DPP PUI Desak Investigasi Internasional Atas Gugurnya Dr Marwan Al-Sultan di Gaza

JAKARTA (jurnalislam.com)— DPP Persatuan Ummat Islam (PUI) menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Dr. Marwan Al-Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, beserta keluarganya yang menjadi korban serangan udara Israel. Dr. Marwan dikenal sebagai sosok pejuang kemanusiaan yang gigih memperjuangkan perlindungan warga sipil dan akses medis di tengah krisis Gaza.

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI) mengecam keras serangan udara Israel yang menewaskan Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Dr. Marwan al-Sultan, bersama istri dan anak-anaknya. Serangan tersebut terjadi pada Rabu, 2 Juli 2025, saat kediaman Dr. Marwan dihantam rudal di kawasan Gaza City.

Ketua Umum DPP PUI, H. Raizal Arifin, M.Sos menyebut tragedi itu sebagai kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

“Ini bukan hanya serangan terhadap satu keluarga, tetapi penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal. Dr. Marwan mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan ribuan pasien di Gaza, dan justru beliau menjadi korban kebiadaban yang terang-terangan,” tegas Raizal dalam keterangannya, Kamis (3/7/2025).

Menurutnya, Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah simbol persaudaraan antara rakyat Indonesia dan Palestina yang berdiri dengan penuh pengorbanan.

“Ketika rumah sakit dan tenaga medis sengaja dijadikan target, itu menegaskan bahwa Israel sama sekali tidak menghormati hukum internasional,” tambahnya.

Dihubungi di Jakarta, Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri (HLN) DPP PUI, Dr. Adhe Nuansa Wibisono, M.Si, menegaskan bahwa serangan yang secara sengaja menargetkan tenaga medis dan keluarganya merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional.

“Tindakan ini bukan hanya merenggut nyawa para profesional medis, tetapi juga melumpuhkan sistem kesehatan di Gaza secara sistematis. Ini adalah strategi yang sangat berbahaya dan tidak manusiawi,” ujarnya.

Dr. Wibisono menambahkan, “PUI mendorong dilakukannya investigasi internasional yang independen dan transparan atas tewasnya Dr. Marwan Al-Sultan. Komunitas internasional, khususnya PBB dan WHO, harus segera bertindak untuk menghentikan pola penyerangan sistematis terhadap pekerja medis dan memastikan perlindungan serta akses kemanusiaan yang aman bagi warga sipil di Palestina,” ungkapnya.

Sementara itu, Analis Utama HLN DPP PUI, Sofyardi Rahmat, S.IP, menyoroti bahwa penyerangan terhadap rumah dan fasilitas medis jelas merupakan kejahatan perang yang harus diusut tuntas.

“Penargetan tenaga medis adalah pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa. Ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga ancaman terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, “Situasi geopolitik pasca perang 12 hari antara Israel dan Iran semakin memperburuk krisis di Gaza. Diplomasi dan tekanan internasional harus diperkuat agar kekerasan segera dihentikan dan hak-hak rakyat Palestina dipulihkan,” tandasnya.

DPP PUI menegaskan solidaritasnya kepada rakyat Palestina dan keluarga almarhum Dr. Marwan Al-Sultan. Sebagai salah satu ormas Islam tertua di Indonesia, PUI mengajak seluruh pihak untuk bersatu dalam memperjuangkan keadilan, penegakan hukum internasional, serta mendukung investigasi dan upaya perdamaian yang berkeadilan di Gaza.

Lebih dari 100 Ribu Alami Gangguan Mental, Tentara Israel Bunuh Diri Usai Trauma di Gaza

SAFAD (jurnalislam.com)- Seorang tentara cadangan Israel berusia 24 tahun dilaporkan bunuh diri setelah mengalami tekanan mental berat akibat menyaksikan langsung kengerian perang di Jalur Gaza. Media berbahasa Ibrani melaporkan insiden tersebut terjadi pada Ahad (6/7), dan korban telah diidentifikasi sebagai Daniel Edri.

Edri disebut mengalami gangguan psikologis serius setelah bertugas mengangkut jenazah tentara Israel yang tewas dalam pertempuran. Trauma yang ditimbulkan oleh pemandangan dan bau jenazah yang terus-menerus menghantui pikirannya membuat kondisinya semakin memburuk.

