Begini Allah Menyifati Orang-Orang Kafir

Syahrul Qur’ani, Lc.
Humas STIBA Makassar

JURNIS – Kafir adalah istilah yang umum digunakan siapa saja. Apapun agama dan keyakinannya. Seorang Kristen, Yahudi, Budha atau Hindu misalnya, kafir terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, seorang Muslim kafir terhadap siapa saja yang disembah selain Allah.

Adapun menurut sudut pandang Islam, sederhananya orang kafir adalah siapa saja yang tidak mengimani rukun-rukun iman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6).

Al-Qur’an Mengupas Sifat-Sifat Orang Kafir

Di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan sifat-sifat orang kafir, diantaranya:

  1. Tuli, bisu, dan buta

Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 171).

  1. Lebih bodoh dari hewan ternak

Firman Allah  (artinya), “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqan: 44).

  1. Makhluk melata yang paling buruk di sisi Allah

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (QS. Al-Anfal: 55).

  1. Mendustakan Alqur’an

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata, “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu”, dan mereka berkata, “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja”. Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (QS. Saba’: 43).

  1. Mendapat ancaman keras dari Allah

Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.”(QS. Yunus: 4).

  1. Kelak di akhirat akan menyesal

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran: 91).

  1. Tidak akan mendapatkan ampunan Allah

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. Annisa’: 48).

  1. Dipalingkan oleh Allah

“Dan apabila diturunkan satu surat sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Attawbah: 127).

Ayat di atas berkenaan dengan orang-orang munafik, ketika dibacakan ayat-ayat Allah yang mengungkap kebusukan hati mereka, mereka kaget dan heran, tapi anehnya mereka justru berpaling dan pergi. Padahal seharusnya mereka beriman kepada ayat-ayat Allah yang menujukan kebenaran apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, oleh karenanya Allah memalingkan hati mereka dari kebenaran.

  1. Dadanya dijadikan sesak dan sempit

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125).

Hati orang kafir terasa sempit dan sesak ketika disampaikan kepada mereka ajaran-ajaran Islam. Karenanya, merekapun merasakan sempit sesak di dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana firman Allah (artinya),

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.  (QS. Thaha: 124).

Sesaknya hati orang kafir juga Allah misalkan dengan seseorang yang sedang mendaki langit atau tempat yang tinggi. Semakin tinggi ia mendaki, maka akan semakin sesak karena kadar oksigen yang semakin menipis.

Inilah di antara karakteristik orang-orang kafir yang diberitakan Allah dalam Alqur’an. Selayaknya, seorang muslim setelah mengetahui bagaimana Allah menyifati orang-orang kafir dengan kehinaan dan ancaman, maka ia akan berupaya sedapat mungkin untuk:

  1. Menahan diri dari mengucapkan selamat atas hari-hari keagamaan orang-orang di luar Islam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.” (QS. Al-Furqan: 72).

Menurut tafsiran para imam tafsir, az-zuur dalam ayat di atas bermakna hari raya orang kafir. Sementara kata yasyhaduna berarti menghadiri atau merayakan, seperti perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

شَهِدْتُ الْعِيْدَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Saya menghadiri (merayakan) hari raya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Bukhari).

  1. Tidak mengikuti pola hidup atau bahkan bangga dapat tampil serupa dengan orang-orang kafir, apalagi turut berpartisipasi dalam ritual keagamaan mereka. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Wallahu al-Hadi ilaa aqwami ath-thariq

KAMMI Tolak Militer Masuk Kementerian

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wacana Militer masuk kedalam kementerian dan lembaga sipil terus menggelinding. Wacana ini bermula ketika Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengusulkan revisi Pasal 47 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang nantinya memungkinkan perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) TNI menempati kursi birokrat.

Rencana ini mendapat tanggapan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indoensia (KAMMI) yang merupakan organsisasi mahasiswa dan kepemudaan yang lahir saat reformasi bergulir.

“Kami sangat menyayangkan apabila ada upaya untuk merevisi UU TNI yang memungkinkan nantinya TNI bisa menempati jabatan sipil. Kita harus waspada, revisi ini akan mendorong sedikit demi sedikit kembalinya Dwi fungsi ABRI, apalagi kita punya sejarah yang panjang dengan itu, ” kata Ketua Umum KAMMI Irfan Ahmad Fauzi dalam keterangan tertulis yang diterima Jurniscom, Sabtu (2/3/2019).

