Ahad, 18 Syawal 1447 / 05 April 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Penulis: Ally Muhammad Abduh

Tabligh Akbar di Belitung, UBN Ajak Masyarakat Syukuri Nikmat

11 Mar 2018 13:40:51
Tabligh Akbar di Belitung, UBN Ajak Masyarakat Syukuri Nikmat

BELITUNG (Jurnalislam.com) – Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat bekerjasama dengan Aliansi Umat Islam Belitung (Antab) menggelar Tabligh Akbar bertema ‘Tingkatkan Iman dan Takwa, Eratkan Persatuan dan Persaudaraan Menuju Kejayaan Islam’.

Ratusan jamaah terlihat memenuhi lapangan Gedung Nasional Tanjung Pandan, Belitung, untuk mendengar taushiyah dari Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) KH Bachtiar Nasir dan Ketua MIUMI Jawa Barat, Ustadz Tiar Anwar Bachtiar.

Ustadz Bachtiar Nasir yang akrab dengan sapaan UBN itu mendapat giliran sesi tabligh kedua. Ia mengajak segenap hadirin untuk banyak mensyukuri nikmat yang Allah berikan.

“Allah menggambarkan suatu penduduk negeri yang lalai mensyukuri nikmat dari langit dan bumi. Seharusnya ketika malam tidur, jangan merasa aman, siksaan Allah bisa datang kapan saja. Sering longsor terjadi malam hari, ketika tidur langsung lenyap,” ungkap UBN mengawali taushiyahnya, Sabtu (10/3/2018) malam.

Sumber daya alam yang melimpah di bumi Bangka Belitung yaitu timah, sebut UBN, saat ini apakah menjadi nikmat bagi penduduknya atau menjadi bencana.

“Nikmat ini bukan malah mendatangkan manfaat, malah mendatangkan bencana jika tidak bisa menyikapinya dengan baik. Karena kita kurang bersyukur, karena kita terlalu banyak bermain-main dalam waktu dhuha kita, karena hakikatnya dunia adalah permainan,” ujarnya.

“Untuk itu demi menambah kualitas keimanan kita, agar Belitung ini menjadi berjaya, maka sebagaimana Qur’an Surat Al A’raaf ayat 92, ‘Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya’,” ujar UBN setelah menuntun hadirin membaca ayat tersebut.

Jika penduduk Belitung ini mau beriman, mau bertakwa, kata UBN, maka Allah akan turunkan hujan yang mendatang kan keberkahan. Udara dan juga atmosfirnya membawa keberkahan.

“Jika penduduk ini mau beriman, banyak timah, emas, minyak, dan gas yang beraneka ragam untuk keberkahan kita, untuk kekayaan yang melimpah di negeri Belitung ini,” terangnya.

Namun, ucap UBN, untuk mendapat banyak keberkahan dari langit dan bumi itu, terlebih dahulu penduduk nya harus beriman, sedangkan kondisi masyarakat sekarang apakah sudah beriman dengan benar. Ia pun menanyakan seberapa banyak laki-laki yang shalat subuh berjamaah di masjid.

“Kepada semua orang yang ada di sini, baik dari pemerintah maupun masyarakat, Bangsa Indonesia ini khususnya membutuhkan pendidikan keimanan yang serius. Ukuran seorang bangsa itu maju atau tidak, yaitu adalah anak mudanya,” katanya.

Pimpinan AQL Islamic Center ini pun menyebut ada beberapa pendidikan keimanan yang bisa diterapkan di masyarakat. Pertama adalah bagaimana memunculkan rasa takut kepada Allah.

Kedua, pengharapan seluruh lini kehidupan hanya kepada Allah. Ketiga, ketertundukan hanya kepada Allah. Keempat, hidup hanya untuk dan dengan Ridha Allah semata. Kelima, tawakkal kepada Allah.

Inilah esensi pendidikan iman yang sekarang hilang dari dunia pendidikan.

“Sekarang kita lihat bagaimana ketika semakin tinggi pendidikan bukan malah semakin takut kepada Allah, karena pendidikan awalnya bukanlah pendidikan Al-Qur’an,” terang mantan Ketua GNPF Ulama ini.

Karenanya, ia melanjutkan, dalam membangun sebuah peradaban, terlebih dahulu adalah perhatikan shalatnya, lalu fokus mempelajari Al-Qur’an terlebih dahulu.

“Jika ingin menjadi manusia yang hebat, maka tempatkan dua ini di dalam hatinya. Asma Allah dan Al-Qur’an. Perbanyak dzikir kepada Allah, baca Qur’an. Selanjutnya adalah mari sama-sama kita kokohkan qalbu kepada Allah SWT,” ujar UBN.

Kesemuanya itu, kata dia, adalah untuk membangun hubungan dengan Allah dengan cara menguatkan ketakutan kepada Allah.

Keharaman itu menjadi biasa sekarang ini, katanya, karena kebanyakan manusia menganggap korupsi atau makan menggunakan sesuatu yang tidak halal itu sebagai hal yang biasa.

“Penyebab kebangkrutan negara ini hingga akhirnya banyak utang, adalah karena negara dan bangsa sudah kehilangan nilai keimanan,” tegasnya.

“Agar muncul ketakutan kepada Allah dan muncul rasa kebersamaan dengan Allah, maka iman kita akan terbimbing. Allah akan mengeluarkan bangsa ini dari kemelut kesusahan jika kita mau mendekat kepada Allah, banyak istighfar, shalat dan baca Quran,” ujarnya.

Selain diikuti ratusan jamaah, Tabligh Akbar ini juga dihadiri oleh para tokoh dan ulama serta beberapa perwakilan instansi pemerintahan.

Tabligh Akbar yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB ini pun berakhir pada pukul 23.30 WIB dan UBN dilepas dengan nasyid dari Band Antab.

Reporter: Muhammad Jundii | Islamic News Agency (INA)

Kategori : Nasional

Tags : bachtiar nasir MIUMI Tabligh Akbar UBN

JITU: Kode Etik Kami Tegas Menolak Hoaks

11 Mar 2018 09:54:36
JITU: Kode Etik Kami Tegas Menolak Hoaks

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar Diskusi Publik bertema #WarOnHoax, Tetap Kritis Tanpa Hoaks di Masjid Abu Bakar Ash Shidiq, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Sabtu (10/3/2018). Acara ini digelar dalam rangka memperingati milad ke-6 JITU sekaligus untuk membantah opini-opini yang mengidentikan media-media Islam sebagai penyebar hoaks.

“Saat ini memang kita sudah mencium adanya arah opini yang dibangun itu untuk menyudutkan media-media Islam,” kata Dewan Syuro JITU, Mahladi dalam paparannya.

Mahladi membantah keras stigmatisasi tersebut. Sebab, JITU mempunyai kode etik yang secara tegas melarang jurnalisnya membuat berita bohong.

“Dalam kode etik nomor empat misalnya, dengan tegas disitu dikatakan, wartawan muslim tak dibenarkan mempublikasikan berita bohong,” ujar Mahladi yang juga Pemimpin Redaksi Kelompok Media Hidayatullah ini.

