India vs Pakistan: Rudal, Jet Tempur, dan Hujan Peluru di Garis Depan

ISLAMABAD (jurnalislam.com)— Ketegangan antara India dan Pakistan kembali memanas setelah kedua negara bersenjata nuklir itu terlibat baku tembak artileri berat di sepanjang perbatasan Kashmir yang disengketakan pada Rabu (7/5). Insiden ini terjadi setelah New Delhi meluncurkan serangan rudal mematikan ke wilayah yang dikuasai Pakistan, sebagai respons atas serangan terhadap wisatawan di Kashmir dua pekan lalu.

Setidaknya 38 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut. Pihak Pakistan menyatakan 26 warga sipil, termasuk empat anak-anak, menjadi korban jiwa akibat serangan dan tembakan dari pihak India. Sementara India menyebut sedikitnya 12 orang tewas akibat penembakan yang dilakukan pasukan Pakistan.

Kekerasan ini merupakan yang terburuk sejak konflik serupa pada 2019, ketika India melancarkan serangan udara terhadap “kamp militan” di Pakistan setelah serangan bom bunuh diri menewaskan 40 pasukan keamanan India di Kashmir.

Tentara India menyatakan bahwa “keadilan telah ditegakkan”, dengan mengklaim telah menghancurkan sembilan kamp teroris di wilayah Pakistan. Pemerintah India menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan secara “terfokus, terukur, dan tidak bertujuan untuk memperbesar konflik”.

Namun, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menuduh Perdana Menteri India, Narendra Modi, menggunakan serangan ini untuk mendongkrak popularitas politik di dalam negeri menjelang pemilu.

“Balasan sudah dimulai. Kami tidak akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Asif kepada AFP.

Juru bicara militer Pakistan, Mayjen Ahmed Sharif Chaudhry, menyatakan bahwa lima jet tempur India berhasil dijatuhkan. Sementara sumber keamanan India mengakui bahwa tiga pesawat mereka jatuh di wilayah dalam negeri.

Di Muzaffarabad, ibu kota Kashmir yang dikuasai Pakistan, suasana mencekam menyelimuti kota. Warga melaporkan adanya suara ledakan keras di malam hari.

“Kami ketakutan dan pindah ke tempat yang lebih aman. Sekarang kami kehilangan rumah,” ungkap Tariq Mir (24), korban luka yang terkena pecahan peluru.

Sementara itu, di kota Poonch, wilayah Kashmir yang dikuasai India, seorang warga bernama Farooq menggambarkan kondisi saat terjadi serangan.

“Kami terbangun karena suara tembakan. Saya melihat hujan peluru,” katanya dari ranjang rumah sakit dengan kepala dibalut perban.

Menurut pejabat lokal Azhar Majid, sedikitnya 12 orang tewas dan 29 lainnya terluka di Poonch akibat serangan tersebut.

India diperkirakan membalas secara militer atas serangan pada 22 April lalu di Pahalgam, kawasan wisata di Kashmir, yang menewaskan 26 wisatawan Hindu. New Delhi menyalahkan kelompok militan Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan atas serangan itu dan menuding Islamabad berada di balik aksi teror tersebut.

Pakistan membantah tuduhan itu dan menyerukan investigasi independen. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut serangan India sebagai “tindakan agresi keji” yang menurutnya “tidak akan dibiarkan tanpa hukuman”.

Sejak 24 April, kedua negara disebut telah terlibat baku tembak hampir setiap malam di sepanjang Garis Kontrol (LoC). Pakistan juga mengklaim telah melakukan dua uji coba rudal dalam beberapa hari terakhir. (Bahry)

Sumber: TNA

Trump Umumkan AS Hentikan Pemboman di Yaman, Houthi Sepakat Akhiri Serangan

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa negaranya akan segera menghentikan pemboman di Yaman, menyusul kesepakatan dengan kelompok Houthi yang menyatakan keinginan mereka untuk mengakhiri perang. Pengumuman ini disampaikan Trump secara mengejutkan di Gedung Putih pada Selasa (6/5/2025), dan disambut dengan keterkejutan oleh banyak pejabat AS.

