4 Tentara Pakistan Tewas Dimortir Pasukan India di Perbatasan

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Empat tentara Pakistan tewas dalam serangan mortir pasukan India di sepanjang Jalur Kontrol (the Line of Control-LoC) di wilayah Kashmir yang direbutkan saat ketegangan antara dua negara tetangga bersenjata nuklir tersebut terus meningkat.

Pasukan Pakistan sedang melakukan perawatan pada jalur komunikasi di desa perbatasan Kotli saat mereka diserang pada hari Senin (15/1/2018), kata militer, lansir Aljazeera.

Setelah putaran mortir meledak, pasukan Pakistan membalas dan membunuh tiga tentara India serta melukai beberapa lainnya, katanya.

Seorang Mayor dan 3 Pasukan India Tewas dalam Baku Tembak dengan Tentara Pakistan

Namun, seorang pejabat militer India menyalahkan tentara Pakistan karena sejak awal menyerang posisi India dan mengklaim serangan balasan mereka menewaskan tujuh tentara Pakistan.

Petugas tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena mematuhi peraturan militer, mengatakan tentara India tidak menderita korban jiwa.

Di daerah lain di sepanjang perbatasan de facto, India mengatakan pasukannya membunuh lima pejuang dari kelompok pro-Pakistan yang mencoba masuk ke Kashmir yang dikelola India pada hari Senin.

“Kami mengizinkan mereka menyeberangi sungai dan menantang mereka. Kelima orang yang menyeberangi sungai tersebut terbunuh,” kata Mayjen Gulab Singh Rawat.

Kepala militer India, Jenderal Bipin Rawat, menuduh militer Pakistan membantu pejuang memasuki Kashmir yang dikuasai India.

“Tentara Pakistan terus berupaya membantu milisi menyelinap ke India,” kata Rawat. “Jika terpaksa maka kita dapat menggunakan tindakan lain dengan meningkatkan serangan militer.”

Pada hari Jumat, Rawat mengatakan pasukannya bersedia melakukan operasi di dalam wilayah Pakistan meski ada risikonya.

“Jika kita harus benar-benar menghadapi orang-orang Pakistan, dan sebuah tugas diberikan kepada kita, kita tidak akan mengatakan bahwa kita tidak dapat melewati perbatasan karena mereka memiliki senjata nuklir. Kita harus menghadapi gertakan nuklir mereka,” kata Rawat saat pengarahan pers.

Komentar tersebut mendapat cemoohan dari menteri luar negeri Pakistan yang menyebut pernyataan tersebut “tidak bertanggung jawab” dan sebuah “undangan untuk pertempuran nuklir.”

“Jika itu yang mereka inginkan, mereka dipersilakan untuk menguji tekad kami. Keragu-raguan akan segera dihapus,” kata Kwawja Asif di Twitter.

Serangan Bom Ganda di Baghdad Tewaskan 25 Orang dan 90 Lainnya Terluka

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 25 orang tewas dalam sebuah bom martir ganda di ibukota Irak Baghdad pada hari Senin (15/1/2018), menurut seorang pejabat keamanan setempat.

Lebih dari 90 orang juga terluka dalam serangan di Tayaran Square di pusat kota, kapten polisi Ahmed Khalaf mengatakan kepada Anadolu Agency.

Laporan Terbaru: Kelompok Islamic State di Irak Telah Berakhir

Dia mengatakan dua pembom meledakkan diri pada jam sibuk pagi di alun-alun.

Kementerian dalam negeri Irak sebelumnya mengatakan 16 orang tewas dalam serangan tersebut.

Belum ada klaim tanggung jawab atas serangan tersebut.

AS Bentuk 30.000 Pasukan Teror di Suriah, Erdogan: Tenggelamkan!

TURKI (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa AS berupaya membentuk “tentara teror” di perbatasan selatan negaranya dengan melatih sebuah kekuatan baru di Suriah yang mencakup militan Kurdi.