Ia menambahkan, dalam kode etik JITU poin kelima dan ketujuh juga menjelaskan tentang larangan menyebarkan hoaks. “Dalam delapan butir kode etik ini, tiga butir membahas soal hoaks. Ini menunjukkan tiga hal ini penting,” katanya.

Mahladi juga menjelaskan, kode etik JITU disusun dengan melibatkan para ulama agar poin-poinya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Belum lama ini, JITU mendapat serangan cyber dan fitnah dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. JITU dituding didanai oleh partai politik tertentu dan disebut-sebut sebagai media penyebar berita bohong.

Kategori : Nasional

Tags : jitu kode etik jurnalis muslim WarOnHoax

Fadli Zon : Pencegahan dan Penindakan Hoaks di Indonesia Bermasalah

11 Mar 2018 09:13:57
Fadli Zon : Pencegahan dan Penindakan Hoaks di Indonesia Bermasalah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pada era teknologi informasi digital ini, kebenaran menjadi relatif tergantung pada siapa yang menguasai informasi itu sendiri. Ditambah lagi platform media sosial saat ini dapat dengan cepat menyebarkan sebuah informasi membuat kebenaran semakin tidak terkonfirmasi.

“Disinilah hoaks diproduksi dan terus direproduksi,” kata Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon saat memberikan paparan dalam diskusi publik bertajik #WarOnHoax, Tetap Kritis Tanpa Hoax yang diadakan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Lantai 3 Masjid Abu Bakar Ash Shidiq, Jakarta Timur, Sabtu (10/3/2018).

Fadli menjelaskan, ada dua hal yang harus dioptimalkan pemerintah untuk memberantas hoaks ini, yaitu pencegahan dan penindakan. Akan tetapi, cepatnya perkembangan teknologi informasi membuat budaya berkomunikasi melalui media itu tidak sempat terbentuk.

“Karena budaya ini tidak terbentuk sehingga orang terlanjur tidak bertanggungjawab terhadap penyebaran informasi tersebut. Dan hoaks ini diproduksi dan terus direproduksi, kemudian didiseminasi dan seolah-olah berita bohong ini menjadi sebuah nyata,” papar politisi Partai Gerindra ini.

Ia menambahkan, media juga sudah terlanjut menjadi alat politik yang membuat hoaks semakin mendapat tempat dalam dunia komunikasi di negeri ini.

Fadli juga melihat aparat keamanan bermasalah dalam penindakannya kasus-kasus hoaks. Menurutnya, aparat hanya menindak kasus-kasus hoaks yang menimpa pihak-pihak pro pemerintah. Sementara, aparat dinilai lamban dalam kasus yang menimpa pihak-pihak yang kritis terhadap penguasa.

“Jadi, proses penindakan ini tidak adil dan inilah masalahnya,” tandasnya.

Fadli sendiri mengaku telah beberapa kali melaporkan penyebar hoaks atas dirinya namun hingga saat ini belum ditindaklanjuti.

“Selama ini tidak ditindaklanjuti ini akan menjadi amunisi buat saya untuk bicara kepada publik bahwa ada upaya untuk menjadi hukum sebagai alat politik. Sampai kapan pun akan saya kejar,” tukasnya.

“Jadi hoaks ini harus dilawan karena ini telah merusak membuat kultur media sosial kita,” ujarnya.

Diskusi publik #WarOnHoax yang diinisiasi JITU digelar sebagai respon atas tuduhan-tuduhan hoaks yang dinilai hanya mengarah kepada umat Islam.

Kategori : Nasional

Tags : fadli zon hoaks jitu jurnalis islam beratu WarOnHoax

War On Hoax: Kritis Tanpa Hoax

11 Mar 2018 02:53:34
War On Hoax: Kritis Tanpa Hoax

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Anggota Divisi Wacana Publik JITU

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Marco Di Lauro hampir terjatuh dari kursiya, ketika ia melihat foto jepretannya di internet. Foto karyanya menangkap deretan jenazah anak-anak di Irak tahun 2003. Namun BBC menayangkan foto tersebut sebagai korban konflik di Houla, Suriah tahu 2012.(David Turner: 2012)

BBC kemudian menyadari kesalahan mereka dalam berita tersebut. Kekeliruan BBCkarena tidak memverifikasi lebih detil foto, berpengaruh pada banyak hal. Selain kredibilitas mereka, tentu saja persepsi orang tentang konflik di Suriah. Gara-gara foto tersebut “hoax”, bukan tidak mungkin orang akan beranggapan pembunuhan terhadap anak-anak adalah hoax.

Jangankan orang biasa seperti kita, media dengan reputasi besar seperti BBC pun bisa tersandung hoax. Persoalan berita bohong, atau hoax memang persoalan yang membelit semakin kencang masyarakat saat ini. Nyatanya gelombang informasi akibat perkembangan teknologi, terutama teknologi digital menyeret konsekuensi yang berat.

Jurnalis kini dituntut untuk melakukan tugas yang lebih berat. Jika di masa lalu ia menjadi sumber informasi, kini informasi bisa datang dari mana saja. Tugas jurnalis adalah memilah (termasuk memverifikasi) informasi. Kovach dan Rosenstiel mengungkapkan bahwa di era gelombang informasi yang melimpah seperti saat ini, juralis harus membekali diri mereka dega sikap skeptis.

“Pers yang manjur” dibangun kaum empiris yag tangguh dan disiplin, seperti Bigart (juralis New York Times), tetapi banyak wartawan naif bermetal tukang ketik yang memiliki koneksi orang penting lebih dihargai ketimbang wartawan skeptis yang mengejar bukti.”(Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2012)

Tantangan yang harus dihadapi jurnalis memang tak mudah. Gelombang infromasi beserta sampah informasi yang hanyut di dalamya, sulit utuk dipilah. Bukan hanya itu. Jurnalis berhadapan dengan informasi palsu, berita bohog, hoax yang memang sengaja untuk diproduksi dan disebarkan secara massal. Craig Silverman dalam Nieman Reports: Truth in Age of Social media, memaparkan hal ini. menurutya, “The forces of untruth have more money, more people, and … much better expertise. They know how to birth and spread a lie better than we know how to debunk one. They are more creative about it, and, by the very nature of what they’re doing, they aren’t constrained by ethics or professional” (Craig Silverman : 2012)

Sebagai penjaga gerbang informasi, terkadang gelombang informasi tersebut sulit untuk dibendung. Masyarakat era digital menuntut arus informasi yang serba cepat. Perusahaan pers merespon dengan menuntut jurnalis menaikkan informasi sesegera mungkin, berlomba-lomba dalam kecepatan. Orientasi pasar (komersial) pada perusahaan media (pers) menekan sisi-sisi idealisme jurnalis. Pergeseran perlakuan pembaca dari warga (citizen) menjadi konsumen (consumer), hingga pemberitaan yang menghibur membuat aspek ekonomi menjadi pertimbangan penting. Dilema inilah yang dikupas Doug Underwood dalam Reporting and the Push for Market-Oriented Journalism: Media Organizations as Businesses. (W. Lance Bennet dan Robert M. Entman: 2005)

Di era digital keluhan yang sama dituangkan oleh jurnalis senior, Yoko Sari. Menurutnya, “Di sini kecepatan merupakan nilai mutlak. Siapa yang paling cepat mengunggah, dia yang akan mendapat traffic paling besar karena netizen melakukan share berita itu.

