Dinilai Janggal, ISAC Minta DPR Bentuk TPF Kasus Kematian Napiter

SOLO (Jurnalislam.com) – Menanggapi kematian narapidana terorisme (napiter) Lapas Nusakambangan, Wawan Prasetyawan (26), Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC), Endro Sudarsono meminta sejumlah pihak untuk terlibat aktif mengusut tuntas kasus tersebut.

Endro meyakini ada kejanggalan dalam kematian napiter di Lapas Nusakambangan. Pasalnya, Wawan adalah napiter kelima yang meninggal dunia di Lapas Nusakambangan.

Sebelumnya, Muhammad Basri meninggal dunia pada 7 Juli 2018, Irsyad alias Ican 12 Agustus 2018, Winduro 22 September 2018 dan Agus Tri Mulyono pada 12 Oktober 2018. Semuanya adalah napiter yang dipindahkan dari Mako Brimob pasca kerusuhan di ruang tahanan Mako Brimob pada 8 mei 2018 lalu.

ISAC meminta DPR RI dan Komnas HAM untuk membentuk tim pencari fakta atas banyaknya kasus kematian napiter di Lapas Nusakambangan.

“Meminta DPR RI, Komnas HAM untuk membuat tim pencari fakta atas kematian beberapa tahanan teroris di Nusa Kambangan” katanya kepada Jurnalislam.com, Senin (17/12/2018).

Lebih lanjut, Endro juga meminta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H. Laoly serta Kalapas Nusa Kumbangan untuk mengundurkan diri terkait adanya kejanggalan atas kematian para napiter yang berada di Lapas Nusakambangan tersebut.

“Meminta Menkumham serta Kalapas Nusa Kambangan untuk mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban moral,” ujarnya.

Selain itu, ISAC meminta PP Muhammadiyah untuk melakukan pendampingan hukum kepada keluarga Wawan sebagaimana yang pernah terjadi pada kasus Siyono pada 2016 silam.

“Kepada PP Muhammadiyah untuk ikut nendampingi keluarga untuk mengadvokasi, menginvestigasi atas penyebab kematian wawan prasetyawan, jika perlu lakukan otopsi ulang,” ujarnya.

Wawan Prasetyawan (26) warga dukuh Yopaklo, Desa Troketon, Pedan Klaten menjadi narapidana terorisme (napiter) kelima yang meninggal dunia di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Jenazah Wawan Prasetyawan

Wawan adalah salah satu dari 155 napiter yang dipindahkan dari Mako Brimob ke Nusakambangan pasca kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob pada 8 mei 2018 yang lalu. Kerusuhan tersebut menewaskan 4 anggota Densus 88 dan satu anggota kepolisian itu.

Wawan yang menghuni lapas 1 Batu Nusakambangan itu meninggal dunia pada Ahad (16/12/2018) di Rumah Sakit Cilacap pukul 20.00 WIB diduga akibat sakit paru-paru basah. Jenazah Wawan tiba Senin (17/12/2018) pagi di rumah duka dan dimakamkan di pukul 11.00 WIB di Makam Yapak Kembang, Trekotan, Pedan, Jawa Tengah.

SD Muhhammadiyah 1 Solo Gelar Pengimbasan ke 13 Sekolah

SOLO (Jurnalislam.com) – SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta gelar pengimbasan workshop pelaksanaan kurikulum 2013, pengembangan sekolah, dan praktik baik manajemen sekolah kepada 13 sekolah negeri dan swasta di Kota Solo yang bertempat di Aula lantai satu, selama dua hari, Senin sampai Selasa, (17-18/12/2018).

Hal tersebut dikarenakan SD Muh 1 sebagai Sekolah Dasar Swasta Rujukan (SDSR) versi Kemendikbud RI dengan motto Sekolah Pendidikan Karakter Berbasis TIK dan Budaya.

Kepala SD Muh 1 Sri Sayekti mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi tentang Kurikulum 2013, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), literasi sekolah, manajemen sekolah, literasi TIK dan pembelajaran tematik di sekolah-sekolah imbas.

”Kami kemas kegiatan ini, model workshop dan diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan mengundang narsum Dra. Rita Nurbaya, M.Pd Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Surakarta serta diperkuat pengawas plus tim SD Muh 1” ungkapnya, Senin (17/12/2018).

