Pemimpin Gerakan Islam Palestina Dijebloskan ke Penjara Zionis

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Pemimpin Gerakan Islam Palestina, Syeikh Raed Salah, ditahan dalam persidangan pada hari Rabu (6/9/2017), kata pengacaranya.

Syeikh Salah menghadapi pengadilan atas tuduhan keanggotaan sebuah organisasi ilegal dan mengelorakan semangat perlawanan dalam sebuah pidato bulan lalu di pemakaman tiga warga Arab Israel yang membunuh dua petugas polisi di kompleks Masjid Al Aqsha di Yerusalem.

“Pengadilan hakim Israel di kota utara Haifa telah memutuskan untuk memperpanjang penahanan Syeikh Raed Salah sampai akhir persidangannya,” Khaled Zbarqa mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Ini berarti Syeikh Salah akan dipenjara selama beberapa bulan.”

Dia mengatakan banding terhadap keputusan pengadilan akan diajukan.

“Ini adalah keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Zbarqa. “Ini membuktikan bahwa Sheikh Raed adalah tawanan hati nurani, diadili karena pandangan agamanya.”

Salah ditangkap pada 14 Agustus di rumahnya di kota utara Umm al-Fahm.

Syeikh Salah, seorang tokoh lama perlawanan Palestina, memimpin cabang Gerakan Islam di Israel, yang dilarang pada tahun 2015.

Siapkan Serangan Terakhir di Marawi, Militer Filipina Minta Bantuan Pejuang Islam Moro

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Militer Filipina telah meminta bantuan kepada pejuang Moro Islamic Liberation Front (MILF) saat mempersiapkan serangan terakhir terhadap kelompok bersenjata Maute di kota selatan Marawi, Aljazeera melaporkan Rabu (6/9/2017).

Walaupun pertempuran tidak dilakukan bersama namun tentara Filipina yang merupakan musuh MILF itu sendiri terlihat berbaur bebas dengan beberapa ratus pejuang Moro yang telah bergabung untuk menyerang kelompok bersenjata Maute di pulau selatan Mindanao.

Operasi gabungan tersebut merupakan taktik terbaru pemerintah Filipina untuk mencoba memberantas pasukan yang terkait dengan kelompok Islamic State (IS) setelah berbulan-bulan bertempur melawan faksi kelompok yang terpisah yang telah mengepung kota Marawi.

MILF
MILF Moro Islamic Liberation Front

Kerja sama dengan MILF termasuk “memberi mereka dukungan senjata tidak langsung dan bahkan dukungan udara dan keahlian lainnya,” Mayor Jenderal Arnel dela Vega mengatakan kepada AFP, menambahkan bahwa kecanggungan pertempuran di samping mantan musuh lama telah menguap.

Kelompok Maute, yang telah berjanji setia kepada IS menguasai Marawi pada bulan Mei. Setelah pengepungan tiga bulan, mereka sekarang hanya menguasai area seluas 500 meter persegi.

Lebih dari 100 tentara Filipina tewas sementara ratusan pasukan Maute juga tewas, menurut militer Filipina.

Ribuan orang, termasuk anak-anak, telah mengungsi karena konflik dan sekarang tinggal di sekitar 75 komunitas atau pusat penampungan di Mindanao.

Seorang pria, yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Ansari, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia menolak tawaran sebesar $ 500 dan sebuah senapan M16 oleh Maute untuk bertempur bersama mereka.

“Mereka jahat, yang mereka lakukan adalah kejahatan,” katanya.

“Lihat bagaimana mereka menghancurkan Marawi, aku tidak akan menjadi bagian dari mereka.”

Dia mengatakan bahwa banyak orang lain yang menerima tawaran itu karena putus asa, bukan berdasarkan ideologi.

Vega mengatakan bahwa unit pasukannya tidak akan bergabung dengan kelompok pejuang MILF karena mereka memiliki “taktik operasional dan prosedur yang berbeda” dalam konflik tersebut.

“Pada umumnya hasilnya sangat menguntungkan kita,” katanya.

