LPBH-NU Pertanyakan Kredibilitas Saksi Ahli Terlapor dari Luar Negeri

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rencana polisi untuk mendatangkan saksi ahli asal Mesir, Mustafa Amr Wardani, dalam gelar perkara kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur Ahok, mendapat berbagai kecaman.

Salah satunya datang dari Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU), Joko Edhi Abdurrahman.

Sebagaimana dilaporkan JITU News Agency (JNA), kedatangan Amr Wardani ke Indonesia, menurut penjelasan Kapolri Tito Karnavian adalah sesuai permintaan Ahok sebagai pihak terlapor.

Meskipun begitu, hal tersebut dipertanyakan Joko Edhi, lantaran kapasitas Mustafa Amr Wardani dan lembaganya yang tidak seperti MUI. Menurutnya, fatwa dari lembaga agama luar negeri cenderung akan bertentangan dengan fatwa MUI.

“Untuk apa ini? Lembaga ini (Amr Wardani) tidak memiliki kredibilitas tinggi,” ujar Joko dalam Diskusi “Perkiraan Arah Gelar Perkara Ahok” di Tebet, Jakarta Selatan pada Senin (14/11/2016).

Menurut mantan anggota DPR-RI Komisi III dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu, kegaduhan terjadi yang diakibatkan kasus Ahok akan selesai jika hukum tegak atas Ahok. Kegaduhan semakin besar menurutna lantaran proses hukum yang lamban.

“Tahan tuh Ahok kan selesai. Tapi ini kan tidak,” kata dia.

Reporter: Nizar Malisy/JITUNewsAgency

Serikat Pekerja: Peningkatan Angka Kemiskinan Diakibatkan Kebijakan Ahok Pro Pemodal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menyebutkan akan ikut serta bersama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) untuk mendesak pemerintah menegakkan hukum secara adil terhadap pelaku penista agama.

“Kami akan ikut serta bersama gerakan bela Islam GNPF MUI, kami menuntut pemerintah menegakkan supremasi hukum. Persoalan gerakan penistaan agama itu adalah melawan hukum yang dimain-mainkan, supremasi hukum direndahkan,”tutur Said Iqbal kepada Jitu Nes Agency (JNA) di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).

Iqbal menjelaskan, peningkatan angka kemiskinan ini diakibatkan kebijakan Ahok yang pro terhadap pengusaha tertentu, tanpa memberi kesempatan untuk yang lain.

“Sama saja dengan supremasi hukum penistaan agama, upah murah pun supremasi hukumnya direndahkan, arogansi kekuasaan melindungi total pemilik modal,” ujar Said.

Jadi semua kebijakan yang dikeluarkan oleh Ahok, kata Said adalah untuk melindungi pemilik modal yang memiliki kepentingan besar untuk menguasai Indonesia.

“Tentang siapa pelindung Ahok, itu jelas pemilik modal di belakangnya, bukan hanya itu dengan Ahok menetapkan minimum lebih murah dari daerah-daerah lainnya, Itu semua melindugi pemilik modal,” jelasnya.

Kemunculan Ahok di tengah masyarakat dengan dijadikannya menjadi Gubernur DKI Jakarta menurut Said adalah merupakan simbol bagi para penguasa untuk terus dapat leluasa mengambil keuntungan.

“Kemunculan Ahok sebagai Gubernur adalah untuk melindungi pemilik modal. Kami melawan reklamasi dari dulu, jadi jangan curigai kami. Sikap KSPI sudah jelas melawan reklamasi dan penggusuran dari dulu,”ungkapnya.

Reporter: Haikal/JITUNewsAgency

Dinilai Sebagai Simbol Kekuasaan Pemilik Modal, KSPI: Ahok Harus Diganti

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menilai adanya kekuatan pemilik modal yang berada di belakang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menimbulkan kesan seolah ada pejabat yang bias kebal hukum.

“Ahok ini simbol dari pemilik modal, ada reklamasi, penggusuran, upah murah, supremasi hukum penista agama diabaikan, jelas saja karena Ahok dilindungi pemilik modal yaitu penguasa Cina,”ungkap Said kepada JITU News Agency (JNA) di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).

Ia menuturkan, adanya kekuatan kekuasaan pemilik modal tersebut harus dihancurkan jika tidak ingin asing dan aseng menguasai kekayaan bangsa Indonesia.

“Jika ingin selamatkan bangsa kekuatan kekuasaan pemilik modal ini kalau simbolnya tidak dihancurkan ya akan terus-terusan dimiskinkan terus negeri ini, dikeruk kekayaan negeri ini, korupsi akan terus merajarela karena kekuasaan penguasa melindungi pemilik modal,” ujarnya.