“Kelompok Houthi memberi tahu kami tadi malam bahwa mereka tidak ingin berperang lagi. Mereka hanya ingin kedamaian,” ujar Trump.

“Kami akan menghormati itu. Kami akan menghentikan pemboman.” imbuhnya.

Keputusan Trump ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang menyebut bahwa Houthi telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal, termasuk kapal Amerika, di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Ia juga mengonfirmasi bahwa Oman telah memainkan peran sebagai mediator antara AS dan Houthi.

“Ke depan, tidak ada pihak yang akan menyerang pihak lain. Kebebasan navigasi dan kelancaran arus pengiriman global akan dijaga,” tulis Busaidi melalui akun resminya di platform X.

Namun, pengumuman tersebut dilaporkan mengejutkan para diplomat dan pejabat pertahanan AS yang bertugas menangani konflik di Yaman. Tiga pejabat yang berbicara kepada Middle East Eye menyatakan bahwa mereka tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai keputusan itu.

Dalam pengumuman tersebut, Trump juga terlihat memberitahu Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat Keamanan Nasional AS, Marco Rubio, secara langsung.

“Marco, kamu akan beri tahu semua orang. Ini pengumuman besar,” kata Trump dari Ruang Oval.

Meskipun tidak menyebutkan Israel, pengumuman ini datang beberapa hari setelah serangan rudal balistik Houthi menghantam area parkir dekat Terminal 3 Bandara Ben Gurion, Tel Aviv. Serangan tersebut memicu kekhawatiran di Israel, yang saat ini terlibat konflik sengit dengan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan kelompok Houthi di Laut Merah sebelumnya ditujukan kepada kapal-kapal yang memiliki kaitan dengan Israel, dan kemudian meluas ke kapal-kapal Barat secara umum.

Diketahui, Houthi didukung oleh Iran, namun laporan terbaru menyebut bahwa Rusia juga telah mengirim penasihat militer untuk membantu mereka dalam peningkatan kemampuan serangan. China dilaporkan ikut memberikan dukungan intelijen kepada kelompok tersebut.

Trump menutup pernyataannya dengan mengatakan, “Mereka (Houthi) sudah berjanji akan berhenti meledakkan kapal. Saya percaya pada kata-kata mereka.” (Bahry)

Sumber: MEE

Hamas Kecam Keputusan Kabinet Israel Perluas Operasi Militer di Gaza, Sebut Netanyahu Korbankan Tahanan Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras keputusan kabinet Israel yang menyetujui perluasan operasi militer darat di Jalur Gaza. Hamas menilai langkah ini merupakan keputusan terang-terangan untuk mengorbankan para tahanan Israel yang masih berada di wilayah Gaza dan merupakan pengulangan dari siklus kegagalan yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun terakhir.

Dalam pernyataan resminya melalui saluran Telegram pada Selasa (6/5/2025), Hamas menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai “teroris” yang saat ini menjadi buron Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Mereka juga menuduh Netanyahu terus mendorong terjadinya kejahatan perang terhadap warga sipil Palestina di Gaza, dengan dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat.

“Rakyat kami dan para pejuang perlawanan yang teguh tidak akan mundur di hadapan ancaman atau rencana agresi. Kami adalah pemilik sah tanah ini dan akan tetap bertahan meski agresi pendudukan terus berlangsung,” demikian pernyataan Hamas.

Lebih lanjut, Hamas menyerukan kepada negara-negara Arab dan Islam, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan masyarakat internasional untuk mengambil langkah nyata dalam menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintahan Israel. Mereka juga meminta agar para pemimpin Israel diadili di pengadilan internasional atas kejahatan yang telah dilakukan terhadap rakyat Palestina.

