Hari ke-83 Operasi Badai Al Aqsa, Abu Ubaidah: Kami Telah Hancurkan Lebih Dari 825 Kendaraan Tempur Zionis Israel

GAZA (jurnalislam.com)- Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al-Qassam, menyampaikan pidato terbaru melalui siaran langsung Al Jazeera Mubasher pada Jum’at (29/12/2023). Dalam pidatonya, Abu Ubaidah menyoroti keberanian dan ketabahan rakyat Gaza selama Pertempuran Thaufan Al-Aqsa yang berlangsung selama 83 hari.

Dalam pernyataannya, Abu Ubaidah menegaskan bahwa rakyat Gaza tidak hanya menahan serangan musuh, tetapi juga berhasil membuat Israel mengalami kekalahan.

“Setelah epik besar yang dibuat oleh Mujahidin dan perlawanan kami, maka mereka melepaskan diri dari pihak musuh dan membuat hidungnya berputar-putar, dan musuh sebenarnya masih berada di lumpur Gaza yang luas, tidak bisa masuk dan malah kalah”, katanya.

Pidato tersebut juga mencerminkan penolakan rakyat Gaza terhadap upaya penyimpangan sejarah oleh rezim Zionis dan komunitas internasional.

“Para penyihir gelap, pembunuh, yang ingin memanipulasi ingatan dunia bahwa sejarah dimulai pada tanggal 7 Oktober saja, mengabaikan pembunuhan perlahan dan diam-diam terhadap rakyat kami selama bertahun-tahun, mengabaikan Yudaisasi, penyerobotan tanah, penodaan Al-Aqsa, pengepungan Gaza, kekerasan terhadap para tahanan, dan pengusiran rakyat kami dengan segala cara, lalu mereka ramai-ramai menangisi Zionis ketika kami memberikan pukulan terbesar abad ini kepada tentara mereka.” terang Abu Ubaidah.

Brigade Al-Qassam menegaskan prioritas utama mereka, yaitu melindungi warga sipil yang tidak bersalah,

“Tidak ada kesepakatan pertukaran tawanan apapun sampai agresi terhadap rakyat kami berhenti sepenuhnya!” tegasnya.

Abu Ubaidah juga memberikan gambaran tentang serangan terhadap kendaraan tempur musuh,

“Jumlah kendaraan tempur musuh yang menjadi sasaran mujahidin kami sejak awal agresi mencapai lebih dari 825 kendaraan, termasuk pengangkut pasukan, tank, truk, kendaraan, dan buldoser.” ungkapnya.

“Kami juga menargetkan 3 helikopter musuh selama dua hari terakhir.” imbuhnya.

Dalam penutup pidatonya, Abu Ubaidah menegaskan bahwa keberanian dan perjuangan rakyat Gaza akan terus menjadi tonggak sejarah perlawanan terhadap penjajahan, dan bahwa operasi Badai Al-Aqsa telah menciptakan peti mati bagi penjajah kriminal Israel. Pidato ini mencerminkan semangat perlawanan, harapan, dan tekad untuk membebaskan Al-Aqsa di masa depan.

Sumber: Al Jazeera Mubasher

Reporter: Samsul

Al-Qassam perkenalkan roket buatan Rusia untuk Menghadapi Israel

PALESTINA (jurnalislam.com)- Pertama kalinya, Brigade al-Qassam Hamas mengumumkan peluncuran roket baru, yang mulai digunakan di Gaza baru-baru ini untuk menghadapi serangan pasukan Israel.

Roket RPO-A, peluru anti-benteng buatan Rusia yang dikenal sebagai Shmel, digunakan untuk pertama kalinya ketika menargetkan unit pasukan khusus Israel yang ditempatkan di sebuah rumah di Jalan Tua Gaza di Jabalia, jelas Al Qassam.

Serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa di kalangan tentara penjajah, baik tewas maupun terluka.

Peluncur roket itu memiliki jangkauan maksimum 950 meter, dengan jangkauan efektif 300 meter.