Baca juga : Politisi, Aktifis, hingga Artis Ramaikan Kampanye #WaronHoax

Traffic adalah hak mutlak dari media digital di Indonesia karena merupakan daya tarik utama dalam mendapatkan iklan. Setidaknya itu yang terus-menerus didengungkan oleh tim bisnis. Traffic jeblok, iklan jeblok, kesehatan perusahaan pun jeblok.

Jurnalis tidak memiliki, atau tidak diberi waktu, untuk membuat satu berita utuh seperti pada media konvensional. Setiap detik adalah tenggat waktu. Bukan dalam hitungan jam atau hari.” (Yoko Sari, Jurnalisme Daring Antara Traffic dan Etik: 2018)

Dampak pola kerja seperti itu tentu saja pada penurunan kualitas dan meredupnya prinsip kerja jurnalis yang harus mengecek dan membandingkan informasi. Maka dalam hal ini pola kerja seperti ini semakin sulit membendung limpahan informasi termasuk di dalamnya hoax yang turut serta.

Situasi ini membuat para jurnalis semakin sulit. Pekerjaan melakukan verifikasi berita, mengecek fakta dengan detil seperti yang diharapkan Kovach dan Rosenstiel ditekan oleh perlombaan kecepatan menayangkan berita. Meski demikian bagi jurnalis, tak ada jalan lain.

Seperti yang diungkapkan oleh Alicia Shepard dalam artikelnya di situs Columbia Journalism Review, “Credibility is the only currency journalists have. If news organizations fall for this stuff, it
hurts their and all other journalists’ credibility. It takes time to check something out, and we all feel like we don’t have the time. Just easier to copy and paste. Make time.”

Jurnalis memang berdiri dalam garda terdepan perang terhadap hoax. Tetapi ia tidak sendirian. Masyarakat sendiri memegang peranan penting. Terutama bagaimana memberi pemahaman pada masyarakat tentang keberadaan media dan berita. Howard Schneider, dari School of Journalism, Stony Brook University, mengingatkan pentingnya mendidik masyarakat agar “melek berita.”

“The ultimate check against an inaccurate or irresponsible press never would be just better￾trained journalists, or more press critics and ethical codes. It would be a generation of news consumers who would learn how to distinguish for themselves between news and propaganda, verification and mere assertion, evidence and inference, bias and fairness, and between media bias and audience bias—consumers who could differentiate between raw, unmediated information coursing through the Internet and independent, verified journalism.”

Masyarakat harus diedukasi untuk bukan saja agar melek media, tetapi juga melek berita (news literacy). Tidak dapat dipungkiri, manusia lebih suka berita yang mereka ingin percayai. Bukan apa yang sebenarnya terjadi.

“Humans resist correction and are disinclined to change closely held beliefs. We seek out sources of information that confirm our existing views. When confronted by contrary information, we find ways to avoid accepting it as true. We are governed by emotion, not by reason. (Craig Silverman : 2012)

Masyarakat perlu mengetahui tentang pemilahan informasi, membandingkan, dan tidak kalah penting memahami efek psikologis dari informasi dan interaksi di dunia maya. Konten-konten di dunia maya yang cenderung menggugah emosi (negatif atau positif) dapat berbuah petaka ketika ia menjadi menular secara cepat. konten yang menggugah emosi membuat orang lebih mudah untuk menyebarkannya. Dan konten emosional ini dapat terus menyebar secara viral karena efek emosi yang menular (emotional contagion). (E. Guadagno, et al: 2013)

Menariknya, Michael Rosenwald, reporter dari Washington Post, mengutip penelitian dari University of California, menyebutkan bahwa literasi media tetap berpengaruh pada orang￾orang yang memegang teguh nilai-nilai dan kepercayaan tertentu.

“those with media literacy training can still be fiercely committed to their world view, but they can also successfully question flimsy claims. They can call bullshit. Maybe they can even stop spreading it.”

Maka menjadi tak tepat ketika pemerintah saat ini hanya memakai pendekatan hukum dalam perang terhadap hoax. Pendakatan legalistik seperti ini justru tak menyelesaikan masalah. Mengedukasi masyarakat lewat literasi media tantangan yang harus dihadapi semua negara. Justru ketika menghadapi persoalan hoax hanya menuding masyarakat sebagai biang keladi, maka sebenarnya menutupi lubang hitam yang lebih besar. Hoax dapat dieksploitasi untuk memukul pihak tertentu.

Lihatlah bagaimana pemerintah Myanmar menuding persekusi terhadap muslim Rohingya sebagai berita bohong. Atau yang lebih jelas, ketika Donald Trump, Presiden AS saat ini berusaha untuk membungkam kritik yang menimpanya dengan menuduh beberapa media sebagai penyebar berita bohong (fake news).

Steve Coll, Dekan dari Graduate School of Journalism di Columbia Univesity menyebutkan bahwa definisi “fake news” ala Trump berarti liputan kredibel yang ia tak sukai. “But he complicates the matter by issuing demonstrably false statements of his own, which, inevitably, make news. Trump has brought to the White House bully pulpit a disorienting habit of telling lies, big and small, without evident shame. Since 2015, Politifact has counted three hundred and twenty-nine public statements by Trump that it judges to be mostly or entirely false.” (Steve Coll: 2017)

Artinya Trump menutupi kebohongan-kebohongannya dengan menuduh pihak yang ia tak sukai sebagai pembuat kebohongan. Dalam hal ini media yang kritis kepadanya ia tuduh pembuat berita bohong (fake news). Hal ini menadakan pada kita bahwa hoax dapat pula dieksploitasi dan dijadikan komoditas politik oleh peguasa. Rezim seperti myamar atau Trump memakai label hoax utuk informasi yang mereka tak sukai.

Di Amerika Serikat pula, Hoax yang dampaknya sangat massif dan dibuat oleh penguasa atau pemerintah. Hal ini terjadi pada masa pemeritahan George W. Bush. Ketika pada pada tahun 2002 menuduh pemeritah Irak di bawah Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. “Imagine a September 11 with weapons of mass destruction. It’s not 3,000, it’s tens of thousads of innocent men, women, and children,” kata Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan AS saat itu.

Rezim Bush menjadikan ‘11 September’ sebagai komoditas dan meyebarka hoax bahwa rezim Saddam memiliki senjata pemusnah massal. Dampak hoax ini kemudian massif. Rezim Bush menyerang Irak atas nama pre-emptive strike. Nyawa rakyat Irak melayang. Kehancuran masyarakat dan peradaban buah dari hoax rezim Bush.

