Tiga Tahun Gaza: Jangan Lelah Membela Al-Aqsa

Oleh: Cak Arip

Tepat tiga tahun sejak 7 Oktober 2023.
Tiga tahun mungkin cukup panjang untuk membuat sebuah tragedi perlahan berubah menjadi angka, arsip berita, atau gambar-gambar lama yang tenggelam oleh peristiwa baru.

Tetapi tidak bagi Gaza.
Hingga 5 Oktober 2026, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah mencapai 74.243 orang, sementara korban luka mencapai 175.232 orang. Bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober 2025, korban masih terus bertambah.

Data sumber medis yang dilansir WAFA mencatat 1.460 orang tewas dan 5.116 lainnya terluka sejak gencatan berlaku. Tiga tahun berlalu, tetapi waktu tidak mengembalikan anak, ayah, ibu, rumah, dan keluarga yang hilang. Dan ada satu hal lain yang tidak boleh ikut hilang dari ingatan kita: Al-Aqsa.

Ketika Gaza Tidak Lagi Memenuhi Layar Gadget

Pada bulan-bulan pertama perang, Palestina memenuhi linimasa. Foto-foto Gaza ada di mana-mana. Demonstrasi berlangsung di banyak kota dunia. Seruan boikot menyebar. Doa-doa untuk Palestina terdengar dari masjid dan majelis umat Islam.

Tiga tahun kemudian, perhatian dunia mulai bergeser. Berita datang silih berganti. Konflik baru muncul. Kamera berpindah. Apa yang kemarin memenuhi layar, perlahan tersingkir oleh kabar berikutnya. Namun apa yang terjadi di Palestina tidak berhenti hanya karena perhatian kita berkurang.

Gaza masih menanggung kehancuran. Di Tepi Barat, perluasan permukiman dan kekerasan terhadap warga Palestina terus menjadi persoalan. Sementara di Yerusalem, tekanan terhadap Masjid Al-Aqsa berlangsung di depan mata.

Pada 5 Oktober 2026, WAFA melaporkan 145 pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa melalui Gerbang Mughrabi dengan perlindungan aparat Israel. Sebanyak 170 orang lainnya masuk dengan dalih wisata.

Sepekan sebelumnya, pada 28 September, sebanyak 1.731 pemukim memasuki kompleks Al-Aqsa dalam satu hari. Mereka masuk dalam beberapa gelombang dengan perlindungan polisi Israel dan melakukan ritual serta doa Yahudi di dalam kompleks.

Jerusalem Governorate mencatat 40.661 pemukim telah memasuki kompleks Al-Aqsa sejak awal Januari hingga akhir Agustus 2026. Sementara sejak awal tahun hingga awal September, sekitar 800 perintah larangan memasuki Al-Aqsa diterbitkan terhadap warga Yerusalem Palestina.

Angka-angka itu menunjukkan sesuatu yang sederhana: ketika perhatian dunia terhadap Palestina naik dan turun, tekanan terhadap Al-Aqsa tidak ikut berhenti.

Al-Aqsa Bukan Sekadar Latar Perang

Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa bukan sekadar nama tempat yang muncul setiap kali konflik Palestina memanas.

Allah menyebutnya dalam Al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra: 1).

Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Rasulullah ﷺ juga menyebutnya bersama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebagai tiga masjid yang mempunyai kedudukan khusus untuk dituju dalam perjalanan ibadah. Hadis tersebut diriwayatkan antara lain dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Karena itu, perhatian umat terhadap Al-Aqsa tidak semestinya ditentukan oleh apakah Palestina sedang menjadi trending topic.
Apalagi persoalannya sekarang bukan sebatas berapa banyak orang yang memasuki sebuah kompleks masjid.

Pada 1 Oktober, Kementerian Luar Negeri Mesir secara khusus mengecam masuknya para pemukim dan pelaksanaan ritual di kompleks Al-Aqsa. Mesir memperingatkan bahwa tindakan tersebut mengancam status quo historis dan hukum yang berlaku di tempat suci itu, sekaligus berpotensi menciptakan kondisi baru di Al-Aqsa.

