Di Balik Kekalahan Gus Ipul

Oleh: AB LATIF, Direktur Indo olitik Wacth

Hasil sementara dari pelaksanaan Pilkada Jatim khususnya pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 27 Juni 2018 kemarin sangat mengejutkan. Pasalnya, pasangan yang dibangga-banggakan PDI-P dan koalisinya (PKB, PKS, Gerindra)yaitu Gus Ipul – Puti dapat dikalahkan pasangan dari Khofifah – Emil yang didukung oleh PPP, Demokrat, Nasdem, Golkar. Berdasarkan hasil quick count yang digelar oleh Lembaga Idikator, Rabu (27 Juni 2018) pukul 17.33 WIB, menyatakan bahwa pasangan Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak lebih unggul 53,63 % dari pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Puti Guntur Soekarno yang hanya memperoleh suara 46,37 %. (https://news.detik.com/rad/2018/06/27/125622/4086011/10/quick-count-final-pilgub-jatim-indikator-khofifah-menang)

Jika ditelisik secara detail, empat partai pengungsung Gus Ipul – Puti sebenarnya cukup dominan. Secara kalkulasi suara berdasarkan pada pemilu 2014 seharusnya Gus Ipul – Puti lebih unggul. Lihat saja dari PKB meraih 3.671.911 suara (19,61 %), PDI-P meraih 3.523.434 suara (18,82 %), Gerindra meraih 2.457.966 (13,13 %), PKS meraih 974.000 suara (5,20 %). Artinya, jika digabung dari 4 partai tersebut sudah mencapai 56 % lebih unggul dari pasangan Khofifah – Emil. Lalu mengapa pada faktanya Gus Ipul bisa dikalahkan? Adakah partai yang berkhianat? Ataukah ada sebab lain???

Menang dan kalah merupakan hal yang sudah biasa dan wajar dalam segala aspek permainan. Kita harus senantiasa berlapang dada dalam menerima kemenangan ataupun kekalahan. Begitu juga dalam berpolitik, kita harus legowo menerima konskwensinya. Tapi setidaknya kita harus mampu menganalisa sejauh mana dan apa sebab-sebab kegagalan atau keberhasilan yang kita raih.

Jika kita analisa, ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi mengapa Gus Ipul bisa dikalahkan oleh Khofifah dalam Pilkada Jatim ini. Diantara faktor kekalahan Gus Ipul – Puti adalah sebagai berikut :

Yang pertama adalah elektabilitas atau ketenaran pasangan.

Secara elektabilitas Gus Ipu sudah tidak diragukan lagi. Semua warga Jawa Timur dari timur sampai barat pasti sudah mengenal siapa Gus Ipul, baik dalam kalangan instansi pemerintahan maupun dalam organisasi kemasyarakatan. Tapi dari sisi pasangannya yaitu Puti tidaklah begitu familiar di tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat tidak mengenalnya dan bahkan kariernya dalam dunia politik juga masih sangat baru. Hal ini sangat berbeda dengan pasangan Khofifah – Emil. Secara elektabilitas Khofifah juga sudah sangat dikenal masyarakat Jatim bahkan seluruh Indonesia. Begitu juga Emil sudah dikenal sebagian masyarakat bahkan sudah dikenal seluruh Bupati se-Jawa Timur serta menjadi kebanggaan masyarakat di daerahnya.

Yang kedua adalah latar belakang organisasi pasangan.

Walau sama-sama dari rahim NU, antara Gus Ipul dan Khofifah ada sedikit perbedaan. Khofifah begitu familier di kalangan fatayat dan muslimat yang dengan itu naluri kewanitaan otomatis lebih kuat pada figure pemimpin wanita. Dari kalangan kiai-kiai NU sendiri sebagian besar juga mendukung Khofifah, pasalnya walau sama dari rahim NU perbedaan pandangan diantara sesepuh NU juga sangat kelihatan. Banyak diantara kiai NU yang tak sefaham dengan pengurus pusat bahkan ada yang menyatakan mufaroqoh (berlepas diri).