“Padahal amanat reformasi kita sudah dengan susah payah memisahkan antara area militer dan sipil, dibatasi. Karena militer mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki sipil, bayangkan kalau terjadi apa-apa” tambahnya.

Bagi Irfan, surplusnya perwira di TNI tidak bisa dijadikan alasan untuk memberikan keistimewaan bagi TNI menempati jabatan-jabatan sipil.

“Saya kira tidak semudah itu jika karena alasan surplus, lalu kemudian merevisi UU. Kesannya seperti memberikan keistimewaan sekali” sambung Irfan.

“Maka kami dengan tegas menolak rencana revisi UU TNI ini. Marilah kita tempat sebagaimana mestinya. Militer ya harus di area militer, sipil ya di sipil jangan digabung bisa bahaya” tandas Irfan.

Warga Tolak Pembangunan PPA GKI Joyontakan Surakarta 

SOLO (Jurnalislam.com) – Rencana pembangunan Pusat Pengembangan Anak (PPA) Daniel IO Gereja Kristen Indonesia (GKI) Coyudan di RT 06 RW 06 Joyontakan, Surakarta mendapatkan penolakan dari warga setempat.

Warga beralasan, di wilayah Joyontakan sudah ada 3 Gereja yang masih aktif. Selain itu, warga tidak dilibatkan oleh pihak panitia pembangunan terkait masalah pengurusan perijinan.

“Aset Gereja lebih dari tiga, pihak PPA telah melakukan kordinasi yang dianggap tebang pilih kepada warga yang bersangkutan dan ingkar dalam kesepakatan yang diputuskan dalam rapat sebelumnya,” kata Utopo perwakilan warga dalam pesan tertulis kepada Jurniscom, Jum’at (22/2/2019).

“Warga juga mayoritas muslim,” imbuhnya.

Dalam penolakan tersebut, warga dari RW O5 dan RW O6 Joyontakan juga membubuhkan tanda tangan, mereka pun meminta pendampingan kepada umat Islam Soloraya dalam melakukan audensi dengan lurah setempat.

“Kita berharap pemerintah kota mengakomodasi kepentingan warga mengingat, apa yang diinginkan warga, karena apa yang diinginkan GKI Coyudan sudah terakomodasi karena sudah ada PPA, cuma ini mau dibesarkan, alasan subyektif disana yaitu mayoritas masyarakatnya muslim,” kata Humas LUIS Endro Sudarsono kepada jurniscom usai audensi.

Lebih lanjut, menurut Endro pihak pemerintahan desa setempat berjanji akan menyerapkan ansiprasi warga.

“Dari kelurahan akan menyampaikan kepada yayasan, Pemkot, karena hubungannya dengan IMB, dan kita sampaikan pertimbangan di Karanganyar itu walaupun ada IMB, ijin tanpa HO, tapi pemkab Karanganyar menyerap ansipari bahkan hotel yang diperpanjang pun tidak diperpanjang karena alasan menyerap anspirasi warg,” tandasnya.

Street Qur’anic Dakwah, Potong Rambut Gratis Setelah Baca Qu’ran

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Belajar agama itu mudah karena bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Itulah yang ditanamkan Street Qur’ani Dakwah (SQD) Ponpes Salman Al Farisi, Karanganyar saat menggelar aksi dakwah the Car Free Day (CFD) Karanganyar setiap Ahad pagi di depan Kodim Karanganyar.

Founder SQD, Ustaz Kelik Subagio mengatakan, dalam aksi dakwah SQD, warga yang berada di CFD Karanganyar bisa belajar baca Al-Qur’an dengan para Da’i dari Ponpes Salman Al-Farisi.

Selain itu, warga juga bisa memeriksakan kesehatannya secara gratis, pijat gratis hingga cukur gratis hanya dengan membacakan salah satu  surat pendek dalam Al-Qur’an.

“Tujuannya dari kegiatan ini adalah supaya Al Qur’an bisa masuk keseluruh lapisan masyarakat dan di hari ini kita menyediakan potong rambut gratis yang cukup dengan membaca surat pendek saja,” katanya kepada jurniscom Ahad (17/2/2019).

Kusmanto (48) warga asal Tasikmadu Karanganyar mengaku senang dengan cara dakwah dari SQD tersebut, sebab, ia bisa mendapatkan banyak manfaat dari salah satu program Ponpes Salman Al Farisy tersebut.

