Ansharusyariah: Reuni 212 Adalah Momen Persatuan Umat untuk Memenangkan Islam

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Abdul Rachim Ba’asyir mengajak umat Islam untuk memanfaatkan Reuni Alumni 212 sebagai momen untuk menyatukan hati kaum muslimin. Menurutnya, Aksi 212 pada tahun 2016 lalu adalah aksi suci yang patut dibanggakan oleh umat Islam Indonesia.

“Jamaah Ansharu Syariah melihat bahwa ini adalah sebuah aksi yang suci, sebuah aksi yang murni dari kaum muslimin, maka Jamaah Ansharusy Syariah mengajak semua pihak agar mengunakan acara 212 sebagai ajang menyatukan kaum muslimin mendekatkan hati hati kaum muslimin,” katanya kepada Jurnalislam.com, Jumat (30/11/2018).

Ustadz Iim, sapaannya, menyampaikan, reuni 212 juga sebagai momen untuk memperjuangkan Islam negeri ini. Ia menilai, Islam dan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia kerap menjadi korban kedzaliman.

“Sudah lama sekali kaum muslimin di negeri ini didzalimi, dituding sebagai pengacau dan selalu dianggap pembawa onar di negara kita, padahal justru negara kita ini ada karena perjuangan kaum muslimin,” paparnya.

“Maka ini adalah sebuah titik pijakan sama untuk berangkat dalam memperjuangkan hak-hak kaum muslimin dan memenangkan Islam dan kaum muslimin serta menghadirkan pemimpin yang adil yang sholeh, dan kemudian bisa membela hak-hak kaum muslimin di negara kita ini. Itu harapan kita,” sambungnya.

Jamaah Ansharusy Syariah sendiri menjadi salah satu elemen umat yang berada di garis depan dalam mengawal Aksi bela Islam (ABI) pertama ABI 3 yang dikenal dengan Aksi 212 dua tahun silam.

“Semoga kehadiran kita dalam kegiatan reuni 212 ini menjadi bagian dari upaya kita menyatukan tetap menjaga kesatuan dan kebersamaan umat Islam dan dalam rangka menyongsong kemenangan dan kedaulatan Islam wal muslimin,” jelas Ustadz Iim.

Bendera dan Krisis Kepemimpinan

Oleh : Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS

JURNALISLAM.COM – Insiden bendera di Garut saat Hari Santri Nasional beberapa waktu mencerminkan sebuah krisis kepemimpinan, tidak saja di tingkat nasional namun juga ditingkat global. Hal ini anehnya justru ditunjukan oleh insiden simbolik berupa pembakaran bendera : penolakan atas kepemimpinan Islam.

Krisis kepemimpinan global ditandai oleh kebangkitan trumpism yang disimbolkan oleh sikap _sak karepe dewe Presiden Donald Trump yang mengantarkan ummat manusia makin terperosok dalam ancaman perang nuklir dan keruntuhan lingkungan hidup. Bahkan Prof. Noam Chomsky dari MIT mengatakan bahwa Partai Republik AS adalah organisasi yang paling berbahaya di atas planet ini karena mengancam keberlangsungan manusia sebagai organized species. Saat ini juga Presiden AS tsb sedang menghadapi ancaman pemakzulan ( impeachment ) secara tidak langsung oleh special counsel Robert Mueller (mantan Ditektur CIA) karena pencurangan yang dibantu Russia dalam Pilpres yang memenangkan dirinya melawan Hillary Clinton.

Krisis kepemimpinan global juga sekaligus ditandai oleh kebangkitan China tidak hanya sebagai raksasa ekonomi tapi juga raksasa militer. Perang dagang antara AS dan China beberapa bulan terakhir telah menimbulkan kelesuan ekonomi dunia yang dampaknya juga terasa di Indonesia. Trump mungkin tidak menyadari bahwa sikapnya yang makin nasionalistik dengan semboyan Making America Great Again telah mengasingkannya dari komunitas dunia, termasuk Eropa sebagai mitra tradisionalnya selama ini.