Tiga Belas sekolah tersebut, yaitu SDN Ketelan No. 12, SDN Bromantakan 56, SDN Kestalan, SDN Tumenggungan, SDN Yosodipura 104, SD Krsiten Triwindu, SDM 13 Makam Bergola, SDM 18 Sangkrah, SDM 5 Kadipiro, SDM 20 Sidorejo, SDM 21 Baluwarti, dan SD Muhammadiyah 1 Ketelan.

Salah satu nara sumber, Pengawas SD Drs. Mulyanto, M.Pd mengatakan, berdasarkan laporan Programme for Internasional Student Assessment (PISA) tahun 2015 literasi siswa Indonesia peringkat 62 dari 70 negara. Hal ini menandakan rendahnya minat baca siswa Indonesia.

”Tingginya tingkat literasi menandakan siswa sudah mampu mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas sehingga kelak menjadi generasi terbaik penerus bangsa,” katanya.

Salah seorang peserta Imam Priyanto, mengatakan bahwa dia sangat apresiatif terhadap kegiatan ini.

”Saya banyak mendapatkan informasi Kebijakan PPK dan GLN, Penerapan Literasi dalam Pembelajaran Jenjang SD di hari pertama, penguatan secara personal dan spesifik dalam pelaksanaannya memberikan solusi kontekstual dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaanya. Berharap pengimbasan ini terus berlanjut sampai semua sekolah bisa melaksanakan program petik praktik baik ini,” katanya.

Sementara itu, di tambahkan wakil kepala sekolah bidang Humas Jatmiko, Sekolah Dasar Rujukan Berbasis Sekolah Swasta melalui surat nomor 1634/D2/TU/2018 tertanggal 12 September 2018 oleh Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Ditjen Dikdasmen, Kemendikbud, Sekolah Model Pembelajaran Inovatif Berbasis Teknologi Informasi dengan mengambil sumber dari rumah belajar Pustekkom. juga menggunakan Kurikulum International dari Cambridge University untuk Pembelajaran bahasa Inggris.

“Kegiatan pembiasaan seperti membaca 15 menit sebelum pembelajaran, menata lingkungan kaya literasi sudah kami laksankan, sehingga guru harus mampu memahami karakter siswa satu sama lain dan seorang guru harus bisa mengolah komunikasi agar anak didiknya memiliki 4C, yaitu, critical thinking, communication skill, creativity and innovation, serta collaboration,” ujar Jatmiko

Semangat Berinovasi, Jurniscom Gelar Munas IV di Bogor

BOGOR (Jurnalislam.com) – Jurnalislam.com (Jurniscom) sukses menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-IV dengan tema “Meningkatkan Sinergitas Menuju Media Islam yang Unggul dan Profesional” di Wisma Industri, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Munas yang digelar selama 2 hari dari Sabtu hingga Ahad (15-16/12/2018) diikuti oleh 25 peserta yang merupakan staff, jurnalis, dan kontributor Jurnalislam.com dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Direktur PT Jurnis Media Cahaya Indonesia, Indra Martian menyampaikan ada 5 hal yang harus dimiliki oleh sebuah media Islam agar dapat berjalan dengan baik dan terus bisa bersaing dengan media lainnya. 

“Pertama harus punya nilai, setelah itu harus ada ide dan gagasan, maka kita wujudkan konsep-konsep itu agar tercapai,” katanya.

“Yang ketiga sistem yang mengatur, nilai ada konsep punya tapi sistem tidak punya maka kita tidak akan bisa,” sambungnya.

Indra melanjutkan, tim sukses menjadi poin keempat yang tak kalah pentingnya. Dengan kerjasama yang baik, katanya, sebuah media Islam akan dapat menghasilkan produk berita yang baik pula.

Terakhir, media Islam harus punya tujuan yang jelas, yaitu tadbiqussyariah atau menegakkan syariat. “Syariat Islam itu luas, tidak melulu soal hukum qisash dan hudud, akan tetapi tata cara makan, tidur pun termasuk bagian dari syariat Islam,” paparnya.

