Me-DAN Delivered Relief to an Insulated Camp in Sittwe, Rakhine

SITTWE (Jurnalislam.com)The Medical and Action Forum of Humanity (Me-DAN) succeeded in delivering aid to Rohingya refugees in one of the isolated districts of Sittwe, the Rakhine State Capital of Myanmar, Wednesday (13/09/2017). Refugee camps in this district have not yet registered the government of Myanmar, so the aid can not enter.

In this third period, the Me-DAN Forum distributed basic food aid such as rice, oil, eggs and so on to more than 100 families, not less than 1000 people.

The Me-And Sharing Forum Story in Myanmar and Rohingya Muslim Message to Jember Students

Secretary General of the Me-DAN Forum, Sunaryo said, the Rohingya Muslim community in Sittwe is very grateful to the people of Indonesia for the assistance.

“Please do not make this a last aid to us, and do not forget us in your prayers, are not we your brothers,” Sunaryo quoted one of the Rohingyas in the refugee camp as saying.

Sunaryo said that many Rohingya Muslims live in isolated camps that are not registered and are in dire need of help.

“There are still about 25,000 in non-register isolation camps that have not received help, do not forget them,” Sunaryo explained.

“Our Forum Me-DAN is ready to distribute the help,” he added.

The Me-DAN Nusra Forum Distributes Rice for Disadvantaged People

Previously, the Me-DAN Forum distributed the first and second periods of assistance in January and June. The Me-DAN Forum has successfully entered isolation camps in the Sittwe area to donate from the Indonesian Muslims in the form of basic foodstuffs, the construction of musholah and madrasah.

Secretary General of the forum Me-DAN Sunaryo, explains that in this isolation area the Rohingya Muslims suffered greatly.

“They are very deprived, you can imagine, they only eat with oil and salt side dishes, and clean water does not exist. Even for schools they can not, there are only madrasah diniyah there and that’s only for small children, “said Sunaryo.

Translator: Taznim

Serangan Bom Mobil Taliban Hantam Konvoi Pasukan NATO, 7 Tewas

KABUL (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan bom mobil martir Taliban di Afghanistan selatan pada hari Jumat (15/9/2017) menghantam konvoi pasukan Asing, kata beberapa pejabat setempat.

Imarah Islam Afghanistan mengatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut, Qari Yosuf Ahmadi, seorang juru bicara Taliban, menegaskan bahwa “tujuh tentara asing” telah terbunuh dalam serangan tersebut, lansir Al Emarah News.

“Sejumlah kecil anggota pasukan Resolute Support terluka hari ini ketika sebuah alat peledak improvisasi yang diangkut kendaraan menargetkan patroli mereka di Kandahar,” kata Komandan Resolute Support yang dipimpin oleh NATO (Nato-Resolute Support Mission / RSM) dalam sebuah pernyataan.

Hadapi Ketangguhan Taliban, AS Mulai Tambah Kekuatan Tempurnya di Afghanistan

Anggota yang terluka dikatakan dibawa ke Rumah Sakit Kandahar.

Fazal Bari, direktur urusan media di pemerintah provinsi, mengkonfirmasi serangan terhadap konvoi tersebut. Empat tentara terluka dalam serangan, dia mengatakan kepada Anadolu Agency.

Putaran ke Enam Perundingan Astana Setujui Batas Zona de Eskalasi Suriah

ASTANA (Jurnalislam.com) – Putaran ke enam perundingan damai Suriah di ibukota Kazakhstan Astana berakhir pada hari Jumat (15/9/2017).

Ketiga Negara penjamin terseut, serta perwakilan rezim Suriah dan beberapa faksi oposisi, bertemu di Astana untuk perundingan putaran keenam demi mengakhiri konflik enam tahun tersebut.

Para pihak dalam perundingan Suriah di Kazakhstan telah menyetujui batas-batas akhir zona de-eskalasi di provinsi utara Idlib, kata pejabat diplomatik Turki dan Rusia.

Pejabat dari Turki, Rusia dan Iran telah menyetujui batas zona di Idlib dan sedang melakukan negosiasi mengenai pemantau mana yang akan ditempatkan, kata beberapa pejabat yang tidak mau disebut namanya.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers setelah berakhirnya pembicaraan, kepala delegasi Rusia dan utusan khusus Presiden Rusia untuk Suriah Alexander Lavrentiev mengatakan perundingan di masa depan akan menentukan lokasi pasukan Turki, Rusia dan Iran yang akan ditempatkan di zona de-eskalasi.

“Jika mereka mengajukan permohonan melalui saluran diplomatik, China, Uni Emirat Arab, Mesir, Irak dan Lebanon juga akan diundang ke pertemuan berikutnya sebagai pengamat,” Lavrentiev menambahkan.Sementara itu, salah satu pembicara oposisi, Ayman Asimi, mengungkapkan keprihatinannya tentang milisi Syiah yang didukung Iran di selatan Aleppo.

Dalam sebuah konferensi pers, Asimi mengatakan bahwa milisi Syiah tersebut dapat menyebabkan runtuhnya kesepakatan Astana.

Idlib adalah daerah utama oposisi di Suriah. Batas tiga zona lainnya di seluruh negeri telah disepakati sebelumnya.

Inilah Pernyataan Sikap Hayat Tahrir Sham atas Kesepakatan Astana

Utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura, dan delegasi dari Yordania dan AS juga hadir sebagai pengamat. Menurut Kementerian Luar Negeri Kazakhstan, Qatar juga berpartisipasi untuk pertama kalinya sebagai pengamat.

Membaca deklarasi penutupan, Menteri Luar Negeri Kazakhstan Kairat Abdrakhmanov mengatakan bahwa negara-negara penjamin telah menyetujui pembentukan zona de-eskalasi di wilayah Ghouta, Damaskus bagian timur, beberapa wilayah di Homs utara, bagian selatan Suriah, serta provinsi Idlib, termasuk bagian Aleppo, Latakia dan Hama.

Pengamat Turki, Rusia dan Iran akan ditempatkan di pos pemeriksaan dan pos pengamatan yang akan dibentuk, demikian menurut sebuah pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Turki.

Tugas utama pengamat adalah untuk mencegah konflik antara rezim dan oposisi dan untuk memantau kemungkinan terjadinya pelanggaran gencatan senjata, kata kementerian luar negeri.

Sebuah Pusat Koordinasi Bersama yang akan didirikan antara Turki, Rusia dan Iran akan mengatur kekuatan pengamat, tambahnya.

Rusia Ingin Kuasai Idlib dengan Zona De-eskalasi

Pernyataan tersebut juga mengatakan bahwa Turki telah memainkan “peran yang menentukan” dalam menemukan konsensus di antara semua pihak dan “bertekad untuk membangun momentum yang dicapai berkat pertemuan Astana melalui dukungan kuat yang meluas menuju proses transisi politik di Suriah sesuai tujuan perundingan Jenewa.” `

Abdrakhmanov mengatakan bahwa zona de-eskalasi sedang ditetapkan sebagai langkah sementara selama enam bulan dan menyatakan bahwa mereka dapat diperpanjang tergantung pada kesepakatan penjamin.

Menteri Kazakhstan menekankan bahwa semua pihak akan terus berjuang melawan organisasi yang terkait dengan IS dan al-Qaeda. Dia juga mengumumkan bahwa pertemuan Astana ketujuh akan diadakan pada bulan Oktober.

Turki, yang mendukung beberapa kelompok oposisi (FSA diantaranya), bersama Rusia dan Iran, yang mendukung rezim Syiah Bashar al-Assad, telah mengadakan pembicaraan di Kazakhstan sejak Januari.

Mereka berusaha menerapkan gencatan senjata yang terus berlanjut di daerah pertempuran terberat antara pasukan oposisi dan pasukan pro-Assad.

Warga Rohingya di Eropa: Aung San Suu Kyi Mendukung Pembunuhan Massal

ANKARA (Jurnalislam.com) – Warga Rohingya yang bermukim di Eropa mengatakan pada hari Jumat (15/9/2017) bahwa Aung San Suu Kyi, penasihat negara Myanmar yang juga pemenang Nobel, mendukung “genosida” Muslim Rohingya di negaranya.

Hla Kyaw, kepala Dewan Rohingya Eropa, mengatakan kepada Anadolu Agency di Ankara bahwa Suu Kyi hanya duduk dan berjaga-jaga, saat “tentara terus membakar rumah dan desa” di negara bagian Rakhine, Myanmar barat.

Kyaw mengatakan bahwa pemimpin de facto itu “tidak hanya terlibat dalam genosida, namun dia juga merupakan pasangan genosida.”