Di akhir pernyataan, Hamas menyerukan solidaritas dari masyarakat Arab, umat Islam, dan seluruh pendukung keadilan di dunia untuk mengintensifkan tekanan rakyat demi menghentikan agresi di Jalur Gaza dan mendukung hak rakyat Palestina atas kebebasan, kemerdekaan, serta penentuan nasib sendiri. (Bahry)

Zionis Israel Bombardir Pelabuhan Hodeidah Yaman Usai Serangan Houthi di Bandara Tel Aviv

KAIRO (jurnalislam.com)– Militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan udara ke Pelabuhan Hodeidah di Yaman pada Senin (5/5/2025), sebagai balasan atas serangan rudal yang diluncurkan kelompok Houthi sehari sebelumnya dan menghantam dekat Bandara Internasional Ben Gurion, Israel.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “target teroris” milik Houthi di Hodeidah dan sekitarnya.

Menurut kantor berita Saba yang dikelola oleh Houthi, sedikitnya satu orang tewas dan 35 orang lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Beberapa sumber menyebut Houthi menutup akses ke area sekitar pelabuhan dan pabrik semen setelah serangan terjadi.

Meski tingkat kerusakan secara keseluruhan belum diketahui secara pasti, laporan warga dan pekerja pelabuhan menyebut bahwa kebakaran besar dan ledakan menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas pelabuhan, termasuk dermaga dan gudang. Diperkirakan sekitar 70 persen dari lima dermaga, gudang, dan area bea cukai mengalami kerusakan. Saat serangan terjadi, dua kapal tengah membongkar muatannya, sehingga aktivitas pelabuhan lumpuh total.

Pelabuhan Hodeidah merupakan pelabuhan utama kedua di Laut Merah setelah Aden, dan menjadi titik masuk vital bagi sekitar 80 persen impor pangan ke Yaman.

Setidaknya 10 serangan dilaporkan menghantam kawasan pelabuhan Hodeidah serta lingkungan Al Salakhanah dan Al Hawak. Sementara empat serangan lainnya dilaporkan menyasar pabrik semen di wilayah timur kota tersebut.

“Serangan ini merupakan respons terhadap serangan berulang oleh rezim teroris Houthi terhadap Israel, di mana mereka meluncurkan rudal dan drone ke wilayah serta warga Israel,” kata militer Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah berjanji akan membalas serangan rudal Houthi yang berhasil lolos dari sistem pertahanan udara Israel pada Ahad (4/5), menjadikannya serangan pertama yang mencapai wilayah Israel dalam serangkaian serangan sejak Maret lalu.

Menanggapi serangan balasan Israel, pejabat Houthi Abdul Qader al-Mortada menulis di platform X bahwa Israel harus “menunggu hal yang tak terbayangkan”.

Houthi terus melakukan serangan terhadap Israel dan jalur pelayaran di Laut Merah, khususnya sejak meletusnya perang antara Israel dan Hamas di Gaza. Meskipun sempat ada penangguhan serangan saat gencatan senjata, Houthi kembali melanjutkan aksinya setelah gencatan berakhir.

Sementara itu, seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa pasukan AS tidak terlibat langsung dalam serangan Israel ke Hodeidah, namun mengonfirmasi adanya koordinasi umum antara kedua negara.

Di sisi lain, sebuah perusahaan minyak yang dikelola Houthi mengumumkan pengoperasian sistem darurat untuk distribusi bahan bakar ke kendaraan, menyusul kesulitan pembongkaran muatan di pelabuhan minyak Ras Isa. Perusahaan itu mengaitkan kondisi tersebut dengan serangan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah yang dikuasai Houthi. (Bahry)

Sumber: Reuters

Israel Kerahkan Puluhan Ribu Tentara Cadangan untuk Perluas Perang, Banyak yang Menolak Bertugas

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengumumkan akan mengerahkan puluhan ribu tentara cadangan guna memperluas serangan ke Jalur Gaza. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, menyampaikan hal tersebut pada Ahad (5/5/2025), beberapa jam setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan akan melanjutkan agresi militer meski ada desakan damai dari masyarakat Israel terus menguat.

“Minggu ini kami mengirimkan puluhan ribu surat wajib militer kepada pasukan cadangan untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas, mengembalikan para tawanan, dan memperluas operasi militer kami di Gaza,” kata Zamir saat mengunjungi pangkalan angkatan laut Atlit di pantai utara Israel.

