AILA : Gerakan LGBT Sangat Terstruktur, Sistematis dan Massif

DEPOK (Jurnalislam.com) – Sebagai bagian dari edukasi dan sosialisasi yang dilakukan Peduli Sahabat, sebuah lembaga yang berfokus pada konsultasi, pendampingan dan informasi mengenai dunia non heteroseksual, pengurus Peduli Sahabat, Sinyo Egie bersama dengan Sekjen AILA, Rita Hendrawaty Soebagio mengisi acara seminar Holding Hands With LGBT: Bagaimana Muslim Bersikap Terhadap LGBT?.

Menurut Rita, LGBT merupakan fenomena sosial yang harus dihadapi di masyarakat dan mereka merupakan gerakan yang sangat terstruktur, sistematis dan massif.

“LGBT merupakan fenomena sosial di masyarakat yang harus kita hadapi dan merupakan sesuatu yang telah banyak dikaji di lembaga-lembaga pemikiran. Ketika kita membahas LGBT kita tidak membahas secara person per person. Ketika kita bicara dengan LGBT kita sedang menghadapi gerakan sosial yang bisa jadi teman-teman SSA tidak menyadari, mereka sangat terstruktur, sistematis dan massif melakukan gerakannya,” papar ibu tiga anak ini kepada peserta yang hadir di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok, Selasa (22/09/2015).

Gerakan LGBT, ungkap Pembina Peduli Sahabat ini, menjadi sangat terstruktur, sistematis dan massif karena mereka mendapatkan dana besar dari luar.

“Kenapa kita harus sama-sama menentang dan mewaspadai?, Ada dana-dana dari Eropa bahkan UN Women membiayai gerakan ini. Kita tidak sedang menumbuhkan kebencian pada seseorang. Jutaan dollar mereka kemudian tanamkan dalam gerakan massif ini, jadi ini bukan sekedar gerakan maknawi,” ungkapnya pada 250 peserta yang memadati ruangan.

Sedangkan Sinyo menerangkan bahwa ada perbedaan antara mereka yang LGBT dengan SSA (Same Sex Attraction), LGBT meminta pengakuan, meminta hak seperti hak untuk menikah dengan sesama jenis, sedangkan SSA tidak.

“SSA itu baru tertarik, LGBT itu awalnya dari SSA. Nah LGBT ini identitas sosial, sedangkan SSA ini bukan. SSA belum tentu LGBT. Nah kenapa LGBT ini bisa timbul? Nah dia pengen diakui semua, nikah dapat hak dan lainnya,” terang pemilik nama asli Agung Sugiarto ini.

Seminar yang terselenggara atas kerjasama SALAM UI dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini dihadiri oleh 250 peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang, padahal kuota awal hanya 50 peserta. Di antara peserta yang datang terdapat kelompok pro LGBT dari SGRC UI.

Peduli Sahabat merupakan sebuah lembaga di bawah Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia yang berfokus pada pendampingan, layanan maupun pemberikan informasi terkait dunia non-heteroseksual. Didirikan pada tanggal 14 Maret 2014 di Jakarta dan telah mendapatkan dukungan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia (PDSKJI) Seksi Spiritual dan Reliji.

Kontributor : Sarah | Editor : Ally | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.