Di Balik Kekalahan Gus Ipul

Di Balik Kekalahan Gus Ipul

Oleh: AB LATIF, Direktur Indo olitik Wacth

Hasil sementara dari pelaksanaan Pilkada Jatim khususnya pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 27 Juni 2018 kemarin sangat mengejutkan. Pasalnya, pasangan yang dibangga-banggakan PDI-P dan koalisinya (PKB, PKS, Gerindra)yaitu Gus Ipul – Puti dapat dikalahkan pasangan dari Khofifah – Emil yang didukung oleh PPP, Demokrat, Nasdem, Golkar. Berdasarkan hasil quick count yang digelar oleh Lembaga Idikator, Rabu (27 Juni 2018) pukul 17.33 WIB, menyatakan bahwa pasangan Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak lebih unggul 53,63 % dari pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Puti Guntur Soekarno yang hanya memperoleh suara 46,37 %. (https://news.detik.com/rad/2018/06/27/125622/4086011/10/quick-count-final-pilgub-jatim-indikator-khofifah-menang)

Jika ditelisik secara detail, empat partai pengungsung Gus Ipul – Puti sebenarnya cukup dominan. Secara kalkulasi suara berdasarkan pada pemilu 2014 seharusnya Gus Ipul – Puti lebih unggul. Lihat saja dari PKB meraih 3.671.911 suara (19,61 %), PDI-P meraih 3.523.434 suara (18,82 %), Gerindra meraih 2.457.966 (13,13 %), PKS meraih 974.000 suara (5,20 %). Artinya, jika digabung dari 4 partai tersebut sudah mencapai 56 % lebih unggul dari pasangan Khofifah – Emil. Lalu mengapa pada faktanya Gus Ipul bisa dikalahkan? Adakah partai yang berkhianat? Ataukah ada sebab lain???

Menang dan kalah merupakan hal yang sudah biasa dan wajar dalam segala aspek permainan. Kita harus senantiasa berlapang dada dalam menerima kemenangan ataupun kekalahan. Begitu juga dalam berpolitik, kita harus legowo menerima konskwensinya. Tapi setidaknya kita harus mampu menganalisa sejauh mana dan apa sebab-sebab kegagalan atau keberhasilan yang kita raih.

Jika kita analisa, ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi mengapa Gus Ipul bisa dikalahkan oleh Khofifah dalam Pilkada Jatim ini. Diantara faktor kekalahan Gus Ipul – Puti adalah sebagai berikut :

Yang pertama adalah elektabilitas atau ketenaran pasangan.

Secara elektabilitas Gus Ipu sudah tidak diragukan lagi. Semua warga Jawa Timur dari timur sampai barat pasti sudah mengenal siapa Gus Ipul, baik dalam kalangan instansi pemerintahan maupun dalam organisasi kemasyarakatan. Tapi dari sisi pasangannya yaitu Puti tidaklah begitu familiar di tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat tidak mengenalnya dan bahkan kariernya dalam dunia politik juga masih sangat baru. Hal ini sangat berbeda dengan pasangan Khofifah – Emil. Secara elektabilitas Khofifah juga sudah sangat dikenal masyarakat Jatim bahkan seluruh Indonesia. Begitu juga Emil sudah dikenal sebagian masyarakat bahkan sudah dikenal seluruh Bupati se-Jawa Timur serta menjadi kebanggaan masyarakat di daerahnya.

Yang kedua adalah latar belakang organisasi pasangan.

Walau sama-sama dari rahim NU, antara Gus Ipul dan Khofifah ada sedikit perbedaan. Khofifah begitu familier di kalangan fatayat dan muslimat yang dengan itu naluri kewanitaan otomatis lebih kuat pada figure pemimpin wanita. Dari kalangan kiai-kiai NU sendiri sebagian besar juga mendukung Khofifah, pasalnya walau sama dari rahim NU perbedaan pandangan diantara sesepuh NU juga sangat kelihatan. Banyak diantara kiai NU yang tak sefaham dengan pengurus pusat bahkan ada yang menyatakan mufaroqoh (berlepas diri).

Yang ketiga adalah elektabilitas partai pengusungnya.

Elektabilitas partai pengusung utama inilah yang banyak menentukan. Partai pengusung utama Gus Ipul tidak lain adalah PDI-P yang di mata sebagian besar umat Islam sangat antipati. Bahkan ada sebagian umat Islam yang berkomitmen siapapun orangnya jika diusung oleh partai pendukung penista agama akan ditumbangkan. Memang benar antara Pilkada Jatim dan Pilkada Jakarta tidak ada hubungannya, tapi setidaknya itu ada pengaruhnya dan pengaruh ini sangatlah kuat. Belum lag iaksi-aksi PDI-P dan keluarga Megawati yang selama ini banyak menyakiti umat Islam. Ingatlah ketika Megawati mengatakan bahwa kehidupan setelah dunia hanyalah khayalan orang-orang saja. Ingatlah ketika Sukmawati berpuisi yang menyinggung perasaan umat. Ingatlah bagaimana PDI-P mengeruduk kantor Radar dan kantor PKS jatim yang merupakan koalisi mereka. Karena boleh jadi secara struktural menyatakan koalisi tapi anggota secara pribadi yang tersakiti belum tentu akan mendukung koalisi tersebut.

Yang keempat adalah penguasaan media.

Memang benar banyak media televisi, koran dan radio yang mereka kuasai. Media-media itu senantiasa membuat framing yang begitu kuat mendukung mereka. Tapi di balik itu ada media sosial yang begitu kuat pengaruhnya dibandingkan televisi, radio dan koran. Lihatlah bagaimana aksi 212 bisa berjalan dengan begitu kuat tidak lain hanya bermodalkan WhatsApp, Facebook, Twitter dll. Media social inilah yang sebenarnya sangat kuat untuk mempengaruhi masyarakat. Jika seseorang lihat televisi mungkin waktu-waktu tertentu. Tapi kalau lihat ponsel mereka sudah pasti setiap saat. Dan hampir semua orang punya ini dan dibawa kemana saja ia pergi. Artinya, sosial media ini juga turut mempengaruhi kekalahan Gus Ipul – Puti.

Inilah beberapa faktor yang mempengaruhi kekalahan Gus Ipul – Puti. Hendaknya ini menjadi pelajaran berharga bagi PDI-P khususnya dan dan semuapartai pada umumnya. Semua kebijakan partai dan tindak tanduk partai senantiasa dibaca masyarakat. Kita tahu dulu PDI-P begitu dielu-elukan masyarakat dan menjadi harapan masyarakat di awal berdirinya, tapi kini seiring dengan waktu dan kekuasaan yang diraihnya fakta mengungkap hal yang berbeda. Masyarakat menilai PDI-P dulu sangat berbeda dengan PDI-P sekarang. Benarkah hal ini? Wallahu ‘alam.

Bagikan