Jenazah Edri ditemukan di Hutan Biriya, dekat kota Safad. Menurut laporan, dua teman dekat Edri juga menjadi korban dalam serangan terhadap konser Nova pada tahun 2023, yang turut memperburuk kondisi mentalnya.

Ibunda Edri mengatakan bahwa putranya telah berjuang dengan tekanan emosional yang mendalam dan sempat meminta untuk dirawat di bangsal psikiatri sekitar seminggu sebelum kematiannya. Namun, ia hanya dimasukkan dalam daftar tunggu dan tidak segera mendapatkan perawatan.

“Ia berkata kepada saya bahwa ia selalu mencium bau jenazah dan terus melihatnya sepanjang waktu,” ujar sang ibu kepada media lokal, seraya meminta agar negara memberikan penghormatan layak berupa pemakaman militer untuk putranya yang hingga kini belum disetujui.

Kematian Edri menyoroti meningkatnya beban psikologis di kalangan masyarakat Israel akibat perang yang terus berlangsung di Gaza. Awal tahun ini, Oren Helman, kepala asosiasi Kesher yang membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, mengungkapkan bahwa lebih dari 100.000 warga Israel mengalami gangguan psikologis akibat dampak perang, dengan sekitar 67.000 kasus tercatat sejak 7 Oktober 2023.

Helman menyebut lonjakan masalah kesehatan mental ini sebagai akibat dari “kegagalan pemerintah” dalam menangani dampak konflik bersenjata terhadap warganya.

Perang Israel di Gaza sendiri telah menewaskan lebih dari 61.700 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Serangan yang masif dan menyasar wilayah sipil, termasuk pemukiman, rumah sakit, serta sekolah, telah menuai kecaman internasional dan semakin banyak pihak yang menuding Israel melakukan genosida. (Bahry)

Sumber: TNA

Kelompok Bersenjata Penentang Hamas Akui Koordinasi dengan Militer Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Pemimpin sebuah kelompok bersenjata Palestina yang menentang Hamas dan dituduh terlibat dalam penjarahan bantuan di Jalur Gaza secara terbuka mengakui bahwa pihaknya menjalin koordinasi dengan militer Israel. Pernyataan itu disampaikan Yasser Abu Shabab dalam wawancara dengan penyiar radio publik berbahasa Arab Israel, Makan, pada Ahad (6/7/2025).

Abu Shabab menyebut kelompoknya, yang dikenal sebagai pasukan rakyat, beroperasi secara leluasa di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel dan melakukan komunikasi sebelumnya terkait operasi mereka.

“Kami terus memberi tahu mereka, tetapi kami melaksanakan tindakan militer sendiri,” ujar Abu Shabab.

Dalam wawancara tersebut, Abu Shabab juga menyatakan bahwa kelompoknya menerima “dukungan logistik dan keuangan dari beberapa pihak”, meski tidak secara langsung menyebutkan Israel. Ia menambahkan, “Ada hal-hal yang tidak dapat kami bicarakan secara terbuka.”

Bulan lalu, otoritas Israel mengakui telah memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok bersenjata di Gaza yang menentang Hamas. Meskipun tidak menyebut nama secara langsung, media lokal mengidentifikasi kelompok yang dimaksud sebagai pasukan rakyat yang dipimpin Abu Shabab.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menanggapi dengan menyatakan bahwa dukungan terhadap kelompok tersebut “menyelamatkan nyawa tentara Israel”. Namun, pernyataan ini menuai kecaman di dalam negeri. Mantan Menteri Pertahanan Israel yang juga anggota Knesset, Avigdor Lieberman, menuduh pemerintah telah “memberikan senjata kepada sekelompok penjahat”.

Lembaga think tank Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri menggambarkan Abu Shabab sebagai kepala geng kriminal di wilayah Rafah, Gaza selatan, yang dituduh menjarah truk bantuan. Abu Shabab tidak menanggapi tuduhan tersebut dalam wawancara, dan menegaskan bahwa satu-satunya tujuan kelompoknya adalah menjatuhkan Hamas dan menjadi alternatif pemerintahan di Jalur Gaza.

“Kami tidak menganut ideologi atau organisasi politik apa pun. Kami berjuang untuk memberantas ketidakadilan dan korupsi Hamas,” tegasnya.

Ia juga menyatakan tekad untuk terus melawan Hamas, meskipun harus menghadapi pertumpahan darah.