Said memberikan julukan kepada Ahok Si Bapak Upah Murah’ karena berkaitan dengan penilaiannya soal upah minimum provinsi (UMP) di DKI yang selama ini kalah jumlah dengan UMP yang ditetapkan Pemerintah Bekasi dan Karawang.

“Bapak tukang gusur orang kecil, Bapak upah murah, Bapak penistaan agama ini selama kepemimpinan upah DKI itu selalu di bawah Bekasi dan Karawang, enggak masuk akal,” jelas Said.

Said mengatakan, ke depan, ia menginginkan Jakarta dipimpin gubernur yang memiliki hati nurani dan visi yang jelas untuk menyejahterakan masyarakat.

“Karena itu, Ahok harus segera diganti ‎dengan gubernur yang pantas memimpin Jakarta,” katanya.

Reporter: Haikal/JITUNewsAgency

 

KSPI Tegaskan Tolak Wacana Asuransi Pengangguran

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menolak wacana asuransi pengangguran.

“Ini persoalan tentang arogansi kekuasaan yang melindungi kepentingan pemilik modal, apalagi pemerintah mulai mewacanakan asuransi pengangguran. Kita menolak karena mau menghapus pesangon, kalau tidak menghapus pesangon tentu kita mengapresiasi,” ungkap Said kepada JITU News Agency (JNA) di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/11/16) siang.

Tentang penetapan upah minimal dalam PP No 78, Said meminta untuk menaikan nilainya di atas yang sudah ditentukan.

“Karena ada kepentingan pemilik modal, nah yang kita minta Bupati dan Walikota untuk menetapkan upah minimum kisaran kenaikannya adalah di atas nilai PP 78 ialah yang nilainya 8,25 %, kita minta kenaikannya dari buruh usulannya adalah 15 % sampai 20 %,” tuturnya.

Jika tidak dipenuhi, Said mengancam akan mengajukan Pengadilan Tata Usana Negara (PTUN) serta mogok nasional.

“Kalau itu tidak dipenuhi tuntutan tersebut kita akan melakukan langkah-langkah PTUN, dan langkah yang paling besar tadi selain PTUN adalah mogok nasional bersamaan dengan gerakan bela melawan penistaan agama atau kami menyebutnya gerakan rakyat,” pungkasnya.

Anggota ILO (Internasional Labour Organization) menyatakan bahwa Indonesia mempunyai rata-rata upah yang sangat murah.

“Upah Indonesia ini sudah sangat murah, kalau kita pakai data ILO. Buruh Indonesia upahnya 174 US dolar, sementara Vietnam jauh di atas Indonesia, rata-ratanya 181 US dolar per bulan,” paparnya yang juga didampingi oleh Sekjend KSPI Muhammad Rusdi.

Said juga mengungkapkan siap bergabung dengan seruan aksi bela Qur’an yang rencananya akan kembali digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI).

Reporter: Ali Muhtadin/JITUNewsAgency

Dosen Fikom Unpad Ungkap Alasan Mengapa Banyak Media Pro Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ramainya dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), tak lepas dari pemberitaan di media. Menurut Dosen Jurnalistik Fikom Unpad, Maimon Herawati M.Litt, ada dua kubu pemberitaan antara yang pro dan kontra.

Namun secara ideologi, banyak media menunjukan keberpihakannya pada Ahok. Atau, media yang menentang terjadinya aksi 4 November lalu, dan memberitakan berita yang ‘kurang sedap’ atas demonstrasi besar itu.

Terkait media pro-Ahok, ia menuturkan sebabnya ada dua. Pertama, karena hirarki pengaruh. Bisa jadi, kata Maimon, ada banyak jurnalis di bawah media tersebut yang tak setuju, tapi penentuan produksi berita ada di tangan kordinator liputan atau redaktur.

“Dan titik berdiri para redaktur ini yang mempengaruhi titik berdiri suatu media,” jelas ahli ilmu komunikasi ini kepada JITU News Agency (JNA), pada Senin (14/11/2016).

Kedua, media yang oportunis. Kategori kedua ini, ujarnya, menjadikan isu penistaan agama sebagai alat untuk kepentingan bisnis pemilik media. Tak peduli pada siapa berpihak, yang penting bagi media tersebut adalah jumlah klik yang membuat mereka mendapat uang dari iklan yang masuk.