“Apa yang harus kita lakukan adalah menenggelamkan tentara teror ini sebelum terbentuk,” katanya dalam sebuah pidato di ibukota, Ankara, Senin (15/1/2018), menyebut pasukan-pasukan Kurdi tersebut sebagai “back-stabbers (penusuk dari belakang)” yang akan mengarahkan senjata mereka ke AS di masa depan, lansir Aljazeera.

Komentarnya muncul setelah laporan mengungkapkan rencana Washington untuk membentuk kekuatan baru dengan 30.000 pasukan dengan melibatkan militan Kurdi di Suriah utara.

Menurut laporan media yang mengutip pejabat AS, koalisi pimpinan AS yang kemarin memerangi kelompok bersenjata Islamic State (IS) akan merekrut sekitar setengah dari kekuatan baru Angkatan Bersenjata Suriah (the Syrian Defence Forces-SDF), sebuah kelompok payung yang didominasi oleh People’s Protection Unit (YPG).

YPG dianggap oleh Turki sebagai “kelompok teroris” karena ikatannya dengan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan pertempuran selama beberapa dekade di dalam negeri Turki.

PKK masuk dalam daftar hitam organisasi teroris oleh Turki dan sekutu Baratnya. Lebih dari 40.000 orang di Turki telah terbunuh sejak tahun 1980an setelah PKK meluncurkan pemberontakannya.

AS memandang YPG sebagai kekuatan tempur yang sangat efektif melawan IS.

Erdogan mengatakan bahwa angkatan bersenjata Turki telah menyelesaikan persiapan untuk operasi melawan wilayah yang dikuasai pasukan Kurdi di barat laut Suriah dan kota Manbij.

Pertempuran Pasukan Turki dengan YPG Dukunan AS Telah Berlansung di Afrin

Memperingatkan sekutunya untuk tidak membantu “teroris YPG” di Suriah, dia berkata: “Kami tidak akan bertanggung jawab atas konsekuensi.”

Dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad, kementerian luar negeri Turki mengatakan kerja sama apapun dengan YPG adalah “salah dan tidak pantas.”

“Pembentukan Pasukan Perlindungan Perbatasan Suriah tidak berkonsultasi dengan Turki, yang merupakan anggota koalisi,” katanya.

YPG: Turki Umumkan Deklarasi Perang di Suriah

“Mengaitkan langkah sepihak seperti itu dengan keseluruhan koalisi adalah langkah yang sangat salah yang dapat membahayakan perjuangan melawan Daesh,” kementerian tersebut menambahkan, menggunakan akronim alternatif untuk IS.

Pasukan Turki menembaki pejuang Kurdi yang didukung AS di Suriah dengan tembakan artileri pada hari Ahad, setelah rencana untuk menetapkan kekuatan baru tersebut diumumkan.

Zionis Telah Lakukan 1.000 Lebih Pelanggaran pada Masjid Al Aqsha

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Menteri awqaf dan urusan keagamaan Palestina mengatakan pada hari Ahad (14/1/2018) bahwa Israel telah melakukan lebih dari 1.000 pelanggaran terhadap Masjid Al Aqsha di tahun 2017.

Berbicara di pusat pers pemerintah di Ramallah, Yousef Adeis mengatakan bahwa markas besar Masjid Al-Aqsa di Yerusalem secara khusus terkena lebih dari 40 serangan dalam sebulan.

Pemukim Yahudi melafalkan kitab mereka, Talmud, di Masjid Al-Aqsha, katanya, mengacu pada serangan yang sering terjadi terhadap kompleks suci tersebut.

Rayakan Hari Raya Zionis, Ratusan Pemukim Yahudi Serbu Masjid al Aqsha

Dia mengatakan bahwa masjid-masjid lain yang berada di Yerusalem Timur dan Tepi Barat telah diserbu 12 kali sementara makam bersejarah diserang 15 kali.

Pemerintah zionis melarang adzan dari Masjid Ibrahimi di Al-Khalil (Hebron) sebanyak 645 kali pada 2017, katanya.