Di tingkat nasional, kita juga mengalami krisis kepemimpinan. Presiden Jokowi tampak semakin sektarian, bukan negarawan. Banyak kasus yang terjadi dibiarkannya terjadi dengan berlindung dari slogan “saya netral, itu bukan urusan saya”, padahal keberpihakannya penting untuk menghadirkan kepemimpinan nasional yang mengambil tanggungjawab. Saat ini, pemerintah selalu punya kambing hitam untuk hampir semua masalah : radikalisme, intoleranisme, dan trumpisme. Juga sontoloyoisme dan gendruwoisme. Pemerintah makin otoriter. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita makin menjauhi demokrasi secara substantif sementara Pemerintah justru ngotot dengan demokrasi prosedural. Siapapun yang terpilih nanti sebagai presiden akan mengalami krisis legitimasi karena pemilihan umum dilakukan di atas data pemilih yang sulit dipercaya.

Kepemimpinan adalah soal kesanggupan mengambil tanggungjawab. Tidak kurang tidak lebih. Inipun dihadapi oleh ummat Islam Indonesia dan juga dunia. Dunia Islam membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk melahirkan satu kepemimpinan Islam pasca peristiwa 9/11/2001 yang meruntuhkan 2 menara kembar World Trade Centre di New York. Peristiwa ini tentu jauh lebih dahsyat daripada pembakaran bendera di Garut. Kedua peristiwa ini bukan kebetulan, tapi very well organized.

Ummat Islam Indonesia mengalami fragmentasi serius sejak negeri ini diproklamasikan. Ada agenda internasional di balik keterpecahan ummat Islam Indonesia agar tetap mudah ditaklukkan dan dijarah. Fragmentasi ini diperparah oleh UU politik yang makin liberal yang dimungkinkan oleh perubahan mendasar atas UUD45 selama 5 tahun pertama masa reformasi sejak 1998. Organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdhatul Ulama, kini secara terang-terangan partisan memihak Pemerintahan Jokowi, tidak sesuai dengan khittah nya. Sementara itu, Muhammadiyah walaupun secara resmi netral, terpaksa mengambil posisi oposan. Akibatnya, keduanya gagal melambungkan diri sebagai representasi kepemimpinan ummat Islam Indonesia. Di atas lahan kering kepemimpinan Islam nasional ini lahirlah Hizbut Tahrir Indonesia. Adalah HTI yang akibat keterpaksaan sejarah berhasil menarasikan kepemimpinan baru ummat Islam Indonesia. Ini tentu berbahaya sehingga HTI harus dibubarkan. Faktor Ahok menjadi papan lontar persatuan ummat Islam Indonesia dengan Habib Rizieq Shihab sebagai tokoh utamanya.

Sejak keruntuhan kekhalifahan Ottoman di Turki 1924, dunia Islam praktis terpecah belah menjadi banyak negara-bangsa ( nation states) yang sengaja dimerdekakan oleh para penjajahnya. Perlu dicatat bahwa kelahiran negara-negara bangsa ini justru dilakukan untuk mencegah kebangkitan kembali khilafah Islam sebagai sebuah kekuatan yang melampaui negara-bangsa. Karena dunia tidak mungkin berlanjut tanpa kepemimpinan global maka diciptakanlah Liga Bangsa-Bangsa yang kemudian menjadi Perserikatan Bangsa Bangsa atau United Nations.

Dalam perspektif inilah pembakaran bendera Tauhid di Garut ini dapat dipahami : ada kekhawatiran islamophobic atas gejala kebangkitan Islam di Indonesia dan dunia sebagai kepemimpinan alternatif bagi kepemimpinan global nekolimik saat ini.

Menurut vexillology, bendera bukan sekedar selembar kain biasa. Jika dia berkibar bebas di angkasa, bendera menginspirasikan semangat kepemimpinan tertentu yang sublim dan sulit dibayangkan oleh mereka yang jiwanya terjangkar oleh tanah di bumi. Kalimat Tauhid adalah kalimat yang mengungkapkan kemerdekaan jiwa, dan jiwa merdeka adalah ancaman bagi penjajahan dan kedzaliman yang kini menjadi peristiwa sehari-hari. Apalagi kalimat itu ditulis di atas bendera. Kibaran bendera Tauhid itu menggelorakan semangat para mu’min tapi menggetarkan musuh mereka.