Zamir menegaskan, militer Israel akan bergerak di lebih banyak wilayah Gaza dan menghancurkan seluruh infrastruktur Hamas, baik di atas maupun bawah tanah.

Pernyataan ini disampaikan menjelang rapat kabinet keamanan yang dipimpin Netanyahu untuk membahas rencana eskalasi militer di Gaza. Sejak perang dimulai Oktober 2023, serangan Israel telah meluluhlantakkan wilayah Gaza, menyebabkan lebih dari 52.000 warga Palestina terbunuh dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya terusir dari tempat tinggal mereka.

Gerakan sipil di Israel sendiri semakin gencar mendesak diakhirinya perang dan menuntut pembebasan para tawanan melalui jalur diplomatik. Bahkan, banyak tentara cadangan menolak panggilan untuk kembali bertugas.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam wawancara radio militer menyatakan ingin melihat perang diperluas secara “keras” namun ia tidak merinci lebih lanjut. Ia bahkan menyerukan serangan terhadap sumber daya penting di Gaza seperti makanan dan listrik.

Israel berdalih perluasan operasi militer bertujuan menekan Hamas agar membebaskan 59 tawanan yang tersisa. Namun para pengamat menilai langkah tersebut justru membahayakan nyawa para tawanan dan menutup jalan damai. Sebelumnya, upaya pertukaran tawanan sempat terjadi dalam gencatan senjata singkat hingga 18 Maret, namun tidak membuahkan hasil lanjutan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kantor Media Gaza: Rumah Sakit di Gaza Terancam Lumpuh Total dalam 48 Jam

GAZA (jurnalislam.com)— Kantor Media Pemerintah di Gaza mengeluarkan peringatan serius bahwa seluruh rumah sakit di Jalur Gaza akan berada di ambang kehancuran dalam 48 jam ke depan jika pasokan bahan bakar tidak segera disalurkan.

Pihaknya menyalahkan Israel atas krisis ini, karena dianggap menghalangi akses Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya ke lokasi penyimpanan bahan bakar di wilayah Gaza.

“Kami memperingatkan dengan tegas tentang bencana yang akan segera terjadi yang mengancam nyawa ribuan orang sakit dan terluka di Jalur Gaza,” kata pernyataan dari Kantor Media Gaza, sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Selasa (6/5/2025)

Koordinator Bantuan Darurat PBB sebelumnya juga menyampaikan bahwa upaya para pekerja kemanusiaan untuk mengambil bahan bakar kerap diblokir, terutama di area-area yang dikategorikan sebagai “terlarang” oleh militer Israel.

“Kami mengutuk dengan keras kejahatan sistematis pendudukan Israel di Gaza dengan terus mencegah distribusi bahan bakar ke rumah sakit,” lanjut pernyataan itu.

Kantor Media Gaza menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa, serta memperburuk krisis kesehatan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kelaparan dan Kekurangan Gizi Ancam Gaza: Akibat Blokade

GAZA (jurnalislam.com)- Jalur Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan sangat parah akibat blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Di tengah sulitnya bantuan masuk ke wilayah tersebut, kondisi gizi anak-anak semakin memprihatinkan.

Dr. Osama Qudeih, Dokter Pediatri di Klinik Al Aqsa B di Al-Mawassi, Gaza Selatan, yang dikelola MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina (MoH), melaporkan bahwa sebagian besar pasien yang ia tangani adalah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi), baik pada tahap awal maupun dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Dari sekitar 200 kasus yang ditanganinya, 40 hingga 50 di antaranya merupakan kasus malnutrisi serius.

“Kasus malnutrisi terutama terjadi pada anak-anak di bawah usia dua tahun dengan penyebab utama berupa melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya (defisiensi) berbagai ketersediaan jenis makanan,” ujarnya.

Ia mengatakan kelangkaan dan tidak adanya susu formula bayi di pasaran berdampak sangat signifikan.

“Beberapa gejala yang muncul antara lain adalah penurunan berat badan, di mana dalam banyak kasus dapat menjadi sangat berbahaya,” ungkap dr. Osama.