Dia menambahkan bahwa masjid tersebut telah ditutup untuk kaum muslimin namun terbuka untuk orang-orang Yahudi. Pintu masuknya terhalang, restorasi tidak diijinkan, dan kamera dipasang untuk pengawasan di daerah tersebut, katanya.

Adeis melanjutkan dengan mengatakan bahwa Gereja Salesian Katolik yang terletak di Nasira, Israel utara juga telah diserang dan penghinaan terhadapnya tertulis di dinding.

Kisah Seorang Tentara Ottoman yang Setia Menjaga Masjid Al Aqsha Selama 57 Tahun

Memanggil untuk perlindungan internasional terhadap situs-situs suci di wilayah tersebut, Adeis mengatakan bahwa pemerintah Israel dan pemukim illegal Yahudi ingin meruntuhkan Masjid Al-Aqsha dan membangun Kuil Salomo menggantikannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, pihak berwenang Israel telah mengizinkan pemukim illegal Yahudi masuk ke kompleks masjid – biasanya melalui Gerbang Magharba – dengan jumlah yang terus meningkat.

Ada lebih dari 25.000 serangan oleh pemukim illegal Israel ke kompleks tersebut pada 2017, menurut badan Wakaf Islam Yordania yang dikelola Yordania. Angka itu jauh melebihi 15.000 serangan pada 2016.

5 Hal Penting Tentang Masjid Al Aqsha yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Otoritas Palestina dan pemerintah Yordania telah berulang kali meminta pihak berwenang Israel untuk melarang praktik tersebut – seruan yang paling tidak diindahkan Israel.

Penyergapan oleh pemukim Yahudi ke kompleks masjid, yang oleh umat Islam dianggap sebagai situs tersuci ketiga di dunia setelah Mekkah dan Madinah, umumnya meningkat selama hari-hari raya ritual zionis Yahudi.

Pertempuran Pasukan Turki dengan YPG Dukunan AS Telah Berlansung di Afrin

SURIAH (Jurnalislam.com) – Seorang pejabat senior Kurdi Suriah mengatakan pada hari Ahad (14/1/2018) bahwa pertempuran antara YPG dan pasukan Turki sudah berlangsung.

“Ada serangan dan bentrokan di perbatasan antara Turki dan Unit Perlindungan Rakyat YPG,” kata Hediye Yusuf di Twitter.

Dia menyebut operasi Turki melawan Afrin sebagai “pelanggaran” yang “merongrong upaya internasional untuk mencapai solusi politik di Suriah.”

Juru bicara YPG di Afrin mengatakan kepada kantor berita Associated Press, pertempuran tersebut terjadi setelah tengah malam antara unitnya dan pasukan Turki di dekat perbatasan.

Rojhat Roj mengatakan, penembakan daerah di distrik Afrin, di provinsi Aleppo, menewaskan satu anggota YPG dan melukai beberapa warga sipil pada hari Ahad.

YPG akan berjuang untuk “mempertahankan keuntungan kita, wilayah kita,” kata Roj.

Koalisi pimpinan AS yang bertempur di Suriah telah mengumumkan akan melatih sekitar 15.000 pasukan Kurdi Suriah untuk menjadi bagian dari kekuatan 30.000 pasukan di perbatasan di utara negara tersebut.

“Pangkalan kekuatan baru pada dasarnya adalah penataan kembali sekitar 15.000 anggota Pasukan Demokratik Suriah [the Syrian Democratic Forces-SDF] ke sebuah misi baru di Pasukan Keamanan Perbatasan, karena tindakan mereka terhadap IS semakin dekat,” Kolonel Thomas F Veale, seorang juru bicara koalisi, kepada The Defense Post dalam sebuah berita yang diterbitkan pada hari Sabtu.

SDF, yang juga terdiri dari pasukan Arab, didominasi oleh YPG Kurdi.

