Tahun Politik dan Kepemimpinan Islam 2019

Oleh: Indra Martian P

(Direktur Masyarakat Islam Indonesia, Dosen STAI PTDII, Mahasiswa Program Doktoral Pemikiran Islam dan Ideologi Kontemporer Unisza Malaysia)

Tahun 2018 dimulainya tahun politik di Indonesia sedikitnya pada tahun ini 171 pemilihan kepala daerah akan menghiasai dinamika politik di Indonesia. Lima partai berbasis Islam (PKB, PKS, PPP, PAN, dan PBB) akan bersaing dengan 10 partai nasionalis. Persaingan merebut kepemimpinan daerah menjadi menarik karena tidak terjadinya koalisis partai Islam secara utuh maupun partai nasionalis secara utuh.

PPP dan PKB memilih bergabung dengan koalisis partai penguasa PDI-P, sedangkan Partai Gerinda lebih nyaman bersama koalisi partai Islam, PKS dan PAN.

Pemilihan kepala daerah menjadi penting untuk mengukur kekuatan pada pemilihan presiden tahun 2019 nanti. Sehingga memenangkan Pilkada terutama di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi focus utama partai-partai sekarang sebelum mereka kemudian berani mencalonkan presiden versi mereka. Namun wacana presiden Indonesia tahun 2019 sudah mulai bermunculan meskipun pemilihan pilkada belum di mulai.

Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam adalah sesuatu yang penting dan strategis sehingga harus diwujudkan dalam politik Islam. Dr.Mu’inudinillah Basri, Lc MA menjelaskan, mengangkat pemimpin muslim untuk menjalankan syari’at Islam hukumnya wajib, [1]berdasarkan Sabda Nabi :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ»

Dari Abi Sa’id Al Khudri ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : jika tiga orang keluar safar maka hendaklah mengangkat Amir seorang dari mereka. HR Abu Dawud no : 2610

Allah swt menjadikan satu dari tujuan diturunkan Nabi Adam kedunia menjadi khalifah di bumi, sebagaimana Allah berfirman : “ dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat : sesungguhnya Aku menjadikan di bumi seorang khalifah” Al Imam Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini sebagai landasan utama mengangkat seorang khalifah.

Pemimpin harus ada karena masyarakat tidak akan teratur hidupnya kecuali dengan pemimpin.

لَا يَصْلُحُ النَّاسُ فَوْضَى لَا سَرَاةَ لَهُمْ … وَلَا سَرَاةٌ إذَا جُهَّالُهُمْ سَادُوا

Manusia tidak baik hidup kacau tidak ada bagi mereka pemimpin. Dan tidaklah dikatakan pemimpin jika orang orang bodoh mereka yang memimpin.

Kepemimpinan dalam siyasah syar’iyah wajib, karena imam sebagaimana dikatakan imam Mawardi :

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا، وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ

Al imamah digariskan untuk mewakili kenabian dalam menjaga addin dan mengatur dunia, dan mengangkatnya bagi siapa yang menegakkannya di umat Islam wajib dengan ijma’ ulama.

Kriteria Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan Islam sendiri harus mampu memenuhi beberapa syarat, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah : Kejujuran atau dapat dipercaya (amanah) kekuatan atau kecakapan (quwwah), berpengetahuan luas, bersikap adil dan saleh, dan mampu menjalin kerjasama[2].

Selain itu, Dr. Mu’inudinillah Basri, Lc MA menambahkan bahwa syarat seorang peimpin dan kepemimpinan Islam yang harusdi pilih :

  • Kafaah keilmuan dan professionalitas dalam kepemimpinan, tergambar dalam rahasia dipilihnya Thalut oleh Allah dalam firmannya :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

Sesungguhnya Allah telah memilihnya buat kalian dan telah memberikan dia kelebihan dalam ilmu dan fisik.QS l Baqarah ayat : 247

  • Keahlian, amanah, kuat, sangat menjaga tugasnya dengan baik, yaitu hifdzuddin dan siyasatun dunya biddin.( menjaga addin dan mengatur dunia dengan addin), hal itu diungkapkan dalam perkataan Yusuf as,

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (55)

Dia Yusuf berkata : jadikanlah aku penjaga hasil bumi, sesungguhnya aku sangat menjaga sangat mengetahui. QS Yusuf Ayat : 55

Dan perkataan Putri Nabi Syu’aib ketika mengusulkan kepada orang tuanya agar Nabi Musa dipekerjakan karena beliau sangat kuat dan sangat terpercaya.

  • Sangat peduli terhadap ummat, peduli dengan nasib ummat, lemah lembut dengan ketegasan dalam hukum, dan sangat kuat memegang prinsip. Allah berfirman dalam sifat sifat mendasar Rasulullah dalam kepemipinan :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128)

Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian, sangat berat atas beliau apa yang menyusahkan kalian, sangat perhatian atas kebaikan kalian, dan dengan kalian sangat lembut dan sayang. QS AT-Taubah 128.

