Oleh: Tasnim Nurra
Akhir Januari lalu, Presiden Prabowo Subianto menandatangani program Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat, yaitu Donald Trump, di Davos, Swiss. Menurutnya, keterlibatan Indonesia dalam badan ini adalah peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza. Namun, banyak pihak yang mengecam perbuatan tersebut.
Pasalnya, Bop sendiri memiliki susunan anggota dewan yang tidak memasukkan warga Palestina.bukan karena Palestina menolak untuk terlibat, namun justru Palestina sama sekali tidak diikutsertakan sebagai tuan rumah. Dibentuknya BoP sendiri tidak lain untuk mewujudkan kepentingan geopolitik dan ekonomi AS, bukan untuk perdamaian Palestina.
Trump bersikap seolah-olah dirinya menjadi perwakilan Palestina, namun yang ia lakukan malah sebaliknya, menghancurkan Palestina dan membangun Gaza Baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit dan wisata lainnya semata-mata untuk meningkatkan pendapatan Amerika Serikat. BoP hanya menjadi alat untuk merealisasikan rencana busuk Trump, sedangkan keanggotaannya yang terdiri dari negara-negara Muslim hanya sekedar formalitas dan pelengkap legitimasi.
Keikutsertaan negeri-negeri Muslim dalam BoP adalah bukti pengkhianatan mereka terhadap Muslim Gaza dan menjadi bukti ketidakseriusan mereka dalam memperjuangkan kebebasan Palestina.
Dalam perspektif Islam, Perdamaian Palestina sesungguhnya dapat dicapai dengan jihad, melepaskan Palestina dari cengkeraman negara-negara kafir dan penegakan daulah islam sebagai satu-satunya institusi yang mampu menginstruksi serta mengadakan jihad menjadi agenda utama yg wajib direalisasikan umat islam khususnya oleh pemimpin negeri-negeri muslim. Haram hukumnya para pemimpin tersebut bersekutu dengan negara kafir. Sebab hal itu sama saja kita ikut andil dalam menumpahkan darah kaum Muslimin secara dzolim. Wallahu alam bish showab