Yang ketiga adalah elektabilitas partai pengusungnya.

Elektabilitas partai pengusung utama inilah yang banyak menentukan. Partai pengusung utama Gus Ipul tidak lain adalah PDI-P yang di mata sebagian besar umat Islam sangat antipati. Bahkan ada sebagian umat Islam yang berkomitmen siapapun orangnya jika diusung oleh partai pendukung penista agama akan ditumbangkan. Memang benar antara Pilkada Jatim dan Pilkada Jakarta tidak ada hubungannya, tapi setidaknya itu ada pengaruhnya dan pengaruh ini sangatlah kuat. Belum lag iaksi-aksi PDI-P dan keluarga Megawati yang selama ini banyak menyakiti umat Islam. Ingatlah ketika Megawati mengatakan bahwa kehidupan setelah dunia hanyalah khayalan orang-orang saja. Ingatlah ketika Sukmawati berpuisi yang menyinggung perasaan umat. Ingatlah bagaimana PDI-P mengeruduk kantor Radar dan kantor PKS jatim yang merupakan koalisi mereka. Karena boleh jadi secara struktural menyatakan koalisi tapi anggota secara pribadi yang tersakiti belum tentu akan mendukung koalisi tersebut.

Yang keempat adalah penguasaan media.

Memang benar banyak media televisi, koran dan radio yang mereka kuasai. Media-media itu senantiasa membuat framing yang begitu kuat mendukung mereka. Tapi di balik itu ada media sosial yang begitu kuat pengaruhnya dibandingkan televisi, radio dan koran. Lihatlah bagaimana aksi 212 bisa berjalan dengan begitu kuat tidak lain hanya bermodalkan WhatsApp, Facebook, Twitter dll. Media social inilah yang sebenarnya sangat kuat untuk mempengaruhi masyarakat. Jika seseorang lihat televisi mungkin waktu-waktu tertentu. Tapi kalau lihat ponsel mereka sudah pasti setiap saat. Dan hampir semua orang punya ini dan dibawa kemana saja ia pergi. Artinya, sosial media ini juga turut mempengaruhi kekalahan Gus Ipul – Puti.

Inilah beberapa faktor yang mempengaruhi kekalahan Gus Ipul – Puti. Hendaknya ini menjadi pelajaran berharga bagi PDI-P khususnya dan dan semuapartai pada umumnya. Semua kebijakan partai dan tindak tanduk partai senantiasa dibaca masyarakat. Kita tahu dulu PDI-P begitu dielu-elukan masyarakat dan menjadi harapan masyarakat di awal berdirinya, tapi kini seiring dengan waktu dan kekuasaan yang diraihnya fakta mengungkap hal yang berbeda. Masyarakat menilai PDI-P dulu sangat berbeda dengan PDI-P sekarang. Benarkah hal ini? Wallahu ‘alam.

Musyawarah Tanwir I Hizbul Wathan Usung Tema Pembentukan Karakter Bela Negara

SLEMAN (Jurnalislam.com) – Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan menggelar Musyawarah Tanwir I di Gedung LPMP DIY, Kalasan, Sleman, Kamis (28/6/2018) dengan tema Pembentukan Karakter Bela Negara. Dalam musyawarah yang berlangsung dua hari itu, Mayor Pnb Adhe Irwansyah didaulat sebagai narasumber.

Mayor Pnb Adhe Irwansyah menjelaskan tentang pengertian, maksud dan tujuan, unsur dasar dan upaya bela negara. Selain itu, berbagai kisah heroic para pahlawan yang membela negara demi merebut kemerdekaan juga dikisahkan.

Salah satunya adalah Marsekal Muda (Anumerta) A. Adisutjipto, yang dengan alat yang memadai berani menerbangkan pesawat. Pada akhirnya beliau saat ingin mendarat di Lanud Maguwo ditembak oleh dua pesawat Belanda. Akhirnya beliau gugur dan nama Lanud Maguwodi diubah menjadi namanya untuk mengabadikan perjuangannya.

“Begitulah karakter bela negara para pahlawan yang akan dididikkan kepada seluruh elemen Hizbul Wathan,” kata Mayor Adhe.

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan adalah wadah pengembangan karakter. Sesuai namanya, Hizbul Wathan harus senantiasa membela tanah air dari segala macam gangguan. Hizbul Wathan telah melahirkan banyak tokoh-tokoh besar diantaranya adalah Jenderal Besar Soedirman dan Letnan Jenderal M Syarbini.

Bahkan menurut Muchdi Purwaprandjono, Ketua Umum Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Jenderal Soedirman adalah Jenderal termuda di dunia yang dipilih secara demokratis oleh para jenderal di seluruh Indonesia, yakni berumur dua puluh Sembilan tahun ketika diangkat.

Kiriman: Arsyad Arifi

Forum Me-DAN Bagikan Sembako untuk Korban Banjir Banyuwangi

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Ratusan warga korban banjir bandang yang melanda Kecamatan Singojuruh dan Songgon, Kabupaten Banyuwangi memadati Posko Peduli Forum Media dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) di Jl. Aruji Karta Winata, Karangasem, Alasmalang, Singojuruh. Mereka rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkan bantuan berupa paket sembako dan kebutuhan lainnya.

Dalam pantauan Jurnalislam.com di lapangan, antrian mulai nampak pada jam 9 pagi hingga jam 8 malam, Jumat (29/6/2018). Mereka berdatangan dari berbagai desa yang terdampak langsung seperti Desa Bangunrejo, Karangasem, Wonoreksi, dan Garit.

Masyarakat korban Banjir bandang rela mengantri di Pos Peduli Forum Medis dan Kemanusiaan (MeDAN) sejak hari ke 4 hingga sepekan pasca banjir untuk mendapatkan paket sembako dan kebutuhan harian lainnya. Antrian tampak sejak jam 9 pagi hingga jam 8 malam. Mereka berasal dari 4 dusun terdampak yaitu Bangunrejo, Karangasem, Wonorekso, dan Garit.

“Kebutuhan yang mendesak saat ini adalah beras, gula, dan minyak goreng. Karena hari ke 4 pasca bencana, warga sudah mulai bisa masuk rumah dan memiliki dapur mandiri” terang Sekjen Forum Me-DAN, Sunaryo kepada Jurnalislam.com.

Selain itu, lanjut Sunaryo, warga juga membutuhkan alat kebersihan untuk membersihkan rumah-rumah mereka.

Sementara itu, seorang warga Garit, Sobirin mengungkapkan rasa syukurnya atas keberadaan posko Forum Me-DAN. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan dari Forum Me-DAN.

“Kami bersyukur di pos relawan MeDan ini memudahkan urusan kami dan gak ribet ambil bantuannya sehingga bisa segera kami manfaatkan bersama keluarga. Saya juga salut dengan relawan yang sangat sabar dan cekatan melayani masyarakat, padahal mereka datang membludak” ungkapnya.

Hingga hari ke 6 pasca bencana, Forum Me-DAN menjadi koordinator relawan lokal dari beberapa desa dan Kecamatan di Banyuwangi serta dari sejumlah komunitas Relawan independent di jawa Timur.

Banjir bandang melanda kecamatan Singojuruh dan Songgon Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (22/6/2018). Banjir bandang disebabkan longsor di kawasan lereng Gunung Raung di Kecamatan Songgon. Sehingga, saat terjadi hujan lebat material berupa balok kayu terseret arus hingga ke hilir sungai dan menyumbat aliran sungai mengakibatkan air meluap ke pemukiman warga. Sedikitnya 300 rumah warga terdampak, puluhan diantaranya rusak parah.