  • Demokratis (bukan demokrasi) akomodatif.

Inilah kepemimpinan Rasul sangat terbuka terhadap masukan, kritikan, banyak melakukan syura, suka mendengarkan nasehat, tidak congkak, dan sombong. Inilah kepemimpinan para Khulafa’ Rasyidin, seperti Umar bin Khthab RA yang mengakui kesalahannya, dengan mengatakan, benarlah wanita dan Umar salah.

Rasulullah SAW mau memberi upeti kepada sebagian kelompok orang kafir yang terlibat peperangan ahzab, agar memecah kekuatan lawan, tetapi tidak mau memutuskan kecuali meminta pendapat para sahabat ansor, dan ketika mereka menolak Rasullah tidak melaksanakan idenya.

Rasulullah SAW ketika menempatkan pasukan di suatu tempat di Badar, satu sahabat bertanya, apakah itu wahyu atau ide dan perang itu strategi, Rasulullah mengatakan itu ide, maka sahabat mengusulkan agar Rasulullah memilih tempat yang lebih strategis, dan beliau menerima usulan itu.

  • Tidak ambisi atas kekuasaan, khasyyatullah, keteladanan yang tinggi, tawadhu’. Tergambar hal tersebut dalam pribadi pribadi Khulafa’ Rasyidin. Dalam pidato Abu Bakar RA, diantaranya : Wahai Manusia, akau dijadikan amanah memimpin kalian dan aku bukan orang yang terbaik diantara kalian, kalau saya taat kepada Allah taatilah aku dan kalau saya salah luruskan aku, dan kalau aku maksiat sungguh tidak ada ketaatan kalian untukku”

Kepemimpinan Islam dalam Tahun Politik 2019

Tahun politik 2018 akan menjadi irisan untuk pemilihan presiden Indonesia tahun 2019. Perjalanan panjang presiden Indonesia sejak tahun kemerdekaan 1945 melahirkan presiden yang belum berpihak kepada Islam dan Syariat Islam. Bahkan cenderung menjadi kutub yang berbeda dengan perjuangan Islam.

Kegagalan partai politik adalah melahirkan sosok presiden dari tokoh Islam yang bukan saja menjadi figure yang mampu memperjuangkan dan menjalankan syariat, namun juga mampu menyatukan seluruh elemen bangsa dan mampu melahirkan konsep pembangunan yang berkeadilan. Kegagalan partai juga lebih disebabkan politik transaksional yang dapat dilihat jelas oleh warga negara sehingga menimbulkan ketidakpercayaan terhadap partai dan parlemen.

Di tahun 2018 ini sebagian besarl embaga survey masih menempatkan Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden terkuat, namun keberadaan keduanya stagnan bahkan cenderung mengalami penurunan. Jokowi sebagai Presiden terpilih 2014 bahkan memilih berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat bahkan merugikan. Kebijakan impor beras, mencabut subsidi rumah tangga, dan menambahh utang negara merupakan kebijakan yang bertentangan dengan janji kampanyeyya. Bahkan Fadli Zon politisi Partai Gerindra mengatakan, ”Jokowi itu mukanya kerakyatan namun isinya liberal kapitalistik (ILC, Jokowi Semakin Kuat? Tanggal 27 Februari 2018).

Track record Jokowi sebagai pemimpin yang tidak amanah, tidak menepati janjinya menjadi senjata yang membunuh dirinya di Pilpres mendatang. Ditambah kebijakan menangkap para ulama, bahkan berdiam diri terhadap penyerangan ulama menjadi nilai minus berikutnya dimata umat Islam. Sehingga pemimpin seperti ini jelas tidak masuk kriteria yang direkomendasikan.

Adapun Prabowo belum terlihat secara maksimal secara konsep dan kinerja karena memang belum mendapatkan kesempatan memimpin.

 

Tiga Gubernur Calon Pemimpin Indonesia

Memimpin bangsa Indonesia bukan hanya menyelesaikan konsep keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, mampu memimpin di tengah komunitas masyarakat Indonesia heterogen dan multicultural dengan tidak mengabaikan umat Islam sebagai warga dengan aset terbesar namun juga pemimpin harus mampu dan berani berhadapan dengan pemodal-pemodal besar yang berusaha mengobrak-abrik kedaulatan bangsa.