Hoax tentang senjata pemusnah massal (WMD) yang disebar oleh pemerintahan Bush seharusnya bisa disaring oleh pers di AS pada saat itu. Tetapi kenyataannya pers AS tak bekerja sebagaimana mustinya. Informasi oleh pajabat pemeritah ditelan begitu saja. Alih￾alih mejadi kritis terhadap kebijakan dan pernyataan pemerintah, pers arus utama di AS, termasuk New York Times dan Washigton Post malah mejadi corong rezim Bush. “The continuing dependence of mainstream journalism on the story lines fed them by powerful officials was not due to some aberration, but to the routine rules of the news game.

The expertly sold prewar buildup and the planned Hollywood ending were not isolated incidents of the press reporting the offi cial line. Long before Mr. Bush landed on the Abraham Lincoln, the leading U.S. news organizations had effectively become government communications channels.” (Lance W. Bennet, Regina Lawrence, dan Steven Livingstone: 2007)

Bahkan jejak mandulya pers AS semakin buram ketika jurnalis New York Times, Judith Miller memuat berita yang salah mengenai senjata pemusnah massal. Miller percaya begitu saja pada Mr. Chalabi, narasumberya tentang senjata pemusnah massal yang kemudian diketahui berbohog. Miller kemudian membela diri dengan mengatakan,“My job isn’t to assess the government’s information and be an independent intelligence analyst myself. My job is to tell readers of The New York Times what the government thought about Iraq’s arsenal.”

Benarkah demikian? Pernyataan Miller dibantah oleh Maureen Dowd, kolumnis New York Times. “Investigative reporting is not stenography,” bantah Dowd. (Lance W. Bennet, Regina Lawrence, dan Steven Livingstone: 2007) Oleh sebab itu disinilah pentingnya peran pers. Pers bukalah corong pemerintah. Jurnalisme bukan pencatat pernyataan pemerintah (clerkism), Pers adalah watchdog yang berperan sebagai kontrol pemeritah. Demikian pula, jurnalis senior Indonesia, Yoko Sari menyatakan ketika berbicara pers digital di Indonesia,

“Sebagian besar jurnalis yang sudah berpengalaman dua-tiga tahun tidak mengerti atau tidak memandang perlu untuk mencari data atau informasi sebagai penyeimbang dari keterangan satu narasumber, swasta atau pemerintah.

Silahkan lihat berita-berita yang diunggah. Meski tidak semua, hampir sebagian memuat informasi dan data satu sisi tanpa ada upaya membuat berita lanjutan yang berisi pembenaran atau sanggahan.

John McBeth benar dalam hal ini. Semua pernyataan kini dianggap satu kebenaran. Jika pejabat A mengatakan B, itulah kebenaran hakiki.”

Maka peran jurnalis yang kritis terhadap kebijakan, pernyataan dan tindak tanduk pemerintah menjadi penting untuk membendug hoax. Hoax yang berasal dari pemerintah – seperti di AS￾perlu dikritisi. Penyebar atau pembuat hoax bukan label bagi kelompok atau pihak tertentu. Alih-alih ia penyakit yang bisa diidap siapa saja.

Perang terhadap hoax bukalah monopoli satu pihak saja, melainkan semua pihak, masyarakat, pemeritah dan jurnalis. Di perjalanan enam tahun Jurnalis Islam Bersatu (JITU), kami mengajak kembali untuk bersikap kritis tanpa hoax. War on Hoax: Kritis tanpa hoax.

Wallahualam.

 

Kategori : Kolom

Tags : jitu jurnalis islam bersatu Kritis Tanpa Hoax War On Hoax

Politisi, Aktifis, hingga Artis Ramaikan Kampanye #WaronHoax

10 Mar 2018 16:21:37
Politisi, Aktifis, hingga Artis Ramaikan Kampanye #WaronHoax

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Jurnalis Islam Bersatu (JITU) akan menggelar diskusi publik bertema “War on Hoax”, hari ini (10//3/2018). Sebelum digelarnya acara, tagar dengan pesan #WaronHoax dan #TetapKritisTanpaHoax memenuhi ruang-ruang media sosial.

Sejumlah tokoh nasional, aktivis, pemuka agama, hingga artis pun ikut meramaikan kampanye anti-hoaks tersebut.

“Hoaks tidak punya ideologi, penyebarannya tak berlandaskan agama. Kejahatan itu tak perlu dinisbatkan dengan identitas agama tertentu. Perang terhadap hoaks akan lancar apabila keadilan ditegakkan melalui mekanisme hukum yang benar,” ucap Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kepada wartawan.

Anggota DPD Fahira Idris menyatakan pesan senada. Dia menyayangkan upaya masif dan terstruktur oleh pihak-pihak tertentu yang mengarahkan hoaks seakan melekat dengan pemeluk agama tertentu.

“Hoaks terbesar di dunia saat ini adalah mengidentikkan Islam, baik secara ajaran dan simbol-simbolnya dengan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Sebagai korban hoaks terbesar, umat Islam harus menjadi yang terdepan dalam ‘Perang Melawan Hoaks’ ini,” kata Fahira, seraya mendukung kampanye tersebut.

Artis Fauzi Baadillah pun tak mau ketinggalan. Dia ikut menyuarakan pendapatnya soal penyebaran berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

War On Hoax: Kritis Tanpa Hoax

“Tidak ada hoaks atau berbohong dalam ajaran Islam. Karena (dalam Islam) saat kita bercanda saja harus jujur,” ucapnya.

Selain nama-nama di atas, sejumlah aktivis dan jurnalis juga turut serta bersuara dalam #WaronHoax dan #TetapKritisTanpaHoax.

Acara akan digelar siang ini, pukul 13.00, di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, di jalan Otista Raya No. 64, Jakarta.

Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, Guru Besar Komunikasi UI Prof. Ibnu Hamad, Ketua Majlis Fatwa dan Pusat Kajian DDII Dr Ahmad Zain An-Najah, dan anggota Dewan Syuro JITU Mahladi Murni.

reporter : Syah/INA

Kategori : Nasional

Tags : Jurnalis Muslim Anti Hoax Tetap Kritis Tanpa Hoax War On Hoax

Ustadz Bachtiar Nasir : JITU Adalah Organisasi Jurnalis Muslim yang Punya Kode Etik

09 Mar 2018 06:35:50
Ustadz Bachtiar Nasir : JITU Adalah Organisasi Jurnalis Muslim yang Punya Kode Etik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nasir meminta Jurnalis Islam Bersatu (JITU) untuk terus mengembangkan diri menjadi organisasi jurnalis Muslim profesional ketimbang sibuk merespons fitnah.

“JITU ini diuji oleh Allah karena Allah melihat JITU sudah siap naik tahapan. Ini tanda-tanda JITU ingin dibesarkan Allah,” ungkap da’i yang akrab disapa UBN ini di Gedung AQL, Jakarta, Senin (5/3/2018) malam.

UBN mengutip Firman Allah dalam surat Al- Ankabut ayat dua yang berbunyi: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

“Apakah JITU mengaku beriman sedang ia tidak diuji lagi?” ungkap UBN.