Dalam pernyataan terpisah, al Qassam mengumumkan menargetkan dua helikopter Israel dengan peluru kendali darat-ke-udara SA-18, satu di daerah Saftawi di utara Kota Gaza dan satu lagi di timur kamp pengungsi Jabalia.

Lebih lanjut, Al Qassam mengatakan para pejuangnya terlibat dengan pasukan Israel di Saftawi selama enam jam berturut-turut tadi malam (27/12). Konfrontasi menyebabkan Perlawanan menggunakan bahan peledak anti-tank Shawaz dan peluru al-Yassin 105, selain peluru anti-benteng TGB.

Pertempuran sengit memaksa tentara penjajah memanggil helikopter untuk melindungi mundurnya pasukan mereka.

Selain itu, Al Qassam merilis rekaman yang mendokumentasikan penargetan tentara Israel dan penghancuran kendaraan mereka di lingkungan al-Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza.

Di Khan Younis, Brigade mengumumkan menargetkan tank dan pengangkut personel lapis baja APC, sementara juga menembaki seorang tentara Israel.

Pertempuran dengan militer Israel di timur al-Bureij di Gaza tengah dihujani dengan mortir kaliber berat, kata al-Qassam, seraya menambahkan bahwa para pejuangnya terlibat dalam konfrontasi sengit di daerah tersebut, serta di kota al-Maghazi.

Di pihak lain, Brigade al-Quds, sayap militer Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), merilis rekaman yang memperlihatkan drone Israel Sky Racing yang ditembak jatuh oleh pejuangnya di Kota Gaza.

Brigade juga mengumumkan menyerang tiga kendaraan militer Israel dengan peluru Tandem dan RPG di al-Tuffah dan Sheikh Radwan di Kota Gaza.

Sementara itu, Brigade Abu Ali Mustafa, sayap militer Front Populer dalam Pembebasan Palestina, mengatakan para pejuangnya menargetkan tank Israel dengan peluru RPG di poros Sheikh Radwan di utara Jalur Gaza.

Selain itu, Brigade Mujahidin, sayap militer Gerakan Mujahidin, mengonfirmasi adanya konfrontasi dengan pasukan Israel yang masuk di Kota Gaza.

Kemarin, tentara pendudukan menyatakan bahwa jumlah perwira dan tentara Israel yang terbunuh di Gaza sejak dimulainya invasi telah mencapai 164 orang, sehingga total korban tewas personel militer menjadi 489 orang sejak 7 Oktober.

Sumber : almaydeen

Reporter: Samsul

Tawanan Israel : Yang ada hanya pemukulan dan pemukulan

PALESTINA (jurnalislam.com)- Warga Palestina yang ditahan oleh tentara Israel di Jalur Gaza menderita banyak penyiksaan, kata dua tahanan yang dibebaskan dan seorang petugas medis pada hari Minggu(24/12), tuduhan ini dibantah oleh militer Israel.

Kedua pria tersebut termasuk di antara ratusan orang yang ditahan oleh pasukan Israel karena diduga memiliki hubungan dengan pejuang Hamas, mereka ditangkap saat serangan darat Israel berlangsung di wilayah kekuasaan Hamas yang terkepung.

Sekitar 20 pria yang dibebaskan dari tahanan Israel “memiliki luka memar dan bekas pukulan di tubuh mereka,” kata Marwan al-Hams, direktur rumah sakit di kota Rafah di selatan, kepada AFP.

Hams mengatakan warga Palestina yang dibebaskan dirawat di rumah sakit Al-Najjar setelah mereka dibebaskan.

Tentara Israel menolak klaim tersebut, dengan mengatakan bahwa para tahanan “diperlakukan sesuai dengan hukum internasional.”

“Saat ditahan, para tersangka diberi makanan dan air yang cukup serta diperlakukan sesuai protokol,” kata tentara kepada AFP dalam sebuah pernyataan.

Nayef Ali, 22, mengatakan dia ditahan di pinggiran timur Kota Gaza Zaitun dan kemudian dibawa ke fasilitas penahanan Israel, dan menunjukkan luka di pergelangan tangannya dan bagian lain dari tubuhnya.