Jumana Abu Arab menambahkan, untuk menangani kondisi ini sebelumnya Kementerian Kesehatan memberikan suplemen gizi secara rutin ke Klinik tersebut. Namun, stok yang tersedia mulai menipis karena kebutuhan terus meningkat dan pasokan di pasaran semakin terbatas.

Kelaparan dan Malnutrisi juga Terjadi di Gaza Utara

Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel.

Selain serangan udara yang menyasar lembaga masyarakat, tempat tinggal warga sipil, dan gudang penyimpanan makanan, blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis. Dampak sangat negatifnya bisa dirasakan oleh penduduk Gaza, khususnya para pencari nafkah.

“Sebagai pencari nafkah bagi keluarga, saya menghadapi kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan makanan pokok anak-anak saya, karena kurangnya sumber pendapatan. Bahkan kalaupun saya mampu membeli kebutuhan mereka, saya merasa kesulitan berinteraksi dengan anak-anak saya, terutama anak-anak saya yang masih kecil, karena saya merasa tidak dapat menyediakan makanan yang cukup layak bagi mereka,” katanya.

Keluarganya kini hanya mampu makan sekali sehari. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya.

semua kebutuhan rumah tangga masyarakat seperti persediaan bahan makanan dan makanan kaleng telah habis. Dari situlah tanda-tanda kekurangan gizi mulai tampak, khususnya di kalangan anak-anak. Berat badan mereka mengalami penurunan antara 5 hingga 10 kilogram.

Sebagai dokter ortopedi yang banyak menangani korban serangan Israel, ia mengamati bahwa kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal.

“Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula. Dulu, luka-luka seperti itu dapat sembuh dalam waktu singkat, tetapi sekarang memerlukan waktu dua kali lipat atau lebih lama untuk pulih,” kata dr. Basel.

Ia juga menyampaikan banyak pasien kini mengalami kulit pucat (pallor), kelemahan umum (general weakness), dan anemia, yang menyebar hampir ke seluruh pasien. Sistem kekebalan tubuh yang lemah menyebabkan penyebaran infeksi dan epidemi makin sulit dicegah.

Kondisi yang Terus Memburuk juga Berdampak kepada Tenaga Medis

“Kami bahkan hampir tidak dapat menjalankan tugas kami secara menyeluruh akibat rasa lelah yang sudah akut,” katanya.

Ia mengaku telah kehilangan sekitar 30 kilogram berat badan, dan rekan-rekannya mengalami kondisi yang sama karena kurangnya makanan, terutama daging.

“Keputusasaan dan rasa tidak ada harapan mulai menguasai kehidupan profesional kami, yang berdampak negatif, khususnya pada pasien yang sedang terluka, dan masyarakat pada umumnya,” tutur dr. Basel.

Dari Yogya ke Solo: Konvoi Ambulans Tegakkan Kemanusiaan untuk Palestina

SOLO (jurnalislam.com)- Hampir 100 mobil ambulans berkonvoi rapi membelah jalanan Yogyakarta menuju Kota Solo, Ahad (4/5/2025). Mengenakan atribut Palestina para driver berharap aksi kemanusiaan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas genosida yang terjadi di bumi Palestina.

Lampu rotator yang dinyalakan tajam menyorot serta raungan sirine yang dinyalakan bebarengan membahana memenuhi langit siang itu seakan ingin berteriak kepada dunia agar tragedi kemanusiaan yang ada di Palestina harus segera dihentikan.

“Kami driver ambulans hanya bisa bersuara dengan suara sirine, semoga aksi ini menjadi inspirasi atau pelecut di aksi yang diadakan di kota lain,”ungkap Lutfi Hidayat, Koordinator Aksi dari Yogyakarta, Ahad (4/5/2025).

Selain itu, mengapa gerakan ini dilakukan diantaranya untuk terus menghangatkan terus isu Palestina agar masyarakat paham akan kekejaman zionis Israel.

Banyaknya tenaga medis yang gugur di Palestina juga menjadi keprihatinan kita semua.