“Alhamdulillah saya dapat dua manfaat langsung dari acara ini, yaitu cukur gratis sekaligus bisa belajar membaca Al Qur’an,” katanya.

Selain pemeriksaan kesehatan, pijat dan cukur rambut, warga juga bisa membaca sejumlah buku Islami yang disediakan di stand SQD rencananya SQD akan terus melakukan inovasi dakwah di setiap aksi aksinya di CFD.

Kenaikan Tarif Tol: Buah Kebijakan Kapitalistik

Oleh : Nur Purnama Indah Puspasari

Dilansir dari detik.com pada Rabu (13/02/19), sejumlah ruas tol bakal mengalami penyesuaian alias kenaikan tarif tahun ini. Penyesuaian tersebut akan mengikuti jejak Tol Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang rencananya dimulai pada 14 Februari ini.

Meski muncul kabar terbaru yang disampaikan oleh  AVP Corporate Communications Jasa Marga, Irra Susiyanti. Ia mengatakan bahwa penyesuaian tarif Tol Sedyatmo ini masih ditunda dahulu, guna memberikan sosialisasi kepada masyarakat secara optimal. (m.detik.com)

Jalan tol sebagai infrastruktur yang digadang-gadang dibangun untuk skala jangka panjang demi kepentingan rakyat dan menjadi kebanggaan pemerintah saat ini, nyatanya justru melahirkan polemik dan ironi tersendiri.

Di negara lain, tarif tol menjadi semakin murah ketika pembangunan jalan tol rampung dilakukan. Tetapi di negara ini yang terjadi justru sebaliknya. Terjadi pemberlakuan kenaikan tarif ketika tol sudah gagah membentang. Namun disisi lain, fasilitas pelayanan di jalur tol pun belum maksimal dilakukan. Kenaikan tarif tol ini tentu dilatarbelakangi oleh para investor yang bergegas untuk meraih profit dari investasi yang telah mereka gelontorkan.

Selain penyesuaian terhadap tarif tol, hal yang sama juga terjadi pada tarif kargo udara. Bahkan maskapai plat merah, Garuda Indonesia (persero) sudah memberlakukan kenaikan SMU (Surat Muatan Udara) sejak 1 Januari 2019. Hal ini disampaikan oleh VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan lewat pesan singkatnya kepada Kompas.com, Selasa (5/2/2019).

Ikhsan juga menjelaskan, bahwa kenaikan ini disesuaikan dengan cost yang harus dikeluarkan oleh maskapai. Termasuk penyebabnya adalah dengan adanya kenaikan tarif avtur (aviation turbine) yaitu bahan bakar pesawat, hingga 10% per Januari 2019 ini. (detik.com)

Terkait kenaikan avtur ini, pemerintah sudah memanggil Pertamina untuk meminta penjelasan. Selama ini avtur memang hanya dimonopoli oleh Pertamina. Selanjutnya menurut pemerintah, solusi satu-satunya untuk kondisi ini adalah dengan membuka peluang kompetitor untuk penjualan avtur. Dengan adanya kompetisi, maka akan ada persaingan sehat yang memacu efisiensi di semua cost yang ada. Karena efek dari kenaikan tarif avtur ini tidak hanya berimbas pada tarif kargo udara saja, tetapi juga akan berpengaruh pada harga tiket pesawat. (tirto.id)

Kisruh kenaikan 50% tarif kargo udara yang diantaranya adalah akibat kenaikan avtur ini, tampak memang merupakan satu manuver yang diluncurkan sebagai pembuka keran bisnis bagi swasta. Sehingga swasta bisa masuk menjadi kompetitor bagi Pertamina. Karena baru disinggung oleh pemerintah terkait wacana kompetitor ini, gayung langsung disambut oleh PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang memang sejak 2017 sudah berencana menjual avtur di beberapa bandara di Indonesia.

Dalam wawancara khusus di CNBC Indonesia TV, Direktur Utama AKR, Haryanto Adikoesoemo, mengatakan AKR siap masuk ke bisnis bahan bakar pesawat. “Kami sudah set up dengan BP untuk avtur, ini sedang dalam tahap. Kami akan masuk ke bandara dan lebih konsentrasi ke Indonesia Timur,” ujar Haryanto, Rabu (13/2/2019).