Reporter: Fikri

Meski Meneror, OPM Tak Pernah Disebut Teroris

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Mujahidin (MM) Klaten Ustadz Boni Azwar mengatakan, ketidaktegasannya pemerintah dalam menangani kasus penembakan pesawat Trigana Air di Papua oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin membuktikan adanya tebang pilih hukum yang dilakukan pemerintahan Jokowi.

Meskipun perbuatan teror OPM itu sangat jelas, akan tetapi tuduhan dan label teroris selalu ditujukan kepada Islam. Padahal, kata dia, selain meneror OPM juga mengancam kedaulatan negara.

“Maka kita lihat selama ini pemerintahan Jokowi ini tidak tegas masalah itu, tegasnya kepada umat Islam, kepada yang lain seperti OPM tidak pernah ditindak,” katanya kepada Jurnalislam.com di Solo, Jumat (29/6/2018).

Menurutnya, hal itulah yang selama ini menimbulkan rasa ketidakadilan bagi umat Islam. Pemerintah terkesan menganaktirikan umat Islam. Sebesar apapun kejahatan yang dilakukan oleh non muslim tidak pernah dianggap sebagai perbuatan terori.

“Yang menjadi kecemburuan umat Islam itu kalau ada kasus yang dilakukan oleh umat Islam baik kecil atau besar tuduhannya pasti terorisme, tapi kalau separatis seperti di Papua itu malah kesannya bukan urusan teroris dan kriminal murni padahal jelas-jelas seperti OPM ini dari dulu kan berbuat makar, mereka mempunyai cita-cita untuk merdeka,” paparnya.

Untuk itu, ustaz Boni meminta pemerintah bersikap adil terhadap umat Islam. Ia juga mendesak presiden Jokowi untuk menurunkan Densus 88 ke Papua guna menangkap pelaku teror yang selama ini sudah sangat meresahkan masyarakat tersebut.

“Kita sebagai umat Muslim menuntut keadilan agar Densus tidak hanya mengobok-obok ‘umat Islam’ coba Densus itu juga turun ke Papua menangani tindakan teroris yang dikalakukan OPM, itu yang kita minta,” pungkasnya.

Novel Baswedan Minta Media Islam Soroti Masalah Korupsi

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan meminta media Islam untuk proaktif dalam pemberantasan korupsi di Indonesiai. Dengan mengedepankan nilai-nilai agama, Novel berharap media Islam dapat memberikan sentuhan baru dalam upaya pemberantasan korupsi.

“Yang pertama, terutama bagi media Islam marilah kita terus menyoroti dan terus memantau setiap korupsi yang terjadi dengan harapan bisa dilihat menjadi permasalahan publik dan mendorong untuk diusut dengan tuntas,” katanya kepada Jurnalislam.com belum lama ini.

Media Islam bisa memberikan semacam pembelajaran bagi masyarakat bahwa melakukan tindak korupsi hanya akan berujung pada kehinaan dunia dan akhirat. “Hal ini suatu hal yang bisa dimunculkan oleh media Islam,” ujarnya.

Novel juga meminta media Islam untuk tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dan aparat yang dirasa melindungi para pelaku tindak pidana korupsi.

“Saya juga berharap media Islam mau mengkritisi setiap kebijakan-kebijakan pemerintah atau tindakan penegak hukum yang justru melindungi atau menutupi perilaku-perilaku korupsi atau membiarkan dan lain-lain. Hal ini penting, karena peran media adalah membuka, memberikan pembelajaran bagi masyarakat umum, dan mengkritisi,” paparnya.

Novel mengungkapkan, saat ini KPK sedang menghadapi banyak ujian. Kasus penyerangan kepada dirinya pun hingga saat ini belum menemui titik terang. Novel berpesan kepada rekan-rekannya di KPK untuk bersabar dan terus saling menguatkan.

“Kita terus menguatkan semangat dan stamina karena berjuang juga membutuhkan stamina,” kata dia.

“Kita harus keluar dari zona nyaman, orang di KPK adalah sebagai pejuang bukan orang yang hanya bekerja biasa tetapi orang yang berjuang memberantas korupsi,” tegasnya.