“Kita punya ide untuk mengadakan konvoi ambulans, karena kita mempunyai kaitan erat di mana kalangan medis di Palestina banyak menjadi saran korban bahkan sampai saat ini tercatat kurang lebih 1000 tenaga medis yang menjadi korban kekejaman zionis israel,” tambahnya.

Relawan driver ambulans yang ikut berasal dari beberapa wilayah seperti Yogyakarta, Magetan, Ngawi, Klaten, Solo, Semarang serta Purwakarta.

Beberapa relawan ambulans yang ikut diantaranya adalah LazizMu, Baznas, Mer-C Yogyakarta, Masjid Jogokaryan, Hamka Hajar Aswad, Laskar Sedekah, Surya Grop, Laznah Dewan Dakwah, Lumbung Zakat, FKAM, WM 2000 Solo dan lain sebagainya.

“Total ada kurang lebih 100 ambulans yang ikut dapat misi kemanusiaan ini. Rute yang dilalui dari Yogyakarta berhenti sejenak di Masjid Al Aqsha Klaten untuk melakukan orasi dan menyalakan sirine selama 1 menit terus berjalan. Berhenti di Goro Asssalam kemudian finis di Taman Sri Wedari Solo,” pungkasnya.

Brigade Al Qassam Klaim Habisi Tentara Israel Lewat Serangan di Lorong Terowongan Rafah

GAZA (jurnalislam.com)- Sayap bersenjata Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengklaim telah menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel dalam serangan terencana di wilayah Rafah, Gaza selatan, pada Sabtu (3/5/2025).

Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di Telegram, Brigade Al-Qassam menyebut para pejuangnya berhasil memancing pasukan Israel masuk ke sebuah lorong terowongan yang sebelumnya telah dipasangi bom.

“Begitu sejumlah tentara maju ke lorong terowongan, terowongan itu diledakkan, menewaskan dan melukai mereka,” demikian bunyi pernyataan kelompok tersebut.

Selain itu, Brigade Al-Qassam juga mengklaim telah menargetkan dua tank milik militer Israel dengan roket al-Yassin 105 di kawasan yang sama.

Secara terpisah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pidato video yang disiarkan hari ini, mengonfirmasi bahwa dua tentara Israel tewas di Rafah pada pagi hari.

Rafah saat ini menjadi lokasi bentrokan paling sengit dalam invasi darat Israel ke Jalur Gaza, menyusul serangkaian perlawanan dari pejuang Palestina yang terus mempersulit pergerakan militer Israel di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: MEE

Pengamat: Israel Ingin Mencaplok Suriah Lewat Dalih Lindungi Druze

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Direktur Asosiasi Suriah untuk Martabat Warga, Labib Nahhas, menyebut serangan militer Israel ke wilayah Suriah bukan semata untuk melindungi komunitas Druze, melainkan bagian dari rencana jangka panjang Israel untuk menguasai dan melemahkan negara-negara di kawasan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Ahad (4/5/2025), Nahhas menyatakan bahwa alasan perlindungan terhadap komunitas Druze yang disampaikan Israel hanyalah “dalih palsu”.

Israel mengklaim melindungi komunitas Druze, padahal di dalam negerinya sendiri mereka diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Jadi sangat tidak logis bila mereka benar-benar ingin melindungi Druze di Suriah, kata Nahhas.

Ia menambahkan bahwa sejak serangan 7 Oktober 2023 oleh kelompok pejuang Palestina yang dipimpin Hamas, Israel menunjukkan wajah baru yang lebih agresif dan ekspansionis.

Yang kita lihat saat ini adalah Israel baru, yang paling ekspansionis, agresif, dan bermusuhan sejak 1967. Mereka menyatakan tidak akan menghentikan perang sampai Suriah terpecah dan membangun zona penyangga mereka sendiri tanpa keterlibatan militer Suriah, tegasnya.

Nahhas menyebut langkah-langkah militer tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk membentuk ulang peta geopolitik regional sesuai kepentingannya.

Israel ingin Suriah tetap lemah, terdesentralisasi, dan tidak berdaya. Semua ini dilakukan demi kepentingan strategis Israel dalam membangun dominasi baru di Timur Tengah, pungkasnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera