GAZA (jurnalislam.com)- Israel dilaporkan telah mengeluarkan “peringatan terakhir” kepada Hamas, menuntut agar kelompok pejuang Palestina itu melucuti seluruh persenjataannya dalam waktu dua bulan, seiring kesepakatan gencatan senjata memasuki fase kedua.
Saluran televisi Israel Channel 12, mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa Tel Aviv telah menyampaikan ultimatum tersebut kepada Hamas di Jalur Gaza.
Fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 yang dimediasi Amerika Serikat mengatur bahwa Hamas dan kelompok perlawanan bersenjata lainnya di Gaza harus melakukan demiliterisasi penuh.
Namun di sisi lain, Israel juga diwajibkan untuk menarik seluruh pasukannya dari Gaza. Ketentuan ini memicu kekhawatiran luas bahwa Tel Aviv tidak akan mematuhinya, mengingat hingga kini militer Israel masih menduduki lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza.
Bahkan sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, tembakan dan serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 460 warga Palestina.
𝗨𝗹𝘁𝗶𝗺𝗮𝘁𝘂𝗺 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗕𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴-𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝘃𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗠𝗶𝗹𝗶𝘁𝗲𝗿
Menurut Channel 12, fase kedua perjanjian juga mencakup pembentukan Dewan Perdamaian yang dipimpin asing, yang melibatkan Presiden AS Donald Trump dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Dewan ini akan mengawasi pengelolaan Gaza pascaperang, bersama pemerintahan transisi Palestina yang dijalankan oleh para teknokrat—yang baru-baru ini diumumkan.
Selain itu, fase ini juga mencakup rencana pengerahan pasukan keamanan internasional di Gaza.
“Sejak Dewan Perdamaian dan pemerintahan teknokrat dibentuk, Hamas akan diberi waktu dua bulan untuk melakukan demiliterisasi Jalur Gaza,” ujar sumber yang dikutip Channel 12 pada Sabtu (17/01/2026).
Saluran tersebut menambahkan bahwa jika Hamas menolak melucuti senjata, militer Israel akan melakukan intervensi langsung. Langkah ini diklaim telah disepakati antara Israel dan Presiden AS Donald Trump, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintahan Trump.
Seorang sumber keamanan Israel mengatakan bahwa militer telah menyiapkan rencana operasi jika Hamas tidak mematuhi ultimatum tersebut.
𝗔𝗦–𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗗𝗲𝘀𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮, 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗿𝗮𝗻𝗰𝗮𝗺 𝗚𝗮𝗴𝗮𝗹
Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat, telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka siap menggunakan kekuatan untuk melucuti senjata kelompok perlawanan Palestina jika Hamas menolak menyerah.
Namun laporan menyebutkan bahwa Washington kini semakin frustrasi terhadap Tel Aviv, yang dituding menunda dimulainya fase kedua perjanjian. Israel mensyaratkan penyerahan jenazah tawanan terakhirnya di Gaza dan pelucutan senjata Hamas sebagai prasyarat untuk melanjutkan kesepakatan.
Dalam fase pertama perjanjian, seluruh tawanan Israel kecuali satu jenazah terakhir telah dipulangkan, sementara sekitar 2.000 warga Palestina dibebaskan dari penjara Israel.
Hamas menyatakan masih mencari jenazah tawanan terakhir tersebut di bawah reruntuhan Gaza, dan menyalahkan Israel atas kehancuran masif serta serangan yang terus berlanjut meski gencatan senjata diberlakukan.
𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗕𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗧𝗲𝗿𝗸𝗮𝗹𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻, 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗶𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀 𝗞𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗚𝗮𝘇𝗮
Menurut penilaian lembaga keamanan Israel yang dikutip Channel 12, Hamas memang mengalami kerugian besar selama agresi militer, namun belum tereliminasi.
“Gerakan ini masih mempertahankan kendali kuat di beberapa wilayah Jalur Gaza, tetap menjalankan operasi di lapangan, dan terus mempersenjatai diri serta meningkatkan kemampuannya terutama di daerah yang masih mereka kuasai secara efektif,” tulis laporan tersebut.
Sumber politik dan keamanan Israel menegaskan bahwa pelucutan senjata Hamas bukan sekadar tujuan simbolis, melainkan syarat mutlak bagi setiap kemajuan politik atau sipil di Gaza.
Israel juga bersikeras bahwa mereka akan mengendalikan sepenuhnya definisi pelucutan senjata mulai dari kriteria, mekanisme verifikasi, hingga penentuan apakah Hamas benar-benar telah dilucuti.
“Israel tidak akan menerima pelucutan senjata sebagian atau langkah simbolis. Tidak akan ada penarikan pasukan dari Garis Kuning selama Hamas masih memiliki kemampuan militer,” ujar sumber tersebut.
𝗣𝗲𝗻𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗹𝘂𝗮𝘀, 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻
Garis Kuning merupakan batas penempatan ulang sementara yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata. Namun militer Israel dilaporkan telah memperluas garis tersebut ke dalam wilayah Gaza, mengambil lebih banyak area di bawah kendalinya.
Sejak gencatan senjata, tentara Israel telah menghancurkan ribuan bangunan, melenyapkan lingkungan-lingkungan permukiman secara menyeluruh.
Di tengah situasi ini, sejumlah pejabat Israel secara terbuka menyerukan aneksasi penuh Jalur Gaza serta pengusiran sekitar dua juta warga Palestina dari wilayah tersebut. (Bahry)
Sumber: TNA