Indra juga menyampaikan, Jurnalislam.com akan terus berinovasi untuk mengejar perkembangan dunia digital yang begitu cepat.

Senada dengan itu, salah satu redaktur senior Jurnalislam.com, Rizki Lesus memaparkan, perkembangan dunia digital yang sangat cepat menuntut sebuah media untuk terus berinovasi agar dapat terus bertahan.

“Di era dìsrupsi ini.kita harus jeli melihat zaman dan terus berinovasi. Agar kita tetap relevan dengan zaman”,” paparnya.

Munas IV Jurniscom menghasilkan beberapa keputusan, diantaranya, mempertegas kembali ruh Jurnalislam.com sebagai media Islam yang mengusung nilai-nilai dakwah dan jihad yang modern dan inovatif dengan syariah Islam sebagai landasan utamanya.

Parlemen Asia Pasifik Intensifkan Perjuangan Kemerdekaan Palestina

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Kaukus Parlemen Asia Pasifik soal Palestina menggelar pertemuan perdana di Istanbul untuk mengintensifkan perjuangan kemerdekaan Palestina.

Forum yang dipimpin langsung anggota DPR RI Rofi’ Munawar ini digelar di tengah-tengah perhelatan Konferensi Parlemen untuk Baitul Maqdis di Turki pada 15-16 Desember.

“Pertemuan ini sepakat untuk menggelar musyawarah lanjutan kaukus parlemen Asia Pasifik guna meningkatkan isu perjuangan Palestina secara internasional,” rilis Kaukus Parlemen Asia Pasifik kepada INA News Agency, Sabtu (15/12/2018).

Forum Palestina, yang dihadiri sekitar 50 anggota parlemen, ketua, dan wakil ketua parlemen di Asia Pasifik ini, juga berjanji membentuk kaukus parlemen guna mendukung Palestina dalam segala tingkatan.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menegaskan DPR RI selalu konsisten dalam menyuarakan isu Palestina di berbagai forum internasional.

Fadli menegaskan kemerdekaan rakyat Palestina bahkan menjadi isu utama dalam agenda diplomasi parlemen Indonesia.
 
“Isu Palestina selalu mendapatkan perhatian penting masyarakat Indonesia. Kehadiran saya, dan sejumlah Anggota DPR RI dalam konferensi ini merupakan bentuk dukungan bagi rakyat Palestina, mewakili rakyat Indonesia,” ungkap Fadli dalam keterangan tertulisnya di sela-sela konferensi.

Kelompok Palestina di Malaysia menilai pertemuan lintas parlemen di Asia Pasifik ini merupakan titik awal kerja sama di kawasan dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina.

Ketua Palestinian Cultural Organization of Malaysia (PCOM) Muslim Imran mengapresiasi langkah anggota parlemen Asia Pasifik yang berjanji membentuk kaukus Palestina di parlemen masing-masing.

Menurut Muslim, langkah ini akan mempermudah langkah nyata anggota parlemen untuk mendukung pembebasan bangsa Palestina.

“Kami sangat menghargai komitmen yang ditunjukkan oleh para peserta dan berharap dapat melihat segera hasil dari pekerjaan mereka,” kata Muslim. (INA News Agency)

Dompet Dhuafa Luncurkan Program Lombok Bangkit

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Di masa pemulihan pasca gempa yang dialami oleh warga Lombok Utara, Lombok Timur dan Lombok Barat, Dompet Dhuafa yabg terus berkontribusi dari fase respon hingga fase recovery mengadakan peluncuran Lombok Bangkit. Acara ini Dihadiri oleh jajaran Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat khususnya daerah Lombok Barat, Lombok Utara dan Timur, relawan, penerima manfaat, media serta donatur. (Rabu,12/12)

Direktur Program Dompet Dhuafa Filantropi, M. Sabeth Abilawa, mengatakan, ”Masa recovery ini merupakan fase pergantian dari fase sebelumnya yang akan berdampak pada perkembangan ekonomi mayarakat Lombok. Selain itu juga, ini merupakan cara Dompet Dhuafa untuk mengenalkan dan mendekatkan Lembaga kami kepada masyarakat NTB agar dapat berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat di masa recovery ini.”