Kendati banyak media menunjukan keberpihakannya pada Ahok, Maimon menyebut tak sedikit pula yang idealis. Mereka mencoba melawan arus media mainstream dengan menyajikan berbagai sudut pandang berita yang menuntut kasus penistaan agama tersebut segera ditangani secara adil.

“Saya lihat, ada beberapa media yang idealis, tapi hanya sedikit jumlahnya,” kata salah satu pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) ini.

Reporter: Aghniya/JITUNewsAgency

Teuku Nasrullah: Dalam Kasus Ahok, MUI Sudah Terdegradasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ahli hukum pidana Teuku Nasrullah menyatakan, sejak dahulu Majelis Ulama Indonesia (MUI) selalu menjadi rujukan pemerintah jika menyangkut perkara hukum yang beririsan dengan agama. Namun, saat ini posisi MUI seolah-olah terdegradasi ketika aparat menangani kasus penistaan agama oleh Ahok.

“Dulu banget, rujukannya ke pendapat MUI. Waktu itu Kabareskrim bilang menunggu pendapat MUI (dalam kasus Ahok, red). Sekarang MUI terdegradasi. Tidak lagi jadi rujukan. Kita lihat saja,” kata Nasrullah, di Rumah Amanah Rakyat, belum lama ini.

Menurutnya, sejumlah kasus penistaan agama seperti yang terjadi pada kasus penistaan agama oleh aliran Al-Qiyadah Islamiyah, Gafatar, Lia Eden, Musadek dan sebagainya selalu merunut pada pendapat Majelis Ulama Indonesia.

Di sisi lain, ada pendapat ahli hukum tatanegara yang menyatakan ucapan Ahok adalah kebebasan berpendapat yang dijamin UU. Tapi kebebasan berpendapat juga ada rambunya.

“Jangan sampai kebebasan berpendapat menafikan keberadaan hukum pidana,” ujar dia.

Dosen hukum Universitas Indonesia ini menambahkan penuntut umum tidak perlu membuktikan adanya perasaan ketersinggungan agama dalam pasal 156 a tentang penistaan agama.

“Penistaan itu masuknya delik formil. Penuntut tidak perlu membuktikan unsur kesengajaan karena peristiwanya sudah terjadi. Ditambah lagi, banyak masyarakat yang berdemo (karena ucapan Ahok, red). Ini sudah menunjukkan adanya pelanggaran ketertiban umum,” tambah Nasrullah.

Reporter: Fajar Shadiq

HNW: Aksi Bela Quran III Bukti Umat Islam Tidak Main-main

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Umat Islam direncanakan akan menggelar Aksi Bela Quran III bila Ahok tidak ditangkap. Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa langkah itu merupakan komitmen ummat Islam dalam penegakan hukum.

“Itu adalah komitmen rekan-rekan yang telah melakukan demo dengan damai, mereka ingin menyampaikan kepada penegak hukum bahwa tuntutan mereka bukan main-main. Tuntutan mereka untuk menegakkan hukum, bukan untuk anarki,” katanya kepada wartawan di Stadion Patriot Candrabhaga Ahad (13/11/2016).

Ia juga berharap, bila Aksi Bela Quran III pada 25 November benar, agar tidak dihadapi dengan represif. Namun kepolisian harus melihat bahwa yang dilakukan Ahok adalah masalah yang serius.

“Maka saya berharap, informasi yang beredar tentang demo 25 November itu jangan disikapi dengan memanas-manasi, atau dirancang untuk melakukan infiltrasi, atau dilakukanya penunggangan tapi betul-betul dianggap sebagai masalah yang serius karena sudah menyangkut pada keadilan publik. Saya sampaikan, beragam kasus penistaan agama bisa ditegakkan hukum,” tuturnya.

“Jangan sampi hanya karena satu orang, teradu domba lah antara TNI/Polri dengan ummat Islam. Masak hanya karena satu orang Indonesia dibikin gaduh,” sambungnya.

Meski demikian, putusan Ahok bersalah atau tidak, ia meminta publik menunggu. Tapi ia menegaskan agar polisi mampu menegakkan hukum dengan seadil-adilnya.

“Kita tunggu saja, karena pak Jokowi menegaskan tidak akan melakukan intervensi dan tidak akan melindungi Ahok, Saya harap rekan-rekan polisi mampu menegakkan hukum setegak-tegaknya,” tandasnya.

Reporter: Taufiq Ishak/JITU

Banser, LBH, Muhammadiyah Bantah Akan Ikut ‘Parade Bhineka Tunggal Ika’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kabar akan diadakanya Parade Bhineka Tunggal Ika pada 19 Nopember 2016 meluas di media sosial. Dalam pengumumannya, tertera nama sejumlah tokoh nasional yang akan mengikuti parade yang dinilai sebagai tandingan aksi 411. Namun, sejumlah nama membantah ikut memberi dukugnan.

