeriksaan defensif yang dekat dengan pusat distrik menyerah, menyerahkan semua senjata, peralatan dan kendaraan mereka sedangkan kantor pusat distrik jatuh sekitar petang hari, dengan lebih banyak senjata dan peralatan disita.”

Laporan resmi korban selama pertempuran belum diungkapkan. Taliban mengatakan bahwa 17 polisi dan milisi setempat terbunuh dan tiga pejuang Taliban gugur.

“Taliban saat ini mengendalikan gedung di pusat kabupaten, markas besar polisi, dan banyak daerah lain di sebelah barat pusat kabupaten,” Pajhwok Afghan News melaporkan, berdasarkan pernyataan Baz Mohammad, gubernur distrik yang bertindak.

Serangan Taliban terjadi kurang dari sehari setelah militan IS berusaha merebut pusat distrik Darzab. Pejabat Afghanistan mengklaim bahwa 20 pasukan IS dan enam petugas keamanan tewas saat menepis serangan tersebut, TOLONews melaporkan.

Taliban telah melakukan serangan yang efektif di Jawzjan meskipun provinsi ini jauh dari bentengnya di selatan dan timur. Kehadirannya di provinsi tersebut telah memaksa pemerintah Afghanistan untuk mengirimkan sumber daya militer yang dibutuhkan di provinsi lain. Pada akhir Maret, Taliban melaporkan bahwa mereka memperebutkan tujuh dari 11 distrik Jawzjan.

Darzab adalah distrik terakhir yang jatuh ke tangan Taliban. Pada akhir Mei, Taliban menguasai Waghaz di Ghazni, dan secara terbuka mengarak pejuangnya tanpa rasa takut akan pembalasan dari pesawat Afghan atau koalisi.

Pasukan Afghanistan telah menyerahkan beberapa distrik pedesaan ke Taliban, dengan alasan bahwa distrik tersebut tidak penting secara strategis. Taliban menggunakan distrik-distrik ini sebagai basis untuk menyerang pasukan Afghanistan di distrik-distrik yang lebih padat penduduknya. Militer AS memperkirakan bahwa Taliban sekarang mengendalikan atau memperjuangkan 40 persen distrik Afghanistan, sementara Taliban mengatakan jumlahnya mendekati 50 persen.