Ahmad Heryawan, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, dan Anies Baswedan setidaknya bisa menjadi opsi untuk memimpin Indonesia kedepan. Popularitas ketiganya hari ini semakin menguat. Ketiganya memiliki kemampun dan kecakapan memimpin dan juga dalam ilmu pengetahuan yang hamper sama. Dalam hal pendidikan Ahmad Heryawan mendapatkan gelar doctor honoris causa dari Youngsan University Korea Selatan dalam bidang bisnis administrasi pada tahun 2011 dan dari UIN Bandung dalam bidang ketatanegaraan Islam (siyasah syar’iyyah) pada tahun 2014. Tuan Guru Bajang mendapatkan gelar doctor dari Universitas Al Azhar Mesir dalam bidang tafsir Al-Qur’an dan beliau seorang hafidz Qur’an. Sedangkan Anis Baswedan mendapatkan gelar doctor dari Nothern Illinois University Amerika dalam bidang Ilmu Politik.

Dalam ilmu tata kelola pemerintahan, keberhasilan Ahmad Heryawan dan TGB Muhamad Zainul Majdi memimpin daerahnya selama dua periode menjadi gambaran kinerja keduanya yang berhasil. Konsep pariwisata syariah di NTB dan menyusul di Jawa Barat (Pembicaraan Majelis Tarjih Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat yang dihadiri oleh Gubernur Ahmad Heryawan tahun2017 silam) sedangkan Anis Baswedan hari ini berusaha keras memenuhi janji-janji politik ketika kampanye pemilu. Kebijakan yang berusaha menghentikan kebijakan reklamasi, penutupan hotel dan tempat pelacuran Alexis, DP rumah 0%, penataan pasar Tanahabang, dan menata tukang becak merupakan kebijakan gubernur Anis di Jakarta. Kebijakan-kebijakan dari ketiga gubernur yang pro rakyat dan berusaha menanamkan nilai keislaman dalam pengelolaan pemerintahan di daerahnya.

Dalam politik Indonesia dengan system demokrasi dimana kekuatan masa dan pendukung menjadi hal yang menentukan, ketiga gubernur ini punya modal yang sangat besar. Ahmad Heryawan setidaknya didukung oleh masyarakat Jawa Barat yang dulu memenangkannya. Kekuatan PKS sebagai pengusung dirinya menjadi salah satu calon presiden dari PKS yang mempunyai kader masa yang solid. TGB Muhammad Zainul Majdi dicintai oleh masyarakat NTB, didukung oleh alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan mendapatkan juru bicara secara tidak langsung dari Ustadz Abdul Somad, Lc MA yang secara terang-terangan mencalonkan beliau jadi presiden. Sedangkan Anies Baswedan mempunyai massa 212 yang pada pilkada DKI kemaren memenangkannya.

Yang menjadi pembeda nanti kedepan dan menjadi tantangan adalah bagaimana ketiga Gubernur ini mampu mengambil sikap yang tegas terhadap para pemodal besar yang berusaha merusak tatanan kehidupan bernegara yang berusaha mengatur dan menggerakkan kebijakan-kebijakan negara ini berdasarkan kemauan mereka. Anies Baswedan berani face to face dengan pemerintahan pusat dalam masalah reklamasi, berani menutup tempat pelacuran Alexis. Setidaknya ini menjadi modal bagus buat Anis.

TGB Muhammad Zainul Majdi berani menyentil dan mengkritik presiden Jokowi dan media Pers pada peringatan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari 2016 silam di NTB. Ahmad Heryawan punya kesempatan untuk berhadapan dengan para pemodal tersebut pada pembangunan proyek perumahan Meikarta di Cikarang Bekasi yang belum keluar surat ijin pembangunannya namun sudah dibangun perumahannya. Namun kesempatan ini tidak diambil oleh Ahmad Heryawan.

Figure ketiga gubernur ini memiliki modal untuk dikemas untuk menjadi pemimpin Indonesia kedepan dengan tidak mengecilkan nama-nama lain seperti Jendral Gatot Nurmantyo yang awalnya sempet mencuri hati umat Islam namun belakangan justru tenggalam, Anis Matta, Yusril Ihza Mahendra mau pun tokoh lainnya yang memang masuk radar calon presiden.

Tinggal waktu yang menentukan apakah ketiga gubernur Islam terbaik hari ini yang merupakan refleksi dari kepemimpinan Islam saat ini akan benar menjadi Presiden Indonesia di tahun 2019 ataukah kembali kepemimpinan Islam akan diamputasi oleh kepentingan dan intrik politik kotor yang berusaha menenggelamkan Islam sehingga Indonesia dipimpin kembali oleh presiden yang tidak pro Islam.

Wallahua’lam

[1]Makalah Kepemimpinan dalam Perspektif Islam , Dr. Mu’inudinillah Basri, Lc MA yang dipresentasikan dalam Seminar Kepemimpinan Islam yang diadakan oleh Jamaah Ansharusy Syariah pada 6 Februari 2018 di Hotel Sofyan Betawi, Cikini Jakarta

[2]Makalah Dr. Anton MinardiberjudulDinamikaKepemimpinan Islam di Indonesia, Hotel SofyanBetawi, Cikini Jakarta