Umat Islam Berperan Penting dalam Upaya Pemberantasan Korupsi

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Umat Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal ini disampaikan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan kepada Jurnalislam.com belum lama ini.

“Sebab umat Islam mempunyai kesadaran penuh bahwa perbuatan korupsi adalah perbuatan buruk yang akan mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa ta’ala,” katanya.

Novel menjelaskan, korupsi itu cakupannya luas. Ada yang terkait dengan kerugian keuangan negara, sumber daya negara, sumber daya alam milik negara, dan pelayanan publik.

“Ketika kita memilih memberikan uang untuk mendapatkan kemudahan dalam pelayanan publik ini adalah suatu tindakan yang terlaknat oleh Allah. Dan tentunya sebagai umat Islam kita harus memilih mendapatkan kesulitan dalam pelayanan publik daripada mendapatkan laknat dari Allah,” paparnya.

Ia juga mengingatkan bahwa korupsi adalah perilaku yang mempunyai sifat adiktif atau candu. Pelaku korupsi cenderung akan mengulang perbuatannya meskipun ia sudah mengetahui resikonya.

“Umat Islam harus berani melaporkan setiap tindak korupsi yang terjadi, dengan harapan ini bisa memberantas korupsi atau meminimalisir tindak korupsi di tengah masyarakat,” tandasnya.

Ustadz Arifin Ilham: Yang Menang Jangan Sombong, Yang Kalah Muhasabah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemilihan Kepala daerah (pilkada) serentak 2018 baru saja dilangsungkan. Sejumlah lembaga survey pun telah mengumumkan para pemenangnya. Pimpinan Majelis Adzikra Bogor, Ustadz Muhammad Arifin Ilham berpesan kepada pemenang untuk tidak sombong dan membuktikan janji-janjinya semasa kampanye.

“Sikap mu’min : yang menang bersyukur tanpa sombong. Ingat kemenangan sebenarnya membuktikan janji-janjinya,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (27/6/2018).

Ia pun bersyukur pilkada berlangsung dengan aman dan damai. “Alhamdulilah Pilkada kita lalui dengan aman dan damai,” tuturnya.

Namun siapapun pemenangnya, kata diam, adalah kemenangan bersama karena berangkat dari niat yang sama yaitu untuk membangun negeri.

Ustadz Arifin juga berpesan kepada paslon yang kalah untuk bermuhasabah dan bersikap ksatria.

“”Yang kalah bersabar dan tentu muhasabah diri. Dan silakan menunggu pengumuman resmi real count KPU. Dengan ksatria sebagai anak bangsa dan hamba Allah yang beriman, maka ucapkan selamat dan doa bagi yang menang,” katanya.

“Semua wajib berjuang, tidak wajib hasil. Hasil serahkan pada Allah SWT. Keep istiqomah, semakin bertaqwa. Inilah kemenangan haikiki menuju kebahagian dunia akhirat’Faqod faaza’,” sambungnya

Ustadz Arifin pun mengutip salah satu firman Allah SWT: “Sungguh menanglah hamba-hamba yang bertakwa itu.”(QS Ali Imron 185).

“Allahumma ya Allah berkahilah negeri kami tercinta dengan kemuliaan akhlak para pemimpin kami dan rakyat negeri kami tercinta, aamiin,” pungkasnya.

 

Berantas Teroris OPM, ISAC Desak Pemerintah Turunkan Densus 88 ke Papua

SOLO (Jurnalislam.com) – Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono mendesak pemerintah untuk menurunkan Detasemen Khusus (Densus) 88 ke Papua guna menangkap pelaku penembakan pesawat Trigana Air.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi penembakan pesawat Trigana Air oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menewaskan 3 orang beberapa waktu lalu.

“Pelibatan Densus 88 dan TNI harus segera disinergikan untuk penegakan hukum terhadap semua pelaku dan aktor intelektualnya,” paparnya.