“Mereka (pasukan Israel) mengikat tangan kami di belakang punggung selama dua hari,” katanya.

“Kami tidak diperbolehkan makan atau minum, kami juga tidak diperbolehkan menggunakan toilet,” tambahnya.

“Yang ada hanya pemukulan dan pemukulan.”

Ali mengatakan para tahanan ditempatkan di daerah sepanjang perbatasan Israel ditengah udara yang “sangat dingin”.

“Mereka menyiram kami dengan air dingin sebelum memindahkan kami ke penjara, dan di sana kami kembali disiksa dan dipukuli.”

Khamis al-Bardini, 55, juga menuduh adanya penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Israel, dengan mengatakan bahwa mereka menuangkan “air dingin ke kepala kami sepanjang malam” dan “pemukulan di siang hari.”

Dalam beberapa minggu terakhir, tentara Israel menghadapi kecaman internasional setelah rekaman video para tahanan yang ditelanjangi dengan mata tertutup serta tangan terikat ke belakang menjadi viral.

Sumber : english.alarabiya

Reporter: Samsul

Tawanan : Pejuang Hamas melindungi kami dengan tubuh mereka saat Israel Menyerang

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Seorang warga Israel mantan tawanan Hamas di Gaza mengungkapkan cerita mengerikan dari serangan udara militer Israel di lokasi di mana dia dan tawanan lainnya ditahan di Jalur Gaza.

Almog Goldstein (48 tahun) berbicara dalam sebuah wawancara dengan Channel 12 Israel, mengungkapkan bahwa para pejuang dari Brigade Qassam, sayap militer Hamas, melindungi tawanan dengan menjadikan tubuh mereka sebagai tameng.

Pada suatu malam di Gaza saat disandera, sekelompok tawanan Hamas dibawa ke supermarket di lokasi yang tidak diketahui. Goldstein menceritakan, “Kami sedang berada di supermarket untuk beristirahat, dan tiba-tiba terjadi pemboman [Israel] di jalan [tempat supermarket itu berada. Tembakan itu seperti suara buldoser yang mendekat, itu sungguh gila.”

“Saat pemboman terjadi, kami segera melipat kasur yang kami tempati, pejuang Hamas yang menjaga kami segera berdiri dan melindungi kami dengan tubuh mereka.” lanjutnya.

Ketika ditanya oleh jurnalis Israel, pejuang Hamas melindungi mereka dari apa, Goldstein menjawab, “Dari tembakan yang datang dari tentara Israel karena kami sangat penting bagi mereka.”

“Suatu hari kami bertanya kepada mereka tentang hal ini, dan mereka mengatakan kepada kami, ‘Kami akan mati sebelum kamu mati. Kami akan mati bersama (…) Jika hal itu terjadi, kami akan mati bersama, karena itu kami akan selalu dekat denganmu, kami bersamamu,” tambahnya.

Goldstein, bersama putrinya Agam (17 tahun), dan kedua putranya Gal (11 tahun) dan Tal (9 tahun), dibebaskan oleh Hamas tiga minggu lalu sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan selama jeda kemanusiaan di Israel. Gaza.

Dia mengungkapkan bahwa dia dan anak-anaknya ditahan bersama warga Israel lainnya di sebuah apartemen selama lima minggu, ia khawatir akan ditahan selama bertahun-tahun. Goldstein menceritakan bahwa mereka menamai putrinya “Salsabeel” dan menggambarkannya sebagai nama yang indah.

Channel 12 mencatat, “Hamas menampung keluarga beranggotakan empat orang, menyadari bahwa mereka memiliki nilai tawar yang sangat berharga dan mengintruksikan agar menjaga Goldstein dan anak-anaknya tetap hidup, apa pun risikonya.”

Mengenai pembunuhan tiga tawanan Israel di Gaza oleh tentara Israel baru-baru ini, Agam menyatakan, “Netanyahu ingin menjatuhkan Hamas. Tetapi jika kamu membunuh para penjaga yang bersamaku, di mana keberadaanku, dan ke mana aku akan pergi? Di sini, kami mendapat jawaban tentang ke mana orang (tawanan) akan pergi tanpa orang yang menawan; mereka dibunuh oleh pasukan kami (Israel).”