Sementara itu, Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi kepada Dompet Dhuafa yang telah menggulirkan banyak program di Lombok, khususnya Lombok Utara selama masa tahap respon hingga recovery. “Hadirnya Dompet Dhuafa di sini menunjukkan, begitu banyak masyarakat yang peduli dengan kita,” ujarnya.

Melalui Lombok Bangkit (LOVER – LOMBOK RECOVERY), Dompet Dhuafa mensosialisasikan program-program yang telah dilakukan dari fase respon hingga recovery kepada masyarakat luas khususnya pemerintah. Dompet Dhuafa sudah terjun dengan berbagai program untuk Lombok Bangkit mulai membangun Masjid Sementara, Sekolah Sementara, Hospital Keliling (HOPING), Rumah Sementara (Rumtara), Kebun Sehat Keluarga, Bengkel, hingga Pustu (Puskesmas Pembantu) yang ramah di kawasan bencana gempa.

Yang juga menjadi bagian dari Lombok Bangkit adalah kami merencanakan dibukanya kantor Cabang Layanan Dompet Dhuafa di NTB dan Layanan Kesehatan Cuma-cuma NTB dalam waktu dekat.

Di saat yang bersamaan kamipun meluncurkan buku “Merawat Asa”, merupakan rekam jejak pelaksanaan layanan psikologi bagi para penyintas di Lombok, tutup Sabeth Abilawa.

Hingga akhir Agustus, tercatat sudah 560 orang meninggal dunia akibat gempa bumi, dengan sebaran Kabupaten Lombok Utara 466 orang, Lombok Barat 40 orang, Lombok Timur 31 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang. Selain itu, sebanyak 1.469 orang oluka-luka, pengungsi tercatat 396.302 jiwa tersebar di ribuan titik. Sedangan sebanyak 83.392 rumah rusak berat, 3.540 fasilitas umum dan sosial rusak. (sumber BNPB)

Peluncuran Lombok Bangkit merupakan bentuk pertanggung jawaban kepada donatur kemanusiaan gempa Lombok yang telah mendonasikan bantuannya melalui Dompet Dhuafa. Dalam acara seremoni Lombok bangkit, menampilkan exhibisi program dan kegiatan yang dilakukan Dompet Dhuafa di Lombok pasca gempa bulan Juli 2018 mulai dari fase respon hingga recovery. Seperti senam sehat, pemeriksaan dan konsultasi kesehatan dengan target 100 penerima manfaat, service motor gratis untuk 20 motor, pameran foto kegiatan respon dan recovery Lombok, stand Psychological First Aid (PFA) dan urban farming, pameran hasil karya anak-anak sekolah binaan Dompet Dhuafa, pameran produk olahan kelapa dan produk keripik agar Lombok bisa segera bangkit dan dapat kembali berdaya seperti semula.

Cegah Perpecahan, Tokoh Agama Diminta Lebih Aktif di Tahun Politik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’thi mengatakan, Islam adalah agama yang mencintai persatuan dan menyuarakan pesan-pesan perdamaian.

Hal itu dikatakan saat menjadi pembicara Diskusi Media Mengenai Kerukunan Bangsa yang dihadiri sejumlah pemuka agama dari Kristen, Hindu dan Budha di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/12/2018).

“Islam adalah agama yang mengedepankan persatuan, agama yang menyuarakan pesan-pesan perdamaian dan wasathiyah. Islam tidak mengajarkan perpecahan dan tidak membenarkan perpecahan,” kata Abdul Mu’thi.

Terkait tahun politik, Abdul Mu’thi mengatakan, perdamaian di tahun 2018 meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2017. Ia pun tak menampik jika di tahun 2019 perdamaian itu akan kembali diuji mengingat akan adanya pilpres pada April mendatang.

“Beberapa lembaga penelitian memang menunjukan adanya peningkatan hate speech, ujaran kebencian dan ujaran pemelintiran yang menjadi fenomena dan realitas baru di mana memang kita tidak menghadapi tantangan yang sederhana, yaitu pilpres 2019,” tuturnya.