Gunung Anyar, 28/11/2018

Kesulitan Sewa Bus, Ratusan Massa FUIS Tetap Berangkat ke Reuni 212

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Humas Forum Umat Islam Semarang (FUIS), ustadz Danang Setyadi mengaku pihaknya kesulitan menyewa bus untuk memberangkatkan rombongan peserta acara Reuni Alumni 212 di Jakarta pada Ahad (2/12/2018) besok. Ia menilai, ada intervensi aparat kepolisian terhadap PO Bus untuk tidak menyewakan armadanya.

“Ini seharusnya tidak terjadi, tugas aparat adalah mengamankan selama tidak ada unsur melanggar undang-undang, apalagi dari gubernur Jakarta sudah mempersilahkan,” kata Danang kepada Jurnalislam.com, Kamis (29/11/2018).

Kendati demikian, ratusan massa dari FUIS tersebut akan tetap berangkat ke Jakarta menggunakan kendaraan-kendaraan pribadi dan moda transportasi lainnya.

“Bus tidak bisa kami sewa ya kita akan gunakan beberapa mobil dan sebagian lagi kita naik bus dan kereta api,” ujarnya.

Danang mengaku heran terhadap sikap aparat yang menghalang-halangi mereka untuk menghadiri Reuni Alumni 212. “Padahal acaranya nanti diisi dzikir, tausiah oleh para ustadz, do’a bersama agar Indonesia dikaruniai keberkahan,” jelas Danang.

“Dan perlu diketahui, ini bukan demo ataupun kampanye seperti yang tersebar di media, tapi murni silaturrahmi dan pembelaan kalimat Tauhid,” sambungnya.

Danang mengatakan, ada sekitar 250 massa FUIS yang berangkat ke Jakarta mengikuti Reuni tahun kedua Alumni 212 itu.

“Insya Allah kita akan berangkatkan sekitar 250 peserta untuk mengikuti Reuni Akbar 2 Desember besok,” katanya.

Ia menjelaskan, tidak seperti tahun sebelumnya yang hanya membolehkan peserta laki-laki, kali ini peserta diperbolehkan diizinkan untuk membawa istri dan anak-anaknya.

“Iya ini keluarga termasuk anak istri juga ikut, karena kami juga ingin mengajak para istri untuk menyaksikan langsung reuni akbar ini,” paparnya.

“Ini kita ke sana pertama dalam rangka silaturrahmi mempererat ukhuwah, yang kedua sebagai pembelaan kita terhadap kalimat Tauhid dan nanti acaranya adalah dzikir dan tausiah dari para ustadz,” pungkasnya.

 

Aksi 212 Itu Berkah, Felix Siauw Ajak Umat Islam Penuhi Monas

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Dai kondang keturunan Tionghoa, Ustaz Felix Siauw mengajak umat Islam untuk hadir dalam acara Reuni 212 yang akan digelar di Monas, Jakarta pada Ahad, (2/12/2018) mendatang.

“Saya mengajak kepada teman-teman sekalian untuk meramaikan dan mensukseskan Reuni 212 tanggal 2 Desember 2018,” katanya kepada jurnalislam.com di Masjid Al Mukmin, Sukoharjo, Sabtu (24/11/2018).

Ia menilai, aksi 212 adalah barokah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena aksi itu telah menjadi semangat bagi kaum muslimin dalam memperjuangkan agamanya

Ustaz Felix membantah tudingan tentang adanya agenda politik dalam acara tersebut. Menurutnya, efek 212 membuat banyak orang untuk kembali ke ajaran Islam dan menunjukan pada dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian.

“Orang banyak yang mengatakan bahwa itu ditunggangi politik, orang bisa mengatakan itu makar, orang bisa mengatakan dan lain sebagainya, yang jelas setelah 212 masjid masjid tambah rame, yang jelas setelah 212 orang lebih banyak ikut kajian,”paparnya.

“Setelah 212 orang lebih banyak mengetahui apa itu islam, bagi saya itu lebih dari cukup alasan bagi teman teman sekalian untuk hadir disana dan rasakan hidayah Allah melimpah ruah disana,” tandasnya.

 

Didemo Warga Karena Limbah, Pemkab Sukaharjo Hentikan Uji Coba PT RUM

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)– Ribuan Masyarakat Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Sukoharjo, Selasa, (27/11/2018). Warga yang terdampak limbah bau pabrik penghasil serat rayon PT Rayon Utama Makmur (RUM) itu menuntut Bupati Sukoharjo, Wardoyo untuk segera mencabut izin PT Rayon Utama Makmur (RUM) yang berada di wilayah Nguter, Sukoharjo.

Sebelum ke kantor bupati, warga berkonvoi menggunakan kendaraan bermotor dari Nguter. Mereka membawa spanduk-spanduk yang meminta PT RUM segera tutup.

Korlap aksi yang juga ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Ari Suwarno menjelaskan, aksi unjuk rasa ini adalah wujud kekecewaan masyarakat atas janji-janji yang telah dilanggar oleh PT RUM.

“Aksi ini dilakukan karena selalu dikhianatinya kesepakatan-kesepakatan yang sudah terjadi. Bahkan Surat Keputusan (SK) Bupati juga diingkari, aksi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Sukoharjo tetapi juga masyarakat Wonogiri dan Karanganyar yang terdampak bau PT RUM,” katanya di sela-sela aksi.

10 orang perwakilan warga akhirnya ditemui Bupati di ruang rapat. Dalam audiensi itu juga dihadirkan perwakilan PT RUM.

Dalam audensi tersebut, perwakilan warga, Ari Suwarno menyebut limbah bau PT RUM sudah sangat mengganggu masyarakat sekitar dan membuat anak-anak dan lansia mengalami gangguan kesehatan.

“Tanggal 21 Oktober kembali melakukan uji coba dan gagal, masyarakat menyatakan gagal karena masih meresahkan dan mengganggu masyarakat sehingga aktivitas apapun sangat terganggu,” katanya.

Warga dan PT RUM dimediasi bupati Sukoharjo. FOTO : Arie/Jurniscom

“Kemudian bapak bupati memerintahkan kepada PT RUM untuk menghentikan uji coba produksi karena masih karena gagal dan masih mengganggu masyarakat sekitar, namun PT RUM ternyata tidak mengindakan dan akhirnya kita bersama warga mengajak camat Nguter untuk mendatangi PT RUM,” sambungnya.

Menanggapi hal itu, Manager PT RUM Haryo mengatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan perbaikan terkait munculnya sumber bau tersebut, ia bahkan menyebut bahwa limbah yang dikeluarkan PT RUM tidak berbahaya.

“Itu memang sudah dioperasikan mesin WeScrabble yang untuk nyaring udara itu, kalau sebelumnya sudah mengalir kemana-mana sekarang sudah dialirkan ke namanya WeScrabble, jadi disaring,” ujarnya.

“Dan menurut data yang ada alat yang terpasang itu memang sudah sesuai dengan standar baku mutu, bahkan jauh di bawah standar baku mutu sesuai dengan keputusan menteri lingkungan hidup, begitu juga limbah cair hasil yang kita kelola itu hasilnya sama sudah memenuhi baku mutu,” jelasnya.

Namun karena limbah bau yang masih dirasakan warga sekitar, Bupati Sukoharjo memutuskan untuk menutup sementara PT RUM. Ia memberi waktu ijin 5 hari untuk PT RUM menghabiskan bahan produksi dan kemudian tutup guna mengatasi masalah limbah bau tersebut.

“Ini surat sudah direkap pak Sekda, intinya tutup trialsnya, bukan nyabut ijin, kalau nyabut ijin tidak semudah itu mas, prosesnya melakui berbagai mekanisme,” paparnya.

Ratusan Yatim Dhuafa Ikuti Festival Anak Soleh Yayasan Nurul Hayat di Demak

DEMAK (Jurnalislam.com) – Yayasan Nurul Hayat Semarang bekerjasama dengan Badan Koordinasi TPQ Kabupaten Demak serta Pemerintah Kabupaten Demak menyelenggarakan kegiatan Festival Anak Soleh (FAS) khusus Anak Yatim Dhuafa di Pendopo Kabupaten Demak, Senin ( 26/11/2018).

Kegiatan diikuti oleh 280 anak yatim dhuafa yang berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Demak. FAS merupakan serangkaian lomba keagamaan yang digagas oleh Nurul Hayat untuk mengasah mental dan menambah semangat belajar agama dari anak-anak yatim dhuafa.

“Alhamdulillah dengan adanya lomba FAS Nurul Hayat ini, anak-anak yatim lebih semangat lagi dalam belajar,” ujar Solihatun dari Koordinator Anak Yatim Demak

Acara juga dihadiri oleh perwakilan Bupati Demak dan Ketua BADKO TPQ Kabupaten Demak H. Taufik Rifai.