Sumber : qudsnen

Reporter: Samsul

Israel Bombardir Pengungsian dengan Bom Seberat Satu Ton

PALESTINA (jurnalislam.com)- Selama enam minggu pertama perang di Gaza, Israel terus menerus menggunakan salah satu bom terbesar dan paling merusak yang dipasok oleh AS di wilayah yang dianggap sebagai zona aman bagi warga sipil, menurut analisis bukti visual yang dilakukan oleh The New York Times yang dipublikasikan pada Jum’at (22/12).

Laporan tersebut menunjukkan pemboman Israel menggunakan bom berbobot sekitar satu ton di wilayah selatan Gaza, di tempat warga sipil mengungsi untuk menyelamatkan diri.

Banyak tentara Barat menggunakan bom sebesar ini, namun para ahli amunisi menegaskan bahwa pasukan AS tidak lagi menjatuhkannya di daerah padat penduduk, menurut kutipan surat kabar tersebut.

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa mereka memprogram dengan alat kecerdasan buatan untuk memindai citra satelit di Gaza selatan untuk mencari kawah yang dihasilkan dari bom jenis ini. Para reporternya secara visual meninjau hasil pencarian secara langsung, mencari kawah setinggi 13 meter atau lebih.

Menurut para ahli amunisi, hanya bom seberat satu ton yang dapat menciptakan kawah sebesar ini di tanah berpasir dan ringan di Gaza.

Investigasi mengidentifikasi 208 kawah dalam citra satelit dan rekaman drone. Karena terbatasnya citra satelit dan perbedaan efek bom, banyak kejadian yang mungkin tidak terekam. Namun, temuan tersebut mengungkapkan bahwa bom seberat satu ton tersebut menimbulkan ancaman luas bagi warga sipil yang mencari tempat aman di Gaza selatan.

Surat kabar tersebut mengutip pernyataan juru bicara militer Israel, yang mengklaim bahwa prioritas Israel adalah menghancurkan Hamas dan “pertanyaan semacam ini akan dibahas pada tahap selanjutnya,” seraya menambahkan bahwa tentara Israel “mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi kerugian sipil.”

Para pejabat AS mengatakan Israel harus berusaha untuk meminimalisir jumlah warga sipil yang tewas dalam perang melawan Hamas.

Pentagon telah meningkatkan pengiriman senjatanya ke Israel, termasuk bom yang lebih kecil yang dianggap lebih cocok untuk digunakan di lingkungan padat penduduk dan perkotaan seperti Jalur Gaza. Meskipun demikian, sejak Oktober, AS telah memasok lebih dari 5.000 amunisi MK-84 kepada Israel – sejenis bom berbobot satu ton.

Sumber: middleeastmonitor

Reporter: Samsul

Mantan PM Israel : Tidak Mungkin Melenyapkan Hamas

PALESTINA (jurnalislam.com)- Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert berkomentar bahwa tujuan perang di Gaza untuk menghancurkan gerakan Hamas tidak akan tercapai, ia menekankan bahwa janji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam hal ini adalah bentuk keangkuhan dan ia berperang untuk kepentingan pribadinya.

Pernyataan ini dimuat dalam sebuah artikel oleh Olmert di surat kabar Haaretz Israel pada hari Jumat (22/12).

Olmert menulis: “Gaza sedang terpuruk, ribuan warganya menderita dan mempertaruhkan nyawanya, ribuan pejuang Hamas dengan senang hati terbunuh, namun kehancuran Hamas tidak akan tercapai. Kalaupun Yahya Sinwar ditemukan sedang menikmati kehidupan singkatnya dalam persembunyian sampai dia, Mohammed Deif dan rekan-rekan mereka dalam kepemimpinan Hamas disingkirkan, Kalauoun Hamas akan menjadi kekuatan yang melemah, babak belur, dan berdarah-darah. Namun kelompok ini akan terus ada di pinggir Gaza.”