Menurut Abdul Mu’thi, tantangan tahun politik yang sudah semakin dekat, menuntut peran serta seluruh eleman bangsa terutama dari kalangan para tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Nah di sinilah peran tokoh agama untuk bagaimana kita memperbuat agama sebagai kekuatan bangsa yang bersifat universal. Saya kira para tokoh lintas agama dalam menghadapi tahun politik untuk lebih sering melakukan pertemuan-pertemuan,” ungkapnya.

Hal itu, kata dia, dimaksudkan agar para tokoh lintas agama bisa membangun proximity atau kedekatan yang genuine antar para pemeluk agama, sehingga bisa meminimalisir potensi-potensi yang bisa mengerucut pada konflik horizontal.

“Saya kira Indonesia dalam konteks demokrasi sudah dipandang dunia internasional, Indonesia juga memiliki pengalaman demokrasi yang sangat bagus, beberapa kali pemilihan presiden dilakukan secara langsung dan nyaris tanpa pertumpahan darah. Kita harus buktikan itu lagi,” tutupnya.

UKP-DKAAP Jalankan Tiga Mandat Presiden Jokowi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof. Syafiq Mughni menyatakan dibentuknya UKP-DKAAP karena Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk menciptakan kerukunan dan harmoni antar umat beragama di Indonesia.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi “Refleksi Akhir Tahun dan Proyeksi Kerukunan Antar-umat Beragama di Tahun Politik” di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/12/2018).

Menurutnya, untuk mewujudkan kerukunan dan harmoni antar umat beragama, ada tiga fokus yang selanjutnya dituangkan dalam mandat Presiden.

“Pertama, mengembangkan dialog dan kerja sama antar agama baik ke dalam dan ke luar negeri dengan mempromosikan kerukunan antaragama di Indonesia,” kata Syafiq Mughni.

Kedua, yakni mengembangkan dialog dan kerja sama antar bangsa, peradaban dengan mempromosikan kebudayaan, peradaban Indonesia berdasarkan Pancasila, utamanya agama dan budaya.

Yang ketiga, tambah Syafiq Mughni, UKP-DKAAP yang terdiri dari tujuh orang juga dimandatkan Jokowi untuk secara khusus mempromosikan kehidupan umat Islam Indonesia berdasarkan prinsip wasathiyah (rahmatan lil alamin) ke dalam dan ke luar negeri.

“Dalam seluruh rangkaian mandat di atas, UKP melaporkan seluruh kegiatannya kepada Presiden, yang menjadi mandat dari Presiden, serta, memberikan rekomendasi kepada Presiden terkait upaya mewujudkan dan memelihara kerukunan antar umat beragama di Indonesia dan mempromosikannya ke luar negeri,” tutupnya.

Oknum Guru Cabuli Murid di Sumbar, KPAI Turun Tangan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kekerasan seksual terhadap sejumlah siswa oleh oknum guru kembali terjadi. Kali ini diduga dilakukan oleh oknum guru pengajar seni dan budaya di salah satu sekolah menengah di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Terduga pelaku berstatus guru PNS sejak tahun 2000.

Kasus ini sampai di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setelah salah satu orangtua korban melapor ke aplikasi LAPOR yang terhubung langsung dengan Kantor Staf Presdiden (KSP), kementerian/lembaga terkait, termasuk Ombudsman dan KPAI.

Untuk menangani kasus tersebut, KPAI kemudian melakukan pengawasan langsung dan juga meminta pemerintah daerah untuk memfasilitasi rapat koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, dan Polres Pasaman di kantor Bupati. Rakor dipimpin oleh Plt. Sekretaris Daerah Pasaman.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, proses pengawasan kasus anak diduga korban kekerasan seksual di sekolah dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan rapat pembahasan kasus (Case Conference) dengan pihak pemerintah daerah dan OPD Kabupaten Pasaman serta Polres Pasaman

“Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Pasaman bahwa awalnya mereka mengetahui kasus tersebut setelah menerima informasi dari DP3A Provinsi Sumatera Barat,” ucap Retno melalui keterangan tertulisnya yang diterima Jurnalislam.com Rabu (12/12/18).

Lalu, mereka melakukan penggalian informasi mendalam kepada pihak Sekolah dan beberapa pihak terkait. Namun tidak diperoleh hasil sesuai dengan pengaduan salah satu orangtua siswa di LAPOR.