Wakil Presiden, Jusuf Kalla juga menjelaskan, bahwa badan usaha yang berniat menjadi kompetitor bagi bisnis avtur ini harus mampu menyediakan infrastruktur seperti membangun tangki-tangki di bandara. Selama ini memang baru Pertaminalah yang bisa menyediakan fasilitas tersebut. (cnbcindonesia.com)

Dari fakta-fakta tersebut, tentu bukan temuan baru di era Kapitalis ini. Dalam sistem ekonomi Kapitalis, termasuk yang diterapkan di Indonesia, biaya pembangunan dan pemeliharaan berbagai infrastruktur, selain diperoleh dari sektor pajak sebagai pemasukan terbesar penerimaan negara, lalu dari pinjaman atau uang luar negeri, juga melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS), dalam penyediaan infrastruktur atau layanan publik dalam jangka waktu panjang (biasanya 15-20 tahun).

Kemudian pada akhirnya masyarakatlah yang harus menanggung beban baik secara langsung melalui pungutan penggunaan infrastruktur seperti tarif tol yang menurut UU No. 38 Tahun 2004 Pasal 48 ayat 3, dapat dievaluasi dan dilakukan penyesuaian setiap 2 tahun sekali, maupun pungutan tidak langsung dalam peningkatan berbagai bentuk pungutan pajak.

Tetapi sangat berbeda pengelolaannya jika yang diterapkan adalah sistem ekonomi Islam. Dalam buku Sistem Keuangan Negara Khilafah, oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum, infrastruktur dibagi menjadi 3 jenis dari sisi kepemilikan, yaitu Infrastruktur Milik Umum, Infrastruktur Milik Negara dan Infrastruktur Milik Individu.

Jalan raya dan industri bahan bakar seperti avtur, adalah termasuk kepada infrastuktur milik umum yang harus dikelola oleh negara dan dibiayai dari dana milik umum. Bisa juga dari dana milik negara, tetapi negara tidak boleh mengambil keuntungan dari pengelolaannya. Jikapun ada pungutan, hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk yang lain. Termasuk untuk membangun infrastruktur atau sarana lain yang menjadi kewajiban negara kepada rakyat.

Kemudian untuk sarana transportasi yang termasuk di dalamnya adalah pesawat terbang, termasuk dalam kategori Infrastuktur Milik Negara. Sarana/infrastruktur ini boleh saja dimiliki individu, tetapi negara juga harus menyediakannya untuk melayani masyarakat dalam memudahkan kehidupan mereka. Selain itu pengelolaannya pun harus dilakukan oleh negara.

Kemudian, karena infrastruktur tersebut milik negara maka dimungkinkan bagi negara untuk memperoleh pendapatan dengan menentukan tarif tertentu atas pelayanannya termasuk juga mengambil keuntungan. Pendapatan dan keuntungannya pun menjadi milik negara dan menjadi salah satu pemasukan Baitul Mal, yang diletakkan pada pos fai dan kharaj yang selanjutnya dana itu digunakan sesuai dengan peruntukkannya.

Sehingga dalam pengelolaan sistem Islam, tidak ada ruang ataupun celah bagi pihak swasta untuk menguasai dan mencari keuntungan dalam sektor infrastuktur milik umum maupun infrastruktur milik negara.

Muslimpreneur Menyikapi Persaingan Bisnis

Ditulis oleh : Anang. S

JURNIS – Persaingan bebas dalam berbisnis tidak dapat dihindari sebagai dampak kesepakatan perdagangan bebas dunia. Fakta yang ada saat ini persaingan bebas telah mengarah pada praktik-praktik persaingan liar yang menghalalkan segala cara.

Berbisnis merupakan salah satu jalan yang ditempuh seorang muslim untuk memperoleh rezeki (harta). Rezeki yang dia peroleh merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah SWT, maka sekuat apapun usahanya jika Allah belum menetapkan ia tidak akan bisa mendapatkannya. Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan menjadi kekuatan ruhiyah bagi muslimpreneur menghadapi persaingan bebas.

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Islam sebagai rahmatan lil alamin yang mengatur semua aspek kehidupan termasuk bisnis telah memberikan panduan untuk menghindari persaingan bisnis yang tidak sehat. Muslimpreneur menyikapi persaingan bisnis sesuai dengan etika bisnis dalam Islam.