“Tapi ini adalah situasi yang sebenarnya, kita harus bersiap untuk perubahan arah. Saya tahu ini mungkin tidak populer. Dalam suasana hasutan, keberanian dan arogansi yang menjadi ciri perilaku pemerintah dan pemimpinnya, kita tidak boleh segan-segan mengatakan hal-hal yang tidak jelas namun perlu, demi rasa tanggung jawab nasional,” tambahnya.

Olmert juga menyampaikan: “Israel kini menghadapi pilihan antara gencatan senjata sebagai bagian dari kesepakatan yang dapat memulangkan para sandera dengan harapan sebagian besar dari mereka masih hidup, dan gencatan senjata tanpa kesepakatan, tanpa sandera, tidak ada pencapaian yang jelas, dengan hilangnya sisa-sisa dukungan publik internasional terhadap hak Negara Israel untuk hidup tanpa ancaman teror dari organisasi pembunuh.”

Menurut statistik Israel, Hamas menangkap sekitar 239 orang selama serangannya di Israel selatan pada 7 Oktober. Mereka menukar puluhan tahanan tersebut dengan Israel selama gencatan senjata kemanusiaan yang berlangsung tujuh hari hingga 1 Desember, sementara Israel saat ini masih memenjarakan 7.800 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak.

Olmert mencatat: “Penghentian permusuhan ini akan dipaksakan kepada kita oleh sekutu terdekat kita, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Jerman. Mereka tidak akan lagi mampu menanggung akibat yang harus mereka tanggung dalam opini publik mengingat kesenjangan antara tidak adanya resolusi militer dan berlanjutnya pertempuran yang menimbulkan kerugian kemanusiaan, yang akibatnya tidak akan sanggup mereka tanggung.”

Sumber: middleeastmonitor

Reporter: Samsul

Hamas: Israel Membantai Seluruh Keluarga di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Hamas mengumumkan bahwa tentara Israel telah banyak membantai satu keluarga di beberapa daerah di Kota Gaza dan Jalur Gaza utara, dengan dukungan dari Washington.

Hal ini disampaikan pada hari Jum’at (22/12), setelah tentara Israel meningkatkan serangan militernya di Jalur Gaza melalui darat, udara dan laut, sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah kematian dan luka-luka di kalangan warga sipil.

“Beberapa daerah di Kota Gaza dan di Jalur Gaza utara mencatat eksekusi seluruh keluarga oleh tentara penjajah Israel. Kejadian ini terjadi pada keluarga Enaya di Kota Gaza; jenazah anggota keluarganya ditemukan di rumah mereka setelah pembantaian tersebut. Pasca-peristiwa tersebut, penjajah kemudian menarik mundur pasukannya.” lapor Hamas.

“Tercatat juga beberapa kasus eksekusi para pria sipil di depan keluarga mereka, termasuk perempuan dan anak-anak, setelah rumah mereka diserbu, menurut kesaksian keluarga dan penyintas pembantaian tersebut,” tambah Hamas.

Hamas mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), komunitas internasional dan semua lembaga hak asasi manusia dan kemanusiaan untuk bersuara lantang dalam menghadapi arogansi dan kejahatan ini, serta pengabaian Israel terhadap hukum internasional dan kemanusiaan.”

Hamas juga menyerukan Pemerintah Israel dan pendukung internasionalnya, yang dipimpin oleh pemerintahan Presiden AS (Joe) Biden, harus bertanggung jawab atas kejahatan yang mereka lakukan terhadap warga sipil yang tidak bersalah.

Banyak situs berita menyebarkan keterangan saksi mata atas eksekusi pembantaian yang dilakukan oleh tentara Israel di depan mata mereka, selain penangkapan sewenang-wenang terhadap warga sipil yang dibawa ke tujuan yang tidak diketahui.