Sementara itu, Amerika Serikat telah meluncurkan bantuan darurat dan bantuan pemulihan sebesar $ 14,3 juta untuk masyarakat yang terkena dampak konflik yang sedang berlangsung di Marawi dan sekitarnya.

Duta Besar AS untuk Filipina Sung Kim mengumumkan sumbangan tersebut dalam sebuah diskusi meja bundar dengan para wartawan di Kedutaan Besar AS di Manila.

Bantuan tersebut berupa air minum yang sehat, peralatan kebersihan, peralatan dapur, keperluan tempat penampungan dan 18 fasilitas dengan persediaan dan layanan penting untuk mengatasi kebutuhan kesehatan ibu dan bayi, serta anak-anak.

Desak Para Pemimpin Muslim, Erdogan Hubungi 30 Negara Untuk Bahas Rohingya

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki mengatakan pada hari Rabu (6/9/2017) bahwa “laporan yang berbeda-beda” telah membuat situasi Rohingya tetap berlangsung selama bertahun-tahun, di tengah serangan terbaru dalam pembantaian kaum Muslim di Myanmar barat.

“Tentu saja, kita tahu bahwa masalah di Arakan [Rakhine] berasal dari alasan kompleks dengan sejarah panjang yang terus-menerus dipenuhi dengan informasi yang berbeda,” kata Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan perwakilan provinsi partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di ibukota Ankara, lansir Anadolu Agency.

Erdogan: Saya Akan Ungkap Apa yang Terjadi Sebenarnya di Myanmar pada Majelis PBB Nanti

Erdogan mengatakan bahwa dia telah menelpon para pemimpin hampir 30 negara untuk membahas situasi di Rakhine dan terutama mendesak para pemimpin dari dunia Muslim untuk berbuat lebih banyak.

“Orang-orang yang tertindas ini tentu saja tidak pantas dihancurkan di antara dua kekuatan yang bertanggung jawab di wilayah ini,” kata Erdogan.

Erdogan Kecam Pembantaian di Myanmar dan akan Tuntut di Pengadilan PBB

“Kami meminta kepada mereka yang bertempur memperebutkan gas alam, endapan minyak, dan pelabuhan pantai di wilayah ini untuk tidak melakukannya dengan mengorbankan kehidupan, darah, dan masa depan orang-orang yang tidak bersalah,” tambahnya.

Erdogan mengatakan bahwa dunia sudah menyaksikan cukup banyak rasa sakit dan pembantaian, dengan menyebut Suriah dan Irak sebagai contoh, dan menyatakan bahwa tidak ada orang dengan “hati nurani dan moral” yang menginginkan hal yang sama.

“Untuk alasan ini kami akan terus melindungi kaum Muslimin di negara bagian Rakhine dan masyarakat tertindas lainnya, menjadi suara mereka, dan terus mengulurkan tangan,” tambahnya.

Antara Erdogan, Muslim Rohingya, dan Diplomasi Jihad Abu Bakar Ba’asyir

Erdogan telah memimpin seruan global atas penghukuman terhadap tindakan brutal dan sadis tentara Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya, yang memaksa lebih dari 120.000 orang untuk berlindung di negara tetangga Bangladesh.

Istrinya, ibu negara Emine Erdogan, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu akan terbang ke Bangladesh pada hari Rabu demi membahas masalah ini dengan pihak berwenang Bangladesh dan mengunjungi para pengungsi tersebut.

Menurut PBB pada hari Selasa, 123.600 Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh saat puluhan ribu lainnya mengungsi sejak kekerasan terakhir dimulai pada 25 Agustus.

Kuatir Kecanggihan Senjata Nuklir Korut, Trump Ijinkan Jepang dan Korsel Beli Senjata Baru

NEW YORK (Jurnalislam.com) – AS akan mengizinkan Jepang dan Korea Selatan membeli sejumlah “persenjataan militer maju” yang meningkat secara substansial, Donald Trump mengatakan pada hari Selasa (5/9/2017), lansir World Bulletin.

Pengumuman tersebut menyusul ledakan bom nuklir terbesar Korea Utara pada hari Ahad (3/9/2017), yang mereka klaim sebagai bom hidrogen yang sangat ditakuti yang dapat ditempatkan pada rudal balistik antar benua jarak jauh.

“Saya mengizinkan Jepang dan Korea Selatan untuk membeli sejumlah peralatan militer yang sangat canggih dari Amerika Serikat,” kata presiden Amerika tersebut di Twitter.

Gedung Putih membuka percakapan Trump dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-In mengisyaratkan bahwa pernyataan tersebut akan diumumkan. Pada hari Senin, Trump mengatakan “memberikan persetujuan konseptualnya atas pembelian senjata dan peralatan militer senilai miliaran dolar dari Amerika Serikat oleh Korea Selatan”.

Tes hari Ahad di Korea Utara, yang merupakan peledakan nuklir terbesarnya, disambut dengan kecaman di seluruh dunia, dan mendapat teguran keras dari Menteri Pertahanan James Mattis yang memperingatkan bahwa setiap ancaman terhadap AS atau sekutunya “akan disambut dengan sebuah respon militer yang besar – respon yang efektif dan luar biasa”.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela KTT internasional di China, Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa sanksi ekonomi lebih lanjut di Korea Utara sepertinya tidak akan menghalangi mereka memperkuat senjata nuklirnya.

Putin juga menyerukan pelaksanaan kembali undang-undang dan dialog internasional di antara pihak-pihak yang berkepentingan mengenai isu Korea Utara.

Pyongyang dilarang menguji rudal nuklir dan balistik, dan baru-baru ini terkena sanksi Dewan Keamanan PBB yang diperkuat untuk meluncurkan rudal balistik antar benua (intercontinental ballistic missiles-ICBMs) pada bulan Juli.

PBB pada awal Agustus memberlakukan sanksi baru terhadap Pyongyang dengan larangan ekspor batubara, besi, timbal, dan makanan laut yang bisa menghilangkan pendapatan tahunan sebesar $ 1 miliar.

Pasukan Rezim Syiah Assad Tembus Pertahanan IS di Deir Al Zour

DEIR AL-ZOUR (Jurnalislam.com) – Rezim Suriah pada hari Selasa (5/9/2017) mematahkan pertahanan yang selama 3 tahun dikuasai oleh kelompok Islamic State (IS) di kota timur Deir al-Zour, kantor berita rezim Syiah Assad SANA melaporkan, lansir Anadolu Agency.

Menurut kantor berita tersebut, pasukan rezim Assad maju dari front barat bergabung dengan Resimen 137 pada Selasa siang, dan dengan demikian, lalu menembus pertahanan tersebut.

IS telah memberlakukan wilayahnya pada tahun 2014.

Pada bulan Maret, pasukan rezim Nushairiyyah yang didukung oleh angkatan udara Rusia berhasil menguasai kota Palmyra di pedesaan Homs timur.

Pada bulan Agustus, kota Sokhna dan sejumlah desa dan kota di timur Deir al-Zour dikuasai oleh rezim Suriah sebelum sepenuhnya merebut kembali batas administratif kota tersebut pada hari Senin.

125.000 Warga Lintasi Perbatasan, Sekjen PBB: Hentikan Pembantaian Muslim Rohingya!

JENEWA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres telah memperingatkan risiko pembantaian etnis di Myanmar saat dia meminta otoritas negara tersebut untuk menghentikan pembunuhan, penganiayaan dan kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Hampir 125.000 pengungsi Rohingya – kebanyakan wanita dan anak-anak – telah melintasi perbatasan ke Bangladesh dalam 11 hari terakhir, melarikan diri dari serangan pasukan Myanmar yang telah membakar desa-desa dalam menanggapi serangan yang diduga dilakukan para pejuang Rohingya.

Sejak kekerasan putaran terakhir dimulai pada 25 Agustus, sedikitnya 400 orang tewas dalam bentrokan dan serangan brutal militer pada warga sipil.