Dalam sambutanya, Bupati Demak memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih banyak kepada Nurul Hayat yang telah membantu pemerintah dalam mengurus pendidikan anak yatim dhuafa

“Mudah-mudahan dengan program beasiswa anak yatim dhuafa, pembinaan, dan Festival Anak Soleh dari Nurul Hayat ini bisa membuat para generasi penerus bangsa Demak memilki kepribadian serta iman Taqwa lebih baik lagi kedepannya,” kata Bupati melalui perwakilannya.

Ada 7 jenis lomba dalam kegiatan tersebut, diantaranya lomba doa-doa harian, surat-surat pendek, peragaan sholat, kaligrafi, tartil Al-Quran, ceramah bahasa Indonesia, adzan dan iqomah.

Seluruh jenis lomba terbagi dalam 3 kategori, yaitu kategori Satu (1-3SD), kategori Dua (4-6 SD), dan kategori Tiga (1-3 SMP). Dalam kegiatan tersebut disedikan 100 unit sepeda untuk 100 nilai tertinggi dari berbagai macam lomba. Selain itu, sebanyak 280 peserta festival juga berhak mendapatkan tas dan perlengkapan sekolah.

Nurul Hayat juga memberikan hadiah sepeda beserta tas perlengkapan sekolah guna menunjang pendidikan anak-anak yatim dhuafa.

Prabowo-Sandi Unggul di Muhammadiyah, Non Muslim Pilih Jokowi Ma’ruf

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun dalam survey terbarunya merilis ada sekitar 62 persen pemilih dari Muhammadiyah memilih pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandi.

“Pasangan Prabowo-Sandi peroleh 62 persen suara Muhammadiyah, sedangkan Jokowi-Ma’ruf 23 persen,” katanya dalam acara ‘Elektabilitas Capres: Mampukah Jokowi berlari Kencang dan Prabowo Mengejar?’ di Cikini, Jakpus, Selasa (27/11/2018).

Rico menjelaskan, walau kalah di kalangan pemilih Muhammadiyah, pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul di pemilih Nahdlatul Ulama sebesar 47,6 persen.

“Pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul di kalangan NU 47,6 persen dan Prabowo-Sandi 36,4 persen. Hanya berselisih 11,2 persen,” pungkasnya.

Rico juga menyampaikan, pasangan Jokowi-Ma’ruf juga unggul telak di kalangan non muslim.

“Semua agama non Islam memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf,” katanya.

Rico menjelaskan pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul di umat Protestan sekitar 89,1 persen, di umat Katolik unggul 88,7 persen, di kalangan Hindu 98 persen dan Budha 98 persen.

“Dari 100 persen pemilih protestan, hanya 5,6 persen yang memilih pasangan Prabowo-Sandi. Sedangkan di Katolik hanya 7,1 dari 100 persen pemilih,” pungkasnya.

Rilis survei dilakukan Median pada periode 4-16 November 2018. Menggunakan sampel secara random dengan teknik Multistage Random Sampling dan proporsional atas populasi Provinsi dan gender.

Median: 58 Persen Masyarakat Kurang Puas Kinerja Jokowi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun dalam survey terbarunya merilis ada 58,5 persen masyarakat kurang puas dengan kinerja Jokowi.

“Ada sekitar 58,5 persen merasa kurang puas dan 47,6 persen puas,” katanya dalam acara ‘Elektabilitas Capres: Mampukah Jokowi berlari Kencang dan Prabowo Mengejar?’ di Cikini, Jakpus, Selasa (27/11/2018).

Rico menjelaskan kekurangan pemerintah yang membuat masyarakat tidak puas adalah soal ekonomi memburuk sekitar 20,9 persen, sembako, bbm dan listrik mahal sekitar 11,5 persen, pembangunan belum merata sekitar 3 persen, banyak ulama dikriminalisasi 2,4 persen dan bantuan tidak tepat sasaran 2,2 persen.

“Masalah ekonomi dan kesejahteraan masih menjadi ganjalan pemerintahan Jokowi,” pungkasnya.