“Saat ini, Hamas sedang sekarat. Mereka tahu akhir mereka sudah dekat.” kata Abi Shabab.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Hamas. Pada Rabu lalu, pengadilan militer Hamas memberikan tenggat waktu 10 hari kepada Abu Shabab untuk menyerahkan diri dan menghadapi dakwaan pengkhianatan serta tuduhan lainnya.

Sementara itu, pada Ahad, koalisi kelompok pejuang Palestina mengecam keras kelompok Abi Shabab, menuduh mereka secara terang-terangan bekerja sama dengan pendudukan Israel.

“Mereka ditolak oleh seluruh rakyat kami. Kami tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada mereka atau siapa pun yang mengikuti jejak mereka,” tegas koalisi tersebut dalam pernyataan resminya.

“Mereka akan diperlakukan sebagaimana mestinya: pengkhianat dan kolaborator.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TNA

BRICS Tuntut Gencatan Senjata Permanen dan Penarikan Total Pasukan Israel dari Gaza

RIO DE JANEIRO (jurnalislam.com)– Para pemimpin negara-negara BRICS yang tengah menggelar pertemuan di Rio de Janeiro pada Ahad (6/7/2025) menyerukan tercapainya gencatan senjata yang cepat, permanen, dan tanpa syarat untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Jalur Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan dalam komunike bersama yang dirilis usai pertemuan puncak.

“Kami mendesak para pihak untuk terlibat dengan itikad baik dalam negosiasi lebih lanjut untuk mencapai gencatan senjata yang segera, permanen, dan tanpa syarat,” demikian bunyi pernyataan resmi BRICS, blok yang kini beranggotakan 11 negara.

BRICS juga mendesak penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza dan seluruh wilayah pendudukan Palestina lainnya. Pernyataan itu dikeluarkan saat perundingan antara Israel dan Hamas kembali digelar di Doha, Qatar, di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk menghentikan perang yang telah berlangsung selama 22 bulan.

Dalam pernyataan bersama tersebut, BRICS juga mengutuk serangan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas nuklir damai Iran, yang mereka sebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Mereka menyuarakan keprihatinan mendalam atas penderitaan rakyat Palestina akibat agresi Israel.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, operasi militer Israel telah menyebabkan sedikitnya 57.418 korban jiwa, sebagian besar di antaranya merupakan warga sipil. Angka ini juga telah dikonfirmasi sebagai dapat dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Di bidang ekonomi, BRICS menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya tarif global yang dinilai dapat menghambat perdagangan internasional, dalam sindiran halus terhadap kebijakan dagang proteksionis yang digagas oleh Amerika Serikat.

BRICS juga menyuarakan dukungan terhadap keanggotaan Ethiopia dan Iran di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan mendesak pemulihan fungsi penyelesaian sengketa di tubuh WTO.

Sebagai informasi, BRICS adalah blok kerja sama ekonomi dan politik antarnegara berkembang yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelompok ini bertujuan memperkuat multipolaritas dunia dan menyeimbangkan dominasi negara-negara Barat dalam urusan global.

Negara-negara yang hadir dalam pertemuan BRICS di Brasil antara lain: Brasil (tuan rumah), Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. (Bahry)

Sumber: TNA

Rusia Jadi Negara Pertama yang Akui Pemerintahan Taliban Afghanistan

MOSKOW (jurnalislam.com)– Rusia secara resmi mengakui pemerintahan Taliban Afghanistan, menjadikannya negara pertama yang mengambil langkah tersebut. Pengakuan ini ditandai dengan penyerahan surat kepercayaan oleh Duta Besar Republik Islam Afghanistan untuk Rusia, Molavi Gul Hassan, kepada Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrei Yuryevich Rudenko, dalam sebuah upacara di Moskow, Sabtu (5/7/2025).

Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, menjelaskan kepada media Rusia, RT, bahwa keputusan Presiden Vladimir Putin ini didasarkan pada pertimbangan keamanan, khususnya dalam memerangi terorisme dan perdagangan narkoba.

“Pertama, Afghanistan penting karena adanya kekhawatiran yang sudah dikenal luas terkait ancaman terorisme yang sebelumnya berasal dari wilayah tersebut.” kata Kabulov.