Suu Kyi berada di bawah tekanan internasional karena hanya diam dalam menghadapi kekejaman terbaru di negara bagian Rakhine yang, menurut PBB, telah memaksa sekitar 400.000 orang untuk melarikan diri ke Bangladesh.

Pada hari Jumat, juru bicara UNICEF Marixie Mercado mengatakan 36.000 bayi Rohingya berusia di bawah satu tahun dan 92.000 anak di bawah usia lima tahun tiba di Bangladesh.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari kekerasan baru di mana pasukan Budha Myanmar dan gerombolan preman Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, serta menjarah rumah dan membakar desa Muslim Rohingya.

Menurut pemerintah Bangladesh, sedikitnya 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim paling teraniaya di dunia, menghadapi serangan dengan ketakutan yang meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Bahas Krisis Teluk yang Masih Berlanjut, Pemimpin Qatar Kunjungi Turki

TURKI (Jurnalislam.com) – Amir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengadakan pembicaraan di Turki dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam lawatan pertamanya ke luar negeri sejak dimulainya krisis diplomatik Teluk.

Perundingan tersebut dimulai pada hari Kamis (14/92017) di istana presiden Erdogan di ibukota Ankara, kata kepresidenan Turki, lansir Anadolu Agency.

Erdogan telah menjadi pendukung utama Doha sejak 5 Juni, ketika Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir memutuskan hubungan dan memblokade Qatar, menuduhnya mendukung “terorisme” dan memiliki hubungan dengan saingan mereka Iran.

Qatar dengan keras membantah tuduhan tersebut.

Erdogan sangat menentang sanksi yang diterapkan oleh keempat negara tersebut.

Untuk menunjukkan solidaritas, Turki juga telah mengirim kapal barang dan ratusan pesawat yang penuh dengan makanan untuk memecahkan blokade tersebut.

Ankara memiliki sebuah pangkalan militer di Qatar dan mengerahkan lebih banyak tentara setelah permusuhan meletus. Penutupan basis Turki adalah satu dari 13 kondisi yang diminta oleh blok yang dipimpin Saudi.

Erdogan pada bulan Juli memulai tur regional negara-negara Teluk, dengan kunjungan ke Arab Saudi, Kuwait dan Qatar untuk meredakan krisis.

Namun kunjungannya berakhir tanpa ada tanda-tanda terobosan dan Ankara tampaknya lebih memilih untuk meninggalkan usaha mediasi dan menyerahkannya ke Kuwait.

Perdana Menteri Binali Yildirim juga menjadi tuan rumah rekannya dari Kuwait Sheikh Jaber Al-Mubarak Al-Hamad Al-Sabah di Ankara pada hari Kamis.

Sementara pada hari Rabu, Perdana Menteri Kuwait Sheikh Jaber al-Mubarak al-Sabah bertemu dengan Erdogan di istana kepresidenannya.

Setelah mengunjungi Turki, amir tersebut dijadwalkan mengunjungi Berlin pada hari Jumat untuk melakukan pembicaraan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, kunjungan pertamanya ke ibukota barat sejak krisis dimulai. Sheikh Tamim juga dijadwalkan di Paris untuk melakukan pembicaraan dengan presiden Prancis.

 

PBB: Jumlah Pengungsi Rohingya Meningkat Hingga 400.000 Orang, 60 % Anak-anak

JENEWA (Jurnalislam.com) – Sekitar 400.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak 25 Agustus, kata PBB pada hari Kamis (14/9/2017), Anadolu Agency melaporkan.

“Hingga 400.000 Rohingya telah meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh sejak 25 Agustus, dengan ribuan lainnya tiba setiap hari. Sekitar 60 persen adalah anak-anak,” Dana Anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Ada kekurangan akut di segala hal, yang paling kritis adalah kurangnya tempat berlindung, makanan dan air bersih,” Perwakilan UNICEF di Bangladesh Edouard Beigbeder mengatakan.

UNICEF mengajukan banding sebesar $ 7,3 juta untuk memberikan dukungan darurat kepada anak-anak Rohingya di Bangladesh dalam empat bulan ke depan.

Sekjen PBB pada Pemerintah Myanmar: Stop Bantai Muslim Rohingya

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi militer baru di mana pasukan militer Budha Myanmar dan gerombolan preman Buddha membantai pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. Menurut pemerintah Bangladesh, sedikitnya 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai salah satu kelompok masyarakat paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan militer Budha Myanmar sejak ribuan orang Muslim dibantai dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Sedikitnya 74 Orang Tewas dalam Serangan Bom Kembar di Irak Selatan

IRAK (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 74 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan senjata dan bom mobil kembar di dekat kota Nasiriyah di Irak selatan, menurut seorang pejabat setempat, Aljazeera melaporkan Kamis (14/9/2017).