Turki bereaksi dengan marah terhadap berita tersebut pada hari Ahad.

“Alih-alih mengakhiri dukungannya … langkah-langkah yang diambil untuk melegitimasi organisasi teror dan untuk membuatnya permanen di wilayah ini mengkhawatirkan,” kata Ibrahim Kalin, juru bicara Erdogan, seperti dikutip media setempat. “Menerima keadaan ini sama sekali tidak mungkin dilakukan.”

Turki Kirim Lebih Banyak Tank ke Suriah, Ancam Milisi YPG Kurdi

Sejak Desember, Ankara telah memperkuat perbatasan selatannya dengan mengirim kendaraan lapis baja, tank, dan senapan mesin berat, harian Hurriyet mengutip sumber yang mengatakannya.

Turki telah bekerja sama dengan Rusia dan Iran untuk mengakhiri perang Suriah tujuh tahun, meskipun Moskow dan Teheran mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad – dan Ankara mendukung oposisi anti-Assad.

YPG dianggap oleh Turki sebagai “kelompok teroris” atas ikatannya dengan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan pertempuran selama beberapa dekade di dalam negeri Turki.

PKK masuk dalam daftar hitam sebagai organisasi teroris oleh Turki dan sekutu Baratnya. Lebih dari 40.000 orang di Turki telah terbunuh sejak tahun 1980an setelah PKK meluncurkan pemberontakannya.

Erdogan: Kami Akan Basmi Milisi YPG Dukungan AS

TURKI (Jurnalislam.com) – Presiden Turki berjanji untuk “membersihkan teroris YPG dukungan AS” di seberang perbatasan di Suriah, saat pasukan Turki menembaki pasukan yang didukung AS dengan tembakan artileri pada hari Ahad (14/01/2018).

Sebuah operasi militer di Suriah utara di kota Afrin – yang dikendalikan oleh kelompok bersenjata Kurdi Suriah YPG – akan diluncurkan “di hari-hari mendatang,” Presiden Recep Tayyip Erdogan seperti dikutip oleh kantor berita resmi Anadolu.

Dia mengatakan serangan terhadap Afrin akan menjadi perpanjangan dari Operasi Perisai Euphrate 2016, yang menargetkan pasukan YPG. Upaya tempur delapan bulan tersebut secara resmi berakhir pada Maret 2017.

YPG: Turki Umumkan Deklarasi Perang di Suriah

Tentara Turki saat ini berbasis di wilayah yang dikuasai pejuang anti-Assad di kedua sisi Afrin.

“Dalam beberapa hari mendatang, in sya Allah, kami akan melanjutkan operasi Afrin [operasi] yang kami mulai pertama kali dengan Operasi Perisai Efrat untuk membersihkan terorisme dari perbatasan selatan kami,” kata Erdogan dalam sebuah pidato di provinsi Anatolian Tokat.

AS memandang YPG sebagai kekuatan tempur paling efektif melawan IS.

Donald Trump memutuskan untuk mempersenjatai YPG, meskipun Turki keberatan dan ada seruan langsung dari Erdogan pada sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei lalu.

Pengiriman senjata Amerika dimulai sebelum serangan untuk merebut kembali kota Raqqa dari IS. YPG memainkan peran penting dalam mengalahkan kelompok tersebut di ibukota de facto sebelumnya di Suriah utara akhir tahun lalu.

Ketegangan antara sekutu NATO tetap tinggi, meski Trump mengatakan pada November lalu bahwa Washington tidak lagi memasok senjata ke YPG.

Tanpa menyebut-nyebut AS, Erdogan mengatakan pada hari Ahad bahwa dia mengharapkan sekutu tidak membuat “kesalahan” dengan “memihak” YPG selama pertempuran merebut Afrin.

“Kami berharap agar sekutu kita berperilaku sesuai dengan semangat hubungan kita yang mengakar selama proses ini,” kata Erdogan, menambahkan “terlepas dari semuanya” dia berharap kerjasama untuk mencapai “kepentingan bersama” di wilayah ini.