“Kedua, terkait perdagangan narkoba. Dan karena pemerintahan saat ini telah melakukan upaya maksimal untuk mengatasi kedua masalah itu, maka sangat penting bagi kami untuk menjalin kemitraan erat dengan mereka,” imbuhnya.

Rusia sebelumnya menyebut bahwa kelompok Negara Islam Provinsi Khorasan (ISIS-K) telah melakukan serangan teror paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 130 orang di sebuah gedung konser di luar Moskow pada tahun lalu.

Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, menyambut baik langkah Rusia.

“Kami menghargai langkah berani yang diambil Rusia ini. Insya Allah, ini akan menjadi contoh bagi negara-negara lain,” ujarnya.

Pengakuan resmi ini dinilai penting dalam mendorong kerja sama lebih lanjut antara Moskow dan Kabul, termasuk di bidang perdagangan dan energi. Rusia sebelumnya telah menjalin hubungan ekonomi dengan Taliban, dan pada tahun 2022 menjadi negara pertama yang menandatangani perjanjian perdagangan internasional dengan kelompok tersebut. Dalam kesepakatan itu, Afghanistan setuju untuk memasok minyak, gas, dan gandum dari Rusia.

Pada April lalu, Rusia juga secara resmi mencabut Taliban dari daftar organisasi terorisnya.

Taliban menguasai kembali Afghanistan pada 2021, setelah penarikan pasukan Amerika Serikat dan runtuhnya pemerintahan yang didukung Washington. Setelah kembali berkuasa, Taliban langsung menindak keras perdagangan opium dan heroin yang berkembang pesat selama pendudukan asing.

Dan Taliban juga menerapkan kembali interpretasi tegas mereka terhadap hukum Islam di seluruh negeri.

Selama lebih dari empat dekade, Afghanistan telah dilanda konflik berkepanjangan. Uni Soviet yang kala itu mencakup Rusia menginvasi negara tersebut pada 1979 untuk mendukung pemerintahan komunis. Amerika Serikat bersama Arab Saudi dan Pakistan kemudian mendanai serta mempersenjatai kelompok mujahidin untuk melawan pasukan Soviet. Beberapa pejuang tersebut kemudian membentuk kelompok Al-Qaeda.

Taliban pertama kali berkuasa pada 1996. Namun, kekuasaan mereka digulingkan pada 2001 oleh Amerika Serikat, setelah peristiwa serangan 11 September yang dituduhkan kepada pemimpin Al-Qaeda, Usama bin Laden, yang saat itu berlindung di Afghanistan.

Kini, dengan pengakuan resmi dari Moskow, Taliban mendapatkan legitimasi internasional yang selama ini sulit mereka raih sejak kembali berkuasa. (Bahry)

Sumber: The Cradle

Brigade Al-Qassam Rilis Video Serangan ke Tentara Israel di Khan Younis, Dua Prajurit IDF Dilaporkan Tewas

GAZA (jurnalislam.com)— Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam, merilis rekaman video terbaru yang memperlihatkan serangan terhadap pasukan dan kendaraan militer Israel di pusat Kota Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan. Video tersebut ditayangkan pada Sabtu (5/7/2025) pukul 20.00 waktu setempat melalui saluran Al Jazeera News Channel, sebagai bagian dari operasi yang mereka namakan “Batu Daud”.

Dalam adegan pertama, video memperlihatkan serangan yang terjadi pada Jumat (4/7) di Distrik Al-Mahta, Khan Younis. Pejuang Al-Qassam meluncurkan serangan terhadap sekelompok tentara Israel dan kendaraan militer, termasuk dua tank Merkava yang dihantam dengan alat peledak improvisasi (IED) Shawaza dalam operasi syahid. Selain itu, sebuah kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) juga diserang menggunakan rudal anti-tank Al-Yasin 105, menargetkan pasukan penyelamat yang datang ke lokasi.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa satu tentaranya tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut, termasuk seorang komandan kompi.

Dalam adegan kedua yang dirilis, Al-Qassam bersama Brigade Mujahidin juga menargetkan tiga APC Israel di sekitar Kompleks Islam dan Jalan Al-Bi’ah, masih di wilayah pusat Khan Younis.

Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan dua kematian tentaranya dalam insiden terpisah di Jalur Gaza. Dalam pernyataan resmi pada Jumat, IDF mengumumkan bahwa Sersan Asaf Zamir (19) dari Dimona, yang bertugas di Batalyon Lapis Baja ke-53 Brigade ke-188, tewas dalam pertempuran di Gaza bagian selatan. Dua prajurit lain dari batalion yang sama mengalami luka serius akibat hantaman rudal anti-tank terhadap kendaraan mereka di wilayah Khan Younis.

Selain itu, IDF juga menyampaikan bahwa Sersan Yair Eliyahou (19) dari komunitas Ezer, seorang tentara teknik tempur di Brigade Utara Divisi Gaza, gugur dalam kecelakaan operasional yang terjadi saat pertempuran di Jalur Gaza bagian utara. (Bahry)

Sumber: TOI

Inggris Pulihkan Hubungan Diplomatik dengan Suriah, Janjikan Bantuan Rp2,1 Triliun

DAMASKUS (jurnalislam.com)— Pemerintah Inggris resmi mengumumkan pemulihan hubungan diplomatik dengan Suriah setelah lebih dari satu dekade hubungan membeku akibat perang yang melanda negara tersebut. Pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, ke Damaskus, Sabtu (5/7/2025).

Dalam kunjungan bersejarah tersebut yang menjadi kunjungan pertama oleh seorang menteri luar negeri Inggris dalam 14 tahun terakhir Lammy mengumumkan komitmen bantuan senilai 94,5 juta pound sterling atau setara Rp2,1 triliun untuk mendukung pemulihan Suriah.

“Ada harapan baru bagi rakyat Suriah,” ujar Lammy dalam pernyataan resminya.

“Adalah kepentingan kami untuk mendukung pemerintah baru dalam memenuhi komitmen mereka membangun masa depan yang stabil, lebih aman, dan sejahtera bagi seluruh warga Suriah.” Imbuhnya.

Paket bantuan tersebut akan difokuskan untuk bantuan kemanusiaan mendesak serta pengembangan jangka panjang di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Inggris menilai bahwa stabilitas Suriah akan berdampak langsung pada pengurangan migrasi tidak teratur, penghancuran senjata kimia, dan penanganan ancaman terorisme global.

Dalam kunjungannya, Lammy juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Hassan al-Shaibani serta Presiden Ahmed al-Sharaa. Dalam pertemuan tersebut, Lammy menegaskan pentingnya proses transisi politik yang inklusif dan representatif di Suriah serta menyampaikan dukungan berkelanjutan dari Inggris.

Langkah ini menyusul keputusan Amerika Serikat beberapa hari sebelumnya, di mana Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengakhiri program sanksi terhadap Suriah, sekaligus membuka kembali akses negara itu ke sistem keuangan internasional.

Sebagai bagian dari normalisasi, Inggris juga telah melonggarkan sanksinya terhadap Suriah sejak April lalu, termasuk mencairkan aset Bank Sentral Suriah dan 23 entitas lainnya seperti bank dan perusahaan minyak, guna mendorong arus investasi asing. Namun, Inggris tetap mempertahankan sanksi yang ditujukan kepada anggota rezim sebelumnya. (Bahry).

Sumber: Alarabiya

Mencari Roti di Tengah Peluru, Kisah Abu Laban di Bawah Blokade Zionis

GAZA (jurnalislam.com)- Di tengah reruntuhan Gaza yang porak-poranda dan malam yang menggigit sunyi, seorang ayah Palestina mengambil keputusan yang mungkin menjadi penentu antara hidup dan mati. Majid Abu Laban, seorang pria yang telah kehilangan lebih dari sekadar rasa aman, memeluk tekad yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang kelaparan.

“Saya terpaksa pergi ke pusat distribusi bantuan hanya karena anak-anak saya tidak makan selama tiga hari berturut-turut,” katanya lirih, suaranya serak saat berbicara kepada Al Jazeera pada Sabtu (5/7/2025).

Di rumah yang tak lagi memiliki dinding lengkap, Abu Laban dan istrinya telah mencoba segala cara untuk menenangkan perut kosong anak-anak mereka. Mereka menyusun kebohongan kecil yang menyakitkan demi menahan tangis, menipu waktu dengan harapan.

“Kami mencoba menipu anak-anak kami dengan segala cara, tetapi mereka kelaparan,” ungkapnya, mengisahkan kepedihan yang bahkan kata-kata pun sulit menampung.

Akhirnya, saat malam merayap dan Gaza terbungkus dalam kesenyapan penuh kecemasan, Abu Laban mengambil keputusan besar. “Jadi saya memutuskan untuk mempertaruhkan nyawa saya dan menuju [titik distribusi bantuan] di Netzarim,” katanya, menyebut nama koridor militer yang dibentuk oleh Israel di selatan Kota Gaza tempat di mana bantuan dan bahaya bertemu dalam garis yang kabur.

Ia berjalan dalam gelap, membawa harapan kecil dalam dada yang perih. Hanya ingin membawa pulang sebungkus makanan, hanya ingin melihat anak-anaknya makan dan tertidur tanpa rengekan lapar.

“Saya menempuh jalan pada tengah malam dengan harapan mendapatkan makanan. Saat orang banyak berbondong-bondong masuk, pasukan Israel menembakkan peluru artileri ke arah kami. Dalam kekacauan itu, semua orang hanya berusaha bertahan hidup.”

Di antara teriakan dan debu, tubuh Abu Laban terhempas. Ia terluka, tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang lebih mengiris adalah kenyataan bahwa untuk mendapatkan sepotong roti, rakyat Gaza harus menukar nyawa.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat pada Sabtu (5/7), sedikitnya 743 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.891 lainnya terluka saat mencari bantuan di lokasi distribusi Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kementerian Kesehatan Gaza: 743 Warga Tewas Saat Cari Bantuan, GHF Dikecam

GAZA (jurnalislam.com)- Lebih dari 700 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencoba mendapatkan bantuan makanan di Jalur Gaza dalam beberapa pekan terakhir. Angka tersebut diungkap Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu (5/7/2025), dan memicu gelombang kecaman internasional terhadap operasi distribusi bantuan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Kesehatan menyebut sedikitnya 743 warga Palestina meninggal dunia dan 4.891 lainnya luka-luka saat mengantre di titik distribusi bantuan milik GHF. Organisasi ini mulai beroperasi di wilayah Gaza yang terkepung pada akhir Mei 2025.

“Ini adalah tragedi besar dan jumlah korban tersebut masih merupakan angka konservatif dari kenyataan di lapangan,” ujar Hani Mahmoud, koresponden Al Jazeera di Kota Gaza.

Mahmoud melaporkan bahwa warga Palestina menghadapi situasi putus asa di tengah blokade Israel yang telah melumpuhkan pasokan makanan, air, dan bantuan kemanusiaan.

“Orang-orang kelaparan. Banyak keluarga tidak makan selama berhari-hari. Para ibu rela tidak makan demi memberi anak-anak mereka sedikit makanan yang tersisa,” tambahnya.

Sebuah laporan investigasi dari kantor berita The Associated Press (AP) awal pekan ini juga memperkuat tuduhan terhadap GHF. Dalam laporan itu, dua kontraktor asal Amerika Serikat mengungkap bahwa amunisi aktif dan granat kejut telah digunakan untuk menghalau warga sipil Palestina yang berusaha mengakses bantuan.

“Staf bersenjata lengkap tampaknya bertindak sesuka hati di lapangan,” ujar salah satu kontraktor kepada AP.

GHF menanggapi laporan tersebut dengan menyebutnya “salah kategori”, dan menyatakan bahwa mereka memprioritaskan keselamatan di semua lokasi distribusinya.

Meski demikian, GHF diketahui mendapat dukungan penuh dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pada Rabu (2/7), juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut GHF sebagai “satu-satunya entitas yang mengirimkan makanan dan bantuan ke Jalur Gaza”.

Pemerintah AS juga telah menjanjikan dana sebesar 30 juta dolar AS (sekitar Rp489 miliar) untuk mendukung operasi GHF. Pada Sabtu (5/7), GHF melaporkan bahwa dua staf asal Amerika terluka akibat lemparan granat di lokasi distribusi mereka di Khan Younis, Gaza selatan. Keduanya dikabarkan dalam kondisi stabil setelah menerima perawatan medis.

Namun, belum ada informasi jelas mengenai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Sejumlah organisasi kemanusiaan dan HAM internasional menuntut penutupan segera operasi GHF, yang dinilai telah menciptakan zona militer berbahaya bagi dua juta warga Gaza yang sedang menghadapi krisis pangan akut.

Amnesty International menyebut skema bantuan GHF sebagai “operasi militer yang tidak manusiawi dan mematikan”.

“Bukti-bukti dari korban dan saksi mata yang dihimpun Amnesty menunjukkan bahwa GHF hanyalah instrumen lain dalam genosida Israel terhadap rakyat Palestina, yang dikemas seolah-olah sebagai misi kemanusiaan,” demikian pernyataan resmi Amnesty.

Meskipun menghadapi risiko tinggi, sebagian besar warga Gaza mengaku tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup. Blokade yang diberlakukan Israel telah membuat warga sangat tergantung pada bantuan, termasuk dari GHF yang kini menjadi kontroversial. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Polisi Tangkap Puluhan Demonstran Pendukung Palestine Action di London

LONDON (jurnalislam.com)— Kepolisian Metropolitan London menangkap lebih dari 20 orang pengunjuk rasa yang diduga melanggar Undang-Undang Terorisme 2000, usai menyatakan dukungan terhadap kelompok aktivis Palestine Action yang resmi dilarang oleh pemerintah Inggris sejak Jumat tengah malam (4/7/2025).

“Petugas telah menangkap lebih dari 20 orang atas dugaan pelanggaran berdasarkan Undang-Undang Terorisme tahun 2000. Mereka telah ditahan. Palestine Action adalah kelompok terlarang dan petugas akan bertindak jika terjadi pelanggaran pidana,” demikian pernyataan resmi Kepolisian Metropolitan melalui akun X pada Sabtu (5/7).

Dalam siaran pers terpisah, kelompok kampanye Defend Our Juries menyebut sebanyak 27 orang telah ditangkap, termasuk seorang pendeta dan sejumlah tenaga medis profesional. Mereka ditangkap karena memegang plakat bertuliskan: “Saya menentang genosida. Saya mendukung Palestine Action.”

Penangkapan tersebut memicu reaksi keras dari pejalan kaki dan pendukung yang berada di lokasi aksi. Sejumlah massa meneriakkan slogan seperti, “Polisi, kalian adalah boneka negara Zionis” dan “Biarkan mereka sendiri.” Sementara lainnya berteriak, “Siapa yang kalian lindungi? Siapa yang kalian layani?” serta “Polisi Inggris, menjauhlah dari jalan-jalan kami.”

Dalam insiden tersebut juga terdengar yel-yel pro-Palestina seperti, “Dari sungai ke laut, Palestina akan bebas.”

Kepolisian sebelumnya telah mengeluarkan peringatan bahwa menyatakan dukungan terhadap Palestine Action, termasuk meneriakkan yel-yel, mengenakan atribut, atau memajang simbol-simbol kelompok tersebut, akan dianggap sebagai pelanggaran hukum.

Seorang juru bicara dari Defend Our Juries menyampaikan kritik tajam terhadap langkah aparat.

“Kami memuji polisi Kontra Terorisme atas tindakan tegas mereka dalam melindungi warga London dari beberapa tanda kardus yang menentang genosida di Gaza dan menyatakan dukungan bagi mereka yang mengambil tindakan untuk mencegahnya,” sindirnya.

Palestine Action sendiri telah mengutuk keputusan pelarangan ini sebagai bentuk serangan terhadap kebebasan berbicara.

Larangan tersebut menjadikan keanggotaan atau dukungan terhadap kelompok ini sebagai tindakan kriminal, dengan ancaman hukuman penjara hingga 14 tahun.

Sebelumnya, empat aktivis Palestine Action telah ditahan pada Kamis (3/7) setelah menghadiri persidangan terkait aksi mereka yang menyemprot dua pesawat di sebuah pangkalan dengan cat merah. Aksi tersebut menyebabkan kerugian senilai 7 juta poundsterling atau sekitar 9,55 juta dolar AS.

Penetapan Palestine Action sebagai organisasi terlarang dilakukan oleh Pemerintah Inggris berdasarkan Undang-Undang Terorisme 2000 (Terrorism Act 2000). Keputusan pelarangan ini disahkan dan mulai berlaku secara resmi pada Jumat tengah malam, 4 Juli 2025. Dengan pemberlakuan aturan ini, segala bentuk keanggotaan, dukungan, atau promosi terhadap kelompok tersebut baik secara verbal, simbolik, maupun dalam bentuk aksi dianggap sebagai tindak pidana serius dengan ancaman hukuman maksimal hingga 14 tahun penjara. (Bahry)

Sumber: Al jazeera