Serangan di provinsi selatan Thi Qar pada hari Kamis itu dimulai dengan orang-orang bersenjata tak dikenal melepaskan tembakan ke dalam sebuah restoran di jalan raya utama yang menghubungkan ibukota Baghdad dengan provinsi-provinsi selatan.

Tak lama kemudian, sebuah mobil yang dilengkapi dengan bahan peledak menargetkan sebuah pos pemeriksaan keamanan di wilayah yang sama.

” 74 orang tewas dan 93 lainnya cedera hingga saat ini,” kata Abdel Hussein al-Jabri, wakil kepala kesehatan Thi Qar.

Kelompok Islamic State (IS) mengaku bertanggung jawab atas serangan martir tersebut, menurut kantor berita Amaq.

Yahya al-Nassiri, gubernur provinsi, mengatakan kepada kantor berita AP bahwa mayoritas korban tewas diperkirakan merupakan pengunjung Iran yang berada di dalam restoran tersebut.

Thi Qar terletak sekitar 320 km tenggara Baghdad.

Imran Khan dari Al Jazeera, yang melaporkan dari kota utara Erbil, mengatakan bahwa Irak selatan sebelumnya terhindar dari kekerasan yang terjadi di wilayah lain Irak, terutama di barat dan utara.

Serangan terakhir menyusul serangkaian kekalahan yang dihadapi IS di tangan pasukan Irak yang didukung AS.

Pada bulan Juli, Irak merebut kembali kendali Mosul, sebuah benteng kunci IS di utara, setelah operasi militer hampir sembilan bulan.

Pada bulan Agustus, pasukan Irak mengatakan bahwa mereka telah berhasil mengusir IS dari 70 persen wilayah Tal Afar, yang merupakan kubu mereka di barat laut Irak.

IS masih mengendalikan kota Hawija di provinsi Kirkuk yang kaya minyak dan wilayah barat di provinsi Anbar yang merupakan provinsi terbesar di Irak.

“Ini adalah pesan dari kelompok IS yang mengatakan bahwa Anda mungkin telah mengalahkan kami di Tal Afar dan Mosul dan mengepung kami di Hawija, namun kami masih dapat menyerang Anda di tempat yang tidak Anda duga,” kata koresponden kami.

Ini adalah tantangan nyata bagi rakyat Irak yaitu memindahkan pasukan mereka ke selatan atau melanjutkan pertempuran mereka di Hawija,” katanya.

Amnesty: Militer dan Gerombolan Preman Budha Myanmar Jalankan Kebijakan Bumi Hangus (data satelit)

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Pasukan militer Budha Myanmar dan gerombolan preman Buddha di Myanmar melaksanakan sebuah kebijakan bumi hangus di wilayah mayoritas Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, membakar seluruh desa Rohingya dan menembaki penduduknya saat mereka mencoba melarikan diri, kata Amnesty International, kepada Aljazeera Kamis (14/9/2017).

Menurut data satelit baru, data deteksi kebakaran, foto dan video dari lapangan, kelompok hak asasi manusia mengatakan pada hari Kamis bahwa sedikitnya ada 80 kebakaran berskala besar di daerah-daerah berpenduduk di negara bagian Rakhine utara sejak 25 Agustus.

Erdogan: Kerahkan Semua Kemampuan untuk Hentikan Kekejaman Myanmar di Rohingya

“Buktinya tidak terbantahkan – pasukan militer Budha Myanmar menetapkan membakar negara bagian Rakhine utara dalam sebuah operasi yang ditargetkan untuk mendorong orang-orang Rohingya keluar dari Myanmar,” kata Tirana Hassan, Direktur Penanggulangan Krisis Amnesty International.

“Tidak salah lagi: ini adalah pembersihan Muslim Rohingya.”

Sedikitnya 370.000 muslim Rohingya diperkirakan telah melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine ke negara tetangga Bangladesh setelah pejuang Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA) menyerang pos polisi, sebagai tanggapan dari pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan pembakaran warga dan rumah Muslim Rohingya.

Pemerintah Myanmar mengatakan pada hari Rabu bahwa hampir 40 persen desa Rohingya dijadikan sasaran tentara dalam apa yang mereka sebut “operasi pembersihan,” sehingga 176 dari 471 desa benar-benar kosong, dan 34 desa tambahan “sebagian ditinggalkan penduduknya.”

Myanmar Blokir Diskusi Muslim Rohingya pada Pertemuan ASEAN

Dalam laporan tersebut, Rohingya mengatakan bahwa tentara, polisi dan kelompok preman Buddha kadang-kadang mengepung sebuah desa dan menembak ke udara sebelum masuk, namun seringkali mereka langsung menyerang dan mulai menembak ke segala arah warga.

“Ketika militer datang, mereka mulai menembaki orang-orang yang sangat ketakutan dan mulai berlari, saya melihat militer menembak banyak orang dan membunuhi anak laki-laki. Mereka menggunakan senjata untuk membakar rumah kami,” kata seorang yang selamat.

“Dulu ada 900 rumah di desa kami, sekarang hanya 80 yang tersisa. Tak ada yang tersisa untuk mengubur mayatnya.”

Amnesty mengatakan bahwa pihaknya dapat menguatkan kejahatan pembakaran dengan menganalisis foto-foto yang diambil dari seberang Sungai Naf di Bangladesh, yang menunjukkan bumbungan besar asap yang meninggi di Myanmar.

Organisasi hak asasi internasional tersebut mengatakan bahwa di beberapa daerah, pemerintah daerah terlebih dahulu memperingatkan desa-desa itu bahwa rumah mereka akan dibakar, sebuah indikasi yang jelas bahwa serangan tersebut disengaja dan direncanakan.

Seorang saksi mata dari desa Pan Kyiang di kota Rathedaung menggambarkan bahwa pada pagi hari tanggal 4 September, militer datang dengan administrator desa: “Dia mengatakan pada pukul 10 pagi hari ini agar kami sebaiknya pergi, karena semuanya akan dibakar.”

Ketika keluarganya sedang mengemasi barang-barang mereka, dia melihat ‘bola api’ mengarah ke rumahnya, dan pada saat itu mereka melarikan diri dengan panik.

Penduduk desa yang bersembunyi di sawah di dekatnya menyaksikan tentara tampaknya membakar rumah dengan menggunakan peluncur roket.

Menlu Bangladesh: Pasukan Myanmar Bunuh 3.000 Lebih Muslim Rohingya

Amnesty mengatakan jumlah kebakaran dan tingkat kerusakan properti sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, karena awan yang menutupi selama musim hujan telah menyulitkan satelit untuk menangkap semua pembakaran.

Militer semakin kejam di Rakhine sejak pemerintah Aung San Suu Kyi mengirim ribuan tentara ke desa dan dusun Rohingya Oktober lalu setelah sembilan pasukan kejam Budha Myanmar tewas oleh ARSA.

Serangan pasukan militer Budha Myanmar selalu dengan pembakaran, pembunuhan dan pemerkosaan; Antonio Guterres, sekretaris jenderal PBB, memperingatkan kemungkinan pembersihan etnis.

Aung san Suu Kyi banyak dikecam oleh dunia Internaasional karena membiarakan dan tanpa belas kasihan dalam menghadapi tragedi kemanusian tersebut, yang menenggelamkan reputasi peraih Nobel Perdamaian itu.

Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Terancam Dicopot

AS Lancarkan Tiga Serangan Udara pada Al Shabaab

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Komando Afrika (Africa Command-AFRICOM) AS meluncurkan tiga “serangan udara presisi” terhadap Shabaab, cabang Al Qaeda di Somalia dan Afrika Timur, di Somalia selatan hari ini. Militer AS sekarang telah menargetkan pasukan Shabaab lima kali dan mengklaim membunuh 10 pejuang selama sepekan terakhir, Long War Journal melaporkan, Rabu (13/9/2017).

AFRICOM tidak memberikan lokasi tepat tiga serangan tersebut, namun mengatakan bahwa mereka terjadi “sekitar 260 kilometer selatan ibukota Mogadishu.” Serangan tersebut mungkin terjadi di suatu tempat di dekat Jilib, tempat yang aman bagi faksi Jihad Shabaab. Serangan tersebut terjadi “di wilayah yang secara geografis ditentukan untuk mendukung pasukan mitra di Somalia,” menurut AFRICOM.