Muslimpreneur selalu memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan akad bisnis. Ia tidak menghalalkan segala cara namun terus belajar untuk menghasilkan produk berkualitas sesuai syariah. ”Mencari yang halal wajib bagi setiap muslim” (HR. Thabrani)

Seorang Muslimpreneur tidak hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri melainkan harus memberikan manfaat kepada yang lain. Bagi seorang muslimpreneur, berbisnis merupakan bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Bag seorang muslimpreneur, persaingan tidak dimaknai sebagai usaha mematikan kompetitor, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang lebih baik dari pesaingnya. Memposisikan pesaing sebagai benchmark (pembanding) terhadap bisnisnya sehingga menjadi bahan untuk membangun bisnisnya.

Muslimpreneur harus bersikap profesional dalam menjalankan bisnisnya, sikap professional meliputi 3 hal yang harus dimiliki :

  1. Kafa’ah, cakap atau ahli dalam bidang pekerjaan yang dilakukan.
  2. Himmatul-‘amal, memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi.
  3. Amanah, bertanggung jawab dalam menjalankan setiap tugasnya.

 

Pendapat Ulama Dinilai Jadi Pertimbangan Milenial Muslim Pilih Pemimpin

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Politisi milenial muslim, Agastya Harjunadhi menyatakan sikap kritis idealis yang dimiliki kebanyakan kaum milenial membuat pembelahan pilihan dalam Pilpres April 2019.

“Dalam konteks kedua calon presiden/wapres saat ini, tentu akan bermacam-macam. Tergantung basis pengetahuan dan kultural masing-masing individu generasi milenial,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com Sabtu (16/2/2019).

Pemuda yang pernah menjadi Youth Leader of Indonesian Ambassadors for Malaysia, Kemenpora RI tahun 2014 menilai para milenial cenderung mengikuti elit ulama yang menurut mereka bijak, cerdas, amanah dan terbukti loyal terhadap ummat.

“Sikap rasionalitas milenial muslim membuat mereka akan semakin kuat dan rasional dalam memilih pemimpin/wakil rakyat yang integritas moral dan intelektualnya jelas bervisikan keummatan,” ujarnya.

Agas menjelaskan, umumnya segmentasi pemilih di Indonesia terbagi menjadi empat, yakni rasional, konservatif, swing (belum menentukan pilihan), dan apatis. Empat segmentasi ini pun pasti ada di kalangan milenial.

“Bukan anak muda namanya jika cepat puas. Anak muda seharusnya terus mencari informasi lebih akurat agar dirinya tetap memiliki kontribusi positif atas apa yang ia yakini,” pungkasnya.

Pasalnya, orang memilih pemimpin pasti berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, karena pengetahuan akan mendasari keyakinan.

“Dalam hal ini, jika kita tidak cukup sabar menggali informasi, sebagai muslim kita perlu bertanya kepada orang yang lebih tahu (ulama) agar terhindar dari kebingungan yang menyebabkan golput sehingga merugikan perjuangan ummat di bidang politik. Karena, satu suara kita sangat penting untuk meloloskan politisi yang amanah dan peduli kepada ummat,” tuturnya.

Ketua PA 212 Diperiksa, Umat Islam Gelar Aksi Depan Mapolresta Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com) – Ratusan umat Islam Soloraya kembali melakukan unjuk rasa di depan Mapolresta Surakarta, Sabtu (16/2/2019). Aksi ini sebagai bentuk dukungan untuk Ketua Presidium Alumni 212, Ustaz Slamet Ma’arif yang akan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Polda Jawa Tengah, Semarang.

Slamet Ma’arif ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pelanggaran kampanye dalam acara Tabligh Akbar 212 di Solo pekan lalu.

“Ini adalah bentuk kriminalisasi terhadap ulama, kita tau ustadz slamet ma’arif adalah ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212,” kata ustaz Yusuf Suparno sekjen Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dari atas Mobil Komando.

“Namun di pihak lain ada juga yang melakukan pelanggaran pemilu sudah dilaporkan tapi tidak ditangani, ini adalah bentuk ketidakadilan,” imbuhnya.

Sementara itu, ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustaz Muinudinillah Basri membantah adanya kegiatan kampanye di aksi Tabligh Akbar PA 212 di Bundaran Gladak, Ahad (13/1/2019) yang lalu.

“Bahwa panitia juga telah menyampaikan kepada masyarakat bahwa Tabligh Akbar PA 212 adalah murni kegiatan keagamaan bukan kegiatan kampanye,” ujarnya.

Ia mengkritisi status tersangka yang diberikan pihak aparat kepada ustaz Slamet Ma’arif yang terkesan dipaksakan.

“Bahwa Proses hukum terhadap KH Slamet Ma’arif berbeda dengan penanganan kampanye tanpa ljin yang melibatkan lbunda Jokowi di Sukoharjo Bulan Januari 2019 yang terdapat unsur kampanye tanpa ijin,” paparnya.

“Namun hanya diberi sanksi administrasi oleh Bawaslu Kabupaten Sukoharjo,” tandasnya.

Politisi Milenial Muslim Ajak Generasi Muda Melek Politik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemilu 2019 tinggal 2 bulan lagi. Pada pemilu tahun ini, kalangan milenial menjadi mayoritas . Sedangkan, diantara konstituen politik di Indonesia yang agak jarang memperoleh ekspose dalam pembicaraan politik adalah kelompok milenial muslim.

Menanggapi hal tersebut, politisi milenial muslim, Agastya Harjunadhi menilai Indonesia sebagai mayoritas berpenduduk muslim memiliki 80% dari 90 juta milenial. Maka dari hasil tersebut populasi milenial muslim mencapai 72 juta jiwa.

“Jumlah ini sangat cukup untuk meloloskan setidaknya 9-10 partai politik dalam batas Parliamentary Threshold 4%, merujuk DPT Pemilu 2019 menurut KPU adalah 185 juta jiwa,” katanya saat dihubungi Jurniscom, Sabtu (16/2/2019).

Pria yang juga menjabat sebagai Co-founder Islamic Leadership Academy menjelaskan, karakter fitrah anak muda umumnya adalah kritis, dinamis, proaktif/antusias, dan idealis. Karakter itulah yang menggiring jiwa mereka untuk tak pernah puas dalam melakukan yang terbaik.

Sedangkan dalam hal politik, lanjutnya, umumnya gerakan anak muda ini memberikan edukasi pentingnya milenial untuk aktif dan partisipatif dalam pemilu.

“Karena pemilu adalah proses politik dalam memilih pemimpin. Agama mengajarkan bahwa penting memilih pemimpin yang kuat, cerdas, dan amanah. Karena pemimpin akan memegang kendali, kuasa dan kebijakan hajat hidup orang banyak. Jika tidak amanah, tak mungkin tercipta kehidupan yang baik bukan,” ujarnya.

Pasalnya, sikap amanah dalam memimpin, serta mengerjakan tugas, inilah yang secara kokoh diajarkan dan dibina dalam agama yang diikuti oleh banyak milenial muslim.

“Sehingga agama pasti menjadi panduan atas preferensi politik mereka demi terwujud wakil rakyat/pemimpin yang membawa banyak kemaslahatan bagi ummat,” pungkasnya.

Dua Jurnalis Foto Palestina Raih Penghargaan Bergengsi di Amerika

RAMALAH (Jurnalislam.com) – Dua jurnalis foto asal Palestina yang bermarkas di Jalur Gaza memenangkan penghargaan Picture of the Year International (POYI) ke 76 Missouri School of Journalism di Columbia, Amerika Serikat. Mereka adalah Mohammad Salem Jadallah dan Mohammad Asad. 

Missouri School of Journalism adalah salah satu sekolah jurnalis paling bergengsi di dunia.

Mohammad Salem Jadallah, yang bekerja untuk kantor berita Reuters, mengatakan bahwa karya fotonya tentang empat remaja Palestina yang sedang menangis melihat saudaranya meninggal di Rumah Sakit karena ditembak tentara Israel di perbatasan pada 18 Juni 2018 lalu. Foto tersebut berhasil memenangkan kategory Award of Excellence for The Picture Story.

Sementara itu, Mohammad Asad, seorang jurnalis foto lepas, juga memenangkan Award of Excellence untuk fotonya Faris Sirsawi (12). Dalam foto tersebut Faris berpegangan pada tandu sementara paramedis berusaha mengevakuasinya setelah ia ditembak di dada dari daerah perbatasan. Sirsawi meninggal tak lama setelah itu.

POYI adalah program dan kompetisi foto jurnalistik tertua dan paling bergengsi di dunia. Foto-foto yang menang biasanya diposting di pameran di New York City.