“Saya berharap pasukan ini tidak akan membuat kesalahan dengan tampil di panggung yang sama dengan organisasi teroris selama operasi Afrin,” kata presiden tersebut.

Pertemuan Ramallah: Abbas Bantah Keras Donald Trump

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Mahmoud Abbas dengan tajam membantah Donald Trump, mengatakan bahwa Otoritas Palestina (the Palestinian Authority-PA) tidak akan pernah menerima keputusan presiden AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Presiden PA itu membuat komentarnya pada hari Ahad (14/1/2018) di awal dua hari pertemuan dewan pusat Organisasi Pembebasan Palestina (the Palestine Liberation Organization-PLO) di Ramallah, lansir Aljazeera.

“Secara politis, Yerusalem adalah ibukota kita, dalam agama (Islam) kita, ini adalah ibukota kita, secara geografis, ini adalah ibukota kita,” kata Abbas.

“Tapi itu dihapus dari peta dengan tweet dari Mr Trump,” tambahnya.

“Sekarang kita mengatakan ‘Tidak’ kepada Trump, kita tidak akan menerima rencananya – kita mengatakan ‘kesepakatan abad ini’ adalah tamparan abad ini,” kata Abbas, mengacu pada janji presiden AS untuk mencapai “kesepakatan akhir “- perdamaian di Timur Tengah.

Diancam Tidak Bantu $ 300 Juta pada Rakyat Palestina, Ini Jawaban Abbas pada Trump

Pemimpin Palestina tersebut juga mengatakan bahwa Israel telah “mengakhiri” kesepakatan damai Oslo pada tahun 1990an dengan tindakannya, dan juga menyebut kedua duta besar AS untuk PBB dan untuk Israel – Nikki Haley dan David Friedman – sebagai sebuah “aib”.

“Itu adalah pidato yang sangat kuat oleh Abbas … yang menggunakan bahasa yang sangat kritis,” kata Imran Khan dari Jibril, melaporkan dari Ramallah.

Keputusan Trump pada 6 Desember secara luas dikutuk oleh masyarakat internasional dan memicu demonstrasi mematikan di wilayah Palestina yang dijajah dan hampir di seluruh penjuru dunia.

Abbas sebelumnya mengatakan bahwa AS tidak dapat lagi berperan dalam proses perdamaian Timur Tengah setelah Trump mengeluarkan pernyataan itu.

Mahmoud Abbas Desak EU Pimpin Upaya Perdamaian, Bukan AS lagi

Status Yerusalem sangat sensitif dan merupakan salah satu poin utama dalam upaya menyelesaikan konflik.

Para pemimpin Palestina ingin menduduki Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan, sementara Israel mengatakan bahwa kota tersebut tidak dapat dibagi. Israel menganggap seluruh kota sebagai ibukotanya.

Bom Ditanam di Bawah Jok Mobil, Anggota Hamas Selamat dari Ledakan yang Menghancurkan

LEBANON (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan bom mobil di kota Sidon, Lebanon selatan, sedikitnya melukai seorang anggota Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), menurut kelompok Palestina tersebut, dan melaporkan Israel atas upaya pembunuhan itu.

Muhammad Hamdan menderita cedera kaki pada hari Ahad (14/1/2018) setelah sebuah bom yang ditanam di mobilnya diledakkan, kelompok media Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Indikasi awal menunjuk pada jari-jari Zionis di balik tindakan kriminal ini,” kata Hamas tanpa rincian lebih lanjut, lansir Aljazeera.

Hamdan dibawa ke rumah sakit setempat untuk perawatan, menurut laporan media lokal dan sebuah foto yang dikeluarkan oleh Hamas.

Hamas: Teroris Mossad Terbukti Membunuh Komandan Brigade al Qassam di Tunisia

Stasiun berita Lebanon mengatakan ledakan tersebut terjadi saat warga Palestina tersebut menaiki BMW-nya yang terdapat bom di daerah al-Boustan al-Kabir di Sidon, sekitar 40km selatan ibukota Lebanon, Beirut.