Tentara Israel meningkatkan serangan militernya terhadap Kota Gaza dan Jalur Gaza bagian utara, sementara Hamas menyatakan: “Terjadi Penangkapan terhadap sejumlah anggota kemanusiaan Bulan sabit Merah oleh Zionis di kamp pengungsi Jabaliya (utara) dan penangkapan terus terjadi terhadap sekitar 100 personel petugas kesehatan, hal ini merupakan kejahatan perang dan merupakan ekspresi fasisme Israel karena tindakan tersebut secara sistematis menghancurkan sektor layanan kesehatan.”

Sejak 7 Oktober, tentara Israel telah melancarkan perang genosida yang menghancurkan Gaza, yang hingga Jumat pagi (22/12), telah menyebabkan 20.057 orang syahid dan 53.320 orang terluka , sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Perang tersebut juga telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur dan menyebabkan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut sumber di Jalur Gaza dan PBB.

Sumber: middleeastmonitor

Reporter: Samsul

PBB Peringatkan Gaza Akan Dilanda Bencana Kelaparan

GAZA (jurnalislam.com)- Laporan PBB menemukan bahwa seluruh penduduk Gaza menghadapi kekurangan pangan akut, dan wilayah yang terkepung itu berisiko terjadi bencana kelaparan jika serangan Israel terus berlanjut hingga bulan Februari.

Persentase keluarga di Gaza yang mengalami kerawanan pangan terparah adalah yang tertinggi yang pernah tercatat di seluruh dunia, melampaui Afghanistan dan Sudan. Hal ini berdasarkan angka dalam laporan yang diterbitkan pada hari Kamis (21/12) oleh Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC).

Badan pemantau kelaparan PBB mengatakan hampir semua rumah tangga di Jalur Gaza tidak makan setiap hari, dengan perbandingan empat dari lima rumah tangga di wilayah utara dan sebanyak setengah rumah tangga yang mengungsi di Jalur Gaza tidak makan sepanjang hari.

IPC memiliki metrik lima tahap untuk menilai krisis pangan. Antara tanggal 24 November dan 7 Desember, 90 persen penduduk Gaza diperkirakan menghadapi kerawanan pangan akut tingkat tinggi, yang diklasifikasikan pada tingkat “krisis atau bahkan lebih buruk”, dari Fase 3, yang artinya sebagai “malnutrisi akut di atas biasanya”.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa jika serangan Israel terus berlanjut, “seluruh penduduk di Jalur Gaza [sekitar 2,2 juta orang] akan berada pada tingkat kelaparan yang ‘krisis atau lebih buruk’ pada tanggal 7 Februari”. Dari periode 7 Desember hingga 7 Februari, laporan tersebut memproyeksikan bahwa 53 persen warga Palestina di Gaza akan mencapai fase kelaparan “darurat”, yang didefinisikan sebagai “kekurangan gizi akut yang sangat tinggi dan angka kematian yang sangat tinggi”.

Setidaknya satu dari empat rumah tangga (26 persen) diperkirakan berada dalam “bencana kelaparan”, tahap paling parah yang indikasinya adalah kelaparan dan kematian.

Hal ini akan menjadikan warga Palestina sebagai “populasi tertinggi yang menghadapi kerawanan pangan akut tingkat tinggi yang pernah dicatatkan oleh IPC di sebuah negara tertentu”, kata laporan itu.

Di tengah serangan Israel yang tiada henti di wilayah yang terkepung, yang dimulai pada tanggal 7 Oktober, Gaza kini berada di puncak daftar negara-negara yang menderita kerawanan pangan akut menurut IPC.

Bantuan yang tidak memadai

Laporan ini muncul ketika voting mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB untuk meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza diperkirakan akan terhenti pada hari Jum’at (22/12).

Pemungutan suara telah berulang kali ditunda karena Amerika Serikat ingin melemahkan isi rancangan resolusi yang mendesak untuk menghentikan peperangan yang berlarut-larut.

Laporan IPC menemukan bahwa jumlah bantuan yang telah mencapai Jalur Gaza sejak Israel menerapkan “blokade total” terhadap Gaza pada tanggal 9 Oktober sangat tidak mencukupi.

Sebelum serangan Israel terhadap wilayah yang terkepung, 1,2 juta dari 2,2 juta penduduk Gaza diperkirakan menghadapi kerawanan pangan akut, dan 80 persennya hidup dari bantuan kemanusiaan.

Perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir, yang sebelumnya menjadi satu-satunya pintu gerbang masuk dan keluar jalur tidak dikendalikan oleh Israel, sekarang mengalami pembatasan ketat dan mendapatkan beberapa serangan udara Israel sejak 7 Oktober, sehingga menyebabkan kemacetan truk bantuan di perbatasan.

Sejak tanggal 21 Oktober, bantuan kemanusiaan diperbolehkan masuk namun dalam jumlah terbatas melalui penyeberangan yang tersebut.

Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, OCHA, hanya 100 truk yang melintasi Rafah ke Gaza setiap hari, setengah dari jumlah yang direkomendasikan oleh PBB.

Sumber: middleeasteye

Reporter: Samsul

Datangi FKUB, Ormas Islam Semarang Imbau Umat Kristen Untuk Tidak Ajak Muslim Ikuti Perayaan Natal

SEMARANG (jurnalislam.com)- Perwakilan Ormas-ormas Islam mendatangi kantor FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), yang beralamat Jl Taman Teuku Umat no 2 Semarang, pada Jum’at (22/12/2023)

Agenda tersebut dalam rangka audiensi menyampaikan himbauan agar tidak ada ajakan kepada umat Islam dalam perayaan natal bersama.

“Kami mewakili umat islam di Semarang, menghimbau agar tidak ada lagi ajakan umat nasrani kepada umat Islam untuk ke gereja atau mengikuti ibadah keagamaan,” ucap Agus Triyanto, ketua Mualaf Center Semarang Peduli.

“Hal tersebut bisa menyebabkan konflik antar umat beragama, kita harus menjaga toleransi dengan tidak mengajak atau mengganggu perayaan ibadah yang berbeda Agama,” tambahnya.

Hadir dalam audiensi tersebut Pendeta Sedyoko perwakilan Agama Kristen menyampaikan akan mengecek kembali gereja yang telah melakukan ajakan kepada kaum Muslimin agar tidak lagi mengajak dalam perayaan umat Nasrani.

“Kami akan mengecek kembali gereja-gereja agar tidak mengajak umat Islam,” katanya

Sedangkan ketua FKUB Semarang, KH. N. Mustam Aji, MM. menyampaikan sosialisasi kepada pengurus-pengurus gereja agar tidak mengajak umat islam dalam acara keagamaan mereka

“Kami di FKUB akan selalu mensosialisasikan kepada para pengurus gereja agar jangan mengajak umat islam dalam acara keagamaannya,” tuturnya.

KH Mustam Aji pun juga mengakui di lapangan masih adanya ditemukan ajakan-ajakan tersebut karena masih banyak yang tidak mengetahui sosialisasi FKUB.

Reporter: Agus Riyanto

Hamas Mengubah Jalanan di Gaza Menjadi Labirin Mematikan Bagi Israel

GAZA (jurnalislam.com)- Korban tewas tentara Israel di Gaza sudah hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan serangan darat pada tahun 2014. Hal ini mencerminkan seberapa jauh mereka telah berhasil memasuki wilayah tersebut dan penggunaan taktik gerilya dan perluasan persenjataan yang efektif oleh Hamas.

Pakar militer Israel, seorang komandan Israel dan sumber Hamas menggambarkan bagaimana perkembangan pejuang Palestina dalam menggunakan persediaan senjata dalam jumlah besar, pengetahuan tentang medan dan jaringan terowongan yang luas untuk mengubah jalan-jalan Gaza menjadi labirin yang mematikan.

Mereka mempunyai senjata mulai dari drone yang dilengkapi granat hingga senjata anti-tank dengan muatan peledak ganda yang kuat.

Militer Israel mengatakan pada hari Minggu (17/12), bahwa 121 tentara telah tewas sejak serangan darat dimulai pada 27 Oktober, ketika tank dan infanteri mulai masuk ke kota-kota dan kamp-kamp pengungsi di Gaza.