Menurut Endro, tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan OPM sudah termasuk tindakan terorisme dan melawan pemerintahan Indonesia.

“Pemerintah harus tegas, jangan terkesan membiarkan, menolerir perilaku OPM sebagai tindakan kriminal biasa, namun harus ditindak sebagai organisasi separatis dan terorisme,” katanya kepada Jurnalislam.com, Rabu (27/6/2018).

Endro mempertanyakan sikap BNPT yang seolah tidak berdaya menangani kasus terorisme di Papua. Sudah seharusnya, pemerintah menjadikan kasus ini sebagai prioritas agar kedaulatan Indonesia di tanah Papua tetap terjaga.

“Kasus ini seharusnya menjadi operasi prioritas pemerintah, jika membandingkan dengan kasus bom di Surabaya aparat mampu menangkap ratusan orang dan menembak mati beberapa orang, maka ISAC menunggu langkah dan sikap aparat penegak hukum dalam kasus terorisme dan separatisme di bumi Papua,” pungkasnya.

Ini Imbauan MUI dan GUIB Jatim Tentang Pilkada Serentak 2018

SURABAYA (Jurnalislam.com) – MUI Jawa Timur dan Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) mengeluarkan imbauan bersama terkait Pilkada serentak 2018 yang akan dilangsungkan hari ini, Rabu (27/6/2018).

MUI dan GUIB meminta umat Islam untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggungjawab sesuai dengan tuntutan agama sebagaimana hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia Tahun 20019: Memilih pemimpin menurut ajaran Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan beragama.

“Dalam menggunakan hak pilihnya. Umat Islam wajib memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathanah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam,” kata Ketua GUIB Jatim, Drs. H. Abdurrahman Azis dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (26/6/2018).

GUIB juga mengajak segenap Umat Islam untuk bermunajat memohon kepada Allah SWT agar semua proses pemilukada serentak bisa terlaksana secara jujur, adil, aman dan damai serta menghasilkan pemimpin-pemimpin yang takut hanya kepada Allah dan berjuang sepenuh tenaga mewujudkan bangsa dan negara yang adil dan makmur dalam lindungan Allah SWT (baldatun thayyibatun warabbun ghafur).

Selain itu, MUI dan GUIB Jatim mengimbau umat Islam untuk menjaga keamanan dan turut serta mengawasi proses pemilukada untuk mencegah kecurangan dan gangguan keamanan.

YSMC, ECR, dan PMI Karanganyar Gelar Pengobatan Gratis di Kaki Gunung Lawu

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Yayasan Sedekah Merem Community (YSMC) bekerjasama dengan ECR (Emergency and Crisis Response) serta PMI Karanganyar menggelar bakti sosial bagi masyarakat di kaki Gunung Lawu. Baksos dilakukan di Rumah Qur’an Sepanjang (RQS) Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah pada Ahad (24/6/2018) pagi.
Sebanyak 76 pasien mendapatkan pelayanan medis dan pengobatan ala nabi atau thibun nabawi. Selain itu, puluhan relawan juga mendonorkan darahnya melalui PMI Cabang Karanganyar.
Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan YSMC sebagai wujud bentuk kepedulian kepada sesama. “Baksos seperti ini sengaja kami gelar setiap tahun, sebagai sarana kepedulian kami kepada masyarakat,” kata Ketua Panitia Edi Sujarwo, S.Pd. I. YSMC merupakan Yayasan yang bergerak di bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan
Relawan juga memberikan terapi berhenti merokok. “Terapi ini sebenarnya hanya memberikan motifasi dan sugesti bagi pasien agar mempunyai keyakinan bisa berhenti dari pengaruh rokok,” kata Manager ECR Galih Setia Adi.
Sementara itu, tim dokter ECR dr. Raja berpesan agar masyarakat di daerah pegunungan untuk menjaga pola makan. Sebab penduduk di daerah pegunungan lebih berpotensi terkena asam urat dan kolesterol jika tidak menjaga pola makannya.