Pihak DP3A Kabupaten Pasaman telah melaporkan secara tertulis kepada pihak DP3A Provinsi terkait hasil penggalian informasinya
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari kepala sekolah dan guru yang mengenal terduga pelaku menyatakan tidak mengetahui kasus tersebut.

Sedangkan kepala sekolah tempat terduga pelaku bertugas menyatakan telah berbicara dengan terduga pelaku, beberapa orangtua siswa, dan siswa.

Ketika yang Tidak Beragama Bicara Agama

Penulis : Athian Ali M. Da’i (Ketua Forum Ulama Umat Islam)

JURNALISLAM.COM – Salah satu di antara tanda-tanda sudah dekat kiamat kata Rasululloh SAW : ” wayantiqu fii-ha ar ruwaibidatu fii amril ‘ammah ” yaitu ketika ” Orang-orang yang bodoh berbicara urusan kepentingan orang banyak”.

Dari sudut Agama, sinyalemen Rasul tersebut semakin hari semakin terbukti di negeri ini.  Betapa semakin banyaknya mereka yang tidak mengerti Agama atau bahkan mungkin “tidak beragama”(kecuali sekedar memenuhi identitas agar tidak disebut atheist) malah yang paling nyaring dan getol, tidak tahu diri dan tanpa rasa malu, berbicara, mengritik, bahkan menghina dan menodai kesucian Agama.

Selain kelompok ahmadiyah dan syiah yang memang sengaja diciptakan imperialisme dan yahudi untuk mengobrak-abrik kekuatan ummat Islam dari dalam, tidak sedikit pula mereka yang tampil tidak lebih dari sekedar budak-budak para musuh Islam untuk menyebarkan virus sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

Wajah kacung dan kemunafikan mereka seringkali tampak dilayar kaca berbicara sangat ngawur tapi berapi-api penuh percaya diri memaksakan berbagai argumen konyol yang hanya semakin menampakkan kejahilan mereka.

Mereka tidak perduli caci-maki orang- orang yang mengigatkan.  Wajah mereka bak kulit badak, sudah tidak ada rasa malu.  Mereka lacurkan diri hanya demi memuaskan pihak yang telah memperbudak mereka.

Berbagai pandangan dan pernyataan mereka terhadap Agama Islam, terkadang terasa menggelikan, tapi sekaligus juga sangat memuakkan dan teramat sangat melukai perasaan ummat Islam.
Jika pada rezim sebelumnya mereka nyaris tenggelam, kini menjelang lima tahun usia rezim ini, kehadiran mereka eksis kembali.

Mereka seakan menemukan angin segar, kenyamanan bahkan perlindungan. Terbukti, kendati berulangkali beberapa di antara mereka dilaporkan karena kasus ujaran kebencian dan atau penodaan Agama, namun jangankan diproses, sekedar dipanggil pun tidak pernah dialami mereka.

Lain penampilan yang di layar kaca, lain pula yang ada di lapangan. Ada kelompok yang selama ini terkesan dibiarkan seenak perut mereka mengambil alih tugas dan peran aparat keamanan.
Dari mulut salah seorang di antara mereka sempat keluar makian kotor “Islam tai” . (Na’udzu billah ) Pada saat yang lain, beberapa orang di antara mereka membakar kalimat tauhid : Laa ilaaha illalloh.

Sikap dan perbuatan biadab tersebut tentu saja mustahil dilakukan seorang muslim. Entah setan lain atau masih setan yang itu itu juga yang membuat mereka kerasukan setan seperti itu.
Yang pasti tindakan syaitani tersebut telah menyebabkan kemarahan bukan hanya saja ummat Islam di Indonesia, tapi juga ummat Islam di dunia.

Yang tergolong paling anyar, penolakan PERDA syariat, yang semakin menunjukkan bukan hanya saja jahil terhadap syariat tapi juga hukum tata negara di negeri ini.

Yang terkadang membuat hati orang awam kesal dan tidak habis fikir, mengapa pula para Ulama dan kaum cerdik pandai harus disibukkan dengan pernyataan-pernyataan murahan mereka Sepertinya sikap bijak yang patut dilakukan hanya satu di antara dua: Jika melanggar hukum dipidanakan. Jika tidak, maka biarkan mereka memuntahkan kejahilan mereka, tanpa harus melayaninya. Layaknya sikap orang yang waras ketika membiarkan orang gila berbicara, berteria-teriak, marah-marah dan tertawa sendiri.