Peringatan semacam ini penting.
WAFA juga melaporkan pelaksanaan ritual keagamaan Yahudi di dalam kompleks serta pembatasan akses terhadap jamaah Palestina. Pada akhir September, ribuan pemukim masuk dalam beberapa gelombang bersamaan dengan hari raya Yahudi, sementara aparat memperketat akses di sekitar Kota Tua Yerusalem.

Kejadian yang berulang, masuknya kelompok pemukim Israel, ritual Yahudi yang semakin terbuka dan berani, pembatasan terhadap jamaah Palestina, kemudian praktik-praktik yang sebelumnya dipersoalkan perlahan dianggap biasa.

Karena itu, persoalan Al-Aqsa tidak boleh dibaca hanya ketika terjadi bentrokan besar.

Jangan Membela Palestina Hanya Saat Viral

Peringatan tiga tahun Gaza seharusnya menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali solidaritas kita sendiri.

Bukan sekadar memasang kembali foto kehancuran setiap 7 Oktober, mengenang korban sehari, kemudian kembali melupakannya. Sebab Palestina membutuhkan napas yang panjang.

Apakah doa untuk Palestina masih ada di antara doa-doa kita? Apakah umat masih mengikuti apa yang terjadi di Gaza dan Al-Aqsa? Apakah bantuan kemanusiaan terus berjalan? Apakah pilihan merek apa yang kita konsumsi yang pernah berubah karena Gaza sekarang kembali seperti sebelum perang?

Media Islam juga perlu mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri, apakah Palestina tetap dianggap penting ketika trafik pembaca terhadap isu itu mulai turun?

Hal yang sama berlaku kepada pemerintah Indonesia. Dukungan terhadap Palestina telah berkali-kali disampaikan di forum internasional. Setelah pidato dan pernyataan politik disampaikan, publik berhak melihat bagaimana dukungan itu diterjemahkan menjadi langkah diplomatik yang konsisten.

Sebab waktu dapat bekerja untuk kepentingan penjajahan. Israel tidak membutuhkan seluruh dunia untuk membenarkan setiap tindakannya.

Cukup apabila dunia perlahan lelah melihat Palestina, media mulai bosan memberitakannya, aksi solidaritas mengecil, boikot ditinggalkan, dan keadaan yang dahulu dianggap tidak dapat diterima akhirnya dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Di situlah kelelahan kita mempunyai konsekuensi.

Gaza Belum Selesai, Al-Aqsa Belum Aman

Tiga tahun perang telah meninggalkan luka yang bahkan tidak cukup dijelaskan dengan angka korban keseluruhan.

Pada 3 Oktober 2026, Himaya Center for Human Rights menerbitkan lembar fakta mengenai dampak perang terhadap anak-anak Gaza. Lembaga tersebut menyatakan timnya mendokumentasikan 21.745 anak di bawah usia 18 tahun tewas sejak 7 Oktober 2023.

Sekitar 46 ribu anak terluka, termasuk 11 ribu kasus amputasi anggota tubuh bagian bawah. Di balik angka itu ada generasi yang tumbuh dengan kehilangan rumah, sekolah, anggota keluarga, bahkan anggota tubuhnya.

Sementara di Yerusalem, Al-Aqsa menghadapi tekanan yang tidak ikut berakhir ketika intensitas perang Gaza menurun atau ketika dunia mulai membicarakan gencatan senjata.
Maka tiga tahun Gaza jangan ditutup dengan kenangan bahwa kita pernah membela Palestina.

Palestina bukan isu musiman. Al-Aqsa juga bukan urusan yang baru penting ketika bentrokan terjadi dan kamera dunia kembali mengarah ke Yerusalem.

Tiga tahun telah berlalu, dan mungkin perjalanan ini masih panjang. Jangan lelah membela Gaza. Jangan lelah membela Palestina. Dan jangan pernah lelah membela Al-Aqsa.

Penulis: Cak Arip adalah seorang aktivis dan pemerhati isu-isu Islam kontemporer, media sosial, serta dinamika dakwah digital.