UBN mengatakan bahwa mungkin saja personal JITU secara pribadi sudah banyak mendapat ujian. Namun JITU secara organisasi baru kini diuji Allah sebagai suatu kesatuan.

“Dalam menghadapi ini, JITU harus menyadari ini takdir Allah. Jangan sibuk ke lain hal, tapi fokus lakukan hal-hal yang bermanfaat ke depannya,” pintanya.

Menurut UBN, JITU adalah organisasi jurnalis Muslim yang memiliki kode etik. Karena itu, JITU harus terus mensosialisasikan Kode Etik organisasi Jurnalis Muslim yang didirikan sejak tahun 2012 itu.

“JITU punya kode etik untuk menghindari pemberitaan hoax dan tidak boleh menerima amplop dari narasumber, ini saya kira harus digaungkan lagi dan bahkan harus jadi panduan jurnalis Muslim lainnya, bukan hanya di JITU,” harapnya.

Kode etik ini, sebut UBN, juga bisa diberitahukan kepada Ulama atau tokoh sehingga mengedukasi masyarakat dalam bersosial media.

Kode Etik JITU sendiri sudah melalui proses konsultasi dan masukan oleh pakar fiqh Dr. Zein An-najah yang meraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar, Mesir.

“JITU juga bisa menjadi komando untuk berperang melawan hoax tanpa mengenyampingkan sikap kritis,” tukasnya.

Sebelumnya, Website resmi JITU dibajak oleh pihak tak bertanggungjawab dengan mengganti tampilan situs dengan wajah seorang tokoh politik.

Dari situ, sebuah akun twitter lalu me-screenshoot tampilan bajakan tersebut untuk memfitnah JITU dibiayai tokoh tertentu. Hal ini lalu disebarluaskan oleh akun-akun yang tidak bertanggungjawab lainnya.

Sebelum kejadian, akun Facebook Ketua Umum JITU Periode 2015-2018 Agus Abdullah juga dibajak untuk mengambil sejumlah dokumen, termasuk KTP.

Tanpa sepengetahuan sang pemilik, akun tersebut melakukan percakapan dengan orang-orang yang tidak dikenal, termasuk lawan jenis.

Bahkan akun WhatsApp yang bersangkutan diganti dengan sebuah nomor dari luar negeri.

Reporter : Kayyis | Islamic News Agency

Kategori : Nasional

Tags : bachtiar nasir jitu jurnalis islam bersatu

Tahun Politik dan Kepemimpinan Islam 2019

07 Mar 2018 23:12:53
Tahun Politik dan Kepemimpinan Islam 2019

Oleh: Indra Martian P

(Direktur Masyarakat Islam Indonesia, Dosen STAI PTDII, Mahasiswa Program Doktoral Pemikiran Islam dan Ideologi Kontemporer Unisza Malaysia)

Tahun 2018 dimulainya tahun politik di Indonesia sedikitnya pada tahun ini 171 pemilihan kepala daerah akan menghiasai dinamika politik di Indonesia. Lima partai berbasis Islam (PKB, PKS, PPP, PAN, dan PBB) akan bersaing dengan 10 partai nasionalis. Persaingan merebut kepemimpinan daerah menjadi menarik karena tidak terjadinya koalisis partai Islam secara utuh maupun partai nasionalis secara utuh.

PPP dan PKB memilih bergabung dengan koalisis partai penguasa PDI-P, sedangkan Partai Gerinda lebih nyaman bersama koalisi partai Islam, PKS dan PAN.

Pemilihan kepala daerah menjadi penting untuk mengukur kekuatan pada pemilihan presiden tahun 2019 nanti. Sehingga memenangkan Pilkada terutama di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi focus utama partai-partai sekarang sebelum mereka kemudian berani mencalonkan presiden versi mereka. Namun wacana presiden Indonesia tahun 2019 sudah mulai bermunculan meskipun pemilihan pilkada belum di mulai.

Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam adalah sesuatu yang penting dan strategis sehingga harus diwujudkan dalam politik Islam. Dr.Mu’inudinillah Basri, Lc MA menjelaskan, mengangkat pemimpin muslim untuk menjalankan syari’at Islam hukumnya wajib, [1]berdasarkan Sabda Nabi :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ»

Dari Abi Sa’id Al Khudri ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : jika tiga orang keluar safar maka hendaklah mengangkat Amir seorang dari mereka. HR Abu Dawud no : 2610

Allah swt menjadikan satu dari tujuan diturunkan Nabi Adam kedunia menjadi khalifah di bumi, sebagaimana Allah berfirman : “ dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat : sesungguhnya Aku menjadikan di bumi seorang khalifah” Al Imam Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini sebagai landasan utama mengangkat seorang khalifah.

Pemimpin harus ada karena masyarakat tidak akan teratur hidupnya kecuali dengan pemimpin.

لَا يَصْلُحُ النَّاسُ فَوْضَى لَا سَرَاةَ لَهُمْ … وَلَا سَرَاةٌ إذَا جُهَّالُهُمْ سَادُوا

Manusia tidak baik hidup kacau tidak ada bagi mereka pemimpin. Dan tidaklah dikatakan pemimpin jika orang orang bodoh mereka yang memimpin.

Kepemimpinan dalam siyasah syar’iyah wajib, karena imam sebagaimana dikatakan imam Mawardi :

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا، وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ

Al imamah digariskan untuk mewakili kenabian dalam menjaga addin dan mengatur dunia, dan mengangkatnya bagi siapa yang menegakkannya di umat Islam wajib dengan ijma’ ulama.

Kriteria Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan Islam sendiri harus mampu memenuhi beberapa syarat, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah : Kejujuran atau dapat dipercaya (amanah) kekuatan atau kecakapan (quwwah), berpengetahuan luas, bersikap adil dan saleh, dan mampu menjalin kerjasama[2].

Selain itu, Dr. Mu’inudinillah Basri, Lc MA menambahkan bahwa syarat seorang peimpin dan kepemimpinan Islam yang harusdi pilih :

  • Kafaah keilmuan dan professionalitas dalam kepemimpinan, tergambar dalam rahasia dipilihnya Thalut oleh Allah dalam firmannya :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

Sesungguhnya Allah telah memilihnya buat kalian dan telah memberikan dia kelebihan dalam ilmu dan fisik.QS l Baqarah ayat : 247

  • Keahlian, amanah, kuat, sangat menjaga tugasnya dengan baik, yaitu hifdzuddin dan siyasatun dunya biddin.( menjaga addin dan mengatur dunia dengan addin), hal itu diungkapkan dalam perkataan Yusuf as,

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (55)

Dia Yusuf berkata : jadikanlah aku penjaga hasil bumi, sesungguhnya aku sangat menjaga sangat mengetahui. QS Yusuf Ayat : 55

Dan perkataan Putri Nabi Syu’aib ketika mengusulkan kepada orang tuanya agar Nabi Musa dipekerjakan karena beliau sangat kuat dan sangat terpercaya.