Bom tersebut menggunakan sekitar 500 gram bahan peledak dan ditempatkan di bawah kursi pengemudi, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon.

Ledakan tersebut menghancurkan kendaraan dan menyebabkan kerusakan pada bangunan di dekatnya, menyebabkan asap hitam naik di atas kota.

Petugas pemadam kebakaran bergegas ke tempat kejadian untuk memadamkan api, sementara pasukan keamanan mengepung daerah tersebut.

Pernyataan Hamas menggambarkan Hamdan sebagai salah satu “kader” di Sidon.

Hamas sebelumnya juga mengatakanbahwa Israel terlibat dalam pembunuhan sejumlah anggotanya di dalam dan di luar Palestina.

Pada bulan November 2017, mereka melaporkan agen zionis intelijen nasional Israel Mossad atas pembunuhan Muhammad al-Zawari, seorang komandan sayap bersenjata Hamas, Brigade Izzuddin al Qassam, setelah melakukan penyelidikan selama 11 bulan.

Begini Laporan PBB Tentang Pelanggaran HAM Koalisi Arab dan Houthi dalam Perang Yaman

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sebuah laporan PBB mengenai pelanggaran hak asasi manusia terkait dengan intervensi asing di Yaman merinci korban sipil yang luas akibat serangan udara koalisi pimpinan-Saudi, menurut Washington Post.

Para ahli PBB memeriksa 10 serangan udara pada 2017 yang menewaskan 157 orang, termasuk 85 anak, dengan mengatakan bahwa “tindakan yang diambil oleh koalisi pimpinan Arab Saudi dalam proses penargetannya untuk meminimalkan korban anak-anak, jika ada, sebagian besar tetap tidak efektif,” menurut Washington Post, yang memperoleh laporan yang belum pernah dirilis, lansir Al Arabiya.

Laporan tersebut juga mengkritik Iran karena tidak menghentikan pengiriman senjata ke pemberontak Houthi, yang menyerbu ibukota Yaman Sanaa pada tahun 2014 dan menguasai wilayah-wilayah besar di negara tersebut.

Pasar Pemberontak Syiah Houthi Dibom Koalisi Arab, 20 Tewas

Pada bulan Maret 2015, sebuah koalisi yang dipimpin oleh Saudi menghasilkan serangan udara besar melawan pemberontak Syiah Houthi yang bertujuan memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Sejak saat itu, lebih dari 10.000 orang terbunuh, menurut PBB.

Sebagian besar dari 5.000 kematian warga sipil disebabkan oleh koalisi pimpinan-Saudi, dimana Uni Emirat Arab (UEA) adalah anggotanya, kata PBB sebelumnya.

Koalisi, yang mempertahankan blokade di Yaman, menggunakan “ancaman kelaparan sebagai alat tawar-menawar dan instrumen perang,” Washington Post mengutip laporan tersebut.

Pada bulan November, PBB mengatakan bahwa “Yaman akan dicengkeram oleh kelaparan, dalam bentuk yang tidak pernah dilihat dunia selama bertahun-tahun – jika blokade tersebut … tidak dicabut.”

Puluhan Wartawan Ditawan Pemberontak Syiah Houthi

Pejabat tinggi hak asasi manusia PBB Zeid Raad al-Hussein telah menyerukan penyelidikan independen atas kekejaman di Yaman selama tiga tahun sebelum masyarakat internasional menyetujui pada tahun 2017.

Pada bulan September, Belanda dan Kanada memulai debut sebuah rancangan resolusi yang akan membentuk sebuah komisi penyelidikan internasional untuk memastikan “pelaku pelanggaran dan kekerasan, termasuk yang dapat merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, harus bertanggung jawab.”

Resolusi tersebut disetujui setelah China memberi sinyal dukungannya akhir bulan itu.

Menurut Washington Post, laporan PBB tersebut juga menuduh pemberontak Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman – termasuk ibu kota, Sanaa – melakukan pelanggaran besar.

Laporan tersebut menemukan bahwa rudal balistik yang ditembak oleh Houthis terhadap Arab Saudi konsisten dengan rancangan rudal Iran.

Iran membantah memiliki peran dalam memasok pemberontak dengan senjata walaupun terbukti rudal yang digunakan Houthi buatan Iran. Laporan tersebut tidak menjelaskan informasi mengenai bagaimana rudal dipasok, menurut Washington Post.

Milisi Syiah Houthi juga bertanggung jawab atas pembunuhan di luar proses hukum dan penahanan massal, klaim laporan tersebut.

Laporan tersebut mengatakan tampaknya perang di Yaman tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Gelombang Demonstran Semakin Membesar Setelah Tunisia Tangkap Ratusan Aktivis

TUNISIA (Jurnalislam.com) – Aktivis di Tunisia menyerukan demonstrasi besar menentang keputusan pemerintah untuk menaikkan pajak dan harga barang-barang dasar, setelah ratusan orang ditangkap pada hari-hari protes sebelumnya.

Hampir satu pekan terkadang terjadi demonstrasi kekerasan di seluruh negeri mengikuti pengumuman langkah-langkah penghematan dalam anggaran tahun ini, yang mulai berlaku pada 1 Januari.

Lebih dari 770 orang telah ditahan dalam demonstrasi hampir sepekan yang kadang-kadang disertai kekerasan ini. Sedikitnya satu orang telah terbunuh. PBB mengatakan prihatin dengan jumlah penangkapan selama demonstrasi tersebut.

Oposisi utama Tunisia, Popular Front, telah menyerukan demonstrasi selama sepekan.

Kelompok #Fech_Nestannew (Apa yang kita tunggu?) Juga menyerukan lebih banyak demonstrasi pada hari Jumat (12/1/2018). Gerakan protes dimulai secara spontan setelah beberapa orang menuliskan hashtag ungkapan tersebut di dinding kota-kota di Tunisia, dan dengan cepat mendapatkan momentum.

Cabang AQIM, Batalyon Uqba bin Nafi, Serang Pasukan Tunisia di Kasserine

Protes diperkirakan akan berlanjut hingga 14 Januari, yang menandai pemindahan Zine El Abidine Ben Ali, mantan presiden negara tersebut.

Tentara Tunisia telah mengerahkan 2.100 pasukan di berbagai belahan negara, dengan tujuan untuk melindungi “institusi dan fasilitas penting”, juru bicara kementerian pertahanan Belhassen al-Waslati mengatakan pada hari Kamis.

Hashem Ahelbarra dari Al Jazeera, melaporkan dari ibukota Tunis, mengatakan bahwa ribuan orang di jalanan sangat antusias dengan momentum gerakan tersebut.

“Orang-orang di sini mengatakan bahwa mereka ingin terus turun ke jalan untuk memberi tekanan lebih besar pada pemerintah agar membatalkan langkah-langkah penghematan,” katanya. “Mereka juga menyalahkan pemerintah karena melanggar janji yang dibuatnya untuk memperbaiki standar kehidupan di negara ini melihat kemiskinan dan tingkat pengangguran yang tinggi terus berlanjut.”

Tunisia menaikkan harga bahan bakar dan beberapa barang konsumsi, sementara pajak atas barang seperti mobil, telepon, internet dan akomodasi hotel juga meningkat. Pemerintah membela langkah-langkah yang diperlukan untuk membatasi defisit anggaran yang mencapai enam persen dari PDB negara tersebut.

Enam tahun sejak pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan Ben Ali, Tunisia dipuji sebagai panutan untuk menghindari kekerasan yang telah mempengaruhi negara-negara lain setelah gerakan Arab Spring mereka.

Namun ekonomi Tunisia belum membaik sejak revolusi, dengan pertumbuhannya tetap lamban.