KNSR Kembali Menuntut Keadilan Bagi Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka hari Hak Asasi Manusia yang jatuh pada Senin (10/12/2018), Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) kembali menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Aksi ini merupakan lanjutan aksi yang di gelar pada Rabu (5/12/2018) kemarin. Kini, tak hanya diadakan dengan berorasi di depan kedubes Myanmar saja, KNSR dan berbagai elemen masyarakat lainnya juga akan melakukan aksi di depan kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Jakarta.

Gelaran ini dilakukan karena sampai saat ini belum ada respons dari PBB maupun Myanmar mereaksi kekerasan dan pengusiran terhadap etnis Rohingya di tanahnya sendiri. Presiden KNSR Syuhelmaidi Syukur mengatakan jika KNSR maupun Indonesia bukan berarti memusuhi Myanmar. “Kami hanya menuntut Myanmar untuk menyelesaikan kekerasan terhadap Rohingya dan memberikan keadilan bagi etnis Rohingya” tegasnya, Senin (10/12/2018).

Adapun tuntutan yang diminta KNSR kepada Myanmar ialah menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan HAM Rohingya di sidang dewan PBB. Selain itu, Indonesia juga diminta untuk memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar jika tidak menghentikan kekerasan ini. “Kalau Indonesia tegas menolak hubungan dengan Israel karena menjajah Palestina, lalu apa bedanya dengan Myanmar terhadap Rohingnya,” tambah Syuhelmaidi.

Saat ini, Tim Pencari Fakta utusan PBB telah mengantongi bukti kekerasan oleh enam jendral di balik pembantaian etnis Rohingya. Adapun enam orang itu ialah Jenderal Senior Min Aung Hlaing, Wakil Jenderal Senior Soe Win, Letnan Jenderal Aung Kyaw Zaw, Mayor Jenderal Maung Maung Soe, Brigadir Jenderal Aung Aung dan Brigadir Jenderal Than Oo. “Kami sangat mendesak PBB untuk mengadili orang yang paling bertanggung jawab itu,” jelas Syuhelmaidi.

Berdasarkan data Kantor Berita Perancis, AFP, kekerasan terhadap Rohingya yang terjadi pada 25 Agustus 2017 silam saja sudah memakan korban tewas lebih dari 1000 orang. Sedangkan lebih dari 270ribu orang melarikan diri ke Banglades. Angka ini jauh berbeda dengan jumlah yang dirilis pemerintah Myanmar yang hanya 400 orang.

Sedangkan dari rilis Medecins Sans Frontieres (MSF) mengungkapkan setelah satu bulan pascakekerasan Agustus 2017 itu, 6.700 orang diperkirakan tewas. Jumlah tersebut didapatkan setelah hasil survey kepada pengungsi Rohingya di Banglades. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan jika lebih dari 723ribu etnis Rohingya meninggalkan tanahnya sendiri untuk mengungsi.

Pada aksi siang hari ini, Senin (10/12/2018), KNSR juga menuntut untuk dibukanya akses pengiriman bantuan kemanusiaan. Peserta aksi juga diminta membuat surat kepada Duta Besar Myanmar berupa protes dan tuntutan kekerasan dan genosida terhadap Rohingya. “Kami juga mendesak dikeluarkannya resolusi PBB untuk penghentian pelanggaran HAM luar biasa oleh Myanmar,” ungkap Sekretaris Jendral KNSR Ibnu Khajar.

Dalam aksi di depan Kantor Perwakilan PBB Jakarta, turut pula hadir penyair dan sastrawan Taufiq Ismail. Ia membacakan puisi dengan judul Di Mana Tenggelamnya Dunia yang ditujukan untuk setiap kekerasan yang ada di dunia ini. “Puisi ini sebagai dukungan terhadap Rohingya untuk mendapatkan keadilan, juga di bangsa-bangsa lain yang tertindas,” ungkap Taufiq, Senin (10/12/2018).