“Keluhan dan penderitaan Rohingya yang belum terselesaikan telah membusuk terlalu lama dan menjadi faktor yang tak terbantahkan dalam destabilisasi regional,” kata Guterres kepada wartawan di markas besar PBB di New York, lansir Anadolu Agency, Selasa (5/9/2017).

“Pihak berwenang di Myanmar harus mengambil tindakan tegas untuk mengakhiri lingkaran kekerasan yang sadis ini dan untuk memberikan keamanan dan bantuan kepada semua pihak yang membutuhkan,” tambahnya.

Guterres juga mendesak Dewan Keamanan untuk mengupayakan ketenangan, mengirim sebuah surat langka kepada 15 anggota Dewan Keamanan yang mengatakan bahwa “masyarakat internasional memiliki tanggung jawab melakukan upaya bersama untuk mencegah krisis meningkat lebih jauh.”

James Bays dari Al Jazeera, yang melaporkan dari kantor pusat PBB di New York, mengatakan: “Ada kekhawatiran nyata dari PBB mengenai situasi kemanusiaan karena eksodus manusia ini dan banyaknya orang yang melintasi perbatasan ke Bangladesh.”

Pemimpin PBB pekan lalu telah mendesak pengamanan oleh pasukan keamanan untuk menghindari bencana kemanusiaan akibat eksodus pengungsi, dan kembali meningkatkan penekanannya pada hari Selasa.

Dewan Keamanan PBB bertemu pekan lalu untuk membahas krisis tersebut, namun tidak ada pernyataan resmi setelah pertemuan tertutup tersebut.

“Mengikuti surat Guterres ini, kami kemungkinan akan segera bertemu dengan Dewan Dewan lainnya,” kata Bays.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, juga menyuarakan keprihatinan serius atas keamanan muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh.

“Beberapa melaporkan bahwa anggota keluarga mereka dibakar, atau ditembak, dipotong-potong, disembelih atau disayat sampai mati,” kata Duniya Khan, juru bicara UNHCR.

“Selama pelarian, banyak yang melarikan diri ke hutan atau gunung, bersembunyi dan berjalan berhari-hari sebelum mereka sampai di darat atau sungai dan melintasi perbatasan.”

Dia menambahkan: “Beberapa dari mereka juga mengatakan kepada kami bahwa mereka telah berjalan selama tiga hari, dan mereka tidak memiliki makanan apa pun selain air hujan atau air di atas tanah.”

Rohingya dipandang sebagai imigran ilegal di sebagian besar Myanmar yang beragama Buddha dan telah mengalami penganiayaan selama beberapa dekade, menurut kelompok hak asasi manusia.

Muslim Rohingya dipaksa untuk tinggal di bawah penindasan pemerintah Myanmar, pembatasan apartheid tentang gerakan dan kewarganegaraan.

PBB telah berulang kali meminta Myanmar untuk memberikan hak bagi warga Rohingya, dan sebuah laporan PBB baru-baru ini mengatakan bahwa tindakan brutal terhadap minoritas Muslim dapat dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Guterres mengatakan pada hari Selasa bahwa pemerintah Myanmar harus memberi semangat kepada warga Rohingya atau sedikitnya memberi status legal yang memungkinkan mereka memiliki kehidupan normal, termasuk kebebasan bergerak, akses ke pasar tenaga kerja, pendidikan dan layanan kesehatan.

Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan 80 persen pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh adalah perempuan dan anak-anak.

Di negara bagian Rakhine utara, pekerja UNICEF tidak dapat menjangkau 28.000 anak yang membutuhkan perawatan saat proyek air bersih, sanitasi dan perbaikan sekolah ditangguhkan, kata badan bantuan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Pejabat di negara tersebut berkelit dengan menyalahkan pejuang Rohingya atas pembakaran rumah dan kematian warga sipil namun pemantau hak dan muslim Rohingya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh mengatakan bahwa tentara Myanmar memaksa mereka keluar dengan melakukan pembakaran dan pembantaian.

1.000 Ton Bantuan Kemanusiaan Turki Tahap Pertama Tiba di Rohingya

ANKARA (Jurnalislam.com) – Myanmar pada hari Selasa (5/9/2017) mengizinkan sebuah badan bantuan Turki untuk mendistribusikan 1.000 ton bantuan kepada Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, menurut juru bicara kepresidenan Turki, Anadolu Agency melaporkan.

Kalin mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa izin dari Myanmar keluar beberapa jam setelah diskusi telepon Presiden Recep Tayyip Erdogan dengan Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi mengenai pelanggaran hak asasi manusia baru-baru ini di Rakhine.

“Pemerintah Myanmar mengizinkan perwakilan dari TIKA (Badan Koordinasi dan Bantuan Turki) untuk memasuki wilayah konflik dan mendistribusikan 1.000 ton bantuan pada tahap pertama,” bunyi pernyataan tersebut.

Langkah tersebut membuat TIKA menjadi agen bantuan asing pertama yang mendapat izin dari pemerintah untuk memasuki wilayah tersebut sejak kekerasan terakhir dimulai pada 25 Agustus, kata Kalin.

Dia mengatakan bahwa bantuan tersebut akan didistribusikan oleh helikopter militer didampingi pemerintah negara bagian Rakhine karena ketidakpastian dan masalah keamanan yang berlanjut di wilayah tersebut.

Mevlut Cavusoglu
Mevlut Cavusoglu

Paket bantuan darurat berisi nasi, ikan kering, dan pakaian, menurut ajudan Erdogan.

Dia menambahkan bahwa badan bantuan Turki akan terus memasok bantuan, termasuk makanan, pakaian, dan obat-obatan, di wilayah tersebut bekerjasama dengan pemerintah daerah.

Dia menyoroti bahwa seorang delegasi Turki, termasuk Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu dan kepala TIKA Serdar Cam, akan mengunjungi distrik Cox’s Bazar di Bangladesh, di mana ribuan orang Rohingya telah berlindung dalam 10 hari terakhir.

HAM Burma: Penyiksaan Sistematis Itu Didukung Pemerintah Myanmar, Biksu Buddha dan …

Kalin mengatakan bahwa Turki sebagai awalan berencana mendistribusikan bantuan kepada 100.000 keluarga dalam koordinasi dengan pemerintah Bangladesh dan Myanmar.

Menurut PBB pada hari Selasa, 123.600 Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dan puluhan ribu lainnya juga mengungsi karena kekerasan terakhir.

Rakhine, yang terletak di barat Myanmar, telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Buddhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal meletus pada tahun 2012.

Dalam sebuah tindakan keras yang dilakukan pada bulan Oktober yang lalu di distrik Maungdaw utara, PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan brutal, dan penghilangan orang.

Laporan tersebut menemukan bukti pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat keamanan yang mengindikasikan kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Perwakilan Rohingya mengatakan bahwa sekitar 400 orang tewas dalam tindakan keras tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah telah meningkatkan jumlah militernya di Maungdaw, dan pejuang Muslim Arakan Rohingya Salvation Army (the Arakan Rohingya Salvation Army-ARSA) mengaku bertanggung jawab atas serangan pos- pos militer Myanmar dimana pemerintah mengatakan puluhan orang terbunuh.

ARSA mengatakan serangan tersebut sebagai tanggapan atas serangan, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan penjarahan oleh tentara Myanmar.

HAM Burma: Penyiksaan Sistematis Itu Didukung Pemerintah Myanmar, Biksu Buddha dan …

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Penyiksaan sistematis terhadap minoritas Muslim sedang meningkat di seluruh Myanmar dan tidak hanya terbatas pada negara bagian Rakhine di barat laut, yang baru-baru ini telah mengirim sedikitnya 123.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Inggris mengatakan.

Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (the Burma Human Rights Network-BHRN) mengatakan pada hari Selasa (5/9/2017) bahwa penganiayaan tersebut didukung oleh pemerintah, beberapa biksu Buddha negara tersebut dan kelompok sipil ultra-nasionalis, lansir Aljazeera.

“Transisi ke demokrasi telah memungkinkan menjadi dugaan kuat untuk mempengaruhi peraturan pemerintah yang baru, dan telah memperkuat sebuah narasi berbahaya yang menjadikan warga Muslim sebagai kelompok asing di Burma yang mayoritas disana beragama Buddha (Myanmar),” kata kelompok tersebut dalam sebuah laporan.

ISAC Desak PBB Usut Pelanggaran HAM Militer Myanmar Atas Muslim Rohingya

Laporan ini berisi lebih dari 350 wawancara di lebih dari 46 kota dan desa selama periode delapan bulan sejak Maret 2016.

Pemerintah Myanmar tidak segera menanggapi laporan tersebut.

Pihak berwenang menolak tuduhan diskriminasi dan mengatakan pasukan keamanan di Rakhine meluncurkan operasi yang sah melawan “militan”.

Pasukan keamanan Myanmar dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi menghadapi kecaman internasional atas penderitaan kaum minoritas Muslim Rohingya baru-baru ini.

Rohingya telah dipaksa untuk hidup di bawah pembatasan apartheid untuk bergerak dan memiliki kewarganegaraan.

Gelombang kekerasan terakhir, yang pertama kali dimulai Oktober lalu ketika sebuah kelompok pejuang kecil Rohingya melakukan perlawanan, menyerang pos-pos perbatasan, lalu dibalas dengan operasi militer yang terburuk yang pernah terjadi di Rakhine selama bertahun-tahun, PBB mengatakan dalam tanggapannya bahwa tentara Myanmar telah melakukan pembantaian kaum Muslim.

Aung San Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, mendapat tekanan yang meningkat atas ketidakpeduliannya untuk berbicara melawan perlakuan yang biadab terhadap Muslim Rohingya oleh pemerintahannya.

Aliansi Advokat Muslim Desak PBB Adili Aung San Suu Kyi

Dia tidak berkomentar sejak kekerasan terakhir terjadi pada 25 Agustus.

Selain Muslim Rohingya, laporan BHRN juga meneliti gambaran yang lebih luas tentang Muslim dari berbagai etnis di seluruh Myanmar, menyusul gelombang kekerasan komunal pada tahun 2012 dan 2013.

Dikatakan bahwa banyak umat Islam dari semua etnis yang kartu identitas nasionalnya ditolak, sementara akses ke masjid telah diblokir di beberapa tempat.

Sedikitnya 21 desa di sekitar Myanmar telah dijadikan sebagai “zona tertutup” bagi umat Islam, yang didukung oleh pihak berwenang, katanya.

Tantang Tekanan Internasioanal, AS: Korea Utara Ngajakin Perang

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Korea Utara “meminta perang” dengan menentang tekanan internasional terhadap ambisi militer nuklirnya, utusan AS untuk PBB mengatakan Senin (4/9/2017), lansir Anadolu Agency.

“Meskipun kami telah berupaya selama 24 tahun terakhir, program nuklir Korea Utara lebih maju dan lebih berbahaya daripada sebelumnya,” kata Nikki Haley kepada Dewan Keamanan dalam sebuah pertemuan darurat mengenai uji coba nuklir keenam Korea Utara yang berlangsung pada hari Ahad, yang memicu kegemparan besar, dan mengkhawatirkan negara tetangga juga kekuatan Barat.

Telah tiba waktu untuk menghabiskan semua sarana diplomatik “sebelum terlambat”, kata Haley. “Kita sekarang harus mengadopsi langkah-langkah terkuat yang kita bisa.”

Korea Utara baru-baru ini menggelar retorika perang melawan AS dan sekutu-sekutunya, mengancam serangan nuklir yang telah dikembangkannya selama lebih dari dua dekade.

“Negara-negara yang memiliki kekuatan nuklir memahami tanggung jawab mereka. Kim Jong Un tidak menunjukkan pemahaman seperti itu,” kata Haley mengenai pemimpin Korea Utara tersebut.