  • Sangat peduli terhadap ummat, peduli dengan nasib ummat, lemah lembut dengan ketegasan dalam hukum, dan sangat kuat memegang prinsip. Allah berfirman dalam sifat sifat mendasar Rasulullah dalam kepemipinan :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128)

Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian, sangat berat atas beliau apa yang menyusahkan kalian, sangat perhatian atas kebaikan kalian, dan dengan kalian sangat lembut dan sayang. QS AT-Taubah 128.

  • Demokratis (bukan demokrasi) akomodatif.

Inilah kepemimpinan Rasul sangat terbuka terhadap masukan, kritikan, banyak melakukan syura, suka mendengarkan nasehat, tidak congkak, dan sombong. Inilah kepemimpinan para Khulafa’ Rasyidin, seperti Umar bin Khthab RA yang mengakui kesalahannya, dengan mengatakan, benarlah wanita dan Umar salah.

Rasulullah SAW mau memberi upeti kepada sebagian kelompok orang kafir yang terlibat peperangan ahzab, agar memecah kekuatan lawan, tetapi tidak mau memutuskan kecuali meminta pendapat para sahabat ansor, dan ketika mereka menolak Rasullah tidak melaksanakan idenya.

Rasulullah SAW ketika menempatkan pasukan di suatu tempat di Badar, satu sahabat bertanya, apakah itu wahyu atau ide dan perang itu strategi, Rasulullah mengatakan itu ide, maka sahabat mengusulkan agar Rasulullah memilih tempat yang lebih strategis, dan beliau menerima usulan itu.

  • Tidak ambisi atas kekuasaan, khasyyatullah, keteladanan yang tinggi, tawadhu’. Tergambar hal tersebut dalam pribadi pribadi Khulafa’ Rasyidin. Dalam pidato Abu Bakar RA, diantaranya : Wahai Manusia, akau dijadikan amanah memimpin kalian dan aku bukan orang yang terbaik diantara kalian, kalau saya taat kepada Allah taatilah aku dan kalau saya salah luruskan aku, dan kalau aku maksiat sungguh tidak ada ketaatan kalian untukku”

Kepemimpinan Islam dalam Tahun Politik 2019

Tahun politik 2018 akan menjadi irisan untuk pemilihan presiden Indonesia tahun 2019. Perjalanan panjang presiden Indonesia sejak tahun kemerdekaan 1945 melahirkan presiden yang belum berpihak kepada Islam dan Syariat Islam. Bahkan cenderung menjadi kutub yang berbeda dengan perjuangan Islam.

Kegagalan partai politik adalah melahirkan sosok presiden dari tokoh Islam yang bukan saja menjadi figure yang mampu memperjuangkan dan menjalankan syariat, namun juga mampu menyatukan seluruh elemen bangsa dan mampu melahirkan konsep pembangunan yang berkeadilan. Kegagalan partai juga lebih disebabkan politik transaksional yang dapat dilihat jelas oleh warga negara sehingga menimbulkan ketidakpercayaan terhadap partai dan parlemen.

Di tahun 2018 ini sebagian besarl embaga survey masih menempatkan Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden terkuat, namun keberadaan keduanya stagnan bahkan cenderung mengalami penurunan. Jokowi sebagai Presiden terpilih 2014 bahkan memilih berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat bahkan merugikan. Kebijakan impor beras, mencabut subsidi rumah tangga, dan menambahh utang negara merupakan kebijakan yang bertentangan dengan janji kampanyeyya. Bahkan Fadli Zon politisi Partai Gerindra mengatakan, ”Jokowi itu mukanya kerakyatan namun isinya liberal kapitalistik (ILC, Jokowi Semakin Kuat? Tanggal 27 Februari 2018).

Track record Jokowi sebagai pemimpin yang tidak amanah, tidak menepati janjinya menjadi senjata yang membunuh dirinya di Pilpres mendatang. Ditambah kebijakan menangkap para ulama, bahkan berdiam diri terhadap penyerangan ulama menjadi nilai minus berikutnya dimata umat Islam. Sehingga pemimpin seperti ini jelas tidak masuk kriteria yang direkomendasikan.

Adapun Prabowo belum terlihat secara maksimal secara konsep dan kinerja karena memang belum mendapatkan kesempatan memimpin.

 

Tiga Gubernur Calon Pemimpin Indonesia

Memimpin bangsa Indonesia bukan hanya menyelesaikan konsep keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, mampu memimpin di tengah komunitas masyarakat Indonesia heterogen dan multicultural dengan tidak mengabaikan umat Islam sebagai warga dengan aset terbesar namun juga pemimpin harus mampu dan berani berhadapan dengan pemodal-pemodal besar yang berusaha mengobrak-abrik kedaulatan bangsa.

Ahmad Heryawan, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, dan Anies Baswedan setidaknya bisa menjadi opsi untuk memimpin Indonesia kedepan. Popularitas ketiganya hari ini semakin menguat. Ketiganya memiliki kemampun dan kecakapan memimpin dan juga dalam ilmu pengetahuan yang hamper sama. Dalam hal pendidikan Ahmad Heryawan mendapatkan gelar doctor honoris causa dari Youngsan University Korea Selatan dalam bidang bisnis administrasi pada tahun 2011 dan dari UIN Bandung dalam bidang ketatanegaraan Islam (siyasah syar’iyyah) pada tahun 2014. Tuan Guru Bajang mendapatkan gelar doctor dari Universitas Al Azhar Mesir dalam bidang tafsir Al-Qur’an dan beliau seorang hafidz Qur’an. Sedangkan Anis Baswedan mendapatkan gelar doctor dari Nothern Illinois University Amerika dalam bidang Ilmu Politik.

Dalam ilmu tata kelola pemerintahan, keberhasilan Ahmad Heryawan dan TGB Muhamad Zainul Majdi memimpin daerahnya selama dua periode menjadi gambaran kinerja keduanya yang berhasil. Konsep pariwisata syariah di NTB dan menyusul di Jawa Barat (Pembicaraan Majelis Tarjih Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat yang dihadiri oleh Gubernur Ahmad Heryawan tahun2017 silam) sedangkan Anis Baswedan hari ini berusaha keras memenuhi janji-janji politik ketika kampanye pemilu. Kebijakan yang berusaha menghentikan kebijakan reklamasi, penutupan hotel dan tempat pelacuran Alexis, DP rumah 0%, penataan pasar Tanahabang, dan menata tukang becak merupakan kebijakan gubernur Anis di Jakarta. Kebijakan-kebijakan dari ketiga gubernur yang pro rakyat dan berusaha menanamkan nilai keislaman dalam pengelolaan pemerintahan di daerahnya.

Dalam politik Indonesia dengan system demokrasi dimana kekuatan masa dan pendukung menjadi hal yang menentukan, ketiga gubernur ini punya modal yang sangat besar. Ahmad Heryawan setidaknya didukung oleh masyarakat Jawa Barat yang dulu memenangkannya. Kekuatan PKS sebagai pengusung dirinya menjadi salah satu calon presiden dari PKS yang mempunyai kader masa yang solid. TGB Muhammad Zainul Majdi dicintai oleh masyarakat NTB, didukung oleh alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan mendapatkan juru bicara secara tidak langsung dari Ustadz Abdul Somad, Lc MA yang secara terang-terangan mencalonkan beliau jadi presiden. Sedangkan Anies Baswedan mempunyai massa 212 yang pada pilkada DKI kemaren memenangkannya.