Menurutnya pemerintahan Jokowi harus mampu mekorelasikan antara pembangunan dan masalah kehidupan sehari-hari, agar masyarakat tidak merasa kecewa.

Rilis survei dilakukan Median pada periode 4-16 November 2018. Menggunakan sampel secara random dengan teknik Multistage Random Sampling dan proporsional atas populasi Provinsi dan gender.

Soal Dugaan Korupsi Kemah Pemuda, HNW : Polri Jangan Buat Framing

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW) mengaku heran atas pernyataan kepolisian yang menyebut adanya kerugian negara dalam kegiatan Kemah Pemuda Islam Indonesia tahun 2017 silam. Padahal, katanya, Badan Pemeriksaan Keuangaan (BPK) tidak pernah mengaudit terkait dugaan adanya penyimpangan dana kegiatan tersebut.

“Sudah sangat jelas bahwa BPK menyatakan kalau dinyatakan Bang Dahnil atau Pemuda Muhammadiyah dianggap merugikan keuangan negara, BPK menyatakan tidak ada penilaian dari BPK yang mengatakan kerugian negara,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com usai pembukaan Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah di Gedung Sportorium UMY, Senin (26/11/2018).

“Bahkan belum ada permintaan audit, bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga mengatakan bahwa masalah keuangan itu tidak ada masalah dan beres semuanya dan bahkan beliau kaget ketika diperiksa,” sambung HNW.

Lebih lanjut, HNW meyakini publik sudah sangat cerdas dalam memandang kasus yang menimpa Dahnil itu. Ia menambahkan, belum dipanggilnya GP Anshor dalam kasus tersebut semakin menunjukan ketidakadilan aparat kepolisian dalam menangani dugaan penyimpangan anggaran kegiatan itu.

“Jadi menurut saya publik juga sudah sangat cerdas ya dan sudah kritis dengan mengatakan bahwa yang berfoto itu bertiga kenapa yang selalu dikejar-kejar Bang Dahnil dan Pak Nahra,” paparnya.

“Sekali lagi basis untuk mengejarnya juga sudah sangat sunyir, kalau tadi kegiatan ada kerugian negara yang memberikan kewenangan untuk menentukan itu adalah BPK dan BPK tidak pernah menyatakan seperti itu,” katanya.

Untuk itu, ia mendesak aparat kepolisian untuk menghentikan pemanggilan terhadap pihak-pihak yang tidak bersalah.

“Jadi menurut saya hendaknya polisi betul-betul melakukan penegakan hukum itu basisnya adalah pada penegakan hukum dan bukan framing, bukan kriminalisasikan, dan dibawa kepada politisasi,” pungkasnya.

Pidato Terakhir Dahnil : Tauhid, Ilmu, dan Amal Adalah Senjata Pemuda Muhammadiyah

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)–  Dahnil Azhar Simanjuntak menyampaikan pidato terakhirnya sebagai Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah dalam Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta, Senin (26/11/2018). Dalam kesempatan itu, Dahnil menjelaskan tiga senjata Pemuda Muhammadiyah.

“Satu tauhid yang murni, dua ilmu yang tinggi, tiga amal yang banyak. Jadi bila kader Muhammadiyah ini ditanya apa senjatanya maka jawabannya adalah tauhid, ilmu dan amal,” ungkapnya di hadapan puluhan ribu peserta muktamar.

“Dalam bahasa yang lain HOS Tjokroaminoto menyampaikan bahwa kader Islam harus mempunyai 3 hal yakni, murni tauhidnya, tinggi ilmunya serta sepintar-pintarnya siasahnya,” imbuh Dahnil.

Dahnil juga berterima kasih kepada Muhammadiyah yang telah membawanya hingga saat ini. Ia mengisahkan, ketika masa SMPnya ia bersekolah secara gratis di sekolah Muhammadiyah.

“Ketika saya kehilangan harapan, Muhammadiyah datang memberikan harapan dan saya berharap Muhammadiyah terus memberikan suluh kepada seluruh anak bangsa,” ujarnya.

Dahnil berpesan kepada seluruh kader Pemuda Muhammadiyah untuk terus konsisten merawat semangat ta’awun dan menggembirakan Indonesia.

“Dan saya ucapkan terima kasih dan ucapan pamitan saya sebagai ketua Pemuda Muhammadiyah,” tandas Dahnil.