“Perang tidak pernah diinginkan Amerika Serikat. Kami tidak menginginkannya sekarang, tapi kesabaran negara kita tidak terbatas.”

Nikki Haley
Nikki Haley

Washington dan sekutu berada di batas kesabaran setelah tes nuklir hari Ahad (3/9/2017) terjadi sehari setelah Presiden Donald Trump pada prinsipnya setuju untuk mengizinkan Korea Selatan mempersenjatai diri dengan rudal balistik yang lebih kuat.

Sebagai tanggapan atas pengujian tersebut, rudal-rudal Korea Selatan melakukan latihan pada hari Senin mencoba menyerang lokasi uji coba nuklir Korea Utara.

Setelah bertemu dengan Trump dan pejabat senior di Gedung Putih pada hari Ahad, Menteri Pertahanan James Mattis menekankan komitmen AS kepada sekutu-sekutunya.

“Setiap ancaman terhadap Amerika Serikat atau wilayahnya, termasuk Guam, atau sekutu kita akan disambut dengan respon militer yang besar, sebuah balasan yang efektif dan luar biasa,” Mattis mengatakan kepada wartawan.

Pasukan Rezim Assad dan Sekutunya Terus Merangsek ke Pertahanan IS di Deir Az Zor

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Syiah Suriah dan sekutunya hampir membongkar pertahanan Kelompok Islamic State (IS) setelah tiga tahun dikuasai di bagian kota timur Deir Az Zor, menurut media pemerintah.

IS mengendalikan sebagian besar provinsi Deir Az Zor – selain daerah kantong yang dikelola rezim Assad di kota Deir Az Zor dan sebuah pangkalan militer di dekatnya.

Pasukan pro-rezim Syiah Nushairiyah telah maju menuju kota ini dari berbagai wilayah selama berpekan-pekan, dan sekarang berada dalam jarak 3km dari daerah kantong tersebut, televisi pemerintah melaporkan pada hari Senin (4/9/2017), Aljazeera.

Sebuah unit media militer yang dijalankan oleh sekutu rezim Assad yaitu media Syiah Hizbullah mengatakan pasukan yang sedang maju tersebut menuju ke kamp militer yang terkepung di pinggiran kota.

“Pengepungan terhadap pasukan Assad akan rusak dalam hitungan jam,” kata seorang sumber militer kepada kantor berita AFP.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, yang melaporkan dari Beirut, ibu kota negara tetangga Lebanon, mengatakan bahwa hancurnya pertahanan tersebut akan menjadi “sangat signifikan” bagi rezim Suriah dan “kemunduran” bagi IS.

“Dalam beberapa pekan terakhir, dilaporkan bahwa IS telah kehilangan lebih dari separuh ibukota Raqqa di Suriah,” tambahnya.

“Deir Az Zor, di bagian timur negara ini, benar-benar merupakan pos terakhir mereka yang tersisa di Suriah – masih ada sebagian besar wilayah Deir Az Zor yang merupakan benteng bagi IS. Jika rezim Assad dapat mengatasi pertahanan IS, itu akan menjadi masalah bagi IS jika mereka ingin mempertahankan wilayah lain. ”

Mohamed Ibrahim al-Samra, gubernur provinsi Deir Az Zor mengatakan kepada kantor berita negara rezim Sana bahwa penduduk yang terkepung merayakan saat pasukan pro-assad mendekat.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok yang berbasis Inggris yang memantau konflik negara tersebut melalui jaringan kontak di lapangan, mengatakan bahwa lebih dari 10.000 orang tetap berada di wilayah kota yang dipegang oleh IS.

Di bagian Deir Az Zor yang dikelola rezim, populasinya telah anjlok menjadi sekitar 100.000 orang dari jumlah sebelum perang yaitu sekitar 300.000 orang.

Provinsi Deir Az Zor berbatasan dengan Irak, di mana IS telah menghadapi kekalahan berat di bekas kubu mereka di Mosul dan Tal Afar.