AS Tegaskan Semua Opsi Terbuka untuk Hentikan “Pembantaian” di Iran, Teheran Balik Tuduh Washington Dalangi Kerusuhan

AS Tegaskan Semua Opsi Terbuka untuk Hentikan “Pembantaian” di Iran, Teheran Balik Tuduh Washington Dalangi Kerusuhan

NEW YORK (jurnalislam.com)— Amerika Serikat kembali menegaskan dukungannya terhadap “rakyat Iran yang berani” di tengah gelombang protes berdarah yang mengguncang negara tersebut. Presiden AS Donald Trump, melalui perwakilannya di PBB, menyatakan bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan apa yang disebut Washington sebagai “pembantaian” terhadap para pengunjuk rasa.

Pernyataan itu disampaikan oleh Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang digelar atas permintaan Amerika Serikat pada Kamis (15/01/2026).

“Presiden Trump adalah seorang pemimpin yang bertindak, bukan sekadar banyak bicara seperti yang sering kita lihat di PBB. Ia telah memperjelas bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembantaian,” ujar Waltz di hadapan Dewan Keamanan.

Waltz menambahkan bahwa Presiden Trump secara konsisten menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran yang menentang kebijakan pemerintah mereka.

Namun demikian, setelah berhari-hari melontarkan ancaman keras, Trump belakangan mengambil sikap menunggu dan mengamati. Ia mengatakan telah menerima laporan bahwa kekerasan mulai mereda dan bahwa saat ini tidak ada indikasi rencana eksekusi massal dalam waktu dekat.

Menanggapi tuduhan Teheran bahwa protes tersebut merupakan “konspirasi asing” untuk membuka jalan bagi aksi militer, Waltz menolak keras klaim tersebut.

“Dunia perlu tahu bahwa rezim Iran kini lebih lemah dari sebelumnya. Mereka menyebarkan kebohongan ini karena takut pada kekuatan rakyat Iran yang turun ke jalan. Mereka takut pada rakyat mereka sendiri,” tegas Waltz.

𝗣𝗕𝗕 𝗦𝗲𝗿𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗮𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗿𝗶

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Seruan tersebut disampaikan oleh pejabat senior PBB Martha Pobee kepada Dewan Keamanan.

“Sekretaris Jenderal mendesak pengekangan maksimal pada saat yang sangat sensitif ini dan menyerukan kepada semua pihak untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat menyebabkan hilangnya lebih banyak nyawa atau memicu eskalasi regional yang lebih luas,” kata Pobee.

𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗱𝘂𝗵 𝗔𝗦 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗞𝗲𝗿𝘂𝘀𝘂𝗵𝗮𝗻

Dari pihak Iran, Wakil Perwakilan Tetap Iran untuk PBB Gholamhossein Darzi menyampaikan bantahan keras terhadap pernyataan Amerika Serikat. Ia membuka pidatonya dengan mengecam dua pembicara dari kelompok masyarakat sipil yang hadir dalam sidang tersebut, dengan menuding mereka sebagai perpanjangan agenda politik Amerika Serikat dan Israel.

Berbicara mengenai situasi di dalam negeri Iran, Darzi mengatakan bahwa dirinya berbicara atas nama “sebuah bangsa yang sedang berduka”.

“Sangat disayangkan bahwa perwakilan rezim Amerika Serikat yang meminta pertemuan ini hari ini menggunakan kebohongan, distorsi fakta, dan disinformasi yang disengaja untuk menutupi keterlibatan langsung negaranya dalam mengarahkan kerusuhan di Iran menuju kekerasan,” ujarnya.

Gelombang protes di Iran pecah pada 28 Desember, bermula dari aksi para pemilik toko di ibu kota Teheran yang memprotes anjloknya nilai mata uang nasional, melonjaknya inflasi, serta memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Demonstrasi tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah dan berubah menjadi protes besar-besaran yang menentang pemerintah. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan dilaporkan menewaskan ratusan orang, baik dari kalangan warga sipil maupun pasukan keamanan.

Hingga kini, pihak berwenang Iran masih memberlakukan pembatasan komunikasi secara luas, termasuk pemadaman internet, meskipun intensitas protes dilaporkan mulai menurun. (Bahry)

Sumber: TRT

Bagikan