Bandingkan dengan 66 serangan pada konflik tahun 2014, ketika Israel melancarkan serangan darat dengan skala lebih kecil selama tiga minggu namun tujuannya bukan untuk melenyapkan Hamas.

“Tidak bisa dibandingkan cakupan perang saat ini dengan tahun 2014, ketika itu sebagian besar pasukan kami beroperasi tidak lebih dari satu kilometer di dalam Gaza,” kata Yaacov Amidror, pensiunan mayor jenderal Israel dan mantan penasihat keamanan nasional yang sekarang bekerja di Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika (JINSA).

Dia mengatakan tentara “belum menemukan solusi yang baik untuk pembangunan terowongan tersebut,” sebuah jaringan yang berkembang pesat dalam dekade terakhir.

Sejak perang dimulai, hampir 19.000 orang telah terbunuh di Gaza, sehingga memicu tuntutan internasional untuk melakukan gencatan senjata dan bahkan seruan dari sekutu setia Israel, Amerika Serikat, untuk melakukan perubahan strategi dan serangan yang lebih tepat.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Kamis bahwa Israel akan berperang “sampai meraih kemenangan mutlak”. Para pejabat Israel mengatakan mungkin akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencapainya.

“Ini merupakan tantangan sejak hari pertama,” Ophir Falk, penasihat kebijakan luar negeri Netanyahu, mengatakan kepada Reuters bahwa serangan itu harus dibayar dengan harga yang sangat besar.

“Kami tahu bahwa kami mungkin harus mengeluarkan biaya tinggi untuk menyelesaikan misi ini.”

PERTARUNGAN BERAT

Hamas telah mengunggah video di saluran Telegramnya bulan ini yang menunjukkan para pejuang dengan kamera aksi bergerak melintasi gedung-gedung untuk meluncurkan roket yang digendong ke arah kendaraan lapis baja. Salah satunya, yang diposting pada 7 Desember, berasal dari Shejaiya, sebelah timur Kota Gaza, sebuah wilayah di mana kedua belah pihak melaporkan adanya pertempuran sengit

Dalam postingan lain pada tanggal 5 Desember, sebuah kamera muncul dari sebuah terowongan, seperti periskop, untuk memindai kamp Israel tempat tentara beristirahat. Pos tersebut mengatakan, pihaknya kemudian terkena ledakan bawah tanah.

Seperti dikutip dari laman Reuters, sumber Hamas menyampaikan dari dalam Gaza tanpa menyebut nama, mengatakan para pejuang bergerak sedekat mungkin memanfaatkan wilayah yang mereka ketahui, dan melakukan serangan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, serangan bisa dari dalam atau diluar terowongan.

“Ada perbedaan besar antara kekuatan kami dan kekuatan mereka, kami tidak membodohi diri sendiri,” dia berkata.

Hamas belum mengatakan berapa banyak pejuangnya yang tewas. Militer Israel mengatakan mereka telah menewaskan sedikitnya 7.000 orang. Hamas sebelumnya menolak jumlah yang disebutkan Israel, dan mengatakan bahwa jumlah tersebut termasuk warga sipil.

Seorang komandan Israel, yang bertempur pada tahun 2014, mengatakan luasan cakupan operasi ini berarti semakin banyak pasukan di lapangan, hal ini memberi keuntungan bagi Hamas dalam mempertahankan wilayah dan membalas serangan, sehingga diperkirakan akan ada lebih banyak korban jiwa di pasukan Israel. Dia meminta untuk tidak disebutkan namanya karena dia adalah cadangan aktif dalam perang ini.

Meniru taktik yang digunakan pada tahun 2014, militer Israel telah mengunggah gambar di media sosial yang menunjukkan jalan dihancurkan oleh buldoser di daerah-daerah yang dibangun sehingga pasukan dapat menghindari jalan-jalan yang mungkin ada ranjau darat.

Bahkan di beberapa distrik di Gaza utara banyak bangunan hancur menjadi puing-puing, sedangkan pertempuran sengit masih terus terjadi.

Sumber : reuters

Reporter: Samsul