Pada akhir Maret, administrasi Trump mengendurkan pembatasan militer AS dalam menggunakan kekuatan melawan Shabaab setelah Departemen Pertahanan mencatat bahwa Shabaab menjadi lebih mematikan dan berbahaya. Shabaab telah membunuh ratusan pasukan Uni Afrika dan Somalia sambil merebut pangkalan di Somalia selatan, dan telah mempertahankan tempat peristirahatan yang aman serta memperluas wilayah yang berada di bawah kendalinya pada tahun 2016.

Sejak awal Juni, militer AS telah mengklaim 13 serangan terhadap Shabaab. Sasarannya beragam. Operasi 11 Juni menargetkan pusat komando dan simpul logistik Shabaab. Serangan 4 Juli menyerang pejuang Shabaab saat mereka melakukan serangan pangkalan militer di selatan.

Seperti cabang Al Qaeda lainnya, Shabaab mengendalikan sejumlah besar wilayah dan mengoperasikan layanan militer dan intelijen, dan mengatur daerah yang dikuasainya.

Departemen Luar Negeri AS, dalam Laporan Negara tentang Terorisme 2016, mengatakan bahwa Shabaab selama tahun lalu menjadi lebih tangguh “karena sebagian besar operasi milter AS mengalami penyimpangan selama tahun 2016.” Selain itu, AS mencatat bahwa militer Somalia “tetap tidak dapat mengamankan dan merebut kembali kota-kota dari al-Shabaab secara independen, “dan secara tidak eksplisit menyatakan, mengisyaratkan bahwa Misi Uni Afrika di Somalia (the African Union Mission in Somalia-AMISOM) gagal.

Seperti dalam siaran pers sebelumnya, AFRICOM juga mencatat bahwa Shabaab “telah berjanji setia kepada al Qaeda dan berdedikasi untuk menyediakan tempat yang aman bagi serangan mereka di seluruh dunia.” Kelompok ini juga “secara terbuka berkomitmen untuk merencanakan dan melakukan serangan terhadap AS dan mitra di wilayah ini.”

Pejabat Militer Iran Bocorkan Upaya Makar Garda Revolusi di Negara-negara Arab

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Seorang pejabat militer Iran bocorkan bahwa Garda Revolusi telah mengirim beberapa komandan dan pelatih ke medan perang untuk mendukung milisinya di wilayah yang ditargetkan sebagai bagian dari intervensi militer Teheran di negara-negara Arab.

Brigadir Hamid Abadri, wakil Dekan Universitas Imam Hussein, yang mengkhususkan diri dalam mempersiapkan petugas dan komandan Garda Revolusi Syiah Iran, menyatakan bahwa mereka telah mengirim sejumlah pemimpin dan pelatih ke medan perang yang dia gambarkan sebagai “front perlawanan”, sebuah deskripsi Iran mengenai sekutunya di Irak, Suriah, Yaman dan Lebanon.

Pada hari Selasa (12/9/2017), Abadi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media Tasnim milik Garda Revolusi, bahwa universitas tersebut berusaha untuk mencetak pasukan yang mampu berperang dalam perang nyata, dengan kata lain bahwa individu-individu ini dapat menjadi kekuatan di berbagai bidang pertempuran berbeda yang terjadi akhir-akhir ini, seperti yang dia katakan, lansir Al Arabiya.

Abadi mengatakan bahwa universitas tersebut mengirim sejumlah pemimpin dan pelatihnya ke berbagai bidang, di mana beberapa komandan dikirim sebelumnya untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan pada mereka dan untuk mendapatkan pengalaman dalam jenis peperangan tersebut.

Pada bulan Februari, Iran mengumumkan bahwa siswa dari Universitas Militer Imam Hussein akan dikirim ke Suriah dan Irak untuk dilatih di lapangan di antara kelompok Garda Revolusi yang ditempatkan di sana sebagai bagian dari program pelatihan untuk mempersiapkan pasukan.

Analis percaya bahwa Suriah dan Irak telah menjadi tempat tinggal untuk melatih Garda Revolusi dan milisi Iran di kedua negara Arab ini.

Dalam sebuah pidato pekan lalu, menteri pertahanan baru Iran menyatakan bahwa Iran akan terus memberikan dukungan material dan senjata kepada yang mereka sebut “gerakan perlawanan” di wilayah tersebut – yang merupakan milisi dan organisasi teroris seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman juga kelompok ekstremis Syiah di Irak dan lainnya.