Yang menjadi pembeda nanti kedepan dan menjadi tantangan adalah bagaimana ketiga Gubernur ini mampu mengambil sikap yang tegas terhadap para pemodal besar yang berusaha merusak tatanan kehidupan bernegara yang berusaha mengatur dan menggerakkan kebijakan-kebijakan negara ini berdasarkan kemauan mereka. Anies Baswedan berani face to face dengan pemerintahan pusat dalam masalah reklamasi, berani menutup tempat pelacuran Alexis. Setidaknya ini menjadi modal bagus buat Anis.

TGB Muhammad Zainul Majdi berani menyentil dan mengkritik presiden Jokowi dan media Pers pada peringatan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari 2016 silam di NTB. Ahmad Heryawan punya kesempatan untuk berhadapan dengan para pemodal tersebut pada pembangunan proyek perumahan Meikarta di Cikarang Bekasi yang belum keluar surat ijin pembangunannya namun sudah dibangun perumahannya. Namun kesempatan ini tidak diambil oleh Ahmad Heryawan.

Figure ketiga gubernur ini memiliki modal untuk dikemas untuk menjadi pemimpin Indonesia kedepan dengan tidak mengecilkan nama-nama lain seperti Jendral Gatot Nurmantyo yang awalnya sempet mencuri hati umat Islam namun belakangan justru tenggalam, Anis Matta, Yusril Ihza Mahendra mau pun tokoh lainnya yang memang masuk radar calon presiden.

Tinggal waktu yang menentukan apakah ketiga gubernur Islam terbaik hari ini yang merupakan refleksi dari kepemimpinan Islam saat ini akan benar menjadi Presiden Indonesia di tahun 2019 ataukah kembali kepemimpinan Islam akan diamputasi oleh kepentingan dan intrik politik kotor yang berusaha menenggelamkan Islam sehingga Indonesia dipimpin kembali oleh presiden yang tidak pro Islam.

Wallahua’lam

[1]Makalah Kepemimpinan dalam Perspektif Islam , Dr. Mu’inudinillah Basri, Lc MA yang dipresentasikan dalam Seminar Kepemimpinan Islam yang diadakan oleh Jamaah Ansharusy Syariah pada 6 Februari 2018 di Hotel Sofyan Betawi, Cikini Jakarta

[2]Makalah Dr. Anton MinardiberjudulDinamikaKepemimpinan Islam di Indonesia, Hotel SofyanBetawi, Cikini Jakarta

 

Kategori : Opini

Tags : kepemimpinan islam pilkada pilpres 2019 tahun politik

Dua Hari Terendam Banjir, Warga Dompu Mulai Bersihkan Rumah

07 Mar 2018 20:19:10
Dua Hari Terendam Banjir, Warga Dompu Mulai Bersihkan Rumah

DOMPU (Jurnalislam.com) – Warga korban banjir bandang Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat pada Senin (5/3/2018) mulai membersihkan tempat tinggalnya. Banjir tersebut merendam ribuan rumah di kecamatan Dompu dan Woja.

“Alhamdulillah sekarang banjirnya sudah mulai surut, dan kami sudah bisa mulai membersihkan rumah-rumah kami dari lumpur dan kotoran yang dibawa oleh banjir,” kata Makruf, warga Kelurahan Potu kepada tim Jurnalislam.com, Rabu (7/3/2018).

Selama dua hari, rumah Makruf tergenang. Tak sedikit pula perabotan rumahnya yang hanyut terbawa banjir. Dengan dibantu relawan, Makruf dan warga lainnya membersihkan lumpur dan material banjir yang memenuhi rumah mereka.

Banjir Besar Melanda Dompu, Forum Me-DAN Turun Lakukan Survey Bantuan Kemanusiaan

Berdasarkan data dari Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN), banjir di Kecamatan Dompu merendam sejumlah keluarahan diantaranya, Dusun Kareke, Desa Karake, Kelurahan Potu, Kelurahan Karijawa. Sementara itu di Kecamatan Woja banjir merendam Kelurahan Simpasai, Kelurahan Kandai Dua, dan sebagian Desa Wawonduru.

Sedikitnya 1.000 rumah tergenang air berlumpur dan material banjir lainnya, diantaranya 50 rumah di Desa Kareke, 500 rumah di Kelurahan Potu, 20 rumah di Kelurahan Karijawa, 150 rumah di Kelurahan Simpasai, 300 rumah di Kelurahan Kandai, dan 100 rumah di Desa Wawonduru.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun Hingga hari ini aktivitas di daerah terdampak banjir masih lumpuh.

Kategori : Nasional

Tags : banjir dompu

Prof Miftah Faridl Ajak Masyarakat Ikut Gerakan Wakaf Dana Abadi

07 Mar 2018 11:30:35
Prof Miftah Faridl Ajak Masyarakat Ikut Gerakan Wakaf Dana Abadi

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua MUI Bandung yang juga Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation, Prof. Dr. KH Miftah Faridl mengimbau masyarakat untuk turut dalam Gerakan Wakaf Dana Abadi. Ini disampaikan dalam Launching Kuttab Al Fatih Sinergi Foundation di Masjid Ansharullah, Jl. Cibiru Beet, Rt 003 Rw 015, Desa Cileunyi Wetan Kec Cileunyi, Bandung, Sabtu (3/2/2018).

“Gerakan wakaf ini bisa dilakukan secara berjamaah dengan mengumpulkan dana sesuai dengan kemampuan dan kesepakatan bersama,” katanya.

Tak harus nominal besar, papar Ustaz Miftah, bisa dengan mengumpulkan uang sebesar Rp10 ribu per bulan. “Nantinya setelah terkumpul, bisa untuk membeli lahan atas nama wakaf kemudian diproduktifkan, yang hasilnya bisa digunakan untuk kemaslahatan masyarakat.” terangnya.

Ia menilai gerakan ini amat mungkin digalakkan di masyarakat. Ini bisa diaplikasikan, kata Ustaz Miftah, jika masyarakat saling bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Karenanya tidak boleh sendiri-sendiri. Ini seperti yang dinyatakan Allah, inna allaaha yuhibbu alladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi shaffan ka-annahum bunyaanun marshuushun, Allah itu mencintai orang-orang yang berjuang itu dengan organisasi yang rapi, tidak sendiri-sendiri,” ia mengutip surah As Shaf ayat 4.

Gerakan ini, menurutnya, bisa bersinergi dengan pemerintah. Jika minimalnya 30 juta masyarakat Indonesia berwakaf Rp10 ribu perorang, maka sudah terhimpun sebesar Rp300 miliar, dan bisa disalurkan untuk banyak maslahat. Sebab itu, dalam hal ini, ia memandang perlunya seluruh umat bersatu menggerakkan wakaf.