Seperti pernyataan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Haedar Nasir yang menolak dirinya disebut ikut ambil bagian dalam aksi pengerahan massa itu.

“Sehubungan dengan acara Aksi Bhineka Tunggal Eka/Pawai Kebhinekaan yang akan digelar 19 November 2016 di Bundaharan HI Jakarta oleh Panitia Pawai Kebhinekaan/Aksi Bhineka Tunggal Ika dan terkait pencantuman nama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Umum Abdul Mu’ti pada kegiatan aksi tersebut, maka diinformasikan bahwa Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti tidak pernah dihubungi dan tidak tahu menahu namanya dicantumkan dalam rancangan daftar rencana Aksi Bhineka Tunggal Ika tanggal 19 November 2016 tersebut,” demikian pernyataan Sekretariat PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’ti, sebagaimana disampaikan anggota Majelis Pustaka & Informasi PP Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya.

Selain Haedar Nasir, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan penyanyi dan presenter Melanie Subono juga membantah keterlibatannya dalam aksi tersebut.

“Dengan ini, LBH Jakarta melakukan klarifikasi bahwa staf kami yang bernama M. Isnur dan Widodo Budidarmo menyatakan tidak mengetahui dan sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan tersebut,” ujar Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Alghiffari Aqsa, SH sebagaimana broadcast yang beredar di media sosial.

Meski demikian, LBH Jakarta mengaku tetap mendukung segala gerakan yang merawat Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika, menjalankan kehidupan bernegara secara konstitutional dan penegakkan hukum yang berkeadilan.

Sementara itu, dalam akun twitternya @melaniesubono, Melanie Subono merasa dicatut namanaya mengaku tak pernah dihubungi, namun namanya tiba-tiba muncul dalam pengumuman rencana aksi.

“Hai @TsamaraDKI anda akan bikin acara tgl 19, KENAPA nama saya ada di blast acara ya? Boro2 kenal, dihubungi, saya bahkan TDK D JKT tgl itu,” tulis Melanie.

Klarifikasi juga disampaikan Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser). Kasatkornas Banser, H Alfa Isnaeni menegaskan Banser tidak mengikuti aksi Parade Bhineka Tunggal Ika.

“Dengan ini, Satkornas Banser melakukan klarifikasi bahwa Satkornas Banser menyatakan tidak mengetahui dan sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan tersebut,” kata dia dilansir nu.or.id, Sabtu (12/11/2016).

Berikut undangan yang tersebar di media sosial:

Dear kawan2,
Hasil perkembangan diluar, utk menyelamatkan kebhinekaan instruksi tunggal : Gerak di tgl 19 nov

Konsolidasi 11 November 2016

Tanggal Aksi: 19 November

Tempat: Parkir Timur Senayan-Bundaran HI (tentatif, lihat massa konkret)

Posko: MAARIF Institute

Nama Aksi: Parade Bhinneka Tunggal Ika
Target Massa: 100rb

Jaringan Relawan 40rb (jangan pakai atribut partai)
Semut Ireng 100rb
Desa 50rb
RelaNU
Banser
RMJ
Jamaah Habib Lutfi (30 Rb)

Tuntutan Isu:
Merawat Indonesia sebagai Negara Bhinneka Tunggal Ika.
Mempertahankan Pemerintah Konstitusional.
Menjalankan Penegakan Hukum yang Berkeadilan.

Kostum: Merah Putih & baju adat.

Tagline: #BerbedaItuIndonesia
Kepanitian:
Penanggungjawab: Seluruh jaringan.

Ketua Panitia: Tsamara Amany Alatas.

Sekretaris: Teh Nong.

Bendahara: Mayang (TII).

Korlap: Jaringan Relawan (Yustian), Perangkat Desa (orang Desa), Semut Ireng (?).

Acara : Teh Netty, Tommy (timnya mbak Netty (FKI), Ulin Yusron (Netizen), Agnes (ANBTI), Renny, (MAARIF Institute), Farid, Dina, Solihin (Tim Desa), Olga Lidya, Zahra (Jaringan Relawan)

Pendanaan : Hasan (Jaringan Relawan), Toni (MAARIF Institute)

Media: Thowik, Andy Budiman (Sejuk).

Dokumentasi: Pak Kris, Firdaus

Keamanan : Banser

Perlengkapan : Widodo (LBH Jakarta), Alex (Jaringan Relawan)

Perijinan : Isnur (LBH Jakarta)

Kebersihan : Fathony, Milly (Jaringan Relawan)

Medis : dr. Maria Mubarika (JAI)

Konsumsi: Ellen (ANBTI), Henny (MAARIF Institute), Arum (Jaringan Relawan), Dwi Endang Sabekti (ANBTI).

Acara:
Konser
Dzikir
Orasi
Doa Lintas Agama

Nama Tokoh
Buya Syafii (Darraz)
Gus Mus (Teh Nong)
Habib Luthfi (Tsamara)
GKR Hemas (Teh Nia)
Pdt. Eri Lebang (Teh Nia)
Pdt. Yewangoe (Teh Nia)
KH. Ishomuddin (Teh Nong)
Budiman Sudjatmiko (Firman)
Mgr. Ign. Suharyo (Darraz)
Pdt. Gomar Gultom (Teh Nia)
Haedar Nashir (Fajar)
Abdul Mu’ti (Fajar)
Said Agil Siradj (Guntur Romli)
Bikkhu Panyavaro (Darraz)
Uung Sendana (Teh Nia)
Pengeran Jatikusumah (Teh Nia)
Pedanda Tianyar Sebali (Teh Nia)
Shinta Nuriyah (Teh Nia)
KH. Hussein Muhammad (Teh Nong)
Abdillah Toha (Darraz)

Artis/Budayawan (minimal 10 artis)
Iwan Fals
Slank
Tompi
Glenn
Sandi Sandoro
Kevin Aprilio
Tristan
Widi
Giring
Project Pop
Poppy
Sarah Sechan
Joe Taslim
Erwin Gutawa
Gita Gutawa
RIF
Kahitna
Ahmad Albar
Ian Antono
Joki Suryoprayogo
Kla
Maia Estianty
Ernest
Titiek Puspa
Mira Lesmana
Indra Bekti
Gading Martin
Olga Lidya
Anya Dwinov
Michael Idol
Vino G. Bastian
Melanie Subono
Andien
Cinta Laura
Cherry Belle
JKT 48
Uya Kuya
Chelsea Islan

*artis/budayawan yang berhalangan hadir membuat video campaign selama 30 detik dengan tagline yang telah ditetapkan
Rundown
Disusun setelah nama-nama tokoh/artis/budayawan confirm. Dump

Reporter: Nurkholis/JITU

Jika Ahok Tak Ditangkap, Umat Islam NTB Akan Tolak Kedatangan Presiden

MATARAM (Jurnalislam.com) – Aliansi Umat Islam (AUI) NTB akan menolak kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke NTB pada 22-23 November mendatang. Jokowi direncanakan membuka Pameran Teknologi Tepat Guna se-Indonesia yang akan dihelat di Lombok, NTB.

“Langkah penolakan ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat muslim NTB terhadap lambannya penyelesaian kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok),” kata Ketua AUI NTB, Deddy AZ kepada wartawan dikutip dari Samawera, Jumat (11/11/2016).

Ia menilai, pemerintah juga terkesan bertele-tele dalam menyelesaikan persoalan yang pada akhirnya memantik reaksi keras dari umat muslim se-Indonesia. Selain itu, langkah penolakan juga tak lepas dari keengganan presiden menemui jutaan massa aksi dalam demo akbar pada Jumat 4 November lalu.

Deddy melanjutkan, akan ada dua bentuk aksi yang rencananya dilakukan, dan hal ini tergantung sikap presiden dalam menyelesaikan persoalan Ahok.

“Kalau (Ahok) ditangkap sebelum tanggal 22, kita aksi simpatik dan terima kasih telah menangkap. Kami akan sambut Jokowi dengan karangan bunga,” ujarnya.

Akan tetapi, ia katakan, apabila sampai 22 November belum ada penangkapan terhadap Ahok, AUI NTB dengan tegas dan keras menolak kedatangan presiden ke NTB.

“Kalau belum ditangkap sebelum tanggal 22, kita aksi menolak Jokowi datang dan menginjakkan kaki di NTB,” tegasnya.

Reporter: Sirath

Jalan Juang Pak Oye, ‘Jika Hanya Tersisa Seorang yang Berjihad, Maka Seorang Itu Adalah Saya’

Malam sudah larut, namun Hermalina, wanita paruh baya itu masih asyik menyetrika baju koko dan sorban putih yang akan digunakan suaminya, Syachrie Oemar Yunan (65), pagi-pagi sekali akan berangkat mengikuti aksi damai Bela Islam menuntut keadilan bersama jutaan kaum muslimin lainnya di depan Istana negara.

Masih ingat dalam benak ibu tujuh anak ini, beberapa hari ini, suaminya nampak sangat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. “Bapak sangat semangat sekali, sampai mengajak tetangga-tetangga untuk berjihad. Beliau menyebut aksi tanggal 4 November sebagai jihad,” kenang Hermalina kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Sabtu (5/11/2016) di kediamannya di bilangan Binong Kabupaten Tanggerang.

Malam itu, ditatapnya lamat-lamat wajah suaminya yang tak lagi muda, sedang pulas tertidur setelah ba’da isya berkeliling kampung mengajak warga untuk ikut membela Islam Jumat ini. Herlina tak kan pernah menyangka, malam itu akan menjadi malam terakhir bersama sang belahan jiwa.

“Saya benar-benar nggak pernah menyangka. Mungkin karena beliau benar-benar sudah ikhlas ingin berjihad, tidak ada pesan khusus apapun” kenang Hermalina. Namun, tetangga-tetangga yang didatangi Syahrie menyampaikan keanehan pada Syachrie. “Wajah bapak nampak cerah dan bercahaya malam itu,”kata Hermalina mengenang.

Syachrie Oemar Yunan, dikenal kerabat dan tetangga dengan panggilan karib Pak Oye. Beliau merupakan tokoh sepuh di RW 07 Binong Permai Kabupaten Tanggerang yang konsern pada umat apalagi ketika al Quran dinista.

Memang, pernah terjadi diskusi antara sejoli ini, mengapa Syachri yang sudah sepuh, berusia lebih dari kepala 6 harus capek-capek ikut aksi damai. “Kita ini membela al Qur’an dari si penista, jangan takut mati untuk membela kebenaran,” nasihat Syachrie bergebu-gebu kepada Harmalina yang terus terngiang-ngiang.

Jangan takut mati untuk membela kebenaran

Maka, pagi itu Syachrie Oemar berangkat sebagi seorang mujahid. “Beliau berkali-kali menyebut aksi damai itu adalah jihad membela al Qur’an,” kata Dede Winata, kerabat dekat Syachrie yang juga warga Tanggerang. Beberapa malam sebelum keberangkatan, di rumah Dede berkumpul para sesepuh yang akan melaksanakan aksi.

“Saya masih ingat kata-kata beliau yang begitu menyentuh,” kenang Dede. Kata-kata yang menurut Dede begitu membekas di hadapan para hadirin. Inilah kata-kata Syachrie yang kelak terwujud.

“Jika ada 1000 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 100 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 10 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika hanya tersisa seorang yang berjihad, maka seorang itu adalah saya”

Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang.”Doakan saya mau berjuang,” kata Syachrie menatap sang belahan jiwa setelah diam mematung cukup lama di depan pintu rumahnya. Itulah ucapan terakhir Syachrie kepada Herlina.

bupati tangerang bersama istri almarhum pak oye
bupati tangerang bersama istri almarhum pak oye

Pagi itu, Syachrie sendiri yang menyetir mobil bermuatan enam orang itu. “Saya berangkat tujuh orang, bersama Pak Oye, Pak Acang, Pak Ganda, Istri dan dua anak saya si Ben sama Aurel,” kata Wawan, tetangga Pak Oye yang merupakan jamaah ustaz Subki.

“Beliau berangkat dalam keadaan sangat sehat dan bersemangat, mobil aja dia yang nyetir,” kata Wawan. Beberapa hari sebelumnya, memang kata Wawan, sebagai sesepuh kampung, Pak Oye terus mengajak warga untuk membela al-Qur’an.

“Padahal beliau bukan anggota parta politik apapun, bukan anggota ormas mana pun, beliau pencinta zikir dan shalawat, murni karena ingin membela al-Qur’an,” Dede Winata menambahkan. Saking semangatnya, Wawan, karibnya memutuskan untuk cuti kerja.

“Ini jihad kita membela al Quran, bahkan kalau harus mati kita jalanin,” Pak Oye membuat Wawan terenyuh dan memilih bergabung bersama massa. “Saya tanya istri, dia juga mau ikut, sekalian saya mau nengok ke rumah mertua saya,” kenang Wawan.

Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang. Semobil dengan Pak Oye, Wawan begitu takjub mendengar beliau hanya berzikir dan membaca shalawat tak henti-hentinya. “Saya sama istri diturunin di Kota Bambu, saya ajak beliau mampir makan dulu, tapi beliau bilang mau ke Tanah Abang, kan dia banyak teman di sana,” kata Wawan yang akhirnya berpisah dengan pak Oye.

Suganda, yang hingga detik-detik akhir bersama dengan Pak Oye mengisahkan semangat beliau dan nostalgia Pak Oye bersama kawan-kawannya di Tanah Abang. “Jam 08 pagi kita sudah sampai di Tanah Abang, entah kenapa beliau mau ketemu teman-teman lamanya yang sudah 15 taun nggak ketemu, kangen katanya,” kata Suganda.

Suganda memperhatikan Pak Oye benar-benar menikmati silaturahim dengan kawan-kawannya, karena Pak Oye merupakan orang asli Betawi. “Obrolan beliau sepertinya begitu membekas bersama kawan-kawannya. Kita lanjutin shalat Jumat di Masjid Istiqlal, tapi ga memungkinkan karena sepanjang jalan sudah penuh,” kata Suganda.

Akhirnya, Pak Oye dan Suganda shalat bersama di Masjid Ar Rahal di bilangan Abdul Muis. “Beres Jum’atan kita makan, kita bawa bekel. Kita makan kesukaan beliau, pepes ikan,” kata Suganda.

Suganda mengenang, Rabu malam, Suganda membawakan pepes ikan kembung dan dimakan lahap berdua bersama Pak Oye. “Sampe dia catet sendiri resepnya pake HP, eh sekarang dia bawa pepes,” kata Suganda. Usai makan, mereka bergerak, bersatu dengan lautan manusia menyusur Abdul Muis hingga jalan Budi Kemuliaan.

“Selama di perjalanan beliau sangat sehat, sangat bersemangat,” kata Suganda yang menemani perjalanan beliau. “Beliau tak henti-hentinya berzikir dan shalawat dengan semangat, memang beliau pencinta shalawat,”tambahnya.

Senja. Kuning keemasan, menaungi lautan manusia yang menyemut seakan tak berujung di sudut-sudut jalan protokol Ibu Kota. Suganda dan Pak Oye tiba di Patung Kuda, ujung Jalan Merdeka Barat dan Thamrin, bergabung dengan jutaan manusia yang terus menerus menyerukan keadilan.

Beristirahat sejenak, dengan semangat menggebu dan kondisi prima, Pak Oye berniat melanjutkan maju ke Istana, bersua dengan ulama mereka. “Saya baru teringat ucapan beliau di Patung Kuda, dia bilang mungkin bercanda.’Da, sampe sini aja kali ya kite, habis ini pisah kali ya’” katanya.

Suganda cuman bisa nyengir. “Maksudnya gimana? Jangan gitu dong, nanti kite balik yang nyetir siape?” kata Suganda sambil terkekeh. Mereka berdua menyusur lautan manusia hingga sampai di Ring 1 dekat para ulama dan habaib di depan. “Kira-kira di sebelah kanan para ulama, dekat monas,” kata Suganda.

Kumandang azan syahdu menggantung di langit Istana Merdeka, di hadapan jutaan massa aksi damai bela Islam. Pemandangan dramatis, saat jutaan manusia di jalanan bersama melafalkan kalam suciNya, berdiri, rukuk dan sujud dipimpin para ulama.

Selepas isya, Suganda masih bersama Pak Oye membelakangi Monas bersama lautan manusia. Sejauh mata memandang, para ulama itu masih dengan sejuk melafalkan takbir. Para demonstran pun berdiam rapi, termasuk Suganda dan Pak Oye.

Tetiba, insiden itu pecah. “Kami tiba-tiba ditembakkin gas air mata,” kata Suganda kaget. Padahal, posisinya di dekat monas dan para ulama merupakan kondisi yang damai dan tertib. Dalam kepanikan, suara tembakkan terus menggelegar di pelataran Istana. “Dor..dor…dor..”

“Saya kempit itu Pak Oye, saat itu saya udah perih banget, rasanya udah ampir setengah mati, kita tiba-tiba ditembakin gas air mata,” kenang Suganda yang berusaha melarikan diri tapi tak bisa karena massa penuh sesak.

Sedikit demi sedikit, ia merapat ke daerah pagar monas yang dirasa aman dari tembakkan. “Eh kita ke kanan malah ditembakin juga, saya bawa tuh Pak Oye,” katanya. Ia pun mundur sedikit dekat dengan pepohonan dan pagar. Di atas mobil, ulama terus berzikir, meminta massa agar tidak maju dan meninta polisi untuk berhenti menembak. (baca laporan pandangan wartawan anggota JITU di tempat kejadian)

Sejenak menepi dari tembakan yang terus menderu, Suganda hanya bisa menahan sesak dan mual. “Saya lihat ke sebelah saya, ternyata beliau sudah pingsan. ‘Ye bangun Ye’” Suganda menepuk-nepuk pipi Pak Oye. Di tengah kalap dan gemuruh, Oye meminta bantuan lima hingga enam orang sekitarnya.

“Saya bopong berlima, ke kiri, eh udah ada gas air mata. Kita ke kanan juga disemprotin gas air mata, kita sampe ke pagar tinggi, mau lewatin beliau, tapi ya Allah, di situ ada pagar ada tombaknya, ga mungkin kita lempar beliau ke sana,” lirih Suganda.

Massa semakin panik setelah polisi meringsek aksi damai dan menembakkan gas air mata ke arah para ulama yang menyerukan aksi damai. Suara takbir, tahlil hingga tahmid pecah. Suganda terpojok ke pertigaan monas, terpepet. “Saat itu ada coran pembatas mobil itu, saya terjatuh, tergeletak,” kata Suganda.

Sejak detik itu, entah ke mana jasad Pak Oye yang saat itu entah masih pingsan, sudah sadar atau ternyata meninggal. Saat bersusah payah bangun, Suganda melihat pemandangan yang begitu dramatis. “Saya lihat orang-orang pingsan, ga tua ga muda,” lirihnya.

Di tengah kepanikan massa, dan keteguhan para ulama yang terus bergeming walau ditembaki gas air mata, Suganda mencari-cari Pak Oye ke sana ke mari, bertanya-tanya hingga masuk ke dalam monas k epos medis. “Di Posko sudah nggak ada, ada yang bilang ke rumah sakit Polri Kramat jati,” katanya.

“Mulai saat itu tiba-tiba saya lemas, saya kehilangan jejak,” keluhnya. Tak hilang kendali, ia berusaha mengontak putra Pak Oye, Gilang, yang juga mengikuti aksi bela Islam. “Cing posisi di mana?” tanya suara di balik telepon sana yang baru bisa dihubungi, karena sejak tadi siang entah mengapa sinyal di sekitaran istana mati.”

“Jam Sembilan lewat tiga, saya dapat kabar dari warga Binong juga, ada kabar dari rumah sakit Gatot Subroto kalau beliau sudah meninggal. Seakan nggak percaya, innalillahi wa innailaihi rajiuun,” lirih Suganda mengenang kejadian yang begitu mengagetkannya.

“Wafatnya beliau mengajarkan kita bahwa walau beliau sepuh, beliau tetap ingin mengikuti perjuangan untuk membela al-Qur’an,” kata Dede Winata mengenang. Di pengujung usia senjanya, Pak Oye menorehkan jejak yang membuat keluarga, warga hingga pemerintah setempat bangga.

“Beliau salah satu orang yang terpilih dari sekian banyak yang akhirnya meninggal. Semua masyarakat merasa bangga. Di sini orang-orang pada bilang, cocoklah kalau Pak Syachrie yang dapat (syahid, red). Semua anak-anak dan warga bangga dengan beliau,” kata Hermalina tersenyum.

Cukuplah masjid Bina Ihsani yang ia rintis 20 tahun silam menjadi saksi atas penuh sesaknya shalat jenazah beliau. Cukuplah jutaan muslim yang ikut aksi bersama menjadi saksi bahwa dia menjadi bagian dari mereka. Cukuplah berbodong-bondong warga hingga Bupati menghormati kepergiannya.

Cukuplah orang-orang yang walau belum pernah menatap wajahnya, kini berdatangan dari pelbagai daerah di Indonesia ke lorong rumahnya yang tak terlalu lebar. Kisah heroik Pak Oye kini meluber, anak-anak muda di sudut-sudut gang membincang kisahnya, para remaja hingga orang dewasa.

“Insya Allah beliau Syahid,” kata Bupati Kabupaten Tanggerang M Aziz saat melayat ke kediamannya. Pak Oye, mengajarkan kita semua tentang makna perjuangan. “Ternyata Allah kabulkan ucapannya, jika ada satu mujahid yang gugur, maka itulah beliau,” tegas Dede disambut takbir hadirin yang memenuhi jalanan di depan kediamannya.

“Sungguh, kami semua iri dengan beliau, semoga kita semua dapat melanjutkan perjuangan beliau, doakan beliau agar Allah menerima amalNya dan mendapat surgaNya,” tutup Gilly, putra sulung Pak Oye menutup kisah tentang heroisme ayahnya.

Penulis: Rizki Lesus | Rep: Fajar shadiq & MR/JITU

ucapan bela sungkawa dari bupati tangerang
ucapan bela sungkawa dari bupati tangerang