Ustadz Miftah memaparkan, bersinergi dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga kesatuan umat Islam, meningkatkan kualitas pendidikan, bahkan dalam konteks wakaf ini bisa menaikkan ekonomi umat.

Ia pun menegaskan pentingnya wakaf. Ustadz Miftah menuturkan, ketika meninggal nanti, wakaf adalah investasi. “Di alam kubur, shalat tidak bisa, dzikir tidak bisa, dakwah tidak bisa, tapi masih ada wakaf sebagai investasi abadi yang mengalirkan pahala meski kita telah tiada di dunia. Maka itu, wakaf harus menjadi program hidup kita,” tandasnya.

Dalam helatan Launching Kuttab Al Fatih Sinergi Foundation, Prof KH Miftah Faridl sendiri turut menandatangani MoU antara Sinergi Foundation dan yayasan Al Fatih Pilar Peradaban. Kuttab Al Fatih Sinergi Foundation adalah lembaga pendidikan gratis pertama untuk semua kalangan yang berbasis wakaf.

Siaran Pers

Kategori : Nasional

Tags : gerakan wakaf kh miftah faridl sinergi foundation

SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta Edutrip ke Singapura

07 Mar 2018 11:11:58
SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta Edutrip ke Singapura

SOLO (Jurnalislam.com) – Sebanyak 59 siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengikuti kegiatan edutrip ke Singapura pada Selasa (27/2/2018) hingga Jumat (2/3/2018). Edutrip dilakukan di Singapura karena negara tersebut termasuk salah satu negara maju di kawasan Asia Tenggara.

Humas SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta, Aryanto menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman internasional dan edukasi terhadap nilai-nilai kemajuan serta kearifan budaya global kepada para siswa. Maka dari itu kami memilih Singapura karena negara tersebut maju dalam bidang industri, jasa, dan perdagangan yang ditopang dengan sumber daya manusia yang unggul.

“Edutrip kali ini khusus di Singapura karena kita bisa mempelajari banyak kemajuan-kemajuan, inovasi, kreativitas, kedisiplinan, kebersihan, dan ketertiban di negara tersebut. Di sana para siswa mengunjungi industri pengolahan air yakni Industri New Water, Merlion Park, Garden By The Bay, River Safari, Night Safari, Universal Studio, dan Wings of Time” ungkap Aryanto kepada media Sabtu (3/3/2018).

Para siswa memulai perjalanan pada pukul 02.00 WIB dari sekolah kemudian mereka akan terbang melalui Bandara Adi Sujtipto Yogyakarta pukul 07.25 WIB dan tiba di Bandara Changi Singapura pukul 10.35 am. Hari pertama, para siswa melakukankunjungan di Industri New Water. Di sana mereka mempelajari bagaimana kreativitas dan inovasi pemerintahan Singapura dalam hal air. Para siswa belajar proses pengolahan air bekas pemakaian hingga menjadi air bersih yang siap minum dengan teknologi membran canggih dan ultraviolet. Air yang dihasilkan pun kembali murni dan siap diminum. Kemudian, para siswa singgah di Merlion Park, ikon Singapura. Mereka juga mempelajari bahwa Merlion Park merupakan simbol sejarah berdirinya Singapura.

Pada hari kedua, para siswa berkunjung ke Garden By The Bay. Di sana mereka belajar tentang sebuah taman yang dibangun dalam kawasan reklamasi dengan desain yang artistik dan eksotis.Taman yang luasnya kurang lebih 100 hektar tersebut ditumbuhi berbagai ragam jenis tanaman dan bunga warna-warni yang menyejukkan. Kemudian para siswa menuju kawasan Bugis Street Shopping untuk berbelanja. Namun, sebelumnya mereka naik MRT dari Stasiun Promenade menuju stasiun Braz Basa. Mereka membeli tiket seharga 1,50 dollar di mesin tiket. Setelah dapat tiket, mereka pun masuk ke kereta. Perjalanan pun nyaman dan cepat.

Perjalanan kunjungan berikutnya adalah belajar tentang keragaman kehidupan binatang di River Safari dan Night Safari. Mereka belajar tentang ragam suaka margasatwa. Terdapat panda raksasa, Kai Kaidan JiaJia di Giant Panda. Ada pula panda merah yang menggemaskan dengan bulu berwana coklat kemerahan. Tidakkalah pula, sensasi yang dirasakan para siswa ketika naik kereta menyusuri jalan di tengah hutan dalam kawasan Night Safari. Mereka melihat beragam perilaku spesies binatang waktu malam hari bahkan hampir tidak ada penghalang. Ada tapir, badak, singa, serigala, hyena, dan beruang serta beragam hewan lain.

Pada hari ketiga, para siswa menikmati keragaman wahana permainan di Universal Studio Singapura danWings of Time. Selain bermain, para siswa juga bisa belajar tentang kreativitas dan nilai artistik yang dikelola dengan teknologi yang canggih sehingga menarik perhatian wisatawan. Hal tersebut seperti wahana permainan di Transformer 6 dimensi, Mumy of Adventure, The Madagaskar, Jurassic Park, World the Water, dan lain-lain. Pertunjukan Wings of Time juga penuh dengan pelajaran. Paduan kreativitas teknologi lighting, musik, cerita, dan air mancur serta cerita begitu memukau penonton.

Harapan setelah para siswa mengikuti kegiatan tersebut adalah siswa bisa menyerap nilai-nilai positif seperti kemajuan, kecanggihan, ketertiban, kebersihan, keindahan, kreativitas, dan kedisiplinan untuk diterapkan dalam pengembangan diri kedepan.

“Harapan melalui kegiatan ini adalahparasiswadapattambahdisiplin, tertib, berjiwainovasi, sertatambahwawasan tentang kemajuan inovasidi Singapura,” tandas Aryanto.

Aryanto, Humas SMP Muhammadiyah Program KhususKottabarat Surakarta

081586061556

 

Edutrip SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta

 

Edutrip SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta

 

Edutrip SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta
Kategori : Komunitas

Tags : edutrip smp muhammadiyah kottabarat

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Waspada di Balik Citra Saleh: Ketika Topeng Kebaikan Menyembunyikan Kejahatan

Waspada di Balik Citra Saleh: Ketika Topeng Kebaikan Menyembunyikan Kejahatan

4 Apr 2026 16:38:10
Mudik Tahunan: Macet dan Kecelakaan yang Tak Pernah Tuntas

Mudik Tahunan: Macet dan Kecelakaan yang Tak Pernah Tuntas

4 Apr 2026 16:36:12
Krisis Energi Global dan Rapuhnya Kedaulatan Energi Nasional

Krisis Energi Global dan Rapuhnya Kedaulatan Energi Nasional

18 Mar 2026 21:49:48
Menyoal Perwali Santunan Kematian Bagi Rakyat Miskin

Menyoal Perwali Santunan Kematian Bagi Rakyat Miskin

17 Mar 2026 05:02:12

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED